Mari Membaca Alam untuk Mewaspadai Potensi Bencana


Thomas Djamaluddin

Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (Apr 2007-Feb 2010), Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Indonesia relatif rentan terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi). Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti gempa, gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang terkait dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat penurunan permukaan tanah daerah pantai). Untuk mewaspadai potensi bencana, dua hal harus diperhatikan: perubahan global-lokal dan variabilitas fenomena alam. Membaca alam adalah memahami perubahan dan varibilitas itu untuk mengantisipasi kemungkinan adanya potensi bencana.

Perubahan Global dan Lokal

Pemanasan global sering disebut-sebut sebagai biang keladi meningkatnya bencana. Ada benarnya, tetapi faktor lokal juga harus diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi yang keliru. Akibat generalisasi keliru seolah-olah faktor penyebab utama bencana adalah pemanasan global bisa membuat kita tidak sadar bahwa sumber penyebabnya yang utama ada di sekitar kita sendiri. Kita juga menjadi tidak sadar dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana.

Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari data, bukan fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di media massa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit namun konsisten.

Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer maupun tataguna lahan. Perubahan Iklim kadang dibedakan dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia (antropogenik). Variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.

Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan di penghujung milenium ketiga 2090 – 2099 bumi akan makin panas. Dampaknya, ada wilayah yang makin tinggi curah hujannya (a.l. Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang makin rendah curah hujannya (a.l. Indonesia bagian selatan). Data rata-rata suhu Indonesia 1970 – 2004 menunjukkan kenaikan 0,2 – 1 derajat yang berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat, perubahan suhu tersebut hanyalah rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3 derajat dalam rentang waktu yang sama.

Perubahan lokal berdampak jangka pendek, dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanan berkurang. Banjir dan tanah longsor semakin sering terjadi karena menurunnya daya dukung lingkungan. Pembangunan telah mengubah tataguna lahan yang mengubah kesetimbangan alam. Penambahan kepadatan penduduk telah memperburuk kondisi lingkungan sehingga tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekali pun yang berdampak banjir dan tanah longsor.

Variabilitas

Potensi bencana perlu diwaspadai dengan mengkaji periodisitas dan variabilitasnya. Secara umum kejadian di bumi sering bersifat periodik, berulang. Ada yang keberulangannya mudah diprakirakan, seperti musim kemarau dan musim hujan. Tetapi ada juga yang sulit, seperti kejadian gempa. Tetapi, kalau pun bisa diprakirakan, keberulangannya tidak mungkin tetap karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Keberulangannya bisa bervariasi, lebih panjang atau lebih pendek. Jadi, ada variabilitas.

Karena banyak faktor yang mempengaruhi, datang dan perginya musim hujan dan musim kemarau menjadi bervariasi. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Kegagalan dalam memprakirakan sering berdampak pada kerugian. Para peneliti (termasuk di LAPAN) kini berupaya memahami variabilitas itu dengan memahami banyak faktor yang mempengaruhinya. Belum semua rahasia alam terkuak, tetapi kini semakin banyak faktor telah difahami.

Dulu kita hanya mengenal dua musim: musim hujan dan kemarau, dengan pancaroba pada masa peralihannya. Faktor yang berpengaruh adalah perubahan posisi matahari yang berubah periodik ke utara dan ke selatan, sehingga terjadinya fenomena monsun, yaitu perubahan angin dari Asia-Pasifik dan Australia. Desember-Januari-Februari (DJF) adalah musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia karena adanya angin yang membawa uap air dari Pasifik dan Asia. Sedangkan Juni-Juli-Agutus (JJA) adalah musim kemarau karena angin dari Australia bersifat kering. Pada musim hujan dan kemarau udara cenderung lebih dingin karena angin membawa udara dingin dari daerah yang sedang mengalami musim dingin.

Maret-April-Mei (MAM) dan September-Oktober-November (SON) adalah musim peralihan, pancaroba. Pada musim pancaroba udara cenderung lebih panas karena tidak adanya efek pendinginan dari pergerakan angin yang relatif bersifat lokal dan berubah-ubah. Inilah yang menjelaskan suhu di beberapa kota terasa lebih panas pada musim pancaroba, bukan karena efek pemanasan global seperti dikira sebagian masyarakat. Konveksi lokal berpotensi terjadi.

Kini, pengetahuan kita bertambah. Ternyata faktor pemanasan lautan Pasifik sangat berpengaruh terhadap pembentukan awan dan hujan di Indonesia. Kita mengenal El Nino dan La Nina. El Nino adalah fenomena suhu muka laut di Pasifik Timur (sekitar perairan Peru) lebih tinggi daripada di Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia). Akibatnya, awan dari wilayah Indonesia bergeser ke Pasifik yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di Indonesia. Sebaliknya, ketika Pasifik Barat lebih hangat daripada Pasifik Timur akan terjadi La Nina yang menyebabkan awan dari Pasifik berkumpul di wilayah Indonesia. Akibatnya, musim hujan di Indonesia akan semakin panjang. Awal 2009 kita mengalami La Nina lemah sehingga hujan masih akan terus mengguyur sampai April-Mei. Lalu akhir 2009 sampai awal 2010 kita mengalami El-Nino moderat. Akibat pemanasan global, frekuensi kejadian El-Nino dan La Nina menjadi semakin cepat. Dulu rata-rata kejadiannya setiap 5 – 7 tahun, sekarang rata-rata kejadian antara 3 – 4 tahun.

Pada tahun 1990-an para peneliti menemukan fenomena baru yang juga berpengaruh pada variablitas iklim Indonesia. Ternyata suhu muka laut di lautan Hindia juga berpengaruh yang dikenal sebagai fenomena moda dipol. Mirip dengan La Nina dan El Nino, di lautan Hindia kita mengenal moda dipol negatif dan positif. Pada saat moda dipol negatif, suhu muka laut lautan Hindia Timur (sekitar perairan Indonesia)  lebih tinggi dari pada di lautan Hindia Barat (sekitar perairan Afrika). Akibatnya awan dari lautan Hindia berkumpul di atas Indonesia. Sebaliknya saat moda dipol positif, perairan Afrika lebih hangat darpada perairan Indonesia sehingga awan dari Indonesia cenderung bergeser ke arah lautan Hindia. Juli 2009 – Oktober 2009 kita mengalami moda dipol negatif sehingga dampak El Nino menjadi lemah. Sedangkan November 2009 – awal 2010 kita mengalami moda dipol positif sehingga kecenderungannya musim hujan sedikit hujan, memperkuat kondisi El Nino.

Dua faktor lautan tersebut (Pasifik dan Hindia) sudah cukup mengeser awal musim hujan dan musim kemarau di Indonesia. Karena frekuensi kejadian El Nino dan La Nina semakin cepat akibat dampak pemanasan global, kita merasakan ketidakpastian musim semakin tinggi. Kita tidak bisa lagi membuat generalisasi bahwa DJF adalah musim hujan dan JJA adalah musim kemarau. Bisa saja karena faktor El Nino-La Nina serta moda dipol positif dan negatif, musim hujan dan musim kemarau bergeser.

Kita sering mendengar ada petani yang terkecoh, dikira sudah masuk musim hujan karena hujan turun setiap hari, nyatanya kemudian kering kembali. Sebaliknya, dikira mulai masuk musim kemarau karena hujan tak turun lagi selama beberapa hari, ternyata kemudian hujan masih turun. Atau kita sering merasakan pada saat musim hujan ada jeda dengan cuaca cerah selama beberapa hari. Kini diketahui ada periodisitas jangka pendek antara 1 – 2 bulanan terkait turunnya hujan yang dikenal osilasi Madden-Julian. Ada masa konveksi pembentukan awan sangat kuat yang terkait dengan banyaknya turun hujan dan ada masa konveksi pembentukan awan sangat lemah yang terkait dengan kurangnya turun hujan.

Ada periodisitas lain yang juga harus diperhatikan, faktor kosmogenik yang berasal dari antariksa. Pasang surut air laut sudah lama diketahui berperiode 12 jam karena efek gravitasi bulan. Tetapi ada saat-saat tertentu pasang mencapai maksimum karena efek gabungan gravitasi bulan dan matahari. Itu terjadi sekitar bulan baru (sekitar tanggal 1 kalender Hijriyah/Saka) dan sekitar purnama. Pada saat itu banjir pasang terjadi paling tinggi di daerah pantai yang menjangkau daratan yang lebih luas.

Faktor kosmogenik lainnya adalah dari aktivitas matahari yang terkait dengan pancaran partikel energetik dan radiasi matahari yang periodenya sekitar 11 tahunan. Banyak penelitian yang menunjukkan pembentukan awan dan curah hujan dipengaruhi juga oleh periodisitas aktivitas matahari. Ada kecenderungan curah hujan lebih tinggi atau lebih rendah pada saat aktivitas matahari maksimum, tergantung daerahnya. Musim dingin ekstrem saat ini di bumi belahan utara terkait erat dengan aktivitas matahari minimum yang berkepenjangan saat ini.

Waspadai Efek Penguatan

Faktor-faktor yang pengaruh tersebut perlu terus dipantau untuk mengkaji potensi bencana. Bila faktor-faktor tersebut terjadi tidak bersamaan, potensi bencananya relatif rendah. Tetapi perlu diwaspadai efek penguatan potensi bencana bila kejadiannya bersamaan. La Nina yang bersamaan dengan moda dipole negatif disertai dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan penguatan konveksi pembentukan awan perlu diwaspadai potensi curah hujan yang cukup tinggi. Potensi banjir akan akan makin parah bila daya dukung lingkungan buruk, misalnya berkurangnya resapan dan terhambatnya saluran pembuangan air.

Lebih parah lagi kalau kejadiannya bersamaan dengan pasang maksimum. Pada saat itu air laut meninggi. Curah hujan di laut juga menambah volume air laut. Akibatnya, luapan air dari daratan tidak dapat terbuang ke laut. Penurunan permukaan tanah di beberapa kota pantai makin memperparah dampaknya.

Masa pancaroba yang diperkuat dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan kuatnya konveksi pembentukan awan, sangat berpotensi memicu pergerakan udara panas yang kaya uap air ke atas secara cepat. Konveksi lokal ini dapat memicu terjadinya hujan lebat yang disertai dengan butiran es bila uap air didorong tinggi mencapai daerah yang sangat dingin atau terjadinya badai lokal berupa puting beliung. Inilah yang terjadi pada pertengahan Maret 2009 sampai pekan ketiga di beberapa kota. Fenomena yang mirip kondisi pancaroba (karena adanya tekanan rendah di Barat Baya Indonesia) terjadi pada pertengahan Februari 2010 baru lalu. Efek pemanasan lokal karena kurangnya vegetasi menambah potensi bencana hujan es dan puting beliung.

Apa yang bisa kita lakukan? Faktor alam hanya bisa kita waspadai. Faktor antropogenik dari perilaku manusia harus kita perbaiki agar tidak memperkuat potensi bencana. Memperbaiki daya dukung lingkungan adalah upaya mutlak yang harus dilakukan saat ini juga., antara lain dengan memperbanyak resapan air, memperbaiki saluran air, dan memperbanyak ruang terbuka hijau.

%d blogger menyukai ini: