Catatan Pengembaraan di Jepang

T. Djamaluddin

(Dimuat di tabloid Hikmah –5 seri–,  Minggu III Mei – Juni 1995)

Sepekan sebelum Ramadan 1988 saya mendarat di Jepang untuk tugas belajar di sana. Hujan yang dingin di awal musim semi menyambut hari pertama saya di negeri sakura. Bunga‑bunga mulai bermekaran, tetapi bunga sakura belum nampak. Suasana baru dan harum khas Jepang, yang bisa dirasakan namun sulit diceritakan, mulai saya masuki.

Enam tahun bermukim di Jepang dan turut aktif dalam berbagai kegiatan keislaman di sana merupakan pengalaman yang amat berharga. Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman tentang kehidupan Muslim, khususnya saya dan keluarga, dan gambaran perkembangan Islam di sana.

Kenangan enam tahun

Aroma kare Jepang yang khas paling saya ingat, karena itulah makanan pertama yang saya makan, yang menurut teman yang mengantar paling sesuai dengan lidah Indonesia diantara sekian jenis makanan di kantin asrama di Osaka. Sebenarnya saya ragu akan kehalalannya, tetapi saya hanya bisa percaya pada teman yang mengantar bahwa itu halal karena saya belum tahu alternatif lain.

Masalah makanan adalah tantangan pertama yang harus saya hadapi. Saya selalu ragu akan makanan‑makanan yang tersedia di kantin. Ikan goreng pun tenyata tercampur barang haram karena, menurut teman Nasrani yang pernah pesan makanan terbuat dari daging babi, makanan itu digoreng pada minyak yang sama dengan ikan. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian seorang teman memberikan rice cooker, “warisan” teman‑teman yang pulang. Sejak itu saya mulai memasak sendiri. Telur dan sayur mayur adalah menu rutin (untungnya saya memang cenderung vegetarian).

Masalah lain muncul, bagaimana memilih kue‑kue dan makanan lainnya. Untunglah setiap makanan di Jepang mencantumkan bahan dasarnya. Maka saya mulai mencari‑cari di kamus bahasa Jepang untuk: lemak babi, daging babi, dan bahan‑bahan haram lainnya. Dengan pengetahuan bahasa Jepang yang masih amat terbatas, tulisan Jepang itu saya tulis (tepatnya, saya “gambar”) di kertas dan saya cocokkan dengan daftar bahan makanan tiap kemasan setiap akan membelinya. Merepotkan, tetapi tak ada jalan lain untuk menjaga perut dari makanan haram. Pernah juga keliru. Setelah diperiksa ulang sesampainya di rumah atau ketika memakannya, ternyata mengandung unsur haram. Kalau tak mungkin lagi dikeluarkan, ya hanya istighfar yang bisa saya lakukan.

Hidup sebagai Muslim di negeri yang mayoritasnya bukan Muslim, bahkan tak kenal Islam sama sekali, bukan hal yang mudah. Menyadari hal itu teman‑teman Muslim yang senior datang ke asrama menjelaskan hal‑hal yang perlu diketahui oleh para pendatang baru. Inilah yang saya tunggu‑tunggu. Pertemuan Ahad siang bulan Ramadan itu mengingatkan mentoring di Masjid Salman yang baru beberapa pekan saya tinggalkan. Dalam pertemuan itu saya merasakan menemukan simpul‑simpul ikatan saudara seiman. Saat itu pula, bersama‑sama teman‑teman dari Suriah, Tunisia, Maroko, Malaysia dan Indonesia, mulai dirancang salat tarawih bersama dan salat Jum’at di ruang belajar asrama.

Ikatan semacam itu amat terasa manfaatnya kalau mengingat bahwa keimanan akan mudah luntur tanpa usaha perbaruan. Tantangan ditengah masyarakat non‑Muslim mau tak mau akan mengikis iman seseorang, sadar atau tak sadar. Pertemuan pengajian dan sejenisnya merupakan sarana yang terbaik untuk saling mengingatkan.

Dari pertemuan itu saya diberitahu tentang adanya Kansai Islamic Society di Osaka yang baru berdiri yang dipimpin oleh Ibu Zeba Kume, seorang Muslimah Jepang. Sejak buka puasa pertama di rumah Ibu Zeba Kume itu saya dan teman‑teman merasa perlu menghidupkan perkumpulan kecil ini. Mereka menyelenggarakan pertemuan bulanan bagi orang Jepang, Muslim dan non‑Muslim. Pembicaranya adalah para mahasiswa Muslim. Topik pembicaraannya beragam tetapi punya tujuan satu: memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jepang. Pengumuman acara pertemuan bulanan selalu diumumkan di koran lokal hingga siapa pun yang berminat mengenal Islam dan masyarakatnya di persilakan datang.

Salat dalam perjalanan punya masalah sendiri: siap jadi tontonan orang banyak, apalagi bagi istri saya yang berkerudung. Beruntung kalau mendapat tempat sepi. Kalau tak mungkin, di taman atau di stasiun kereta pun jadi. Itu sering saya alami. Wudlunya pun sering jadi tontonan, apalagi pada musim dingin terlihat aneh berbasah-basah mencuci muka, tangan, dan mengusap kepala dan kaus kaki. Untungnya, menurut fikih, kaki yang bersih tak perlu di basuh lagi cukup diusap kaus kakinya, hingga tak perlu mengangkat kaki ke atas wastafel.

Pernah suatu kali salat berjamaah di taman. Tak lama kemudian anak-anak berkumpul menonton. Pernah juga terpaksa salat di stasiun di Okayama, dikira lorong itu sepi. Ternyata baru saja takbir, terdengar kereta berhenti dan para penumpang berhamburan keluar lewat lorong itu, yang tentunya merasa heran lihat orang asing melakukan ruku dan sujud di situ. Sekali waktu saya tidak menemukan tempat sepi di stasiun Tokyo yang amat ramai itu. Setelah berkeliling ke sana kemari, saya temukan tempat sepi dan langsung saja menggelar sajadah dan bertakbir. Tetapi baru satu rakaat, dua petugas stasiun datang memimta saya keluar dari tempat itu. Saya hanya memberi isyarat dan mempercepat salat. Rupanya tempat itu khusus untuk jalan masuk kaisar, saya tidak memperhatikan papan larangan masuk. Pantas tidak ada orang di sana.

Mencari Ikatan Iman

Kansai Islamic Society merupakan simpul ikatan pertama yang saya pegang. Di sana saya bisa belajar mengenal masyarakat Jepang, khususnya pandangan mereka tentang Islam. Sasaran utama ceramah-ceramah yang dilakukan adalah memperkenalkan Islam dan menghilangkan kesalahpahaman mereka. Mengislamkan mereka masih perlu proses panjang mengingat keunikan masyarakat Jepang.

Oktober 1989 saya pindah ke Kyoto University, tempat saya belajar sekitar lima tahun. Hari-hari pertama di Kyoto saya merasakan kesepian di tengah keramaian. Adanya telepon menyebabkan bertemu muka dengan teman-teman relatif jarang. Terpikirlah untuk mengadakan pengajian rutin Ahad malam, wadah untuk bertemu dan saling mengingatkan. Alhamdulillah, gayung bersambut. Maka lahirlah kelompok pengajian Kyoto yang bermula dari enam orang kini makin ramai anggotanya dan makin banyak kegiatannya. Dalam bentuknya yang sekarang, kelompok pengajian Kyoto selain mengadakan pertemuan rutin setiap dua pekan juga mengadakan pengumpulan dana bantuan pendidikan untuk dikirim ke Indonesia dan menerbitkan buletin bulanan IQRA. Ini adalah suatu persaudaraan dan kerja sama yang paling mengesankan saya selama di negeri orang.

Ikatan berikutnya yang saya pegang adalah Kyoto Muslim Association (KMA) dan Muslim Student Association of Japan (MSA-J).  KMA adalah salah satu organisasi mahasiswa Muslim yang paling aktif dan memegang posisi penting dalam berbagai kegiatan MSA-J. Amanat Secretary for Culture and Publication di MSA-J dan KMA bagi saya merupakan pengalaman amat berharga. Dengan amanat itu saya lebih mengenal berbagai kegitan keislaman di berbagai pelosok Jepang. Alhamdulillah sampai saya pulang (1994) bisa dijalin komunikasi dengan lebih dari 50 kelompok mahasiswa Muslim se Jepang, suatu modal berharga dalam memperkuat jaringan da’wah Islam di sana. Dengan segala keterbatasan yang ada, amanat sebagai Secretary for Publication berarti memegang amanat sebagai “wartawan” (mencari berita kegiatan dengan surat, telepon, maupun jaringan komputer), penulis artikel kalau kosong, editor, memperbanyak, dan mengirimkan per pos ke berbagai daerah. Amanat itu termasuk juga menyusun, memperbanyak, menjilid, dan mendistribusikan “Guide Book for Muslim in Japan”.

Jaringan contact person MSA-J yang sebagian besar adalah mahasiswa Indonesia bermanfaat juga menjadi jaringan pengajian yang diorganisir Divisi Pembinaan Ummat ICMI orwil Pasifik/Jepang. Alasan utama penyelarasan kedua kegiatan itu adalah untuk efisiensi waktu dan dana, karena kedua amanat di MSA-J dan ICMI itu saya pegang sedangkan keduanya mempunyai tujuan yang sama dalam pembinaan ummat. Pendekatan da’wah yang menekankan makna amar ma’ruf nahi munkar mampu menghilangkan pro dan kontra kehadiran ICMI yang sempat dikhawatirkan. Kelompok-kelompok pengajian lokal yang telah menjamur tidak diganggu keberadaannya. Maka, kehadiran ICMI hanyalah mengisi kekosongan, yakni membuat jalur komunikasi antar kelompok-kelompok pengajian yang telah ada. Kelangkaan dana ICMI dalam menerbitkan buletin Al-Ihsan diatasi dengan cara patungan pengurus Divisi Pembinaan Ummat dan distribusinya menumpang pada distribusi MSA-J Newsletter dan KMA News untuk menekan ongkos kirim (toh contact personnya sama).

Tantangan Untuk Maju

Tantangan kehidupan di tengah masyarakat non-Muslim memacu saya untuk belajar langsung dari kehidupan nyata. Pepatah “tak ada rotan akar pun jadi” sering jadi pegangan. Maka pengalaman mengurus seluk beluk pernikahan dan mengurus jenazah mungkin tak akan pernah saya peroleh langsung kalau saya berada di Indonesia. Di Indonesia banyak ulama yang lebih menguasai masalah-masalah seperti itu. Tetapi di Jepang dengan kelangkaan ulama, mahasiswa Muslim sering jadi tumpuan. Dari kehidupan sehari-hari, proses kreatif pun muncul setelah langsung berhadapan dengan masalah nyata.

Kegemaran saya mengutak-atik masalah hisab astronomi untuk keperluan ibadah sudah tumbuh sejak saya belajar astronomi dasar di Jurusan Astronomi ITB. Rencana membuat program sederhana hanya sampai dalam pemikiran yang pelaksanaannya tertunda karena bermacam soal. Baru setelah ada tantangan nyata hal itu bisa direalisasikan.

Ketika banyak teman yang bertanya masalah jadwal salat di Jepang, saya tergerak membuatkan program sederhana menghitung jadwal salat di berbagai tempat di seluruh dunia. Perubahan musim menyebabkan waktu matahari terbit dan terbenam selalu berubah. Jadwal salat seperti di Indonesia tak berlaku lagi untuk dijadikan perkiraan. Ada contoh menarik tentang ini. Seorang mahasiswa Malaysia yang terbiasa salat asar jam 05.00 sore di negerinya, tanpa melihat keadaan matahari dia tetap melakukannya di Jepang, padahal pada musim dingin jam 05.00 sudah masuk waktu maghrib. Pernah juga terjadi seorang teman dari Indonesia masih mengacu jadwal di Indonesia, padahal pada musim panas jam 04.45 di Kyoto matahari sudah terbit. Karena itu jadwal salat amat diperlukan, termasuk untuk menentukan saat puasa. Untuk membantu yang tidak mempunyai komputer, jadwal salat lengkap untuk 46 ibukota propinsi di Jepang dimasukkan di “Guide Book for Muslims in Japan”.

Arah kiblat juga sering membingungkan banyak orang. Kompas arah kiblat baik yang dipasarkan di Indonesia maupun di Jepang ada yang salah memberikan petunjuk arah kiblat. Ada yang mencantumkan angka 11 (berarti 99 derajat dari utara ke barat) ada yang mencantumkan angka 7 (63 derajat dari utara ke barat). Yang benar arah kiblat dari Jepang adalah antara angka 7 dan 8 (63 – 72 derajat), tepatnya sekitar 69 derajat dari utara ke barat. Orang bingung, kok Jepang yang lintangnya lebih ke utara dari pada Mekkah arah kiblatnya, arah kiblatnya bukan ke selatan seperti tampak pada peta datar. Saya katakan bumi kita bulat, bukan datar. Arah kiblat dihitung berdasarkan jarak terdekat pada bola bumi dari suatu kota ke Mekkah. Dengan sebuah program pendek arah kiblat gampang dihitung.

Penentuan kalender Islam mempunyai persoalan tersendiri. Karena tidak tercantum dalam kalender umum yang dipasarkan di Jepang, sering terjadi orang tak sadar bahwa Ramadan telah datang. Mungkin ada yang belum sempat membayar qadla puasanya. Ada pula yang baru tahu bahwa puasa Ramadan telah mulai ketika melihat temannya sibuk menyiapkan buka puasa. Maka ketika ada yang menanyakan masalah konversi kalender hijriyah ke masehi dan sebaliknya, saya terpacu membuatkan program sederhana untuk konversi kalender itu. Dengan program itu dapat diperkirakan kapan masuknya awal Ramadan dan hari raya hingga bisa bersiap-siap jauh-jauh hari.

Tantangan yang belum terselesaikan adalah usaha MSA-J menyatukan awal Ramadan dan hari raya di Jepang. Prinsipnya mudah, menyatukan pendapat antara Masjid Kobe dan Islamic Center di Tokyo. Pelaksanaannya sulit. Islamic Center tergantung sepenuhnya pada berita ru’yatul hilal dari Malaysia. Sedangkan masjid Kobe cenderung pada hisab astronomi.  Pernah disepakati untuk melakukan ru’yatul hilal yang dilakukan oleh para mahasiswa Muslim di berbagai tempat di Jepang. Saya katakan tidak sesederhana dikatakan. Perlu kemampuan mengenali hilal dan komunikasi yang cepat agar hasilnya cermat, cepat, dan tepat, tidak malah membingungkan ummat. Ini belum terlaksana.

Hanya beberapa hari menjelang kepulangan saya ke Indonesia Syawal lalu, masalah kontroversi ketidakcermatan ru’yatul hilal muncul. Seorang mahasiswa Mesir dan istrinya mengaku melihat hilal dari tingkat lima apartemennya  di tengah kota. Hilal itu katanya teramati sekitar satu jam setelah matahari terbenam. Saya katakan itu pasti keliru. Data astronomi menyatakan hari itu bulan terbenam lebih dahulu dari pada matahari, jadi tidak mungkin diru’yat. Bisa jadi yang teramati adalah cahaya terang planet Venus yang saat terbenamnya sesuai dengan cerita teman itu. Mungkin pula cahaya lain karena mereka mengamatinya dari tengah kota. Diskusi per telepon baru berakhir larut malam. Kesaksian itu dilaporkan juga ke Islamic Center di Tokyo dan Masjid Kobe, tetapi tidak diterima. Kisruh penentuan hari raya seperti ini menutup catatan saya. Tiga hari setelah Idul Fitri baru lalu saya pulang ke Indonesia. Sayonara Jepang yang penuh kenangan….

Da’wah Islam

Jepang adalah negara unik kata seorang misionaris Kristen. Missi Kristen yang telah menjejakkan kakinya sejak abad 16, tidak banyak hasilnya. Bahkan seusai perang dunia ke dua ada lembaga missi Kristen dari Amerika yang mengirim pemuda-pemuda Jepang ke Amerika dengan tujuan agar mereka beralih agama ke Kristen. Nyatanya hanya sedikit sekali yang berpindah agama. Tentang keadaan ini, seorang missionaris pernah berujar, “I am not saying that the penetration rate is low in Japan. It is extraordinary low. Moreover, Japan, as one of world leading capitalized countries, which has penetrated into the world economic system, has an abnormally low Christianity rate. What does it mean? As advanced nation, Japan is the only exception, even taking a nation positioned in Far East into consideration. Japan is a unique country.”

Gambaran di atas disampaikan oleh Zeba Kume, seorang Muslimah Jepang dalam seminar tentang strategi da’wah di Jepang yang diadakan di Kyoto, 11 Syawal 1413H (4 April 1993). Dalam uraiannya dia memaparkan beberapa karakteristik masyarakat Jepang. Ciri utama yang menonjol adalah: homogenitas dan sikap menjaga keharmonisan dan kesatuan. Dengan kata lain, mereka tak ingin berbeda dari yang kebiasaan yang ada disekitarnya. Mungkin karena itu pula, di tengah modernisasi, ajaran shinto yang mempunyai jutaan dewa masih dipertahankan.

Di sisi lain, yang menonjol pada masyarakat Jepang modern adalah reaksi alergi terhadap fanatisme agama. Kita tahu, akibat fanatisme yang membabi buta pada Kaisar Showa sebagai dewa yang hidup, telah melahirkan ekspansionime Jepang dan perang dunia ke dua. Reaksi itu, dengan pengaruh Amerika, melahirkan ketetapan di dalam undang-undang dasar Jepang yang melarang pemerintah turut campur dalam urusan agama dan masyarakat modernnya cenderung pada kehidupan ateistik.

Dalam pengamatan saya selama enam tahun bermukim di Jepang, masyarakat Jepang memandang agama secara unik. Di satu sisi masih banyak orang yang tidak mengenal konsep ketuhanan yang ghaib. Dewa-dewa yang mereka sembah semuanya direpresentasikan dalam bentuk patung. Amat sulit menjelaskan kepada mereka konsep Tuhan seperti yang dikenal di dalam agama samawi. Di lain pihak, ada kecenderungan agama hanya sebagai baju, mudah dipakai dan bila mau dilepas lagi. Mereka tidak loyal pada satu agama. Mereka mengaku pengikut Budha, tetapi tetap melaksanakan kebiasaan Shinto. Kini banyak pula kecenderungan anak-anak muda menikah di gereja, padahal mereka bukan Kristen, hanya sekedar meniru gaya Barat. Malah ada tour nikah bagi mempelai Jepang di gereja-gereja di Eropa, yang oleh kalangan Kristen dikritik.

Kondisi seperti itu perlu difahami oleh setiap Muslim yang berniat berda’wah di Jepang. Sekitar tahun 1990 pernah ada rombongan jamaah tabligh dari Amerika Serika yang mampir ke Kyoto. Mereka bercerita telah mengislamkan beberapa orang Jepang hanya dalam beberapa hari perjalanannya ke beberapa kota. Teman-teman yang pernah lama tinggal di Jepang dan aktif dalam kegiatan da’wah tak akan heran dengan cerita itu. Agama bagi mereka seperti baju, gampang memakai kalau mau dan mudah saja melepasnya. Mungkin ini terlalu berlebihan, tetapi itulah yang teramati dan pernah tercatat dalam sejarah da’wah Islam di Jepang. Contoh yang terbaru adalah cerita masuk Islamnya Antonio Inoki, bekas pegulat profesional yang menjadi anggota parlemen. Dalam usahanya mendekati Presiden Sadam Husein, untuk menyelamatkan warga Jepang yang dilarang meninggalkan Irak dalam perang Irak-Kuwait, tak segan-segan mengumumkan diri masuk Islam. Ya sekedar kedok politis.

Gegap Gempita Islamisasi

Sekitar tahun 1979-an, ketika saya masih SMA, dalam suasana menyambut abad kebangkitan Islam, abad 15 Hijriyah, saya mengutip berita di majalah untuk bahan khutbah saya. Saya katakan, laju pertambahan penganut Islam di Jepang rata-rata sekitar 5 orang per hari untuk memberikan ilustrasi kebangkitan Islam. Suatu hal yang mengagumkan! Benarkah?

Informasi itu memang tidak terlalu berlebihan. Itu terjadi dalam masa gegap gempitanya syiar Islam di Jepang, setelah krisis minyak tahun 70-an yang memaksa Jepang melirik ke negara-negara Arab kaya minyak yang sering diasosiasikan dengan Islam. Itu dimulai setelah dr. Shawki Futaki dan tiga temannya masuk Islam pada tanggal 29 Desember 1974. Dalam masa enam bulan sesudahnya tercatat 1.175 orang masuk Islam secara masal dalam tiga kali pengislaman. Upacara pengislaman itu dihadiri para diplomat negara-negara Islam dan beberapa menteri dari Arab Saudi. Bahkan pernah dalam acara pengislaman masal dalam tahun-tahun berikutnya, sekitar 2000 orang secara serentak diislamkan. Kalau dipukul rata, sekitar 6 orang per hari masuk Islam! Selama masa penuh semangat Islam itu lahirlah Japan Islamic Congress yang pada tahun 1979 beranggota sekitar 28 ribu orang.

Kini gegap gempita itu telah usai. Namun sisa-sisanya masih ada. Misalnya, di Kyoto ada Japan Islamic Mosque yang dipimpin oleh Mohammad Ali Kobayashi dan Japan Islamic Frindship Association yang dipimpin Sulaiman Tsukiyama. Dua organisasi ini tidak jelas kegiatannya. Masjid tidak ada dan persahabatan pun tak ada wujudnya. Mulanya ke dua orang ini sering datang ke pertemuan bulanan Kansai Islamic Society, tetapi kemudian tidak pernah hadir lagi. Salat Jum’at pun pernah diajak supaya bersama-sama dengan jamaah Kyoto Muslim Association (KMA), namun tak pernah hadir. Pernah sekali bertemu dengan pengurus KMA untuk menjalin kegiatan bersama, tetapi tidak ada kelanjutannya.

Gambaran itu sekedar menunjukkan bahwa Islamisasi secara massal dan menjadi harapan ummat di belahan dunia lainnya pernah terjadi di Jepang. Tetapi ibarat hujan lebat di tanah gersang, setelah banjir kembali gersang lagi. Hanya yang sungguh-sungguh keislamannya yang masih bertahan sebagai Muslim yang baik. Mereka umumnya karena masih aktif dalam kegiatan-kegiatan keislaman bersama dengan para Muslim pendatang. Misalnya Muhammad Sato, pemimpin Islamic Cultural Center of Sendai. Selebihnya yang masih kuat keislamannya adalah yang terbina oleh istri atau suaminya yang salih. Tetapi, ini bukan dari Islamisasi secara masal itu.

Memang tidak mudah mempertahankan keimanan di tengah masyarakat non-Muslim. Jadi, melunturnya kembali keislaman orang-orang Jepang yang pernah menyatakan keislamannya, bisa jadi karena langkanya pembinaan lanjutan. Kelangkaan pembinaan itu bisa bersumber dari kesibukan mereka bekerja, bisa pula dari sikap dasar mereka yang tidak loyal pada ajaran agama.

Dalam suatu pertemuan Kansai Islamic Society pernah dicoba untuk memberikan pendalaman ajaran Islam kepada Muslim Jepang. Namun baru dua kali pertemuan pesertanya berkeberatan, dengan alasan tak ada waktu, walau pun itu dilaksanakan hari Sabtu sore. Pembinaan yang paling efektif mungkin hanya melalui pernikahan dengan pasangan yang salih. Nah, masalah mencari jodoh ini merupakan masalah besar pula. Para muslimah Jepang umumnya relatif lebih taat dalam keislamannya repot mendapatkan jodoh. Di Kansai Islamic Society masalah ini kadang dilontarkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Da’wah saat ini

Sejarah da’wah Islam di Jepang secara garis besar dapat dibagi dalam tiga periode. Gelombang pertama tahun 1900 – 1940 adalah masuknya pengaruh Islam dari Asia Tengah ke Jepang yang ditandai dengan masuknya Muslim dari semenanjung Krim (di utara Turki) yang dikirim oleh Sultan Hamid II dan usaha pemerintah Jepang mengirim orang-orang untuk mempelajari Islam dari Asia Tengah untuk kepentingan politik dan militer Jepang. Pada masa ini berdiri masjid Kobe tahun 1935 dan masjid Tokyo 1938 (yang diruntuhkan tahun 1986).

Gelombang ke dua gelombang adalah masa gegap gempitanya pengislaman pada pasca krisis minyak tahun 1970-an, seperti diuraikan di atas. Dalam masa ini gegap gempita Islamisasi di Jepang terdengar ke segenap penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Dalam masa ini peranan Islamic Center sangat menonjol. Terjemah Al-Qur’an, hadits, dan buklet-buklet keislaman dalam bahasa Jepang diterbitkan pertama kali dalam masa ini.

Apa yang dilakukan Islamic center saat ini hanyalah mencetak ulang bahan-bahan itu dan bertindak sebagai reservoir dana da’wah dari negara-negara Arab yang penyalurannya sangat selektif dan terbatas. Sedangkan peranannya dalam kegiatan da’wah makin redup. Kerja sama dengan organisasi-organisasi Islam lainnya yang kini menjamur, terasa hambar. Ada kesan ingin memayungi semuanya, tetapi musyawarah dengan organisasi-organisasi lainnya dapat dikatakan tidak ada.

Alhamdulillah, saat ini ada gelombang da’wah baru di Jepang: masuknya mahasiswa-mahasiswa dan pekerja-pekerja Muslim dari berbagai negara yang tersebar di berbagai kota. Langsung atau tak langsung kehadiran mereka ini memberikan penyegaran da’wah. Sejauh pengamatan saya, mahasiswa Muslim terbesar berasal dari Indonesia yang disusul oleh mahasiswa Mesir. Keduanya mempunyai organisasi mahasiswa yang mempunyai cabang-cabang di berbagai tempat. Dari kalangan pekerja Muslim, yang terbanyak berasal dari Iran, Bangladesh, dan Pakistan.

Peranan mahasiswa nampaknya kini dominan, terutama karena relatif berlimpahnya sumber daya manusia yang tersebar di berbagai kota. Dan alhamdulillah, jaringan komunikasi antar kelompok-kelompok mahasiswa Muslim itu kini telah terjalin melalui Muslim Student Association of Japan (MSA-J). Dari aktivitas-aktivitas kemahasiswaan sedikit demi sedikit pengertian-pengertian tentang Islam mulai tersebar.

Kalau boleh dirumuskan secara sederhana, orang Jepang mengenal hanya dalam tiga hal: tidak memakan daging babi, tidak minum sake (minuman keras), dan boleh mempunyai empat istri. Sedikit demi sedikit kesalahpahaman orang Jepang mulai dikikis. Dalam banyak kegiatan, mahasiswa-mahasiswa Muslim memperkenalkan Islam kepada mereka. Dalam hal ini peranan para mahasiswa amat penting, dengan syarat mereka harus tetap menjaga identitas sebagai Muslim.

Istiqomah untuk Da’wah

Menunjukkan identitas sebagai Muslim bukan hal yang mudah. Tetapi, sekali menunjukkan keteguhan hati dengan cara yang baik, orang Jepang akan menghormatinya. Dan sekali meremehkan masalah keyakinan, sulit membangunnya kembali. Dilemma yang sering dihadapi para mahasiswa baru di Jepang adalah bagaimana cara menghindari tawaran bir dalam pesta perkenalan dengan profesornya. Banyak orang yang menolaknya dengan baik sambil menjelaskan bahwa dirinya Muslim yang dilarang minum minuman keras. Biasanya orang Jepang segera menghargainya dan segera memesankan juice. Saat pertama bertemu itulah menunjukkan kebaikan yang luar biasa. Tetapi, banyak pula yang mengorbankan keyakinan hanya demi pergaulan, mereka merasa tabu menolak tradisi Jepang dan takut hubungan baik dengan profesornya akan rusak karena penolakannya.

Menurut pengalaman teman-teman yang berani menjaga keyakinannya, faktor utama untuk menjaga pergaulan yang baik dengan profesornya adalah kesungguhan bekerja menurut arahannya, bukan faktor kedekatan dalam pesta minum-minum. Bahkan, tak jarang teman-teman Jepang menghargai keyakinan mereka dengan menanyakan terlebih dahulu makanan apa yang akan mereka pesan yang tidak dilarang menurut Islam. Dan tak jarang pula, karena tertarik pada keteguhan mereka, teman-teman Jepangnya malah tertarik mengetahui latar belakang keyakinannya. Dengan cara ini, secara tidak langsung mereka menjelaskan ajaran Islam kepada teman-teman Jepang dan profesornya. Islam mengajarkan cara memperkenalkan ajaran Allah secara hikmah, dengan cara yang tepat, berdiskusi dengan baik, dan kalau perlu mendebat atau menolak lakukanlah dengan cara yang terbaik.

Minat masyarakat Jepang untuk mengenal Islam dan tradisinya kian bertambah. Sejak Maret – November 1993 di Kyoto International Community House dilaksanakan rangkaian ceramah tentang Islam dan tradisi Islam di berbagai negara yang terbuka bagi orang Jepang. Dalam setiap pertemuan itu peminatnya hampir selalu melimpah. Pembicaranya adalah para profesor yang faham masalah Islam dan tradisi masyarakatnya, termasuk ceramah khusus tentang Islam di Indonesia. Mahasiswa Muslim yang hadir atau dihadirkan pada acara itu dijadikan sebagai nara sumber bila ada penanya yang ingin tahu lebih dalam dari orang Muslim sendiri.

Ceramah yang disampaikan oleh Dr. Maurice Buccaille, penulis buku “Bibel, Qur’an, dan Sains Modern” memberikan kesegaran di tengah rangkaian ceramah tentang Islam di Kyoto itu. Di tempat yang sama, pada 28 Oktober 1994 Dr. Maurice Buccaille memberikan dua ceramah tentang penemuan arkeologis di Mesir yang memperkuat kebenaran Al-Qur’an dan tentang hubungan Islam dan sains. Penyelenggaranya adalah Kansai Islamic Society yang dipimpin Zeba Kume dan Jurusan Psikologi Kyoto University yang dimotori Prof. Toshio Sugiman (yang pernah membuat studi perbandingan karakteristik orang Jepang dan Muslim dalam memandang masalah-masalah yang berkiatan dengan keagamaan). Acara ini menarik karena pembicaranya adalah orang Perancis yang Muslim, yang berbicara masalah Islam dengan kaidah sains modern. Di Jepang, orang memandang dunia Barat relatif lebih tinggi dari pada Asia atau Afrika. Jadi, kalau yang berbicara adalah orang Barat diharapkan pesan yang disampaikan lebih terperhatikan.

Dari pengalaman itu, saya berpendapat da’wah di Jepang saat ini mesti memprioritaskan dulu menghilangkan kesalahpahaman, bukan dengan gegap gempitanya pengislaman  yang bagaikan baju, sebentar akan dibuang lagi.

Perlu Masjid

Dalam sejarah Islam, masjid merupakan basis pembentukan masyrakat Islam. Masjid merupakan pusat ibadah dan kemasyarakatan. Ini dapat dilihat dari usaha pertama Rasulullah s.a.w. ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah. Nabi mendahulukan membangun masjid. Di masjid itulah masyarakat Islam dibina.

Dalam sejarah Islam di Jepang dua masjid berperan besar memperkenalkan Islam di sana. Masjid Kobe berdiri 1935 dibangun oleh para pendatang dari India. Di sekitar masjid itu pendatang Muslim yang sebagian besar adalah para pedagang bertempat tinggal. Pada perang dunia ke dua daerah di sekitar masjid rusak, tetapi alhamdulillah masjid tetap utuh. Setelah perang dunia ke dua itu pedagang India menyusut jumlahnya.

Di Tokyo orang-orang Krim-Turki mendirikan masjid tahun 1938. Sayangnya, masjid Tokyo ini kini hanya tinggal ceritanya. Sampai Desember 1984 masjid ini masih digunakan walaupun telah rapuh. Dalam musyawarah warga Muslim diputuskan untuk memugarnya. Maka pada Maret 1986 masjid Tokyo diruntuhkan. Namun sampai kini masyarakat Muslim di sana belum juga menjumpai ada masjid baru. Mereka lelah mengurusnya. Panitia pemugaran kini tak terdengar lagi usahanya.

Tak jelas duduk soal yang sebenarnya. Dari buletin-buletin lama yang sempat saya baca tampaknya ada persoalan rumit yang penyelesaiannya. Kabarnya, orang berkewargaan negara Turki pemelihara masjid itu menyerahkan tanah masjid itu kepada kedutaan besar Turki. Maka status tanah bekas masjid itu kini diaku menjadi milik Pemerintah Turki. Janji untuk membangunnya kembali, tinggal janji. Bahkan ada rencana untuk menjadikannya sebagai pusat kebudayaan Turki.

Pada bulan Ramadan 1990 diperoleh kabar gembira. Utusan Islamic Center of Japan, Prof. Abdul Karim Saito dan Zubair Suzuki, didampingi Amin Al Attas (dari Rabithah, Mekkah), Dr. Umar Zubair (eks Rektor King Abdul Aziz Univ., Jeddah),  Dr. Saleh Samarai (penasihat Islamic Center of Japan), dan Saleh Ozkan (Wakil Ketua Faisal Finance Institute, Istambul) menghadap Presiden Turki Turgut Ozal. Mereka menyampaikan permohonan agar tanah bekas masjid itu tidak digunakan untuk hal-hal lain selain masjid. Presiden berjanji untuk mengusahakan agar tanah itu tetap untuk masjid. Tetapi kapan akan dibangun? Alasan keuangan bisa jadi penghambatnya, tetapi bukan mustahil ada alasan-alasan lain.

Mungkin banyak orang heran, mengapa negara-negara Arab kaya tak mengambil inisiatif membantu dana untuk itu. Rupanya masalahnya tidak sesederhana itu. Menurut cerita teman-teman dari negara Arab, ada kecenderungan masalah perbedaan politik menyebabkan bantuan dana tidak gampang. Konon, bantuan itu dikaitkan juga dengan “dominasi” kebijaksanaan pengelolaan masjid. Sekarang terbetik pula berita bahwa pemerintah Arab Saudi berencana membangun sendiri masjid yang lain yang pengelolaannya mungkin dilakukan Arabic Islamic Institute yang kini telah ada di Tokyo.

Satu-satunya masjid yang ada di Jepang saat ini adalah Masjid Kobe. Alhamdulillah, masalah seperti terjadi di Tokyo tidak terjadi di Kobe. Masjid ini dikelola oleh suatu komite yang terdiri dari berbagai bangsa. Masjid itu milik Allah (Q.S. 72:18), tidak ada suatu kelompok pun yang boleh mendominasi penguasaannya. Dalam komite itu ada orang Turki, Pakistan, Suriah, Indonesia, Mesir, Filipina (Moro), dan Jepang. Imamnya yang sekarang dikirim dan dibiayai oleh Al-Azhar, Mesir.

Dalam kata sambutan pada Idul Fitri beberapa tahun lalu, pimpinan komite Masjid Kobe berpesan, bahwa setiap Muslim di Jepang perlu melestarikan Masjid Kobe. Dia menjelaskan, saat ini untuk membangun menaranya sangat sulit. Ini dapat difahami, karena harga tanah dan biaya pembangunan di Jepang amat mahal.

Tahun 1992 masjid ini direnovasi. Bangunan utama masjid yang terdiri dari tiga lantai tetap seperti semula, tetapi bangunan pendukung di sekitarnya dirombak. Kini fasilitasnya makin lengkap. Di lantai pertama ada tempat wudlu pria, tempat mengurus jenazah, perpustakaan, ruang rapat kecil, ruang sekretariat, dapur, dan ruang pertemuan. Di lantai dua ada tempat wudlu wanita yang langsung berhubungan dengan lantai dua (khusus tempat salat wanita) dan ruang belajar (kelas). Di lantai 3 ada tempat tinggal penjaga kebersihan masjid, seorang nenek Jepang yang baru beberapa waktu lalu masuk Islam, dan tempat tinggal Imam masjid. Untuk renovasi itu dihabiskan biaya sekitar 110 juta Yen (sekitar Rp 1.65 milyar, menurut nilai kurs waktu itu). Biaya itu murni dari kas masjid dan sumbangan-sumbangan donatur perorangan. Kas masjid terutama berasal dari menyewakan halaman masjid untuk parkir mobil penduduk di sekitarnya dan menyewakan rumah milik masjid. Masjid Kobe benar-benar independen.

Setelah direnovasi masjid Kobe makin aktif melakukan da’wah. Imam masjid secara penuh berada di masjid dan siap memberikan pelajaran ajaran Islam dan bahasa Arab kepada siapa saja yang berminat. Orang-orang Jepang pun sering datang melihat-lihat masjid dan bertanya tentang Islam. Maka tidak heran bila sekarang sering terlihat orang Jepang masuk ke dalam masjid melihat-lihat seperti turis sambil dijelaskan beberapa hal tentang Islam. Kegiatan rutin lainnya adalah sekolah agama bagi anak-anak Muslim. Ruangan belajar dan ruang pertemuan juga sering digunakan oleh MSA-J (Muslim Student Associtaion of Japan) untuk melakukan Islamic Training Camp selama beberapa hari. ICMI orwil Pasifik/Jepang juga pernah memakainya untuk Winter Training Camp Ramadan 1414 yang lalu.

“Masjid-masjid” Lokal

Kelangkaan bangunan masjid di Jepang merupakan tantangan tersendiri bagi Muslim di Jepang. Sedangkan saat ini hampir di tiap kota yang ada universitasnya di sana ada komunitas Muslim, khususnya mahasiswa Muslim dari berbagai negara. Untuk mengatasi kelangkaan masjid banyak cara ditempuh mereka dalam menyediakan tempat untuk salat Jum’at. Salat Jum’at itulah kegiatan rutin utama dalam setiap komunitas Muslim, sekaligus media untuk bertemu dengan saudara seiman.

Sekedar memberikan gambaran keadaan masyarakat Muslim di Jepang dalam menyediakan tempat ibadah, inilah beberapa contohnya. Di Tokyo Islamic Center of Japan (ICJ) tidak mempunyai ruang luas untuk salat Jum’at. Karenanya Arabic Islamic Institute merupakan tempat utama yang dituju untuk salat Jum’at, khususnya masyarakat Muslim dari Timur Tengah. Masyarakat Muslim dari Indonesia dan Malaysia biasanya pergi ke mushollah KBRI.

Di Sendai ada Islamic Cultural Center of Sendai (ICCS) yang dipimpin oleh Muhammad Sato, seorang Muslim Jepang yang taat dan aktif dalam kegiatan keislaman. Untuk salat Jum’at dan kegiatan lainnya mereka menyewa ruangan dengan harga sewa sekitar 60.000 – 80.000 Yen (sekitar Rp 1,2 – 1,6 juta) per bulan. Cara ini pun dilakukan oleh Islamic Association of Nagoya (IAN) dan Islamic Center Hiroshima. Uang sewa sebagian besar (atau seluruhnya) disubsidi oleh ICJ Tokyo. Cara sewa rumah juga dilakukan oleh masyarakat Muslim di Miyazaki. Bedanya, mereka membayarnya dengan sumbangan para jamaahnya sendiri. Permohonan mereka untuk mendapat bantuan ICJ belum pernah mendapat tanggapan.

Kyoto Muslim Association (KMA) saat ini mengatasi kelangkaan tempat salat Jum’at dengan cara menyewa ruang kursus hanya dua jam, sekedar untuk salat Jum’at. Untuk sewa ini hanya membayar 6000 Yen, jauh lebih murah dari pada menyewa apartemen secara penuh. Dengan jamaahnya sekitar 50 orang, kini ruang berukuran 8 x 3 m persegi itu pun sudah terasa sesak sekali. Dalam perkembangannya, KMA pun menempatkan lemari es untuk daging halal dan lemari rak buku untuk perpustakaan kecilnya. Dengan tambahan itu KMA mesti bayar sekitar 15.000 Yen per bulan yang diperoleh dari sumbangan bulanan jamaahnya. Karena peminjaman ruangan resminya hanya hari Jum’at, penjualan daging halal dan peminjaman buku hanya dilayani seusai salat Jum’at. Sejauh ini cara ini hanya dilakukan oleh KMA.

Cara lain yang dilakukan para mahasiswa Muslim adalah menggunakan ruangan di asrama mahasiswa asing yang kadang-kadang sempit. Ini dilakukan, misalnya di Okayama, Tottori, Matsuyama, Fukuoka, dan Kagoshima. Bagi yang mendapat izin menggunakan fasilitas sekolah untuk kegiatan keagamaan, itu merupakan keuntungan dan biasanya itu dilakukan secara informal. Menurut Undang-undang Dasar Jepang, fasilitas pemerintah dilarang digunakan untuk kegiatan keagamaan.

Usaha Membangun Masjid

Apa pun cara yang ditempuh untuk menyediakan “masjid” di tiap lokaliti, ruang yang tersedia amat sempit, seperti umumnya rumah-rumah di Jepang. Karenanya, membangun masjid yang cukup memadai di masing-masing tempat merupakan cita-cita kaum Muslim di Jepang. Meski itu berarti jalan yang amat panjang.

Tahun 1990 KMA dan IAN mulai membangun rencana mengumpulkan dana untuk membangun masjid masing-masing di Kyoto dan Nagoya. Harga tanah yang melangit dan perizinan membangun fasilitas keagamaan yang rumit merupakan hambatan utama. Tetapi, niat itu mesti ada sejak sekarang. Pengumpulan dana untuk itu terus berlangsung. Di Kyoto kini telah terkumpul sekitar 3 juta Yen, suatu jumlah yang masih amat kecil untuk mewujudkan rencana itu.

Ketika ada konperensi Internasional para pemuka agama di Fukuchiyama, propinsi Kyoto, wakil KMA menemui Sekjen Rabithah, Dr. Abdullah Omar Nasseef. Tujuan utamanya adalah meminta bantuan dana untuk mendirikan masjid di Kyoto. Dr. Omar Nasseef menjanjikan dua hal: siap membantu pembangunan masjid Kyoto dan dalam masa menunggu proses itu siap membantu biaya sewa tempat untuk kegiatan KMA. KMA (kebetulan saya sebagai sekretarisnya waktu itu) diminta untuk menyiapkan proposal lengkap disertai rencana tempat untuk masjid (lokasi dan gambar bangunan), rencana biaya, dan daftar nama Muslim di Kyoto. Janji ini disambut gembira dan sebuah tim kecil segera melakukan survai lokasi dan harga tanah serta rencana gambarnya. Berkas permohonan segera dikirim ke Mekkah, markas besar Rabithah. Satu-satunya tanggapan yang diterima adalah permintaan data Muslim di Kyoto yang lebih lengkap, yang harus menyertakan Muslim Jepang, bukan hanya mahasiswa asing. Setelah itu komunikasi terputus. Kesulitan dana yang berkaitan dengan perang Teluk kedua (Irak-Kuwait) nampaknya berperan besar meruntuhkan segala rencana itu. Walaupun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha pengumpulan dana untuk masjid di Kyoto.

Juli 1993 ITEX Eid Committee melemparkan rencana besar: membeli tanah di Tokyo untuk salat ied, yang selanjutkan akan dikembangkan untuk masjid besar Tokyo dan sekolah Islam. Komite ITEX (Islamic Trade and Exhibition) sudah tiga tahun mengelola penyelenggaraan salat ied yang mengumpulkan sekitar 5000 orang. Tempat penyelenggaraan salat ied itu bersifat sementara. Karena itu terpikirlah untuk membeli tanah agar dapat secara permanen digunakan untuk salat ied sekaligus untuk kegiatan keislaman lainnya. Menurut si empunya gagasan, Syed Matloob Ali, di Hachioji — 40 menit dari pusat Tokyo — ada tanah dijual seluas 2.700 meter persegi seharga 350 juta Yen (sekitar Rp 7 milyar). Dengan menggunakan metode ala Pakistan, para donatur diharapkan membeli dalam satuan tehel (30 x 30 cm) seharga 13.000 Yen, jadi kira-kira ada 29.000 tehel. Rencana ini sangat besar — bahkan terlalu besar –, tetapi sangat diharapkan untuk “mengobati” rasa hampir putus asa menantikan harapan kosong dibangunnya kembali Masjid Tokyo. Sayangnya sampai Maret 1994 lalu, masih kurang dari 1000 tehel yang dipesan, masih sangat jauh dari 29.000 tehel yang ditawarkan. Menyadari kesulitan ini, muncul usulan agar komite ITEX harus lebih realistik dalam membuat rencana. Di samping itu, dalam  winter camp MSA-J (Muslim Student Association – Japan) Ramadan 1414H lalu, diusulkan perlu dibentuknya satu dewan yang berusaha menyatukan semua potensi sumber dana dari semua organisasi se Jepang untuk memprioritaskan pembangunan masjid Tokyo, lalu dilanjutkan dengan masjid-masjid lain di seluruh Jepang. Insya Allah.

Iklan

Matahari dan Penentuan Jadwal Shalat

T. Djamaluddin

Peneliti Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di tabloid Hikmah, Minggu III Juli 1995)

Dalam penentuan jadwal salat, data astronomi terpenting adalah posisi matahari dalam koordinat horizon, terutama ketinggian atau jarak zenit. Fenomena yang dicari kaitannya dengan posisi matahari adalah fajar (morning twilight), terbit, melintasi meridian, terbenam, dan senja (evening twilight). Dalam hal ini astronomi berperan menafsirkan fenomena yang disebutkan dalam dalil agama (Al-Qur’an dan hadits Nabi) menjadi posisi matahari. Sebenarnya penafsiran itu belum seragam, tetapi karena masyarakat telah sepakat menerima data astronomi sebagai acuan, kriterianya relatif mudah disatukan.

Di dalam hadits disebutkan bahwa waktu shubuh adalah sejak terbit fajar shidiq (sebenarnya) sampai terbitnya matahari. Di dalam Al-Quran secara tak langsung disebutkan sejak meredupnya bintang-bintang (Q.S. 52:49). Maka secara astronomi fajar shidiq difahami sebagai awal astronomical twilight (fajar astronomi), mulai munculnya cahaya di ufuk timur menjelang terbit matahari pada saat matahari berada pada  kira‑kira 18 derajat di bawah horizon (jarak zenit z = 108o). Saaduddin Djambek mengambil pendapat bahwa fajar shidiq bila z = 110o, yang juga digunakan oleh Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama RI. Fajar shidiq itu disebabkan oleh hamburan cahaya matahari di atmosfer atas. Ini berbeda dengan apa yang disebut fajar kidzib (semu) — dalam istilah astronomi disebut cahaya zodiak — yang disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet.

Waktu dzhuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam.

Dalam penentuan waktu asar, tidak ada kesepakatan karena fenomena yang dijadikan dasar pun tidak jelas. Dasar yang disebutkan di dalam hadits, Nabi SAW diajak shalat asar oleh malaikat Jibril ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya dan pada keesokan harinya Nabi diajak pada saat panjang bayangan dua kali tinggi benda sebenarnya. Walaupun dari dalil itu dapat disimpulkan bahwa awal waktu asar adalah sejak bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya, ini menimbulkan beberapa penafsiran karena fenomena seperti itu tidak bisa digeneralilasi sebab pada musim dingin hal itu  bisa dicapai pada waktu dhuhur, bahkan mungkin tidak pernah terjadi karena bayangan selalu lebih panjang daripada tongkatnya.

Ada yang berpendapat tanda masuk waktu asar bila bayang-bayang tongkat panjangnya sama dengan panjang bayangan waktu tengah hari ditambah satu kali panjang tongkat sebenarnya dan pendapat lain menyatakan harus ditambah dua kali panjang tongkat sebenarnya. Pendapat yang memperhitungkan panjang bayangan pada waktu dzhuhur atau mengambil dasar tambahannya dua kali panjang tongkat (di beberapa negara Eropa) dimaksudkan untuk mengatasi masalah panjang bayangan pada musim dingin. Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama RI menggunakan rumusan: panjang bayangan waktu asar = bayangan waktu dzhuhur + tinggi bendanya; tan(za) = tan(zd) + 1. Saya berpendapat bahwa makna hadits itu dapat difahami sebagai waktu pertengahan antara dhuhur dan maghrib, tanpa perlu memperhitungkan jarak zenit matahari. Hal ini diperkuat dengan ungkapan ‘salat pertengahan’ dalam Al-Qur’an S. 2:238 yang ditafsirkan oleh banyak mufassir sebagai salat asar. Kalau pendapat ini yang digunakan, waktu salat asar akan lebih cepat sekitar 10 menit dari jadwal salat yang dibuat Departemen Agama.

Waktu maghrib berarti saat terbenamnya matahari. Matahari terbit atau berbenam didefinisikan secara astronomi bila jarak zenith z = 90o50′ (the Astronomical almanac) atau z = 91o bila memasukkan koreksi kerendahan ufuk akibat ketinggian pengamat 30 meter dari permukaan tanah. Untuk penentuan waktu salat maghrib, saat matahari terbenam biasanya ditambah 2 menit karena ada larangan melakukan salat tepat saat matahari terbit, terbenam, atau kulminasi atas.

Waktu isya ditandai dengan mulai memudarnya cahaya merah di ufuk barat, yaitu tanda masuknya gelap malam (Al-Qur’an S. 17:78). Dalam astronomi itu dikenal sebagai akhir senja astronomi (astronomical twilight) bila jarak zenit matahari z = 108o).

Posisi matahari telah dapat diformulasikan dalam algoritma sederhana dengan kecermatan plus-minus 2 menit untuk daerah lintang antara 65 derajat LU dan 65 derajat LS. Algoritma itu telah saya ubah menjadi program komputer sederhana penentuan jadwal salat. Untuk daerah dengan lintang lebih  dari 48 derajat pada musim panas senja dan fajar bersambung (continous twilight) sehingga dalam program saya itu waktu isya dan shubuh diqiyaskan (disamakan) pada waktu normal sebelumnya.

TV Ristek TAKJUB: Struktur Alam Semesta

Situs Kementrian Ristek menyajikan juga Video Takjub. TAYANGAN TV TAKJUB merupakan program tayangan televisi bertema iptek-religi, memaparkan dunia teknologi dengan mengupas sisi ilmu pengetahuan dan terjelaskan di
dalam ayat-ayat Al-Quran. Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya
Allah S.W.T. telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya
lahir dan bathin Dan di antara manusia ada yang membantah Keesaan-Nya
tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi
keterangan [Q.S. Luqman (31) ayat 20]

Saya sempat juga menjadi nara sumber untuk tema “Penciptaan dan Struktur Alam Semesta”. Silakan kunjungi situsnya http://www.ristek.go.id/?module=File&frame=http://video.ristek.go.id/Takjub/

Tayangan “Penciptaan dan Struktur Alam Semesta” dengan nara sumber saya (T. Djamaluddin) bisa di lihat di

http://video.ristek.go.id/Takjub/film/ep12bpenciptaandanstrukturalamsemesta.html

Talents Mapping: MEMBACA POTENSI DIRI

 

Beberapa bulan lalu LAPAN memfasilitasi analisis bakat (Talents Mapping) sebagian pegawainya. Menarik juga untuk membaca potensi diri untuk dikembangkan. Tujuh bakat dominan perlu diperhatikan, masing-masing orang pasti unik. Inilah tujuh bakat dominan saya menurut analisis Talents Mapping.

1. DEVELOPER

2. IDEATION

3. CONNECTEDNESS

4. STRATEGIC

5. EMPATHY

6. HARMONY

7. ARRANGER

DEVELOPER: Senang memajukan orang lain dan melihat orang lain maju, mendapatkan kepuasan dari melihat setiap kemajuan masing-masing individu.  Dia melihat kemampuan yang ada pada orang lain. Semua kemampuan mereka itu dapat terlihat oleh nya. Ketika berinteraksi dengan orang, dia bersedia menolong mereka mencarikan jalan untuk mencapai tujuan.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: manager, guru, pelatih, pembimbing, petugas sosial.

IDEATION: Banyak ide, menyukai diskusi kelompok yang bebas, dan baik sekali di dalam brainstorming. Inovatif, konsep, teori, dan solusi merupakan hal yang penting bagi orang berbakat Ideation. Dia memiliki cara yang sederhana untuk menjelaskan banyak kejadian, konsep yang sangat mendasar seringkati dapat menjelaskan apa yang kelihatannya rumit dan menemukan idea yang belum lengkap ini merupakan hal menyenangkan. Dia tergila-gila dengan ide-ide. Apakah ide itu? Ide adalah konsep, penjelasan terbaik tentang berbagai kejadian.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: marketing, advertensi, wartawan, perancang, atau pengembang produk baru.

CONNECTEDNES:  Memiliki keyakinan dalam menjelaskan gejala secara ”bathin”. Penuh pertimbangan, penuh perhatian, mudah menerima: inilah kata-kata yang tepat baginya. Segala sesuatu terjadi pasti ada sebabnya. Dia yakin akan hal itu, karena dalam hatinya dia tahu bahwa kita semua ini saling berkaitan.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: pendengar dan pemberi saran (konselor), leader di dalam membangun team yang berbeda kelompok, atau membantu orang merasa berguna.

STRATEGIC: Dapat memilih jalan terbaik dari berbagai pilihan berdasarkan data dan intuisi, dapat melihat pola dari pengalaman dan data, isunya timbul dalam berbagai skenario. “What if?” nya timbul karena banyaknya pilihan di depan yang harus diambil. Tema Strategic memungkinkannya memilah di antara kekusutan dan menemukan jalur yang terbaik. Dia memisahkan dan memilih sampai ditemukan lintasan yang terbaik.

Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: perencana strategis, manager, leader.

EMPATHY: Dapat merasakan perasaan orang lain seakan terjadi pada dirinya. Mengerti emosi yang sedang dialami seseorang, walaupun dia tidak selalu perlu setuju dengan perasaan orang tersebut. Dapat “mendengarkan” pertanyaan yang tidak terungkapkan.

Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: sales, HRD, guru TK/SD, juru rawat, operator telepon, psikiater, dispatcher, layanan pelanggan.

HARMONY: Dapat bekerjasama secara baik dengan orang lain. Tidak suka terhadap adanya konflik, setiap kali dia merasakan adanya perbedaan pendapat atau perdebatan, dia akan menaruh perhatian terhadap apa yang pernah terucapkan, memperhatikan apa yang terjadi dan berusaha mendamaikan dengan menunjukkan adanya kesamaan dari kedua belah fihak. Dia menganggap bahwa pertentangan dan gesekan itu tidak ada hasilnya, sehingga dia berusaha menguranginya sekecil mungkin.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: pembangun jaringan antara orang-orang dengan cara pandang yang berbeda, juru damai, penasehat.

ARRANGER: Dapat mengorganisir akan tetapi juga memiliki kelenturan yang membantu pengaturannya. Selalu berusaha memikirkan kembali sesuatu. Slogannya adalah ”pasti ada jalan yang lebih baik dari itu!”. Dia seorang koordinator. Berhadapan dengan situasi yang sulit yang melibatkan banyak faktor, dia senang mengatur semuanya, meluruskan dan meluruskannya lagi sampai dia merasa yakin bahwa dia telah mengaturnya dalam konfigurasi yang sangat produktif.

Tema bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: supervisor, manager, event organizer, programmer.

Hujan Meteor Periodik 1998 Giacobinids dan Leonids

T. Djamaluddin

Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat,  16 November 1998)

Akhir abad 20 ini ditandai dengan munculnya hujan meteor periodik: Giacobinids dan Leonids. Pada 8-9 Oktober lalu terjadi hujan meteor Giacobinids dari rasi Draco (karenanya dikenal juga sebagai hujan meteor Draconids). Dan pada 14-19 November ini terjadi hujan meteor Leonids dari rasi Leo.

Orang mengenal meteor sebagai “bintang jatuh” atau “bintang beralih”. Hampir setiap malam satu-dua meteor mungkin teramati, terutama pada dini hari. Itu yang biasa disebut meteor sporadik yang terlihatnya tidak tentu waktunya. Jumlahnya dan arahnya pun tidak tentu. Meteor sporadik berasal dari debu dan batuan antarplanet yang masuk ke dalam atmosfer bumi. Panas akibat gesekan dengan udara yang menyebabkan meteor berpijar.

Pada saat-saat tertentu jumlah meteor lebih banyak dari biasanya. Arahnya pun relatif teratur, bersumber dari satu titik yang disebut radian. Itulah hujan meteor yang biasanya dapat menampilkan puluhan meteor setiap jamnya. Sumbernya adalah debu-debu sisa komet yang tertinggal di sepanjang lintasannya. Pada saat bumi melintasi lintasan komet itu, debu-debu komet (biasanya berukuran seperti pasir atau lebih halus) masuk ke dalam atmosfer bumi.

Hujan meteor Eta Aqaurids (setiap 3-10 Mei) dan Orionids (18-23 Oktober) berasal dari debu-debu komet Halley. Sedangkan hujan meteor Perseid (7-15 Agustus) berasal dari debu komet Swift-Tuttle. Hujan meteor itu relatif seragam setiap tahunnya karena sebaran debu-debunya relatif merata, kecuali bila komet induknya mendekat terjadi sedikit penambahan materi.

Hujan meteor Giacobinids berasal dari debu komet Giacobini-Zinner. Sedangkan hujan meteor Leonids berasal dari debu komet Tempel-Tuttle. Sifat debu meteor Giacobinids dan Leonids yang masih terkonsentrasi di dekat kometnya yang menyebabkan hujan meteornya bersifat periodik sesuai dengan periode kedatangan kometnya. Pada saat komet mendekati matahari dan bumi, saat itu hujan meteor periodik menunjukkan aktivitasnya yang menonjol.

Hujan meteor periodik berbeda dari hujan meteor biasa. Pada saat terjadi hujan meteor biasa, setiap jamnya mungkin hanya terlihat puluhan meteor. Tetapi pada saat hujan meteor periodik bisa terlihat ratusan sampai ribuan meteor per jam. Mungkin juga ratusan ribu meteor per jam, yang disebut badai meteor, seperti yang terjadi pada badai meteor Leonids pertengahan November 1799, 1833, dan 1966.

Giacobinids

Hujan meteor Giacobinids berkaitan dengan kedatangan komet Giacobini-Zinner setiap 6,6 tahun. Karena sifat sebaran debunya dan letak lintasannya dengan bumi yang berbeda-beda, tidak setiap pemunculan komet induknya disertai hujan meteor. Hujan meteor Giacobinids yang cukup besar tercatat pada Oktober 1926, 1933, 1946, 1985, dan 1998.

Komet Giacobini-Zinner baru akan melintas orbit bumi sekitar akhir November. Sehingga banyak pengamat meteor pesimis bisa menyaksikan hujan meteor Giacobinids. Selama ini banyak orang mengira debu komet penyebab hujan meteor hanya menumpuk di belakang kometnya. Ternyata pendapat itu keliru.

Masyarakat Meteor Jepang (Nippon Meteor Society) melaporkan pada 8 Oktober sekitar pukul 20.30 waktu setempat (18.30 WIB) berhasil menyaksikan hujan meteor Giacobinids. Jumlahnya cukup besar, sekitar 500 meteor per jam. Hal ini menunjukkan bahwa debu komet penyebab hujan meteor terkonsentrasi baik di belakang komet maupun di depannya.

Karena posisi radiannya di rasi Draco di langit utara, hanya pengamat di Jepang dan Asia Timur yang beruntung menyaksikan peristiwa langka yang hanya terjadi sekitar dua jam. Pengamat di Indonesia sulit melihatnya karena langit senja masih terang dan posisi radian cukup rendah di langit barat laut.

Tetapi ada juga peminat meteor di Belanda yang berhasil mendeteksi hujan meteor pada siang hari waktu setempat (hampir bersamaan dengan waktu puncak di Jepang) dengan mendengarkan desingan pancaran sinyal radio dari Polandia. Dengan antena radionya dan pesawat penerima gelombang pendek (72 Mhz) dia berhasil menghitung jumlah desingan per menit. Meteor memang meninggalkan jejak terionisasi pada suatu ketinggian antara 80-100 km sehingga bisa memantulkan gelombang radio setiap kali ada meteor melintas.

Leonids

Masyarakat peminat astronomi di Indonesia kini bisa berharap menyaksikan hujan meteor Leonids. Bila cuaca cerah dini hari 18 November (malam Rabu) sekitar pukul 03.00 WIB lihatlah langit timur laut. Bila mempunyai binokuler, gunakanlah untuk bisa mengamati meteor yang redup. Diperkirakan pada saat itu akan terjadi hujan meteor cukup besar yang diperkirakan dapat mencapai sekitar ratusan sampai 5000-an meteor per jam. Posisi radiannya di rasi Leo, sebelah timur rasi Orion (Waluku).

Berdasarkan posisi lintasan komet Tempel-Tuttle (penyebab hujan meteor Leonids), para astronom memperkirakan hujan meteor Leonids 1998 lebih mirip dengan hujan meteor 1866. Tidak terlalu hebat bila dibandingkan dengan hujan meteor 1966 yang menampilkan sekitar 150.000 meteor per jam. Tahun ini diperkirakan hanya ribuan meteor per jam. Tetapi, sebenarnya banyak hal yang belum diperhitungkan (seperti distribusi ukuran debu komet) sehingga para astronom pun belum bisa memberikan penaksiran yang pasti. Bisa jadi hujan meteornya lebih hebat dari itu.

Hujan meteor Leonids besar tercatat dalam sejarah sejak tahun 585. Sejak itu telah tercatat 29 kali hujan meteor besar. Terakhir teramati pada tahun 1965 dan 1966. Sedangkan komet penyebabnya, Tempel-Tuttle, yang berperiode 33 tahun baru diketahui tahun 1366. Dan pada 5 Maret 1998 lalu komet ini melintasi bidang orbit bumi meninggal debu-debunya yang akan ditembus bumi pada pertengahan November ini.

Seperti halnya hujan meteor Giacobinids, debu-debu di depan komet Tempel-Tuttle pun ternyata cukup melimpah. Sehingga dua tahun sebelum kometnya mendekati bumi, aktivitas hujan meteor Leonids telah tampak peningkatannya. Pada tahun-tahun ketika komet masih jauh, hujan meteor leonids hanya tampak sekitar 15 meteor per jam. Tetapi pada tahun 1996 dan 1997 tercatat sekitar 50 meteor per jam. Hujan meteor ini diperkirakan akan terus berlanjut sampai 2002 ketika debu-debu di lintasan komet mulai menipis kembali. Tahun 1998 dan tahun 1999 diperkirakan merupakan puncak aktivitasnya.

Dampak Leonids 1998

Debu meteor Leonids walaupun ukurannya sangat kecil, umumnya dalam ukuran butiran pasir, namun dengan kecepatan tinggi sekitar 70 km/detik (252.000 km/jam) sangat berbahaya bagi satelit. Meteor Leonids merupakan meteor yang bergerak paling cepat bila dibandingkan kecepatan rata-rata hujan meteor lainnya yang hanya sekitar 30 km/detik (108.000 km/jam). Panel surya, detektor, dan perangkat elektronik peka lainnya pada satelit terancam oleh meteor Leonids ini. Dengan alasan itu NASA telah mengingatkan para operator satelit untuk mengambil langkah-langkah pengamanan.

Dengan memperhitungkan posisi titik lintasan orbit bumi dan orbit komet Tempel-Tuttle serta saat bumi paling dekat dengan titik lintasan itu (pada 18 Nevember pukul 02.47 WIB), daerah bumi yang langsung berhadapan dengan debu-debu komet adalah daerah di atas pasifik Timur dan benua Amerika. Dengan demikian daerah penempatan satelit yang paling berisiko adalah pada daerah tersebut. Pada daerah berisiko tinggi ini makin tinggi suatu satelit, seperti satelit komunikasi pada orbit geostasioner 36.000 km atau satelit orbit rendah tetapi mempunyai apogee sangat jauh, makin besar bahaya yang mengancamnya.

Hal ini berarti, satelit komunikasi Indonesia yang ditempatkan pada orbit yang lebih dekat daerah Pasifik tampaknya mempunyai risiko lebih besar daripada satelit di atas Samudra Hindia. Hal ini perlu diwaspadai.

Selain dampaknya pada satelit, masuknya meteor ke atmosfer bumi bisa menimbulkan ionisasi pada ketinggian 80-100 km. Lapisan ionosfer “dadakan” yang dikenal sebagai lapisan E sporadis bisa mengganggu komunikasi radio gelombang pendek. Adanya lapisan ion yang lebih rendah bisa memungkinkan gangguan pemantulan gelombang radio. Maka kemungkinan terjadinya gangguan komunikasi radio gelombang pendek sangat besar pada dini hari 18 November.

Bintang Kejora

T. Djamaluddin (LAPAN)

(Dimuat di Republika – Hikmah), 20 Juli 1999)


Saat maghrib tiba tengoklah langit barat. Walaupun langit belum terlalu gelap, mungkin kita bisa melihat sebuah bintang cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Awan kadang tak mampu membendung sinarnya. Itulah bintang kejora. Bila muncul saat shubuh di langit timur bintang cemerlang itu disebut bintang timur. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus.

Mengamati langit dengan fenomena bintang kejora di langit Barat dan bulan di langit Timur terasa nuasa semasa Nabi Ibrahim merenungi alam, mencari representasi Tuhan yang hakiki (Q. S. 6:76-79). Saat malam mulai gelap tampaklah sebuah bintang.  “Inikah Tuhanku?” kata Ibrahim. Tetapi bintang kejora tak lama tampak.

Selepas isya bintang kejora pun terbenam. Nabi Ibrahim pun berkata, “Aku tak menyukai yang tenggelam.” Beberapa saat kemudian terbitlah bulan yang cemerlang pasca purnama. “Inikah Tuhanku?” katanya. Namun saat pagi bulan pun memudar kemegahannya. Ibrahim pun berujar pada dirinya, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat.”  Saat pagi dilihatnya matahari yang paling cemerlang yang mengalahkan segala sumber cahaya. “Inikah Tuhanku? Ini paling besar”, ujar Ibrahim dalam pencarian kebenaran. Tetapi saat maghrib matahari pun menghilang. Tidak mungkin Tuhan yang Mahakuasa bisa lenyap. Maka diserulah kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kamu persekutukan (dengan Tuhan).” Kesimpulan pembuktian aqliyah tersebut tentang eksistensi Allah diabadikan di dalam QS. 6:79 yang selalu kita baca dalam doa iftitah pada awal shalat: “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi, berpendirian lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Kisah itu memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu. Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi.

Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi. Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang.

Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan fenomena bintang kejora adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

IKHLAS Bersama Ruang danWaktu

T. Djamaluddin

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Bandung

(Dimuat di Booklet Kalender 2005, Percikan Iman)

Sejarah ruang dan waktu tidak terlepas dari sejarah alam semesta. Ruang dan waktu terbentuk bersamaan dengan pembentukan alam semesta. Tidak ada ruang di luar alam semesta. Dan tidak ada waktu sebelum ada alam semesta. Namun, dalam kajian fisika definisi waktu telah disederhanakan, tidak tepat lagi dengan pemahamanan manusiawi. Kadang sulit difahami dengan nalar awam.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman manusiawi terbagi dalam dua kelompok: Hal-hal yang objektif yang dapat dikenali dengan pancaindera tersebar dalam ruang. Sedangkan hal-hal subjektif (ide, pemikiran, kesadaran diri, emosi, dan sejenisnya) tersebar dalam waktu. Tidak dapat digambarkan dalam dunia nyata, tetapi mengungkapkan waktu masa lalu, sekarang, dan akan datang. Dalam fisika, waktu disederhanakan hanya apa yang tampak pada arloji atau pengukur waktu lainnya (misalnya, detak jantung, jumlah ayunan bandul, rotasi bumi, atau getaran atom).

Artikel ringkas ini sekilas mengulas sejarah alam semesta yang juga sejarah raung dan waktu. Dimulai dengan bahasa universal untuk memahami bagaimana alam bercerita tentang sejarah dirinya. Kemudian sekilas mengenal posisi kita – manusia – di alam semesta yang sebenarnya secara fisik tidak ada artinya dibandingkan dengan keluasan alam raya. Upaya memahami sejarah lahirnya alam semesta beserta evolusinya diulas dengan hasil-hasil sains terbaru diungkapkan secara ringkas mulai dari alam semesta secara keseluruhan sampai tata surya dan bumi. Juga diulas evolusi alam semesta dalam persepsi Al-Quran.

Walau tidak dibahas secara mendalam, ulasan tentang evolusi alam dimaksudkan juga untuk meluruskan antipati ummat terhadap sains karena kontroversi yang bersumber dari analisis yang keliru. Evolusi (termasuk evolusi makhluk hidup) adalah keniscayaan di alam yang sering disalahartikan dan dirancukan banyak orang hingga banyak ditentang kaum agamawan yang tidak faham. Analisis sosiologis digunakan untuk membantah teori sains, suatu hal yang tidak tepat.

Terakhir, untuk memaknai penjelajahan intelektualitas berbasis sains tersebut, diulas sekilas makna ikhlas dari pemahaman sejarah ruang dan waktu.

 

Bahasa Universal

Dalam astronomi, bahasa universal adalah cahaya atau lebih umumnya gelombang elektromagnetik (EM), termasuk sinar-X, sinar ultra violet, sinar infra merah, dan gelombang radio. Semua benda langit bercerita tentang dirinya dengan pancaran gelombang EM. Fisika dan matematika menjadi juru bahasanya.

Objek yang sangat panas, seperti pada peristiwa tumbukan materi yang sangat kuat akibat tarikan Lubang Hitam (Black Hole), bercerita tentang dirinya dengan pancaran sinar-X. Dengan fisika dapat ditafsirkan bahwa objek itu sangat panas dan dapat dikaji apa yang mungkin menyebabkannya. Objek-objek yang sangat dingin, seperti “embrio” bintang (protostar), bercerita banyak kepada astronom dengan pancaran sinar infra merah dan gelombang radio. Galaksi-galaksi yang sedang berlari menjauh memberikan pesan lewat spektrum cahayanya yang bergeser ke arah merah (red shift).

Sayangnya, sebagian besar materi di alam semesta tak memancarkan gelombang  EM  tersebut.  Itulah  yang  dinamakan  “dark  matter” (materi  gelap). ‘Materi gelap’ itu mencakup objek raksasa yang runtuh ke dalam intinya (misalnya Black Hole atau Lubang Hitam yang menyerap semua cahaya), objek  seperti  bintang  namun bermassa kecil hingga tak mampu memantik reaksi nuklir di  dalamnya (yaitu objek katai coklat), atau partikel‑partikel subelementer. Penemuan di penghujung abad 20 baru lalu bahkan lebih mengagetkan (karena tidak terduga sebelumnya) para pakar kosmologi sendiri: Ternyata hanya 4% isi alam semesta yang kita kenali materinya (materi barionik, terbuat dari proton dan netron). Selebihnya 23% ‘materi gelap’ (non-barionik) dan 73% berupa ‘energi gelap’ (dark energy, istilah baru dalam kosmologi modern).

‘Materi gelap’ ini ibarat orang bisu. Kita tak  dapat  mendengar  kisah mereka  tetapi kita yakin mereka ada dihadapan kita.  Kita  hanya bisa menangkap isyarat‑isyarat yang diberikannya. Isyarat‑isyarat tak langsung itulah yang ditangkap oleh para astrofisikawan untuk mendengar  kisah “materi gelap”.   Isyarat-isyarat itu bisa berupa pancaran  sinar‑X  dari bintang  yang  berpasangan  dengan  Black  Hole  atau  dari  efek gravitasi  pada  objek  di dekatnya.

Sekedar contoh, inilah cara Black Hole bercerita bahwa dirinya ada. Pancaran sinar-X yang kuat bisa bercerita bahwa di sana ada obyek yang sangat panas. Dengan telaah fisika kemudian diketahui bahwa panas itu terjadi karena ada materi dari suatu bintang yang sedang disedot oleh benda yang kecil bermassa sangat besar yang menjadi pasangannya. Materi yang jatuh pada bidang yang sempit di sekitar benda penyedot itulah menimbulkan panas yang sangat tinggi yang akhirnya memancarkan sinar-X. Dari isyarat-isyarat lainnya disimpulkan bahwa penyebab perpindahan materi itu adalah sebuah Black Hole yang sedang menyedot materi dari bintang pasangannya, seperti teramati pada objek Cygnus X-1.

Kini di awal abad 21, ‘materi gelap’ makin gelap lagi. Observasi astronomi masih sulit mendeteksi keberadaannya, karena mulai bergeser ke pengertian yang lebih sempit sebagai materi non-barionik. Hanya fisika partikel yang kini diharapkan menjadi ‘juru bahasanya’ dari ungkapan-ungkapan abstrak matematis. Dari tiga jenis partikel anggota ‘materi gelap’, baru netrino yang sedikit dikenali. Selebihnya masih dianggap materi hipotetik: axion dan neutralino.

Posisi Kita di Alam Semesta

Dengan bantuan teleskop dan detektor astronomi yang makin peka merekam objek-objek redup, kini  telah  diyakini bahwa bumi kita  bukanlah  pusat  alam semesta yang di kelilingi oleh lapisan‑lapisan langit. Bumi  kita hanyalah  satu  planet  kecil di tata surya.

Tata surya terdiri dari matahari beserta benda-benda langit lainnya yang mengitarinya. Saat ini diketahui bahwa di sekitar matahari ada 9 planet, lebih dari 56 satelit yang mengitari planet induknya, puluhan ribu asteroid (planet kecil), meteoroid (batuan antarplanet), dan debu antarplanet (meteoroid mikro). Matahari adalah anggota tata surya yang paling dominan dengan massa 99,85% dari keseluruhan massa total tata surya. Sedangkan massa total 9 planet (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto) hanya 0,14%. [Catatan: sejak 2006, Pluto dianggap bukan planet, tetapi dimasukkan dalam klasifikasi baru, planet kerdil].

Empat planet pertama disebut planet kebumian karena komposisinya mirip bumi, terutama terdiri dari batuan silikat dan logam. Empat planet berikutnya adalah planet raksasa dengan komposisi utamanya adalah unsur-unsur ringan (Hidrogen, Helium, Argon, Karbon, Oksigen, dan Nitrogen) berbentuk gas atau cair. Sedangkan Pluto merupakan planet terkecil yang terdiri dari batuan dan es.

Di antara Mars dan Jupiter terdapat puluhan ribu asteroid atau planet kecil. Tetapi massa totalnya hanya sekitar 1% dari Merkurius, planet kebumian yang terkecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua batuan meteorit yang jatuh ke bumi berasal dari pecahan asteroid tersebut.

Bumi berjarak 150 juta km dari matahari. Ini disebut 1 Satuan Astronomi (SA). Sedangkan planet terluar, Pluto, berjarak 39.5 SA. Jarak terjauh yang masih dipengaruhi gaya gravitasi matahari adalah sekitar 20 trilyun km atau 120.000 kali jarak bumi-matahari. Di luar orbit planet Pluto tersebut terdapat “gudang” komet yang jumlahnya trilyunan bakal komet. Gudang komet terdekat disebut Sabuk Kuiper pada jarak sekitar 50 SA dan yang terjauh dikenal sebagai Awan Komet Oort pada jarak sekitar 50.000 SA.

Gudang komet ini diduga sebagai sisa-sisa materi pembentuk tata surya. Gangguan terhadap gudang komet itu akan menyebabkan sebagian inti komet keluar dari gudangnya dan tertarik oleh gravitasi matahari. Akibatnya komet itu akan mengitari matahari. Komet yang terdiri dari gas beku, es, dan debu bila mendekati matahari akan menguap dan melepaskan debu-debunya di sepanjang lintasannya. Itu yang sering kita sebut sebagai bintang berekor.

Di luar tata surya kita berada di ruang antarbintang. Matahari sendiri hanyalah bintang kuning berukuran sedang. Ribuan bintang bisa kita lihat di langit dengan mata biasa dan jutaan lagi yang bisa kita lihat dengan teleskop. Di antaranya ada bintang‑bintang  raksasa  yang  besarnya ratusan  kali  besar matahari. Semuanya  merupakan  anggota  dari ratusan  milyar  bintang  yang menghuni galaksi kita, Bima Sakti.

Galaksi kita digolongkan sebagai galaksi spiral,  berbentuk  seperti  huruf  S dengan lengan tunggal atau majemuk. Diameternya  sekitar  100.000  tahun  cahaya, artinya dari ujung ke ujung akan ditempuh oleh cahaya yang berkecepatan 300.000 km/detik dalam waktu sekitar 100.000 tahun. Tata surya kita berjarak sekitar 25.000-30.000 tahun cahaya dari pusatnya dan  mengorbit mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan sekitar 200‑300 km/detik sekali  dalam  200 juta tahun.

Mungkin sekali di antara ratusan milyar bintang anggota Bima Sakti  ada  bintang  yang mempunyai  tata  planet.  Namun  karena jaraknya  yang  amat  jauh, sulit  untuk  menemukan  tata planet tersebut.  Dengan  teropong besar pun bintang‑bintang  itu  hanya tampak  sebagai  titik‑titik cahaya. Namun akhir-akhir ini telah dijumpai bintang‑bintang yang dikelilingi oleh piringan  debu yang diduga mempunyai tata planet atau  setidaknya dalam  evolusi membentuk tata planet. Dengan teleskop optik  yang dilengkapi  alat khusus, piringan materi di sekitar bintang  Beta Pictoris  dapat diamati. Piringan materi itu di duga dalam  masa awal  pembentukan  tata planet, seperti keadaan tata  surya  kita sekitar  4,5  milyar tahun yang lalu atau  merupakan  awan  komet seperti yang ada di tepi tata surya kita.

Kalau  kita menembus kedalaman langit lebih jauh lagi,  kita akan  jumpai  jutaan,  mungkin milyaran,  galaksi‑galaksi  lain. Galaksi‑galaksi  itu bagaikan pulau‑pulau yang  saling  berjauhan yang   berpenghuni  milyaran  bintang  pula.   Beberapa   galaksi membentuk  gugusan  galaksi. Kemudian  gugusan‑gugusan  itu  dan galaksi‑galaksi  mandiri lainnya mengelompok dalam gugusan  besar yang disebut super cluster.

Bima  Sakti  merupakan  anggota dari  gugusan  galaksi  yang disebut Local Group yang beranggota sekitar dua puluh galaksi dan berdiameter sekitar 3 juta tahun cahaya. Di luar Local Group yang terpisah  sejauh puluhan atau ratusan juta tahun cahaya  dijumpai pula banyak super cluster yang terdiri ratusan atau ribuan galaksi.

Evolusi Alam Semesta

Naluri manusia selalu ingin mengetahui asal usul sesuatu, termasuk asal-usul alam semesta. Berbagai hasil pengamatan dianalisis dengan dukungan teori-teori fisika untuk mengungkapkan asal-usul alam semesta. Teori  yang kini diyakini bukti-buktinya menyatakan  bahwa  alam semesta ini bermula dari ledakan besar (Big Bang) sekitar  13,7 milyar tahun yang lalu. Semua materi dan energi yang kini ada  di alam terkumpul dalam satu titik tak berdimensi yang  berkerapatan tak berhingga. Tetapi ini jangan dibayangkan  seolah‑olah  titik itu berada di suatu tempat di alam yang kita kenal sekarang  ini. Yang benar, baik materi, energi, maupun ruang yang ditempatinya seluruhnya bervolume amat kecil, hanya satu titik tak berdimensi.

Tidak  ada  suatu  titik  pun di  alam  semesta  yang  dapat dianggap  sebagai pusat ledakan. Dengan kata lain  ledakan  besar alam  semesta  tidak seperti ledakan bom yang meledak  dari  satu titik ke segenap penjuru. Hal ini karena pada hakekatnya  seluruh alam turut serta dalam ledakan itu. Lebih tepatnya,  seluruh alam semesta mengembang tiba‑tiba secara serentak. Ketika  itulah mulainya  terbentuk materi, ruang, dan waktu.

Materi alam semesta yang pertama terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang dan galaksi generasi pertama. Dari reaksi fusi nuklir di dalam bintang terbentuklah unsur-unsur berat seperti karbon, oksigen, nitrogen, dan besi. Kandungan unsur-unsur berat dalam komposisi materi bintang merupakan salah satu “akte” lahir bintang. Bintang-bintang yang mengandung banyak unsur berat berarti bintang itu “generasi muda” yang memanfaatkan materi-materi sisa ledakan bintang-bintang tua. Materi pembentuk bumi pun diyakini berasal dari debu dan gas antar bintang yang berasal dari ledakan bintang di masa lalu. Jadi, seisi alam ini memang berasal dari satu kesatuan.

Bukti-bukti pengamatan menunjukkan bahwa alam semesta mengembang. Spektrum galaksi‑galaksi  yang  jauh sebagian besar menunjukkan bergeser  ke  arah merah  yang dikenal sebagai red shift (panjang gelombangnya bertambah  karena alam mengembang). Ini merupakan petunjuk bahwa galaksi‑galaksi itu saling  menjauh. Sebenarnya yang  terjadi adalah pengembangan ruang. Galaksi‑galaksi  itu  (dalam ukuran alam semesta  hanya  dianggap seperti  partikel‑partikel) dapat dikatakan  menempati  kedudukan yang  tetap  dalam  ruang,  dan ruang  itu  sendiri  yang sedang berekspansi.  Kita tidak mengenal adanya ruang di luar alam  ini. Oleh karenanya kita tidak bisa menanyakan ada apa di luar semesta ini.

Secara   sederhana,   keadaan   awal   alam   semesta    dan pengembangannya  itu dapat diilustrasikan dengan pembuatan  roti. Materi pembentuk roti itu semula terkumpul dalam gumpalan  kecil. Kemudian  mulai  mengembang. Dengan kata lain “ruang”  roti  sedang mengembang. Butir‑butir partikel di dalam roti itu (analog dengan galaksi   di   alam  semesta) saling  menjauh   sejalan   dengan pengembangan roti itu (analog dengan alam).

Dalam ilustrasi tersebut, kita  berada  di salah satu partikel di dalam roti itu. Di luar roti, kita tidak mengenal adanya ruang lain, karena  pengetahuan kita,  yang berada di dalam roti itu, terbatas hanya  pada  ruang roti  itu  sendiri. Demikian pulalah, kita tidak mengenal alam fisik lain di luar dimensi “ruang‑waktu”  yang  kita  kenal.

Bukti lain adanya pengembangan alam semesta di peroleh dari pengamatan radio astronomi. Radiasi yang terpancar  pada saat awal pembentukan itu masih berupa cahaya. Namun karena  alam semesta terus mengembang, panjang gelombang radiasi itu pun makin panjang,  menjadi  gelombang  radio. Kini radiasi awal itu dikenal sebagai radiasi latar belakang kosmik  (cosmic  background  radiation) yang dapat dideteksi dengan teleskop radio.

 

Model Alam Semesta

Dengan  hanya  mengandalkan pengamatan, kita  tidak  mungkin menggambarkan bagaimana wujud alam semesta ini. Maka diperlukanlah suatu  model  matematis  yang  dapat menjelaskan  “bentuk”  alam semesta  ini termasuk evolusinya. Dengan menggunakan solusi kosmologis persamaan Einstein  dan Prinsip Kosmologis yang menganggap bahwa alam semesta homogen  di mana  pun dan isotropik di setiap titik di alam,  didapatkan  dua model alam semesta: “terbuka” (atau tak berhingga) dan “tertutup”  (atau berhingga tak berbatas). Prinsip  Kosmologis yang diasumsikan tersebut didasarkan hasil  pengamatan  bahwa alam  semesta  tampaknya homogen dan isotropik , yaitu galaksi‑galaksi tampak tersebar seragam ke segala arah.

Untuk menentukan model mana yang benar diperlukan  informasi tentang  massa total alam semesta ini. Seandainya seluruh  materi di  alam ini tidak cukup banyak untuk mengerem pengembangan  maka alam  semesta akan terus mengembang dan berarti alam semesta  ini “terbuka”  atau tak berhingga. Tetapi jika massanya cukup  besar, maka pengembangan alam semesta akan direm, akhirnya berhenti  dan mulai mengerut lagi. Kalau ini yang terbukti berarti alam semesta “tertutup” atau bersifat “berhingga tak berbatas”.

Sifat  alam  semesta  “berhingga  tak  berbatas”  itu  dapat diilustrasikan  dalam  dua dimensi pada bola  bumi  (sesungguhnya alam  berdimensi  empat,  tiga dimensi  ruang  dan  satu  dimensi waktu).  Bola  itu berhingga ukurannya namun  tak  berbatas,  tak bertepi.  Garis‑garis lintang analog dengan “ruang” alam  semesta ini  dan  garis‑garis  bujur analog  dengan  “waktu”. Perjalanan “ruang‑waktu”  alam  ini bermula dari kutub  utara  menuju  kutub selatan. Kita menelusuri garis bujur. Dengan bertambah jauh  kita menelusurinya  (atau  bertambah “waktu”‑nya) kita  akan  jumpai lingkaran‑lingkaran  lintang yang bertambah besar  (atau  “ruang” alam   semesta mengembang).  Setelah   mencapai   maksimum   di khatulistiwa, kemudian lingkaran lintang pun mulai mengecil lagi. Seperti itu pula alam semesta mulai mengerut. Bila kita  berjalan sepanjang garis lintang, kita akan kembali ke titik semula.  Sama halnya  dengan sifat “ruang” alam semesta yang tak berbatas  itu. Cahaya  yang  kita pancarkan ke arah mana pun,  pada  prinsipnya, akan kembali lagi dari arah belakang kita. Bila model ini  benar, pada  prinsipnya,  kita  akan bisa melihat  galaksi  Bima  Sakti (galaksi kita) berada di antara galaksi‑galaksi yang jauh (galaksi luar).

Sampai tahun 1990-an belum dapat diputuskan model mana yang benar karena belum adanya bukti observasi yang betul‑betul  meyakinkan. Pengamatan Deuterium yang dilakukan satelit Copernicus pada tahun 1973 menghasilkan jumlah Deuterium 0.00002 kali jumlah  Hidrogen. Sebenarnya ini merupakan alasan terkuat yang mendukung model alam “tak berhingga”, artinya alam semesta akan terus mengembang. Namun analisis nasib akhir alam semesta kini berbalik. Walaupun bukti-bukti lain kini makin meyakinkan bahwa alam semesta memenuhi model geometri datar-terbuka.

Penemuan-penemuan terbaru akhir Abad 20 mengungkapkan bahwa materi alam semesta tidak menentukan nasib akhir alam semesta apakah akan mengembang terus atau akan kembali mengerut. Penemuan ‘energi gelap’ telah mengubah cara berpikir para pakar kosmologi. Pada satu sisi, materi mengerem pengembangan alam semesta, namun pada sisi lain ‘energi gelap’ justru mempercepat pengembangannya. Hanya saja, keberadaan ‘energi gelap’ tetap membuka peluang pengembangan terus menerus atau kembali mengerut, walau pun alam semesta diyakini mempunyai sifat datar-terbuka (artinya objek yang teramati sesuai dengan ukuran sebenarnya).

Evolusi Bintang

Bintang-bintang lahir dari awan molekul. Teori saat ini menyatakan kelahiran bintang dimulai dari penggumpalan awan molekul. Partikel-partikel awan molekul itu akibat gaya gravitasinya runtuh ke intinya membentuk inti yang akan menjadi bintang. Akibat rotasi gumpalan awan molekul itu sebagian materi tidak jatuh ke intinya, tetapi ke sekitar inti membentuk piringan. Inti bintang itu mulai memanas tetapi masih diselimuti debu dan gas yang tebal dan amat dingin, di bawah minus 200 derajat C. Ibarat bakal kupu-kupu dalam kepompong, inti bintang itu tak terlihat dari luar. Yang teramati hanya selimut debunya. Itu pun hanya pancaran infra merah dan radio yang bisa terdeteksi.

Inti bintang yang makin panas akan memantik reaksi fusi nuklir. Aktivitas bintang yang memancarkan radiasi dan partikel angin bintang dimulai. Embusan angin bintang lambat laun akan menyingkirkan selimut debu dan gas di sekitar bintang itu. Mulanya semburan dari arah kedua kutub bintang itu lalu pancaran angin bintang lambat laun akan menyingkirkan debu dan gas yang menyelimutinya. Yang tersisa adalah piringan debu dan gas di piringan sekitar ekuatornya. Piringan debu dan gas di sekitar bintang itu diyakini sebagai cikal bakal planet. Dengan tersibaknya selimut debu, inti bintang mulai tampak secara visual, walau masih amat redup dan hanya bisa teramati dengan teleskop besar. Kini diketahui banyak bintang yang masih mempunyai piringan debu dan gas yang umurnya masih beberapa juta tahun. Matahari kita tergolong bintang “remaja” yang baru berumur 4,5 milyar tahun.

Reaksi fusi nuklir menjadi sumber energi bintang — termasuk matahari — hingga bersinar. Angin bintang dan tekanan radiasi akhirnya juga akan menyingkirkan debu-debu di piringan. Kalau di piringan itu terbentuk planet-planet, yang tersisa adalah planet-planet dan sedikit materi debu-debu antarplanet.

Hasil reaksi fusi nuklir di inti bintang adalah unsur-unsur yang lebih berat. Bila bahan bakar nuklir di intinya habis, akhirnya bintang pun akan mati. Akhir kehidupannya tergantung massa dan keadaan fisik bintang. Ada bintang mengakhiri hidupnya dengan mengembang lalu akhirnya melepaskan materi-materinya ke angkasa dan akhirnya menjadi bintang kerdil putih. Matahari tergolong bintang yang akan mengakhiri hidupnya dengan cara itu. Ada pula yang meledak yang disebut supernova. Nah, materi-materi yang terlepas ke angkasa itu nantinya akan menjadi bahan dasar pembentukan bintang baru berikurnya.

Evolusi Tata Surya

Dari berbagai telaah radioisotop diperoleh bahwa batuan tertua di bumi berumur sekitar 4,1 milyar tahun, batuan di bulan tertua 4,4 milyar tahun, dan meteorit tertua berumur 4,6 milyar tahun. Umur batuan ini menunjukkan pula bahwa tata surya terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun yang lalu. Dari hasil pengamatan tata surya dan bintang-bintang sejenis matahari maka dibangunkah teori-teori tentang asal-usul tata surya. Banyak teori dibuat dan direvisi berdasarkan temuan-temuan terbaru. Menurut teori yang saat ini dianggap paling sesuai dengan banyak bukti pengamatan dan telaah teoritiknya, tata surya terbentuk seperti umumnya bintang-bintang bermassa kecil lainnya.

Survai IRAS (Satelit Astronomi Inframerah) dan pengamatan teleskop radio menunjukkan banyak bintang bermassa kecil (hampir mirip matahari) masih dalam proses pembentukan. Bagian intinya membentuk embrio bintang yang dikelilingi piringan debu dan gas. Hasil pengamatan itu didukung model teoritik berdasarkan perhitungan fisika. Menurut telaah teoritik, pembentukan bintang bermula dari kontraksi (pemadatan) debu dan gas secara lambat akibat gaya gravitasinya sendiri yang membentuk core (gumpalan) di dalam awan molekul raksasa.

Setelah bagian intinya cukup padat, terjadilah collapse (pemadatan tiba-tiba) dan materi mulai jatuh (infall) ke arah pusatnya. Akibat perputaran core itu, gas dan debu yang runtuh mulai dari bagian dalam, bukan hanya embrio bintang yang terbentuk tetapi juga piringan (disk) di sekitarnya. Embrio bintang dan piringan masih diselubungi oleh debu yang amat tebal sehingga tidak terlihat dari luar. Hanya pancaran sinar inframerah yang dapat diamati.

Dalam proses selanjutnya, embrio bintang berkembang menjadi bintang muda yang di dalam intinya mulai terjadi reaksi nuklir. Bintang muda itu kemudian memancarkan partikel-partikel halusnya yang disebut angin bintang. Ini dimulai dari arah kutubnya selanjutnya ke arah ekuatornya. Dengan itu pula infall berhenti dan selubung debunya mulai tersibak. Yang tersisa adalah piringan gas dan debu di sekitar bintang muda tersebut. Sisa piringan gas dan debu itu disebut nebula proto-planet, karena di piringan itulah kemudian terbentuk planet-planet.

Bintang (matahari) dan piringan debunya selanjutnya memasuki masa pembentukan planet-planetnya. Salah satu teori menyebutkan bahwa nebula proto-planet mula-mula berdiameter sekitar 20 SA ketika infall berhenti, belum seluas tata surya kita sekarang. Kemudian nebula proto-planet melebar sehingga diameternya menjadi sekitar 40 SA yang disertai dengan proses pendinginan. Proses pendinginan nebula proto-planet menyebabkan terjadinya penggumpalan gas dan debu. Senyawa yang mula-mula berkondensasi adalah besi dan silikat. Di bagian luar tata nebula proto-planet yang temperaturnya lebih rendah, es air juga ikut berkondensasi. Teori yang kini dianggap kuat menyatakan bahwa planet-planet berasal dari penggumpalan itu yang disebut planetesimal.

Bumi dan planet-planet kebumian lainnya (Merkurius, Venus, dan Mars) hanya terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama dari senyawa besi dan silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa lainnya terbentuk dari planetesimal besar, antara lain akibat turut terkondensasinya es air, sehingga mampu menangkap gas, terutama Hidrogen dan Helium. Planetesimal kecil yang tidak membentuk planet atau pecah akibat tumbukan sesamanya tersisa sebagai komet, asteroid, dan meteoroid.

Evolusi Bumi

Tata surya di awal evolusinya penuh dengan tumbukan. Proto-bumi (bakal bumi) dan proto-planet (bakal planet) lainnya juga mengalami tumbukan yang hebat. Salah satu bukti adanya tumbukan besar itu adalah kemiringan sumbu rotasi planet-planet terhadap bidang orbitnya. Tumbukan hebat yang dialami proto-bumi bukan hanya menyebabkan kemiringan sumbu rotasi bumi 23.5o, tetapi juga terbentuknya bulan.

Menurut teori yang paling kuat bukti-buktinya, proto-bumi pernah mengalami tumbukan hebat dengan proto-planet lainnya yang massanya sekitar 1/9 massa bumi. Tumbukan hebat ini menyebabkan terlontarnya batuan sebesar massa bulan (0.01 massa bumi) ke angkasa dan membentuk bulan. Salah satu bukti kuat teori ini adalah tidak dijumpainya inti besi di bulan karena yang terlontar hanya bagian kulit bumi. Akibat tumbukan itu juga atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi.

Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi, karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, yaitu sekitar 0.0002. Sekedar gambaran, berikut ini diberikan perhitungan kasar jumlah komet yang mungkin telah menumbuk bumi dan menyumbangkan airnya. Sebuah komet yang berdiameter 10 km mempunyai massa total sekitar 500 milyar ton, berarti mengandung air sekitar seratus milyar ton. Sedangkan massa total lautan saat ini sekitar 1,3 juta trilyun ton, kira-kira setara dengan 10 juta komet berdiameter 10 km. Ini menunjukkan pernah terjadi tumbukan komet yang luar biasa hebatnya dengan bumi dalam jangka waktu yang panjang.

Evolusi Alam dalam Perspektif AlQuran

Setelah menjelajah bukti-bukti observasi dan teori ilmiah tentang evolusi alam semesta, menarik juga untuk meninjau aspek religius untuk diperbandingkan dengan aspek ilmiah itu. Walaupun hal ini masih bersifat interpretasi yang masih dapat diperdebatkan.

Menurut Al-Qur’an, alam (langit dan bumi) diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) dapat ditafsirkan bahwa enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian.

Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 10 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebut bahwa Allah berkuasa meluaskan langit (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.

Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Bila bintang mati dengan ledakan supernova unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.

Inilah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya” (Q.S. 79:28)

Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,5 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulahlah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.

Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan penghamparan bumi pada Q.S. 79:30, “Dan bumi sesudah itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan‑Nya.

Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.

Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada dua masa terakhir itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, “Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang‑binatang ternakmu”.

Bagaimana akhir alam semesta? Kosmologi (cabang ilmu yang mempelajari struktur dan evolusi alam semesta) masih menyatakan sebagai pertanyaan yang terbuka, belum ada jawabnya, mungkin terus berkembang atau mungkin pula kembali mengerut. Namun Al-Quran mengisyaratkan adanya pengerutan alam semesta, seperti terungkap pada QS 21:104. “Pada hari kami gulung langit, seperti menggulung lembaran-lembaran kertas (makin mengecil) seperti Kami telah menjadikan pada awalnya, begitulah kami mengulanginya.”

 

Ikhlas Bersama Ruang dan Waktu

Teori relativitas telah menyatukan ruang dan waktu dalam dunia empat dimensi, dunia ruangwaktu (ditulis bersambung sebagai satu kata). Dan secara matematis dirumuskan kuadrat selang ruangwaktu = kuadrat selang waktu – kuadrat jarak ruang. Tanda minus berbeda dengan anggapan awam untuk ruang dan waktu (menggunakan “dan”, ruang dan waktu sebagai hal yang terpisah) yang terbiasa dengan rumus phytagoras: kuadrat jarak = kuadrat selang sumbu x + kuadrat selang sumbu y. Dalam dunia ruangwaktu, jarak bintang ke mata kita adalah “nol”. Karena, misalnya, jarak bintang (jarak ruang) 4 tahun cahaya. Cahaya bintang tersebut mencapai mata kita dalam waktu 4 tahun juga (selang waktu). Jadi, selang/jarak ruangwaktu bintang tersebut adalah 0.

Dalam dunia ruang dan waktu (mengikuti hukum Newton, non-relativistik) senantiasa kita berjalan ke masadepan secara perlahan dengan kecepatan satu hari tiap harinya. Tetapi kita juga bisa berjalan ke masa depan dengan lebih cepat lagi ke tempat yang sangat jauh, misalkan dengan pesawat antariksa berkecepatan mendekati cahaya. Inilah perjalanan relativistik, mengikuti hukum relativitas. Dalam perjalanan relativistik, waktu berjalan relatif lebih lambat daripada waktu dalam keadaan berdiam tidak ikut dalam perjalanan. Hal ini sudah terbukti pada partikel berenergi tinggi. Waktu luruh (berubah menjadi partikel lainnya) partikel Muon sebenarnya dalam keadaan diam hanya sepersejuta detik. Namun dalam perjalanan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, waktu luruhnya teramati oleh detektor yang diam bisa mencapai 50 kali lipat.

Apa makna batiniah dari semua fakta fisik ini? Kita tidak bisa mundur ke masa lalu. Kita senantiasa maju menuju masa depan. Semakin cepat kita maju, semakin jauh jarak tempuh kita menuju masa depan. Kita tetap merasa muda pada saat  orang malas merasa tua. Kita senantiasa berubah, berevolusi dengan kerangka waktu yang jauh lebih pendek dari evolusi alam. Tentunya, evolusi yang kita harapkan adalah evolusi menuju perbaikan kualitas dan kuantitas. Kualitas iman yang makin mantap, kualitas pribadi yang makin mapan, kualitas hidup yang makin sejahtera, dan kualitas keluarga yang makin bahagia. Kuantitas ilmu yang makin bertambah, kuantitas amal yang makin meningkat, kuantitas rizki yang makin bermanfaat, dan kuantitas pengikut yang mendoakannya. Ruang amal kita semestinya berekspansi, meluas, dan makin variatif. Persahabatan dan jaringan kerja selayaknya terus bertambah. Ruang gerak kreatif-inovatif seharusnya makin terbuka.

Lalu apakah fisik jasmaniah dan batiniah kita dibiarkan berevolusi mengikuti alur perkembangan ruang dan waktu kita tanpa tuntunan? Semestinya tidak dibiarkan lepas tanpa kendali. Penyesatan dan pencemaran qalbu bisa mengubah sebagalanya keluar dari jalan yang diridhai-Nya. Taqarrub, pendekatan diri kepada-Nya adalah penuntunnya. Kebersihan jiwa yang ikhlas semestinya yang melandasi perjalanan ruang dan waktu kita. Ikhlas bermakna bersih dari segala pamrih selain dari mengharap ridha-Nya.