Pluto Bukan Planet?


T. Djamaluddin

Peneliti Bidang Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat Republika, 7 Februari 1999)

Voting bukan hanya ada di gelanggang politik. Saat ini Perhimpunan Astronomi Dunia (International Astronomical Union, IAU) sedang mempersiapkan perdebatan dan voting tentang status Pluto yang hampir 70 tahun telah dianggap sebagai planet. Bila para astronom bisa mengambil konsensus, maka Pluto akan dikeluarkan dari daftar nama planet di tatasurya. Bila tidak ada konsensus, maka status Pluto dibiarkan menggantung diklasifikasikan sebagai planet dan bukan planet.

Konsensus itu diperlukan untuk mendapatkan definisi yang tidak membingungkan masyarakat astronomi dan masyarakat umum. Dalam dasawarsa terakhir ini perkembangan astronomi sistem planet demikian pesat yang telah mengaburkan definisi awal tentang planet. Penemuan planet-planet di luar tata surya yang mempunyai beberapa kesamaan sifat dengan objek katai coklat (bakal bintang yang gagal bersinar) menambah rumitnya mendefinisikan planet.

Perdebatan tentang status Pluto dipicu oleh penemuan objek yang diklasifikasikan sebagai “objek lintas Neptunus” (Trans-Neptunian Objects, TNO), yaitu objek tata surya yang mengorbit melintasi atau di luar orbit planet Neptunus. Sampai akhir 1998 telah tercatat ada 84 TNO.

Penemuan TNO diawali oleh D. Jewitt dan J. Luu. Pada 1992 mereka menemukan objek yang dinamakan QB1. Objek itu diklasifikasikan bukan planet, bukan asteroid, juga bukan komet. Objek itu mempunyai kemiripan dengan sifat-sifat dinamika Pluto.      Pluto kurang cocok dianggap sebagai planet, seperti delapan planet lainnya. Tetapi, terlalu besar bila digolongkan sebagai TNO. Namun, divisi III IAU yang membidangi sains sistem planet cenderung menggolongkannya sebagai TNO, berdasarkan kedekatan ciri-ciri dinamikanya. Kepastian statusnya akan diputuskan dalam voting para pakar IAU dalam waktu dekat ini.

Keanehan Pluto

Pluto ditemukan dari keberuntungan yang bersumber dari kesalahan perhitungan Percival Lowell tentang gangguan orbit planet Uranus dan Neptunus pada awal 1900-an. Menurut dia, mestinya ada planet pengganggu di luar orbit Neptunus. Tidak menyadari adanya kesalahan perhitungan Lowell, Clyde Tombaugh dengan gigih mencari planet pengganggu di sekitar posisi yang disebutkan oleh Lowell.

Pencarian Tombaugh tak sia-sia. Februari 1930, dia menemukan objek yang akhirnya dikenal sebagai planet Pluto. Walaupun belakangan diketahui bahwa Pluto terlalu kecil untuk dapat disebut pengganggu planet raksasa Uranus dan Neptunus. Kenyataan ini yang kemudian membangkitkan minat astronom mencari planet ke-10, planet-X. Hasilnya nihil.

Memang, hasil pengamatan akurat pesawat Voyager tentang massa Neptunus akhirnya menunjukkan bahwa tidak ada yang aneh dengan orbit planet Neptunus. Pluto atau Planet-X tak perlu ada untuk menjelaskan gangguan orbitnya. Tetapi Pluto terlanjur ditemukan dan telah diakui sebagai planet. Kini para astronom mulai mempertanyakan statusnya karena ada beberapa perbedaan dengan delapan planet lainnya.

Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus mempunyai ciri-ciri yang mirip dan sifat-sifatnya bisa dijelaskan dari proses pembentukan tata surya. Empat planet pertama disebut planet keluarga bumi karena komposisinya mirip bumi, terutama terdiri dari batuan silikat dan logam. Empat planet berikutnya disebut planet keluarga Jupiter yang merupakan planet raksasa dengan komposisi utamanya adalah unsur-unsur ringan (Hidrogen, Helium, Argon, Karbon, Oksigen, dan Nitrogen) berbentuk gas atau cair.

Planet-planet keluarga bumi hanya terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama dari senyawa besi dan silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa lainnya terbentuk dari planetesimal (bakal planet) besar, antara lain akibat turut terkondensasinya es air, sehingga mampu menangkap gas, terutama Hidrogen dan Helium.

Planetesimal kecil yang tidak membentuk planet atau pecah akibat tumbukan sesamanya tersisa sebagai komet, asteroid, dan meteoroid serta objek tata surya lainnya yang baru diketahui dalam dasawarsa terakhir ini, seperti TNO.

Pluto terdiri dari batuan dan es. Diperkirakan komposisinya terdiri dari 70% batuan dan 30% es air. Atmosfernya sangat tipis terdiri dari nitrogen, karbon monoksida, dan metan yang hampir selalu berupa gas beku. Kondisi ini agak aneh bila dibandingkan dengan proses pembentukan planet keluarga Jupiter. Semestinya semakin jauh dari matahari, bila proses pembentukannya sama, akan terbentuk planet gas juga yang tergolong besar ukurannya.

Keanehan lainnya, pluto berukuran sangat kecil dibandingkan planet-planet lainnya. Diameternya hanya setengah diameter Merkurius atau dua pertiga diameter bulan. Bidang orbitnya juga sangat menyimpang (inklinasinya 17 derajat) dari bidang orbit rata-rata planet (inklinasi rata-rata 2 derajat). Lintasan orbitnya pun yang paling lonjong.

Pluto sebagai Planet?

Planet sebenarnya berarti “bintang” yang mengembara, seperti arti katanya dalam bahasa Yunani: pengembara. Setelah orang mengetahui bahwa “bintang” pengembara itu sebenarnya adalah benda tata surya yang mengelilingi matahari (sehingga tampak bergerak relatif terhadap bintang-bintang yang diam), definisinya berubah.

Planet didefinisikan sebagai benda langit yang mengambil cahayanya dari matahari. Definisi ini yang banyak digunakan di kalangan siswa sekolah, sekedar untuk membedakannya dari bintang yang cahayanya bersumber dari reaksi nuklir di intinya. Matahari adalah sebuah bintang.

Kalau demikian definisinya, semua objek tata surya bisa dianggap sebagai planet. Komet, walau pun sudah dikelompokkan tersendiri sebagai “bintang berekor” sebenarnya memenuhi definisi tersebut. Asteroid yang merupakan batuan yang relatif kecil yang mengorbit di antara Mars dan Jupiter juga memenuhi defisi ini. Pluto pun tak diragukan lagi memenuhi definisi ini. Ceres yang ditemukan 1801 tetapi tujuh tahun kemudian dianggap bukan planet, sebenarnya juga memenuhi definisi ini.

Mengapa Ceres akhirnya dianggap bukan planet? Alasannya, setelah ditemukan banyak objek sejenis, planet yang dianggap “hilang” menurut hukum Bode ternyata bukanlah sebuah planet yang besar, melainkan banyak planet kecil. Maka kemudian definisinya dipertajam menjadi dua golongan: planet (yang berukuran besar) dan planet minor (asteroid, yang berukuran kecil). Ceres digolongkan sebagai asteroid, bukan planet.

Seberapa batasan kecil dan besar untuk membedakan klasifikasi planet dan asteroid? Selama ini digunakan diameter sekitar 1000 – 2000 km sebagai batasannya. Tampaknya berdasarkan pertimbangan praktis untuk tetap menganggap Ceres sebagai asteroid dan Pluto sebagai planet.

Definisi-definisi lain tentang planet belum disepakati. Ada definisi berdasarkan batasan massanya, ada yang berdasarkan batasan gravitasinya yang dapat mempertahankan struktur bulatnya, atau berdasarkan dinamika massa total dominan di sekitar orbitnya. Bagi pemburu planet di luar tata surya, planet dibedakan dari bintang katai coklat (objek sejenis planet yang sebenarnya bintang yang “gagal” bersinar).

Jadi, kalau masih mau menggunakan definisi sederhana tentang planet, tanpa memperhitungkan sifat-sifat dinamika dan komposisi fisisnya, orang masih boleh menyebut pluto sebagai planet. Status planet tersebut, semata-mata diperoleh Pluto karena alasan historis serta belum adanya konsensus definisi tentang planet.

Pluto TNO?

TNO secara umum digolongkan sebagai planet minor. Keberadaan TNO mulanya diusulkan oleh G. P. Kuiper pada 1951 berdasarkan argumentasi bahwa semestinya materi-materi dari piringan nebula pembentuk tata surya berkurang secara gradual ke arah tepi piringan. Usulan ini kemudian diperkuat oleh analisis dinamika komet-komet periode pendek yang menunjukkan bahwa komet-komet itu berasal dari “sarang” komet yang terletak di luar orbit Neptunus. Kawasan “sarang” komet yang diduga berisi sekitar 35.000 objek batuan mengandung es itu kini dikenal sebagai sabuk Kuiper.

Objek dari sabuk Kuiper saat ini disebut dengan nama umum TNO, dengan memasukkan juga objek berorbit lonjong yang melintasi orbit Neptunus. Dari sekitar 84 TNO yang telah teridentifikasi, para astronom membaginya dalam dua kelompok besar: objek berorbit lingkaran (objek sabuk Kuiper) dan objek berorbit lonjong berperiode 1,5 kali periode orbit Neptunus (objek Plutinos, sejenis Pluto). Secara dinamika, pluto tergolong sebagai TNO, walaupun dari segi ukuran sangat jauh lebih besar daripada rata-rata TNO yang telah ditemukan.

Pluto tampaknya hanya suatu kebetulan historis yang menggolongkannya sebagai planet. Setelah hampir 70 tahun dianggap planet, kini statusnya dipertanyakan. Sebab, “teman-teman” sejenisnya (TNO) kini banyak yang telah teridentifikasi. Hal serupa pernah terjadi pada Ceres. Pada saat ditemukan, 1801, Ceres dianggap sebagai planet. Tetapi, tujuh tahun kemudian “teman-teman” sejenisnya ditemukan. Ceres tidak lagi dianggap sebagai planet, tetapi sebagai astroid terbesar. Mungkin Pluto pun tidak akan dianggap lagi sebagai planet, melainkan sebagai TNO terbesar.

Iklan
%d blogger menyukai ini: