ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti


Thomas Djamaluddin

Peneliti Astronomi dan Sains Antariksa, LAPAN Bandung

(Di tulis untuk pertemuan dengan Mahasiswa Astronomi ITB, 2006)

Saya belajar astronomi hanya bermodalkan tekad mewujudkan cita-cita. Pada masa mahasiswa, minimnya dukungan ekonomi orang tua tidak menjadi alasan hambatan dalam studi, walau kadang mengganggu semangat. Dengan doa orang tua, Allah membukakan jalan-Nya sehingga banyak pihak secara langsung atau tak langsung membantu kelancaran studi saya. Bagaimana pun semangat kadang down juga. Semuanya saya catatkan pada buku pribadi  (dengan tulisan sandi), dengan disertai tekad dan motto pembangkit semangat. Fenomena astronomis terbitnya matahari, dijadikan motto pembangkit semangat ketika muncul perasaan tertekan dan semangat jatuh. Astronomi telah menjadi bagian rasa cinta dan jalan hidup.

CITA-CITA

Sewaktu kecil saya bercita-cita menjadi tentara angkatan udara, padahal ayah saya seorang tentara angkatan darat. Tetapi akhirnya beralih. Saya teringat ketika kelas I SMP di SMPN 1 Cirebon, pada suatau pelajaran, Guru memerintahkan semua siswa menuliskan cita-citanya. Dengan yakin saya tuliskan “jadi peneliti”. Sejak kecil memang saya mempunyai keingintahuan yang besar dan berupaya mencari jawabannya sendiri. Ketika naik pohon jambu, bukan hanya mencari buah yang matang, tetapi saya juga memperhatikan bunganya sampai menjadi buah. Ketika musim hujan, saya gemar mencari tanaman baru yang tumbuh dari biji-biji yang dibuang sebarang, seperti mangga, rambutan, dan kedondong. Ketika menemukan kunci gembok berkarat sehingga mudah dihancurkan untuk melihat isinya, saya berlama-lama meneliti cara kerjanya.

Dua kali saya mengikuti lomba karya ilmiah remaja waktu SMP dan SMA, walau gagal. Tetapi itu memberikan pengalaman penelitian yang menarik dan memacu kreativitas. Pertama tentang kromatografi kertas, menguraikan warna tinta menjadi warna dasarnya pada kertas saring. Ketiadaan fasilitas gelas ukur yang dicontohkan di TV, saya gantikan dengan wadah plastik dan semprong lampu minyak tanah. Lomba kedua saya ajukan ide asli saya, mendeteksi (saya sebut waktu itu) bakteri atau cacing di mata dengan lubang jarum pada kertas yang diarahkan ke sumber cahaya. Dengan lubang jarung tersebut terlihat bentuk transparan seperti rantai manik-manik betuknya mirip bakteri atau sejenid cacing. Saya gunakan teori optik dan referensi biologi seadanya tentang bakteri dan cacing. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban pertanyaan saya dulu tersebut.

Pada kelas III SMP pada 1975/76 terbit majalah “Mekatronika” dan “Scientiae” yang dalam beberapa edisinya membahas tentang tentang UFO (Unidentified Fly Objects) dan antariksa. Ketika masuk SMAN 2 Cirebon, perpustakaannya cukup mendukung keingintahuan saya. Buku Eric von Daniken tentang misteri makhluk luar angkasa sangat kuat memancing rasa ingin tahu sehingga saya baca berulang kali. Akhirnya saya tertarik untuk menulis artikel “UFO Bagaimana Menurut Agama”. Untuk menulis artikel tersebut saya perlu banyak bahan bacaan tambahan tentang antariksa. Alhamdulillah, banyak buku tersedia di perpustakaan walau semuanya berbahasa Inggris. Rujukan utama tentang universe dan astronomy saya dapatkan dari Encyclopedia Americana di perpustakaan SMAN 2 Cirebon. Hasil bacaan dituangkan dalam tulisan. Karena saya tidak punya mesin tik, saya minta tolong teman untuk mengetiknya. Alhamdulillah, tulisan saya dimuat majalah Scientiae. Mungkin tidak ada yang menduga tulisan itu hanya hasil analisis siswa kelas I SMA. Selanjutnya gambar-gambar astronomi yang menarik dan segala misteri yang terkait dengan makhluk antariksa menarik saya untuk membaca lebih banyak tentang astronomi.

Scientiae-1

Scientiae-2

Ketika ada tawaran Proyek Perintis II (masuk perguruan tinggi tanpa tes, termasuk ITB) pada 1981, saya ikut mendaftar dan dalam surat permohonan  langsung saya tuliskan keinginan saya masuk jurusan astronomi. Saya sudah memantapkan untuk menjadi peneliti astronomi. Alhamdulillah, saya diterima di ITB. Tetapi menjelang berangkat ke Bandung, saya baca artikel di “Pikiran Rakyat”. Intinya, untuk hidup dan sekolah di Bandung tidaklah murah. Diceritakan, minimal untuk biaya hidup mahasiswa perlu sekitar Rp 50.000,- padahal uang pensiun ayah saya hanya Rp 81.000. Bagian akhir tulisan itu saya kliping dan saya beri catatan pembangkit semangat.

Saya jalani masa mahasiswa dengan segala keterbatasan. Alhamdulillah, nyatanya saya dapat bertahan dengan biaya hidup Rp 15.000 per bulan untuk semuanya (makan masak sendiri dengan menu sederhana asal bergizi, untuk fotokopi, dan lainnya). ITB ternyata juga tidak menakutkan seperti dugaan semula. Setelah semester pertama membayar SPP penuh, semester selanjutnya membayar SPP hanya 50% kemudian bebas SPP. Pada tahun ketiga dan keempat saya mendapat beasiswa BPPA (Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik) Rp 25.000/bulan dan beasiswa Aji Dharma Bakti (Yayasan Sosial Ajinomoto) Rp 30.000/bulan, jumlah yang tergolong besar bagi saya sehingga bisa juga membantu biaya sekolah adik-adik.

Perasaan gagal dan kecewa kadang muncul ketika hasil ujian tidak sesuai harapan. Kadang semangat jatuh. Semuanya saya catatkan dalam buku catatan pribadi dan selalu saya tutup dengan pembangkit semangat dan doa. Saya selalu berupaya membangkitkan semangat dari dalam diri untuk terus maju. Saya membuat motto diri dari fenonema astronomis matahari terbit: “Hidup ini adalah perjuangan lahir batin dengan iman, ilmu, dan amal. Matahari telah terbit. Hari ini adalah hari perjuangan dengan semangat baru. Majulah! Majulah! Majulah!” Saya juga teringat pesan Imam Al-Ghazali, bahwa jadilah manusia seperti matahari, bersinar karena kualitas pribadinya dan mampu menerangi sekitarnya. Jadi, tak ada jalan lain untuk maju selain selalu berupaya meningkatkan kualitas pribadi.

Selain kuliah, saya aktif di masjid Salman menjadi mentor. Menjadi pembina berarti harus memberi contoh yang baik. Inilah yang membantu membangkitkan semangat untuk terus bertahan dan mencapai yang terbaik. Bagaimana pun hasil bukan ukuran utama, tetapi usaha keras itu yang harus dilakukan. Aktivitas di masjid memang cukup menyita waktu, sehingga tidak mungkin mengambil kegiatan lain, selain di Himastron. Kuliah dan membina di masjid dianggap sama pentingnya.  Kegiatan di masjid menjadi bagian pembinaan diri bersosialisasi, untuk memahami masalah-masalah nyata di masyarakat dan merumuskan kemungkinan solusinya dari sudut pandang agama. Beberapa buku keislaman untuk pegangan mentoring berhasil saya susun.

Belajar astronomi berarti juga belajar bagaimana menjelaskan sains yang rumit menjadi menarik dan mudah difahami. Pak Winardi dalam kuliah astrofisika selalu mendorong mahasiswanya untuk membaca juga buku-buku astronomi populer. Karena dengan itu, konsep fisika – matematika lebih mudah difahami dengan ilustrasi dan contoh fenomena di alam yang dibahas secara populer. Selain itu, dengan seringnya membaca astronomi populer, mahasiswa juga mampu untuk menjelaskan astronomi kepada masyarakat awam. Kemampuan untuk berbicara sains dengan bahasa populer juga dilatihkan dengan penugasan menjadi penceramah di Observatorium Bosscha, menuliskan artikel populer, dan menjawab pertanyaan awam tentang astronomi. Tulisan populer saya yang pertama yang ditugaskan Pak Bambang tentang gerhana matahari total 11 Juni 1983 dimuat di Pikiran Rakyat menjelang Ramadhan 1403 H.

Astronomi bola yang diajarkan Pak Moedji mengantarkan saya untuk memahami masalah hisab rukyat (perhitungan dan pengamatan) penentuan awal bulan hijriyyah. Masalah hisab rukyat, bukan hanya menuntut penguasaan masalah astronomisnya, tetapi juga masalah syariat yang terkait dengannya. Hal yang lebih pelik dan sulit diselesaikan (namun kita berharap bisa diatasi) adalah masalah tradisi organisasi massa Islam. Masalah hisab rukyat tidak diajarkan secara formal di jurusan astronomi, tetapi harus digali sendiri. Untuk menambah wawasan tentang hisab rukyat, beberapa kali saya berdiskusi dengan pengajar hisab rukyat di Fakultas Syariah UNISBA untuk memahami masalah syariatnya. Pengalaman ini sangat berguna untuk terlibat secara langsung pada upaya penyelesaian masalah perbedaan hari raya, terutama dengan tulisan-tulisan di media massa.

Ada satu kesalahan fatal yang hampir menghancurkan cita-cita saya. Malam Sabtu, 31 Agustus/1 September 1984 saya mengalami kekacauan konsentrasi dalam bekerja di teropong Schmidt karena kondisi fisik mengantuk dan lapar. Mula-mula timer di kamar gelap secara tak sengaja jatuh. Dan yang paling fatal adalah memecahkan filter G11 dalam kondisi hilang konsentrasi saat pengamatan dini hari. Filter kaca tanpa sadar disatukan dengan plat film saat pemasangan pada plate holder yang permukaannya cembung. Ketika terdengar bunyi kaca remuk baru sadar ada kesalahan fatal. Cita-cita saya akan hancur sampai di sini? Pak Bambang Hidayat tentu saja marah dan melarang saya ikut pengamatan. Tetapi alhamdulillah, masalahnya akhirnya dianggap selesai pada 23 November 1984, sepulang Pak Bambang dari Jepang. Filter pengganti telah diperoleh dari Jepang. Dan pada Januari 1985 Pak Bambang menjadi pembimbing tugas akhir untuk mengolah hasil pemotretan Pak Bambang di Observatorium Kiso, Jepang, untuk menganalisis distribusi bintang OB di lengan galaksi ke arah rasi Puppis. Bukan hanya bimbingan, tetapi juga honor penelitian saya peroleh dari dana riset Pak Bambang. Honor itu sangat membantu saya.

Ada satu cita-cita untuk menjadi dosen, di samping sebagai pengajar juga peneliti. Sayangnya formasi dosen tampaknya sedang kosong pada waktu itu. Pengangkatn dosen terakhir pada waktu itu adalah Pak Moedji, setelah itu tidak ada lagi. Tetapi Jurusan Astronomi tampaknya mengupayakan penambahan staf dosen baru. Pada 20 Mei 1986 saya mendapat informasi dari TU Observatorium Bosscha bahwa nama saya termasuk salah satu yang diusulkan untuk menjadi calon staf dosen untuk matakuliah astronomi-astrofisika II. Saya sangat gembira dan berdoa agar hal itu dapat terwujud. Tampaknya surat itu tidak ada tindak lanjutnya, mungkin memang formasi dosen astronomi kosong. Sampai menjelang penyelesaian tugas akhir, saya tidak mendapat jawaban dari Pak Bambang kemungkinan untuk jadi staf dosen.

Ketika pada 1 Agustus 1986 datang Mezak dan Mas Bambang Setiahadi menawarkan untuk bekerja di LAPAN dengan janji akan disekolahkan ke luar negeri, saya masih ragu menerima tawaran jadi peneliti atau menunggu jadi dosen. Akhirnya saya mantapkan jadi peneliti setelah diajak menghadap Kepala LAPAN Bandung pada 5 Agustus 1986. Keesokan harinya langsung diminta mengajukan lamaran kerja dan mengikuti psikotes, saya dianggap sudah lulus. Akhir Agustus baru saya sampaikan kepada Pak Bambang bahwa saya telah melamar ke LAPAN. Pak Bambang tampak kecewa dan sempat menghentikan bimbingan penyelesaian akhir skripsi. Pak Winardi dan Pak Paulus yang dimintai pendapat hanya menyatakan perlunya memperkuat kelompok struktur galaksi, tetapi tidak memberi informasi kemungkinan pengangkatan dosen, hanya dijanjikan akan dibahas dalam rapat Jurusan Astronomi pada 3 September. Saya tidak tahu hasil rapatnya, tetapi tampaknya masuknya saya ke LAPAN kemudian tidak dipersoalkan lagi oleh Pak Bambang sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir dan ikut sidang sarjana pada 1 Oktober 1986. Seusai sidang saya dapat informasi bahwa saya lulus dengan nilai A dan diusulkan untuk Cum Laude, walau saya sadar nilai kumulatif saya belum mencukupi untuk Cum Laude. Setelah wisuda pada 18 Oktober 1986, saya mulai masuk kerja di LAPAN 1 November 1986. Alhamdulillah, saya hanya jadi penganggur 2 pekan.

KECINTAAN

Di LAPAN saya masuk pada kelompok penelitian antariksa, dengan fokus penelitian matahari, lingkungan antariksa, dan astronomi. Penelitian struktur galaksi tidak mungkin lagi dilakukan, tetapi prinsip-prinsip dasar astronomi sangat mendukung kegiatan penelitian. Delapan belas bulan bekerja di LAPAN, saya mendapat tugas belajar ke Jepang dengan beasiswa Monbusho. Solar physic and galactic astronomy saya pelajari, tetapi akhirnya kembali pada galactic astronomy dengan  fokus pada interstellar matter dan star forming ragions serta terlibat juga dalam penelitian large scale galaxy distribution. Pengamatan malam di observatorium wajib dilaksanakan. Ada trauma untuk bekerja dengan teleskop, khawatir kesalahan fatal terjadi lagi. Alhamdulillah, trauma dapat diatasi dan pengamatan bisa berjalan lancar di observatorium terbesar di Jepang (Okayama Astrophysical Observatory) dan di observatorium milik Kyoto University (Ouda Observatory) di Nara. Kadang seorang diri beberapa malam mengamat di observatorium Ouda yang sangat sepi.

Pengamatan malam dalam kesunyian memberikan kesan yang mendalam betapa menyenangkannya jadi astronom. Di balik kerlip bintang yang bertaburan, terdapat banyak informasi yang menantang untuk digali. Dari spektrumnya dapat dipelajari informasi fisisnya. Dari pelemahan magnitudonya dapat dipalajari adanya materi antarbintang. Dari warnanya (dalam definisi astronomis, perbedaan magnitudo antara dua filter atau perbedaan flux density pada dua panjang gelombang)  dan luminositasnya, dapat ditelusur evolusinya. Teknologi CCD telah memberikan kemudahan dalam pengamatan, sehingga data bisa direkam dalam komputer dan diolah dengan program pengolah citra secara lebih cepat. Tracking dalam pengamatan lama cukup dilakukan dari layar monitor.    Penyelesaian program S3 dengan topik evolusi protostar tidak dilakukan dengan pengamatan teleskop, tetapi lebih banyak mengolah data dan menginterpretasikannya dari data pengamatan satelit infra merah, IRAS. Mempelajari bagaimana bintang lahir dari awan antarbintang membuka rahasia tersembunyi tentang alam semesta. Astronomi bukan sekadar bagian dari studi dan penelitian, tetapi telah menjadi bagian dari rasa cinta dan kesenangan.

Karena kesenangan pada astronomi, sangat beralasan kalau itu diabadikan pada nama tiga putra-putri saya disertai harapan dan doa akan makna dibalik namanya: Vega Isma Zakiah, Gingga Ismu Muttaqin, dan Venus Hikaru Aisyah. Vega merupakan salah satu dari segi tiga musim panas. Di Jepang terlihatnya Vega berkaitan dengan festival bintang (Tanabata Matsuri). Bintang Vega adalah bintang standar  astronomi, paling baik diamati pada bulan Juli. Vega Isma Zakiah lahir di Kyoto, Jepang, 10 Juli 1992. Diharapkan akan secemerlang bintang Vega, rendah hati menyadari kekecilan dirinya bagai debu materi antarbintang (InterStellar Matter, Isma) yang senantiasa menjaga kesucian (Zakiah) lahir dan batin. Gingga dalam bahasa Jepang berarti sungai perak atau galaksi Bimasakti, tempat ratusan milyar bintang. Pada bulan Juli, Gingga tampak cemerlang di langit berdampingan dengan Vega,  terbentang  di langit dari selatan ke utara. Gingga Ismu Muttaqin lahir di Bandung, 7 Juli 1996. Diharapkan gagah cemerlang seperti galaksi Gingga, merendah menyadari dirinya kecil di tengah keluasan ruang antarbintang (InterStellar MediUm, Ismu), dan senantiasa menjaga ketaqwaan (Muttaqin). Venus, bintang Kejora atau bintang timur adalah “bintang” (sesungguhnya planet) yang paling terang. Tampak cemerlang di ufuk barat saat maghrib atau di ufuk timur saat pagi. Shubuh Oktober 1999 Venus tampak cemerlang di langit timur. Venus Hikaru Aisyah lahir di Bandung, 13 Oktober 1999. Diharapkan anggun cemerlang seperti Venus, bersinar (Hikaru, dalam bahasa Jepang) meneladani Ummul Mu’minin Siti Aisyah.

Kegemaran pada astronomi sering saya padukan dengan upaya peningkatan kualitas iman dan itu diwujudkan pada artikel-artikel di koran dan majalah. Ada tiga alasan saya menulis di koran. Pertama. Karena kegemaran membaca dan menulis. Kedua, ada keinginan berbagi ilmu yang menyenangkan (astronomi) dan menyebarkan gagasan dalam mencari solusi. Ketiga, ada keuntungan dari segi angka kredit peneliti dan honor tulisan. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah saya publikasi 87 tulisan populer terkait dengan astronomi, termasuk astronomi untuk masyarakat dalam mencari solusi perbedaan hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Sebagian diantaranya dimuat di situs web http://media.isnet.org/isnet/Djamal dan

dikumpulkan dalam bentuk buku: “Menggagas Fiqih Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya” (Penerbit Kaki Langit, Bandung, 2005) dan “Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Quran” (Penerbit Khazanah, Grup Percikan Iman, Bandung, 2006). Ada juga buku kecil untuk anak-anak dan remaja tentang “Bertanya pada Alam: 13 Worthy to Know Facts” (Penerbit Shofie Media, Grup Percikan Iman, Bandung, 2006), berisi jawaban atas 13 pertanyaan fenomena sehari-hari, seperti  mengapa terjadi malam dan siang, mengapa sepekan 7 hari, mengapa matahari di kaki langit tampak besar, dan mengapa wajah bulan tidak berubah.

KARIR PENELITI

Kuliah astronomi, dengan mahasiswa yang sedikit (terutama dulu) memang unik. Pola mengajar bisa lebih bersifat personal, seperti pola bimbingan. Pernah terjadi kuliah pilihan bintang ganda diikuti oleh satu mahasiswa (Pak Hakim Malasan), tetapi dosennya dua (Pak Winardi dan Pak Bambang). Pak Djoni mengajar dengan cara memberi tugas menterjemahkan buku Atmosfer Bintang kemudian dipresentasikan. Sehingga mahasiswa sering mengatakan “akan memberikan kuliah”, bukan “akan mengikuti kuliah”. Pak Bambang lebih banyak menunjukkan makalah-makalah referensi, sehingga selepas kuliah mahasiswa sibuk mencarinya di perpustakaan. Untungnya perpustakaan astronomi di Observatorium Bosscha sangat lengkap dan penuh jurnal-jurnal terbaru. Pola pembelajaran di Jurusan/Departemen/Program Studi Astronomi seperti itu menjadi bekal untuk menjadi peneliti yang mandiri. Di LAPAN, peneliti alumni astronomi umumnya sudah bisa langsung dilepas menjadi peneliti, tidak terlalu banyak harus dibina, karena sudah terbiasa dengan budaya penelitian. Terbiasa mencari referensi jurnal sebagai rujukan perkembangan sains terbaru (bukan sekadar buku teks yang berisi informasi baku), terbiasa presentasi ilmiah, dan terbiasa membuat makalah.

Saya telah memilih profesi peneliti astronomi dan sains antariksa di LAPAN. Peneliti adalah suatu jabatan fungsional yang memerlukan profesionalisme, bukan kerja sambilan. Menjadi pegawai negeri peneliti adalah suatu pilihan di antara banyak daya tarik luar lainnya. Sebagai pegawai negeri, ada jaminan kesejahteraan  sampai hari tua, tetapi dalam batasan minimal. Karena batasan minimal tersebut, ada daya tarik luar yang kadang menggoda untuk mencari tambahan. Biasanya, daya tarik terkuat adalah mengajar, baik mengajar pada bidangnya atau kadang mengajar bukan pada bidangnya asal ada tambahan penghasilan. Pada awalnya saya masih sempat merangkap jadi peneliti dan mengajar di luar. Ketika jam kerja sampai pukul 14.00, pulang kantor masih bisa mengajar sampai malam. Mengajar hanya di luar jam kantor karena saya tidak ingin terjerumus pada “korupsi terselubung” dengan korupsi waktu. Karenanya ketika jam kerja berubah menjadi 5 hari kerja dan jam kerja sampai pukul 16.00 saya tidak mungkin lagi mengajar. Hari Sabtu bukan pilihan yang baik untuk mengajar.

Godaan terberat untuk berbagi peran sebagai peneliti pegawai negeri dan pengajar sambilan terasa ketika saya baru tiba dari Jepang. Ada perubahan drastis, dari biaya hidup yang bersumber dari dana beasiswa bulanan dalam Yen yang lebih dari cukup menjadi gaji murni sebagai PNS tanpa tunjangan fungsional (karena baru tiba) yang sangat minim. Dari penghasilan bulanan setara Rp 4.000.000 (menurut kurs 1994) menjadi hanya sekitar Rp200.000. Ada peneliti lulusan luar negeri yang tidak tahan dengan kondisi seperti itu dan mengikuti daya tarik luar yang kuat dan menggiurkan, walau menutup mata (sadar atau tak sadar) dengan perilaku korupsi terselubung (seolah hal yang lumrah). Ada yang masih bisa mengendalikan diri hingga profesi penelitinya tetap terjaga, tetapi ada juga yang terlalu jauh terlena dengan daya tarik luar. Kalau mau jujur dan tidak mau terjebak korupsi terselubung, tidak mungkin menjadi peneliti yang produktif dan berhasil pula sebagai pengajar yang baik (ini kasus yang berbeda untuk dosen yang memang profesinya mengajar dan meneliti). Pasti salah satunya rusak atau kedua-duanya rusak atau setidaknya bisa terlaksana “sekadarnya”. Saya pilih jadi peneliti saja, walau pahit pada awalnya.

Karir peneliti memang menjanjikan untuk perbaikan kesejahteraan, setidaknya lebih baik dari batas minimal sebagai pegawai negeri. Dengan struktur tunjangan peneliti seperti saat ini (pada tabel berikut ini), saya mencoba menghitung secara ekonomi berapa nilai rupiah hasil karya peneliti.

Struktur Lama Struktur baru
Assiten Peneliti Muda (IIIa), 100 AK Rp    130.000 PenelitiPertamaIIIa,100AKPenelitiPertamaIIIb,150AK
Asisten Peneliti  Madya(IIIb),150AK Rp    253.000
Ajun Peneliti Muda (IIIc), 200AK Rp    377.000 Peneliti Muda IIIc,200AKPeneliti Muda IIId,300AK
Ajun Peneliti Madya (IIId), 300AK Rp    500.500
Peneliti Muda (IVa),400AK Rp    624.000 Peneliti MadyaIVa,400AKPeneliti MadyaIVb,550AK

Peneliti MadyaIVc,700AK

Peneliti Madya (IVb), 550AK Rp    747.500
Ahli Peneliti Muda (IVc), 700AK Rp    871.000
Ahli Peneliti Madya (IVd),850AK Rp    994.500 Peneliti Utama IVd,850AKPenelitiUtamaIVe,1050AK
Ahli Peneliti Utama (IVe),1000AK Rp 1.118.000

Ambil salah satu contoh kasus. Ajun peneliti untuk naik jenjang perlu 100 AK. Satu makalah hasil penelitian oleh penulis tunggal (menurut sistem penilaian lama) bernilai 25, sehingga untuk naik jenjang perlu 4 makalah yang harus terpenuhi selama 4 tahun. Artinya, setiap tahun harus menghasilkan 1 makalah penelitian penulis tunggal. Namun hasilnya akan ada tambahan tunjangan fungsional sebesar  kira-kira Rp 120.000,00 per bulan. Sehingga kalau dikonversikan nilainya selama satu tahun menjadi  12 x Rp 120.000,00 = Rp 1.440.000. Untuk menghasilkan 1 makalah penelitian, biasanya seorang peneliti di LAPAN melaksanakan program penelitian dengan diberikan honor bulanan (untuk saat ini) sebesar Rp 10.625,00 per jam (setelah potong pajak 15%). Karena satu bulan maksimum hanya diperkenankan 80 jam, maka honor total selama satu tahun untuk menghasilkan satu makalah menjadi 12 x  80 x Rp 12.500,00 = Rp 10.200.000,00. Jadi satu makalah penelitian yang dihasilkan seorang peneliti dinilai Rp 1.440.000 + Rp10.200.000,00 = Rp11.640.000,00,  suatu jumlah yang tidak sedikit. Sebenarnya, harus juga diperhitungkan dengan gaji dan tunjangan fungsionalnya, kira-kira Rp 1.500.000 per bulan, sehingga secara kumulatif total nilainya menjadi Rp 29.640.000,00. Pada saat banyak orang mencari pekerjaan, satu buah makalah bernilai sebesar itu menunjukkan bahwa profesi pegawai negeri peneliti bukan main-main.

Pilihan karir jadi peneliti fulltime, ternyata juga memberikan kepuasan batin karena sesuai cita-cita dan jenjang karir ditentukan oleh diri sendiri, bukan orang lain. Menjadi peneliti, naik jabatan (termasuk tunjangan jabatannya) ditentukan oleh kinerja pribadinya. Nilainya harus baik dalam penilaian pretasi kerjanya sebagai pegawai negeri (dinyatakan dalam DP3, Daftar Penilaian Pekerjaan Pegawai). Juga hasil kegiatan sebagai peneliti juga harus baik. Bila itu terlaksana, tiap tahun naik jabatan dimungkinkan bila nilai angka kredit penelitinya mencukupi untuk naik jenjang. Pangkatnya sebagai pegawai negeri juga dimungkinkan untuk dinaikkan setiap 2 tahun (dengan kenaikan pangkat pilihan), dua kali lebih cepat daripada kenaikan reguler setiap 4 tahun. Pilihan saya ternyata jalan yang tepat. Sejak jabatan fungsional saya ajukan, nilai angka kredit saya memungkinkan cepat naik jabatan dan tentunya dapat naik pangkat setiap dua tahun. Ketika pulang dari tugas belajar, pangkat PNS telah IIIb. Kemudian mengalami satu kali kenaikan pangkat reguler 4 tahunan menjadi IIIc. Selanjutnya naik pangkat setiap 2 tahun menjadi IVc, berarti empat kali naik pangkat pilihan. Dengan angka kredit peneliti saya 1.047, memungkinkan saya untuk naik pangkat lagi menjadi IVd pada 2007 dan berharap mencapai puncak karir peneliti pada 2009 sebagai Peneliti Utama IVe (sebagai profesor riset). Hal ini saya ungkapkan bukan untuk menyombongkan diri (karena tidak ada yang istimewa, setiap orang bisa melakukannya), tetapi semata-mata ingin menunjukkan bahwa jenjang karir peneliti bisa direncanakan oleh diri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Berbeda dari jejang karir struktural yang tergantung juga pada pilihan atasan kita.

Baca juga:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/12/orasi-profesor-riset-bidang-astronomi-astrofisika/

Satu Tanggapan

  1. […] cita-cita ke empat (lulus sarjana ITB) dan pengembangan karir saya tuliskan di blog saya ini  “ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti”. Alhamdulillah, seusai wisuda 18 Oktober 1986 hanya berselang 2 pekan saya sudah masuk bekerja di […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: