Hujan Meteor Periodik 1998 Giacobinids dan Leonids


T. Djamaluddin

Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat,  16 November 1998)

Akhir abad 20 ini ditandai dengan munculnya hujan meteor periodik: Giacobinids dan Leonids. Pada 8-9 Oktober lalu terjadi hujan meteor Giacobinids dari rasi Draco (karenanya dikenal juga sebagai hujan meteor Draconids). Dan pada 14-19 November ini terjadi hujan meteor Leonids dari rasi Leo.

Orang mengenal meteor sebagai “bintang jatuh” atau “bintang beralih”. Hampir setiap malam satu-dua meteor mungkin teramati, terutama pada dini hari. Itu yang biasa disebut meteor sporadik yang terlihatnya tidak tentu waktunya. Jumlahnya dan arahnya pun tidak tentu. Meteor sporadik berasal dari debu dan batuan antarplanet yang masuk ke dalam atmosfer bumi. Panas akibat gesekan dengan udara yang menyebabkan meteor berpijar.

Pada saat-saat tertentu jumlah meteor lebih banyak dari biasanya. Arahnya pun relatif teratur, bersumber dari satu titik yang disebut radian. Itulah hujan meteor yang biasanya dapat menampilkan puluhan meteor setiap jamnya. Sumbernya adalah debu-debu sisa komet yang tertinggal di sepanjang lintasannya. Pada saat bumi melintasi lintasan komet itu, debu-debu komet (biasanya berukuran seperti pasir atau lebih halus) masuk ke dalam atmosfer bumi.

Hujan meteor Eta Aqaurids (setiap 3-10 Mei) dan Orionids (18-23 Oktober) berasal dari debu-debu komet Halley. Sedangkan hujan meteor Perseid (7-15 Agustus) berasal dari debu komet Swift-Tuttle. Hujan meteor itu relatif seragam setiap tahunnya karena sebaran debu-debunya relatif merata, kecuali bila komet induknya mendekat terjadi sedikit penambahan materi.

Hujan meteor Giacobinids berasal dari debu komet Giacobini-Zinner. Sedangkan hujan meteor Leonids berasal dari debu komet Tempel-Tuttle. Sifat debu meteor Giacobinids dan Leonids yang masih terkonsentrasi di dekat kometnya yang menyebabkan hujan meteornya bersifat periodik sesuai dengan periode kedatangan kometnya. Pada saat komet mendekati matahari dan bumi, saat itu hujan meteor periodik menunjukkan aktivitasnya yang menonjol.

Hujan meteor periodik berbeda dari hujan meteor biasa. Pada saat terjadi hujan meteor biasa, setiap jamnya mungkin hanya terlihat puluhan meteor. Tetapi pada saat hujan meteor periodik bisa terlihat ratusan sampai ribuan meteor per jam. Mungkin juga ratusan ribu meteor per jam, yang disebut badai meteor, seperti yang terjadi pada badai meteor Leonids pertengahan November 1799, 1833, dan 1966.

Giacobinids

Hujan meteor Giacobinids berkaitan dengan kedatangan komet Giacobini-Zinner setiap 6,6 tahun. Karena sifat sebaran debunya dan letak lintasannya dengan bumi yang berbeda-beda, tidak setiap pemunculan komet induknya disertai hujan meteor. Hujan meteor Giacobinids yang cukup besar tercatat pada Oktober 1926, 1933, 1946, 1985, dan 1998.

Komet Giacobini-Zinner baru akan melintas orbit bumi sekitar akhir November. Sehingga banyak pengamat meteor pesimis bisa menyaksikan hujan meteor Giacobinids. Selama ini banyak orang mengira debu komet penyebab hujan meteor hanya menumpuk di belakang kometnya. Ternyata pendapat itu keliru.

Masyarakat Meteor Jepang (Nippon Meteor Society) melaporkan pada 8 Oktober sekitar pukul 20.30 waktu setempat (18.30 WIB) berhasil menyaksikan hujan meteor Giacobinids. Jumlahnya cukup besar, sekitar 500 meteor per jam. Hal ini menunjukkan bahwa debu komet penyebab hujan meteor terkonsentrasi baik di belakang komet maupun di depannya.

Karena posisi radiannya di rasi Draco di langit utara, hanya pengamat di Jepang dan Asia Timur yang beruntung menyaksikan peristiwa langka yang hanya terjadi sekitar dua jam. Pengamat di Indonesia sulit melihatnya karena langit senja masih terang dan posisi radian cukup rendah di langit barat laut.

Tetapi ada juga peminat meteor di Belanda yang berhasil mendeteksi hujan meteor pada siang hari waktu setempat (hampir bersamaan dengan waktu puncak di Jepang) dengan mendengarkan desingan pancaran sinyal radio dari Polandia. Dengan antena radionya dan pesawat penerima gelombang pendek (72 Mhz) dia berhasil menghitung jumlah desingan per menit. Meteor memang meninggalkan jejak terionisasi pada suatu ketinggian antara 80-100 km sehingga bisa memantulkan gelombang radio setiap kali ada meteor melintas.

Leonids

Masyarakat peminat astronomi di Indonesia kini bisa berharap menyaksikan hujan meteor Leonids. Bila cuaca cerah dini hari 18 November (malam Rabu) sekitar pukul 03.00 WIB lihatlah langit timur laut. Bila mempunyai binokuler, gunakanlah untuk bisa mengamati meteor yang redup. Diperkirakan pada saat itu akan terjadi hujan meteor cukup besar yang diperkirakan dapat mencapai sekitar ratusan sampai 5000-an meteor per jam. Posisi radiannya di rasi Leo, sebelah timur rasi Orion (Waluku).

Berdasarkan posisi lintasan komet Tempel-Tuttle (penyebab hujan meteor Leonids), para astronom memperkirakan hujan meteor Leonids 1998 lebih mirip dengan hujan meteor 1866. Tidak terlalu hebat bila dibandingkan dengan hujan meteor 1966 yang menampilkan sekitar 150.000 meteor per jam. Tahun ini diperkirakan hanya ribuan meteor per jam. Tetapi, sebenarnya banyak hal yang belum diperhitungkan (seperti distribusi ukuran debu komet) sehingga para astronom pun belum bisa memberikan penaksiran yang pasti. Bisa jadi hujan meteornya lebih hebat dari itu.

Hujan meteor Leonids besar tercatat dalam sejarah sejak tahun 585. Sejak itu telah tercatat 29 kali hujan meteor besar. Terakhir teramati pada tahun 1965 dan 1966. Sedangkan komet penyebabnya, Tempel-Tuttle, yang berperiode 33 tahun baru diketahui tahun 1366. Dan pada 5 Maret 1998 lalu komet ini melintasi bidang orbit bumi meninggal debu-debunya yang akan ditembus bumi pada pertengahan November ini.

Seperti halnya hujan meteor Giacobinids, debu-debu di depan komet Tempel-Tuttle pun ternyata cukup melimpah. Sehingga dua tahun sebelum kometnya mendekati bumi, aktivitas hujan meteor Leonids telah tampak peningkatannya. Pada tahun-tahun ketika komet masih jauh, hujan meteor leonids hanya tampak sekitar 15 meteor per jam. Tetapi pada tahun 1996 dan 1997 tercatat sekitar 50 meteor per jam. Hujan meteor ini diperkirakan akan terus berlanjut sampai 2002 ketika debu-debu di lintasan komet mulai menipis kembali. Tahun 1998 dan tahun 1999 diperkirakan merupakan puncak aktivitasnya.

Dampak Leonids 1998

Debu meteor Leonids walaupun ukurannya sangat kecil, umumnya dalam ukuran butiran pasir, namun dengan kecepatan tinggi sekitar 70 km/detik (252.000 km/jam) sangat berbahaya bagi satelit. Meteor Leonids merupakan meteor yang bergerak paling cepat bila dibandingkan kecepatan rata-rata hujan meteor lainnya yang hanya sekitar 30 km/detik (108.000 km/jam). Panel surya, detektor, dan perangkat elektronik peka lainnya pada satelit terancam oleh meteor Leonids ini. Dengan alasan itu NASA telah mengingatkan para operator satelit untuk mengambil langkah-langkah pengamanan.

Dengan memperhitungkan posisi titik lintasan orbit bumi dan orbit komet Tempel-Tuttle serta saat bumi paling dekat dengan titik lintasan itu (pada 18 Nevember pukul 02.47 WIB), daerah bumi yang langsung berhadapan dengan debu-debu komet adalah daerah di atas pasifik Timur dan benua Amerika. Dengan demikian daerah penempatan satelit yang paling berisiko adalah pada daerah tersebut. Pada daerah berisiko tinggi ini makin tinggi suatu satelit, seperti satelit komunikasi pada orbit geostasioner 36.000 km atau satelit orbit rendah tetapi mempunyai apogee sangat jauh, makin besar bahaya yang mengancamnya.

Hal ini berarti, satelit komunikasi Indonesia yang ditempatkan pada orbit yang lebih dekat daerah Pasifik tampaknya mempunyai risiko lebih besar daripada satelit di atas Samudra Hindia. Hal ini perlu diwaspadai.

Selain dampaknya pada satelit, masuknya meteor ke atmosfer bumi bisa menimbulkan ionisasi pada ketinggian 80-100 km. Lapisan ionosfer “dadakan” yang dikenal sebagai lapisan E sporadis bisa mengganggu komunikasi radio gelombang pendek. Adanya lapisan ion yang lebih rendah bisa memungkinkan gangguan pemantulan gelombang radio. Maka kemungkinan terjadinya gangguan komunikasi radio gelombang pendek sangat besar pada dini hari 18 November.

Satu Tanggapan

  1. […] ini adalah malam penentuan. MALAM INI” · Global Voices dalam bahasa IndonesiaHujan Meteor Periodik 1998 Giacobinids dan Leonids // .recentcomments a{display:inline !important;padding:0 !important;margin:0 !important;} […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: