Badai Matahari Cukup Kuat yang Pertama pada Siklus 24 Berpotensi Berdampak di Lingkungan Bumi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

(Gambar, video, dan animasi dari link di spaceweather.com dan sidc.oma.be).

Badai matahari pertama yang tergolong cukup kuat berupa ledakan flare berskala M8-9  (ada yang menyebut  M8,3 , M8,7, atau M9, tidak masalah, bisa dilihat dari grafik kekuatan  sinar-X berikut ini) terjadi pada 23 Januari 2012 pukul 03.59 UT (10:59 WIB). Flare yang cukup kuat ini yang pertama kali sejak Mei 2005.  Kelas M sebenarnya tergolong klas menengah, tetapi karena mendekati kelas ekstrem (kelas X), maka dampaknya akan cukup kuat kalau mengarah ke bumi. Flare berasal dari daerah aktif NOAA 1402 berupa bintik matahari besar di kanan atas piringan matahari (gambar bawah) dan tampak sebagai letupan terang (gambar atas).  Pancaran sinar-X yang terekam pada satelit GOES menunjukkan peningkatan tajam sampai kelas M8-9.

Flare ini juga diikuti oleh CME (Coronal Mass Ejection), lontaran massa dari korona matahari, terutama proton dengan kecepatan tinggi, 1400 km/detik. Jadi lontarannya kira-kira menjangkau jarak sepanjang Pulau Jawa hanya dalam waktu satu detik. CME terdeteksi wahana pemantau matahari SOHO pada posisi antara bumi-matahari berjarak 1.500.000  km dari bumi (sekitar 4 kali jarak bumi-bulan). Partikel bermuatan dari matahari itu tampak seperti hujan salju, yang berarti mengarah ke arah bumi. Ini disebut CME halo, karena tampak seperti melingkupi seluruh piringan matahari. Diprakirakan paratikel energetik itu mencapai bumi sekitar 24 Januari malam waktu Indonesia. Apa dampaknya? Badai matahari yang cukup kuat seperti ini berpotensi menggangu operasional satelit, seperti satelit komunikasi. Kalau itu terjadi dan tidak dapat diatasi oleh operator satelitnya, kemungkinan terjadi gangguan pada penggunaan telepon selular, siaran TV, komunikasi data perbankan, dan pengguna lainnya. Tetapi biasanya para operator satelit sudah mengantisipasinya. Dampak lainnya adalah gangguan pada ionosfer yang akan mengganggu komunikasi radio HF/gelombang pendek yang biasa digunakan oleh komunikasi jarak jauh, termasuk oleh siaran radio luar negeri seperti BBC, VOA, atau ABC. Navigasi berbasis satelit seperti GPS juga kemungkinan terganggu akurasinya, jadi jangan terlalu percaya pada posisi yang ditunjukkan GPS (frekuensi tunggal) kalau diduga ionosfer terganggu oleh badai matahari.

(Klik untuk menampikan videonya).

Inilah simulasi pergerakan partikel berenergi tinggi dari matahari setelah terjadi flare 23 Januari lalu. Bumi ditandai dengan titik kuning yang diprakirakan terkena pada 24 Januari malam.

(Klik untuk menampilkan simulasinya).

Tonggak Penyatuan Kalender Hijriyah Telah Dipancangkan, Mari Kita Wujudkan

Pengantar: Ini hanya kompilasi dokumentasi bahwa sebenarnya tonggak-tonggak upaya penyatuan kalender hijriyah di Indonesia sudah dipancangkan. Ada upaya untuk bersatu. Astronomi hanyalah alat yang ditawarkan untuk mempersatukan kalender hijriyah, karena masalahnya adalah masalah teknis kriteria penentuan awal bulan. Fatwa MUI No. 2/2004 memberi jalan untuk mengupayakan penyatuan kriteria itu. Kemudian, atas prakarsa Wapres saat itu (Pak Jusuf Kalla), pada Ramadhan 1428 (2007) dilakukan pertemuan antara Ketua PBNU dan Ketua PP Muhammadiyah. Untuk bahan masukan bagi Wapres, Menteri Agama saat itu (Pak Maftuh Basuni) mengundang saya (T. Djamaluddin) pada 2 Ramadhan 1428 (14 September 2007) menanyakan penyatuan seperti apa yang bisa diupayakan antara Muhammadiyah (berdasarkan hisab) dan NU (berdasarkan rukyat). Saya sarankan untuk mengupayakan penyatuan kriteria hisab rukyat yang merupakan titik temu antara hisab dan rukyat yang juga sudah menjadi rekomendasi fatwa MUI nomor 2/2004. Pertemuan antara Wapres dengan Ketua PP Muhammadiyah dan Ketua PBNU terlaksana pada 24 September 2007 dan disepakati untuk menyamakan persepsi. Kemudian pertemuan itu ditindaklanjuti dengan dua kali pertemuan teknis antara Lajnah Falakiyah PBNU dan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Pertama di PBNU Jakarta dan kedua di PP Muhammadiyah Yogyakarta. Sayang pertemuan teknis ke-3 yang direncanakan di UIN Jakarta belum juga terwujud sehingga tonggak-tonggak yang sudah terpancang itu belum ada tindaklanjutnya. Kita semua bisa mendorong upaya mewujudkan penyatuan kalender hijriyah itu.

Berikut ini dokumentasi fatwa MUI nomor 2/2004 dan laporan situs Muhammadiyah dan NU tentang pertemuan bersama Wapres dan pertemuan teknis di PBNU dan di PP Muhammadiyah.

(Ulasan tentang Fatwa MUI bisa di baca di Fatwa MUI Membuka Jalan Penyatuan Hari Raya)

Wapres Bertemu PBNU dan Muhammadiyah, Upayakan Penyatuan Lebaran
Senin, 24 September 2007 14:54

Jakarta, NU Online
Wakil Presiden M Jusuf Kalla melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dan Ketua Penguru Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin untuk membicarakan penetapan hari raya Idul Fitri.

Pertemuan dilakukan di Kantor Wapres Jakarta, Senin. Sebelumnya Wapres meminta PP Muhammadiyah dan PBNU bisa membicarakan bersama dan mencari titik temu dalam penetapan hari raya Idul Fitri.

Dalam pertemuan tersebut selain Wapres M Jusuf Kalla, juga hadir Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Menteri Agama Mahtuf Basyumi, Mensos Bachtiar Chamsyah serta Quraish Shihab.

Jusuf Kalla berharap agar keseragaman penetapan hari raya ini bisa dilaksanakan mulai Idul Fitri tahun depan karena pada Lebaran kali ini ada kemungkinan perbedaan. Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada 12 Oktober 2007.

Perbedaan penetapan hari raya Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah yang terjadi selama ini dikarenakan perbedaan metode yang digunakan. NU menggunakan metode rukyat atau melihat bulan dengan mata telanjang sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan matematis untuk menetapkan bulan baru tanpa perlu melakukan rukyat sehingga jauh-jauh hari sudah bisa menetapkan kapan lebaran akan tiba. (ant/mkf)

Muhammadiyah-NU Samakan Persepsi Penentuan 1 Syawal 1428 H                           

Miftachul Huda   (muhammadiyah.or.id)

Jakarta – Muhammadiyah dan NU sepakat untuk menyamakan persepsi dalam penentuan hari raya Idul Fitri 1428 H. Hal ini dilakukan dengan harapan agar tidak terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya Idul Fitri 1428 H mendatang. ”Kita sepakat, untuk menyamakan persepsi dalam penentuan 1 Syawal agar tidak terjadi perbedaan,” kata Oman Faturrahman, salah seorang wakil dari PP Muhammadiyah. Komitmen ini sebagaimana tercermin dalam pertemuan antara Muhammadiyah-NU di Istana Wapres pagi ini (24/09/2007) di Jakarta.

Kemarin, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengundang masing-masing pengurus Muhammadiyah dan NU untuk membicarakan penentuan 1 Syawal 1428 H. Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah telah mengeluarkan maklumat yang menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada 12 Oktober 2007. Kemungkinan besar, keputusan Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab ini berbeda dengan keputusan NU yang memakai metode ru’yah.

Hadir dalam pertemuan tersebut para tokoh dari kedua belah pihak. Dari Muhammadiyah diantaranya, Din Syamsuddin, Oman Faturrahman, dan Syamsul Anwar. Sedang dari NU diantaranya, Hasyim Muzadi dan Ghazali Masruri.

Pertemuan tersebut merupakan pertemuan awal yang masih akan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. ”Kita masih akan mengadakan pertemuan kembali dari para alim-ulama dari Muhammadiyah dan NU secara bergulir. Pertama di kantor PB NU dan selanjutnya bergiliran di kantor PP Muhammadiyah,” tambah Oman. []

NU-Muhammadiyah Bertemu Samakan Penentuan Idul Fitri, Besok
Senin, 1 Oktober 2007 19:47

Jakarta, NU Online

Dua organisasi kemasyarakatan Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan menggelar pertemuan untuk membahas penyamaan metode penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Pertemuan yang bakal diikuti ulama falak (ahli ilmu kaji bintang) NU dan ulama hisab Muhmmadiyah itu digelar di Kantor Pengurus Besar NU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (2/10) besok.
“Besok tanggal 2 ada pertemuan ulama falak NU dan ulama hisab Muhammadiyah di kantor PBNU untuk mendekatkan metodologi dalam menentukan awal bulan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, di kantor Center for Dialogue and Corporation Among Civilization di Jl Kemiri, Jakarta, Senin (1/10).
Menurut Din, bila dalam pertemuan tersebut tidak terjadi kesepakatan, maka masyarakat harus saling menghormati satu sama lain. “Perbedaan Idul Fitri yang masih mungkin terjadi perlu diatasi dengan terus menerus mendekatkan metodologi. Namun, bila belum bisa disatukan, mari kita bertoleransi dalam perbedaan,” jelas Din.
Hal yang sama dikatakan Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah NU, KH Ghozalie Masroerie. Menurutnya, pertemuan yang dijadwalkan akan dimulai pada pukul 10.00 WIB itu dilakukan guna menyamakan kriteria antara kedua ormas yang bisa dijadikan landasan bagi penentuan awal bulan Syawal.
Selain itu, katanya, pertemuan tersebut juga diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan landasan baku yang disepakati kedua ormas yang bisa digunakan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah untuk tahun berikutnya, agar tidak ada lagi perbedaan.

“Selama ini ‘kan kita berharap, misal, Ramadhan dan Lebaran harus sama. Tapi kriteria dan landasannya apa, kan tidak ada. Maka dari itu, pertemuan besok diharapkan tercipta sebuah kesepakatan mengenai kriteria dan landasannya itu,” terang Kiai Ghozalie, begitu panggilan akrabnya.

Kiai Ghozalie meminta umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) dan warga Muhammadiyah, bisa bersikap dewasa bila nantinya tidak tercapai kesepakatan tentang penyamaan Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah. “Disikapi secara dewasa. Tidak perlu jadi masalah,” pungkasnya.
Muhammadiyah, melalui metode hisab (perhitungan astronomi) menetapkan 1 Syawal jatuh pada Jumat 12 Oktober 2007. Sementara, NU masih akan menentukannya pada Kamis 11 Oktober 2007 setelah melalui proses rukyat (melihat bulan) dan sidang isbat (penentuan) yang digelar Departemen Agama. Bila pada Kamis itu proses rukyat tidak tercapai, maka NU akan mengikuti keputusan pemerintah. (rif/dtc)

NU dan Muhammadiyah Bersepakat

Macchendra Setyo Atmaja   (muhammadiyah.or.id)

Jakarta- Walaupun dalam hal penetapan hari raya Idul Fitri tidak bersepakat, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam pertemuan silturahmi di Gedung PBNU Jakarta, menyepakati tentang pentingnya rumusan Kalender Hijriyah nasional yang terpisah dengan Kalender Masehi yang ada, hal ini disampaikan wakil sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Susiknan Azhari saat dihubungi muhammadiyah.or.id, Selasa (02/10/2007).

Susiknan Azhari yang ikut dalam rombongan acara silaturahmi ke Gedung PBNU mengungkapkan adanya kesepahaman antara NU dan Muhammadiyah akan pentingnya Kalender Hijriyah, “Dalam pertemuan tadi (kemarin) kita bersepakat mengenai pentingnya Kalender Hijriyah Nasional, dan mungkin hal tersebut akan kita bahas lagi pada pertemuan lanjutan sesudah Lebaran nanti,” ungkap Siknan. Lebih lanjut menurut Susiknan, pada prinsipnya NU dan Muhammadiyah punya itikad untuk menyatukan perbedaan, hanya saja menurutnya, perbedaan Madzhab menjadi hal yang mempunyai porsi yang banyak untuk dibicarakan. “Untuk mendekatkan perbedaan yang ada, Muhammadiyah dan NU juga bersepakat akan terus megadakan dialog sebagai upaya penyatuan tadi, dan saya kira ini adalah sinyal positif,” ungkap Siknan.

Pada pertemuan silturahmi antara NU dan Muhammdiyah kemarin menurut Siknan, berlangsung dalam suasanan yang cair, NU dan Muhammadiyah saling bertukar informasi mengenai metode yang dipakai masing-masing. “Pak Maftuh (Menteri Agama RI) juga mengapresiasi pertemuan ini, menurut beliau pertemuan ini merupakan langkah maju dan beliau bangga terhadap hal ini,” ungkap Siknan (mac)

Syamsul: “Perlu Mengalah Untuk Ummat”                                 

 Machhendra Setyo Atmaja   (muhammadiyah.or.id)

 

Majlelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dan Lajnah Falakiyah Nadhatul Ulama berfoto bersama setelah acara

Yogyakarta- Sudah saatnya NU dan Muhammadiyah mengalah untuk ummat, sehingga harus ada kesepakatan bersama agar ummat tidak lagi bingung akibat keputusan yang dihasilkan, perlu ada penyatuan kalender Hijriyah yang dapat jadi pedoman seluruh ummat Islam dunia, demikian disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) muhammadiyah Syamsul Anwar, di sesi akhir acara Pertemuan Pembahasan Awal Bulan Qomariyah PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama di Gedung PP Muhammadiyah jln Cik Di Tiro, Yogyakarta, Kamis (06/12/2007).

Syamsul mengungkapkan, sangat penting untuk mempunyai Kalender bersama yang berlaku secara Internasional, “Ummat Islam telah sekitar 14 abad eksis di dunia, tetapi sampai setua itu tidak pernah mempunyai kesamaan Kalender yang diterapkan secara Internasional, untuk itu sudah saatnya kini kita memikirkan ummat secara keseluruhan dengan membikin Kalender Bersama yang berlaku secara Internasional,” ungkapnya. Lebih lanjut menurut Syamsul, dalam penentuan metode untuk menyusul Kalender bersama memang paling mudah menggunakan metode hisab, karena apabila menggunakan rukyat, harus menunggu dalam melihat hilal satu hari atau dua hari sebelum hari H. Tetapi menurut Syamsul, perlu dipelajari lagi untuk mendekatkan metode hisab dan rukyat, sehingga mungkin ada jalan kompromi di dalamnya. Sedangkan dari pihak NU melalui Slamet Hambali mengatakan, sudah bukan saatnya lagi NU dan Muhammadiyah bertahan pada argumentasinya masing-masing, menurutnya apabila semuanya bertahan pada argumentasi masing-masing, maka tidak akan pernah ketemu pada satu jalan, “Pada dasarnya NU juga menerima perubahan, inni hal yang cukup menarik, walaupun belum satu kata,” ungkapnya.

 Menurut Symsul Anwar, pada pertemuan ini disepakati untuk mengadakan pertemuan lanjutan yang akan lebih dalam mengulas masalah penyatuan Kalender  yang rencananya diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. “Dengan pertemuan ini dan selanjutnya saya harap dapat lebih dalam membahas metode, dan tentu saja di sisi lain mungkin juga membahas masalah-masalah lain, sehingga dengan demikian isu tentang NU dan Muhammadiyah yang tidak bisa bertemu tidak diperdebatkan lagi,” terangnya. (mac)

Kritik Pakar Astronomi Muslim dari Timur Tengah dan Amerika atas Penetapan Idul Fitri 1432 dan Penggunaan Wujudul Hilal

Pengantar: Dua puluh lima pakar astronomi Muslim dari Timur Tengah dan Amerika Serikat menandatangani komunike yang mengkritik penentuan Idul Fitri 1432 pada 30 Agustus, sekaligus mengkritik wujudul hilal. Komunike asli berbahasa Inggris, silakan klik link berikut ini. Versi bahasa Indonesia terjemahan T. Djamaluddin.

Communiqué from Muslim Astronomers regarding the “sighting” of the crescent of Eid-ul-Fitr 1432

Komunike dari astronom Muslim (dan anggota Komite Ilmiah ICOP – Islamic Crescents’ Observation Project ) mengenai “ketampakan” Hilal Idul Fitri 1432

Keputusan oleh otoritas di Arab Saudi, Mesir, dan Aljazair untuk mengumumkan Idul Fitri pada 30 Agustus 1432 (2011) telah  menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Memang, seminggu sebelumnya, 22 astronom Muslim dan para ahli telah merilis sebuah komunike yang menyatakan bahwa ketampakan bulan sabit pada hari Senin Agustus / 29 Ramadhan tidak akan mungkin, dan begitu pula sejumlah individu dan lembaga astronomi lainnya.

Sebagai astronom muslim (sebagian besar dari kami adalah profesor universitas yang telah menerbitkan makalah pada jurnal internasional) dan sebagai sebuah komite ilmiah formal ICOP (lembaga khusus internasional yang menangani masalah ini), kami melihatnya sebagai tugas kami untuk mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan ini dengan cara yang baik dan obyektif. Kami juga ingin mengatakan, bahwa astronom amatir sering memiliki keterampilan tinggi dan pengalaman dan kadang-kadang membuat penemuan yang dipuji dan diadopsi oleh para astronom, karena langit terbuka untuk semua serta instrumen canggih dan teknik telah tersedia dengan  biaya murah, oleh karena itu adalah salah dan tidak adil untuk menggambarkan orang dengan sebutan “amatir” seolah-olah tidak berkemampuan.

Tanggung jawab moral dan agama menuntun kami untuk menyajikan fakta-fakta yang  jelas untuk semua orang yang mencari kebenaran obyektif. Memang, kami mengatakan dengan keras dan jelas: bulan sabit tidak bisa dilihat dari negara-negara Islam pada malam itu, baik dengan mata telanjang maupun dengan teleskop.

Sekarang, kami ingin menekankan bahwa kritik kami bukan pada fakta bahwa Idul Fitri diumumkan pada 30 Agustus, itu bukan urusan kami sebagai astronom Idul Fitri pada hari Selasa (30) atau Rabu (31), karena yang keputusan demikian adalah hak prerogatif dari lembaga yang berwenang untuk itu, dan masing-masing mendasarkan keputusannya pada beberapa prinsipfiqii. Memang, ada beberapa pilihan yang tersedia untuk fuqaha (ahli hukum Islam) pada hari Senin 29, sebagaimana kami jelaskan secara singkat di bawah ini. Masalahnya dan kritik kami hanya karena fuqaha menyerahkan hak prerogatif ilmiah kepada diri mereka sendiri untuk memutuskan apa hilal bisa atau tidak bisa dilihat. Ini adalah murni masalah astronomi. Sebagai fuqaha mereka tidak mengizinkan para astronom atau pakar di bidang lain untuk berbicara tentang urusan agama. Kami tidak mengerti bagaimana mereka bersikeras (dan terus melakukannya dalam artikel yang mereka terbitkan sendiri) memutuskan sendiri bahwa hilal ini dapat atau tidak dapat terlihat.

Kami rangkumkan  sangat singkat fakta-fakta astronomi yang berkaitan dengan 29 Ramadhan/Agustus: di belahan utara negara-negara Islam  (lebih utara dari Riyadh, secara umum), bulan terbenam sebelum matahari; di belahan  selatan, bulan terbenam setelah matahari tetapi dengan beda waktu yang sangat singkat (kurang dari 10 menit, dan di banyak tempat kurang dari 5 menit, padahal rekor dunia beda waktu terlihatnya hilal terlihat oleh mata telanjang adalah 29 menit, dan dengan teleskop 20 menit), sehingga hilal  tidak bisa dilihat di semua daerah tersebut dalam berbagai kondisi. Visibilitas hanya mungkin oleh teleskop di Afrika Selatan, dan dengan mata telanjang di bagian Selatan benua Amerika.

Oleh karena itu, fuqaha punya 3 pilihan yang  ilmiah dan mengikuti syar’i:

  1. Untuk mendasarkan diri pada keberadaan  (bukan ketampakan) bulan di langit pada ketinggian tertentu pada suatu lokasi dan memutuskan awal Syawal pada Selasa 30, ini adalah prinsip kriteria yang digunakan oleh negara-negara seperti Turki dan Malaysia.
  2. Untuk menerima kemungkinan ketampakan (imkan al-ru’yah) dari hilal di Afrika Selatan atau Amerika Selatan, baik menunggu konfirmasi ketampakan atau tidak, kemudian memutuskan Idul Fitri untuk Selasa 30. Ini dilakukan Dewan Eropa untuk Fatwa dan Penelitian.
  3. Untuk bersikeras pada ketampakan lokal atau regional dan kesaksian (seperti negara-negara seperti Oman dan Maroko lakukan). Dalam hal ini Idul Fitri hanya mungkin pada Rabu 31 Agustus. Ini dilakukan  Oman yang mengumumkan sepekan sebelumnya dan Maroko setelah menerima kesaksian pada tanggal 30.

Tetapi mengumumkan bahwa setiap bulan terbenam setelah matahari walau satu menit atau kurang itu berpotensi terlihat sebagai hilal hanyalah  upaya melangkahi kepakaran dan prerogatif astronom  dan penolakan yang tidak dapat dibenarkan atas  ratusan makalah dan ribuan pengamatan yang tercatat dalam literatur ilmiah. Allah mengatakan: “Bertanyalah  kepada pakarnya (Ahl adz-Dzikr) jika kamu tidak tahu.” [Quran 21:07]

Seperti ada kampanye busuk yang telah dilancarkan terhadap para astronom pada umumnya (dan amatir khususnya) dan tuduhan bahwa kami  hanya  mengikuti keinginan, angan-anagan, atau sejenisnya. Kami menyesalkan secara mendalam hal seperti itu datang dari sesama Muslim, khususnya dari ulama dan pejabat .

Kami berdoa kepada Allah bahwa Dia memimpin kami semua dalam menyampaikan pemikiran, semoga Dia menerima amal kami dan menolong  kami untuk melayani umat dan meningkatkan citra Islam di dunia. Semoga Dia mengumpulkan kita semua bersatu dalam  kebenaran. Ya Allah, kami telah menyampaikannya. Ya Allah, Engkaulah saksinya.

Para penandatangan:

  1. Prof. Nidhal Guessoum, professor of Physics and Astronomy at the American University of Sharjah and Chair of ICOP’s scientific committee;
  2. Dr. Ilias Fernini, professor of Physics and Astronomy at the UAE University and member of ICOP’s scientific committee;
  3. Dr. Hayman Zain al-Abidin Metwally, professor of Astronomy and Space Sciences at Cairo University and member of ICOP’s scientific committee;
  4. Dr. Saleh Al-Shidhani, professor of Astronomy and Space Sciences at Sultan Qaboos University and member of ICOP’s scientific committee;
  5. Eng. Mohammad Shawkat Odeh, member of ICOP’s scientific committee;
  6. Dr. Mohibullah Durrani, Astronomer, expert in the crescent problem, Columbia University, USA, and member of ICOP’s scientific committee;
  7. Mr. Jim Stamm, Astronomer, expert in the crescent problem, USA, and member of ICOP’s scientific committee;
  8. Dr. Khalid bin Salah Az-Zaaq, Director of the Buraida Observatory, Saudi Arabia;
  9. Prof. Mussalam Shaltout, professor of Astronomy at the National Institute of Research in Astronomy and Geophysics, Helwan, Egypt;
  10. Mr. Sulaiman bin Hilal Al-Busaidi, Astronomer at the Sultan’s Court Affairs, Sultanate of Oman;
  11. Mr. Hasan Ahmad Hariri, president of the Dubai Astronomy Group, UAE;
  12. Ms. Basma Dhiab, vice-president of the Jordanian Astronomical Society, Jordan;
  13. Prof. Jalal-Eddine Khanji, Islamic Astronomy exprt and president of Ebla University, Aleppo, Syria;
  14. Eng. Ammar bin Salem Ar-Rawahi, Astronomer at the Ministry of Awqaf (Endowments) and Religious Affairs, Sultanate of Oman;
  15. Prof. Sharaf Al-Qudah, former chair of the Fundamentals of Religion department at the Jordanian University, Jordan;
  16. Dr. Muawiya Sheddad, professor of Astronomy at Khartoum University, Sudan;
  17. Dr. Subaih Al-Saidi, Astronomer and consultant at the Ministry of Education, Sultanate of Oman;
  18. Eng. Muhammad Salem Al-Busaidi, Astronomer, Sultanate of Oman;
  19. Eng. Ali Amraoui, Astronomer at the Ministry of Awqaf (Endowment), Morocco;
  20. Mr. Adnan Abdulmonaim Qadi, researcher in Islamic Astronomy, Saudi Arabia;
  21. Mr. Ali Al-Hijri, Astronomer and researcher, Bahrain;
  22. Prof. Jamal Mimouni, professor of Physics and Astronomy, Constantine University, Algeria;
  23. Eng. Sakhr Saif, Emirates Astronomy Association and member of the official Emirati crescents sighting committee, UAE;
  24. Prof. Ali Tahar Sharaf-Eddine, Director of Sudan’s Institute of Natural Sciences, member of the Space Sciences, Astronomy, and Meteorology committee, and member of the crescents sighting committee, Sudan.
  25. Eng. Mansour Eshgeafa, Head of Astronomy and Observatories Section, Benghazi, Libya.

Presentasi di Diklat Lajnah Falakiyah PBNU 2006: “Imkan Rukyat: Parameter Penampakan Sabit Hilal dan Ragam Kriterianya”

T. Djamaluddin

Pengantar: Sebagai peneliti astronomi yang tak berafiliasi dengan ormas Islam tertentu, saya sering diundang berbagai ormas Islam (terutama NU, Muhammadiyah, dan Persis) untuk memaparkan konsep-konsep astronomi terkait dengan hisab-rukyat. Saya selalu mengkritisi praktek-praktek hisab rukyat di Ormas Islam yang mengundang untuk penyempurnaan metode dan kriteria yang mereka gunakan agar bisa mengarah pada penyatuan kalender Islam. Astronomi bisa membantu mempersatukan rukyat dan hisab dengan kriteria imkan rukyat. Berikut ini salah satu presentasi saya dalam Diklat Hisab Rukyat yang diselenggaran oleh Lajnah Falakiyah PBNU di Cirebon pada 2006. File presentasi dan makalah lengkapnya dalam format PDF dapat didownload di bawah ini.

Presentasi lengkap: NU-Diklat-Imkan Rukyat-Presentasi

Makalah lengkap: NU-Diklat-Imkan Rukyat-makalah

Makalah ini juga dipublikasi di Republika 14 September 2006.

Presentasi di Munas Tarjih PP Muhammadiyah 2003: Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi

T. Djamaluddin

Pengantar: Pada Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah Oktober 2003 di Padang saya diundang untuk berbicara tentang “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Judul itu diminta oleh panitia. Namun saya memperluas dan memperhalus menjadi “Pengertian dan Perbandingan Madzhab tentang Hisab Rukyat dan Mathla” dengan tetap mecantumkan judul yang diminta Panitia. Alasan saya memperluas judul, karena saya bukan hanya mengkritisi wujudul hilal, tetapi juga imkan rukyat yang terlalu rendah.

File presentasi dan makalah lengkap dalam format PDF bisa didownload di bagian bawah slide-slide presentasi ini.

File presentasi lengkap dalam format PDF: Tarjih Muhammadiyah 2003-Presentasi

File makalah lengkap dalam format PDF: Tarjih Muhammadiyah 2003-makalah

(Makalah ini dipublikasikan juga di PR 20 dan 21 Februari 2004 dengan sedikit penyesuaian Redefinisi Hilal Menuju Titik Temu Kalender Hijriyah )

Usulan baru kriteria imkan rukyat (2010) ada dalam booklet berikut: Astronomi-Memberi-Solusi-Penyatuan-Ummat-Lengkap

Pesawat Antariksa Phobos-Grunt Gagal Menuju Mars dan Segera Jatuh ke Bumi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

(Gambar di ambil dari berbagai sumber di internet)

Phobos-Grunt (bermakna “Tanah Phobos”) adalah pesawat antariksa yang direncanakan meluncur ke Planet Mars, lalu singgah di satelitnya yang bernama Phobos, dan mengambil sampel tanah Phobos lalu kembali ke bumi. Pesawat antariksa berbobot 13,2 ton itu ternyata gagal meluncur ke Mars setelah beberapa kali mengorbit bumi dan bermanuver mengubah orbitnya menujuk orbit lebih tinggi. Missi antariksa yang direncanakan sampai tahun 2014 itu diluncurkan pada 9 November lalu.

Inilah skenario missi ke planet Mars dan satelitnya  lalu kembali membawa sampel tanah Phobos pada 2014. Garis biru adalah trayektori menuju Phobos dan garis merah adalah trayektori kembali ke bumi.

Tahap pertama berhasil menempatkan Phobos-Grunt pada orbit 207 × 347 km (jarak terdekat dengan bumi 207 km dan jarak terjauh 347 km) dengan inklinasi 51,4. Namun motor roketnya yang dirancang otomatis gagal untuk mengantar ke tahap selanjutnya ke orbit 250 x 4.710 km. Jadilah Phobos-Grunt tertahan di orbit rendah dan mengalami efek pengereman oleh atmosfer sehingga Phobos-Grunt makin melorot ketinggiannya dari 207 x 347 km menjadi sekitar 163 x 199 km pada 11 Januari 2012. Ketika ketinggianya mencapai sekitar 120 km, Phobos-Grunt tidak mampu lalu melanjutkan orbitnya dan segera jatuh. Saat ini Phobos-Grunt jatuh tidak dikendalikan oleh sistem komputernya. Video yang direkam oleh seorang astronom amatir menunjukkan Phobos-Grunt bergerak hanya dikendalikan oleh gaya gravitasinya dengan beban terbesar berada di depan jalur orbitnya.

Berikut ini video simulasi oleh AGI tentang rencana misi awal sampai simulasi jatuhnya Phobos-Grunt dan prakiraan dampaknya:

Kapan dan dimana akan jatuhnya? Tidak mungkin diprakirakan secara tepat waktu dan lokasi jatuhnya, karena efek pengereman oleh atmosfer sangat dinamis sekali. Prakiraan sampai 15 Januari malam  ini, Phobos-Grunt diprakirakan akan jatuh sekitar dini hari  Senin 16 Januari ini 2012 di luar wilayah Indonesia, tetapi melintasi wilayah Indonesia. Bila kondisi matahari lebih aktif dari saat ini, maka prakiraan jatuh akan lebih cepat karena atmosfer akan menjadi lebih rapat. Sedangkan bila matahari lebih tenang maka Phobos-Grunt akan jatuh lebih lambat lagi karena atmosfer berkurang kerapatannya. Pada awal Januari ini, Phobos-Grunt ketinggiannya terus menurun sekitar 8 km/hari dan akan makin cepat turun karena atmosfer yang dilalui makin rapat. Inilah data penurunan ketinggian rata-rata Phobos-Grunt sampai saat ini:

Berikut ini prakiraan lintasan sekitar titik jatuh Phobos-Grunt pada dini hari 16 Januari 2012 berdasarkan data pada 15 Januari malam. Prakiraan ini masih akan berubah mengikuti dinamika atmosfer yang menghambat laju orbit Phobos-Grunt. Baru sekitar 2 jam menjelang jatuh, lintasan terakhir baru bisa dipastikan, tetapi titik jatuhnya masih mempunyai ketidakpastian ribuan kilometer. LAPAN akan terus memantau untuk memastikan wilayah Indonesia aman atau tidak pada lintasan terakhir Phobos-Grunt menjelang jatuhnya. Ketika ketinggian mencapai sekitar  120 km, Phobos-Grunt sudah dianggap pada orbit kritis menuju jatuh dan Phobos-Grunt akan mulai terbakar dan pecah. Pecahannya yang tersisa mungkin tersebar luas. Namun kemungkinan untuk mengenai wilayah berpenduduk diprakirakan sangat kecil, karena wilayah orbitnya di antara 51,4 derajat lintang utara sampai 51,4 derajat lintang selatan sebagian besar merupakan wilayah lautan, gurun, dan hutan.

(Prakiraan dengan Satevo di www.calsky.com)

Inilah gabungan prakiraan USSTRATCOM (Komando Strategis AS) yang memprakirakan jatuh sekitar pukul 23.11 – 01.35 WIB malam Senin dan prakiraan Satevo di Calsky yang memprakirakan sekitar pukul 03.08 WIB yang saya olah dengan Winorbit. Orbit Phobos-Grunt melintas Indonesia adalah pukul 01.47 WIB (03.47 WIT) saat melintas Papua dan pukul 03.13 WIB saat melintas Kalimantan Barat menuju Nusa Tenggara. Wilayah Maluku, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera dipastikan aman.

Lintasan terakhir menjelang jatuh bisa juga diikuti update-nya di situs LAPAN .

Ketidakpastian prakiraan waktu jatuh (yang berarti juga ketidakpastian lokasi jatuhnya) bisa dilihat dari catatan perubahan prakiraan dengan Satevo di www.calsky.com. Terlihat rentang ketidakpastian menjadi makin sempit, tetapi tetap masih menyisakan ketidakpastian +/- beberapa jam.

Laporan terakhir dari USSTRATCOM (Komando Strategis AS), menyatakan data radar terakhir tercatat pukul 23.36 WIB dan berdasarkan data terakhir itu Phobos-Grunt jatuh antara pukul 23.59 – 01.47 WIB malam Senin dini hari 16 Januari 2012. Lintasan terakhir yang merupakan wilayah yang kemungkinan kejatuhan puing-puingnya merentang mulai dari Asia Tengah, Pasifik Barat, sampai Pasifik Selatan.

2011 in review

Statistik WordPress.com memberikan laporan tahunan 2011 tentang blog ini:

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 180,000 times in 2011. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 8 days for that many people to see it.

Blog ini mendapat sekitar 180.000 kunjungan selama 2011. Hari tersibuk adalah ketika terjadi heboh penentuan Idul Fitri pada 30 Agustsu 2011 dengan jumlah pengunjung hari itu: 23.942 dan menempatkan blog ini salah satu blok peringkat teratas di antara pengguna WordPress. Saya berharap blog ini memberikan pencerahan kepada banyak orang, walau mungkin menimbulkan kontroversi. Silakan berikan tanggapan pada hal substansinya agar diskusi akan mematangkan pemahaman kita. Tanggapan subjektif ketidaksetujuan saya biarkan terpampang di blog ini, kecuali beberapa yang terpaksa saya hapus karena menggunakan kata-kata yang tak layak menurut norma publik.”

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

(Gambar dari Wikipedia)

Kalender adalah hasil perhitungan (hisab) dengan suatu kriteria tertentu dalam menetapkan hari dan tanggal setiap siklus harian, bulanan, dan tahunannya. Karena bumi kita bulat, awal hari, awal bulan, atau awal tahun pada sistem kelender global harus ditetapkan batasnya. Itulah yang dinamakan garis tanggal. Secara umum ada 2 sistem kalender, sistem matahari (solar calendar atau almanak syamsiah, berdasarkan ketampakan matahari) dan sistem bulan (lunar calendar atau almanak qamariyah, berdasarkan ketampakan bulan). Animasi di atas adalah ilustrasi garis tanggal internasional (International Datel Line, IDL, berupa garis merah yang berputar mengikuti rotasi bumi) untuk kelender matahari. Pada kalender matahari internasional, awal hari ditetapkan pada tengah malam pukul 00.00. Jadi, ketika IDL melintasi waktu pukul 00.00 maka saat itulah mulai terjadi pergantian hari dan tanggal.

Garis tanggal internasional ditetapkan sekitar garis bujur 180 derajat. Tidak mungkin lurus karena mengikuti keputusan otoritas di sekitar garis tanggal itu. Sampai 1845 Filipina dan Indonesia terpisah oleh garis tanggal. Alasannya, penjajah Spanyol datangnya dari arah benua Amerika, jadi harinya disamakan dengan waktu di benua Amerika. Demikian juga Alaska. Sampai 1867, Alaska dan Kanada terpisah oleh garis tanggal, karena Alaska masih milik Rusia sebelum dibeli oleh Amerika Serikat. Kiribiti pada 1995 menggeser garis tanggal 30 derajat ke Timur, sehingga hari di Kiribiti sama dengan negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Berikut ini garis tanggal internasional yang disepakati saat ini:

Updated: Sejak 31 Desember Samoa dan Tokelau menggeser garis tanggalnya ke arah Timur, sehingga mengikuti wilayah waktu negara-negara tetangganya di Asia Pasifik. Samoa dan Tokelau melompat dari Kamis 29 Desember menjadi Sabtu 30 Desember 2011. Gari tanggalnya menjadi seperti berikut:

(Gambar dari The Australian.com.au)

Bagaimana kalender Hijriyah yang berdasarkan bulan akan diglobalisasikan? Prinsipnya sama, harus ada garis tanggal. Namun harus disadari, hari harus tunggal, baik untuk kalender matahari maupun kalender bulan, walau mulainya bisa saja sedikit berbeda. Maka, hari mengikuti sistem kalender matahari dengan garis batas hari sama dengan garis tanggal internasional, tetapi mulainya sejaka maghrib saat biasa dilakukan rukyat. Nah, awal tanggalnya yang harus ditetapkan berdasarkan garis tanggal menurut kriteria yang disepakati secara global. Kalender Hijriyah didasarkan pada kriteria ketampakan hilal, walau rumusannya belum ada kesepakatan. Bagaimana pun, memberlakukan suatu sistem secara global harus didasarkan pada kesepakatan global juga. Kesepakatan yang utama adalah kriterianya. Dengan kriteria yang disepakati, mudah saja dibuatkan garis tanggalnya. Astronom mudah membuatkan garis tanggal itu tergantung kriteria yang disepakati.

Berikut contoh garis tanggal awal Syawal 1432 berdasarkan 3 kriteria:

(1) Kriteria Wujudul Hilal, kriteria paling sederhana, hanya berdasarkan hitungan bulan lebih lambat terbenam dari matahari sesudah ijtimak (Garis merah).

(2) Kriteria Imkan Rukyat 2 derajat, yang sederhana hanya didasarkan pada data rukyat terbatas yang belum tervalidasi (Garis kuning).

(3) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang didasarkan pada data rukyat secara global dan jangka panjang yang divalidasi secara astronomis (Garis biru).

Dari tiga kriteria itu silakan dipertimbangkan untuk diajukan secara global untuk disepakati. Kalender Hijriyah yang kita kehendaki adalah kalender yang bisa digunakan untuk penetapan waktu ibadah, bukan sekadar kalender administratif ala Ummul Quro di Arab Saudi . Arab Saudi menetapkan waktu ibadah dengan rukyatul hilal, tidak bergantung pada kalender Ummul Quro.

(1) Kriteria Wujudul Hilal tidak populer secara internasional dan pada saat posisi bulan rendah pasti terjadi perbedaan dengan hasil rukyat yang masih diprakteknya di banyak negara (termasuk Arab Saudi).

(2) Kriteria Imkan rukyat 2 derajat, walau pun masih sederhana dan hanya didasarkan pada beberapa data rukyat yang belum tervalidasi, kriteria ini telah disepakati oleh sebagian besar ormas Islam di Indonesia dan negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

(2) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang punya landasan ilmiah astronomis.

Kalau sudah disepakati kriterianya, langkah berikutnya adalah implementasinya.

(a) Kalau mau diberlakukan secara global (satu hari-satu tanggal dalam sistem kalender Masehi, ala Jamaluddin Ar-Raziq dari Maroko), maka penetapan tanggal didasarkan pada imkan rukyat pertama kali. Kalau digunakan kriteria Imkan Rukyat Astronomis (garis biru), Afrika bagian Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sudah imkan rukyat pada 29 Agustus. Maka 1 Syawal berlaku global jatuh pada haris Selasa, 30 Agustus 2011. Dengan sistem ini rukyat lokal tidak berlaku lagi. Tetapi, selama belum ada otoritas tunggal secara global ala khilafah, cara ini sulit diimplementasikan.

(b) Kalau mau diberlakukan atas dasar zona atau regional, maka implementasinya didasarkan pada imkan rukyat yang pertama kali di zona atau regional tersebut. Namun ini pun bergantung pada kesepakatan zona atau regional tersebut. Saat ini baru ada kesepakatan di antara negera-negara MABIMS. Maka bila itu diterapkan di regional MABIMS (yang mungkin diperluas ke ASEAN), maka dari garis tanggal tersebut (garis biru) terlihat imkan rukyat di wilayah Asia Tenggara baru terjadi pada 30 Agsutus, sehingga di regional tersebut 1 Syawal jatuh pada 31 Agsutus 2011.

(c) Implementasi realistis yang mungkin diterapkan saat ini adalah dengan prinsip wilayatul hukmi, yaitu berdasarkan otoritas wilayah hukum negara. Kalau prinsip wilayatul hukmi yang diterapkan, maka awal bulan didasarkan pada imkan rukyat pertama kali di sebagian wilayah negara tersebut. Maka kita akan melihat garis tanggal dibelok-belokkaan mengikuti batas negara, mirip seperti dibelok-belokkanya garis tanggal internasional. Garis tanggal 1 Syawal 1432 menjadi seperti berikut ini:

Satelit Alami Bumi Selain Bulan Sesungguhnya Asteroid

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Gambar dari Wikipedia)

Benarkah hanya bulan satelit bumi yang alami? Ya. Satelit bumi yang alami adalah yang mengitari bumi (geosentrik) dan orbitnya sepenuhnya didominiasi oleh gravitasi bumi. Sampai saat ini hanya bulan yang mempunyai sifat orbit seperti itu.

Namun ada beberapa objek yang kini diketahui seolah seperti satelit bumi, walau hanya untuk sementara. Beberapa objek itu antara lain 2006 RH120, 2002 AA29 , dan 3753 Cruithne. Dari bumi, asteroid itu tampak seperti mengitari bumi, walau dengan jarak yang berubah-ubah, tidak mengikuti orbit lonjong lazimnya gerak orbit yang dipengaruhi gravitasi bumi. Gambar di atas adalah ilustrasi untuk asteroid Crithne yang mengitari bumi untuk sementara waktu, hanya sekitar 4 bulan. Asteroid itu tampak mengitari bumi selama bumi berada pada jalur orbit warna kuning. Waktu selebihnya tampak tidak mengitari bumi sama sekali.

Bagaimana menjelaskan “saudara sementara” bagi bulan ini? Asteroid itu sebenarnya mengelilingi matahari, sama seperti bumi. Namun, kalau di lihat dari bumi yang diam, asteroid itu tampak mengitari bumi selama beberapa bulan saja. Kondisi itu berulang secara berkala.

Updated: Ada mekanisme lain yang lebih rumit yang dijelaskan melalui simulasi superkomputer terkait dengan dinamika asteroid yang mengorbit dekat bumi (rincinya silakan baca http://www.skyandtelescope.com/community/skyblog/newsblog/Pseudo-moons-Orbit-Earth-136435308.html ). Simulasi itu menunjukkan bahwa sekitar Januari (saat bumi paling dekat dengan matahari) atau Juli (saat bumi paling jauh dari matahari), ada kemungkinan asteroid kecil tertangkap gravitasi bumi lalu mengorbit beberapa kali sebelum asteroid lepas dari bumi dan kembali beredar pada orbit yang mengelilingi  matahari. Simulasi superkomputer itu sekaligus menjelaskan orbit 2006 RH120 yang tampak sangat kompleks.

(Gambar dari Sky&Telescope)

Memaknai Refleksi “Tahun Penuh Dusta” dalam Konteks Internal Muhammadiyah untuk Menuju Kehidupan Berbangsa yang Lebih Baik

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

(Dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta)

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah memaparkan refleksi akhir tahun dengan menyatakan bahwa tahun 2011 adalah “tahun penuh dusta”. Saya tidak tertarik dengan makna politis pernyataan itu, karena itu bukan kompetensi saya. Tetapi saya tertarik dengan makna luas refleksi itu, yang mengarah bukan hanya eksternal tetapi juga internal Muhammadiyah. Apalagi dalam Islam ada prinsip da’wah yang bersifat eksternal sekaligus internal yang diajarkan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shaaf: 2 – 4:

 

”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS 61: 2 – 4).

 

Ayat 4 sangat relevan dengan tujuan saya memaknai refleksi tersebut, untuk menjadikan ummat ini satu barisan yang kokoh seperti bangungan yang tersusun rapih. Tujuan refleksi akhir tahun tentunya bukan sekedar kritik kosong tak bermakna, tetapi sarat dengan muatan tekad untuk membenahi kehidupan berbangsa di Indonesia. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar tentu punya peran penting dalam membangun bangsa ini. Kita semua mengakui dan mengapresiasi peran sosial keagaman Muhammadiyah tidak bisa diabaikan sejak pra-kemerdekaan RI sampai saat ini. Gerakan tajdid (pembaruan) menjadi ciri menonjol pada awal sejarah persyarikatan Muhammadiyah.

 

Sayang, jiwa tajdid itu kini tampak meredup. Ketika ummat menghendaki persatuan dengan simbol fenomena sosial kebersamaan dalam berhari raya, Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria usangnya “Wujudul Hilal” (asal “hilal” wujud di atas ufuk) yang menghambat persatuan itu. Pernyataan keras tokoh-tokohnya menghadapi kritik atas kriteria usang itu mengindikasikan ada dusta internal yang didokrinkan seolah hisab itu paling hebat dan seolah hisab itu hanya wujudul hilal. Ketika diajak untuk bersatu dan bersepakat pada hisab kriteria imkan rukyat (perhitungan astronomi tentang kemungkinan terihatnya hilal) yang menyetarakan hisab dan rukyat tanpa meninggalkan metode hisab yang diyakininya, perwakilan mereka melakukan disenting opinion dan yang terlanjur menandatanganinya bersikeras membantah mewakili Muhammadiyah. Muhammadiyah ingin tetap berbeda dengan yang lain, seolah ajakan pada QS 61:4 untuk bersatu dalam barisan yang kokoh dianggapnya tidak penting. Superioritas organisasi tampaknya mengabaikan seruan Allah itu.

 

Paradoks wujudul hilal atau dalam bahasa awamnya “dusta” wujudul hilal sudah sangat nyata dan landasan dalilnya sangat lemah. Mereka masih berlindung pada dalil hisab yang sebenarnya juga berlaku bagi hisab imkan rukyat. Ego organisasi sangat kental terasa. http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/ .

Pimpinan Muhammadiyah sebenarnya punya peran besar untuk menghapus ”dusta” itu dan berupaya mempelopori perubahan atas dasar tajdid yang mencerahkan. Sungguh indah kalau orgnasisasi besar Muhammadiyah dan NU dengan dukungan ormas-ormas Islam lainnya mau maju selangkah menuju penyatuan kriteria hisab rukyat yang menjadi dasar kelender Hijriyah. Dengan kriteria tunggal kemapanan kalender hijriyah bisa kita bangun dan kebersamaan dalam berhari raya bisa terwujud. ”Bigbang” ledakan besar pembaruan bisa berasal dari para pemimpin ormas Islam, terutama ormas-ormas besarnya seperti Muhammadiyah dan NU. Pemerintah sebagai fasilitator yang mengayomi semuanya akan mendukung upaya besar itu.

Mari kita maknai refleksi “tahun penuh dusta” dalam konteks internal Muhammadiyah. Kita rujuk saja salah satu berita media massa dan kita ganti kata ”negara”, ”bangsa”, dan ”pemerintah” menjadi ”MUHAMMADIYAH”. (Berita dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta). Inilah refleksi internal Muhammadiyah yang disampaikan oleh Ketua umumnya:

“Namun, ketika ada masalah, sering para pemimpin MUHAMMADIYAH ini lari dari masalah atau merasa tidak ada masalah. Mungkin merasa ada legitimasi yang lebih besar sehingga terjadi penumpukan masalah,” katanya.

Din menilai jika persoalan yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka dikhawatirkan akan menjadi masalah yang semakin kronis.

“Jalan keluarnya adalah ledakan dahsyat dari komandan tertinggi MUHAMMADIYAH ini. Tapi sayang, big bang itu tidak bisa dilaksanakan. Saya khawatir big bang itu datangnya dari bawah,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini MUHAMMADIYAH masih punya harapan untuk memperbaikinya karena masih ada jalan untuk mencari solusi.

“Memang asa masih tersisa, maka marilah kita kumpulkan asa secara bersama-sama agar kita bisa mengatasi masalah besar sekalipun,” ucap Din.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.