Gerhana matahari cincin: Rasulullah Hanya Sekali Salat Gerhana Matahari


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 22 Agustus 1998

Gerhana matahari cincin 22 Agustus 1998 melintasi Indonesia. Namun tidak semua daerah bisa menyaksikannya. Daerah yang terlintasi hanya Sumatra Utara, Semenanjung Malaysia, Kalimantan bagian utara, Maluku utara, dan Papua Nugini bagian utara. Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami gerhana matahari sebagian.

Dari segi ilmiah, gerhana matahari cincin kurang menarik bila dibandingkan dengan gerhana matahari total. Tetapi, dari segi sejarah Islam, ada hal yang menarik. Dari analisis astronomis, ternyata gerhana matahari cincinlah yang terjadi pada zaman Rasulullah s.a.w. pada saat putra tercintanya, Ibrahim, wafat. Saat itu pula satu-satunya salat gerhana matahari yang dilakukan Rasulullah dengan khutbahnya yang terekam dalam hadits: “Matahari dan bulan adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka bila melihatnya berdzikirlah kepada Allah dengan mengerjakan shalat” (H. R. Bukhari-Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas).

Gerhana Matahari Cincin

Gerhana matahari cincin pada hakikatnya sama dengan gerhana matahari total. Keduanya tergolong gerhana sentral, artinya pusat piringan matahari dan bulan hampir berimpitan pada saat puncak gerhana. Hal yang membedakan adalah piringan bulan pada saat gerhana matahari total menutup penuh piringan matahari. Sedangkan pada gerhana matahari cincin piringan bulan hanya menutup bagian tengah piringan matahari dan menyisakan bagian tepinya sehingga tampak seperti cincin.

Gerhana matahari cincin terjadi bila piringan matahari tampak lebih besar dari piringan bulan. Hal itu dipengaruhi oleh jarak matahari dan bulan dari bumi. Pada saat gerhana matahari cincin 1998, jarak bumi matahari 151,3 juta km sehingga diameter sudut piringan matahari 31′ 40″. Sedangkan jarak bumi bulan 394.063 km sehingga diameter sudutnya 30′ 19″, lebih kecil daripada diameter sudut matahari.

Gerhana matahari cincin pada zaman Rasulullah terjadi pada 27 Januari 632. Pada saat itu jarak bumi matahari 148 juta km sehingga diameter sudut piringan matahari 32′ 23″. Sedangkan jarak bumi bulan 392.788 km dengan diameter sudutnya 30′ 25″.

Gerhana Matahari pada Zaman Rasul

Sejak menerima risalah kenabian 17 Ramadan tahun Gajah ke-41 (Agustus 610 M) sampai beliau wafat 12 Rabiul awal 11 H (Juni 632) hanya ada lima kali gerhana matahari di Mekkah-Madinah (lihat tabel). Itu pun hanya gerhana sebagian yang teramati di sana. Jalur gerhana matahari total/cincin tidak melintasi kedua kota suci itu. Hanya gerhana matahari total 613 M (10 tahun sebelum hijrah, 10 SH) yang melintas tidak jauh di sebelah selatan Mekkah.

Empat gerhana terjadi sebelum Nabi hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Nabi hijrah ke Madinah. Dalam kaitannya dengan salat gerhana, Nabi melaksanakannya setelah isra mi’raj (27 Rajab 1 SH) yang membawa perintah salat wajib. Hadits-hadits tentang salat gerhana mengisyaratkan bahwa pada saat itu telah ada salat wajib. Misalnya, hadits riwayat Ahmad dan Nasai menyatakan perintah Nabi, “Bila kamu melihat gerhana maka salatlah sebagaimana salat wajib yang biasa kamu kerjakan.”

Hadits yang dianggap paling sahih yang menerangkan tata cara salat gerhana diakhiri dengan khutbah Nabi yang dikutip pada awal tulisan ini. Khutbah itu, menurut riwayat berkaitan dengan dugaan banyak orang bahwa gerhana yang terjadi saat itu berkaitan dengan wafatnya putra Rasulullah, Ibrahim bin Muhammad yang baru berumur 16 bulan. Itu terjadi pada tahun 10 Hijrah, sebelum beliau melaksakana haji wada’.

Analisis astronomis menunjukkan bahwa gerhana yang terjadi di Madinah pada tahun 10 H adalah gerhana cincin pada pagi 27 Januari 632 (menjelang awal Dzulqaidah 10 H). Pada saat itu di Madinah mengalami gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85%.

Dari kronologi riwayat, tampaknya Ibrahim bin Muhammad dimakamkan di pemakaman Baqi pada pagi hari. Kemudian sekitar pukul 9 terjadi gerhana matahari. Orang-orang mengira gerhana matahari sebagai mu’jizat atau tanda matahari pun turut bersedih atas wafatnya putra Rasulullah. Maka, seusai salat gerhana Nabi menjelaskan dalam khutbahnya bahwa gerhana semata-mata bukti kekuasaan Allah, tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang.

Jadi, salat gerhana itu merupakan salat gerhana matahari yang pertama dan yang terakhir yang dilaksanakan Rasulullah. Sebab sekitar 4 bulan setelah itu, 12 Rabiul awal 11 H (Juni 632 M), Rasulullah s. a. w. wafat.

%d blogger menyukai ini: