Penerimaan Sarwono Award 2013 dari LIPI

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

sarwono-award-0

Alhamdulillah, LIPI menganugerahkan “Sarwono Award” 2013 kepada saya. Dalam sambutannya, Kepala LIPI menyebutkan empat alasan utamanya:

Sambutan KaLIPI-1

Sambutan KaLIPI-2

LIPI_sarwono Award

(Foto & Video: LIPI)

Atas anugerah Sarwono Prawirohardjo dari LIPI tersebut, saya menyampaikan sambutan sebagai berikut:

Sambutan Penerimaan Anugerah Sarwono

Assalamu’alaikum wr. wb.,

 

Bapak Menteri Negara Riset dan Teknologi, Bapak Kepala LIPI dan para pejabat LIPI, Bapak Kepala LAPAN, serta para undangan yang saya hormati.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Pemelihara Semesta Alam. Dengan rasa syukur dan bahagia, pertama kali saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun bagi LIPI yang mencapai usia 46 tahun. Ulang tahun LIPI selalu ditandai dengan penyerahan penghargaan “Sarwono Prawirohardjo”, sebagai upaya pelestarian semangat keilmuan dan dedikasi tokoh pelopor pembentukan LIPI dalam membangun kelembagaan ilmu pengetahuan yang kokoh. LIPI kini telah menjadi contoh lembaga penelitian yang tangguh di Indonesia dan menjadi lembaga pembina peneliti Indonesia.

Ketika pertama kali saya dikontak LIPI bahwa saya ditetapkan sebagai penerima penghargaan “Sarwono” (Sarwono Award) 2013, terus terang saya tak percaya dan ketika ditelepon Kepala LIPI saya menjadi grogi menjawabnya. Saya menyadari kiprah saya dalam pengembangan ilmu pengetahuan belum seberapa. Saya hanyalah peneliti yang menjadikan astronomi sebagai bagian dari hobby, sehingga meneliti bukanlah beban tetapi tantangan yang menyenangkan. Ketika harus memilih antara jabatan struktural atau jabatan fungsional peneliti, saya rela mundur dari jabatan struktural Kepala Bidang untuk mengejar karir peneliti. Hobby saya membaca dan menulis sangat cocok dengan hobby saya meneliti. Saya senang berbagi ilmu dengan menulis karya ilmiah popular di media massa yang saya dokumentasikan dan kembangkan di blog saya. Ya, saya merasa tidak ada yang istimewa dengan posisi saya sebagai peneliti, maka wajar saya menjadi grogi menerima penghargaan Sarwono.

            Minat saya pada astronomi bermula dari keingintahuan dan idealisme menjawab keingintahuan itu. Sejak SMP memang saya bercita-cita menjadi peneliti, karena saya senang berlama-lama memperhatikan pertumbuhan tanaman dan fenomena alam lainnya. Pilihan jatuh pada astronomi ketika tertantang dengan mencari tahu kehidupan di luar bumi yang pada tahun 1970-an dan awal 1980-an marak cerita soal UFO (Unidentfied Flying Objects atau piring terbang). Saat kelas I SMA itulah saya membaca banyak buku astronomi untuk menuliskan “UFO: Bagaimana Menurut Agama” yang akhirnya terbit di majalah ilmiah popular “Scientiae” pada 1979. Sedikit demi sedikit keingintahuan itu terjawab ketika saya diterima di Astronomi ITB dalam seleksi Proyek Perintis II yang tanpa test. Setiap keingintahuan selalu ingin saya bagikan dalam bentuk tulisan di Koran, dimulai tulisan tentang gerhana matahari 1983 dan masalah penentuan kalender Islam. Saya memang menjadikan sains dan Islam sebagai bagian integral dalam kehidupan, sehingga saya banyak menuliskan artikel sains astronomi dan keislaman.

            Bidang penelitian saya sebenarnya adalah struktur besar alam semesta, struktur galaksi, pembentukan bintang, cuaca antariksa terkait dengan aktivitas matahari, dan hubungan matahari bumi (khususnya terkait dengan iklim). Tetapi saya selalu membuat versi tulisan populernya untuk difahami oleh orang awam. Lebih dari 100 artikel ilmiah popular sudah saya tuliskan di berbagai koran sebagai bagian dari popularisasi astronomi. Saya selalu menikmati berbagi ilmu dalam bahasa awam. Saya berprinsip, sebagai peneliti kita harus bisa berkomunikasi dengan publik dengan memberikan informasi yang “mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan”. “Mencerdaskan” bermakna memberikan beragam informasi baru yang menambah wawasan masyarakat, khususnya generasi muda, misalnya tentang upaya pencarian kehidupan di planet Mars dan satelit Eropa yang mengitari planet Jupiter. “Menjelaskan” bermakna memberikan informasi yang menjadi keingintahuan publik, misalnya badai matahari. “Mengingatkan” bermakna memberikan informasi prediktif berdasarkan ilmu akan kejadian yang segera akan terjadi, misalnya tentang gerhana dan potensi perbedaan hari raya. Sebagian besar tulisan itu dan tulisan terbaru kini saya masukan dalam blog saya “Dokumentasi T. Djamaluddin: Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi” (http:/tdjamaluddin.wordpress.com).

            Sejak tahun 1980-an saat pertama kali belajar astronomi, saya selalu berfikir untuk mencarikan solusi penyatuan hari raya, Idul Ftri dan Idul Adha, yang kerap berbeda. Saat kuliah di Kyoto Jepang, saya pun tak jemu menuliskan gagasan penyatuan ummat dengan memanfaatkan astronomi. Prinsip “mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan” selalu saya gunakan agar masyarakat faham akar masalah perbedaan hari raya yang secara astronomi sebenarnya sangat sederhana.  Dikhotomi hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan) yang sering menjadi sebab perbedaan hari raya dengan astronomi mudah diselesaikan. Astronomi memandang hisab dan rukyat setara. Ada titik temu antara pengamal hisab dan pengamal rukyat, yaitu “hisab dengan kriteria rukyat”. Dalam astronomi itu lazim dikenal sebagai kriteria visibilitas hilal yang digunakan dalam hisab, namun hasilnya akan kompatibel dengan hasil rukyat.

            Melalui forum tahunan “Temu Kerja Hisab Rukyat” yang dibentuk Kementerian Agama, upaya penyatuan itu terus dilakukan. Saya selalu menyuarakan bahwa astronomi bisa menjadi solusi penyatuan ummat dengan mendorong untuk menyamakan kriteria hisab rukyat. Melalui diskusi dalam Temu Kerja (dan forum terkait lainnya) dan tulisan-tulisan di koran, saya tak jemu untuk membangun pemahaman masyarakat soal hisab dan rukyat, pemahaman astronomi yang menyetarakan keduanya. Saya pernah diundang NU, Muhammadiyah, dan PERSIS untuk menjelaskan aspek astronomi hisab dan rukyat. Langsung atau tidak langsung, saya (bersama komunitas astronomi) berupaya memberi warna baru berbasis astronomi pada praktek hisab dan rukyat pada ormas-ormas Islam.

            Bukan hal yang mudah mengubah pemahamanan yang pada sebagian kelompok seolah sudah menjadi “default” pada metode yang mereka gunakan. Ketika Idul Fitri berpotensi berbeda lagi pada 2007, saya dipanggil Menteri Agama (Pak Maftuh Basuni) untuk memberi masukan bagi Wapres Jusuf Kalla yang akan mempertemukan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Saya katakan titik temunya adalah penyamaan kriteria hisab-rukyat. Di kalangan pelaksana hisab rukyat, di Lajnah Falakiyah NU, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, dan Dewan Hisab Rukyat Persis, makna “kriteria hisab rukyat” sudah difahami. Kriteria hisab rukyat adalah parameterisasi fenomena yang dijadikan dasar syar’i (hukum ibadah), seperti halnya kita sudah sepakat dengan kriteria jadwal shalat. Namun pemahaman tim teknis, belum tentu difahami oleh struktur organisasi lainnya. Itulah yang menjadi faktor resistensi organisasi.

            Lebih dari 20 tahun upaya penyamaan pemahaman astronomis saya lakukan melalui tulisan dan diskusi dalam forum terbatas pakar hisab rukyat. Proses perubahan internal (saya tidak mengklaimnya sebagai dampak upaya tersebut) telah mengubah cara pandang NU dan Persis. Namun Muhammadiyah tetap resisten dengan kriteria wujudul hilalnya, walau pun pada Munas Tarjih 2003 saya diundang khusus untuk mengkritisinya. Menjelang Ramadhan 1432/2011 yang Idul Fitrinya berpotensi berbeda, sekali lagi saya berupaya mendekati salah seorang Ketua Pimpinan Pusat dan anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk bersama-sama berupaya mencari titik temu. Sayang resistensi sangat kuat dan beralasan itulah keputusan organisasi yang tidak bisa diubah lagi. Hambatan organisasi merupakan kendala utama sehingga argumentasi ilmiah astronomis untuk mencari titik temu seolah berhadapan dengan tembok sangat tebal.

            Untuk mendobrak kejumudan (resistensi) organisasi, saya mohon izin pada Ketua PP Muhammadiyah yang saya hubungi itu untuk membuka diskusi publik melalui tulisan terbuka di blog saya. Saya mengkritisi kriteria wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, seperti dulu pada 2003 saya diminta mengkritisinya dalam Munas Tarjih. Kriteria wujudul hilal sama sekali tidak dikenal dalam astronomi modern, itu kriteria usang (obsolete) yang sudah lama ditinggalkan. Pilihan sulit harus saya ambil: membiarkan perbedaan terus terjadi, padahal secara astronomi mudah diselesaikan atau mengkritisi kriteria usang itu untuk membangun kesadaran publik. Saya ambil pilihan kedua dengan segala risikonya. Saya menyadari, kemarahan akan muncul karena kritik terhadap kriteria wujudul hilal bisa disalahartikan saya melecehkan  ormas besar Muhammadiah. Saya sangat menghargai Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar dan merupakan aset bangsa. Tetapi pilihan itu terpaksa saya ambil untuk membuka diskusi publik, setelah lebih dari 20 tahun diskusi terbatas berbenturan dengan birokrasi organisasi yang cenderung resisten.

            Dari lubuk hati terdalam, sungguh tidak ada maksud saya untuk membangun superioritas astronomi, karena ilmu semestinya membangun kesetaraan dalam harmoni kehidupan. Saya tetap meyakini, dengan pemahaman yang baik, astronomi bisa menjadi solusi penyatuan ummat, walau pada awalnya disalahfahami. Dalam aspek yang lebih luas, astronomi bisa menjadi pelita penuntun kemajuan sains yang bagi sebagian generasi muda dianggap rumit. Astronomi memberi tantangan nyata dengan keindahan fenomena langit yang hanya bisa dinikmati dengan perangkat sains. Cahaya yang dipancarkan benda-benda langit adalah bahasa universal. Kita bisa menikmati cerita galaksi yang menjauh, black hole yang superpadat, matahari yang meletup, atau bulan yang menampakkan hilal yang redup dengan interpreter sains. Terinspirasi semangat Bapak pendiri LIPI, Sarwono Prawirohardjo, saya terdorong untuk terus menjadikan ilmu pengetahuan hidup dan berkembang di masyarakat, menyatu dalam kehidupan, serta menjadikannya solusi dalam meningkatkan kualitas  berbangsa dan bernegara.

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.,

 

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Beberapa reportase di media lain:

Situs LIPI: LIPI Beri Penghargaan untuk Tokoh Astronomi

Situs LIPI: Astronomi sebagai Salah Satu Solusi Penyatuan Umat

http://langitselatan.com/2013/08/28/penghargaan-sarwono-prawirohardjo-xii-kepada-prof-dr-thomas-djamaluddin/

http://news.detik.com/read/2013/08/23/183815/2339133/608/prof-thomas-djamaluddin-mencari-ufo-dalam-sains-dan-agama

http://www.antaranews.com/berita/391959/peneliti-lapan-terima-lipi-sarwono-award-2013

http://sains.kompas.com/read/2013/08/23/1354043/Thomas.Djamaluddin.Raih.LIPI.Award

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/23/061506791/Peneliti-LAPAN-Raih-Sarwono-Award-LIPI-2013

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/08/20/3/176030/Penghargaan-Sarwono-Award-untuk-Thomas-Djamaluddin

http://www.beritasatu.com/sains/133597-ilmuwan-lapan-raih-anugerah-sarwono-award-2013.html

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/mengakrabkan-astronomi-pada-masyarakat

http://www.jurnas.com/news/104123/Thomas_Djamaluddin_Dianugerahi_Sarwono_Award_/1/Sosial_Budaya/Pendidikan

Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Rekor Muri-Mendirikan Telur terbanyak di Hari Peh Cun-Juni 2012

(Rekor Muri mendirikan telur terbanyak saat perayaan Peh Cun)

Pada perayaan Peh Cun warga Tionghoa, orang-orang mudah menegakkan telur. Apakah hanya pada perayaan Peh Cun? Tidak! Setiap awal bulan qamariyah dan bulan purnama saat tengah hari atau tengah malam itu bisa dilakukan. Contohnya pada 8 Juni 2013 adalah bulan baru (newmoon) awal Sya’ban. Perayaan Peh Cun dilaksanakan pada 12 Juni 2013, yaitu tanggal 5 bulan ke 5 dalam kalender Cina, artinya masih sekitar awal bulan. Pada saat bulan baru dan purnama, deferensial gravitasi bulan diperkuat oleh matahari. Itu pula yang menyebabkan pasang maksimum air laut. Tampaknya, beda gravitasi antara dasar telur dan puncak telur cukup signifikan untuk menahan telur berdiri tegak beberapa saat.

Penjelasannya sebagai berikut:

Pasang surut

Pasang surut-gaya

Pasang-surut

(Gambar-gambar dari internet dari fasilitas pencarian Google)

Tertariknya air laut disebabkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari yang berbeda-beda di setiap titik di bumi. Itu disebut gaya diferensial gravitasi, baik oleh bulan maupun matahari. Pada saat bulan dan matahari hampir segaris, saat bulan baru maupun purnama, gaya pasang-surut maksimum. Itu sebabnya pasang air laut pun maksimum pada saat-saat sekitar tengah hari dan tengah malam. Pada perayaan Peh Cun, warga Tionghoa memanfaatkan gaya diferensial gravitasi bulan-matahari maksimum itu untuk menegakkan telur. Mengapa telur bisa tegak beberapa saat? Perbedaan gravitasi oleh bulan dan matahari yang bekerja pada telur tampaknya mampu menjaga telur tegak beberapa saat (perhatikan ilustrasi garis gaya gravitasi bulan-matahari pada gambar di atas).

Updated: Tampaknya logika ilmiah seperti itu lemah, karena ternyata (setelah browsing di internet) ada beberapa eksperimen yang membuktikan telur juga mudah ditegakkan kapan saja bergantung tekstur permukaan tempatya. Di Barat mitos yang berkembang soal menegakkan telur saat equinox (sekitar 21 Maret), saat matahari di ekuator.  Artinya, tidak harus pengaruh bulan. Jadi beda mitos Peh Cun sekitar tanggal 5 lunar calendar di budaya Timur dengan equinox sekitar 21 Maret di budaya Barat cukup memberikan dasar bahwa tegakknya telur BUKAN karena pengaruh diferensial gravitasi bulan dan juga bukan karena pengaruh diferensial matahari.

Lalu logika ilmiah apa yang bisa menjelaskan? Bentuk telur yang agak elips memang sulit ditegakkan, tetapi mungkin ditegakkan di permukaan yang ada sedikit penyangga, misalkan pada permukaan yang tidak benar-benar rata (perhatikan lokasi telur pada foto di atas saat Rekor Muri 2012).

Jadi, atas pertanyaan di judul, “Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?” jawaban yang benar adalah “Tidak, menegakkan telur bisa kapan saja, bergantung tekstur permukaan tempatnya yang tidak rata sempurna sehingga masih ada sedikit penyangga telur”. Mitos Peh Cun atau Equinox cukuplah digunakan untuk sosialisasi diferensial gravitasi yang menyebabkan pasang surut air laut dan dampak ikutannya, tetapi sesungguhnya tidak berpengaruh pada tegaknya telur.

Mengapa Satu Pekan Tujuh Hari

T. Djamaluddin

Peneliti LAPAN

[Dicuplik dengan penyempurnaan dari buku saya untuk anak-anak dan remaja, "Bertanya Pada Alam", ShofieMedia, 2006]

Bertanya Pada Alam

Sains adalah akumulasi pengetahuan manusia yang diformulasikan melalui metode ilmiah. Sains tidak bisa diklaim atau diberi label kelompok tertentu, sehingga tidak ada sains Barat, sains Islam, atau sains lainnya. Silakan browsing sejarah asal usul tahun, bulan, pekan, hari, jam, menit, dan detik, kita akan tahu bahwa semuanya adalah kontribuasi banyak budaya, antara lain budaya Babilonia, Mesir, India, Cina, Arab-Islam, Barat modern, dan banyak budaya lainnya.  Budaya dengan matematika berbasis 60 ternyata banyak digunakan pada awal perkembangan sains yang melahirkan konsep jam/derajat, menit, dan detik dengan kelipatan 60. Kepercayaan juga sering mewarnai konsep pemahaman alam sehingga astronomi dan astrologi dahulu bersatu. Berikut ini sekadar contoh, bahwa konsep sepekan 7 hari berawal dari pemahaman konsep 7 langit dalam astronomi lama dengan  penguasanya yang dianggap sebagai dewa dan  mempengaruhi bumi dan manusia dari jam ke jam.

Mengapa sepekan ada tujuh hari? Itu bermula dari keyakinan orang-orang dahulu bahwa tujuh benda langit utama mempengaruhi bumi dan manusianya. Ini selanjutnya dikaitkan dengan kepercayaan adanya tujuh langit. Di langit pertama ada bulan. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu percaya bahwa ketujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu. Mungkin juga pemilihan tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi terkait dengan konsep ini, tidak terkait kelahiran Yesus Kristus atau hari Natal.

Jam ke dua dipengaruhi oleh Jupiter. Selanjutnya Mars, Matahari, Venus, Merkurius, Bulan, Saturnus, Jupiter, dan seterusnya berulang lagi. Kemudian pada pukul 24 dipengaruhi Mars. Maka jam pertama hari berikutnya dipengaruhi oleh matahari (sun). Karenanya hari itu disebut hari matahari atau Sunday dalam bahasa Inggris atau Nichiyobi dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia disebut Ahad atau Minggu.   Kalau kita urutkan setiap jamnya, maka jam pertama pada hari ketiga dipengaruhi oleh Bulan. Karena itu hari Senin disebut hari Bulan (moon), dalam bahasa Inggris disebut Monday atau Getsuyobi dalam bahasa Jepang. Jam pertama hari ke empat (Selasa) dipengaruhi oleh Mars atau dewa Tue, karenanya disebut hari Mars atau hari Tue (Tuesday)  atau Kayoubi dalam bahasa Jepang. Hari ke lima (Rabu), pada jam pertama dipengaruhi oleh Merkurius atau dewa Woodn maka disebut hari Merkurius atau hari Woodn (Wednesday) atau Suiyobi dalam bahasa Jepang. Hari ke enam (Kamis) Jupiter atau dewa Thorn mempengaruhi pada jam pertamanya, karenanya disebut hari Jupiter atau hari Thorn (Thursday) atau Mokuyobi dalam bahasa Jepang. Dan hari ke tujuh (Jum’at), jam pertama dipengaruhi oleh Venus atau dewa Freya. Maka hari ke tujuh ini disebut hari Venus atau hari Freya (Friday) atau Kinyobi dalam bahasa Jepang. Itu sekilas sejarah lahirnya pembagian tujuh hari dalam sepekan dan nama-namanya yang berasal dari pemahaman orang-orang dahulu tentang tujuh langit.

Untuk jelasnya bisa dilihat pada urutan berikut ini. Kaitan nama hari dan nama tujuh benda langit itu tampak jelas pada nama hari dalam bahasa Ingrris, Jepang, dan mungkin banyak bahasa lainnya.

Asal Usul Hari

Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Domingo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan agama Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.


Undang-Undang Keantariksaan Memacu Kegiatan Keantariksaan Indonesia

T. Djamaluddin

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN

RUU-Keantariksaan

Peristiwa jatuhnya asteroid kecil di Rusia pada 15 Februari 2013 yang mencederai lebih dari seribu orang, menimbulkan kekhawatiran juga di Indonesia, akankah hal serupa bisa terjadi di Indonesia? Lalu bagaimana Indonesia mengantisipasi fenomena seperti itu, termasuk kemungkinan dampaknya? Lebih dari itu, pertanyaan publik mengarah pada seberapa mampukah Indonesia bisa mengikuti kemajuan sains dan teknologi antariksa yang sangat pesat dan memberikan manfaatnya kepada masyarakat?  Antisipasi baku penanganan peristiwa antariksa serta secara umum pengembangan sains dan teknologi antariksa mestinya ada regulasi yang mengaturnya yang bisa menjadi payung hukum atas segala kebijakan yang seharusnya diambil oleh pemerintah, khususnya lembaga yang menangani urusan keantariksaan yaitu LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Saat ini Rencangan Undang-Undang Keantariksaan sedang dalam proses pembahasan akhir di DPR yang diharapkan dalam waktu dekat dapat disahkan. Undang-undang Keantariksaan selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan Rencana Induk Keantariksaan Nasional atau Indonesian National Space Policy yang di banyak negara menjadi acuan kebijakan nasional dan menjadi pendorong kemajuan kegiatan  keantariksaan nasional.

Ada tujuh pokok tujuan Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  2. Mengoptimalkan penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan.
  3. Menjamin keberlanjutan penyelenggaraan keantariksaan untuk kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.
  4. Memberikan landasan dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  5. Mewujudkan keselamatan dan keamanan penyelenggaraan keantariksaan.
  6. Melindungi negara dan warga negaranya dari dampak negatif yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  7. Mengoptimalkan penerapan perjanjian internasional keantariksaan.

Ada dua prinsip dasar kegiatan keantariksaan yang harus dipegang. Prinsip pertama, antariksa merupakan wilayah bersama umat manusia yang dimanfaatkan bagi kepentingan semua negara tanpa memandang tingkat perkembangan ekonomi atau ilmu pengetahuan. Prinsip kedua, antariksa bebas untuk dieksplorasi dan digunakan oleh semua negara, tanpa diskriminasi berdasarkan asas persamaan dan sesuai dengan hukum internasional. Dengan dua prinsip itu, kita tidak mengenal batas wilayah negara di antariksa dan kerjasama internasional menjadi hal penting dalam pengembangannya. Dengan prinsip itu pula, negara berkembang mempunyai hak untuk mendapatkan manfaat eksplorasi antariksa oleh negara-negara maju sesuai dengan kaidah-kaidah hukum internasional.

Empat kegiatan pokok keantariksaan yang diatur dalam Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Sains antariksa.
  2. Penginderaan jauh.
  3. Penguasaan teknologi keantariksaan.
  4. Peluncuran.

Empat kegiatan pokok tersebut dapat dirangkum menjadi empat kata kunci “memahami, memanfaatkan, menguasai, dan melindungi”  dalam Undang-undang Keantariksaan. Dengan sains antariksa, kita dipacu untuk memahami fenomena fisis antariksa dan segala potensi dampaknya bagi bumi. Badai matahari dan benda jatuh antariksa adalah contoh fenomena yang menjadi perhatian dunia saat ini yang harus kita fahami betul hakikatnya. Teknologi satelit yang bisa mempermudah kehidupan manusia dalam pemantauan cuaca dan lingkungan untuk peringatan dini bencana, pemantauan sumber daya alam untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, serta penggunaan satelit komunikasi adalah upaya memanfaatkan teknologi antariksa yang saat tersedia (Catatan: dalam RUU ini hanya diatur pemanfaatan untuk penginderaan jauh, karena pemanfaatan terkait dengan telekomunikasi sudah diatur dalam UU lain). Kita pun tidak ingin sekadar memanfaatkan fasilitas asing dalam teknologi antariksa, kita pun harus menguasai teknologinya karena teknologi roket dan satelit serta aeronautika (penerbangan) yang terkait mempunyai manfaat jamak (multiple effect) bila dikembangkan, antara lain dalam mendukung industri pertahanan dan penerbangan. Pengembangan teknologi antariksa dikenal sebagai upaya yang “high tech, high cost, dan high risk” (berteknologi tinggi, berbiaya mahal, dan berisiko tinggi). Maka Undang-Undang Keantariksaan juga mengatur upaya-upaya melindungi berbagai pihak atas segala kemungkinan dampak kerugian dari kegiatan keantariksaan, khususnya kegiatan peluncuran wahana antariksa.

Dalam lingkup empat kegiatan keantariksaan tersebut, Undang-Undang Keantariksaan juga merinci beberapa aspek yang harus ada regulasi sebagai payung hukumnya. Beberapa aspek yang diatur secara khusus adalah delapan aspek berikut:

  1. Keamanan dan keselamatan.
  2. Bandar antariksa.
  3. Penanggulangan benda jatuh antariksa serta pencarian dan pertolongan antariksawan.
  4. Pendaftaran benda antriksa.
  5. Kerja sama internasional.
  6. Tanggung jawab dan kerugian.
  7. Asuransi, penjaminan, dan fasilitas.
  8. Pelestarian lingkungan.

Terkait dengan fenomena asteroid yang jatuh di Rusia dan potensi jatuhnya sampah antariksa yang menjadi perhatian publik, sekadar untuk memberi contoh aturan dalam rancangan Undang-undang Keantariksaan, berikut ini dikutipkan dua pasal yang mengatur penanganan benda jatuh antariksa. Dalam Undang-Undang ini, “Lembaga” menurut kondisi saat ini adalah LAPAN.

Penanggulangan Benda Jatuh Antariksa

 

Pasal 56

(1)   Benda jatuh dari antariksa dapat terdiri atas:

a.    benda buatan manusia; dan

b.    benda alamiah.

(2)   Benda jatuh dari antariksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat jatuh ke bumi dengan terdeteksi ataupun tidak terdeteksi.

(3)   Setiap orang dilarang menghilangkan atau mengubah letak dan mengambil bagian dari benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4)   Lembaga wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.

(5)   Dalam hal benda jatuh antariksa milik asing, Lembaga dapat memproses  sesuai dengan perjanjian internasional yang berlaku.

 

Pasal 57

Untuk tujuan keamanan dan keselamatan, kepentingan penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, setiap benda antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diserahkan kepada Lembaga.

(Download draft RUU Keantariksaan yang diserahkan Pemerintah kepada DPR: RUU Antariksa Final Harmonisasi-22 Nov 2011)

T. Djamaluddin’s Blog: 2012 in review

Statistik WordPress memberikan laporan tahunan 2012:

Ini ringkasannya:

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 180,000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 3 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Sebagai tambahan, ClustrMaps memberikan informasi sebaran pengunjung selama 2012. Makin besar bulatan merahnya, berarti makin banyak pengunjung dari kota tersebut. Bintik kuning menunjukkan pengunjung pada akhir Desember 2012.

Sebaran Pengunjung Blog - 2012

NASA Bantah Isu Kiamat dan Gelap Total pada 21 dan 23-25 Desember 2012

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Solar System 23-25 Dec 2012

Isu kiamat 2012 sudah saya bantah di blog saya . Tetapi belakangan beredar informasi menyesatkan yang mengatasnamakan NASA bahwa akan ada kegelapan pada 23-25 Desember 2012. Informasi yang mengatasnamakan NASA kadang dianggap benar, walau isinya tak masuk tak masuk akal. Disebutkan akan ada “pengelompokan alam semesta, bumi dan matahari akan mengelompok untuk pertama kalinya”. Kutipan informasi bohong itu seperti ini:

It is not the end of the world, it is an alignment of the Universe, where the Sun and the earth will align for the
first time. The earth will shift from the current third dimension to zero dimension, then shift to the forth
dimension. During this transition, the entire Universe will face a big change, and we will see a entire brand new
world..

The 3 days blackout is predicted to happen on Dec 23, 24, 25…

————————————————————————————–

Ini bukan akhir dari dunia, itu adalah pengelompokan alam semesta, matahari dan bumi akan mengelompok untuk
pertama kali. Bumi akan bergeser dari dimensi ketiga saat ini ke nol dimensi, kemudian beralih ke
dimensi keempat. Selama masa transisi ini, seluruh semesta akan menghadapi perubahan besar, dan kami akan melihat dunia yang semuanya baru…

3 hari kegelapan diperkirakan terjadi pada Des 23,, 24 25 …

Informasi itu sangat rancu dan menyesatkan. Tidak ada pengelompokan di alam semesta. Susunan planet-planet pun tidak mengelompok seperti ditunjukkan gambar di atas untuk kondisi sekitar 23-25 Desember 2012.

NASA membuat batahan yang merupakan jawaban atas pertanyaan publik  (bila perlu terjemahan, silakan gunakan fasilitas penerjemah google ):

Question (Q): Are there any threats to the Earth in 2012? Many Internet websites say the world will end in December 2012.

Answer (A):The world will not end in 2012. Our planet has been getting along just fine for more than 4 billion years, and credible scientists worldwide know of no threat associated with 2012.


Q: What is the origin of the prediction that the world will end in 2012?

A: The story started with claims that Nibiru, a supposed planet discovered by the Sumerians, is headed toward Earth. This catastrophe was initially predicted for May 2003, but when nothing happened the doomsday date was moved forward to December 2012 and linked to the end of one of the cycles in the ancient Mayan calendar at the winter solstice in 2012 — hence the predicted doomsday date of December 21, 2012.


Q: Does the Mayan calendar end in December 2012?

A: Just as the calendar you have on your kitchen wall does not cease to exist after December 31, the Mayan calendar does not cease to exist on December 21, 2012. This date is the end of the Mayan long-count period but then — just as your calendar begins again on January 1 — another long-count period begins for the Mayan calendar.


Q: Is NASA predicting a “total blackout” of Earth on Dec. 23 to Dec. 25?

A: Absolutely not. Neither NASA nor any other scientific organization is predicting such a blackout. The false reports on this issue claim that some sort of “alignment of the Universe” will cause a blackout. There is no such alignment (see next question). Some versions of this rumor cite an emergency preparedness message from NASA Administrator Charles Bolden. This is simply a message encouraging people to be prepared for emergencies, recorded as part of a wider government preparedness campaign. It never mentions a blackout.
›Watch the Video


Q: Could planets align in a way that impacts Earth?

A: There are no planetary alignments in the next few decades and even if these alignments were to occur, their effects on the Earth would be negligible. One major alignment occurred in 1962, for example, and two others happened during 1982 and 2000. Each December the Earth and sun align with the approximate center of the Milky Way Galaxy but that is an annual event of no consequence.
› More about alignment

“There apparently is a great deal of interest in celestial bodies, and their locations and trajectories at the end of the calendar year 2012. Now, I for one love a good book or movie as much as the next guy. But the stuff flying around through cyberspace, TV and the movies is not based on science. There is even a fake NASA news release out there…”
– Don Yeomans, NASA senior research scientist

Q: Is there a planet or brown dwarf called Nibiru or Planet X or Eris that is approaching the Earth and threatening our planet with widespread destruction?

A: Nibiru and other stories about wayward planets are an Internet hoax. There is no factual basis for these claims. If Nibiru or Planet X were real and headed for an encounter with the Earth in 2012, astronomers would have been tracking it for at least the past decade, and it would be visible by now to the naked eye. Obviously, it does not exist. Eris is real, but it is a dwarf planet similar to Pluto that will remain in the outer solar system; the closest it can come to Earth is about 4 billion miles.


Q: What is the polar shift theory? Is it true that the Earth’s crust does a 180-degree rotation around the core in a matter of days if not hours?

A: A reversal in the rotation of Earth is impossible. There are slow movements of the continents (for example Antarctica was near the equator hundreds of millions of years ago), but that is irrelevant to claims of reversal of the rotational poles. However, many of the disaster websites pull a bait-and-switch to fool people. They claim a relationship between the rotation and the magnetic polarity of Earth, which does change irregularly, with a magnetic reversal taking place every 400,000 years on average. As far as we know, such a magnetic reversal doesn’t cause any harm to life on Earth. Scientists believe a magnetic reversal is very unlikely to happen in the next few millennia.
› More about polar shift


Q: Is the Earth in danger of being hit by a meteor in 2012?

A: The Earth has always been subject to impacts by comets and asteroids, although big hits are very rare. The last big impact was 65 million years ago, and that led to the extinction of the dinosaurs. Today NASA astronomers are carrying out a survey called the Spaceguard Survey to find any large near-Earth asteroids long before they hit. We have already determined that there are no threatening asteroids as large as the one that killed the dinosaurs. All this work is done openly with the discoveries posted every day on the NASA Near-Earth Object Program Office website, so you can see for yourself that nothing is predicted to hit in 2012.


Q: How do NASA scientists feel about claims of the world ending in 2012?

A: For any claims of disaster or dramatic changes in 2012, where is the science? Where is the evidence? There is none, and for all the fictional assertions, whether they are made in books, movies, documentaries or over the Internet, we cannot change that simple fact. There is no credible evidence for any of the assertions made in support of unusual events taking place in December 2012.
› Why you need not fear a supernova
› About super volcanoes


Q: Is there a danger from giant solar storms predicted for 2012?

A: Solar activity has a regular cycle, with peaks approximately every 11 years. Near these activity peaks, solar flares can cause some interruption of satellite communications, although engineers are learning how to build electronics that are protected against most solar storms. But there is no special risk associated with 2012. The next solar maximum will occur in the 2012-2014 time frame and is predicted to be an average solar cycle, no different than previous cycles throughout history.
› Video: Solar Storms
› More about solar storms

Khutbah Idul Adha 1421/2001 (HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA)

Khutbah Idul Adha 1421/2001, Masjid Nurul Jamil, Dago, Bandung

(Disampaikan oleh T. Djamaluddin, LAPAN Bandung)

(“Thawaf”, Dari internet)

HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA

(Teks Arab, tidak tertulis)

Katakanlah,
“Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh, memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya dalam empat masa (sejak penciptaan bumi). (Itulah jawaban) bagi orang‑orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit yang berupa kabut. Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q. S. 41:9-12)

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Pagi ini di hari raya qurban – Idul Adha – ketika jutaan manusia sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, ketika jutaan ternak siap diqurbankan, sejenak kita merenungi kembali posisi kita di hadapan Allah dan sesama manusia. Ibadah Haji mengingatkan sejarah manusia sejak penciptaan alam semesta hingga reformasi logika tauhid manusiawi yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Ibadah Qurban mengingatkan perjuangan hidup manusia dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan manifestasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Walaupun tidak dijelaskan secara tegas di dalam Al-Quran dan Hadits tentang makna setiap kegiatan ibadah haji, kita coba mencari maknanya yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang direkonstruksikan dalam ibadah haji tersebut. Pertama, makna asasi tentang ketaatan alam semesta kepada Allah sejak penciptaannya yang disimbolkan dengan thawaf, mengelilingi kab’bah. Kedua, makna dari kisah ketauhidan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang direpresentasikan dengan sai, melontar jumrah, dan qurban. Ketiga, makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf.

Makna yang pertama dapat ditarik dari fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti  ribuan asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum Allah.

Makhluk langit (bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya) ‘disempurnakan’ (fasawwahaa) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya .

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

‘Mengelilingi sesuatu’ disebut thawaf. Alam berthawaf sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani, manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada Allah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Dengan merenungi ketaatan alam, thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun, manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan  makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS 17:70).

Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. (QS 95:4).

Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS 70:19).

Manusia juga lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia  dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28).

Juga bersifat tergesa-gesa.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.  (QS 17:11).

Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat (QS 33:72). Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)  (QS 95:5).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan duniawi yang ditonjolkan.

 

Makna yang kedua, kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang rasionalitasnya dalam bertauhid dan ketaatannya yang luar biasa kepada Allah patut menjadi teladan. Perbuatannya banyak direkonstruksikan para jemaah haji, seperti sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwah, melontar jumrah, dan berqurban. Sa’i mengingatkan keteguhan, keuletan, dan sikap tawakal Siti Hajar dalam memelihara Ismail di tengah lingkungan alam yang sangat tandus. Melontar jumrah mengingatkan perlawanan gigih keluarga Ibrahim AS melawan bujuk rayu syaithan. Qurban mengingatkan ketaatan yang luar biasa antara ayah dan anak, Ibrahim AS dan Ismail AS, yang diuji dengan perintah Allah untuk mengurbankan Ismail, yang akhirnya digantikan Allah dengan seekor kambing besar.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (QS 16: 120).

Khatib tidak akan berkisah rinci tentang sejarah asal mula sa’i, melontar jumrah, dan berqurban. Tetapi menengok dasar tauhid yang melandasi segala aspek kehidupan Nabi Ibrahim AS. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim tidak bertaqlid pada tradisi, tidak larut pada kesesatan lingkungannya, malah membuktikan kebenaran tauhid secara rasional kepada ummatnya. Mari kita hayati suasana batin saat itu dalam pembuktian ekistensi Tuhan yang hakiki dengan mengamati langit. Seusai maghrib petang nanti bila langit cerah tengoklah langit barat.  Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang sangat cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Itulah bintang kejora. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bayangkan diri kita bersama Nabi Ibrahim AS yang menghadapi kaumnya yang tak bertauhid.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia  berkata: “Inilah Tuhanku”,  tetapi
tatkala bintang itu tenggelam  dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (6:76).

Sungguh cemerlang bintang kejora di ufuk barat. Bintang sering jadi penunjuk arah. Warnanya, konfigurasinya, atau kecemerlangannya sering diasosiasikan dengan dewa-dewa tertentu. Bintang yang paling cemerlang sering didewakan pada waktu itu. Namun, bintang tidak selamanya tampak. Sebentar juga terbenam. Tak beralasan untuk menyembahnya.

Beberapa hari mendatang kita akan melihat purnama terbit di ufuk timur. Ini lebih terang. Malam yang biasanya gelap pun menjadi terang.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS 6:77)

Bulan yang cemerlang pun tidak bertahan lama. Ada saatnya terbenam. Kemudian pada pagi hari tampaklah matahari yang jauh lebih cemerlang dan tampak sangat besar di kaki langit.

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas  diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS 6:78).

Mungkin kita tidak merasakan betapa beratnya menjelaskan ketauhidan pada zaman Nabi Ibrahim AS, karena kita sudah diberi hidayah Allah atau terlahir dari keluarga Muslim yang telah diajarkan ketauhidan. Namun, kita bisa merasakan betapa susahnya kita menjelaskan dan melaksanakan pada diri dan keluarga akan makna ketauhidan yang sesungguhnya. Tak jarang perbuatan berbau syirik masih kita jumpai di tengah masyakarat, mungkin di dalam diri dan keluarga kita sendiri, sadar atau tak sadar. Berapa banyak orang yang masih percaya pada benda-benda atau tempat-tempat yang dikeramatkan. Atau kita berbuat riya, pamer dalam beribadah. Atau yang paling tersamar bentuk kemusyrikan yang mungkin sering kita lakukan tanpa disadari adalah keraguan akan kemurahan Allah ketika kita berdoa, ketidakyakinan diri bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Padahal setiap shalat kita baca ungkapan Nabi Ibrahim AS:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 6:79)

Tidak yakin akan kekuasaan Allah, termasuk syirik, menyekutukan Allah. Menurut para ulama, ada tiga klasifikasi syirik itu. Ada syirik akbar (syirik berat), seperti secara nyata menganggap Allah lebih dari satu atau menganggap ada kekuatan lain selain Allah atau sekadar menyamakan kecintaan (mahabbah) kepada manusia atau benda seperti kecintaannya kepada Allah. Ada syirik ashghar (syirik kecil), yaitu berbuat riya. Amal ibadahnya tidak ikhlas semata-mata karena Allah, tetapi ada terselip niat ingin dipuji orang lain. Bila bershadaqah, ingin terlihat dan dianggap sebagai orang dermawan. Bila shalat dan beribadah lainnya ingin orang lain mengetahuinya dan memujinya sebagai orang shalih. Dan seterusnya. Ada juga syirik khafiy (tersamar), semisal ragu dalam berdoa tersebut tadi. Karena tersamarnya Rasulullah mengibaratkannya sebagai “semut hitam merayap di batu hitam pada malam yang gelap gulita”. Sangat tersamar sehingga kita tidak menyadarinya bahwa itu salah satu bentuk syirik.

Syirik bermula dari sikap dan perasaan merendahkan peran Allah. Bila peran Allah saja direndahkan, sangat mungkin peran sesama manusia pun dilecehkan. Sikap angkuh atau arogan, merasa tiada tandingan, sangat dekat dengan perilaku syirik. Fir’aun dengan kekuasaanya yang tak terbatas demikian angkuhnya hingga mengklaim dirinya tuhan. Kisah pembuktian tentang Tuhan yang hakiki oleh Ibrahim AS memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu.

Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi. Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.

Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Kolusi dan nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang. Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan “fenomena bintang kejora” adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Makna ketiga adalah makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf (berdiam) di Arafah. Dengan berbalutkan pakaian ihram yang sama, tak tampak perbedaan strata sosial, semua jamaah haji berkumpul di Arafah. Diharapkan ritual puncak ibadah haji ini melahirkan sikap tawadhu, merendahkan diri di hadapkan Allah dan menghilangkan sikap diskriminatif terhadap sesama manusia. Bayangkan kita berada di dataran yang luas, berkubahkan langit biru, dan matahari terik di atas kepala. Ini hanya miniatur padang mahsyar di yaumul akhir.

Pada pagi yang suci ini, khatib mengajak untuk menghayati makna tawadhu’ dan persamaan dalam suasana seperti itu. Berada di padang luas berkubahkan langit akan terasa kecil di tengah keluasan alam, apalagi di hadapan Allah pencipta alam raya ini. Coba kita renungkan sejenak relativitas persepsi  manusia yang sering membawa keangkuhan dan merendahkan sesama. Manusia kadang terkecoh dengan persepsinya sendiri. Matahari yang terik di atas kepala itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan langit yang sangat luas. Padahal kita sering menganggapnya besar ketika berada di kaki langit pada pagi atau sore hari. Ketika itu matahari dibandingkan dengan pepohonan atau gedung di kejauhan yang tampak kecil.

Manusia mengukur sesuatu hanya berdasarkan perbandingan. Kita mengenal besar, karena adanya sikecil. Kita merasakan panas karena pernah merasakan yang lebih dingin. Kita menganggapnya kaya karena melihat yang miskin atau sebaliknya kita merasa miskin karena dihadapan kita ada yang lebih kaya. Kita merasakan pandai ketika kita berbicara dihadapan yang orang belum tahu. Kita merasakan kuat karena ada yang lebih lemah. Lalu, kalau diseragamkan dengan pakaian ihram yang sama, masihkan memperbandingkan status sosial atau derajat duniawi lainnya. Karena kelak, ketika maut menjemput, tak satu pun benda duniawi yang menyertai ke liang lahad selain kaif kafan, mirip dengan kain ihram tersebut.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS 49:11)

Sebagai penutup, khatib sampaikan hal pokok yang ingin disampaikan dalam khutbah ini. Idul Adha yang ditandai dengan ibadah haji dan qurban hendaknya menjadi momentum terbaik bagi kita semua, yang pernah melaksanakannya, yang merencanakan pada tahun mendatang, atau sekadar menyaksikannya, untuk mereposisikan diri di hadapan Allah dan sesama manusia sesuai dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga kita mampu meningkatkan sikap tawadlu di hadapan-Nya, menyempurnakan ketauhidan dengan sesungguhnya, dan meningkatkan penghargaan terhadap sesama tanpa sikap arogan karena pada dasarnya setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan yang bersifat relatif. Terakhir, mari kita akhiri khutbah ini dengan doa:

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat  kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS 7:23)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami,  dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang  kafir.” (QS 2:286)

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri/suami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpim bagi orang-orang yang bertakwa. (QS25:74)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri  petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi  (karunia)”.(QS 3:8)

“Ya Tuhan kami,  berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS 2:201).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya.