Catatan Pengembaraan di Jepang


T. Djamaluddin

(Dimuat di tabloid Hikmah –5 seri–,  Minggu III Mei – Juni 1995)

Sepekan sebelum Ramadan 1988 saya mendarat di Jepang untuk tugas belajar di sana. Hujan yang dingin di awal musim semi menyambut hari pertama saya di negeri sakura. Bunga‑bunga mulai bermekaran, tetapi bunga sakura belum nampak. Suasana baru dan harum khas Jepang, yang bisa dirasakan namun sulit diceritakan, mulai saya masuki.

Enam tahun bermukim di Jepang dan turut aktif dalam berbagai kegiatan keislaman di sana merupakan pengalaman yang amat berharga. Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman tentang kehidupan Muslim, khususnya saya dan keluarga, dan gambaran perkembangan Islam di sana.

Kenangan enam tahun

Aroma kare Jepang yang khas paling saya ingat, karena itulah makanan pertama yang saya makan, yang menurut teman yang mengantar paling sesuai dengan lidah Indonesia diantara sekian jenis makanan di kantin asrama di Osaka. Sebenarnya saya ragu akan kehalalannya, tetapi saya hanya bisa percaya pada teman yang mengantar bahwa itu halal karena saya belum tahu alternatif lain.

Masalah makanan adalah tantangan pertama yang harus saya hadapi. Saya selalu ragu akan makanan‑makanan yang tersedia di kantin. Ikan goreng pun tenyata tercampur barang haram karena, menurut teman Nasrani yang pernah pesan makanan terbuat dari daging babi, makanan itu digoreng pada minyak yang sama dengan ikan. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian seorang teman memberikan rice cooker, “warisan” teman‑teman yang pulang. Sejak itu saya mulai memasak sendiri. Telur dan sayur mayur adalah menu rutin (untungnya saya memang cenderung vegetarian).

Masalah lain muncul, bagaimana memilih kue‑kue dan makanan lainnya. Untunglah setiap makanan di Jepang mencantumkan bahan dasarnya. Maka saya mulai mencari‑cari di kamus bahasa Jepang untuk: lemak babi, daging babi, dan bahan‑bahan haram lainnya. Dengan pengetahuan bahasa Jepang yang masih amat terbatas, tulisan Jepang itu saya tulis (tepatnya, saya “gambar”) di kertas dan saya cocokkan dengan daftar bahan makanan tiap kemasan setiap akan membelinya. Merepotkan, tetapi tak ada jalan lain untuk menjaga perut dari makanan haram. Pernah juga keliru. Setelah diperiksa ulang sesampainya di rumah atau ketika memakannya, ternyata mengandung unsur haram. Kalau tak mungkin lagi dikeluarkan, ya hanya istighfar yang bisa saya lakukan.

Hidup sebagai Muslim di negeri yang mayoritasnya bukan Muslim, bahkan tak kenal Islam sama sekali, bukan hal yang mudah. Menyadari hal itu teman‑teman Muslim yang senior datang ke asrama menjelaskan hal‑hal yang perlu diketahui oleh para pendatang baru. Inilah yang saya tunggu‑tunggu. Pertemuan Ahad siang bulan Ramadan itu mengingatkan mentoring di Masjid Salman yang baru beberapa pekan saya tinggalkan. Dalam pertemuan itu saya merasakan menemukan simpul‑simpul ikatan saudara seiman. Saat itu pula, bersama‑sama teman‑teman dari Suriah, Tunisia, Maroko, Malaysia dan Indonesia, mulai dirancang salat tarawih bersama dan salat Jum’at di ruang belajar asrama.

Ikatan semacam itu amat terasa manfaatnya kalau mengingat bahwa keimanan akan mudah luntur tanpa usaha perbaruan. Tantangan ditengah masyarakat non‑Muslim mau tak mau akan mengikis iman seseorang, sadar atau tak sadar. Pertemuan pengajian dan sejenisnya merupakan sarana yang terbaik untuk saling mengingatkan.

Dari pertemuan itu saya diberitahu tentang adanya Kansai Islamic Society di Osaka yang baru berdiri yang dipimpin oleh Ibu Zeba Kume, seorang Muslimah Jepang. Sejak buka puasa pertama di rumah Ibu Zeba Kume itu saya dan teman‑teman merasa perlu menghidupkan perkumpulan kecil ini. Mereka menyelenggarakan pertemuan bulanan bagi orang Jepang, Muslim dan non‑Muslim. Pembicaranya adalah para mahasiswa Muslim. Topik pembicaraannya beragam tetapi punya tujuan satu: memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jepang. Pengumuman acara pertemuan bulanan selalu diumumkan di koran lokal hingga siapa pun yang berminat mengenal Islam dan masyarakatnya di persilakan datang.

Salat dalam perjalanan punya masalah sendiri: siap jadi tontonan orang banyak, apalagi bagi istri saya yang berkerudung. Beruntung kalau mendapat tempat sepi. Kalau tak mungkin, di taman atau di stasiun kereta pun jadi. Itu sering saya alami. Wudlunya pun sering jadi tontonan, apalagi pada musim dingin terlihat aneh berbasah-basah mencuci muka, tangan, dan mengusap kepala dan kaus kaki. Untungnya, menurut fikih, kaki yang bersih tak perlu di basuh lagi cukup diusap kaus kakinya, hingga tak perlu mengangkat kaki ke atas wastafel.

Pernah suatu kali salat berjamaah di taman. Tak lama kemudian anak-anak berkumpul menonton. Pernah juga terpaksa salat di stasiun di Okayama, dikira lorong itu sepi. Ternyata baru saja takbir, terdengar kereta berhenti dan para penumpang berhamburan keluar lewat lorong itu, yang tentunya merasa heran lihat orang asing melakukan ruku dan sujud di situ. Sekali waktu saya tidak menemukan tempat sepi di stasiun Tokyo yang amat ramai itu. Setelah berkeliling ke sana kemari, saya temukan tempat sepi dan langsung saja menggelar sajadah dan bertakbir. Tetapi baru satu rakaat, dua petugas stasiun datang memimta saya keluar dari tempat itu. Saya hanya memberi isyarat dan mempercepat salat. Rupanya tempat itu khusus untuk jalan masuk kaisar, saya tidak memperhatikan papan larangan masuk. Pantas tidak ada orang di sana.

Mencari Ikatan Iman

Kansai Islamic Society merupakan simpul ikatan pertama yang saya pegang. Di sana saya bisa belajar mengenal masyarakat Jepang, khususnya pandangan mereka tentang Islam. Sasaran utama ceramah-ceramah yang dilakukan adalah memperkenalkan Islam dan menghilangkan kesalahpahaman mereka. Mengislamkan mereka masih perlu proses panjang mengingat keunikan masyarakat Jepang.

Oktober 1989 saya pindah ke Kyoto University, tempat saya belajar sekitar lima tahun. Hari-hari pertama di Kyoto saya merasakan kesepian di tengah keramaian. Adanya telepon menyebabkan bertemu muka dengan teman-teman relatif jarang. Terpikirlah untuk mengadakan pengajian rutin Ahad malam, wadah untuk bertemu dan saling mengingatkan. Alhamdulillah, gayung bersambut. Maka lahirlah kelompok pengajian Kyoto yang bermula dari enam orang kini makin ramai anggotanya dan makin banyak kegiatannya. Dalam bentuknya yang sekarang, kelompok pengajian Kyoto selain mengadakan pertemuan rutin setiap dua pekan juga mengadakan pengumpulan dana bantuan pendidikan untuk dikirim ke Indonesia dan menerbitkan buletin bulanan IQRA. Ini adalah suatu persaudaraan dan kerja sama yang paling mengesankan saya selama di negeri orang.

Ikatan berikutnya yang saya pegang adalah Kyoto Muslim Association (KMA) dan Muslim Student Association of Japan (MSA-J).  KMA adalah salah satu organisasi mahasiswa Muslim yang paling aktif dan memegang posisi penting dalam berbagai kegiatan MSA-J. Amanat Secretary for Culture and Publication di MSA-J dan KMA bagi saya merupakan pengalaman amat berharga. Dengan amanat itu saya lebih mengenal berbagai kegitan keislaman di berbagai pelosok Jepang. Alhamdulillah sampai saya pulang (1994) bisa dijalin komunikasi dengan lebih dari 50 kelompok mahasiswa Muslim se Jepang, suatu modal berharga dalam memperkuat jaringan da’wah Islam di sana. Dengan segala keterbatasan yang ada, amanat sebagai Secretary for Publication berarti memegang amanat sebagai “wartawan” (mencari berita kegiatan dengan surat, telepon, maupun jaringan komputer), penulis artikel kalau kosong, editor, memperbanyak, dan mengirimkan per pos ke berbagai daerah. Amanat itu termasuk juga menyusun, memperbanyak, menjilid, dan mendistribusikan “Guide Book for Muslim in Japan”.

Jaringan contact person MSA-J yang sebagian besar adalah mahasiswa Indonesia bermanfaat juga menjadi jaringan pengajian yang diorganisir Divisi Pembinaan Ummat ICMI orwil Pasifik/Jepang. Alasan utama penyelarasan kedua kegiatan itu adalah untuk efisiensi waktu dan dana, karena kedua amanat di MSA-J dan ICMI itu saya pegang sedangkan keduanya mempunyai tujuan yang sama dalam pembinaan ummat. Pendekatan da’wah yang menekankan makna amar ma’ruf nahi munkar mampu menghilangkan pro dan kontra kehadiran ICMI yang sempat dikhawatirkan. Kelompok-kelompok pengajian lokal yang telah menjamur tidak diganggu keberadaannya. Maka, kehadiran ICMI hanyalah mengisi kekosongan, yakni membuat jalur komunikasi antar kelompok-kelompok pengajian yang telah ada. Kelangkaan dana ICMI dalam menerbitkan buletin Al-Ihsan diatasi dengan cara patungan pengurus Divisi Pembinaan Ummat dan distribusinya menumpang pada distribusi MSA-J Newsletter dan KMA News untuk menekan ongkos kirim (toh contact personnya sama).

Tantangan Untuk Maju

Tantangan kehidupan di tengah masyarakat non-Muslim memacu saya untuk belajar langsung dari kehidupan nyata. Pepatah “tak ada rotan akar pun jadi” sering jadi pegangan. Maka pengalaman mengurus seluk beluk pernikahan dan mengurus jenazah mungkin tak akan pernah saya peroleh langsung kalau saya berada di Indonesia. Di Indonesia banyak ulama yang lebih menguasai masalah-masalah seperti itu. Tetapi di Jepang dengan kelangkaan ulama, mahasiswa Muslim sering jadi tumpuan. Dari kehidupan sehari-hari, proses kreatif pun muncul setelah langsung berhadapan dengan masalah nyata.

Kegemaran saya mengutak-atik masalah hisab astronomi untuk keperluan ibadah sudah tumbuh sejak saya belajar astronomi dasar di Jurusan Astronomi ITB. Rencana membuat program sederhana hanya sampai dalam pemikiran yang pelaksanaannya tertunda karena bermacam soal. Baru setelah ada tantangan nyata hal itu bisa direalisasikan.

Ketika banyak teman yang bertanya masalah jadwal salat di Jepang, saya tergerak membuatkan program sederhana menghitung jadwal salat di berbagai tempat di seluruh dunia. Perubahan musim menyebabkan waktu matahari terbit dan terbenam selalu berubah. Jadwal salat seperti di Indonesia tak berlaku lagi untuk dijadikan perkiraan. Ada contoh menarik tentang ini. Seorang mahasiswa Malaysia yang terbiasa salat asar jam 05.00 sore di negerinya, tanpa melihat keadaan matahari dia tetap melakukannya di Jepang, padahal pada musim dingin jam 05.00 sudah masuk waktu maghrib. Pernah juga terjadi seorang teman dari Indonesia masih mengacu jadwal di Indonesia, padahal pada musim panas jam 04.45 di Kyoto matahari sudah terbit. Karena itu jadwal salat amat diperlukan, termasuk untuk menentukan saat puasa. Untuk membantu yang tidak mempunyai komputer, jadwal salat lengkap untuk 46 ibukota propinsi di Jepang dimasukkan di “Guide Book for Muslims in Japan”.

Arah kiblat juga sering membingungkan banyak orang. Kompas arah kiblat baik yang dipasarkan di Indonesia maupun di Jepang ada yang salah memberikan petunjuk arah kiblat. Ada yang mencantumkan angka 11 (berarti 99 derajat dari utara ke barat) ada yang mencantumkan angka 7 (63 derajat dari utara ke barat). Yang benar arah kiblat dari Jepang adalah antara angka 7 dan 8 (63 – 72 derajat), tepatnya sekitar 69 derajat dari utara ke barat. Orang bingung, kok Jepang yang lintangnya lebih ke utara dari pada Mekkah arah kiblatnya, arah kiblatnya bukan ke selatan seperti tampak pada peta datar. Saya katakan bumi kita bulat, bukan datar. Arah kiblat dihitung berdasarkan jarak terdekat pada bola bumi dari suatu kota ke Mekkah. Dengan sebuah program pendek arah kiblat gampang dihitung.

Penentuan kalender Islam mempunyai persoalan tersendiri. Karena tidak tercantum dalam kalender umum yang dipasarkan di Jepang, sering terjadi orang tak sadar bahwa Ramadan telah datang. Mungkin ada yang belum sempat membayar qadla puasanya. Ada pula yang baru tahu bahwa puasa Ramadan telah mulai ketika melihat temannya sibuk menyiapkan buka puasa. Maka ketika ada yang menanyakan masalah konversi kalender hijriyah ke masehi dan sebaliknya, saya terpacu membuatkan program sederhana untuk konversi kalender itu. Dengan program itu dapat diperkirakan kapan masuknya awal Ramadan dan hari raya hingga bisa bersiap-siap jauh-jauh hari.

Tantangan yang belum terselesaikan adalah usaha MSA-J menyatukan awal Ramadan dan hari raya di Jepang. Prinsipnya mudah, menyatukan pendapat antara Masjid Kobe dan Islamic Center di Tokyo. Pelaksanaannya sulit. Islamic Center tergantung sepenuhnya pada berita ru’yatul hilal dari Malaysia. Sedangkan masjid Kobe cenderung pada hisab astronomi.  Pernah disepakati untuk melakukan ru’yatul hilal yang dilakukan oleh para mahasiswa Muslim di berbagai tempat di Jepang. Saya katakan tidak sesederhana dikatakan. Perlu kemampuan mengenali hilal dan komunikasi yang cepat agar hasilnya cermat, cepat, dan tepat, tidak malah membingungkan ummat. Ini belum terlaksana.

Hanya beberapa hari menjelang kepulangan saya ke Indonesia Syawal lalu, masalah kontroversi ketidakcermatan ru’yatul hilal muncul. Seorang mahasiswa Mesir dan istrinya mengaku melihat hilal dari tingkat lima apartemennya  di tengah kota. Hilal itu katanya teramati sekitar satu jam setelah matahari terbenam. Saya katakan itu pasti keliru. Data astronomi menyatakan hari itu bulan terbenam lebih dahulu dari pada matahari, jadi tidak mungkin diru’yat. Bisa jadi yang teramati adalah cahaya terang planet Venus yang saat terbenamnya sesuai dengan cerita teman itu. Mungkin pula cahaya lain karena mereka mengamatinya dari tengah kota. Diskusi per telepon baru berakhir larut malam. Kesaksian itu dilaporkan juga ke Islamic Center di Tokyo dan Masjid Kobe, tetapi tidak diterima. Kisruh penentuan hari raya seperti ini menutup catatan saya. Tiga hari setelah Idul Fitri baru lalu saya pulang ke Indonesia. Sayonara Jepang yang penuh kenangan….

Da’wah Islam

Jepang adalah negara unik kata seorang misionaris Kristen. Missi Kristen yang telah menjejakkan kakinya sejak abad 16, tidak banyak hasilnya. Bahkan seusai perang dunia ke dua ada lembaga missi Kristen dari Amerika yang mengirim pemuda-pemuda Jepang ke Amerika dengan tujuan agar mereka beralih agama ke Kristen. Nyatanya hanya sedikit sekali yang berpindah agama. Tentang keadaan ini, seorang missionaris pernah berujar, “I am not saying that the penetration rate is low in Japan. It is extraordinary low. Moreover, Japan, as one of world leading capitalized countries, which has penetrated into the world economic system, has an abnormally low Christianity rate. What does it mean? As advanced nation, Japan is the only exception, even taking a nation positioned in Far East into consideration. Japan is a unique country.”

Gambaran di atas disampaikan oleh Zeba Kume, seorang Muslimah Jepang dalam seminar tentang strategi da’wah di Jepang yang diadakan di Kyoto, 11 Syawal 1413H (4 April 1993). Dalam uraiannya dia memaparkan beberapa karakteristik masyarakat Jepang. Ciri utama yang menonjol adalah: homogenitas dan sikap menjaga keharmonisan dan kesatuan. Dengan kata lain, mereka tak ingin berbeda dari yang kebiasaan yang ada disekitarnya. Mungkin karena itu pula, di tengah modernisasi, ajaran shinto yang mempunyai jutaan dewa masih dipertahankan.

Di sisi lain, yang menonjol pada masyarakat Jepang modern adalah reaksi alergi terhadap fanatisme agama. Kita tahu, akibat fanatisme yang membabi buta pada Kaisar Showa sebagai dewa yang hidup, telah melahirkan ekspansionime Jepang dan perang dunia ke dua. Reaksi itu, dengan pengaruh Amerika, melahirkan ketetapan di dalam undang-undang dasar Jepang yang melarang pemerintah turut campur dalam urusan agama dan masyarakat modernnya cenderung pada kehidupan ateistik.

Dalam pengamatan saya selama enam tahun bermukim di Jepang, masyarakat Jepang memandang agama secara unik. Di satu sisi masih banyak orang yang tidak mengenal konsep ketuhanan yang ghaib. Dewa-dewa yang mereka sembah semuanya direpresentasikan dalam bentuk patung. Amat sulit menjelaskan kepada mereka konsep Tuhan seperti yang dikenal di dalam agama samawi. Di lain pihak, ada kecenderungan agama hanya sebagai baju, mudah dipakai dan bila mau dilepas lagi. Mereka tidak loyal pada satu agama. Mereka mengaku pengikut Budha, tetapi tetap melaksanakan kebiasaan Shinto. Kini banyak pula kecenderungan anak-anak muda menikah di gereja, padahal mereka bukan Kristen, hanya sekedar meniru gaya Barat. Malah ada tour nikah bagi mempelai Jepang di gereja-gereja di Eropa, yang oleh kalangan Kristen dikritik.

Kondisi seperti itu perlu difahami oleh setiap Muslim yang berniat berda’wah di Jepang. Sekitar tahun 1990 pernah ada rombongan jamaah tabligh dari Amerika Serika yang mampir ke Kyoto. Mereka bercerita telah mengislamkan beberapa orang Jepang hanya dalam beberapa hari perjalanannya ke beberapa kota. Teman-teman yang pernah lama tinggal di Jepang dan aktif dalam kegiatan da’wah tak akan heran dengan cerita itu. Agama bagi mereka seperti baju, gampang memakai kalau mau dan mudah saja melepasnya. Mungkin ini terlalu berlebihan, tetapi itulah yang teramati dan pernah tercatat dalam sejarah da’wah Islam di Jepang. Contoh yang terbaru adalah cerita masuk Islamnya Antonio Inoki, bekas pegulat profesional yang menjadi anggota parlemen. Dalam usahanya mendekati Presiden Sadam Husein, untuk menyelamatkan warga Jepang yang dilarang meninggalkan Irak dalam perang Irak-Kuwait, tak segan-segan mengumumkan diri masuk Islam. Ya sekedar kedok politis.

Gegap Gempita Islamisasi

Sekitar tahun 1979-an, ketika saya masih SMA, dalam suasana menyambut abad kebangkitan Islam, abad 15 Hijriyah, saya mengutip berita di majalah untuk bahan khutbah saya. Saya katakan, laju pertambahan penganut Islam di Jepang rata-rata sekitar 5 orang per hari untuk memberikan ilustrasi kebangkitan Islam. Suatu hal yang mengagumkan! Benarkah?

Informasi itu memang tidak terlalu berlebihan. Itu terjadi dalam masa gegap gempitanya syiar Islam di Jepang, setelah krisis minyak tahun 70-an yang memaksa Jepang melirik ke negara-negara Arab kaya minyak yang sering diasosiasikan dengan Islam. Itu dimulai setelah dr. Shawki Futaki dan tiga temannya masuk Islam pada tanggal 29 Desember 1974. Dalam masa enam bulan sesudahnya tercatat 1.175 orang masuk Islam secara masal dalam tiga kali pengislaman. Upacara pengislaman itu dihadiri para diplomat negara-negara Islam dan beberapa menteri dari Arab Saudi. Bahkan pernah dalam acara pengislaman masal dalam tahun-tahun berikutnya, sekitar 2000 orang secara serentak diislamkan. Kalau dipukul rata, sekitar 6 orang per hari masuk Islam! Selama masa penuh semangat Islam itu lahirlah Japan Islamic Congress yang pada tahun 1979 beranggota sekitar 28 ribu orang.

Kini gegap gempita itu telah usai. Namun sisa-sisanya masih ada. Misalnya, di Kyoto ada Japan Islamic Mosque yang dipimpin oleh Mohammad Ali Kobayashi dan Japan Islamic Frindship Association yang dipimpin Sulaiman Tsukiyama. Dua organisasi ini tidak jelas kegiatannya. Masjid tidak ada dan persahabatan pun tak ada wujudnya. Mulanya ke dua orang ini sering datang ke pertemuan bulanan Kansai Islamic Society, tetapi kemudian tidak pernah hadir lagi. Salat Jum’at pun pernah diajak supaya bersama-sama dengan jamaah Kyoto Muslim Association (KMA), namun tak pernah hadir. Pernah sekali bertemu dengan pengurus KMA untuk menjalin kegiatan bersama, tetapi tidak ada kelanjutannya.

Gambaran itu sekedar menunjukkan bahwa Islamisasi secara massal dan menjadi harapan ummat di belahan dunia lainnya pernah terjadi di Jepang. Tetapi ibarat hujan lebat di tanah gersang, setelah banjir kembali gersang lagi. Hanya yang sungguh-sungguh keislamannya yang masih bertahan sebagai Muslim yang baik. Mereka umumnya karena masih aktif dalam kegiatan-kegiatan keislaman bersama dengan para Muslim pendatang. Misalnya Muhammad Sato, pemimpin Islamic Cultural Center of Sendai. Selebihnya yang masih kuat keislamannya adalah yang terbina oleh istri atau suaminya yang salih. Tetapi, ini bukan dari Islamisasi secara masal itu.

Memang tidak mudah mempertahankan keimanan di tengah masyarakat non-Muslim. Jadi, melunturnya kembali keislaman orang-orang Jepang yang pernah menyatakan keislamannya, bisa jadi karena langkanya pembinaan lanjutan. Kelangkaan pembinaan itu bisa bersumber dari kesibukan mereka bekerja, bisa pula dari sikap dasar mereka yang tidak loyal pada ajaran agama.

Dalam suatu pertemuan Kansai Islamic Society pernah dicoba untuk memberikan pendalaman ajaran Islam kepada Muslim Jepang. Namun baru dua kali pertemuan pesertanya berkeberatan, dengan alasan tak ada waktu, walau pun itu dilaksanakan hari Sabtu sore. Pembinaan yang paling efektif mungkin hanya melalui pernikahan dengan pasangan yang salih. Nah, masalah mencari jodoh ini merupakan masalah besar pula. Para muslimah Jepang umumnya relatif lebih taat dalam keislamannya repot mendapatkan jodoh. Di Kansai Islamic Society masalah ini kadang dilontarkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Da’wah saat ini

Sejarah da’wah Islam di Jepang secara garis besar dapat dibagi dalam tiga periode. Gelombang pertama tahun 1900 – 1940 adalah masuknya pengaruh Islam dari Asia Tengah ke Jepang yang ditandai dengan masuknya Muslim dari semenanjung Krim (di utara Turki) yang dikirim oleh Sultan Hamid II dan usaha pemerintah Jepang mengirim orang-orang untuk mempelajari Islam dari Asia Tengah untuk kepentingan politik dan militer Jepang. Pada masa ini berdiri masjid Kobe tahun 1935 dan masjid Tokyo 1938 (yang diruntuhkan tahun 1986).

Gelombang ke dua gelombang adalah masa gegap gempitanya pengislaman pada pasca krisis minyak tahun 1970-an, seperti diuraikan di atas. Dalam masa ini gegap gempita Islamisasi di Jepang terdengar ke segenap penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Dalam masa ini peranan Islamic Center sangat menonjol. Terjemah Al-Qur’an, hadits, dan buklet-buklet keislaman dalam bahasa Jepang diterbitkan pertama kali dalam masa ini.

Apa yang dilakukan Islamic center saat ini hanyalah mencetak ulang bahan-bahan itu dan bertindak sebagai reservoir dana da’wah dari negara-negara Arab yang penyalurannya sangat selektif dan terbatas. Sedangkan peranannya dalam kegiatan da’wah makin redup. Kerja sama dengan organisasi-organisasi Islam lainnya yang kini menjamur, terasa hambar. Ada kesan ingin memayungi semuanya, tetapi musyawarah dengan organisasi-organisasi lainnya dapat dikatakan tidak ada.

Alhamdulillah, saat ini ada gelombang da’wah baru di Jepang: masuknya mahasiswa-mahasiswa dan pekerja-pekerja Muslim dari berbagai negara yang tersebar di berbagai kota. Langsung atau tak langsung kehadiran mereka ini memberikan penyegaran da’wah. Sejauh pengamatan saya, mahasiswa Muslim terbesar berasal dari Indonesia yang disusul oleh mahasiswa Mesir. Keduanya mempunyai organisasi mahasiswa yang mempunyai cabang-cabang di berbagai tempat. Dari kalangan pekerja Muslim, yang terbanyak berasal dari Iran, Bangladesh, dan Pakistan.

Peranan mahasiswa nampaknya kini dominan, terutama karena relatif berlimpahnya sumber daya manusia yang tersebar di berbagai kota. Dan alhamdulillah, jaringan komunikasi antar kelompok-kelompok mahasiswa Muslim itu kini telah terjalin melalui Muslim Student Association of Japan (MSA-J). Dari aktivitas-aktivitas kemahasiswaan sedikit demi sedikit pengertian-pengertian tentang Islam mulai tersebar.

Kalau boleh dirumuskan secara sederhana, orang Jepang mengenal hanya dalam tiga hal: tidak memakan daging babi, tidak minum sake (minuman keras), dan boleh mempunyai empat istri. Sedikit demi sedikit kesalahpahaman orang Jepang mulai dikikis. Dalam banyak kegiatan, mahasiswa-mahasiswa Muslim memperkenalkan Islam kepada mereka. Dalam hal ini peranan para mahasiswa amat penting, dengan syarat mereka harus tetap menjaga identitas sebagai Muslim.

Istiqomah untuk Da’wah

Menunjukkan identitas sebagai Muslim bukan hal yang mudah. Tetapi, sekali menunjukkan keteguhan hati dengan cara yang baik, orang Jepang akan menghormatinya. Dan sekali meremehkan masalah keyakinan, sulit membangunnya kembali. Dilemma yang sering dihadapi para mahasiswa baru di Jepang adalah bagaimana cara menghindari tawaran bir dalam pesta perkenalan dengan profesornya. Banyak orang yang menolaknya dengan baik sambil menjelaskan bahwa dirinya Muslim yang dilarang minum minuman keras. Biasanya orang Jepang segera menghargainya dan segera memesankan juice. Saat pertama bertemu itulah menunjukkan kebaikan yang luar biasa. Tetapi, banyak pula yang mengorbankan keyakinan hanya demi pergaulan, mereka merasa tabu menolak tradisi Jepang dan takut hubungan baik dengan profesornya akan rusak karena penolakannya.

Menurut pengalaman teman-teman yang berani menjaga keyakinannya, faktor utama untuk menjaga pergaulan yang baik dengan profesornya adalah kesungguhan bekerja menurut arahannya, bukan faktor kedekatan dalam pesta minum-minum. Bahkan, tak jarang teman-teman Jepang menghargai keyakinan mereka dengan menanyakan terlebih dahulu makanan apa yang akan mereka pesan yang tidak dilarang menurut Islam. Dan tak jarang pula, karena tertarik pada keteguhan mereka, teman-teman Jepangnya malah tertarik mengetahui latar belakang keyakinannya. Dengan cara ini, secara tidak langsung mereka menjelaskan ajaran Islam kepada teman-teman Jepang dan profesornya. Islam mengajarkan cara memperkenalkan ajaran Allah secara hikmah, dengan cara yang tepat, berdiskusi dengan baik, dan kalau perlu mendebat atau menolak lakukanlah dengan cara yang terbaik.

Minat masyarakat Jepang untuk mengenal Islam dan tradisinya kian bertambah. Sejak Maret – November 1993 di Kyoto International Community House dilaksanakan rangkaian ceramah tentang Islam dan tradisi Islam di berbagai negara yang terbuka bagi orang Jepang. Dalam setiap pertemuan itu peminatnya hampir selalu melimpah. Pembicaranya adalah para profesor yang faham masalah Islam dan tradisi masyarakatnya, termasuk ceramah khusus tentang Islam di Indonesia. Mahasiswa Muslim yang hadir atau dihadirkan pada acara itu dijadikan sebagai nara sumber bila ada penanya yang ingin tahu lebih dalam dari orang Muslim sendiri.

Ceramah yang disampaikan oleh Dr. Maurice Buccaille, penulis buku “Bibel, Qur’an, dan Sains Modern” memberikan kesegaran di tengah rangkaian ceramah tentang Islam di Kyoto itu. Di tempat yang sama, pada 28 Oktober 1994 Dr. Maurice Buccaille memberikan dua ceramah tentang penemuan arkeologis di Mesir yang memperkuat kebenaran Al-Qur’an dan tentang hubungan Islam dan sains. Penyelenggaranya adalah Kansai Islamic Society yang dipimpin Zeba Kume dan Jurusan Psikologi Kyoto University yang dimotori Prof. Toshio Sugiman (yang pernah membuat studi perbandingan karakteristik orang Jepang dan Muslim dalam memandang masalah-masalah yang berkiatan dengan keagamaan). Acara ini menarik karena pembicaranya adalah orang Perancis yang Muslim, yang berbicara masalah Islam dengan kaidah sains modern. Di Jepang, orang memandang dunia Barat relatif lebih tinggi dari pada Asia atau Afrika. Jadi, kalau yang berbicara adalah orang Barat diharapkan pesan yang disampaikan lebih terperhatikan.

Dari pengalaman itu, saya berpendapat da’wah di Jepang saat ini mesti memprioritaskan dulu menghilangkan kesalahpahaman, bukan dengan gegap gempitanya pengislaman  yang bagaikan baju, sebentar akan dibuang lagi.

Perlu Masjid

Dalam sejarah Islam, masjid merupakan basis pembentukan masyrakat Islam. Masjid merupakan pusat ibadah dan kemasyarakatan. Ini dapat dilihat dari usaha pertama Rasulullah s.a.w. ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah. Nabi mendahulukan membangun masjid. Di masjid itulah masyarakat Islam dibina.

Dalam sejarah Islam di Jepang dua masjid berperan besar memperkenalkan Islam di sana. Masjid Kobe berdiri 1935 dibangun oleh para pendatang dari India. Di sekitar masjid itu pendatang Muslim yang sebagian besar adalah para pedagang bertempat tinggal. Pada perang dunia ke dua daerah di sekitar masjid rusak, tetapi alhamdulillah masjid tetap utuh. Setelah perang dunia ke dua itu pedagang India menyusut jumlahnya.

Di Tokyo orang-orang Krim-Turki mendirikan masjid tahun 1938. Sayangnya, masjid Tokyo ini kini hanya tinggal ceritanya. Sampai Desember 1984 masjid ini masih digunakan walaupun telah rapuh. Dalam musyawarah warga Muslim diputuskan untuk memugarnya. Maka pada Maret 1986 masjid Tokyo diruntuhkan. Namun sampai kini masyarakat Muslim di sana belum juga menjumpai ada masjid baru. Mereka lelah mengurusnya. Panitia pemugaran kini tak terdengar lagi usahanya.

Tak jelas duduk soal yang sebenarnya. Dari buletin-buletin lama yang sempat saya baca tampaknya ada persoalan rumit yang penyelesaiannya. Kabarnya, orang berkewargaan negara Turki pemelihara masjid itu menyerahkan tanah masjid itu kepada kedutaan besar Turki. Maka status tanah bekas masjid itu kini diaku menjadi milik Pemerintah Turki. Janji untuk membangunnya kembali, tinggal janji. Bahkan ada rencana untuk menjadikannya sebagai pusat kebudayaan Turki.

Pada bulan Ramadan 1990 diperoleh kabar gembira. Utusan Islamic Center of Japan, Prof. Abdul Karim Saito dan Zubair Suzuki, didampingi Amin Al Attas (dari Rabithah, Mekkah), Dr. Umar Zubair (eks Rektor King Abdul Aziz Univ., Jeddah),  Dr. Saleh Samarai (penasihat Islamic Center of Japan), dan Saleh Ozkan (Wakil Ketua Faisal Finance Institute, Istambul) menghadap Presiden Turki Turgut Ozal. Mereka menyampaikan permohonan agar tanah bekas masjid itu tidak digunakan untuk hal-hal lain selain masjid. Presiden berjanji untuk mengusahakan agar tanah itu tetap untuk masjid. Tetapi kapan akan dibangun? Alasan keuangan bisa jadi penghambatnya, tetapi bukan mustahil ada alasan-alasan lain.

Mungkin banyak orang heran, mengapa negara-negara Arab kaya tak mengambil inisiatif membantu dana untuk itu. Rupanya masalahnya tidak sesederhana itu. Menurut cerita teman-teman dari negara Arab, ada kecenderungan masalah perbedaan politik menyebabkan bantuan dana tidak gampang. Konon, bantuan itu dikaitkan juga dengan “dominasi” kebijaksanaan pengelolaan masjid. Sekarang terbetik pula berita bahwa pemerintah Arab Saudi berencana membangun sendiri masjid yang lain yang pengelolaannya mungkin dilakukan Arabic Islamic Institute yang kini telah ada di Tokyo.

Satu-satunya masjid yang ada di Jepang saat ini adalah Masjid Kobe. Alhamdulillah, masalah seperti terjadi di Tokyo tidak terjadi di Kobe. Masjid ini dikelola oleh suatu komite yang terdiri dari berbagai bangsa. Masjid itu milik Allah (Q.S. 72:18), tidak ada suatu kelompok pun yang boleh mendominasi penguasaannya. Dalam komite itu ada orang Turki, Pakistan, Suriah, Indonesia, Mesir, Filipina (Moro), dan Jepang. Imamnya yang sekarang dikirim dan dibiayai oleh Al-Azhar, Mesir.

Dalam kata sambutan pada Idul Fitri beberapa tahun lalu, pimpinan komite Masjid Kobe berpesan, bahwa setiap Muslim di Jepang perlu melestarikan Masjid Kobe. Dia menjelaskan, saat ini untuk membangun menaranya sangat sulit. Ini dapat difahami, karena harga tanah dan biaya pembangunan di Jepang amat mahal.

Tahun 1992 masjid ini direnovasi. Bangunan utama masjid yang terdiri dari tiga lantai tetap seperti semula, tetapi bangunan pendukung di sekitarnya dirombak. Kini fasilitasnya makin lengkap. Di lantai pertama ada tempat wudlu pria, tempat mengurus jenazah, perpustakaan, ruang rapat kecil, ruang sekretariat, dapur, dan ruang pertemuan. Di lantai dua ada tempat wudlu wanita yang langsung berhubungan dengan lantai dua (khusus tempat salat wanita) dan ruang belajar (kelas). Di lantai 3 ada tempat tinggal penjaga kebersihan masjid, seorang nenek Jepang yang baru beberapa waktu lalu masuk Islam, dan tempat tinggal Imam masjid. Untuk renovasi itu dihabiskan biaya sekitar 110 juta Yen (sekitar Rp 1.65 milyar, menurut nilai kurs waktu itu). Biaya itu murni dari kas masjid dan sumbangan-sumbangan donatur perorangan. Kas masjid terutama berasal dari menyewakan halaman masjid untuk parkir mobil penduduk di sekitarnya dan menyewakan rumah milik masjid. Masjid Kobe benar-benar independen.

Setelah direnovasi masjid Kobe makin aktif melakukan da’wah. Imam masjid secara penuh berada di masjid dan siap memberikan pelajaran ajaran Islam dan bahasa Arab kepada siapa saja yang berminat. Orang-orang Jepang pun sering datang melihat-lihat masjid dan bertanya tentang Islam. Maka tidak heran bila sekarang sering terlihat orang Jepang masuk ke dalam masjid melihat-lihat seperti turis sambil dijelaskan beberapa hal tentang Islam. Kegiatan rutin lainnya adalah sekolah agama bagi anak-anak Muslim. Ruangan belajar dan ruang pertemuan juga sering digunakan oleh MSA-J (Muslim Student Associtaion of Japan) untuk melakukan Islamic Training Camp selama beberapa hari. ICMI orwil Pasifik/Jepang juga pernah memakainya untuk Winter Training Camp Ramadan 1414 yang lalu.

“Masjid-masjid” Lokal

Kelangkaan bangunan masjid di Jepang merupakan tantangan tersendiri bagi Muslim di Jepang. Sedangkan saat ini hampir di tiap kota yang ada universitasnya di sana ada komunitas Muslim, khususnya mahasiswa Muslim dari berbagai negara. Untuk mengatasi kelangkaan masjid banyak cara ditempuh mereka dalam menyediakan tempat untuk salat Jum’at. Salat Jum’at itulah kegiatan rutin utama dalam setiap komunitas Muslim, sekaligus media untuk bertemu dengan saudara seiman.

Sekedar memberikan gambaran keadaan masyarakat Muslim di Jepang dalam menyediakan tempat ibadah, inilah beberapa contohnya. Di Tokyo Islamic Center of Japan (ICJ) tidak mempunyai ruang luas untuk salat Jum’at. Karenanya Arabic Islamic Institute merupakan tempat utama yang dituju untuk salat Jum’at, khususnya masyarakat Muslim dari Timur Tengah. Masyarakat Muslim dari Indonesia dan Malaysia biasanya pergi ke mushollah KBRI.

Di Sendai ada Islamic Cultural Center of Sendai (ICCS) yang dipimpin oleh Muhammad Sato, seorang Muslim Jepang yang taat dan aktif dalam kegiatan keislaman. Untuk salat Jum’at dan kegiatan lainnya mereka menyewa ruangan dengan harga sewa sekitar 60.000 – 80.000 Yen (sekitar Rp 1,2 – 1,6 juta) per bulan. Cara ini pun dilakukan oleh Islamic Association of Nagoya (IAN) dan Islamic Center Hiroshima. Uang sewa sebagian besar (atau seluruhnya) disubsidi oleh ICJ Tokyo. Cara sewa rumah juga dilakukan oleh masyarakat Muslim di Miyazaki. Bedanya, mereka membayarnya dengan sumbangan para jamaahnya sendiri. Permohonan mereka untuk mendapat bantuan ICJ belum pernah mendapat tanggapan.

Kyoto Muslim Association (KMA) saat ini mengatasi kelangkaan tempat salat Jum’at dengan cara menyewa ruang kursus hanya dua jam, sekedar untuk salat Jum’at. Untuk sewa ini hanya membayar 6000 Yen, jauh lebih murah dari pada menyewa apartemen secara penuh. Dengan jamaahnya sekitar 50 orang, kini ruang berukuran 8 x 3 m persegi itu pun sudah terasa sesak sekali. Dalam perkembangannya, KMA pun menempatkan lemari es untuk daging halal dan lemari rak buku untuk perpustakaan kecilnya. Dengan tambahan itu KMA mesti bayar sekitar 15.000 Yen per bulan yang diperoleh dari sumbangan bulanan jamaahnya. Karena peminjaman ruangan resminya hanya hari Jum’at, penjualan daging halal dan peminjaman buku hanya dilayani seusai salat Jum’at. Sejauh ini cara ini hanya dilakukan oleh KMA.

Cara lain yang dilakukan para mahasiswa Muslim adalah menggunakan ruangan di asrama mahasiswa asing yang kadang-kadang sempit. Ini dilakukan, misalnya di Okayama, Tottori, Matsuyama, Fukuoka, dan Kagoshima. Bagi yang mendapat izin menggunakan fasilitas sekolah untuk kegiatan keagamaan, itu merupakan keuntungan dan biasanya itu dilakukan secara informal. Menurut Undang-undang Dasar Jepang, fasilitas pemerintah dilarang digunakan untuk kegiatan keagamaan.

Usaha Membangun Masjid

Apa pun cara yang ditempuh untuk menyediakan “masjid” di tiap lokaliti, ruang yang tersedia amat sempit, seperti umumnya rumah-rumah di Jepang. Karenanya, membangun masjid yang cukup memadai di masing-masing tempat merupakan cita-cita kaum Muslim di Jepang. Meski itu berarti jalan yang amat panjang.

Tahun 1990 KMA dan IAN mulai membangun rencana mengumpulkan dana untuk membangun masjid masing-masing di Kyoto dan Nagoya. Harga tanah yang melangit dan perizinan membangun fasilitas keagamaan yang rumit merupakan hambatan utama. Tetapi, niat itu mesti ada sejak sekarang. Pengumpulan dana untuk itu terus berlangsung. Di Kyoto kini telah terkumpul sekitar 3 juta Yen, suatu jumlah yang masih amat kecil untuk mewujudkan rencana itu.

Ketika ada konperensi Internasional para pemuka agama di Fukuchiyama, propinsi Kyoto, wakil KMA menemui Sekjen Rabithah, Dr. Abdullah Omar Nasseef. Tujuan utamanya adalah meminta bantuan dana untuk mendirikan masjid di Kyoto. Dr. Omar Nasseef menjanjikan dua hal: siap membantu pembangunan masjid Kyoto dan dalam masa menunggu proses itu siap membantu biaya sewa tempat untuk kegiatan KMA. KMA (kebetulan saya sebagai sekretarisnya waktu itu) diminta untuk menyiapkan proposal lengkap disertai rencana tempat untuk masjid (lokasi dan gambar bangunan), rencana biaya, dan daftar nama Muslim di Kyoto. Janji ini disambut gembira dan sebuah tim kecil segera melakukan survai lokasi dan harga tanah serta rencana gambarnya. Berkas permohonan segera dikirim ke Mekkah, markas besar Rabithah. Satu-satunya tanggapan yang diterima adalah permintaan data Muslim di Kyoto yang lebih lengkap, yang harus menyertakan Muslim Jepang, bukan hanya mahasiswa asing. Setelah itu komunikasi terputus. Kesulitan dana yang berkaitan dengan perang Teluk kedua (Irak-Kuwait) nampaknya berperan besar meruntuhkan segala rencana itu. Walaupun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha pengumpulan dana untuk masjid di Kyoto.

Juli 1993 ITEX Eid Committee melemparkan rencana besar: membeli tanah di Tokyo untuk salat ied, yang selanjutkan akan dikembangkan untuk masjid besar Tokyo dan sekolah Islam. Komite ITEX (Islamic Trade and Exhibition) sudah tiga tahun mengelola penyelenggaraan salat ied yang mengumpulkan sekitar 5000 orang. Tempat penyelenggaraan salat ied itu bersifat sementara. Karena itu terpikirlah untuk membeli tanah agar dapat secara permanen digunakan untuk salat ied sekaligus untuk kegiatan keislaman lainnya. Menurut si empunya gagasan, Syed Matloob Ali, di Hachioji — 40 menit dari pusat Tokyo — ada tanah dijual seluas 2.700 meter persegi seharga 350 juta Yen (sekitar Rp 7 milyar). Dengan menggunakan metode ala Pakistan, para donatur diharapkan membeli dalam satuan tehel (30 x 30 cm) seharga 13.000 Yen, jadi kira-kira ada 29.000 tehel. Rencana ini sangat besar — bahkan terlalu besar –, tetapi sangat diharapkan untuk “mengobati” rasa hampir putus asa menantikan harapan kosong dibangunnya kembali Masjid Tokyo. Sayangnya sampai Maret 1994 lalu, masih kurang dari 1000 tehel yang dipesan, masih sangat jauh dari 29.000 tehel yang ditawarkan. Menyadari kesulitan ini, muncul usulan agar komite ITEX harus lebih realistik dalam membuat rencana. Di samping itu, dalam  winter camp MSA-J (Muslim Student Association – Japan) Ramadan 1414H lalu, diusulkan perlu dibentuknya satu dewan yang berusaha menyatukan semua potensi sumber dana dari semua organisasi se Jepang untuk memprioritaskan pembangunan masjid Tokyo, lalu dilanjutkan dengan masjid-masjid lain di seluruh Jepang. Insya Allah.

%d blogger menyukai ini: