ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti

Thomas Djamaluddin

Peneliti Astronomi dan Sains Antariksa, LAPAN Bandung

(Di tulis untuk pertemuan dengan Mahasiswa Astronomi ITB, 2006)

Saya belajar astronomi hanya bermodalkan tekad mewujudkan cita-cita. Pada masa mahasiswa, minimnya dukungan ekonomi orang tua tidak menjadi alasan hambatan dalam studi, walau kadang mengganggu semangat. Dengan doa orang tua, Allah membukakan jalan-Nya sehingga banyak pihak secara langsung atau tak langsung membantu kelancaran studi saya. Bagaimana pun semangat kadang down juga. Semuanya saya catatkan pada buku pribadi  (dengan tulisan sandi), dengan disertai tekad dan motto pembangkit semangat. Fenomena astronomis terbitnya matahari, dijadikan motto pembangkit semangat ketika muncul perasaan tertekan dan semangat jatuh. Astronomi telah menjadi bagian rasa cinta dan jalan hidup.

CITA-CITA

Sewaktu kecil saya bercita-cita menjadi tentara angkatan udara, padahal ayah saya seorang tentara angkatan darat. Tetapi akhirnya beralih. Saya teringat ketika kelas I SMP di SMPN 1 Cirebon, pada suatau pelajaran, Guru memerintahkan semua siswa menuliskan cita-citanya. Dengan yakin saya tuliskan “jadi peneliti”. Sejak kecil memang saya mempunyai keingintahuan yang besar dan berupaya mencari jawabannya sendiri. Ketika naik pohon jambu, bukan hanya mencari buah yang matang, tetapi saya juga memperhatikan bunganya sampai menjadi buah. Ketika musim hujan, saya gemar mencari tanaman baru yang tumbuh dari biji-biji yang dibuang sebarang, seperti mangga, rambutan, dan kedondong. Ketika menemukan kunci gembok berkarat sehingga mudah dihancurkan untuk melihat isinya, saya berlama-lama meneliti cara kerjanya.

Dua kali saya mengikuti lomba karya ilmiah remaja waktu SMP dan SMA, walau gagal. Tetapi itu memberikan pengalaman penelitian yang menarik dan memacu kreativitas. Pertama tentang kromatografi kertas, menguraikan warna tinta menjadi warna dasarnya pada kertas saring. Ketiadaan fasilitas gelas ukur yang dicontohkan di TV, saya gantikan dengan wadah plastik dan semprong lampu minyak tanah. Lomba kedua saya ajukan ide asli saya, mendeteksi (saya sebut waktu itu) bakteri atau cacing di mata dengan lubang jarum pada kertas yang diarahkan ke sumber cahaya. Dengan lubang jarung tersebut terlihat bentuk transparan seperti rantai manik-manik betuknya mirip bakteri atau sejenid cacing. Saya gunakan teori optik dan referensi biologi seadanya tentang bakteri dan cacing. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban pertanyaan saya dulu tersebut.

Pada kelas III SMP pada 1975/76 terbit majalah “Mekatronika” dan “Scientiae” yang dalam beberapa edisinya membahas tentang tentang UFO (Unidentified Fly Objects) dan antariksa. Ketika masuk SMAN 2 Cirebon, perpustakaannya cukup mendukung keingintahuan saya. Buku Eric von Daniken tentang misteri makhluk luar angkasa sangat kuat memancing rasa ingin tahu sehingga saya baca berulang kali. Akhirnya saya tertarik untuk menulis artikel “UFO Bagaimana Menurut Agama”. Untuk menulis artikel tersebut saya perlu banyak bahan bacaan tambahan tentang antariksa. Alhamdulillah, banyak buku tersedia di perpustakaan walau semuanya berbahasa Inggris. Rujukan utama tentang universe dan astronomy saya dapatkan dari Encyclopedia Americana di perpustakaan SMAN 2 Cirebon. Hasil bacaan dituangkan dalam tulisan. Karena saya tidak punya mesin tik, saya minta tolong teman untuk mengetiknya. Alhamdulillah, tulisan saya dimuat majalah Scientiae. Mungkin tidak ada yang menduga tulisan itu hanya hasil analisis siswa kelas I SMA. Selanjutnya gambar-gambar astronomi yang menarik dan segala misteri yang terkait dengan makhluk antariksa menarik saya untuk membaca lebih banyak tentang astronomi.

Scientiae-1

Scientiae-2

Ketika ada tawaran Proyek Perintis II (masuk perguruan tinggi tanpa tes, termasuk ITB) pada 1981, saya ikut mendaftar dan dalam surat permohonan  langsung saya tuliskan keinginan saya masuk jurusan astronomi. Saya sudah memantapkan untuk menjadi peneliti astronomi. Alhamdulillah, saya diterima di ITB. Tetapi menjelang berangkat ke Bandung, saya baca artikel di “Pikiran Rakyat”. Intinya, untuk hidup dan sekolah di Bandung tidaklah murah. Diceritakan, minimal untuk biaya hidup mahasiswa perlu sekitar Rp 50.000,- padahal uang pensiun ayah saya hanya Rp 81.000. Bagian akhir tulisan itu saya kliping dan saya beri catatan pembangkit semangat.

Saya jalani masa mahasiswa dengan segala keterbatasan. Alhamdulillah, nyatanya saya dapat bertahan dengan biaya hidup Rp 15.000 per bulan untuk semuanya (makan masak sendiri dengan menu sederhana asal bergizi, untuk fotokopi, dan lainnya). ITB ternyata juga tidak menakutkan seperti dugaan semula. Setelah semester pertama membayar SPP penuh, semester selanjutnya membayar SPP hanya 50% kemudian bebas SPP. Pada tahun ketiga dan keempat saya mendapat beasiswa BPPA (Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik) Rp 25.000/bulan dan beasiswa Aji Dharma Bakti (Yayasan Sosial Ajinomoto) Rp 30.000/bulan, jumlah yang tergolong besar bagi saya sehingga bisa juga membantu biaya sekolah adik-adik.

Perasaan gagal dan kecewa kadang muncul ketika hasil ujian tidak sesuai harapan. Kadang semangat jatuh. Semuanya saya catatkan dalam buku catatan pribadi dan selalu saya tutup dengan pembangkit semangat dan doa. Saya selalu berupaya membangkitkan semangat dari dalam diri untuk terus maju. Saya membuat motto diri dari fenonema astronomis matahari terbit: “Hidup ini adalah perjuangan lahir batin dengan iman, ilmu, dan amal. Matahari telah terbit. Hari ini adalah hari perjuangan dengan semangat baru. Majulah! Majulah! Majulah!” Saya juga teringat pesan Imam Al-Ghazali, bahwa jadilah manusia seperti matahari, bersinar karena kualitas pribadinya dan mampu menerangi sekitarnya. Jadi, tak ada jalan lain untuk maju selain selalu berupaya meningkatkan kualitas pribadi.

Selain kuliah, saya aktif di masjid Salman menjadi mentor. Menjadi pembina berarti harus memberi contoh yang baik. Inilah yang membantu membangkitkan semangat untuk terus bertahan dan mencapai yang terbaik. Bagaimana pun hasil bukan ukuran utama, tetapi usaha keras itu yang harus dilakukan. Aktivitas di masjid memang cukup menyita waktu, sehingga tidak mungkin mengambil kegiatan lain, selain di Himastron. Kuliah dan membina di masjid dianggap sama pentingnya.  Kegiatan di masjid menjadi bagian pembinaan diri bersosialisasi, untuk memahami masalah-masalah nyata di masyarakat dan merumuskan kemungkinan solusinya dari sudut pandang agama. Beberapa buku keislaman untuk pegangan mentoring berhasil saya susun.

Belajar astronomi berarti juga belajar bagaimana menjelaskan sains yang rumit menjadi menarik dan mudah difahami. Pak Winardi dalam kuliah astrofisika selalu mendorong mahasiswanya untuk membaca juga buku-buku astronomi populer. Karena dengan itu, konsep fisika – matematika lebih mudah difahami dengan ilustrasi dan contoh fenomena di alam yang dibahas secara populer. Selain itu, dengan seringnya membaca astronomi populer, mahasiswa juga mampu untuk menjelaskan astronomi kepada masyarakat awam. Kemampuan untuk berbicara sains dengan bahasa populer juga dilatihkan dengan penugasan menjadi penceramah di Observatorium Bosscha, menuliskan artikel populer, dan menjawab pertanyaan awam tentang astronomi. Tulisan populer saya yang pertama yang ditugaskan Pak Bambang tentang gerhana matahari total 11 Juni 1983 dimuat di Pikiran Rakyat menjelang Ramadhan 1403 H.

Astronomi bola yang diajarkan Pak Moedji mengantarkan saya untuk memahami masalah hisab rukyat (perhitungan dan pengamatan) penentuan awal bulan hijriyyah. Masalah hisab rukyat, bukan hanya menuntut penguasaan masalah astronomisnya, tetapi juga masalah syariat yang terkait dengannya. Hal yang lebih pelik dan sulit diselesaikan (namun kita berharap bisa diatasi) adalah masalah tradisi organisasi massa Islam. Masalah hisab rukyat tidak diajarkan secara formal di jurusan astronomi, tetapi harus digali sendiri. Untuk menambah wawasan tentang hisab rukyat, beberapa kali saya berdiskusi dengan pengajar hisab rukyat di Fakultas Syariah UNISBA untuk memahami masalah syariatnya. Pengalaman ini sangat berguna untuk terlibat secara langsung pada upaya penyelesaian masalah perbedaan hari raya, terutama dengan tulisan-tulisan di media massa.

Ada satu kesalahan fatal yang hampir menghancurkan cita-cita saya. Malam Sabtu, 31 Agustus/1 September 1984 saya mengalami kekacauan konsentrasi dalam bekerja di teropong Schmidt karena kondisi fisik mengantuk dan lapar. Mula-mula timer di kamar gelap secara tak sengaja jatuh. Dan yang paling fatal adalah memecahkan filter G11 dalam kondisi hilang konsentrasi saat pengamatan dini hari. Filter kaca tanpa sadar disatukan dengan plat film saat pemasangan pada plate holder yang permukaannya cembung. Ketika terdengar bunyi kaca remuk baru sadar ada kesalahan fatal. Cita-cita saya akan hancur sampai di sini? Pak Bambang Hidayat tentu saja marah dan melarang saya ikut pengamatan. Tetapi alhamdulillah, masalahnya akhirnya dianggap selesai pada 23 November 1984, sepulang Pak Bambang dari Jepang. Filter pengganti telah diperoleh dari Jepang. Dan pada Januari 1985 Pak Bambang menjadi pembimbing tugas akhir untuk mengolah hasil pemotretan Pak Bambang di Observatorium Kiso, Jepang, untuk menganalisis distribusi bintang OB di lengan galaksi ke arah rasi Puppis. Bukan hanya bimbingan, tetapi juga honor penelitian saya peroleh dari dana riset Pak Bambang. Honor itu sangat membantu saya.

Ada satu cita-cita untuk menjadi dosen, di samping sebagai pengajar juga peneliti. Sayangnya formasi dosen tampaknya sedang kosong pada waktu itu. Pengangkatn dosen terakhir pada waktu itu adalah Pak Moedji, setelah itu tidak ada lagi. Tetapi Jurusan Astronomi tampaknya mengupayakan penambahan staf dosen baru. Pada 20 Mei 1986 saya mendapat informasi dari TU Observatorium Bosscha bahwa nama saya termasuk salah satu yang diusulkan untuk menjadi calon staf dosen untuk matakuliah astronomi-astrofisika II. Saya sangat gembira dan berdoa agar hal itu dapat terwujud. Tampaknya surat itu tidak ada tindak lanjutnya, mungkin memang formasi dosen astronomi kosong. Sampai menjelang penyelesaian tugas akhir, saya tidak mendapat jawaban dari Pak Bambang kemungkinan untuk jadi staf dosen.

Ketika pada 1 Agustus 1986 datang Mezak dan Mas Bambang Setiahadi menawarkan untuk bekerja di LAPAN dengan janji akan disekolahkan ke luar negeri, saya masih ragu menerima tawaran jadi peneliti atau menunggu jadi dosen. Akhirnya saya mantapkan jadi peneliti setelah diajak menghadap Kepala LAPAN Bandung pada 5 Agustus 1986. Keesokan harinya langsung diminta mengajukan lamaran kerja dan mengikuti psikotes, saya dianggap sudah lulus. Akhir Agustus baru saya sampaikan kepada Pak Bambang bahwa saya telah melamar ke LAPAN. Pak Bambang tampak kecewa dan sempat menghentikan bimbingan penyelesaian akhir skripsi. Pak Winardi dan Pak Paulus yang dimintai pendapat hanya menyatakan perlunya memperkuat kelompok struktur galaksi, tetapi tidak memberi informasi kemungkinan pengangkatan dosen, hanya dijanjikan akan dibahas dalam rapat Jurusan Astronomi pada 3 September. Saya tidak tahu hasil rapatnya, tetapi tampaknya masuknya saya ke LAPAN kemudian tidak dipersoalkan lagi oleh Pak Bambang sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir dan ikut sidang sarjana pada 1 Oktober 1986. Seusai sidang saya dapat informasi bahwa saya lulus dengan nilai A dan diusulkan untuk Cum Laude, walau saya sadar nilai kumulatif saya belum mencukupi untuk Cum Laude. Setelah wisuda pada 18 Oktober 1986, saya mulai masuk kerja di LAPAN 1 November 1986. Alhamdulillah, saya hanya jadi penganggur 2 pekan.

KECINTAAN

Di LAPAN saya masuk pada kelompok penelitian antariksa, dengan fokus penelitian matahari, lingkungan antariksa, dan astronomi. Penelitian struktur galaksi tidak mungkin lagi dilakukan, tetapi prinsip-prinsip dasar astronomi sangat mendukung kegiatan penelitian. Delapan belas bulan bekerja di LAPAN, saya mendapat tugas belajar ke Jepang dengan beasiswa Monbusho. Solar physic and galactic astronomy saya pelajari, tetapi akhirnya kembali pada galactic astronomy dengan  fokus pada interstellar matter dan star forming ragions serta terlibat juga dalam penelitian large scale galaxy distribution. Pengamatan malam di observatorium wajib dilaksanakan. Ada trauma untuk bekerja dengan teleskop, khawatir kesalahan fatal terjadi lagi. Alhamdulillah, trauma dapat diatasi dan pengamatan bisa berjalan lancar di observatorium terbesar di Jepang (Okayama Astrophysical Observatory) dan di observatorium milik Kyoto University (Ouda Observatory) di Nara. Kadang seorang diri beberapa malam mengamat di observatorium Ouda yang sangat sepi.

Pengamatan malam dalam kesunyian memberikan kesan yang mendalam betapa menyenangkannya jadi astronom. Di balik kerlip bintang yang bertaburan, terdapat banyak informasi yang menantang untuk digali. Dari spektrumnya dapat dipelajari informasi fisisnya. Dari pelemahan magnitudonya dapat dipalajari adanya materi antarbintang. Dari warnanya (dalam definisi astronomis, perbedaan magnitudo antara dua filter atau perbedaan flux density pada dua panjang gelombang)  dan luminositasnya, dapat ditelusur evolusinya. Teknologi CCD telah memberikan kemudahan dalam pengamatan, sehingga data bisa direkam dalam komputer dan diolah dengan program pengolah citra secara lebih cepat. Tracking dalam pengamatan lama cukup dilakukan dari layar monitor.    Penyelesaian program S3 dengan topik evolusi protostar tidak dilakukan dengan pengamatan teleskop, tetapi lebih banyak mengolah data dan menginterpretasikannya dari data pengamatan satelit infra merah, IRAS. Mempelajari bagaimana bintang lahir dari awan antarbintang membuka rahasia tersembunyi tentang alam semesta. Astronomi bukan sekadar bagian dari studi dan penelitian, tetapi telah menjadi bagian dari rasa cinta dan kesenangan.

Karena kesenangan pada astronomi, sangat beralasan kalau itu diabadikan pada nama tiga putra-putri saya disertai harapan dan doa akan makna dibalik namanya: Vega Isma Zakiah, Gingga Ismu Muttaqin, dan Venus Hikaru Aisyah. Vega merupakan salah satu dari segi tiga musim panas. Di Jepang terlihatnya Vega berkaitan dengan festival bintang (Tanabata Matsuri). Bintang Vega adalah bintang standar  astronomi, paling baik diamati pada bulan Juli. Vega Isma Zakiah lahir di Kyoto, Jepang, 10 Juli 1992. Diharapkan akan secemerlang bintang Vega, rendah hati menyadari kekecilan dirinya bagai debu materi antarbintang (InterStellar Matter, Isma) yang senantiasa menjaga kesucian (Zakiah) lahir dan batin. Gingga dalam bahasa Jepang berarti sungai perak atau galaksi Bimasakti, tempat ratusan milyar bintang. Pada bulan Juli, Gingga tampak cemerlang di langit berdampingan dengan Vega,  terbentang  di langit dari selatan ke utara. Gingga Ismu Muttaqin lahir di Bandung, 7 Juli 1996. Diharapkan gagah cemerlang seperti galaksi Gingga, merendah menyadari dirinya kecil di tengah keluasan ruang antarbintang (InterStellar MediUm, Ismu), dan senantiasa menjaga ketaqwaan (Muttaqin). Venus, bintang Kejora atau bintang timur adalah “bintang” (sesungguhnya planet) yang paling terang. Tampak cemerlang di ufuk barat saat maghrib atau di ufuk timur saat pagi. Shubuh Oktober 1999 Venus tampak cemerlang di langit timur. Venus Hikaru Aisyah lahir di Bandung, 13 Oktober 1999. Diharapkan anggun cemerlang seperti Venus, bersinar (Hikaru, dalam bahasa Jepang) meneladani Ummul Mu’minin Siti Aisyah.

Kegemaran pada astronomi sering saya padukan dengan upaya peningkatan kualitas iman dan itu diwujudkan pada artikel-artikel di koran dan majalah. Ada tiga alasan saya menulis di koran. Pertama. Karena kegemaran membaca dan menulis. Kedua, ada keinginan berbagi ilmu yang menyenangkan (astronomi) dan menyebarkan gagasan dalam mencari solusi. Ketiga, ada keuntungan dari segi angka kredit peneliti dan honor tulisan. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah saya publikasi 87 tulisan populer terkait dengan astronomi, termasuk astronomi untuk masyarakat dalam mencari solusi perbedaan hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Sebagian diantaranya dimuat di situs web http://media.isnet.org/isnet/Djamal dan

dikumpulkan dalam bentuk buku: “Menggagas Fiqih Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya” (Penerbit Kaki Langit, Bandung, 2005) dan “Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Quran” (Penerbit Khazanah, Grup Percikan Iman, Bandung, 2006). Ada juga buku kecil untuk anak-anak dan remaja tentang “Bertanya pada Alam: 13 Worthy to Know Facts” (Penerbit Shofie Media, Grup Percikan Iman, Bandung, 2006), berisi jawaban atas 13 pertanyaan fenomena sehari-hari, seperti  mengapa terjadi malam dan siang, mengapa sepekan 7 hari, mengapa matahari di kaki langit tampak besar, dan mengapa wajah bulan tidak berubah.

KARIR PENELITI

Kuliah astronomi, dengan mahasiswa yang sedikit (terutama dulu) memang unik. Pola mengajar bisa lebih bersifat personal, seperti pola bimbingan. Pernah terjadi kuliah pilihan bintang ganda diikuti oleh satu mahasiswa (Pak Hakim Malasan), tetapi dosennya dua (Pak Winardi dan Pak Bambang). Pak Djoni mengajar dengan cara memberi tugas menterjemahkan buku Atmosfer Bintang kemudian dipresentasikan. Sehingga mahasiswa sering mengatakan “akan memberikan kuliah”, bukan “akan mengikuti kuliah”. Pak Bambang lebih banyak menunjukkan makalah-makalah referensi, sehingga selepas kuliah mahasiswa sibuk mencarinya di perpustakaan. Untungnya perpustakaan astronomi di Observatorium Bosscha sangat lengkap dan penuh jurnal-jurnal terbaru. Pola pembelajaran di Jurusan/Departemen/Program Studi Astronomi seperti itu menjadi bekal untuk menjadi peneliti yang mandiri. Di LAPAN, peneliti alumni astronomi umumnya sudah bisa langsung dilepas menjadi peneliti, tidak terlalu banyak harus dibina, karena sudah terbiasa dengan budaya penelitian. Terbiasa mencari referensi jurnal sebagai rujukan perkembangan sains terbaru (bukan sekadar buku teks yang berisi informasi baku), terbiasa presentasi ilmiah, dan terbiasa membuat makalah.

Saya telah memilih profesi peneliti astronomi dan sains antariksa di LAPAN. Peneliti adalah suatu jabatan fungsional yang memerlukan profesionalisme, bukan kerja sambilan. Menjadi pegawai negeri peneliti adalah suatu pilihan di antara banyak daya tarik luar lainnya. Sebagai pegawai negeri, ada jaminan kesejahteraan  sampai hari tua, tetapi dalam batasan minimal. Karena batasan minimal tersebut, ada daya tarik luar yang kadang menggoda untuk mencari tambahan. Biasanya, daya tarik terkuat adalah mengajar, baik mengajar pada bidangnya atau kadang mengajar bukan pada bidangnya asal ada tambahan penghasilan. Pada awalnya saya masih sempat merangkap jadi peneliti dan mengajar di luar. Ketika jam kerja sampai pukul 14.00, pulang kantor masih bisa mengajar sampai malam. Mengajar hanya di luar jam kantor karena saya tidak ingin terjerumus pada “korupsi terselubung” dengan korupsi waktu. Karenanya ketika jam kerja berubah menjadi 5 hari kerja dan jam kerja sampai pukul 16.00 saya tidak mungkin lagi mengajar. Hari Sabtu bukan pilihan yang baik untuk mengajar.

Godaan terberat untuk berbagi peran sebagai peneliti pegawai negeri dan pengajar sambilan terasa ketika saya baru tiba dari Jepang. Ada perubahan drastis, dari biaya hidup yang bersumber dari dana beasiswa bulanan dalam Yen yang lebih dari cukup menjadi gaji murni sebagai PNS tanpa tunjangan fungsional (karena baru tiba) yang sangat minim. Dari penghasilan bulanan setara Rp 4.000.000 (menurut kurs 1994) menjadi hanya sekitar Rp200.000. Ada peneliti lulusan luar negeri yang tidak tahan dengan kondisi seperti itu dan mengikuti daya tarik luar yang kuat dan menggiurkan, walau menutup mata (sadar atau tak sadar) dengan perilaku korupsi terselubung (seolah hal yang lumrah). Ada yang masih bisa mengendalikan diri hingga profesi penelitinya tetap terjaga, tetapi ada juga yang terlalu jauh terlena dengan daya tarik luar. Kalau mau jujur dan tidak mau terjebak korupsi terselubung, tidak mungkin menjadi peneliti yang produktif dan berhasil pula sebagai pengajar yang baik (ini kasus yang berbeda untuk dosen yang memang profesinya mengajar dan meneliti). Pasti salah satunya rusak atau kedua-duanya rusak atau setidaknya bisa terlaksana “sekadarnya”. Saya pilih jadi peneliti saja, walau pahit pada awalnya.

Karir peneliti memang menjanjikan untuk perbaikan kesejahteraan, setidaknya lebih baik dari batas minimal sebagai pegawai negeri. Dengan struktur tunjangan peneliti seperti saat ini (pada tabel berikut ini), saya mencoba menghitung secara ekonomi berapa nilai rupiah hasil karya peneliti.

Struktur Lama Struktur baru
Assiten Peneliti Muda (IIIa), 100 AK Rp    130.000 PenelitiPertamaIIIa,100AKPenelitiPertamaIIIb,150AK
Asisten Peneliti  Madya(IIIb),150AK Rp    253.000
Ajun Peneliti Muda (IIIc), 200AK Rp    377.000 Peneliti Muda IIIc,200AKPeneliti Muda IIId,300AK
Ajun Peneliti Madya (IIId), 300AK Rp    500.500
Peneliti Muda (IVa),400AK Rp    624.000 Peneliti MadyaIVa,400AKPeneliti MadyaIVb,550AK

Peneliti MadyaIVc,700AK

Peneliti Madya (IVb), 550AK Rp    747.500
Ahli Peneliti Muda (IVc), 700AK Rp    871.000
Ahli Peneliti Madya (IVd),850AK Rp    994.500 Peneliti Utama IVd,850AKPenelitiUtamaIVe,1050AK
Ahli Peneliti Utama (IVe),1000AK Rp 1.118.000

Ambil salah satu contoh kasus. Ajun peneliti untuk naik jenjang perlu 100 AK. Satu makalah hasil penelitian oleh penulis tunggal (menurut sistem penilaian lama) bernilai 25, sehingga untuk naik jenjang perlu 4 makalah yang harus terpenuhi selama 4 tahun. Artinya, setiap tahun harus menghasilkan 1 makalah penelitian penulis tunggal. Namun hasilnya akan ada tambahan tunjangan fungsional sebesar  kira-kira Rp 120.000,00 per bulan. Sehingga kalau dikonversikan nilainya selama satu tahun menjadi  12 x Rp 120.000,00 = Rp 1.440.000. Untuk menghasilkan 1 makalah penelitian, biasanya seorang peneliti di LAPAN melaksanakan program penelitian dengan diberikan honor bulanan (untuk saat ini) sebesar Rp 10.625,00 per jam (setelah potong pajak 15%). Karena satu bulan maksimum hanya diperkenankan 80 jam, maka honor total selama satu tahun untuk menghasilkan satu makalah menjadi 12 x  80 x Rp 12.500,00 = Rp 10.200.000,00. Jadi satu makalah penelitian yang dihasilkan seorang peneliti dinilai Rp 1.440.000 + Rp10.200.000,00 = Rp11.640.000,00,  suatu jumlah yang tidak sedikit. Sebenarnya, harus juga diperhitungkan dengan gaji dan tunjangan fungsionalnya, kira-kira Rp 1.500.000 per bulan, sehingga secara kumulatif total nilainya menjadi Rp 29.640.000,00. Pada saat banyak orang mencari pekerjaan, satu buah makalah bernilai sebesar itu menunjukkan bahwa profesi pegawai negeri peneliti bukan main-main.

Pilihan karir jadi peneliti fulltime, ternyata juga memberikan kepuasan batin karena sesuai cita-cita dan jenjang karir ditentukan oleh diri sendiri, bukan orang lain. Menjadi peneliti, naik jabatan (termasuk tunjangan jabatannya) ditentukan oleh kinerja pribadinya. Nilainya harus baik dalam penilaian pretasi kerjanya sebagai pegawai negeri (dinyatakan dalam DP3, Daftar Penilaian Pekerjaan Pegawai). Juga hasil kegiatan sebagai peneliti juga harus baik. Bila itu terlaksana, tiap tahun naik jabatan dimungkinkan bila nilai angka kredit penelitinya mencukupi untuk naik jenjang. Pangkatnya sebagai pegawai negeri juga dimungkinkan untuk dinaikkan setiap 2 tahun (dengan kenaikan pangkat pilihan), dua kali lebih cepat daripada kenaikan reguler setiap 4 tahun. Pilihan saya ternyata jalan yang tepat. Sejak jabatan fungsional saya ajukan, nilai angka kredit saya memungkinkan cepat naik jabatan dan tentunya dapat naik pangkat setiap dua tahun. Ketika pulang dari tugas belajar, pangkat PNS telah IIIb. Kemudian mengalami satu kali kenaikan pangkat reguler 4 tahunan menjadi IIIc. Selanjutnya naik pangkat setiap 2 tahun menjadi IVc, berarti empat kali naik pangkat pilihan. Dengan angka kredit peneliti saya 1.047, memungkinkan saya untuk naik pangkat lagi menjadi IVd pada 2007 dan berharap mencapai puncak karir peneliti pada 2009 sebagai Peneliti Utama IVe (sebagai profesor riset). Hal ini saya ungkapkan bukan untuk menyombongkan diri (karena tidak ada yang istimewa, setiap orang bisa melakukannya), tetapi semata-mata ingin menunjukkan bahwa jenjang karir peneliti bisa direncanakan oleh diri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Berbeda dari jejang karir struktural yang tergantung juga pada pilihan atasan kita.

Baca juga:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/12/orasi-profesor-riset-bidang-astronomi-astrofisika/

Iklan

Mari Membaca Alam untuk Mewaspadai Potensi Bencana

Thomas Djamaluddin

Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (Apr 2007-Feb 2010), Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Indonesia relatif rentan terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi). Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti gempa, gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang terkait dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat penurunan permukaan tanah daerah pantai). Untuk mewaspadai potensi bencana, dua hal harus diperhatikan: perubahan global-lokal dan variabilitas fenomena alam. Membaca alam adalah memahami perubahan dan varibilitas itu untuk mengantisipasi kemungkinan adanya potensi bencana.

Perubahan Global dan Lokal

Pemanasan global sering disebut-sebut sebagai biang keladi meningkatnya bencana. Ada benarnya, tetapi faktor lokal juga harus diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi yang keliru. Akibat generalisasi keliru seolah-olah faktor penyebab utama bencana adalah pemanasan global bisa membuat kita tidak sadar bahwa sumber penyebabnya yang utama ada di sekitar kita sendiri. Kita juga menjadi tidak sadar dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana.

Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari data, bukan fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di media massa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit namun konsisten.

Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer maupun tataguna lahan. Perubahan Iklim kadang dibedakan dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia (antropogenik). Variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.

Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan di penghujung milenium ketiga 2090 – 2099 bumi akan makin panas. Dampaknya, ada wilayah yang makin tinggi curah hujannya (a.l. Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang makin rendah curah hujannya (a.l. Indonesia bagian selatan). Data rata-rata suhu Indonesia 1970 – 2004 menunjukkan kenaikan 0,2 – 1 derajat yang berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat, perubahan suhu tersebut hanyalah rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3 derajat dalam rentang waktu yang sama.

Perubahan lokal berdampak jangka pendek, dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanan berkurang. Banjir dan tanah longsor semakin sering terjadi karena menurunnya daya dukung lingkungan. Pembangunan telah mengubah tataguna lahan yang mengubah kesetimbangan alam. Penambahan kepadatan penduduk telah memperburuk kondisi lingkungan sehingga tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekali pun yang berdampak banjir dan tanah longsor.

Variabilitas

Potensi bencana perlu diwaspadai dengan mengkaji periodisitas dan variabilitasnya. Secara umum kejadian di bumi sering bersifat periodik, berulang. Ada yang keberulangannya mudah diprakirakan, seperti musim kemarau dan musim hujan. Tetapi ada juga yang sulit, seperti kejadian gempa. Tetapi, kalau pun bisa diprakirakan, keberulangannya tidak mungkin tetap karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Keberulangannya bisa bervariasi, lebih panjang atau lebih pendek. Jadi, ada variabilitas.

Karena banyak faktor yang mempengaruhi, datang dan perginya musim hujan dan musim kemarau menjadi bervariasi. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Kegagalan dalam memprakirakan sering berdampak pada kerugian. Para peneliti (termasuk di LAPAN) kini berupaya memahami variabilitas itu dengan memahami banyak faktor yang mempengaruhinya. Belum semua rahasia alam terkuak, tetapi kini semakin banyak faktor telah difahami.

Dulu kita hanya mengenal dua musim: musim hujan dan kemarau, dengan pancaroba pada masa peralihannya. Faktor yang berpengaruh adalah perubahan posisi matahari yang berubah periodik ke utara dan ke selatan, sehingga terjadinya fenomena monsun, yaitu perubahan angin dari Asia-Pasifik dan Australia. Desember-Januari-Februari (DJF) adalah musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia karena adanya angin yang membawa uap air dari Pasifik dan Asia. Sedangkan Juni-Juli-Agutus (JJA) adalah musim kemarau karena angin dari Australia bersifat kering. Pada musim hujan dan kemarau udara cenderung lebih dingin karena angin membawa udara dingin dari daerah yang sedang mengalami musim dingin.

Maret-April-Mei (MAM) dan September-Oktober-November (SON) adalah musim peralihan, pancaroba. Pada musim pancaroba udara cenderung lebih panas karena tidak adanya efek pendinginan dari pergerakan angin yang relatif bersifat lokal dan berubah-ubah. Inilah yang menjelaskan suhu di beberapa kota terasa lebih panas pada musim pancaroba, bukan karena efek pemanasan global seperti dikira sebagian masyarakat. Konveksi lokal berpotensi terjadi.

Kini, pengetahuan kita bertambah. Ternyata faktor pemanasan lautan Pasifik sangat berpengaruh terhadap pembentukan awan dan hujan di Indonesia. Kita mengenal El Nino dan La Nina. El Nino adalah fenomena suhu muka laut di Pasifik Timur (sekitar perairan Peru) lebih tinggi daripada di Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia). Akibatnya, awan dari wilayah Indonesia bergeser ke Pasifik yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di Indonesia. Sebaliknya, ketika Pasifik Barat lebih hangat daripada Pasifik Timur akan terjadi La Nina yang menyebabkan awan dari Pasifik berkumpul di wilayah Indonesia. Akibatnya, musim hujan di Indonesia akan semakin panjang. Awal 2009 kita mengalami La Nina lemah sehingga hujan masih akan terus mengguyur sampai April-Mei. Lalu akhir 2009 sampai awal 2010 kita mengalami El-Nino moderat. Akibat pemanasan global, frekuensi kejadian El-Nino dan La Nina menjadi semakin cepat. Dulu rata-rata kejadiannya setiap 5 – 7 tahun, sekarang rata-rata kejadian antara 3 – 4 tahun.

Pada tahun 1990-an para peneliti menemukan fenomena baru yang juga berpengaruh pada variablitas iklim Indonesia. Ternyata suhu muka laut di lautan Hindia juga berpengaruh yang dikenal sebagai fenomena moda dipol. Mirip dengan La Nina dan El Nino, di lautan Hindia kita mengenal moda dipol negatif dan positif. Pada saat moda dipol negatif, suhu muka laut lautan Hindia Timur (sekitar perairan Indonesia)  lebih tinggi dari pada di lautan Hindia Barat (sekitar perairan Afrika). Akibatnya awan dari lautan Hindia berkumpul di atas Indonesia. Sebaliknya saat moda dipol positif, perairan Afrika lebih hangat darpada perairan Indonesia sehingga awan dari Indonesia cenderung bergeser ke arah lautan Hindia. Juli 2009 – Oktober 2009 kita mengalami moda dipol negatif sehingga dampak El Nino menjadi lemah. Sedangkan November 2009 – awal 2010 kita mengalami moda dipol positif sehingga kecenderungannya musim hujan sedikit hujan, memperkuat kondisi El Nino.

Dua faktor lautan tersebut (Pasifik dan Hindia) sudah cukup mengeser awal musim hujan dan musim kemarau di Indonesia. Karena frekuensi kejadian El Nino dan La Nina semakin cepat akibat dampak pemanasan global, kita merasakan ketidakpastian musim semakin tinggi. Kita tidak bisa lagi membuat generalisasi bahwa DJF adalah musim hujan dan JJA adalah musim kemarau. Bisa saja karena faktor El Nino-La Nina serta moda dipol positif dan negatif, musim hujan dan musim kemarau bergeser.

Kita sering mendengar ada petani yang terkecoh, dikira sudah masuk musim hujan karena hujan turun setiap hari, nyatanya kemudian kering kembali. Sebaliknya, dikira mulai masuk musim kemarau karena hujan tak turun lagi selama beberapa hari, ternyata kemudian hujan masih turun. Atau kita sering merasakan pada saat musim hujan ada jeda dengan cuaca cerah selama beberapa hari. Kini diketahui ada periodisitas jangka pendek antara 1 – 2 bulanan terkait turunnya hujan yang dikenal osilasi Madden-Julian. Ada masa konveksi pembentukan awan sangat kuat yang terkait dengan banyaknya turun hujan dan ada masa konveksi pembentukan awan sangat lemah yang terkait dengan kurangnya turun hujan.

Ada periodisitas lain yang juga harus diperhatikan, faktor kosmogenik yang berasal dari antariksa. Pasang surut air laut sudah lama diketahui berperiode 12 jam karena efek gravitasi bulan. Tetapi ada saat-saat tertentu pasang mencapai maksimum karena efek gabungan gravitasi bulan dan matahari. Itu terjadi sekitar bulan baru (sekitar tanggal 1 kalender Hijriyah/Saka) dan sekitar purnama. Pada saat itu banjir pasang terjadi paling tinggi di daerah pantai yang menjangkau daratan yang lebih luas.

Faktor kosmogenik lainnya adalah dari aktivitas matahari yang terkait dengan pancaran partikel energetik dan radiasi matahari yang periodenya sekitar 11 tahunan. Banyak penelitian yang menunjukkan pembentukan awan dan curah hujan dipengaruhi juga oleh periodisitas aktivitas matahari. Ada kecenderungan curah hujan lebih tinggi atau lebih rendah pada saat aktivitas matahari maksimum, tergantung daerahnya. Musim dingin ekstrem saat ini di bumi belahan utara terkait erat dengan aktivitas matahari minimum yang berkepenjangan saat ini.

Waspadai Efek Penguatan

Faktor-faktor yang pengaruh tersebut perlu terus dipantau untuk mengkaji potensi bencana. Bila faktor-faktor tersebut terjadi tidak bersamaan, potensi bencananya relatif rendah. Tetapi perlu diwaspadai efek penguatan potensi bencana bila kejadiannya bersamaan. La Nina yang bersamaan dengan moda dipole negatif disertai dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan penguatan konveksi pembentukan awan perlu diwaspadai potensi curah hujan yang cukup tinggi. Potensi banjir akan akan makin parah bila daya dukung lingkungan buruk, misalnya berkurangnya resapan dan terhambatnya saluran pembuangan air.

Lebih parah lagi kalau kejadiannya bersamaan dengan pasang maksimum. Pada saat itu air laut meninggi. Curah hujan di laut juga menambah volume air laut. Akibatnya, luapan air dari daratan tidak dapat terbuang ke laut. Penurunan permukaan tanah di beberapa kota pantai makin memperparah dampaknya.

Masa pancaroba yang diperkuat dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan kuatnya konveksi pembentukan awan, sangat berpotensi memicu pergerakan udara panas yang kaya uap air ke atas secara cepat. Konveksi lokal ini dapat memicu terjadinya hujan lebat yang disertai dengan butiran es bila uap air didorong tinggi mencapai daerah yang sangat dingin atau terjadinya badai lokal berupa puting beliung. Inilah yang terjadi pada pertengahan Maret 2009 sampai pekan ketiga di beberapa kota. Fenomena yang mirip kondisi pancaroba (karena adanya tekanan rendah di Barat Baya Indonesia) terjadi pada pertengahan Februari 2010 baru lalu. Efek pemanasan lokal karena kurangnya vegetasi menambah potensi bencana hujan es dan puting beliung.

Apa yang bisa kita lakukan? Faktor alam hanya bisa kita waspadai. Faktor antropogenik dari perilaku manusia harus kita perbaiki agar tidak memperkuat potensi bencana. Memperbaiki daya dukung lingkungan adalah upaya mutlak yang harus dilakukan saat ini juga., antara lain dengan memperbanyak resapan air, memperbaiki saluran air, dan memperbanyak ruang terbuka hijau.

Evolusi di Alam dan Eksistensi Manusia

T. Djamaluddin, Doktor Astronomi, bekerja di LAPAN Bandung

(Dimuat Pikiran Rakyat  1 Oktober 1996)

(Ilustrasi gambar evolusi dari Bigbang sampai munculnya kehidupan dan kematian bintang — dari internet)

Banyak orang mengenal teori evolusi sebatas kontroversi evolusi manusia dari kera yang banyak ditentang kaum agamawan. Evolusi sebenarnya adalah suatu proses alami dalam waktu sangat panjang yang dipengaruhi banyak faktor lingkungannya. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, evolusi di alam benar adanya. Tidak terbatas pada evolusi hewan, tetapi juga pada seluruh alam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan dalam enam masa menunjukkan adanya proses kejadian yang tidak sekaligus jadi.

Masalahnya, benarkah manusia berasal dari kera? Berdasarkan Al-Quran, kita harus menyatakan bahwa manusia bukan hasil evolusi hewan melainkan diciptakan secara khusus. Tulisan ini mencoba memadukan dalil Al-Quran dengan temuan ilmiah tentang evolusi di alam dan sedikit tentang eksistensi manusia.

Evolusi Alam Semesta

Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) saya menafsirkan enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian.

Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.

Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.

Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya” (Q.S. 79:28)

Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.

Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” pada Q.S. 79:30, “Dan bumi sesudah itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan‑Nya.

Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.

Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, “Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang‑binatang ternakmu”.

Evolusi Kehidupan

Pemikiran tentang adanya evolusi kehidupan didasarkan pada temuan adanya kemiripan antarspesies makhluk hidup. Perbedaan yang sifatnya gradual sangat mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Alasannya, hanya keturunan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang akan mampu bertahan. Walaupun demikian, generasi yang telah beradaptasi dengan segala perubahan fisiknya tetap membawa sifat-sifat pokok dari induknya.

Walaupun diakui masih banyak hal yang sifatnya spekulatif, telah disusun suatu silsilah evolusi yang berawal dari sejenis bakteri yang bersel satu yang hidup sekitar 3,5 milyar tahun lalu. Dari jenis bakteri lahir generasi ganggang yang masih hidup di air. Ganggang hijau sekitar 1 – 2 milyar tahun lalu melahirkan generasi tumbuhan darat. Dari jalur ganggang hijau, sekitar 630 juta tahun lalu, juga lahir generasi hewan tak bertulang belakang.

Pada jalur yang sama dengan kelahiran Echinodermata (a.l. bintang laut) muncul generasi ikan sekitar 500 juta tahun lalu. Jenis ikan osteolepiform yang siripnya mempunyai tulang pada sekitar 400 juta tahun kemudian melahirkan generasi hewan berkaki empat, amfibi dan reptil, termasuk dinosaurus. Kelak dari keluarga dinosaurus pada masa Jurassic (208 – 144 juta tahun lalu) lahir generasi burung.

Jenis reptil mirip mamalia (Synapsida) melahirkan generasi mamalia sekitar 200 juta tahun lalu. Salah satu generasi mamalia adalah primata yang arti asalnya adalah “peringkat pertama”. Pada jalur primata, sekitar 34 juta tahun lalu evolusi keluarga kera berekor berpisah dari keluarga hominoid.

Dalam keluarga hominoid terdapat gibon dan hominid yang mencakup orangutan, gorila, dan simpanse. Hominid berpisah dari gibon sekitar 17 juta tahun lalu. Dalam silsilah evolusi hominid ini makhluk serupa manusia (hominini) dikelompokan pada asal jalur yang sama dengan gorila dan simpanse. Kesamaan genetik antara manusia dengan gorila dan simpanse sangat besar, masing-masing 98,6 % dan 98,8 %, sehingga diduga berasal dari satu jalur evolusi yang mulai berpisah sekitar 5 juta tahun lalu.

Penempatan manusia pada silsilah evolusi seperti itulah yang memicu penolakan pada teori evolusi. Dengan menggunakan dalil naqli dari ayat-ayat Al-Quran, sebenarnya masalah ini mudah diselesaikan tanpa penolakan secara apriori teori yang mencoba menelusur evolusi kehidupan. Menurut saya, teori evolusi tidak bertentangan dengan akidah bila disertai keyakinan bahwa proses itu terjadi menurut sunatullah, bukan proses kebetulan yang meniadakan peran Allah sebagai Rabbul alamin (pencipta dan pemelihara alam).

Eksistensi Manusia

Dalam keyakinan Islam, manusia diciptakan secara khusus untuk menjadi khalifah di bumi (Q.S. 2:29). Proses penciptaan Adam yang berbeda dengan makhluk lainnya disebutkan di dalam Q.S. 3:59 (penciptaannya serupa Nabi Isa dengan ‘kun fayakun’ – ‘jadilah, maka jadilah’) dan Q.S. 32:7-8 (Adam dari tanah, keturunannya dari nuthfah). Kedua ayat itu menunjukkan bahwa Adam tidak diciptakan dari proses biologis perkawinan makhluk lainnya.

Menurut kajian paleoantropologis, setidaknya ada sembilan jenis makhluk serupa manusia: Australopithecus (A.) aferensis, A. africanus, Paranthropus (P.) aethiopicus, P. robustus, P. boisei, Homo (H.) habilis kecil, H. habilis besar, H. erektus, dan H. sapiens. Homo habilis mahir menggunakan alat-alat batu. Homo erektus (manusia purba) sudah mengenal api untuk penghangat dan memasak. Manusia modern yang ada sekarang dikelompokkan sebagai Homo sapiens.

Ada beberapa hipotesis yang berusaha menjelaskan evolusi mereka. Namun semuanya tidak ada kepastian dari jalur mana lahirnya Homo erektus. Yang telah disepakati hanyalah Homo sapiens berasal dari Homo erektus. Ada yang berpendapat Homo habilis cenderung tidak bisa digolongkan sebagai Homo (“manusia”), mungkin jenis paranthropus berotak besar. Kemampuan berbicara Homo habilis belum sempurna. Alat-alat batu yang dihasilkannya pun tidak menunjukkan eksperimen kreatif.

Kalau demikian, yang sudah meyakinkan secara ilmiah sebagai manusia adalah sejak generasi Homo erektus. Ukuran otak yang besar memberikan indikasi kemampuan berpikir yang lebih kuat. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi pun sudah cukup maju. Interaksi sosial mulai tumbuh dan makin kompleks. Kehadirannya berdampak pada berbagai spesies. Binatang buas yang mengancam manusia mungkin termasuk yang diburu demi keselamatan masyarakatnya. Punahnya kucing purba yang buas yang terjadi pada masa Homo erektus diduga berkaitan dengan ulah mereka, bukan karena faktor alam.

Mungkinkah Homo erektus ini yang sudah tersebar dari Afrika, Jawa, sampai China adalah anak cucu Adam yang sulit ditelusur pada silsilah evolusi karena diciptakan Allah secara khusus? Wallahu ‘alam, walaupun kita bisa menduganya ke arah itu.

Yang jelas, anak cucu Adam pun berevolusi. Adanya berbagai ras manusia dengan warna kulit, bentuk dan warna rambut, serta postur tubuh yang berbeda-beda menunjukkan adanya evolusi manusia. Adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggalnya yang berbeda-beda dalam jangka waktu sangat panjang menghasilkan generasi yang beraneka ragam.

Teori pertama menyatakan manusia purba yang telah menyebar ke berbagai wilayah terus berevolusi menurunkan generasi manusia modern. Tetapi menurut teori monogenesis, dari penelusuran perbedaan genetik dan bukti arkeologi, diduga manusia purba (homo erektus) yang sudah tersebar sampai ke China, Jawa, dan Eropa punah. Semakin besar kesamaan genetiknya, diduga berasal dari alur evolusi yang sejalan.

Manusia modern yang kini ada berasal dari sisa manusia purba di Afrika sekitar 100.000 tahun lalu. Manusia di Asia timur dan Pasifik mempunyai kesamaan genetik yang berarti berasal dari alur evolusi yang sama. Secara genetik, sedikit berbeda dengan “induknya” di Afrika dan generasi dari alur yang menuju Eropa.

Catatan:

QS 3:59 semestinya tidak difahami seperti penciptaan makhluk baru. Proses biologis tetap berlangsung, tetapi dengan kekhususan. Seperti Isa a.s. yang tetap dikandung oleh Maryam dan dilahirkan seperti manusia lainnya, walau janinnya bukan hasil perkawinan lazimnya manusia. Adam a.s. pun bisa jadi hanya manusia pilihan dari makhluk biologis yang lahir seperti makhluk lainnya yang berevolusi. Kekhususannya mirip dengan pemilihan Allah menjadikan beberapa manusia pilihan sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Adam a.s. diberikan fasilitas akal dan diberi ilmu (dalam  QS 2:31 Adam diminta ‘mendemonstrasikan’ dihadapan para malaikat  ilmu yang telah diajarkan Allah)  yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya.

Dalam konsep sains, kita rujuk saja dari evolutionary biology. Terkait dengan asbabun nuzul QS 3:59 yang membatasi pada segi ketiadaan “ayah”  (walau saya cenderung memaknai lebih luas, karena tidak eksplisit menyebut itu dan pada ayat bukan ayat hukum, ayat tersebut bukan sekadar menjelaskan masalah yang jadi asbabun nuzul), tidak juga bertentangan bisa kita memadukannya dengan  konsep sains. Bisa jadi Adam a.s. juga serupa Isa a.s. mempunyai ibu, walau tanpa ayah. Tetapi proses biologis (dilahirkan dari rahim seorang makhluk) tetap terjadi. Bukan seperti dibayangkan orang awam seolah Adam diciptakan dari ketiadaan lalu “kun fayakun” tiba-tiba menjelma menjadi Adam.

Allah tidak menjelaskan proses kelahiran Adam, tidak seperti kelahiran Isa dari Maryam. Penjelasan yang sejalan dengan teori evolusi tetapi tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran kira-kira sebagai berikut:
– Allah menciptakan Adam sebagai makhluk yang diberi kekhususan dibandingkan dengan makhluk serupa manusia lainnya, tetapi tetap dilahirkan secara biologis.
– Kekhususan itu bisa dalam makna seperti kelahiran Isa, tanpa ayah, walau tetap mempunyai ibu yang melahirkan.
– Kekhususan yang sudah pasti adalah diberinya akal, kemampuan pengolah informasi (mungkin serupa dengan nabi dan rasul lainnya dengan melalui perantaraan wahyu — ilmu yang bukan dipelajari, tetapi diberikan oleh Allah).
– Hawa pun lahir dalam proses biologis juga, hanya Al-Quran tidak banyak menjelaskan tentang kelahirannya. Hawa pun tampaknya dipersiapkan khusus oleh Allah untuk menjadi istri Adam.
– Dengan ilmu (:wahyu) dari Allah, makhluk beradab lahir dari Adam dan Hawa. Tidak ada lagi perkawinan campuran dengan makhluk serupa manusia yang tidak beradab, bisa juga karena isolasi pemukiman yang diperintahkan Allah untuk menempatinya.  Inikah yang dimaksud “surga/taman” dengan segala fasilitas kemudahan (mirip dengan fasilitas khusus kepada Maryam sebelum melahirkan Isa yang dengan mudahnya memperoleh makanan) — bukan dalam makna “surga” pasca yaumul hisab yang bukan berada di bumi–. Kemudian fasilitas kemudahan itu dicabut Allah dengan diperintahkan Adan dan Hawa turun (menuju derajat yang lebih rendah, tetap di bumi) untuk menghidupi mereka sendiri seperti makhluk bumi lainnya.

Dengan memandang Adam berada dalam rantai evolusi makhluk hidup, bukan berarti menyamakan Adam dengan makhluk serupa manusia lainnya. Tetap ada kekhususan bagi Adam karena Allah telah memuliakannya melebihi makhluk lain yang telah diciptakan-Nya. Menurut saya, keyakinan yang memadukan dengan sains seperti itu tidak bertentangan dengan akidah yang diajarkan oleh Allah di dalam Al-Quran dan Rasul-Nya di dalam Hadits.

Dengan pemahaman ini, kita tidak perlu menolak teori evolusi, suatu produk sains yang didasarkan pada temuan-temuan empirik dan kajian teoritik. Kalau pun akan menolaknya, tolaklah dengan bantahan sains juga yang menunjukkan bukti lain yang lebih kuat. Dalam sains tidak ada teori atau pendapat yang “mutlak benarnya”, tetapi yang ada adalah teori yang dianggap “paling kuat” berdasarkan bukti-bukti sains yang mendukungnya, sebelum ada bukti lain yang menggugurkannya. Perkembangan teori evolusi biologis kini tidak sekadar kajian fosil, tetapi jauh mendalam pada banyak aspek. Bantahan sekelompok orang yang di luar kepakaran sains, cenderung tidak proporsional dan tidak sesuai fakta sains yang berkembang pesat. Janganlah sains dibenturkan dengan aqidah, karena pada dasarnya sains bisa memperkuat aqidah.