Dokumentasi “KIPRAH” Media Indonesia: THOMAS DJAMALUDDIN Menyatukan Perbedaan dengan Astronomi

Kiprah - Media Indonesia 6 Sep 2013

Media Indonesia memuat “Kiprah” saya pada terbitan 9 September 2013.  Berikut hasil wawancara wartawan Media Indonesia, Rudy Polycarpus:

THOMAS DJAMALUDDIN Menyatukan Perbedaan dengan Astronomi

RUDY POLYCARPUS

Perbedaan penanggalan Islam yang selama ini terjadi dinilai bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan astronomi.

SETIAP tahun, menjelang penetapan awal tahun kamariah, Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia selalu saja ada perbedaan. Penetapan menurut Muhammadiyah kerap lebih awal satu hari ketimbang penetapan sidang isbat Majelis Ulama Indonesia berdasarkan perhitungan mayoritas ormas Islam, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU). Penerapan perhitungannya juga berbeda. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan awal bulan pada kalender Hijriah. Sementara itu, NU mengandalkan metode rukyat, yakni aktivitas mengamati visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).

Perbedaan itu yang selalu menjadi perdebatan hingga kini. Di tengah perdebatan, sosok Thomas Djamaluddin kerap dimintai pendapat. Peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu menilai perbedaan sebenarnya mengakibatkan keresahan dan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat. “Kalau ada yang masih berpuasa, sedangkan masyarakat yang lain sudah berhari raya, ini kan bikin enggak nyaman. Bahkan saya dengar di daerah Sulawesi pernah terjadi kontak fisik,“ ujar Thomas yang ditemui Media Indonesia di Lapan, Rawamangun, Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut pria berusia 51 tahun itu, kedua perbedaan tersebut bisa disatukan, dengan syarat kedua ormas itu bersedia mengalah dan menuju satu titik temu perhitungan. “Hisab dan rukyat itu seperti dua sisi mata uang, jadi bisa disatukan,“ tegasnya. Syarat yang diajukan Thomas ialah kedua metode itu harus menggunakan kriteria yang sama. Pasalnya, baik rukyat maupun hisab bukan persoalan dalil fikih berdasarkan ayat Alquran dan hadis sebagai landasannya, sehingga bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan.  “Padahal, kriteria semacam itu hanya hasil ijtihad yang bisa berubah dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan,“ jelasnya.

Namun, Thomas sadar dengan sekelompok masyarakat yang tidak sepakat dengan pendapatnya. “Sebagai ilmuwan, saya hanya meluruskan sesuai dengan ilmu yang saya kuasai karena ilmuwan harus berperan dalam mencerdaskan masyarakat,“ ujar Thomas yang mengaku terbuka untuk berdiskusi mengenai perkembangan teori dan informasi terbaru. Thomas berharap bisa menjembatani ilmu pengetahuan dan agama, bahkan mampu menjembatani perbedaan pendapat masyarakat. Bagi dia, mempelajari ilmu astronomi semakin memperdalam keimanan dia. “Banyak fenomena dan misteri Tuhan di ilmu astronomi ini,“ ujarnya.

Berkat upayanya memberikan advokasi ilmiah kepada pemerintah dan masyarakat luas serta metode penanggalan kamariah itu, Thomas diganjar Sarwono Prawirohardjo Award XII oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala LIPI Lukman Hakim dalam pidato pemberian penghargaan itu di LIPI, Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, “beliau juga sering kali ikut serta sebagai anggota Dewan Isbat di Kementerian Agama. Doktor lulusan Kyoto University, Jepang, ini juga banyak bicara tentang isu-isu antariksa seperti fenomena gerhana, misi antariksa, dan badai matahari.“ Thomas juga dinilai memberikan kontribusi pengetahuan dalam berbagai karya ilmiah yang sudah dimuat di tingkat nasional serta internasional. “Sebagai peneliti senior, beliau juga aktif memberikan penilaian angka kredit peneliti dan juga memberikan pelatihan di tingkat nasional,“ ujar Lukman.

Fenomena

Peneliti utama dan profesor riset bidang astronomi-astrofisika yang menjabat Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN itu pun kerap dimintai pendapat untuk meluruskan fenomena astronomi dan sejenisnya. Sebut saja isu kiamat pada 2012 yang sempat menghebohkan dunia, fenomena badai matahari, perubahan arah kiblat pascagempa, dan kemunculan alien dengan adanya crop circle di Sleman, DI Yogyakarta, pada 2011. Ia memang dikenal sebagai peneliti yang aktif berbagi informasi soal astronomi kepada masyarakat lewat media massa atau jejaring sosial.  “Informasi itu untuk dibagi, biar berguna. Kalau saya tahu, untuk apa ditutup-tutupi. Masyarakat juga berhak menjadi cerdas,“ ujarnya.

Di samping makalah ilmiah, Thomas sudah menghasilkan sejumlah buku tentang astronomi dan keislaman, seperti Menggagas Fiqih Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya, Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Quran, dan Bertanya pada Alam: 13 Worthy to Know Facts.

Ia juga menjadi anggota sejumlah lembaga, seperti International Astronomical Union (IAU), National Committee di Committee on Space Research (Cospar), Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Provinsi Jawa Barat, serta Himpunan Astronomi Indonesia (HAI).  Ia bergabung di Lapan sejak 1986 seusai menamatkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan studi magister dan doktornya di Kyoto University, Jepang, pada 1988-1994. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antarbintang dan pembentukan bintang.
Ganti nama

Nama Thomas Djamaluddin memang terkenal di kalangan astronom Indonesia. Padahal, nama asli anak pasangan Sumaila Hadiko dan Duriyah itu hanya Djamaluddin. Di masa kecilnya, ia banyak beristirahat karena kerap sakit. Melihat hal itu, orangtua Djamaluddin mengganti namanya dengan Thomas. Nama itu ia pakai hingga duduk di sekolah menengah pertama. “Karena ada perbedaan data kelahiran saat duduk di sekolah menengah pertama, nama saya akhirnya digabung jadi Thomas Djamaluddin. Sekarang nama saya sering disingkat T Djamaluddin,“ ujarnya.

Pemahaman Thomas akan agama Islam ternyata tidak semata berawal sejak ia terlibat di Lapan. Sejak kecil, di Cirebon, Jawa Barat, ia telah mempelajari Islam secara autodidak dari keluarga dan aktivitas di masjid. Bahkan di Jepang, ia menjabat Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J). (M-5) rudy@mediaindonesia.com

EMAIL
rudy@mediaindonesia.com

Penerimaan Sarwono Award 2013 dari LIPI

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

sarwono-award-0

Alhamdulillah, LIPI menganugerahkan “Sarwono Award” 2013 kepada saya. Dalam sambutannya, Kepala LIPI menyebutkan empat alasan utamanya:

Sambutan KaLIPI-1

Sambutan KaLIPI-2

LIPI_sarwono Award

(Foto & Video: LIPI)

Atas anugerah Sarwono Prawirohardjo dari LIPI tersebut, saya menyampaikan sambutan sebagai berikut:

Sambutan Penerimaan Anugerah Sarwono

Assalamu’alaikum wr. wb.,

 

Bapak Menteri Negara Riset dan Teknologi, Bapak Kepala LIPI dan para pejabat LIPI, Bapak Kepala LAPAN, serta para undangan yang saya hormati.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Pemelihara Semesta Alam. Dengan rasa syukur dan bahagia, pertama kali saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun bagi LIPI yang mencapai usia 46 tahun. Ulang tahun LIPI selalu ditandai dengan penyerahan penghargaan “Sarwono Prawirohardjo”, sebagai upaya pelestarian semangat keilmuan dan dedikasi tokoh pelopor pembentukan LIPI dalam membangun kelembagaan ilmu pengetahuan yang kokoh. LIPI kini telah menjadi contoh lembaga penelitian yang tangguh di Indonesia dan menjadi lembaga pembina peneliti Indonesia.

Ketika pertama kali saya dikontak LIPI bahwa saya ditetapkan sebagai penerima penghargaan “Sarwono” (Sarwono Award) 2013, terus terang saya tak percaya dan ketika ditelepon Kepala LIPI saya menjadi grogi menjawabnya. Saya menyadari kiprah saya dalam pengembangan ilmu pengetahuan belum seberapa. Saya hanyalah peneliti yang menjadikan astronomi sebagai bagian dari hobby, sehingga meneliti bukanlah beban tetapi tantangan yang menyenangkan. Ketika harus memilih antara jabatan struktural atau jabatan fungsional peneliti, saya rela mundur dari jabatan struktural Kepala Bidang untuk mengejar karir peneliti. Hobby saya membaca dan menulis sangat cocok dengan hobby saya meneliti. Saya senang berbagi ilmu dengan menulis karya ilmiah popular di media massa yang saya dokumentasikan dan kembangkan di blog saya. Ya, saya merasa tidak ada yang istimewa dengan posisi saya sebagai peneliti, maka wajar saya menjadi grogi menerima penghargaan Sarwono.

            Minat saya pada astronomi bermula dari keingintahuan dan idealisme menjawab keingintahuan itu. Sejak SMP memang saya bercita-cita menjadi peneliti, karena saya senang berlama-lama memperhatikan pertumbuhan tanaman dan fenomena alam lainnya. Pilihan jatuh pada astronomi ketika tertantang dengan mencari tahu kehidupan di luar bumi yang pada tahun 1970-an dan awal 1980-an marak cerita soal UFO (Unidentfied Flying Objects atau piring terbang). Saat kelas I SMA itulah saya membaca banyak buku astronomi untuk menuliskan “UFO: Bagaimana Menurut Agama” yang akhirnya terbit di majalah ilmiah popular “Scientiae” pada 1979. Sedikit demi sedikit keingintahuan itu terjawab ketika saya diterima di Astronomi ITB dalam seleksi Proyek Perintis II yang tanpa test. Setiap keingintahuan selalu ingin saya bagikan dalam bentuk tulisan di Koran, dimulai tulisan tentang gerhana matahari 1983 dan masalah penentuan kalender Islam. Saya memang menjadikan sains dan Islam sebagai bagian integral dalam kehidupan, sehingga saya banyak menuliskan artikel sains astronomi dan keislaman.

            Bidang penelitian saya sebenarnya adalah struktur besar alam semesta, struktur galaksi, pembentukan bintang, cuaca antariksa terkait dengan aktivitas matahari, dan hubungan matahari bumi (khususnya terkait dengan iklim). Tetapi saya selalu membuat versi tulisan populernya untuk difahami oleh orang awam. Lebih dari 100 artikel ilmiah popular sudah saya tuliskan di berbagai koran sebagai bagian dari popularisasi astronomi. Saya selalu menikmati berbagi ilmu dalam bahasa awam. Saya berprinsip, sebagai peneliti kita harus bisa berkomunikasi dengan publik dengan memberikan informasi yang “mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan”. “Mencerdaskan” bermakna memberikan beragam informasi baru yang menambah wawasan masyarakat, khususnya generasi muda, misalnya tentang upaya pencarian kehidupan di planet Mars dan satelit Eropa yang mengitari planet Jupiter. “Menjelaskan” bermakna memberikan informasi yang menjadi keingintahuan publik, misalnya badai matahari. “Mengingatkan” bermakna memberikan informasi prediktif berdasarkan ilmu akan kejadian yang segera akan terjadi, misalnya tentang gerhana dan potensi perbedaan hari raya. Sebagian besar tulisan itu dan tulisan terbaru kini saya masukan dalam blog saya “Dokumentasi T. Djamaluddin: Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi” (http:/tdjamaluddin.wordpress.com).

            Sejak tahun 1980-an saat pertama kali belajar astronomi, saya selalu berfikir untuk mencarikan solusi penyatuan hari raya, Idul Ftri dan Idul Adha, yang kerap berbeda. Saat kuliah di Kyoto Jepang, saya pun tak jemu menuliskan gagasan penyatuan ummat dengan memanfaatkan astronomi. Prinsip “mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan” selalu saya gunakan agar masyarakat faham akar masalah perbedaan hari raya yang secara astronomi sebenarnya sangat sederhana.  Dikhotomi hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan) yang sering menjadi sebab perbedaan hari raya dengan astronomi mudah diselesaikan. Astronomi memandang hisab dan rukyat setara. Ada titik temu antara pengamal hisab dan pengamal rukyat, yaitu “hisab dengan kriteria rukyat”. Dalam astronomi itu lazim dikenal sebagai kriteria visibilitas hilal yang digunakan dalam hisab, namun hasilnya akan kompatibel dengan hasil rukyat.

            Melalui forum tahunan “Temu Kerja Hisab Rukyat” yang dibentuk Kementerian Agama, upaya penyatuan itu terus dilakukan. Saya selalu menyuarakan bahwa astronomi bisa menjadi solusi penyatuan ummat dengan mendorong untuk menyamakan kriteria hisab rukyat. Melalui diskusi dalam Temu Kerja (dan forum terkait lainnya) dan tulisan-tulisan di koran, saya tak jemu untuk membangun pemahaman masyarakat soal hisab dan rukyat, pemahaman astronomi yang menyetarakan keduanya. Saya pernah diundang NU, Muhammadiyah, dan PERSIS untuk menjelaskan aspek astronomi hisab dan rukyat. Langsung atau tidak langsung, saya (bersama komunitas astronomi) berupaya memberi warna baru berbasis astronomi pada praktek hisab dan rukyat pada ormas-ormas Islam.

            Bukan hal yang mudah mengubah pemahamanan yang pada sebagian kelompok seolah sudah menjadi “default” pada metode yang mereka gunakan. Ketika Idul Fitri berpotensi berbeda lagi pada 2007, saya dipanggil Menteri Agama (Pak Maftuh Basuni) untuk memberi masukan bagi Wapres Jusuf Kalla yang akan mempertemukan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Saya katakan titik temunya adalah penyamaan kriteria hisab-rukyat. Di kalangan pelaksana hisab rukyat, di Lajnah Falakiyah NU, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, dan Dewan Hisab Rukyat Persis, makna “kriteria hisab rukyat” sudah difahami. Kriteria hisab rukyat adalah parameterisasi fenomena yang dijadikan dasar syar’i (hukum ibadah), seperti halnya kita sudah sepakat dengan kriteria jadwal shalat. Namun pemahaman tim teknis, belum tentu difahami oleh struktur organisasi lainnya. Itulah yang menjadi faktor resistensi organisasi.

            Lebih dari 20 tahun upaya penyamaan pemahaman astronomis saya lakukan melalui tulisan dan diskusi dalam forum terbatas pakar hisab rukyat. Proses perubahan internal (saya tidak mengklaimnya sebagai dampak upaya tersebut) telah mengubah cara pandang NU dan Persis. Namun Muhammadiyah tetap resisten dengan kriteria wujudul hilalnya, walau pun pada Munas Tarjih 2003 saya diundang khusus untuk mengkritisinya. Menjelang Ramadhan 1432/2011 yang Idul Fitrinya berpotensi berbeda, sekali lagi saya berupaya mendekati salah seorang Ketua Pimpinan Pusat dan anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk bersama-sama berupaya mencari titik temu. Sayang resistensi sangat kuat dan beralasan itulah keputusan organisasi yang tidak bisa diubah lagi. Hambatan organisasi merupakan kendala utama sehingga argumentasi ilmiah astronomis untuk mencari titik temu seolah berhadapan dengan tembok sangat tebal.

            Untuk mendobrak kejumudan (resistensi) organisasi, saya mohon izin pada Ketua PP Muhammadiyah yang saya hubungi itu untuk membuka diskusi publik melalui tulisan terbuka di blog saya. Saya mengkritisi kriteria wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, seperti dulu pada 2003 saya diminta mengkritisinya dalam Munas Tarjih. Kriteria wujudul hilal sama sekali tidak dikenal dalam astronomi modern, itu kriteria usang (obsolete) yang sudah lama ditinggalkan. Pilihan sulit harus saya ambil: membiarkan perbedaan terus terjadi, padahal secara astronomi mudah diselesaikan atau mengkritisi kriteria usang itu untuk membangun kesadaran publik. Saya ambil pilihan kedua dengan segala risikonya. Saya menyadari, kemarahan akan muncul karena kritik terhadap kriteria wujudul hilal bisa disalahartikan saya melecehkan  ormas besar Muhammadiah. Saya sangat menghargai Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar dan merupakan aset bangsa. Tetapi pilihan itu terpaksa saya ambil untuk membuka diskusi publik, setelah lebih dari 20 tahun diskusi terbatas berbenturan dengan birokrasi organisasi yang cenderung resisten.

            Dari lubuk hati terdalam, sungguh tidak ada maksud saya untuk membangun superioritas astronomi, karena ilmu semestinya membangun kesetaraan dalam harmoni kehidupan. Saya tetap meyakini, dengan pemahaman yang baik, astronomi bisa menjadi solusi penyatuan ummat, walau pada awalnya disalahfahami. Dalam aspek yang lebih luas, astronomi bisa menjadi pelita penuntun kemajuan sains yang bagi sebagian generasi muda dianggap rumit. Astronomi memberi tantangan nyata dengan keindahan fenomena langit yang hanya bisa dinikmati dengan perangkat sains. Cahaya yang dipancarkan benda-benda langit adalah bahasa universal. Kita bisa menikmati cerita galaksi yang menjauh, black hole yang superpadat, matahari yang meletup, atau bulan yang menampakkan hilal yang redup dengan interpreter sains. Terinspirasi semangat Bapak pendiri LIPI, Sarwono Prawirohardjo, saya terdorong untuk terus menjadikan ilmu pengetahuan hidup dan berkembang di masyarakat, menyatu dalam kehidupan, serta menjadikannya solusi dalam meningkatkan kualitas  berbangsa dan bernegara.

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.,

 

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Beberapa reportase di media lain:

Situs LIPI: LIPI Beri Penghargaan untuk Tokoh Astronomi

Situs LIPI: Astronomi sebagai Salah Satu Solusi Penyatuan Umat

http://langitselatan.com/2013/08/28/penghargaan-sarwono-prawirohardjo-xii-kepada-prof-dr-thomas-djamaluddin/

http://news.detik.com/read/2013/08/23/183815/2339133/608/prof-thomas-djamaluddin-mencari-ufo-dalam-sains-dan-agama

http://www.antaranews.com/berita/391959/peneliti-lapan-terima-lipi-sarwono-award-2013

http://sains.kompas.com/read/2013/08/23/1354043/Thomas.Djamaluddin.Raih.LIPI.Award

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/23/061506791/Peneliti-LAPAN-Raih-Sarwono-Award-LIPI-2013

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/08/20/3/176030/Penghargaan-Sarwono-Award-untuk-Thomas-Djamaluddin

http://www.beritasatu.com/sains/133597-ilmuwan-lapan-raih-anugerah-sarwono-award-2013.html

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/mengakrabkan-astronomi-pada-masyarakat

http://www.jurnas.com/news/104123/Thomas_Djamaluddin_Dianugerahi_Sarwono_Award_/1/Sosial_Budaya/Pendidikan

Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Rekor Muri-Mendirikan Telur terbanyak di Hari Peh Cun-Juni 2012

(Rekor Muri mendirikan telur terbanyak saat perayaan Peh Cun)

Pada perayaan Peh Cun warga Tionghoa, orang-orang mudah menegakkan telur. Apakah hanya pada perayaan Peh Cun? Tidak! Setiap awal bulan qamariyah dan bulan purnama saat tengah hari atau tengah malam itu bisa dilakukan. Contohnya pada 8 Juni 2013 adalah bulan baru (newmoon) awal Sya’ban. Perayaan Peh Cun dilaksanakan pada 12 Juni 2013, yaitu tanggal 5 bulan ke 5 dalam kalender Cina, artinya masih sekitar awal bulan. Pada saat bulan baru dan purnama, deferensial gravitasi bulan diperkuat oleh matahari. Itu pula yang menyebabkan pasang maksimum air laut. Tampaknya, beda gravitasi antara dasar telur dan puncak telur cukup signifikan untuk menahan telur berdiri tegak beberapa saat.

Penjelasannya sebagai berikut:

Pasang surut

Pasang surut-gaya

Pasang-surut

(Gambar-gambar dari internet dari fasilitas pencarian Google)

Tertariknya air laut disebabkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari yang berbeda-beda di setiap titik di bumi. Itu disebut gaya diferensial gravitasi, baik oleh bulan maupun matahari. Pada saat bulan dan matahari hampir segaris, saat bulan baru maupun purnama, gaya pasang-surut maksimum. Itu sebabnya pasang air laut pun maksimum pada saat-saat sekitar tengah hari dan tengah malam. Pada perayaan Peh Cun, warga Tionghoa memanfaatkan gaya diferensial gravitasi bulan-matahari maksimum itu untuk menegakkan telur. Mengapa telur bisa tegak beberapa saat? Perbedaan gravitasi oleh bulan dan matahari yang bekerja pada telur tampaknya mampu menjaga telur tegak beberapa saat (perhatikan ilustrasi garis gaya gravitasi bulan-matahari pada gambar di atas).

Updated: Tampaknya logika ilmiah seperti itu lemah, karena ternyata (setelah browsing di internet) ada beberapa eksperimen yang membuktikan telur juga mudah ditegakkan kapan saja bergantung tekstur permukaan tempatya. Di Barat mitos yang berkembang soal menegakkan telur saat equinox (sekitar 21 Maret), saat matahari di ekuator.  Artinya, tidak harus pengaruh bulan. Jadi beda mitos Peh Cun sekitar tanggal 5 lunar calendar di budaya Timur dengan equinox sekitar 21 Maret di budaya Barat cukup memberikan dasar bahwa tegakknya telur BUKAN karena pengaruh diferensial gravitasi bulan dan juga bukan karena pengaruh diferensial matahari.

Lalu logika ilmiah apa yang bisa menjelaskan? Bentuk telur yang agak elips memang sulit ditegakkan, tetapi mungkin ditegakkan di permukaan yang ada sedikit penyangga, misalkan pada permukaan yang tidak benar-benar rata (perhatikan lokasi telur pada foto di atas saat Rekor Muri 2012).

Jadi, atas pertanyaan di judul, “Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?” jawaban yang benar adalah “Tidak, menegakkan telur bisa kapan saja, bergantung tekstur permukaan tempatnya yang tidak rata sempurna sehingga masih ada sedikit penyangga telur”. Mitos Peh Cun atau Equinox cukuplah digunakan untuk sosialisasi diferensial gravitasi yang menyebabkan pasang surut air laut dan dampak ikutannya, tetapi sesungguhnya tidak berpengaruh pada tegaknya telur.

Mengapa Satu Pekan Tujuh Hari

T. Djamaluddin

Peneliti LAPAN

[Dicuplik dengan penyempurnaan dari buku saya untuk anak-anak dan remaja, “Bertanya Pada Alam”, ShofieMedia, 2006]

Bertanya Pada Alam

Sains adalah akumulasi pengetahuan manusia yang diformulasikan melalui metode ilmiah. Sains tidak bisa diklaim atau diberi label kelompok tertentu, sehingga tidak ada sains Barat, sains Islam, atau sains lainnya. Silakan browsing sejarah asal usul tahun, bulan, pekan, hari, jam, menit, dan detik, kita akan tahu bahwa semuanya adalah kontribuasi banyak budaya, antara lain budaya Babilonia, Mesir, India, Cina, Arab-Islam, Barat modern, dan banyak budaya lainnya.  Budaya dengan matematika berbasis 60 ternyata banyak digunakan pada awal perkembangan sains yang melahirkan konsep jam/derajat, menit, dan detik dengan kelipatan 60. Kepercayaan juga sering mewarnai konsep pemahaman alam sehingga astronomi dan astrologi dahulu bersatu. Berikut ini sekadar contoh, bahwa konsep sepekan 7 hari berawal dari pemahaman konsep 7 langit dalam astronomi lama dengan  penguasanya yang dianggap sebagai dewa dan  mempengaruhi bumi dan manusia dari jam ke jam.

Mengapa sepekan ada tujuh hari? Itu bermula dari keyakinan orang-orang dahulu bahwa tujuh benda langit utama mempengaruhi bumi dan manusianya. Ini selanjutnya dikaitkan dengan kepercayaan adanya tujuh langit. Di langit pertama ada bulan. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu percaya bahwa ketujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu. Mungkin juga pemilihan tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi terkait dengan konsep ini, tidak terkait kelahiran Yesus Kristus atau hari Natal.

Jam ke dua dipengaruhi oleh Jupiter. Selanjutnya Mars, Matahari, Venus, Merkurius, Bulan, Saturnus, Jupiter, dan seterusnya berulang lagi. Kemudian pada pukul 24 dipengaruhi Mars. Maka jam pertama hari berikutnya dipengaruhi oleh matahari (sun). Karenanya hari itu disebut hari matahari atau Sunday dalam bahasa Inggris atau Nichiyobi dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia disebut Ahad atau Minggu.   Kalau kita urutkan setiap jamnya, maka jam pertama pada hari ketiga dipengaruhi oleh Bulan. Karena itu hari Senin disebut hari Bulan (moon), dalam bahasa Inggris disebut Monday atau Getsuyobi dalam bahasa Jepang. Jam pertama hari ke empat (Selasa) dipengaruhi oleh Mars atau dewa Tue, karenanya disebut hari Mars atau hari Tue (Tuesday)  atau Kayoubi dalam bahasa Jepang. Hari ke lima (Rabu), pada jam pertama dipengaruhi oleh Merkurius atau dewa Woodn maka disebut hari Merkurius atau hari Woodn (Wednesday) atau Suiyobi dalam bahasa Jepang. Hari ke enam (Kamis) Jupiter atau dewa Thorn mempengaruhi pada jam pertamanya, karenanya disebut hari Jupiter atau hari Thorn (Thursday) atau Mokuyobi dalam bahasa Jepang. Dan hari ke tujuh (Jum’at), jam pertama dipengaruhi oleh Venus atau dewa Freya. Maka hari ke tujuh ini disebut hari Venus atau hari Freya (Friday) atau Kinyobi dalam bahasa Jepang. Itu sekilas sejarah lahirnya pembagian tujuh hari dalam sepekan dan nama-namanya yang berasal dari pemahaman orang-orang dahulu tentang tujuh langit.

Untuk jelasnya bisa dilihat pada urutan berikut ini. Kaitan nama hari dan nama tujuh benda langit itu tampak jelas pada nama hari dalam bahasa Ingrris, Jepang, dan mungkin banyak bahasa lainnya.

Asal Usul Hari

Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Domingo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan agama Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.


Undang-Undang Keantariksaan Memacu Kegiatan Keantariksaan Indonesia

T. Djamaluddin

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN

RUU-Keantariksaan

Peristiwa jatuhnya asteroid kecil di Rusia pada 15 Februari 2013 yang mencederai lebih dari seribu orang, menimbulkan kekhawatiran juga di Indonesia, akankah hal serupa bisa terjadi di Indonesia? Lalu bagaimana Indonesia mengantisipasi fenomena seperti itu, termasuk kemungkinan dampaknya? Lebih dari itu, pertanyaan publik mengarah pada seberapa mampukah Indonesia bisa mengikuti kemajuan sains dan teknologi antariksa yang sangat pesat dan memberikan manfaatnya kepada masyarakat?  Antisipasi baku penanganan peristiwa antariksa serta secara umum pengembangan sains dan teknologi antariksa mestinya ada regulasi yang mengaturnya yang bisa menjadi payung hukum atas segala kebijakan yang seharusnya diambil oleh pemerintah, khususnya lembaga yang menangani urusan keantariksaan yaitu LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Saat ini Rencangan Undang-Undang Keantariksaan sedang dalam proses pembahasan akhir di DPR yang diharapkan dalam waktu dekat dapat disahkan. Undang-undang Keantariksaan selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan Rencana Induk Keantariksaan Nasional atau Indonesian National Space Policy yang di banyak negara menjadi acuan kebijakan nasional dan menjadi pendorong kemajuan kegiatan  keantariksaan nasional.

Ada tujuh pokok tujuan Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  2. Mengoptimalkan penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan.
  3. Menjamin keberlanjutan penyelenggaraan keantariksaan untuk kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.
  4. Memberikan landasan dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  5. Mewujudkan keselamatan dan keamanan penyelenggaraan keantariksaan.
  6. Melindungi negara dan warga negaranya dari dampak negatif yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  7. Mengoptimalkan penerapan perjanjian internasional keantariksaan.

Ada dua prinsip dasar kegiatan keantariksaan yang harus dipegang. Prinsip pertama, antariksa merupakan wilayah bersama umat manusia yang dimanfaatkan bagi kepentingan semua negara tanpa memandang tingkat perkembangan ekonomi atau ilmu pengetahuan. Prinsip kedua, antariksa bebas untuk dieksplorasi dan digunakan oleh semua negara, tanpa diskriminasi berdasarkan asas persamaan dan sesuai dengan hukum internasional. Dengan dua prinsip itu, kita tidak mengenal batas wilayah negara di antariksa dan kerjasama internasional menjadi hal penting dalam pengembangannya. Dengan prinsip itu pula, negara berkembang mempunyai hak untuk mendapatkan manfaat eksplorasi antariksa oleh negara-negara maju sesuai dengan kaidah-kaidah hukum internasional.

Empat kegiatan pokok keantariksaan yang diatur dalam Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Sains antariksa.
  2. Penginderaan jauh.
  3. Penguasaan teknologi keantariksaan.
  4. Peluncuran.

Empat kegiatan pokok tersebut dapat dirangkum menjadi empat kata kunci “memahami, memanfaatkan, menguasai, dan melindungi”  dalam Undang-undang Keantariksaan. Dengan sains antariksa, kita dipacu untuk memahami fenomena fisis antariksa dan segala potensi dampaknya bagi bumi. Badai matahari dan benda jatuh antariksa adalah contoh fenomena yang menjadi perhatian dunia saat ini yang harus kita fahami betul hakikatnya. Teknologi satelit yang bisa mempermudah kehidupan manusia dalam pemantauan cuaca dan lingkungan untuk peringatan dini bencana, pemantauan sumber daya alam untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, serta penggunaan satelit komunikasi adalah upaya memanfaatkan teknologi antariksa yang saat tersedia (Catatan: dalam RUU ini hanya diatur pemanfaatan untuk penginderaan jauh, karena pemanfaatan terkait dengan telekomunikasi sudah diatur dalam UU lain). Kita pun tidak ingin sekadar memanfaatkan fasilitas asing dalam teknologi antariksa, kita pun harus menguasai teknologinya karena teknologi roket dan satelit serta aeronautika (penerbangan) yang terkait mempunyai manfaat jamak (multiple effect) bila dikembangkan, antara lain dalam mendukung industri pertahanan dan penerbangan. Pengembangan teknologi antariksa dikenal sebagai upaya yang “high tech, high cost, dan high risk” (berteknologi tinggi, berbiaya mahal, dan berisiko tinggi). Maka Undang-Undang Keantariksaan juga mengatur upaya-upaya melindungi berbagai pihak atas segala kemungkinan dampak kerugian dari kegiatan keantariksaan, khususnya kegiatan peluncuran wahana antariksa.

Dalam lingkup empat kegiatan keantariksaan tersebut, Undang-Undang Keantariksaan juga merinci beberapa aspek yang harus ada regulasi sebagai payung hukumnya. Beberapa aspek yang diatur secara khusus adalah delapan aspek berikut:

  1. Keamanan dan keselamatan.
  2. Bandar antariksa.
  3. Penanggulangan benda jatuh antariksa serta pencarian dan pertolongan antariksawan.
  4. Pendaftaran benda antriksa.
  5. Kerja sama internasional.
  6. Tanggung jawab dan kerugian.
  7. Asuransi, penjaminan, dan fasilitas.
  8. Pelestarian lingkungan.

Terkait dengan fenomena asteroid yang jatuh di Rusia dan potensi jatuhnya sampah antariksa yang menjadi perhatian publik, sekadar untuk memberi contoh aturan dalam rancangan Undang-undang Keantariksaan, berikut ini dikutipkan dua pasal yang mengatur penanganan benda jatuh antariksa. Dalam Undang-Undang ini, “Lembaga” menurut kondisi saat ini adalah LAPAN.

Penanggulangan Benda Jatuh Antariksa

 

Pasal 56

(1)   Benda jatuh dari antariksa dapat terdiri atas:

a.    benda buatan manusia; dan

b.    benda alamiah.

(2)   Benda jatuh dari antariksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat jatuh ke bumi dengan terdeteksi ataupun tidak terdeteksi.

(3)   Setiap orang dilarang menghilangkan atau mengubah letak dan mengambil bagian dari benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4)   Lembaga wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.

(5)   Dalam hal benda jatuh antariksa milik asing, Lembaga dapat memproses  sesuai dengan perjanjian internasional yang berlaku.

 

Pasal 57

Untuk tujuan keamanan dan keselamatan, kepentingan penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, setiap benda antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diserahkan kepada Lembaga.

(Download draft RUU Keantariksaan yang diserahkan Pemerintah kepada DPR: RUU Antariksa Final Harmonisasi-22 Nov 2011)

T. Djamaluddin’s Blog: 2012 in review

Statistik WordPress memberikan laporan tahunan 2012:

Ini ringkasannya:

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 180,000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 3 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Sebagai tambahan, ClustrMaps memberikan informasi sebaran pengunjung selama 2012. Makin besar bulatan merahnya, berarti makin banyak pengunjung dari kota tersebut. Bintik kuning menunjukkan pengunjung pada akhir Desember 2012.

Sebaran Pengunjung Blog - 2012

NASA Bantah Isu Kiamat dan Gelap Total pada 21 dan 23-25 Desember 2012

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Solar System 23-25 Dec 2012

Isu kiamat 2012 sudah saya bantah di blog saya . Tetapi belakangan beredar informasi menyesatkan yang mengatasnamakan NASA bahwa akan ada kegelapan pada 23-25 Desember 2012. Informasi yang mengatasnamakan NASA kadang dianggap benar, walau isinya tak masuk tak masuk akal. Disebutkan akan ada “pengelompokan alam semesta, bumi dan matahari akan mengelompok untuk pertama kalinya”. Kutipan informasi bohong itu seperti ini:

It is not the end of the world, it is an alignment of the Universe, where the Sun and the earth will align for the
first time. The earth will shift from the current third dimension to zero dimension, then shift to the forth
dimension. During this transition, the entire Universe will face a big change, and we will see a entire brand new
world..

The 3 days blackout is predicted to happen on Dec 23, 24, 25…

————————————————————————————–

Ini bukan akhir dari dunia, itu adalah pengelompokan alam semesta, matahari dan bumi akan mengelompok untuk
pertama kali. Bumi akan bergeser dari dimensi ketiga saat ini ke nol dimensi, kemudian beralih ke
dimensi keempat. Selama masa transisi ini, seluruh semesta akan menghadapi perubahan besar, dan kami akan melihat dunia yang semuanya baru…

3 hari kegelapan diperkirakan terjadi pada Des 23,, 24 25 …

Informasi itu sangat rancu dan menyesatkan. Tidak ada pengelompokan di alam semesta. Susunan planet-planet pun tidak mengelompok seperti ditunjukkan gambar di atas untuk kondisi sekitar 23-25 Desember 2012.

NASA membuat batahan yang merupakan jawaban atas pertanyaan publik  (bila perlu terjemahan, silakan gunakan fasilitas penerjemah google ):

Question (Q): Are there any threats to the Earth in 2012? Many Internet websites say the world will end in December 2012.

Answer (A):The world will not end in 2012. Our planet has been getting along just fine for more than 4 billion years, and credible scientists worldwide know of no threat associated with 2012.


Q: What is the origin of the prediction that the world will end in 2012?

A: The story started with claims that Nibiru, a supposed planet discovered by the Sumerians, is headed toward Earth. This catastrophe was initially predicted for May 2003, but when nothing happened the doomsday date was moved forward to December 2012 and linked to the end of one of the cycles in the ancient Mayan calendar at the winter solstice in 2012 — hence the predicted doomsday date of December 21, 2012.


Q: Does the Mayan calendar end in December 2012?

A: Just as the calendar you have on your kitchen wall does not cease to exist after December 31, the Mayan calendar does not cease to exist on December 21, 2012. This date is the end of the Mayan long-count period but then — just as your calendar begins again on January 1 — another long-count period begins for the Mayan calendar.


Q: Is NASA predicting a “total blackout” of Earth on Dec. 23 to Dec. 25?

A: Absolutely not. Neither NASA nor any other scientific organization is predicting such a blackout. The false reports on this issue claim that some sort of “alignment of the Universe” will cause a blackout. There is no such alignment (see next question). Some versions of this rumor cite an emergency preparedness message from NASA Administrator Charles Bolden. This is simply a message encouraging people to be prepared for emergencies, recorded as part of a wider government preparedness campaign. It never mentions a blackout.
›Watch the Video


Q: Could planets align in a way that impacts Earth?

A: There are no planetary alignments in the next few decades and even if these alignments were to occur, their effects on the Earth would be negligible. One major alignment occurred in 1962, for example, and two others happened during 1982 and 2000. Each December the Earth and sun align with the approximate center of the Milky Way Galaxy but that is an annual event of no consequence.
› More about alignment

“There apparently is a great deal of interest in celestial bodies, and their locations and trajectories at the end of the calendar year 2012. Now, I for one love a good book or movie as much as the next guy. But the stuff flying around through cyberspace, TV and the movies is not based on science. There is even a fake NASA news release out there…”
– Don Yeomans, NASA senior research scientist

Q: Is there a planet or brown dwarf called Nibiru or Planet X or Eris that is approaching the Earth and threatening our planet with widespread destruction?

A: Nibiru and other stories about wayward planets are an Internet hoax. There is no factual basis for these claims. If Nibiru or Planet X were real and headed for an encounter with the Earth in 2012, astronomers would have been tracking it for at least the past decade, and it would be visible by now to the naked eye. Obviously, it does not exist. Eris is real, but it is a dwarf planet similar to Pluto that will remain in the outer solar system; the closest it can come to Earth is about 4 billion miles.


Q: What is the polar shift theory? Is it true that the Earth’s crust does a 180-degree rotation around the core in a matter of days if not hours?

A: A reversal in the rotation of Earth is impossible. There are slow movements of the continents (for example Antarctica was near the equator hundreds of millions of years ago), but that is irrelevant to claims of reversal of the rotational poles. However, many of the disaster websites pull a bait-and-switch to fool people. They claim a relationship between the rotation and the magnetic polarity of Earth, which does change irregularly, with a magnetic reversal taking place every 400,000 years on average. As far as we know, such a magnetic reversal doesn’t cause any harm to life on Earth. Scientists believe a magnetic reversal is very unlikely to happen in the next few millennia.
› More about polar shift


Q: Is the Earth in danger of being hit by a meteor in 2012?

A: The Earth has always been subject to impacts by comets and asteroids, although big hits are very rare. The last big impact was 65 million years ago, and that led to the extinction of the dinosaurs. Today NASA astronomers are carrying out a survey called the Spaceguard Survey to find any large near-Earth asteroids long before they hit. We have already determined that there are no threatening asteroids as large as the one that killed the dinosaurs. All this work is done openly with the discoveries posted every day on the NASA Near-Earth Object Program Office website, so you can see for yourself that nothing is predicted to hit in 2012.


Q: How do NASA scientists feel about claims of the world ending in 2012?

A: For any claims of disaster or dramatic changes in 2012, where is the science? Where is the evidence? There is none, and for all the fictional assertions, whether they are made in books, movies, documentaries or over the Internet, we cannot change that simple fact. There is no credible evidence for any of the assertions made in support of unusual events taking place in December 2012.
› Why you need not fear a supernova
› About super volcanoes


Q: Is there a danger from giant solar storms predicted for 2012?

A: Solar activity has a regular cycle, with peaks approximately every 11 years. Near these activity peaks, solar flares can cause some interruption of satellite communications, although engineers are learning how to build electronics that are protected against most solar storms. But there is no special risk associated with 2012. The next solar maximum will occur in the 2012-2014 time frame and is predicted to be an average solar cycle, no different than previous cycles throughout history.
› Video: Solar Storms
› More about solar storms

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 214 pengikut lainnya.