Orasi Profesor Riset Bidang Astronomi-Astrofisika

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Majelis Pengukuhan Profesor Riset dan hadirin yang saya hormati,

Alhamdulillah, Allah telah memberikan bimbingan dan kekuatan kepada saya untuk mencapai jabatan fungsional tertinggi, Peneliti Utama IVe bidang Astronomi-Astrofisika. Dengan orasi ilmiah ini, insya-allah jabatan profesor riset akan dikukuhkan. Jabatan profesor riset adalah jabatan tertinggi yang dicita-citakan oleh seorang peneliti dalam pengembangan karir fungsionalnya.

Orasi ilmiah ini merupakan uraian jejak ilmiah karir fungsional saya di hadapan Majelis Pengukuhan Profesor Riset dan para hadirin, dengan memaparkan perjalanan kegiatan kepakaran saya yang berangkat dari astronomi murni, kemudian membumikan astronomi dalam makna mencari pemanfaatan astronomi bagi kehidupan di bumi, sampai pemikiran saya dalam memberikan solusi bagi pemerintah dan masyarakat dengan memanfaatkan pemahaman astronomi. Oleh karenanya orasi ini saya beri judul :

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK MEMBERI SOLUSI

Dalam pemaparannya, orasi ilmiah ini saya bagi dalam lima bab berikut :

  1. Pendahuluan
  2. Berangkat dari Astronomi Murni
  3. Membumikan Astronomi
  4. Astronomi Memberi Solusi
  5. Penutup

Bagi seorang Muslim, jabatan adalah amanah yang harus dijaga, bukan dibanggakan. Oleh karenanya, orasi ini pun sebagai pertanggungjawaban amanah jabatan fungsional Peneliti Utama saya. Dalam perjalanannya telah banyak dibantu oleh banyak pihak: keluarga, pimpinan, kolega sesama peneliti, staf teknisi dan administrasi, serta pihak-pihak lain, baik di LAPAN maupun di luar LAPAN. Jazaakumullah khairan katsiraa, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan yang melimpah.

I. PENDAHULUAN

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Suatu hari di kelas I SMP Negeri 1 Cirebon seorang guru meminta para siswa menuliskan cita-citanya. Dengan mantap saya tuliskan “Menjadi Peneliti”. Ya, menjadi peneliti adalah cita-cita saya sejak kecil. Saat SD, saya temukan sebuah kunci gembok bekas berkarat di kebun belakang rumah lalu saya pecahkan dengan palu dan berhari-hari saya ulik cara kerja kunci gembok tersebut. Saya juga gemar mengamati biji-biji yang tumbuh saat awal musim hujan dan tunas pohon pisang yang mampu menembus lapisan semen. Saya kumpulkan berbagai jenis biji dan batu. Saya buat eksperimen kimia sendiri dengan bekas lampu neon.

Saya memang gemar membaca dan banyak ingin tahu akan segala sesuatu. Dengan segala keterbatasan fasilitas, saya baca buku-buku IPA dan Ilmu Bumi untuk SMP milik kakak sepupu saat saya duduk di kelas V SD. Ada manfaatnya juga. Guru saya memuji bahwa soal tentang asal-usul minyak bumi saat THB (Test Hasil Belajar) hanya saya yang bisa menjawab, padahal di kelas pun belum pernah diajarkan. Pujian itu pula yang akhirnya membangkitkan kembali semangat saya setelah nyaris putus sekolah karena masalah biaya.

Semula saya tertarik dengan penelitian tumbuhan. Namun saat kelas III SMP, saya membaca majalah iptek populer “Mekatronika” dan “Scientiae” yang pada terbitan waktu itu banyak mengulas soal UFO (Unidentified Flying Objects, “piring terbang”) dan antariksa. Ketertarikan pada soal antariksa diperkuat saat SMA. Bermula dari keinginan untuk mengkaji dan menulis tentang “UFO: Bagaimana menurut Agama”, saya banyak membaca buku-buku dan Encyclopedia Americana yang membahas astronomi. Alhamdulillah, dengan bantuan teman yang mengetikkan naskah saya, tulisan itu bisa dimuat di majalah Scientiae, No. 93/1979, saat saya kelas I SMA. Itulah publikasi hasil kajian  saya yang pertama, walau baru sebagai karya ilmiah populer. Ada juga hasil karya penelitian tentang kromatografi kertas yang dikirimkan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI.

Alhamdulillah, tawaran PP II (Proyek Perintis II, penerimaan mahasiswa tanpa test berdasarkan penelusuran minat dan kemampuan) di ITB memberi jalan untuk menjadi peneliti astronomi-atrofisika. Materi kuliah dan aktivitas lain yang mendukung pematangan sikap ilmiah selama menjadi mahasiswa astronomi ITB memberi bekal cukup banyak untuk menjadi peneliti. Motivasi Qur’aniyah juga memperkuat tekad saya untuk mempelajari alam semesta.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS.3:190-191)

II. BERANGKAT DARI ASTRONOMI MURNI

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Hanya sempat menjadi “penganggur” selama 2 pekan, seusai wisuda sarjana astronomi di ITB pada 16 Oktober 1986 dengan tugas akhir “Distribusi Bintang OB2 di Arah Puppis”, saya memantapkan diri menjadi peneliti antariksa jauh di Bidang Antariksa LAPAN sejak 1 November 1986. Makalah pertama yang saya hasilkan sebagai peneliti junior adalah “Pendekatan Atmosfer Kelabu bagi Fotosfer dan Sunspot” (Djamaluddin, et al., 1987). Disusul menjadi penulis tunggal ”Koreksi Orientasi Sumbu Polar Teleskop Ekuatorial” (Djamaluddin, 1987a), ”Analisis Bayangan Gerhana Bulan Untuk Menafsirkan  Karakteristik Atmosfer Atas” (Djamaluddin, 1987b), dan “Interpretasi Penyebaran Debu Letusan Gunung Api dari Bayangan Gerhana Bulan” (Djamaluddin, 1987c). Menjelang tugas belajar ke Jepang (April 1988) saya penyelesaikan makalah penelitian “Penentuan Posisi Komet” (Djamaluddin, 1988). Sebagai pegawai LAPAN junior, saya telah menemukan jalan hidup saya yang telah saya cita-citakan sejak SMP: menjadi peneliti. Kegemaran saya menulis sejak SMP pun banyak mendukung profesi saya.

Di Universitas Kyoto, profesionalisme sebagai peneliti diasah dengan aktif mengikuti kegiatan ilmiah. Beberapa makalah yang saya presentasikan: ”Bimodal Star Formation” (Djamaluddin, 1982), “Interstellar Medium in the Solar Vicinity” (Djamaluddin, 1990), “A New H‑Beta and (CaT+P12) CCD Photometry for Determining Distance of Nearby Interstellar Clouds” (Djamaluddin, 1991) , “Possibility of Using NIR Ca II Triplet + Paschen 12 Lines Photometry in Searching New T‑Tauri Stars” (Djamaluddin, 1992). Fokus penelitian saya pada program master adalah mencari metode fotometri baru untuk penentuan jarak awan antarbintang dan mencari bintang-bintang baru.

Penelitian lanjutan di program doktor adalah menemukan jejak evolusi bintang baru (protostar) dari awan antarbintang menjadi bintang muda dengan data satelit infra merah (IRAS, Infrared Astronomical Satellite). Di samping itu, bersama grup ekstragalaksi, dengan memanfaatkan data IRAS dan peta bintang, saya turut melakukan survai untuk menemukan struktur besar alam semesta dari data inframerah yang sebelumnya tak tampak. Hasil survai tim peneliti tersebut dipublikasikan menjadi “A Search for IRAS Galaxies Behind the Southern Milky  Way” (Yamada et al., 1993) dan “Connection of Large‑Scale of the Galaxy Distribution  behind the Southern Milky Way” (Yamada, et al., 1993).

Dalam disertasi doktor saya, jejak evolusi bintang muda yang baru keluar dari awan antarbintang berhasil digambarkan dalam diagram serupa diagram Herzprung-Russel bagi bintang tampak, tetapi dengan panjang gelombang inframerah. Karena penekanannya pada pembaruan diagram H-R  inframerah yang menggambarkan jejak evolusi bintang muda, dua publikasinya menggunakan judul yang sama “A Far‑Infrared H‑R Diagram of Young Stellar Objects”,  tetapi dengan pendalaman yang berbeda. Publikasi pertama (Djamaluddin and Saito, 1995) memberikan pendalaman pada katalog objek-objek sampel di beberapa awan antarbintang dekat, sedangkan publikasi berikutnya (Djamaluddin and Saito, 1996) memberikan pendalaman proses fisisnya.

Seusai program doktor, saya kembali ke LAPAN untuk mengintegrasikan pemahaman astronomi inframerah, debu dan gas di antariksa, serta astronomi berbasis antariksa dengan program penelitian antariksa di Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa. Saya menyadari tidak mungkin penelitian astronomi murni terkait pembentukan bintang dikembangkan di LAPAN. Tetapi banyak alat bantu fisis-astronomis yang saya pelajari bisa saya terapkan untuk mendukung penelitian lingkungan antariksa di LAPAN. Kajian asal-usul bintang bisa diterapkan pada asal-usul matahari dengan sisa-sisanya berupa komet dan hujan meteor yang menjadi fenomena penting di lingkungan antariksa yang secara langsung atau tak langsung berpengaruh pada lingkungan bumi. Kajian tersebut dipublikasi dengan judul “Telaah Orbit Komet dalam Kaitannya dengan Hujan Meteor” (Djamaluddin, 1995) dan “Variation of Meteors as Detected by Meteor Wind Radar in Indonesia” (Djamaluddin, 2002).

Fasilitas kerjasama LAPAN – Universitas Kyoto berupa Meteor Wind Radar (MWR) di Kototabang (sebelumnya di Serpong dengan kerjasama bersama BPPT) memungkinkan mengkaji aspek astronomis dari data fluks meteor. Beberapa makalah dihasilkan dari penelitian dengan menggunakan data MWR tersebut, yaitu “Analisis Lingkungan Antariksa Berdasarkan Influks Meteor dari Meteor Wind Radar Serpong dan Kototabang” (Djamaluddin, 2006), “Pengembangan Model Fluks Mikrometeoroid dari Data Meteor Wind Radar” (Djamaluddin, 2006), dan “Micrometeoroid Affected by Solar Activity” (Djamaluddin,  2007). Penelitian kaitan pengaruh aktivitas matahari pada fluks meteor menghasilkan indikasi yang berbeda dengan hasil penelitian beberapa peneliti sebelumnya. Saya menyimpulkan bahwa pengaruh aktivitas matahari bukan akibat perubahan kerapatan atmosfer tempat terjadinya fenomena meteor, tetapi tampaknya karena variasi kerapatan mikrometeoroid di lingkungan antariksa.

Walaupun fokus penelitian tugas akhir pendidikan  saya adalah pembentukan bintang dan struktur galaksi serta struktur besar alam semesta, fisika bintang dan fisika matahari merupakan mata kuliah utama yang juga harus saya pelajari selama kuliah astronomi. Karenanya, ketika Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa (yang kemudian berubah menjadi Bidang Matahari dan Antariksa) juga menuntut saya masuk pada penelitian matahari, saya tinggal mengintegrasikan ilmu yang saya pelajari dengan kebutuhan lembaga. Beberapa publikasi penelitian fisika matahari adalah ”Evolution of Solar Activities Periodicity and Possible Relation to solar Inertial Motion” (Djamaluddin, 2002), Prediktibilitas Cuaca Antariksa” (Djamaluddin, 2003), ”Solar Activity Prediction from Reconstruction of Wavelet Analysis” (Djamaluddin, 2003), ”Prediction of Solar Cycle 24 Based on Wavelet Analysis of Asymmetric Hemispheric Sunspot Number” (Djamaluddin, 2005a), dan ”Metode Baru Prakiraan Siklus Aktivitas Matahari dari Analisis Periodisitas” (Djamaluddin, 2005b).

III. MEMBUMIKAN ASTRONOMI

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Sejak awal masuk sebagai peneliti LAPAN, kesadaran bahwa astronomi sebagai ilmu murni tidak mungkin dikembangkan di LAPAN seperti halnya di ITB dengan fasilitas Observatorium Bosscha, sudah mengarahkan orientasi penelitian saya untuk membumikan astronomi, dalama makna mencari pemanfaatan astronomi bagi kehidupan di bumi. Oleh karenanya sejak awal saya telah berupaya untuk membumikan astronomi dengan mencari aplikasi fenomena astronomis yang secara langsung memberi manfaat untuk pemahaman tentang ruang kehidupan di bumi. Salah satunya adalah pemahaman karakteristik gerhana bulan yang dapat menggambarkan kondisi lingkungan atmosfer bumi. Hasil kajian itu saya tuliskan dalam dua makalah ”Analisis Bayangan Gerhana Bulan Untuk Menafsirkan Karakteristik Atmosfer Atas” (Djamaluddin, 1987b), dan “Interpretasi Penyebaran Debu Letusan Gunung Api dari Bayangan Gerhana Bulan” (Djamaluddin, 1987c).

Seusai menyelesaikan pendidikan di Jepang dengan fokus penelitian tentang materi antarbintang dan pembentukan bintang, hal-hal yang saya upayakan untuk membumi adalah pemahaman baru tentang pembentukan tata surya, sisa-sisanya berupa debu antarplanet, komet, dan meteoroid, serta dampaknya pada bumi. Makalah pertama yang saya tulis pada awal saya kembali aktif sebagai peneliti LAPAN adalah ulasan tentang “Evolusi Planet Bumi dan Pengaruh Lingkungan Tata  Surya” (Djamaluddin, 1994). Kemudian mengarahkan program penelitian terkait dengan pengaruh kosmogenik (berasal dari lingkungan antariksa) pada lingkungan bumi.

Penelitian dalam program penelitian tahunan 1995 bertema “Pengaruh Mikrometeoroid dari Komet pada Pembentukan Awan dan Curah Hujan” hasilnya dipublikasi di Majalah LAPAN (Djamaluddin, Suryantoro, dan  Suaydhi, 1996). Walau pun belum menemukan bukti yang kuat tetapi diperoleh adanya indikasi debu-debu mikrometeoroid dari komet berpengaruh pada peningkatan curah hujan. Interpretasi yang saya bahas dalam makalah tersebut adalah kemungkinan mekanismenya terkait dengan peran mikrometeoroid sebagai inti kondensasi awan tinggi (cirrus) yang kemudian butiran es itu menjadi inti kondensasi bagi awan rendah. Interpretasi tersebut sebenarnya memerlukan penelitian lanjutan karena selama ini awan cirrus selalu dianggap terbentuk dari mekanisme pembentukan awan konvektif cumulonimbus yang menjulang sampai troposfer atas. Sayangnya ketiadaan data pendukung untuk analisis partikel pada air hujan menyebabkan penelitian lanjutan belum dapat saya lakukan. Kajian lanjutan baru sampai pada ulasan “Keterkaitan antara Komet dan Hujan Meteor” (Djamaludin, 1998) yang membahas lebih rinci tentang hujan meteor yang dikaitkan dengan orbit komet-komet untuk mengidentifikasi kemungkinan pengaruhnya di Indonesia.

Penelitian pengaruh lingkungan antariksa kemudian mengarah pada pengaruh aktivitas matahari dan pasang-surut bulan-matahari pada bumi. Hasil penelitian itu dipublikasi dengan judul “Pengaruh Aktivitas Matahari dan Faktor lainnya pada Suhu Atmosfer Permukaan di Indonesia” (Djamaluddin,  Admiranto, dan Sinambela, 1997) dan ” Efek Pasang Surut Bulan dan Aktivitas Matahari terhadap Curah Hujan di Indonesia” (Djamaluddin, 1997). Walau ada indikasi pengaruh aktivitas matahari, tetapi pengaruh pada suhu di Indonesia sebenarnya kurang tampak, karena variasinya memang tidak terlalu besar. Pengaruh aktivitas matahari dan pasang-surut bulan-matahari baru tampak pada curah hujan, khususnya untuk curah hujan di Jakarta (sebagai sampel dengan data yang cukup panjang) yang cenderung meningkat saat aktivitas matahari meningkat. Demikian juga periodisitas pasang-surut bulan-matahari (luni-solar) juga mengindikasikan adanya pengaruh pada curah hujan di Indonesia.

Pengetahuan baru tentang analisis wavelet yang saya peroleh saat workshop di Brazil segera saya sebarkan kepada para peneliti LAPAN di Bandung dan segera saya aplikasikan untuk mengkaji pengaruh aktivitas matahari pada liputan awan di Indonesia. Hal menarik, penelitian “Efek Pasang Surut Bulan dan Aktivitas Matahari pada Penyebaran Awan di Indonesia” (Djamaluddin, 1998) mengungkapkan secara meyakinkan berdasarkan analisis spektral wavelet bahwa liputan awan di Indonesia terpengaruh oleh aktivitas matahari (terutama pada musim kering) dan pasang-surut bulan-matahari. Memang analisis spektral lazim digunakan untuk mengkaji pengaruh suatu fenomena terhadap fenomena lainnya dengan menganalisis spektral periodisitasnya, dalam kondisi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.

Penelitian lanjutan dengan menambahkan parameter lainnya (SOI – southern oscillation index – sebagai indikasi ENSO dan indeks liputan debu letusan gunung) dipublikasi pada beberapa makalah:  “Influence of Solar Activities, ENSO, and Stratospheric Aerosols on Cloud Amounts Over Western Indonesia” (Djamaluddin, 2002), “Solar Activity Influence on Climate in Indonesia” (Djamaludin, 2003), dan “Solar Activity Effects on Cloud Cover Over Indonesia” (Nugroho, and Djamaluddin, 2005). Penelitian lanjutan itu menunjukkan bahwa liputan awan di atas Indonesia sangat kuat dipengaruhi oleh liputan debu letusan gunung dan ENSO (El Nino Southern Oscillation). Analisis kemudian mengarahkan pada indikasi bahwa mekanisme pengaruh aktivitas matahari pada liputan awan di Indonesia tampaknya melalui mekanisme ENSO. Artinya, pengaruh aktivitas matahari yang mengubah periodisitas ENSO yang kemudian mempengaruhi periodisitas liputan awan di Indonesia. Indikasi itu berbeda dengan pemahaman sampai saat itu seperti dirangkum dalam ulasan “Bukti-bukti Empirik Pengaruh Aktivitas Matahari pada Iklim” (Djamaluddin, 2001). Justru indikasi seperti itu mulai dikaji oleh para peneliti secara lebih mendalam dalam beberapa tahun belakangan terkait dengan peranan laut dalam hubungan matahari-bumi.

Upaya saya membumikan astronomi dengan mengembangkan penelitian dampak antariksa pada bumi dipublikasi dalam makalah ”Mencari Aplikasi Astronomi: Faktor Kosmogenik pada Iklim” (Djamaluddin, 2001) dan “Space Based Data: Between Pure Science and Down-to-Earth Application in Indonesia” (Djamaluddin, 2004). Bukan mengada-ada, tetapi itu merupakan upaya agar pemahaman astronomi yang mencakup fenomena alam yang luas dapat dimanfaatkan bukan sekadar untuk pengembangan sains.

Kajian tentang dampak lingkungan antariksa pada bumi difokuskan pada masalah sampah antariksa. Ini adalah awal penelitian tentang sampah antariksa yang menjadikan LAPAN sebagai satu-satunya pusat informasi di Indonesia tentang sampah antariksa.  Lingkungan antariksa yang mengandung ancaman tumbukan antara satelit dengan benda antariksa alami (meteoroid) dan sampah antariksa diulas dalam makalah “Masalah Meteoroid dan Sampah Antariksa pada Satelit Geostasioner” (Djamaluddin, 2002) dan “Risiko Benda Jatuh Antariksa” (Djamaluddin, 2003). Penelitian komprehensif tentang sampah antariksa yang dipengaruhi aktivitas matahari dipublikasikan dalam makalah “Pengaruh Aktivitas  Matahari Pada Kalahidup Satelit ” (Djamaluddin, 2005). Penelitian tersebut menunjukkan secara lebih jelas bahwa pada masa matahari aktif, potensi sampah antariksa jatuh ke bumi lebih banyak terjadi, artinya potensi bencana benda jatuh antariksa di wilayah Indonesia yang merupakan daerah ekuator yang cukup panjang relatif meningkat. Hal ini harus menjadi perhatian bagi LAPAN dalam memberikan layanan informasi potensi bahaya benda jatuh antariksa. Terkait dengan kondisi fisik lingkungan antariksa di wilayah orbit satelit, ulasannya dituliskan dalam makalah “Kondisi Lingkungan Antariksa di Wilayah Orbit Satelit” (Djamaluddin, 2006).

IV. ASTRONOMI MEMBERIKAN SOLUSI

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Membumikan astronomi tentu berorientasi pada upaya mencari aplikasinya yang memberi manfaat bagi masyarakat dan memberikan solusi bagi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dua hal utama yang saya awali adalah kajian benda jatuh antariksa di wilayah Indonesia dan tawaran solusi penyatuan hari raya umat Islam dengan penyatuan kriteria astronomis tanpa mempermasalahkan perbedaan metode hisab dan rukyat, namun tetap merujuk pada dalil-dalil syar’i (hukum-hukum agama) yang disepakati bersama.

Pemahaman astronomi orbit saya manfaatkan untuk mengkaji dan mengevaluasi benda jatuh antariksa di Gorontalo (1981) dan Lampung (1988) yang lama tersimpan di Kedeputian Teknologi Dirgantara LAPAN dan data waktu jatuhnya terdokumentasi oleh Pusat Informasi dan Kedirgantaraan LAPAN. Saya berhasil mengidentifikasikan kedua benda jatuh itu sebagai bagian dari motor roket SL-8 dan SL-4 milik Rusia, sedangkan lempengan yang jatuh di Bengkulu (2003) berhasil saya identifikasi sebagai pecahan roket CZ-3 milik RRC. Saat stasiun antariksa Mir jatuh terkendali pada 2001 dan satelit Bepposax jatuh tak terkendali pada 2002, kajian orbitnya dimanfaatkan untuk memberikan layanan informasi intensif kepada pemerintah dan masyarakat melalui situs web LAPAN dan jalur komunikasi lainnya terkait potensi bencana benda jatuh antariksa, berkoordinasi dengan Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB). Terkait dengan mitigasi bencana benda jatuh antariksa tersebut telah dipublikasikan makalah “Analisis Orbit dan Identifikasi Benda Jatuh Antariksa di Indonesia” (Djamaluddin, 2004).

Pada sisi lain astronomi telah memberikan perangkat penting bagi kehidupan manusia dalam hal penentuan waktu dan arah. Oleh karenanya untuk membumikan astronomi dan mempopularisasikannya, saya telah menuliskan makalah teknis ilmiah astronomi dan artikel ilmiah populer tentang penentuan waktu dan arah, khususnya terkait dengan penentuan waktu ibadah dan penentuan arah kiblat bagi umat Islam sebagai penduduk mayoritas Indonesia.

Beberapa makalah ilmiah dalam kaitan dengan pemanfaatan astronomi untuk aplikasi di masyarakat telah saya publikasikan: “Peran Penting Almanak Astronomi di Masyarakat” (Djamaluddin, 1995), “Visibilitas Hilal di Indonesia” (Djamaluddin, 2000), “Re-evaluation of Hilaal Visibility in Indonesia“, (Djamaluddin, 2001), “Calendar Conversion Program Used to Analyze Early History of Islam” (Djamaluddin, 2001), dan “Prospek Astronomis pada Penyatuan Kalender Islam di Indonesia” (Djamaluddin, 2003).

Melalui berbagai tulisan di media massa, seminar, ceramah, dan pelatihan, saya mengupayakan titik temu antarormas Islam dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha dengan pendekatan astronomis yang dilandasi dalil-dalil syar’i (hukum-hukum agama). Pada dasarnya perbedaan hari raya bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi karena perbedaan kriteria awal bulan. Selama ini ada dua kriteria dasar yang sering menyebabkan perbedaan ketika tinggi bulan di antara kedua kriteria itu. Kriteria wujudul hilal (bulan sabit sudah berada di atas ufuk) dengan tinggi bulan sekitar 0 derajat yang digunakan Muhammadiyah dan kriteria imkan rukyat (kemungkinan rukyat/teramati) dengan ketinggian bulan sekitar 2 derajat yang digunakan Nahdlatul Ulama (NU). Jadi ketika tinggi bulan sekitar 0 – 2 derajat dapat dipastikan akan terjadi perbedaan hari raya, seperti tahun 2006 dan 2007 lalu.

Berdasarkan kajian data rukyat di Indonesia dan analisis astronomis (Djamaluddin, 2000), saya mengusulkan penyempurnaan dengan kriteria baru yang saya sebut kriteria LAPAN. Dengan mengupayakan kriteria baru yang disepakati (apakah kriteria LAPAN atau kriteria lain) insya-allah perbedaan penentuan hari raya dapat dikurangi. Tinggal masalah pada beberapa kelompok kecil yang masih menggunakan cara non-astronomis, seperti rukyat global, penentuan dengan hisab urfi (perhitungan konstan), atau dengan penentuan pasang air laut. Untuk masalah terakhir ini, pendekatannya bukan lagi secara astronomis, tetapi harus dengan pendekatan lain.

Contoh nyata penyatuan umat lewat kesepakatan kriteria adalah dalam penentuan jadwal shalat. Walau sebenarnya ada beberapa kriteria tinggi matahari untuk jadwal shalat, ternyata semua ormas Islam dapat sepakat dengan kriteria yang saat ini digunakan Departemen Agama RI. Hal serupa juga dapat terwujud kalau semua ormas Islam dapat menyepakati satu kriteria awal bulan. Saat ini upaya-upaya sosialisasi dan pendekatan masih terus dilakukan dan ada tanda-tanda positif menuju titik temu. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama lagi dapat dicapai satu kesepakatan. Kalau belum tercapai, tahun 2010 – 2014 kita akan menghadapi lagi perbedaan awal Ramadhan dan hari raya, setelah dua tahun (2008 – 2009) posisi bulan-matahari memungkinkan kita untuk bersatu walau dengan kriteria berbeda.

V. PENUTUP

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Perjalanan karir fungsional saya konsisten mengembangkan astronomi sebagai sains dan membumikan astronomi untuk memberi solusi bagi masyarakat. Sebagai tanggung jawab ilmiah dan sosial sebagai seorang peneliti, saya telah berupaya agar astronomi dapat berkontribusi dalam memajukan masyarakat melalui upaya para penelitinya dengan pubikasi ilmiah yang berkualitas serta layanan informasi yang mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan masyarakat. Secara langsung atau tak langsung, astronomi, sebagai kompetensi  individual saya serta tugas dan fungsi institusional  di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN, telah turut berkontribusi dalam menjelasksan fenomena astronomis yang menjadi perhatian masyarakat (seperti badai matahari, gerhana, oposisi Mars, komet, dan meteor), dalam mengupayakan mitigasi benda jatuh antariksa, dan dalam memberikan solusi penyatuan hari raya yang berdampak sosial.

UCAPAN TERIMA KASIH

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

Aspek humanistik perjalanan karir peneliti saya, telah saya tuliskan dalam artikel ”Astronomi Jalan Hidup” di blog saya       http://t-djamaluddin.spaces.live.com *), termasuk tekad saya untuk mencapai Profesor Riset pada 2009 ini.  Walaupun karir fungsional lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri (berbeda dengan karir struktural), harus saya ungkapkan bahwa banyak orang telah berperan membantu saya. Pada akhir orasi ini, izinkan saya untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada banyak pihak yang telah mengantarkan saya pada jabatan Peneliti Utama IVe dan Profesor Riset bidang astronomi-astrofisika, tanpa menyebutkan satu per satu karena demikian banyaknya.

Ucapan terima kasih yang pertama tentu saya sampaikan kepada kedua orang tua saya yang telah menanamkan kegigihan dan kejujuran yang menjadi bekal dalam segala langkah perjalanan saya. Demikian juga kepada para guru dan pembimbing saya yang telah memberi bekal ilmu dan semangat ilmiah. Kepada para pimpinan, Tim Penilai Peneliti Instansi (TP2I) beserta staf sekretariatnya, kolega peneliti, staf teknisi, dan staf administrasi LAPAN yang telah membantu melancarkan karir fungsional saya. Kepada Kepala LIPI selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset beserta anggota Majelis maupun Tim Penilai Naskah Orasi kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan mengukuhkan saya sebagai profesor riset. Juga kepada keluarga saya, istri dan anak-anak, yang telah menjadi pendorong semangat dalam perjalanan karir saya.

Namun, dari sekian banyak orang yang berjasa, saya harus menyebut satu nama yang paling banyak memberi warna semangat astronomis dalam hidup saya, Prof. Dr. Bambang Hidayat. Pak Bambang adalah pembimbing semasa mahasiswa di ITB, atasan di LAPAN saat saya menyelesaikan pendidikan di Jepang, dan pendorong semangat ketika saya meniti karir peneliti astronomi.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

*) Catatan di blog saya:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/16/astronomi-cita-cita-kecintaan-dan-pengembangan-karir-peneliti/

Dokumentasi Tulisan di Media Massa dan Buku

Buku TD

Saya memang hobby menulis, terkait ilmiah populer (astronomi, kebumian, dan antariksa) serta keislaman. Kalau tidak sempat dipublikasi di media massa, saya tuliskan di blog ini. Beberapa tulisan di blog ini akhirnya ada juga yang diterbitkan jadi buku, setelah diedit lagi. Berikut ini dokumentasi tulisan saya sejak SMA (1979), mahasiswa astronomi ITB dan Universitas Kyoto, peneliti LAPAN, dan sampai saat ini di berbagai media dan buku (di-update dengan data-data terbaru).

Tulisan-tulisan di buletin intern

  • Fenomena Matahari di Cakrawala, Kawa (Buletin PPI Kyoto), Edisi 12, Desember 1990
  • Eid: Is it Possible to be made on the same day over the world, MSA-Newsletter, No. 2, Aug. – Sep. 1991
  • Toward Unification of Islamic Calendar in Japan, MSA-J Newsletter Vol. 3, no. 1, July – Aug. 1992
  • Leadership: A Brief Guidance, MSA-J Newsletter, Vol. 3, no. 2, Sep. – Okt. 1992
  • Organizing KMA, MSA-J Newsletter, Vol. 3, no. 2, Sep. – Okt. 1992
  • Menjelajah Keluasan Langit, Menembus Kedalaman Al-Qur’an, Bulletin KMI Nagoya Des. 1992 – Mar 1993 [4 nomor], Pengajian New South Well, 31/III/1993 –diambil dari isnet
  • Dasar-dasar Hisab dan Ru’yat, Buletin Pengajian Lexington (BPL), no. 1, Th. 1, 140293
  • Zakat: Kewajiban dan Aturan Praktis, Al-Ihsan, Edisi Khusus Ramadan, 1993
  • Menjaga Jiwa Istiqomah, Al-Ihsan, No. 2 Th. 1, Dzulhijjah 1413
  • Peningkatan Kualitas Ummat: Tantangan Kini dan Masa Mendatang, Al-Ihsan, No. 3 Th. 1, Safar 1414 (Cuplikan dari makalah yang disampaikan pada pengajian ICMI Orsat Jepang Tengah 18 Juli 1993)
  • Situasi Da’wah Islam di Jepang Kini: Sebuah catatan Pribadi, Infoda, Edisi Perdana, 1993 (Yayasa Salahuddin)
  • Makanan dan Minuman Haram, IQRA, Vol. 2, no. 18, Okt. 1993
  • Dr. Maurice Buccaille’s Lectures: An Opinion, MSA-J Newsletter, Vol. 4, no. 1, Nov. 1993
  • Lima Tahun Pengajian Kyoto, IQRA, Vol. 2, No. 19, Nov. 1993
  • Isra’ Mi’raj: Mu’jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya, IQRA, Vol. 2, no. 21, Feb. 1994
  • Di Kyoto Saya Belajar, IQRA, Vol. 2, no. 24, Mei 1994
  • Isra’ Mi’raj: Mujizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya, (setelah Republika Jan. 1994), Tadzkir, Desember 1994.
  • Menjaga Jiwa Istiqomah, Tadzkir (Buletin DKM LAPAN), Januari 1995 [istiqama.tex]
  • ============================================

Tulisan di media massa

  1. UFO: Bagaimana Menurut Agama, Scientiae, no. 93 th. 10, 1979
  2. Apakah Tahun Kabisat itu, PR Edisi Cirebon, 230283
  3. Terjadinya Gerhana Matahari, PR Edisi Cirebon, 130483
  4. Bukan Fenomena Alam yang Aneh: Gerhana Matahari  Peristiwa Biasa, PR, 020683
  5. Al-Qur’an Pedoman Hidup Muslim, PR Edisi Cirebon, 310883
  6. Hanya berbeda satu hari dalam 2419 tahun: Kalender Hijriyah Mempunyai Ketepatan Tinggi, Kiblat, no. 22, 5 – 20 April 1984
  7. Mengenal Kalender Hijriyah, Kharisma, no. 10, Th. 2, Juni 1984
  8. Kalender Masa Lalu dan Yang akan Datang, Kartini, 264, 14 Des 84 – 13 Jan 1985
  9. Kerjasama di Antariksa 1985 – 1986: Lima Pesawat Antariksa Menghampiri Komet Halley, PR, 020385
  10. Halley: Bintang Bintang Berekor Paling Menarik, Yang Muda, no.6 th. 1, 1986
  11. Berbagai Keistimewaan Kalender Hijriyah, PR Edisi Cirebon, Minggu 3, Jan. 1987 (=no. 7, dikirim 1984)
  12. Menembus Kedalaman Langit, Yang Muda, no.6, Th. 3, 1988
  13. Jepang Sekilas Lintas, Yang Muda, no. 2, Th. 4, 1988
  14. Jembatan Antar Pulau, Yang Muda, no. 4, Th. 4, 1988
  15. Awal Ramadan dan Awal Labaran: Mungkinkah disamakan di Seluruh Dunia?, Panggilan Adzan, Maret 1991
  16. Observing Eid on the Same Day Everywhere?, The Muslim WorldLeague Journal, Vol. 19, no. 9, p. 36, Ramadan 1412/March 1992
  17. Memahami sebab Perbedaan Awal Ramadan dan Ied, Republika, 230293
  18. Isra’ Mi’raj: Mujizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya,Republika, 140194 [isra.tex]
  19. Kalender Islam Global: Urgensi Masa Kini, Republika, 140294
  20. Kalender Hijriyah: Tuntutan Penyeragaman Mengubur Kesederhanaannya, Republika, 100694 [hijri-kl.asc]
  21. Memburu dan Mengamati Peristiwa Langka, Republika, 150794 [sl-9.asc]
  22. Memahami Halal dan Haram, Hikmah, bag. 1: Minggu IV Agustus 1994, bag. 2: Minggu I September 1994 [halal.wp]
  23. Menjelajah Keluasan Langit, Menembus Kedalaman Al-Qur’an, [langit3.wp] (revisi tulisan yang telah dimuat di buletin-buletin Pengajian lokal: Nagoya Des. 1992 – Mar 1993 (4 nomor), Pengajian New South Well, 31/III/1993), Hikmah, Bag. 1 – 5, Minggu IV September – Oktober 1994.
  24. Dimanakah Tujuh Langit Itu?, PR, 10 Jan. 1995 [isra2.wp]
  25. Globalisasi Ru’yat Tak Sederhana, PR, 19 Jan. 1995 [Global.wp]
  26. Prakiraan Ru’yatul Hilal, Republika, 21 Jan. 1995 [hilal.wp]
  27. Bumi Dihujani 25.000 Ton Batuan dan Debu Setiap Tahun, PR, 24 Jan. 1995 [meteor.wp]
  28. Ramadan dan Idul Fitri di Masjid Kobe, Republika, 260295 [ramadan.wp]
  29. Astronomi Membantah Astrologi, Republika [astro.wp], 09/04/1995
  30. Pemahaman Baru Asal-Usul Tata Surya, Pikiran rakyat 16/5/95 [t-surya.wp]
  31. Catatan Pengembaraan di Jepang (1)-(5), Hikmah Mg-III Mei – Juni 1995 [jepang.wp]
  32. Dari mana kita mulai: Mengurai Kepelikan Kalender Hijriyah, PR 06/07/95 [almanak.wp]
  33. Posisi Matahari dan Penentuan Jadwal Salat, Hikmah Minggu III Juli 1995 [salat.wp]
  34. Komet-komet Penyebab Hujan meteor, PR 07/08/95 [Komet.wp]
  35. Pancaran Infra merah: Menguak Struktur Alam Semesta, PR 02/10/95 [galaksi.wp]
  36. Gerhana Matahari Total 1995 Hanya Dua Menit, PR 10/10/1995 [GMT95-1]
  37. Kiat Mengamati Gerhana Matahari Total (GMT Terakhir di Indonesia sebelum 2016, Republika 23/10/1995 [GMT95-2.WP]
  38. Antara Limit Astronomis dan Harapan Teleskop Rukyat: Tantangan Rukyatul Hilal 1 Syawal 1416 H, Republika 17/1/96 [rukyat.wp]
  39. 39m Bumi makin panas: Belajar Efek Rumah Kaca pada Venus, PR 3/05/96[venus.wp]
  40. Detektor dan Pemroses Citra Astronomi, Mengurai Kegelapan Alam Semesta, PR 12/6/96 [detektor.wp]
  41. Tunguska 30 Juni, 88 tahun lalu: Pecahan Komet Menabrak Bumi, PR 2/7/96 [tunguska.wp]
  42. Tahun 1996 terdingin pada dekade ini?, KOMPAS, 4/7/96 [matahar2.wp]
  43. Debu Komet Halley Meningkatkan Curah Hujan, KOMPAS 18/7/1996 [methujan.wp]
  44. 44m Mungkinkah Komet Swift-Tuttle Menabrak Bumi, PR 23/09/96 [sw-tuttl.sw]
  45. 45m Evolusi di alam dan eksistensi manusia, PR 01/10/96 [evolusi.wp]
  46. Hisab Astronomi: Kapankah Awal Puasa dan lebaran, Republika 8/1/97 [hilal97.wp]
  47. Analisis Astronomi: Ramadan pada Zaman Rasulullah, PR 17/1/97 [rmd-nabi.wp]
  48. Patroli Langit: mewaspadai asteroid dan komet pengancam bumi, Republika 16/3/97 [asteroid.wp]
  49. Komet Hale-Bopp Mendekati Matahari, Republika 30/3/97 [HaleBopp.wp]
  50. Bukan masalah: Idul Adha di Arab Saudi dan di Indonesia Berbeda Hari, PR 12/4/97 [id-adha1.wp]
  51. Idul Adha dan perbedaan waktu, Republika 19/4/97 [id-adha2.wp]
  52. Babak baru eksplorasi Mars, Republika 6/7/97 [mars-hdp.wp]
  53. Aktivitas Matahari, El Nino, dan Kekeringan 1997, Republika, 14/9/97 [el-nino.wp]
  54. Di Satelit Jupiter Ada Makhluk Hidup?, Republika,19/10/97,[jupiter.wp]
  55. Pesawat Antariksa Cassini-Huygens Menuju Langit ke Tujuh, PR, 26/10/97 [saturnus.wp]
  56. Sifat Ijtihadiyah Penentuan Awal Ramadan dan Hari Raya, Republika 23/12/97 [rmd1418k.wp]
  57. Analisis Hisab Astronomi: Ramadan dan Hari Raya di Berbagai Negeri, PR,31/12/97 [rmd1418p.wp]
  58. Bukti Ketaatan Makhluk pada Khaliqnya: ALAM PUN BERTHAWAF, PR 23/3/98 [thawaf.wp]
  59. Renungan Tahun baru 1419: Pelajaran Tiga Hari Raya, PR 15/4/98 [h1419.wp]
  60. Hari ini gerhana matahari cincin terlihat di Indonesia: Rasulullah hanya sekali salat gerhana matahari, PR 22/8/98 [grh-nabi.wp]
  61. Hujan Meteor Periodik 1998 Giacobinids dan Leonids, PR 16/11/98 [Leonids2.wp]
  62. Keragaman Penentuan Awal Ramadan dan Hari Raya, Republika 18/12/98 [Id1419.wp]
  63. Menyikapi Perbedaan Idul Fitri dengan Wilayah Arab, PR 16/1/99 [Id1419b.wp]
  64. Fenomena Matahari, Republika (Hikmah), 23/1/99 [MthPsiko.wp]
  65. Pluto bukan planet?, Republika, 7/2/99 [pluto.wp]
  66. Sains, Republika (Hikmah), 7/3/99 [sains.wp]
  67. Perbedaan Idul Adha dengan Arab Saudi Kontroversi yang berulang: Idul Adha Minggu 28 Maret 1999, PR, 26/3/99 [id-1419c.wp]
  68. Bintang Kejora, Republika (Hikmah), 20/7/99 [kejora.wp]
  69. Gerhana Bulan untuk Direnungkan, PR, 28/7/99 [GBS2807.wp]
  70. Bagi Astronomi: Perkembangan Teknologi yang Dilematis, PR,28/8/99 [astrontk.wp]
  71. Langit, Hikmah Republika, 13/9/99 [LangitHk.wp]
  72. Tujuh langit tidak berarti tujuh lapis, Dialog Jumat REPUBLIKA, 12/11/99 [langitdl.wp]
  73. Fenomena Cuaca Antariksa, Mengkaji Sifat Badai Meteor Leonid, PR, 19/11/99 [leonid.wp]
  74. Analisa Global Awal Ramadlan dan Idul Fitri 1420, PR 8/12/99 [rmd2id20.wp]
  75. Aspek Astronomis dalam Kesatuan Ummat, Republika 10/12/99 [rmd-id20.wp]
  76. Milenium dalam Perspektif Matematis Astronomis, PR 30/12/99 [milenium.wp]
  77. Cahaya, Republika Hikmah, 4/2/00 [cahaya.wp]
  78. Tertutupnya Kalbu, Hikmah Republika, 15/2/00 [kalbu.wp]
  79. PBNU ber-Idul Adha hari ini 17 Maret 2000: Menjaga Ukhuwah dalam Beda Idul Adha, PR 17/3/00 [idadha20.wp]
  80. Janji Hakiki, Republika Hikmah, 23/3/00 [janji.wp]
  81. Konsistensi Historis-Astronimis Kalender Hijriyah, PR 10/4/00 [HijrNabi.wp]
  82. Jalan Lurus, Republika Hikmah, 20/4/00 [istiqama.wp]
  83. Bencana, Republika Hikmah 25/5/00 [BENCANA.WP]
  84. Black Hole, Hikmah, Republika 26/6/00 [blackhol.wp]
  85. Melihat Atmosfer Bumi pada Gerhana Bulan Total 16 Juli 2000, Republika 16/7/2000 [GBT16070.wp]
  86. Komet SL-9, Hikmah, Republika 22/11/00 [SL-9-HKM.WP]
  87. Analisis Global Ramadhan dan Idul Fitri 1421: Tidak Mungkin 26 Desember, PR 24/12/00 [hisab21b.wp]
  88. Idul Adha: 5 atau 6 Maret 2001?, PR, 30/01/01 [imkan rukyat(id1421).doc]
  89. Menyikapi Perbedaan Idul Adha, Republika 02/03/01 [idadha21.wp]
  90. Puing-puingnya Mengkhawatirkan 80 Negara: Lab Antariksa Mir Jatuh, PR 03/03/01+ralat 07/03/01 [mir.doc]
  91. Hilal dan beda hari raya,Percikan Iman,Maret 2001/Dzulhijjah 1421 [hilal21.wp]
  92. Mari Menyaksikan Mir Jatuh, Republika 20/3/01 [Mir-Obs.doc]
  93. Hari Ini Mir Jatuh, Indonesia Aman, PR 23/3/01 [mir jatuh 23-3.doc]
  94. Sinkronisasi BUmi-Bulan, Hikmah Republika, 22/6/01 [bumi-bln.wp]
  95. Di Indonesia Pengaruhnya Tampak Saat Kemarau:GEJOLAK AKTIVITAS MATAHARI BERPENGARUH PADA IKLIM, PR 23/8/01 [matahari-iklim.doc]
  96. Awal Ramadhan 16 atau 17 November: Urgensi Menyatukan Kriteria, Republika 15/11/01 [Ramadhan 1422 Republika.doc]
  97. Reposisi KORPRI untuk Reformasi Intern, FOKAL, No. 02/Th I/Desember 2001, [KORPRI penggerak reformasi.doc]
  98. MEMAHAMI KETIDAKPASTIAN KALENDER, PR, 21/2/02, [Idul Adha 1422-Venus.doc]
  99. Menyatukan ‘Dua’ Idul Fitri, Republika 4/12/02, [Titik Temu Penyeragaman Kelender Hijriyah di Indonesia ]
  100. Pelangi, Hikmah Republika 21/1/03 [pelangi.doc]
  101. Mengkaji Perbedaan Idul Adha, PR 06/02/03, [Mengkaji Perbedaan Idul Adha.doc]
  102. Menyatukan Hari Besar Islam, Republika 11/02/03, [Menuju Titik Temu Penyatuan Hari Raya.doc]
  103. Mewaspadai Jatuhnya satelit BeppoSAX, Republika, 27/4/03 [Satelit BeppoSAX segera jatuh.doc]
  104. Sampah Antariksa bukan Armageddon, Intisari Juli 2003 [Sampah Antariksa.doc]
  105. Netralitas Sains (1-2), Radar Bandung 10 + 11 Nov 2003 [Netralitas Sains]
  106. MUI dan Penyatuan Hari Raya, Republika 5/2/04 [Fatwa MUI Membuka Jalan.doc]
  107. Sampah Antariksa Makin Padat, Cakrawala PR, 22/4/04 [Sampah Antariksa Makin Padat.doc]
  108. Redefinisi Hilal: Menuju Titik Temu Kalender Hijriyah, PR 20&21/2/04 [Redefinisi Hilal-Titik Temu.Doc]
  109. “IKHLAS Bersama Ruang danWaktu”, Booklet Kalender 2005, Percikan Iman [ruang-waktu.doc]
  110. Menyikapi Perbedaan Iduladha, PR 19/1/2005 [Idul Adha 1425.doc]
  111. Solusi Penyatuan Hari Raya, Republika 20/1/05 [Mencari Solusi Penyatuan Hari Raya.doc]
  112. Hisab-Rukyat Idul Fitri Mungkin Berbeda, PR 30/10/05 [Mungkinkah Ada Perbedaan Idul Fitri 1426.doc]
  113. Ketika Pluto Digugat & Implikasi Perubahan Status Pluto, PR 31/08/06 [Pluto bukan planet.doc]
  114. Menuju Penyatuan kalender Islam, Republika 14/9/06,[Menuju Kesatuan kalender Islam.doc]
  115. Penyatuan Idul Fitri, PR, 21/10/06 [Peran Pemerintah Mempersatukan Ummat beridul Fitri]
  116. Kesalahpahaman tentang Islamisasi Sains, PR 8/10/07 (Tadarus) [Sains-Islamisasi.doc, diedit redaksi]
  117. Menuju Titik Temu Menentukan 1 Syawal, Media Indonesia 10/10/07 [mengkaji akar masalah.doc]
  118. Bumi dan Peran Kita, PR, 22/4/2008 [selamatkan Bumi.doc]
  119. Penyatuan kalender Islam, Republika, 22 Mei 2017
Buku yang diterbitkan
1 Doa Inti Ibadah (Materi Diskusi Mentoring Karisma, Keluarga Remaja Islam Salman – ITB), 1985 T. Djamaluddin  (Bagian Ibadah) & Khoirul Hamdi (Bagian Doa) [sebagai Tim Penyusun Materi Mentoring – Nama penulis tidak dicantumkan pada buku materi]
2 Masyarakat Islam (Materi Diskusi Mentoring Karisma, Keluarga Remaja Islam Salman – ITB), 1985 T. Djamaluddin [sebagai Tim Penyusun Materi Mentoring – Nama penulis tidak dicantumkan pada buku materi]
3 Membina Masjid (Materi Diskusi Mentoring Karisma, Keluarga Remaja Islam Salman – ITB), 1985 T. Djamaluddin [sebagai Tim Penyusun Materi Mentoring – Nama penulis tidak dicantumkan pada buku materi]
4 Ibadah Shalat (Materi Diskusi Mentoring Karisma, Keluarga Remaja Islam Salman – ITB), 1986 T. Djamaluddin [sebagai Tim Penyusun Materi Mentoring – Nama penulis tidak dicantumkan pada buku materi]
5 Almanak Alam Islami: Sumber Rujukan Keluarga Muslim Milenium Baru, Pustaka Jaya, 2000 Rahmat Taufiq Hidayat, E. Saifuddin Anshari, Thomas Djamaluddin, Nia Kurnia
6 Kalender dan Panduan Kalender (Kalender Hijriyyah, jadwal shalat, info gerhana, penentuan arah kiblat), Percikan Iman, 2001 – …. (saat ini sampai 2007) T. Djamaluddin,

Tim Percikan Iman

7 Menggagas Fiqih Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya, Kaki Langit, 2005 T. Djamaluddin
8. Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al Quran, Khazanah Intelektual, 2006 T. Djamaluddin
9 Bertanya Pada Alam, ShofieMedia, 2006 T. Djamaluddin

10

Membumikan Astronomi untuk Memberi Solusi: Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Astronomi dan Astrofisik, LAPAN, 2009 T. Djamaluddin
11 Hisab Rukyat di Indonesia serta Permasalahannya, Puslitbang BMKG, 2010 T. Djamaluddin, Sunarjo, Muhammad Husni
12 Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat, LAPAN, 2011 T. Djamaluddin
13 Semesta Pun Berthawaf, Mizan, 2018 T. Djamaluddin
14 Bertanya Kepada Alam, Kaifa Learning T. Djamaluddin