Gerhana Bulan Sebagian (28 JULI 1999) Untuk Direnungkan


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 28 Juli 1999)

Sejenak kita lupakan hiruk pikuk politik nasional yang belum  mendingin. Malam ini, upayakan salat maghrib tepat waktu. Cukup bacaan Al-Quran yang pendek dalam shalat. Dzikir sesudah shalat pun diringkaskan. Sesudah itu akan disambung dengan bacaan panjang dari ayat-ayat Allah di alam semesta.

Setelah shalat sunnah ba’diyah maghrib lihatlah sejenak ke langit timur. Gerhana bulan telah berlangsung. Sisi kanan bawah mulai tergelapi oleh bayangan primer bumi (umbra). Memang gerhana bulan sebagian telah berlangsung sejak pukul 17:22 WIB dan akan berakhir 19:45 WIB.

Sesuai dengan sunnah Rasul, segeralah laksanakan salat gerhana. Bila dilaksanakan di masjid, khatib akan menyampaikan khutbahnya berkaitan dengan fenomena alam ini. Khutbahnya pun sebaiknya tidak perlu berpanjang-panjang, karena saat puncak gerhana segera tiba. Pukul 18:34 adalah saat puncak gerhana sebagian. Saat itu sekitar 40% diameter bulan akan tergelapi oleh bayangan bumi. Sambil merenungi fenomena gerhana bulan, sangat menarik juga merenungi fenomena langit lainnya.

Gerhana Bulan

Sepintas tidak ada yang menarik dari fenomena gerhana bulan tersebut. Tetapi inilah saatnya untuk merenungi ayat-ayat kauniyah di alam semesta. Dari segi penampakan permukaan bulan,  fenomena gerhana bulan tidak jauh berbeda  dengan bulan purnama, karena memang gerhana bulan hanya terjadi saat purnama. Bila punya teleskop atau binokuler gunakanlah untuk melihat kawah-kawah bulan. Dengan menggunakan teleskop kawah-kawah bulan terlihat jelas.

Kawah-kawah tersebut terbentuk karena benturan batuan meteorit raksasa ketika permukaan bulan masih lembek. Tidak adanya proses geologi dan angin di bulan menyebabkan kawah-kawah tersebut terpelihara. Hal ini tidak terjadi di bumi. Bumi pernah mengalami hujan meteorit besar, tetapi kawah-kawahnya banyak yang telah hilang oleh proses geologis atau proses atmosferik seperti hujan dan angin.

Bukti-bukti astronomis dan geologi menunjukkan bahwa bulan diduga berasal dari bumi juga. Tidak adanya inti besi, kemiripan komposisinya dengan kerak bumi, dan bidang orbitnya yang tidak terlalu menyimpang dari bidang ekuator bumi memunculkan teori bahwa bulan terbentuk dari lontaran materi bumi ketika bumi yang masih lembek tertabrak asteroid. Pada masa awal pembentukan tata surya, tumbukan semacam itu tidak mustahil, karena ruang antar planet masih dipenuhi oleh benda-benda sisa pembentukan planet.

Kawah-kawah dan laut tanpa air (mare) menampakkan gambaran khas yang memunculkan berbagai legenda, sepertinya Nini Anteh di Jawa Barat. Setiap saat kita melihat wajah bulan yang sama. Mengapa demikian? Analisis fisis menunjukkan terjadinya sinkronisasi rotasi bulan dan orbitnya mengitari bumi. Akibat gaya pasang-surut bumi terhadap bulan (sejenis dengan gaya yang menyebabkan air laut pasang dan surut), rotasi bulan diperlambat hingga periodenya sama dengan periode orbitnya, yaitu 27,3 hari. Akibatnya, bulan akan selalu menampakkan wajah yang sama.

Karena bayangan bumi terpampang di permukaan bulan, informasi tentang bumi pun bisa dilihat dari bayangan gerhana tersebut. Memang tidak semua permukaan bumi dapat dilihat informasinya dari bayangan bumi tersebut. Tetapi minimal keadaan atmosfer di atas daerah yang sedang mengalami saat matahari terbenam atau terbit berpeluang tercermin dari bayangan gerhana tersebut.

Gerhana 28 Juli 1999 akan menampakkan keadaan atmosfer di atas Rusia. Saat ini bila di atmosfer atasnya menumpuk debu-debu meteor pada ketinggian sekitar 80 km, mungkin dari analisis fotometrik gerhana bulan nanti akan terlihat anomali densitas bayangannya.

Anomali densitas bayangan gerhana akan jelas tampak bila atmosfer bumi tertutup oleh debu letusan gunung berapi. Misalnya, ketika terjadi gerhana bulan total 30 Desember 1982, para pengamat gerhana melaporkan keadaan gerhana yang gelap. Anomali ini diduga berkaitan dengan letusan gunung berapi El Chichon di Amerika Tengah pada 1982 dan mungkin juga ditambah dengan debu letusan gunung Galunggung pada tahun itu.

Para pengamat gerhana mencatat, gerhana paling gelap selama tiga abad terakhir terjadi pada saat gerhana bulan total 16 Juni 1816. Saat itu diduga debu-debu letusan gunung Tambora yang meletus 1815 dan menyemburkan sekitar 150 milyar meter kubik debu masih tersisa di atmosfer atas.

Gerhana bulan bukan hanya memberikan informasi tentang atmosfer bumi, tetapi juga bisa memberikan informasi tentang gerhana matahari. Baik gerhana bulan maupun gerhana matahari sama-sama terjadi karena konfigurasi sistem matahari-bumi-bulan. Gerhana bulan biasanya diikuti atau mengikuti kejadian gerhana matahari.

Gerhana bulan penumbra 31 Januari 1999 lalu diikuti gerhana matahari cincin 16 Februari yang tampak di Indonesia sebagai gerhana matahari sebagian. Posisi orbit bulan terhadap bumi dan matahari bulan Juli dan Agustus ini juga menyebabkan terjadinya gerhana matahari total 11 Agustus 1999 yang melintasi Eropa, Timur Tengah, dan India. Sayangnya, gerhana matahari ini tidak terlihat dari Indonesia.

Fenomena Langit Lainnya

Posisi bulan pada malam 28 Juli 1999 berada di rasi Capricornus. Rasi lain di ekliptika (jalur lintasan Matahari dan benda-benda di tata surya) yang terlihat malam ini adalah Sagitarius dan Scorpio. Dua rasi ini menyeberangi galaksi Bimasakti yang tampak bagaikan sungai perak dengan jutaan bintang yang bisa teramati dengan mata biasa bila tidak ada cahaya lampu di sekitar kita.

Rasi Scorpio mudah dikenali karena bentuknya sesuai namanya, mirip ekor kalajengking. Di rasi Scorpio tersebut terdapat bintang raksasa merah yang besarnya ratusan kali matahari: bintang Antares yang berwarna merah. Selain itu di ekliptika juga tampak rasi Libra dan Virgo yang mengapit planet merah: Mars. Planet Mars yang berwarna kemerahan juga mudah dikenali. Planet inilah yang diduga oleh para pengamat dahulu mempunyai peradaban. Dengan menggunakan teleskop, tampak pada permukaan planet ini ada kanal-kanal yang ditafsirkan sebagai hasil teknologi mereka dalam mengalirkan air dari kutub Mars. Ternyata missi pesawat antariksa Viking pada 1976 tidak menemukan bukti itu.

Di sisi barat rasi Virgo terdapat rasi Leo yang dihiasi bintang Kejora yang sangat cemerlang. Bintang kejora ini sesungguhnya adalah planet Venus. Venus saat ini merupakan objek langit paling terang ke tiga setelah Matahari dan Bulan. Planet Venus ini dikenal juga sebagai saudara kembar bumi karena ukurannya yang mirip dengan bumi. Tetapi tidak mungkin makhluk hidup seperti di bumi berkembang di sana, sebab panasnya luar biasa dengan suhu sekitar 700 derajat, tujuh kali titik didih air. Suhu yang tinggi tersebut disebabkan oleh efek rumah kaca, yaitu panas dari cahaya matahari diserap oleh gas karbon dioksida yang banyak terdapat di atmosfer Venus sehingga tidak dapat terlepas ke angkasa.

Fenomena lain yang sangat menarik adalah galaksi Bimasakti. Galaksi Bimasakti dapat ditelusur dari Selatan yang ditandai dengan rasi Crux (Salib Selatan, yang bisa menjadi petunjuk arah Selatan bagi para penjelajah), ke arah atas bertemu dengan rasi Scorpio (kalajengking), dan diteruskan ke arah utara yang ditandai dengan rasi Cygnus (angsa).

Karena bintang-bintang di galaksi Bimasakti cukup redup, cahaya lampu-lampu di sekitar kita akan sangat mengganggu. Upayakan mencari lokasi pengamatan yang jauh dari lampu atau padamkan semua lampu di sekitar kita untuk menyaksikan jutaan bintang yang tampak membentuk seperti sungai perak. Oleh karenanya orang Jepang menyebutnya Gingga (sungai perak). Orang Barat membayangkannya seperti jalan bersusu, Milky Way.

Galaksi Bimasaksi hanyalah salah satu galaksi dari sekian banyak galaksi di alam semesta. Dengan menggunakan teleskop besar, akan dapat dilihat gugusan bintang dan gugusan galaksi yang luar biasa banyaknya. Semakin dalam menembus kedalaman langit, akan semakin terasa kecilnya bumi kita, apalagi diri manusianya.

Rabbanaa maa khalaqta haadza baathilaa subhanak. Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau.

Iklan
%d blogger menyukai ini: