Bumi Dihujani 25.000 Ton Batuan dan Debu Setiap Tahun


T. Djamaluddin

Peneliti  Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 24 Januari 1995)

Sebagian besar manusia tak sadar bahwa bumi kita ini dihujani bebatuan, pasir, dan debu dari luar angkasa dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Walaupun orang biasa menyebut meteor sebagai bintang jatuh, tak banyak yang menyadari bahwa meteor itu sebenarnya adalah bebatuan atau debu-debu angkasa luar yang menerobos ke bumi kita.

Meteoroid

Di ruang antarplanet, di luar angkasa bumi, masih bertebaran bebatuan dalam berbagai ukuran yang secara umum disebut meteoroid. Bila meteoroid itu memasuki atmosfer bumi dan mengalami pemanasan akibat gesekan dengan udara akan teramati sebagai meteor, atau bisa dikira orang bintang jatuh. Bila meteoroid itu cukup besar dan tak habis terbakar di atmosfer, sisa yang jatuh ke permukaan bumi itu disebut meteorit. Di musium geologi Bandung, kita bisa melihat berbagai contoh meteorit itu.

Wetherill (1974) dan Hughes (1978) menaksir setiap tahun sekitar 16.000 – 30.000 ton meteoroid masuk ke atmosfer bumi. Bahkan menurut analisis terbaru yang dilakukan oleh LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) diperkirakan lebih banyak lagi. Dengan menggunakan data dari radar meteor di Serpong (kerja sama antara LAPAN, BPPT, dan Univ. Kyoto – Jepang) diperoleh bahwa bumi kita dihujani batuan dan debu antara 25.000 – 86.000 ton/tahun. Sebagian berupa debu halus (meteoroid mikro) dan berupa pasir bermassa sekitar 1 gram yang nampak sebagai meteor. Tetapi sebagian besar massanya berupa meteoroid besar: bermassa 1 ons sampai 1 ton yang tersisa sebagai meteorit atau yang terbakar habis yang disebut bola api (fireball) atau bermassa lebih besar lagi sampai mencapai trilyunan ton yang bisa membuat kawah besar atau ledakan besar. Kawah Meteor di Arizona yang berdiameter sekitar 1 km ditaksir disebabkan oleh meteoriod bermassa sekitar sejuta ton. Sedangkan ledakan besar di Tunguska, Siberia, 1908 yang disebabkan oleh meteoroid sebesar itu pula menyebabkan ledakan besar dengan energi setara 10 juta ton TNT atau 50 kali ledakan bom atom Hiroshima.

Menurut perhitungan Shoemaker, setiap tahun rata-rata atmosfer bumi dimasuki satu meteoroid besar berdiameter sekitar 10 meter dengan massa ribuan ton dan kecepatannya 15 – 20 km/detik yang energi kinetiknya setara dengan 20.000 ton TNT, hampir sama dengan kekuatan bom atom Hiroshima. Bahkan Rabinowitz, berdasarkan pengamatan dengan teleskop Spacewatch di Arizona, menduga ledakan sekuat ledakan bom atom akibat masuknya meteoroid terjadi setiap bulan.

Hasil pengamatan satelit militer Amerika Serikat menunjukkan bahwa selama tahun 1975 – 1992 telah tercatat sebanyak 136 ledakan di atmosfer, atau rata-rata 8 meteoroid per tahun dengan energi masing-masing sekurang-kurangnya 1000 ton TNT. Salah satu di antaranya terjadi di atas Indonesia pada posisi 124o BT, 4o LS ( di atas laut Banda) pada tanggal 15 April 1988 pukul 11:03 WITA. Diperkirakan ledakan itu akibat masuknya meteoroid besar dengan energi ledakan setara dengan 5.000 ton TNT yang bisa menyebabkan bola api seterang matahari dalam waktu kurang dari sedetik. Mungkin karena terjadinya sangat singkat dan di atas laut, peristiwa besar itu tidak teramati oleh masyarakat.

Hujan Meteor

Meteoroid penyebab fenomena meteor bisa berasal dari hasil tumbukan asteroid (planet kecil) maupun debu-debu yang ditinggalkan oleh komet di sepanjang lintasannnya. Pecahan hasil tumbukan asteroid lebih sering teramati sebagai meteor sporadis. Sedangkan debu-debu sisa komet sering teramati sebagai hujan meteor. Pada malam terjadinya hujan meteor, pengamat bisa melihat meteor lebih sering. Radar meteor di Serpong bisa mendeteksi lebih banyak meteor dan lebih cermat.

Adakah pengaruh meteor, khususnya hujan meteor, pada bumi? Ada! Itulah yang kini giat ditelaah oleh para peneliti LAPAN Bandung. Pengaruh meteoroid yang utama adalah ionisasi di atmosfer atas dan menumpuknya aerosol di stratosfer. Dari pengamatan radio, meteor menyebabkan ionisasi pada ketinggian antar 70 – 120 km, dengan puncaknya pada 97 km. Proses ionisasi di ionosfer ini bisa mempengaruhi komunikasi radio. Konsentrasi ion atmosfer dan ion akibat meteor hampir sama.

Ada dugaan bahwa debu-debu meteor bisa juga menjadi inti kondensasi awan noktilusen, awan tinggi di stratosfer pada ketinggian 83 km dengan ketebalan sekitar 200 m – 2 km dengan lebar sekitar 10.000 – 4.000.000 km2. Debu-debu kosmik atau meteoroid mikro yang ukurannya sangat kecil (kurang dar 100 mikrometer) tidak terbakar ketika memasuki atmosfer. Mikro meteoroid ini setelah mengalami pelambatan di atmosfer tertimbun di stratosfer.

Kalau benar awan noktilusen bisa juga dibentuk oleh inti kondensasi dari meteoroid mikro, ada kemungkinan bila partikel-partikel itu turun ke atmosfer bawah bisa juga menjadi inti kondensasi bagi awan di troposfer. Menurut Rao dan Ramesh yang melakukan penelitian pada 1964, ada hubungan antara pembentukan awan cirrus dan hujan meteor. Tetapi, hubungan antara hujan meteor dan curah hujan masih merupakan perdebatan. Ini menarik untuk dikaji dalam kasus di Indonesia. Menurut hasil penginderaan jauh oleh satelit cuaca yang dipantau LAPAN pada bulan September dan Oktober 1994 awan mulai tampak menutupi sebagian wilayah Indonesia. Ini sempat menimbulkan dugaan bahwa musim hujan segera datang, tetapi nyatanya awan itu buyar lagi. Adakah pengaruh hujan meteor pada kasus ini atau semata-mata faktor meteorologis? Inilah yang sedang dan akan diteliti oleh para peneliti LAPAN.

Dampak Tumbukan Besar

Walaupun jarang, masuknya meteoroid besar ke atmosfer bumi bisa menimbulkan bahaya besar. Hills dan Goda (1993) melakukan perhitungan tentang berbagai akibat masuknya meteorid besar. Bila meteoroid batuan berdiameter kurang dari 220 m atau meteoroid besi berdiameter kurang dari 80 m masuk ke atmosfer bumi dengan kecepatan 22 km/detik, atmosfer masih mampu menyerap setengah energi yang dilepaskannya. Kemampuan atmosfer inilah yang menyebabkan bumi relatif terlindung dari tumbukan langsung. Namun, sebagai gantinya akan terjadi ledakan besar dengan energi ribuan kali lebih kuat dari bom atom Hiroshima dan radius ledakan 2000 km2 (bagi meteoroid berdiameter 80 m).

Bila meteoroid besar berdiameter lebih dari 200 m memasuki atmosfer bumi, atmosfer tidak efektif lagi melindungi permukaan bumi. Ini bisa menyebabkan kawah besar, gempa, atau pun tsunami (bila meteorit besar jatuh ke laut).

%d blogger menyukai ini: