Undang-Undang Keantariksaan Memacu Kegiatan Keantariksaan Indonesia

T. Djamaluddin

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN

RUU-Keantariksaan

Peristiwa jatuhnya asteroid kecil di Rusia pada 15 Februari 2013 yang mencederai lebih dari seribu orang, menimbulkan kekhawatiran juga di Indonesia, akankah hal serupa bisa terjadi di Indonesia? Lalu bagaimana Indonesia mengantisipasi fenomena seperti itu, termasuk kemungkinan dampaknya? Lebih dari itu, pertanyaan publik mengarah pada seberapa mampukah Indonesia bisa mengikuti kemajuan sains dan teknologi antariksa yang sangat pesat dan memberikan manfaatnya kepada masyarakat?  Antisipasi baku penanganan peristiwa antariksa serta secara umum pengembangan sains dan teknologi antariksa mestinya ada regulasi yang mengaturnya yang bisa menjadi payung hukum atas segala kebijakan yang seharusnya diambil oleh pemerintah, khususnya lembaga yang menangani urusan keantariksaan yaitu LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Saat ini Rencangan Undang-Undang Keantariksaan sedang dalam proses pembahasan akhir di DPR yang diharapkan dalam waktu dekat dapat disahkan. Undang-undang Keantariksaan selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan Rencana Induk Keantariksaan Nasional atau Indonesian National Space Policy yang di banyak negara menjadi acuan kebijakan nasional dan menjadi pendorong kemajuan kegiatan  keantariksaan nasional.

Ada tujuh pokok tujuan Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  2. Mengoptimalkan penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan.
  3. Menjamin keberlanjutan penyelenggaraan keantariksaan untuk kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.
  4. Memberikan landasan dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  5. Mewujudkan keselamatan dan keamanan penyelenggaraan keantariksaan.
  6. Melindungi negara dan warga negaranya dari dampak negatif yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  7. Mengoptimalkan penerapan perjanjian internasional keantariksaan.

Ada dua prinsip dasar kegiatan keantariksaan yang harus dipegang. Prinsip pertama, antariksa merupakan wilayah bersama umat manusia yang dimanfaatkan bagi kepentingan semua negara tanpa memandang tingkat perkembangan ekonomi atau ilmu pengetahuan. Prinsip kedua, antariksa bebas untuk dieksplorasi dan digunakan oleh semua negara, tanpa diskriminasi berdasarkan asas persamaan dan sesuai dengan hukum internasional. Dengan dua prinsip itu, kita tidak mengenal batas wilayah negara di antariksa dan kerjasama internasional menjadi hal penting dalam pengembangannya. Dengan prinsip itu pula, negara berkembang mempunyai hak untuk mendapatkan manfaat eksplorasi antariksa oleh negara-negara maju sesuai dengan kaidah-kaidah hukum internasional.

Empat kegiatan pokok keantariksaan yang diatur dalam Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Sains antariksa.
  2. Penginderaan jauh.
  3. Penguasaan teknologi keantariksaan.
  4. Peluncuran.

Empat kegiatan pokok tersebut dapat dirangkum menjadi empat kata kunci “memahami, memanfaatkan, menguasai, dan melindungi”  dalam Undang-undang Keantariksaan. Dengan sains antariksa, kita dipacu untuk memahami fenomena fisis antariksa dan segala potensi dampaknya bagi bumi. Badai matahari dan benda jatuh antariksa adalah contoh fenomena yang menjadi perhatian dunia saat ini yang harus kita fahami betul hakikatnya. Teknologi satelit yang bisa mempermudah kehidupan manusia dalam pemantauan cuaca dan lingkungan untuk peringatan dini bencana, pemantauan sumber daya alam untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, serta penggunaan satelit komunikasi adalah upaya memanfaatkan teknologi antariksa yang saat tersedia (Catatan: dalam RUU ini hanya diatur pemanfaatan untuk penginderaan jauh, karena pemanfaatan terkait dengan telekomunikasi sudah diatur dalam UU lain). Kita pun tidak ingin sekadar memanfaatkan fasilitas asing dalam teknologi antariksa, kita pun harus menguasai teknologinya karena teknologi roket dan satelit serta aeronautika (penerbangan) yang terkait mempunyai manfaat jamak (multiple effect) bila dikembangkan, antara lain dalam mendukung industri pertahanan dan penerbangan. Pengembangan teknologi antariksa dikenal sebagai upaya yang “high tech, high cost, dan high risk” (berteknologi tinggi, berbiaya mahal, dan berisiko tinggi). Maka Undang-Undang Keantariksaan juga mengatur upaya-upaya melindungi berbagai pihak atas segala kemungkinan dampak kerugian dari kegiatan keantariksaan, khususnya kegiatan peluncuran wahana antariksa.

Dalam lingkup empat kegiatan keantariksaan tersebut, Undang-Undang Keantariksaan juga merinci beberapa aspek yang harus ada regulasi sebagai payung hukumnya. Beberapa aspek yang diatur secara khusus adalah delapan aspek berikut:

  1. Keamanan dan keselamatan.
  2. Bandar antariksa.
  3. Penanggulangan benda jatuh antariksa serta pencarian dan pertolongan antariksawan.
  4. Pendaftaran benda antriksa.
  5. Kerja sama internasional.
  6. Tanggung jawab dan kerugian.
  7. Asuransi, penjaminan, dan fasilitas.
  8. Pelestarian lingkungan.

Terkait dengan fenomena asteroid yang jatuh di Rusia dan potensi jatuhnya sampah antariksa yang menjadi perhatian publik, sekadar untuk memberi contoh aturan dalam rancangan Undang-undang Keantariksaan, berikut ini dikutipkan dua pasal yang mengatur penanganan benda jatuh antariksa. Dalam Undang-Undang ini, “Lembaga” menurut kondisi saat ini adalah LAPAN.

Penanggulangan Benda Jatuh Antariksa

 

Pasal 56

(1)   Benda jatuh dari antariksa dapat terdiri atas:

a.    benda buatan manusia; dan

b.    benda alamiah.

(2)   Benda jatuh dari antariksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat jatuh ke bumi dengan terdeteksi ataupun tidak terdeteksi.

(3)   Setiap orang dilarang menghilangkan atau mengubah letak dan mengambil bagian dari benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4)   Lembaga wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.

(5)   Dalam hal benda jatuh antariksa milik asing, Lembaga dapat memproses  sesuai dengan perjanjian internasional yang berlaku.

 

Pasal 57

Untuk tujuan keamanan dan keselamatan, kepentingan penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, setiap benda antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diserahkan kepada Lembaga.

(Download draft RUU Keantariksaan yang diserahkan Pemerintah kepada DPR: RUU Antariksa Final Harmonisasi-22 Nov 2011)

T. Djamaluddin’s Blog: 2012 in review

Statistik WordPress memberikan laporan tahunan 2012:

Ini ringkasannya:

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 180,000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 3 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Sebagai tambahan, ClustrMaps memberikan informasi sebaran pengunjung selama 2012. Makin besar bulatan merahnya, berarti makin banyak pengunjung dari kota tersebut. Bintik kuning menunjukkan pengunjung pada akhir Desember 2012.

Sebaran Pengunjung Blog - 2012

NASA Bantah Isu Kiamat dan Gelap Total pada 21 dan 23-25 Desember 2012

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Solar System 23-25 Dec 2012

Isu kiamat 2012 sudah saya bantah di blog saya . Tetapi belakangan beredar informasi menyesatkan yang mengatasnamakan NASA bahwa akan ada kegelapan pada 23-25 Desember 2012. Informasi yang mengatasnamakan NASA kadang dianggap benar, walau isinya tak masuk tak masuk akal. Disebutkan akan ada “pengelompokan alam semesta, bumi dan matahari akan mengelompok untuk pertama kalinya”. Kutipan informasi bohong itu seperti ini:

It is not the end of the world, it is an alignment of the Universe, where the Sun and the earth will align for the
first time. The earth will shift from the current third dimension to zero dimension, then shift to the forth
dimension. During this transition, the entire Universe will face a big change, and we will see a entire brand new
world..

The 3 days blackout is predicted to happen on Dec 23, 24, 25…

————————————————————————————–

Ini bukan akhir dari dunia, itu adalah pengelompokan alam semesta, matahari dan bumi akan mengelompok untuk
pertama kali. Bumi akan bergeser dari dimensi ketiga saat ini ke nol dimensi, kemudian beralih ke
dimensi keempat. Selama masa transisi ini, seluruh semesta akan menghadapi perubahan besar, dan kami akan melihat dunia yang semuanya baru…

3 hari kegelapan diperkirakan terjadi pada Des 23,, 24 25 …

Informasi itu sangat rancu dan menyesatkan. Tidak ada pengelompokan di alam semesta. Susunan planet-planet pun tidak mengelompok seperti ditunjukkan gambar di atas untuk kondisi sekitar 23-25 Desember 2012.

NASA membuat batahan yang merupakan jawaban atas pertanyaan publik  (bila perlu terjemahan, silakan gunakan fasilitas penerjemah google ):

Question (Q): Are there any threats to the Earth in 2012? Many Internet websites say the world will end in December 2012.

Answer (A):The world will not end in 2012. Our planet has been getting along just fine for more than 4 billion years, and credible scientists worldwide know of no threat associated with 2012.


Q: What is the origin of the prediction that the world will end in 2012?

A: The story started with claims that Nibiru, a supposed planet discovered by the Sumerians, is headed toward Earth. This catastrophe was initially predicted for May 2003, but when nothing happened the doomsday date was moved forward to December 2012 and linked to the end of one of the cycles in the ancient Mayan calendar at the winter solstice in 2012 — hence the predicted doomsday date of December 21, 2012.


Q: Does the Mayan calendar end in December 2012?

A: Just as the calendar you have on your kitchen wall does not cease to exist after December 31, the Mayan calendar does not cease to exist on December 21, 2012. This date is the end of the Mayan long-count period but then — just as your calendar begins again on January 1 — another long-count period begins for the Mayan calendar.


Q: Is NASA predicting a “total blackout” of Earth on Dec. 23 to Dec. 25?

A: Absolutely not. Neither NASA nor any other scientific organization is predicting such a blackout. The false reports on this issue claim that some sort of “alignment of the Universe” will cause a blackout. There is no such alignment (see next question). Some versions of this rumor cite an emergency preparedness message from NASA Administrator Charles Bolden. This is simply a message encouraging people to be prepared for emergencies, recorded as part of a wider government preparedness campaign. It never mentions a blackout.
›Watch the Video


Q: Could planets align in a way that impacts Earth?

A: There are no planetary alignments in the next few decades and even if these alignments were to occur, their effects on the Earth would be negligible. One major alignment occurred in 1962, for example, and two others happened during 1982 and 2000. Each December the Earth and sun align with the approximate center of the Milky Way Galaxy but that is an annual event of no consequence.
› More about alignment

“There apparently is a great deal of interest in celestial bodies, and their locations and trajectories at the end of the calendar year 2012. Now, I for one love a good book or movie as much as the next guy. But the stuff flying around through cyberspace, TV and the movies is not based on science. There is even a fake NASA news release out there…”
– Don Yeomans, NASA senior research scientist

Q: Is there a planet or brown dwarf called Nibiru or Planet X or Eris that is approaching the Earth and threatening our planet with widespread destruction?

A: Nibiru and other stories about wayward planets are an Internet hoax. There is no factual basis for these claims. If Nibiru or Planet X were real and headed for an encounter with the Earth in 2012, astronomers would have been tracking it for at least the past decade, and it would be visible by now to the naked eye. Obviously, it does not exist. Eris is real, but it is a dwarf planet similar to Pluto that will remain in the outer solar system; the closest it can come to Earth is about 4 billion miles.


Q: What is the polar shift theory? Is it true that the Earth’s crust does a 180-degree rotation around the core in a matter of days if not hours?

A: A reversal in the rotation of Earth is impossible. There are slow movements of the continents (for example Antarctica was near the equator hundreds of millions of years ago), but that is irrelevant to claims of reversal of the rotational poles. However, many of the disaster websites pull a bait-and-switch to fool people. They claim a relationship between the rotation and the magnetic polarity of Earth, which does change irregularly, with a magnetic reversal taking place every 400,000 years on average. As far as we know, such a magnetic reversal doesn’t cause any harm to life on Earth. Scientists believe a magnetic reversal is very unlikely to happen in the next few millennia.
› More about polar shift


Q: Is the Earth in danger of being hit by a meteor in 2012?

A: The Earth has always been subject to impacts by comets and asteroids, although big hits are very rare. The last big impact was 65 million years ago, and that led to the extinction of the dinosaurs. Today NASA astronomers are carrying out a survey called the Spaceguard Survey to find any large near-Earth asteroids long before they hit. We have already determined that there are no threatening asteroids as large as the one that killed the dinosaurs. All this work is done openly with the discoveries posted every day on the NASA Near-Earth Object Program Office website, so you can see for yourself that nothing is predicted to hit in 2012.


Q: How do NASA scientists feel about claims of the world ending in 2012?

A: For any claims of disaster or dramatic changes in 2012, where is the science? Where is the evidence? There is none, and for all the fictional assertions, whether they are made in books, movies, documentaries or over the Internet, we cannot change that simple fact. There is no credible evidence for any of the assertions made in support of unusual events taking place in December 2012.
› Why you need not fear a supernova
› About super volcanoes


Q: Is there a danger from giant solar storms predicted for 2012?

A: Solar activity has a regular cycle, with peaks approximately every 11 years. Near these activity peaks, solar flares can cause some interruption of satellite communications, although engineers are learning how to build electronics that are protected against most solar storms. But there is no special risk associated with 2012. The next solar maximum will occur in the 2012-2014 time frame and is predicted to be an average solar cycle, no different than previous cycles throughout history.
› Video: Solar Storms
› More about solar storms

Khutbah Idul Adha 1421/2001 (HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA)

Khutbah Idul Adha 1421/2001, Masjid Nurul Jamil, Dago, Bandung

(Disampaikan oleh T. Djamaluddin, LAPAN Bandung)

(“Thawaf”, Dari internet)

HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA

(Teks Arab, tidak tertulis)

Katakanlah,
“Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh, memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya dalam empat masa (sejak penciptaan bumi). (Itulah jawaban) bagi orang‑orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit yang berupa kabut. Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q. S. 41:9-12)

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Pagi ini di hari raya qurban – Idul Adha – ketika jutaan manusia sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, ketika jutaan ternak siap diqurbankan, sejenak kita merenungi kembali posisi kita di hadapan Allah dan sesama manusia. Ibadah Haji mengingatkan sejarah manusia sejak penciptaan alam semesta hingga reformasi logika tauhid manusiawi yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Ibadah Qurban mengingatkan perjuangan hidup manusia dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan manifestasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Walaupun tidak dijelaskan secara tegas di dalam Al-Quran dan Hadits tentang makna setiap kegiatan ibadah haji, kita coba mencari maknanya yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang direkonstruksikan dalam ibadah haji tersebut. Pertama, makna asasi tentang ketaatan alam semesta kepada Allah sejak penciptaannya yang disimbolkan dengan thawaf, mengelilingi kab’bah. Kedua, makna dari kisah ketauhidan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang direpresentasikan dengan sai, melontar jumrah, dan qurban. Ketiga, makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf.

Makna yang pertama dapat ditarik dari fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti  ribuan asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum Allah.

Makhluk langit (bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya) ‘disempurnakan’ (fasawwahaa) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya .

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

‘Mengelilingi sesuatu’ disebut thawaf. Alam berthawaf sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani, manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada Allah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Dengan merenungi ketaatan alam, thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun, manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan  makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS 17:70).

Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. (QS 95:4).

Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS 70:19).

Manusia juga lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia  dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28).

Juga bersifat tergesa-gesa.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.  (QS 17:11).

Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat (QS 33:72). Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)  (QS 95:5).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan duniawi yang ditonjolkan.

 

Makna yang kedua, kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang rasionalitasnya dalam bertauhid dan ketaatannya yang luar biasa kepada Allah patut menjadi teladan. Perbuatannya banyak direkonstruksikan para jemaah haji, seperti sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwah, melontar jumrah, dan berqurban. Sa’i mengingatkan keteguhan, keuletan, dan sikap tawakal Siti Hajar dalam memelihara Ismail di tengah lingkungan alam yang sangat tandus. Melontar jumrah mengingatkan perlawanan gigih keluarga Ibrahim AS melawan bujuk rayu syaithan. Qurban mengingatkan ketaatan yang luar biasa antara ayah dan anak, Ibrahim AS dan Ismail AS, yang diuji dengan perintah Allah untuk mengurbankan Ismail, yang akhirnya digantikan Allah dengan seekor kambing besar.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (QS 16: 120).

Khatib tidak akan berkisah rinci tentang sejarah asal mula sa’i, melontar jumrah, dan berqurban. Tetapi menengok dasar tauhid yang melandasi segala aspek kehidupan Nabi Ibrahim AS. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim tidak bertaqlid pada tradisi, tidak larut pada kesesatan lingkungannya, malah membuktikan kebenaran tauhid secara rasional kepada ummatnya. Mari kita hayati suasana batin saat itu dalam pembuktian ekistensi Tuhan yang hakiki dengan mengamati langit. Seusai maghrib petang nanti bila langit cerah tengoklah langit barat.  Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang sangat cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Itulah bintang kejora. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bayangkan diri kita bersama Nabi Ibrahim AS yang menghadapi kaumnya yang tak bertauhid.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia  berkata: “Inilah Tuhanku”,  tetapi
tatkala bintang itu tenggelam  dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (6:76).

Sungguh cemerlang bintang kejora di ufuk barat. Bintang sering jadi penunjuk arah. Warnanya, konfigurasinya, atau kecemerlangannya sering diasosiasikan dengan dewa-dewa tertentu. Bintang yang paling cemerlang sering didewakan pada waktu itu. Namun, bintang tidak selamanya tampak. Sebentar juga terbenam. Tak beralasan untuk menyembahnya.

Beberapa hari mendatang kita akan melihat purnama terbit di ufuk timur. Ini lebih terang. Malam yang biasanya gelap pun menjadi terang.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS 6:77)

Bulan yang cemerlang pun tidak bertahan lama. Ada saatnya terbenam. Kemudian pada pagi hari tampaklah matahari yang jauh lebih cemerlang dan tampak sangat besar di kaki langit.

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas  diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS 6:78).

Mungkin kita tidak merasakan betapa beratnya menjelaskan ketauhidan pada zaman Nabi Ibrahim AS, karena kita sudah diberi hidayah Allah atau terlahir dari keluarga Muslim yang telah diajarkan ketauhidan. Namun, kita bisa merasakan betapa susahnya kita menjelaskan dan melaksanakan pada diri dan keluarga akan makna ketauhidan yang sesungguhnya. Tak jarang perbuatan berbau syirik masih kita jumpai di tengah masyakarat, mungkin di dalam diri dan keluarga kita sendiri, sadar atau tak sadar. Berapa banyak orang yang masih percaya pada benda-benda atau tempat-tempat yang dikeramatkan. Atau kita berbuat riya, pamer dalam beribadah. Atau yang paling tersamar bentuk kemusyrikan yang mungkin sering kita lakukan tanpa disadari adalah keraguan akan kemurahan Allah ketika kita berdoa, ketidakyakinan diri bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Padahal setiap shalat kita baca ungkapan Nabi Ibrahim AS:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 6:79)

Tidak yakin akan kekuasaan Allah, termasuk syirik, menyekutukan Allah. Menurut para ulama, ada tiga klasifikasi syirik itu. Ada syirik akbar (syirik berat), seperti secara nyata menganggap Allah lebih dari satu atau menganggap ada kekuatan lain selain Allah atau sekadar menyamakan kecintaan (mahabbah) kepada manusia atau benda seperti kecintaannya kepada Allah. Ada syirik ashghar (syirik kecil), yaitu berbuat riya. Amal ibadahnya tidak ikhlas semata-mata karena Allah, tetapi ada terselip niat ingin dipuji orang lain. Bila bershadaqah, ingin terlihat dan dianggap sebagai orang dermawan. Bila shalat dan beribadah lainnya ingin orang lain mengetahuinya dan memujinya sebagai orang shalih. Dan seterusnya. Ada juga syirik khafiy (tersamar), semisal ragu dalam berdoa tersebut tadi. Karena tersamarnya Rasulullah mengibaratkannya sebagai “semut hitam merayap di batu hitam pada malam yang gelap gulita”. Sangat tersamar sehingga kita tidak menyadarinya bahwa itu salah satu bentuk syirik.

Syirik bermula dari sikap dan perasaan merendahkan peran Allah. Bila peran Allah saja direndahkan, sangat mungkin peran sesama manusia pun dilecehkan. Sikap angkuh atau arogan, merasa tiada tandingan, sangat dekat dengan perilaku syirik. Fir’aun dengan kekuasaanya yang tak terbatas demikian angkuhnya hingga mengklaim dirinya tuhan. Kisah pembuktian tentang Tuhan yang hakiki oleh Ibrahim AS memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu.

Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi. Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.

Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Kolusi dan nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang. Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan “fenomena bintang kejora” adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Makna ketiga adalah makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf (berdiam) di Arafah. Dengan berbalutkan pakaian ihram yang sama, tak tampak perbedaan strata sosial, semua jamaah haji berkumpul di Arafah. Diharapkan ritual puncak ibadah haji ini melahirkan sikap tawadhu, merendahkan diri di hadapkan Allah dan menghilangkan sikap diskriminatif terhadap sesama manusia. Bayangkan kita berada di dataran yang luas, berkubahkan langit biru, dan matahari terik di atas kepala. Ini hanya miniatur padang mahsyar di yaumul akhir.

Pada pagi yang suci ini, khatib mengajak untuk menghayati makna tawadhu’ dan persamaan dalam suasana seperti itu. Berada di padang luas berkubahkan langit akan terasa kecil di tengah keluasan alam, apalagi di hadapan Allah pencipta alam raya ini. Coba kita renungkan sejenak relativitas persepsi  manusia yang sering membawa keangkuhan dan merendahkan sesama. Manusia kadang terkecoh dengan persepsinya sendiri. Matahari yang terik di atas kepala itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan langit yang sangat luas. Padahal kita sering menganggapnya besar ketika berada di kaki langit pada pagi atau sore hari. Ketika itu matahari dibandingkan dengan pepohonan atau gedung di kejauhan yang tampak kecil.

Manusia mengukur sesuatu hanya berdasarkan perbandingan. Kita mengenal besar, karena adanya sikecil. Kita merasakan panas karena pernah merasakan yang lebih dingin. Kita menganggapnya kaya karena melihat yang miskin atau sebaliknya kita merasa miskin karena dihadapan kita ada yang lebih kaya. Kita merasakan pandai ketika kita berbicara dihadapan yang orang belum tahu. Kita merasakan kuat karena ada yang lebih lemah. Lalu, kalau diseragamkan dengan pakaian ihram yang sama, masihkan memperbandingkan status sosial atau derajat duniawi lainnya. Karena kelak, ketika maut menjemput, tak satu pun benda duniawi yang menyertai ke liang lahad selain kaif kafan, mirip dengan kain ihram tersebut.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS 49:11)

Sebagai penutup, khatib sampaikan hal pokok yang ingin disampaikan dalam khutbah ini. Idul Adha yang ditandai dengan ibadah haji dan qurban hendaknya menjadi momentum terbaik bagi kita semua, yang pernah melaksanakannya, yang merencanakan pada tahun mendatang, atau sekadar menyaksikannya, untuk mereposisikan diri di hadapan Allah dan sesama manusia sesuai dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga kita mampu meningkatkan sikap tawadlu di hadapan-Nya, menyempurnakan ketauhidan dengan sesungguhnya, dan meningkatkan penghargaan terhadap sesama tanpa sikap arogan karena pada dasarnya setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan yang bersifat relatif. Terakhir, mari kita akhiri khutbah ini dengan doa:

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat  kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS 7:23)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami,  dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang  kafir.” (QS 2:286)

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri/suami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpim bagi orang-orang yang bertakwa. (QS25:74)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri  petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi  (karunia)”.(QS 3:8)

“Ya Tuhan kami,  berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS 2:201).

2011 in review

Statistik WordPress.com memberikan laporan tahunan 2011 tentang blog ini:

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 180,000 times in 2011. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 8 days for that many people to see it.

Blog ini mendapat sekitar 180.000 kunjungan selama 2011. Hari tersibuk adalah ketika terjadi heboh penentuan Idul Fitri pada 30 Agustsu 2011 dengan jumlah pengunjung hari itu: 23.942 dan menempatkan blog ini salah satu blog peringkat teratas di antara pengguna WordPress. Saya berharap blog ini memberikan pencerahan kepada banyak orang, walau mungkin menimbulkan kontroversi. Silakan berikan tanggapan pada hal substansinya agar diskusi akan mematangkan pemahaman kita. Tanggapan subjektif ketidaksetujuan saya biarkan terpampang di blog ini, kecuali beberapa yang terpaksa saya hapus karena menggunakan kata-kata yang tak layak menurut norma publik.”

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Memaknai Refleksi “Tahun Penuh Dusta” dalam Konteks Internal Muhammadiyah untuk Menuju Kehidupan Berbangsa yang Lebih Baik

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

(Dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta)

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah memaparkan refleksi akhir tahun dengan menyatakan bahwa tahun 2011 adalah “tahun penuh dusta”. Saya tidak tertarik dengan makna politis pernyataan itu, karena itu bukan kompetensi saya. Tetapi saya tertarik dengan makna luas refleksi itu, yang mengarah bukan hanya eksternal tetapi juga internal Muhammadiyah. Apalagi dalam Islam ada prinsip da’wah yang bersifat eksternal sekaligus internal yang diajarkan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shaaf: 2 – 4:

 

”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS 61: 2 – 4).

 

Ayat 4 sangat relevan dengan tujuan saya memaknai refleksi tersebut, untuk menjadikan ummat ini satu barisan yang kokoh seperti bangungan yang tersusun rapih. Tujuan refleksi akhir tahun tentunya bukan sekedar kritik kosong tak bermakna, tetapi sarat dengan muatan tekad untuk membenahi kehidupan berbangsa di Indonesia. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar tentu punya peran penting dalam membangun bangsa ini. Kita semua mengakui dan mengapresiasi peran sosial keagaman Muhammadiyah tidak bisa diabaikan sejak pra-kemerdekaan RI sampai saat ini. Gerakan tajdid (pembaruan) menjadi ciri menonjol pada awal sejarah persyarikatan Muhammadiyah.

 

Sayang, jiwa tajdid itu kini tampak meredup. Ketika ummat menghendaki persatuan dengan simbol fenomena sosial kebersamaan dalam berhari raya, Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria usangnya “Wujudul Hilal” (asal “hilal” wujud di atas ufuk) yang menghambat persatuan itu. Pernyataan keras tokoh-tokohnya menghadapi kritik atas kriteria usang itu mengindikasikan ada dusta internal yang didokrinkan seolah hisab itu paling hebat dan seolah hisab itu hanya wujudul hilal. Ketika diajak untuk bersatu dan bersepakat pada hisab kriteria imkan rukyat (perhitungan astronomi tentang kemungkinan terihatnya hilal) yang menyetarakan hisab dan rukyat tanpa meninggalkan metode hisab yang diyakininya, perwakilan mereka melakukan disenting opinion dan yang terlanjur menandatanganinya bersikeras membantah mewakili Muhammadiyah. Muhammadiyah ingin tetap berbeda dengan yang lain, seolah ajakan pada QS 61:4 untuk bersatu dalam barisan yang kokoh dianggapnya tidak penting. Superioritas organisasi tampaknya mengabaikan seruan Allah itu.

 

Paradoks wujudul hilal atau dalam bahasa awamnya “dusta” wujudul hilal sudah sangat nyata dan landasan dalilnya sangat lemah. Mereka masih berlindung pada dalil hisab yang sebenarnya juga berlaku bagi hisab imkan rukyat. Ego organisasi sangat kental terasa. http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/ .

Pimpinan Muhammadiyah sebenarnya punya peran besar untuk menghapus ”dusta” itu dan berupaya mempelopori perubahan atas dasar tajdid yang mencerahkan. Sungguh indah kalau orgnasisasi besar Muhammadiyah dan NU dengan dukungan ormas-ormas Islam lainnya mau maju selangkah menuju penyatuan kriteria hisab rukyat yang menjadi dasar kelender Hijriyah. Dengan kriteria tunggal kemapanan kalender hijriyah bisa kita bangun dan kebersamaan dalam berhari raya bisa terwujud. ”Bigbang” ledakan besar pembaruan bisa berasal dari para pemimpin ormas Islam, terutama ormas-ormas besarnya seperti Muhammadiyah dan NU. Pemerintah sebagai fasilitator yang mengayomi semuanya akan mendukung upaya besar itu.

Mari kita maknai refleksi “tahun penuh dusta” dalam konteks internal Muhammadiyah. Kita rujuk saja salah satu berita media massa dan kita ganti kata ”negara”, ”bangsa”, dan ”pemerintah” menjadi ”MUHAMMADIYAH”. (Berita dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta). Inilah refleksi internal Muhammadiyah yang disampaikan oleh Ketua umumnya:

“Namun, ketika ada masalah, sering para pemimpin MUHAMMADIYAH ini lari dari masalah atau merasa tidak ada masalah. Mungkin merasa ada legitimasi yang lebih besar sehingga terjadi penumpukan masalah,” katanya.

Din menilai jika persoalan yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka dikhawatirkan akan menjadi masalah yang semakin kronis.

“Jalan keluarnya adalah ledakan dahsyat dari komandan tertinggi MUHAMMADIYAH ini. Tapi sayang, big bang itu tidak bisa dilaksanakan. Saya khawatir big bang itu datangnya dari bawah,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini MUHAMMADIYAH masih punya harapan untuk memperbaikinya karena masih ada jalan untuk mencari solusi.

“Memang asa masih tersisa, maka marilah kita kumpulkan asa secara bersama-sama agar kita bisa mengatasi masalah besar sekalipun,” ucap Din.

 

Kita Kritisi Wujudul Hilal, Tetapi Kita Semua Mencintai dan Menghormati Muhammadiyah

T. Djamaluddin

Kali ini saya ingin menulis hal non-teknis, karena saya banyak disalahpahami terkait kritik saya terhadap hisab wujudul  hilal Muhammadiyah. Kritik demi kebaikan bersama pernah juga saya sampaikan kepada saudara-saudara kita di NU dan ormas-ormas Islam pengamal rukyat ketika ada hasil rukyat kontroversial saat sidang itsbat penentuan awal Dzulhijjah 1422/Februari 2002. Saat itu posisi bulan sangat rendah dan dari 34 lokasi pengamatan di seluruh Indonesia tidak ada yang melaporkan terlihatnya hilal, kecuali di Cakung. Padahal cuaca di Jakarta mendung dan sempat gerimis sore itu. Namun, saat itu kriteria imkan rukyat tidak digunakan secara ketat. Maka rukyat diterima oleh forum, dengan keberatan dari saya dan wakil Persis. Pada saat itu Menteri Agama terpaksa mengubah keputusan hari libur Idul Adha sehari lebih cepat yang sempat menimbulkan kebingungan bagi pelaku bisnis yang terikat perjanjian yang tiba-tiba terkendala akibat berubahnya hari libur Idul Adha. Tetapi setelah itu NU mau berubah, kembali menerapkan imkan rukyat seperti tahun 1418/1998. Pada Idul Fitri 1427/2006, 1428/2007, dan 1432/2011 NU menolak kesaksian Cakung yang sering kontroversial karena tidak mungkin ada rukyat saat bulan terlalu rendah. Bahkan NU kini sudah melengkapi diri dengan fasilitas hisab-rukyat yang canggih seperti NUMO (NU Mobile Observatory) dan fasilitas lainnya untuk menghindari salah lihat dalam mengamati hilal.

***

Sebaliknya Muhammadiyah tidak pernah berubah. Kalau diumpamakan, saat ini Muhammadiyah ibarat anak bandel yang keras kepala. Wajar, karena beberapa saudara  lainnya dalam keluarga  sebenarnya pernah juga bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibunya. Ketika hari istimewa, keluarga menginginkan semua berseragam dengan baju baru yang sama supaya suasana kebersamaan dan persaudaraan lebih terasa. Namun anak bandel yang keras kepala ini menolaknya, bersikeras memakai baju usang. Katanya itulah yang pas ukurannya dan enak memakainya, tidak perlu direpotkan dengan aturan memakai baju baru. Saudara-saudaranya menghendaki keseragaman. Saya ibaratnya hanyalah bocah kecil yang senang bantu-bantu di rumah itu yang suka mengkritisi anggota keluarga itu. Saya turut memberi masukan untuk mengganti baju usang itu dengan baju baru yang sudah dipakai saudara-saudara yang lain. Ayah-ibunya yang mengakomodasi semua pendapat menginginkan juga adanya keseragaman. Keputusan ayah-ibunya tersebut tidak dipatuhi oleh “anak bandel yang keras kepala” itu.

Memang benar, “anak bandel yang keras kepala” itu sebenarnya baik dan banyak prestasinya bagi keluarga. Namun soal baju usang, dia terlanjur menganggapnya hal prinsip yang seolah tidak bisa diganggu oleh yang lain. Bahkan saran untuk menggantinya ditanggapinya berlebihan, seolah itu sebagai sikap membenci. Memang lucu, pada penentuan hari istimewa itu si anak dengan sopan minta izin untuk berbeda.  Walau nyata tidak patuh pada ibu-bapaknya, namun tetap meminta hak-haknya sebagai anak untuk dilindungi dari kemungkinan ulah jahil saudara-saudaranya.

Sebagai satu keluarga, tidak mungkinlah ayah-ibunya dan saudara-saudaranya membencinya. Saran untuk mengganti baju usangnya dengan baju baru yang seragam hanya demi kebaikan bersama, supaya para tetangga melihat kesan kebersamaan. Memang benar, sebenarnya baju yang berbeda-beda kan tidak masalah, karena itu bukan masalah prinsip. Tetapi kalau bisa berseragam pada hari istimewa itu tentulah akan lebih baik. Tetangga pun akan melihat keharmonisan keluarga secara lebih nyata. Indah sekali. Saran untuk mengganti baju usang dengan baju baru bukan berarti membenci. Kita semua tetap mencintai dan menghormati. Kecintaan dan penghormatan akan lebih menguat kalau di dalam keluarga itu bisa berseragam pada hari istimewa. Ya, hanya keseragaman pada hari istimewa, bukan keseragaman dalam segala hal.

(Peran dalam ibarat perumpamaan  tersebut di atas: Ummat IslamIndonesia ibarat satu keluarga. Pemerintah ibarat ayah-ibu yang mengayomi. Ormas-ormas Islam ibarat anak-anak yang kadang bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibu, tetapi tetap minta perlindungan ayah-ibu. Kriteria hisab-rukyat ibarat baju yang ingin diseragamkan dengan kesepakatan. Saya pada kisah ini hanyalah ibarat bocah kecil yang suka bantu-bantu, namun perannya tidak seberapa dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ummat lain ibarat para tetangga.)

***

Jadi, kritik soal kriteria wujudul hilal yang usang dan saran untuk menggantinya dengan kriteria imkan rukyat yang lebih baru, bukanlah bentuk kebencian. Kita semua mencintai dan menghormati Muhammadiyah yang sudah banyak berkontribusi bagi bangsa ini. Mengapa persatuan ini penting saat ini? Ketika tekanan masalah sosial semakin berat, kesenjangan dan perbedaan mudah disulut untuk menjadi bibit permusuhan. Lihatlah kenyataan saat ini. Hal-hal sepele bisa jadi pemicu tawuran pelajar antarsekolah, tawuran pemuda antarkampung, tawuran mahasiswa antarfakultas, dan perang terbuka antaretnis. Padahal kalau kita lihat di masyarakat awam, masalah hari raya adalah masalah halal-haram yang sangat prinsip. Masyarakat yang awam fikih mudah menyatakan pihak lain melakukan pelanggaran agama. Saudara-saudara kita yang berbuka lebih dahulu bisa dianggap melanggar aturan puasa. Sementara saudara-saudara yang lain yang masih berpuasa bisa dianggap melakukan hal haram karena berpuasa pada hari idul fitri.

Perbedaan itu awalnya mungkin sekadar saling ledek dalam gurauan, soal perizinan tempat shalat ied di lapangan, perbedaan pendapat antarpengurus masjid soal waktu pelaksanaan yang dipilih, atau soal “rebutan” tempat dan pengikut shalat ied. Tetapi siapa bisa menduga hal sepele seperti itu bisa memicu pertengkaran yang lebih hebat. Beberapa tahun lalu saya mendengar cerita dari seorang hakim agung peradilan agama bahwa di Sulawesi dulu (sekitar 1930-an) pernah terjadi keributan gara-gara perbedaan hari raya. Kita tidak boleh menyederhanakan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik, walau kita juga tidak boleh membesar-besarkannya. Namun mencegah konflik lebih baik daripada memeliharanya. Dengan adanya perbedaan kriteria, kita sudah bisa memprakirakan tahun-tahun yang berpotensi terjadi perbedaan.

Saya masih terus akan mengangkat tema ini untuk menyadarkan kita semua, bahwa potensi perbedaan akan terus terjadi selama masalah perbedaan kriteria tidak diselesaikan. Kalau khilafiyah (perbedaan) hisab dan rukyat kini bisa diatasi dengan titik temu hisab-rukyat dengan kriteria imkan rukyat, mengapa hisab kriteria wujudul hilal yang antirukyat tetap dipertahankan? Kalau kita bisa bersatu, mengapa kita harus memelihara perbedaan? Kita mengkritisi kriteria wujudul hilal Muhammadiyah, tetapi kita semua tetap mencintai dan menghormati Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang biasa juga mengkritik mestinya memahami fungsi kritik demi kebaikan. Jadi tak perlu merasa “kebakaran jenggot” dengan menyebut pengkritik sebagai provokator. Semoga kita bisa bersatu demi ummat.

Peduli Sampah

T. Djamaluddin
LAPAN BAndung

 

Sedikit catatan dan renungan perjalanan saya ke Wina, 7 – 18 Februari 2011, mengikuti pertemuan keantariksaan di kantor PBB Wina. Masalah sampah menjadi salah satu perhatian di Wina (Austria). Tak heran bila Wina ditetapkan sebagai kota terbaik di dunia dalam pengelolaan sampah tahun 2010. Memang jumlah penduduk yang relatif sedikit dan ketatnya aturan hukumnya, seperti kebanyakan kota di Eropa, menjadi salah satu faktor pengendali yang efektif. Tetapi kita pun perlu belajar, karena nilai-nilai positif juga kita punyai namun kadang kita lupakan. Prinsip 3 R (reduce, reuse, dan recycle – mengurangi, menggunakan ulang, dan mendaur ulang) dalam pengendalian sampah tampaknya diterapkan dengan baik di Wina dan perlu kita biasakan juga.

 

Beberapa hari lalu saya belanja makanan ke mini market di samping hotel. Saya beli  susu, jus buah, roti, dan sayur beku. Setelah membayar, saya bingung sendiri. Barang belanjaan dibiarkan begitu saja tanpa diberi tas plastik (’keresek’) seperti lazimnya di Indonesia dan beberapa negera lain yang pernah saya kunjungi. Beberapa saat tengok kanan-kiri mencari tempat tas plastik dan sambil memperhatikan orang lain. Saya tak berani bertanya, selain saya tak bisa berbahasa Jerman, juga karena khawatir bertanya sesuatu yang tidak lazim. Benar saja, saya perhatikan semua orang memasukkan belanjaannya ke dalam tas yang mereka bawa. Belakangan saya tahu dari teman KBRI bahwa tas plastik sebenarnya tersedia juga, tetapi harus dibeli. Alasan utamanya adalah pengurangan sampah plastik.

 

Di Indonesia budaya berbelanja membawa tas atau keranjang sendiri sudah lama ditinggalkan. Alasan kepraktisan telah mengubah budaya berbelanja. Meninggalkan keranjang dan menggantinya dengan banyak tas plastik, walau sangat mengotori lingkungan dalam jangka panjang. Seingat saya, semasa SD dulu awal tahun 1970-an, saya selalu ke pasar bersama ibu dengan membawa keranjang rotan atau plastik. Sayur mayur dimasukkan begitu saja ke dalam keranjang. Barang basah seperti daging, ikan, atau tahu dibungkus dengan daun daun jati atau daun pisang.  Sampah pembungkus mudah busuk sehingga tidak membahayakan lingkungan.

 

Kini budaya berbelanja membawa tas atau keranjang sendiri sudah langka. Kadang saya dan istri ke pasar membawa tas plastik dari rumah, tetapi tetap saja pulang ke rumah membawa banyak sampah pembungkus plastik. Hampir semua barang dibungkus plastik. Cabe, bawang, timun, tempe, apalagi yang basah seperti ikan, daging, dan tahu. Ada supermarket menjual tas plastik untuk membawa belanjaan. Tas itu diharapkan bisa dipakai berulang-ulang setiap belanja dan yang bisa ditukar gratis bila rusak. Tetapi tampaknya tidak laku karena dianggap tidak praktis.

 

Budaya belanja dengan membawa tas sendiri mungkin sulit dikembalikan, walau sebenarnya di Wina itu bisa diterapkan. Tetapi kita sebenarnya bisa dibiasakan untuk memilah sampah. Saya tidak tahu apakah sejak dulu warga Wina peduli sampah seperti itu atau karena adanya tekanan aturan hukum. Sampah sebenarnya sebagian besar masih bisa didaur ulang, termusuk plastik. Tetapi untuk daur ulang kuncinya ada upaya pemilahan sampah dari sumbernya. Di beberapa lokasi di Wina, tempat sampah ada beberapa dengan pemilahan jenisnya. Di kafetaria ada 4 tempat sampah: sampah plastik daur ulang, botol,  kaleng/aluminium, dan sampah lainnya (umumnya tissu atau sisa makanan).

 

Kita pun bisa. Di beberapa lokasi di Indonesia tempat sampah yang dipilah sudah mulai banyak tersedia. Tinggal pembiasaan yang perlu terus menerus kita lakukan. Kadang kita sendiri menilai negatif bangsa sendiri yang dianggap sebagai bangsa yang tidak berdisiplin. Saya menilai pencitraan negatif seperti itu kontraproduktif. Bangsa kita pun bisa berdisiplin kalau aturannya bisa ditegakkan. Sekadar contoh, aturan antri dan pakai helm bagi pengendara sepeda motor yang tahun 1980-an masih dianggap sulit diterapkan sekarang sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Anomali selalu ada dan itu akan dianggap aneh dan menyimpang. Peduli sampah pun harus terus menerus dibiasakan sehingga akan tiba saatnya orang akan menganggap penyimpangan bila orang membuang sampah secara sembarang atau tidak memilah sampahnya.

 

Harus diakui, saat ini pengelolaan sampah di Bandung – Cimahi (tempat tinggal saya, mungkin juga di banyak tempat di Indonesia) masih sangat buruk. Akibatnya sampah sekadar dibuang secara tidak bertanggung jawab. Banyak orang terpaksa atau bahkan terbiasa membuang sampah di lahan kosong atau di sungai. Langsung atau tak langsung. Beberapa kompleks perumahan mungkin merasa tidak ikut perpartisipasi membuang sampah ke sungai, karena sampah dikumpulkan tertib di kotak sampah lalu tukang sampah mengangkutnya. Kemana sampah dari kompleks perumahan itu dibuang? Kita tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa banyak tukang sampah membuangnya tempat pembuangan yang tak layak atau ke sungai. Dalam jangka pendek kita tenang bebas sampah, tetapi tanpa memikirkan dampaknya. Sampah yang tercecer atau sengaja dibuang di saluran air atau sungai mengakibatkan banjir di mana-mana, walau sekadar hujan sedang saja. Banyak di antara kita yang kemudian berkata, “Banjir bukan urusan kita”, walau mungkin secara tidak sadar dan tidak langusng kita berkontribusi dengan sampah yang menyumbat saluran air.

 

Sejak peristiwa bencana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Leuwigajah yang berlanjut dengan “Bandung lautan sampah” beberapa tahun lalu, saya berupaya memilah sampah. Sejak saat itu saya hampir tidak pernah membuang sampah ke luar. Sampah organik ditimbun di lahan sempit di depan rumah. Lubang kecil, kira-kira  40 x 40 x 40 mampu menampung sampah organik selama 2 pekan. Bila penuh, ditutup dengan tanah dari galian di sampingnya. Ada empat lubang yang dipakai bergiliran, sehingga saat kembali ke lubang awal sampah sudah menjadi kompos. Sampah kertas, plastik, kaleng, dan barang yang bisa didaur ulang dikumpulkan dan secara berkala diberikan ke pemulung. Sampah non-organik yang tak bisa didaur ulang terpaksa dibakar dua pekan sekali.

 

Kok dibakar? Bukankah itu berbahaya dan menambah potensi pemanasan kota? Terpaksa. Suatu pilihan yang saya anggap relatif lebih ringan dampaknya di antara dua pilihan yang berat: membuang ke tempat pembuangan yang tak layak yang berpotensi banjir atau membakar. Di wilayah saya belum ada fasilitas pembuangan sampah yang terkelola baik, sehingga sampah secara sengaja atau tak sengaja berakhir di sungai. Daripada berkontribusi pada banjir, saya memilih membakarnya dengan pembakaran yang terkontrol dan sempurna.

 

Sebenarnya pilihan membakar sampah secara perorangan bukanlah pilihan yang baik. Tetapi itu suatu keterpaksaan, sebelum ada sistem pembakaran yang terpusat di tingkat kota, seperti yang ada di Wina. Saya memimpikan suatu saat nanti semua warga peduli memilah sampah. Kemudian pemerintah kota/kabupaten mengelolanya dengan baik. Sampah organik menjadi kompos. Sampah daur ulang diproses lebih lanjut. Dan sampah yang harus dibakar dimanfaatkan panasnya untuk energi.

Inilah pembakaran sampah di Wina, penghasil energi sekaligus objek wisata juga:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/02/12/plsa-wina-sumber-energi-dan-objek-wisata-lingkungan/

PLTSa Wina: Sumber Energi dan Objek Wisata Lingkungan

T.  Djamaluddin

LAPAN Bandung

Februari 7 – 18, 2011, saya mengunjungi Wina (Austria) menghadiri pertemuan Komite Penggunaan Damai Antariksa, PBB (UNCOPUOS).  Menjelang mendarat di Wina, saya melihat “ladang energi angin” dengan banyak turbin angin pembangkit listrik. Kebetulan di Bandara ada sebuah majalah kota Wina menyajikan juga pengenalan kota Wina dengan informasi sumber energi di Wina. Rupanya selain PLTA (Pusat listrik tenaga air), Wina mengandalkan sumber energinya dari turbin angin dan energi hasil pembakaran sampah.

Tentang turbin angin, saya tidak akan membahasnya, sekadar menyajikan fotonya di bagian akhir tulisan ini. Tetapi keunikan Pusat Listrik Tenaga pembakaran Sampah,PLTSa Wina menarik perhatian saya, terkait PLTSa Gedebage di Bandung yang masih dipermasalahkan. Untuk mudah pembandingannya dengan di Bandung, saya sebut saja PLTSa,  walau tepatnya  Pusat Pembangkit Energi dengan pembakaran Sampah, karena di Wina langsung air panasnya yang digunakan, tidak diubah jadi listrik. Tetapi prinsip dasarnya sama, panas pembakaran sampah digunakan untuk memanaskan air, hanya untuk PLTSa uap air panas digunakan untuk penggerak turbin listrik.

PLTSa di Eropa memang sangat umum, ada ratusan PLTSa. PLTSa di Wina salah satu yang  sangat unik. Ada nilai artistiknya dan punya nilai tambah ekonomi dan pendidikan karena menjadi objek wisata lingkungan hidup. Pasca kebakaran besar 1989, aristek lingkungan Friedensreich Hundertwasser, membuat rancangan PLTSa yang  inovatif dan artistik. Hasilnya, PLTSa selain aman berada di tengah kota, juga menjadi objek wisata yang menarik. Kepada wisatawan selain disajikan keindahan dan keunikan bangunan dan lingkungannya, juga disajikan pengetahuan tentang pengelolaan sampah kota, sistem daur ulang sampah, serta masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Karena inovasi dan keunggulam sistem pengelolaan sampahnya, Wina dianugerahi penghargaan “World City closest to sustainable Waste Management” (Kota Dunia paling baik dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan) tahun 2010.  Bandung dan kota-kota lain di Indonesia bisa mencontohnya dengan inovasi yang tak kalah kreatifnya.

Pembangkit listrik tenaga angin di Austria

Crop Circle Sleman: Rekayasa Pola Geometris di Lahan Pertanian

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Crop Circle Sleman, dari internet)

Ahad, 23 Januari 2011, masyarakat Sleman, Yogyakarta, dihebohkan dengan adanya pola-pola lingkaran teratur di sawah padi. Secara umum pola seperti itu sudah banyak dijumpai di luar negeri, terutama di Inggris, yang dikenal sebagai crop circle, lingkaran di lahan pertanian. Sebagian mempercayainya sebagai bukti kedatangan UFO (Unidentified Flying Objects, Benda Terbang Tak dikenal) yang diasosiasikan dengan kendaraan makhluk cerdas dari luar angkasa. Benarkah?

UFO sendiri secara ilmiah dianggap tidak ada. Penjelasan kesaksiannya cenderung bersifat hoax (kabar bohong), rekayasa, atau tergolong pseudosains (sains semu). Tidak ada penjelasan ilmiahnya. Walau astronom menyakini adanya kehidupan di luar bumi, tetapi sampai saat ini belum terbukti ada bukti fisik makhluknya, apa lagi yang berkunjung ke bumi dengan pesawat antariksa mereka. Masyarakat kadang terbawa informasi yang bersumber dari cerita-cerita fiksi ilmiah, termasuk dari film-film yang sebenarnya hanya khayalan. Kalau UFO tidak ada, maka pola geometris crop circle dipastikan bukan disebabkan oleh manuver pesawat antariksa atau UFO.

Pola geometris di Sleman bukan juga disebabkan oleh puting beliung atau pengaruh elektromagnetik dari SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi milik PLN). Puting beliung tidak akan menghasilkan pola yang rapih. SUTET pun tidak akan memberi dampak pola geometris, karena tanaman padi tidak terpengaruh oleh medan listrik atau medan magnet dari jaringan listrik itu.

Kalau begitu apa sebabnya? Saya menduga itu hasil rekayasa tangan-tangan kreatif. Di banyak negara terbukti crop circle adalah hasil rekayasa kreatif manusia. Tahun 1990-an dua orang Inggris buka rahasia, bahwa sekian banyak crop circle di Inggris adalah hasil karya mereka. Mereka pun mempraktekkannya dengan menggunakan tali dan papan. Tancapkan satu tonggak sebagai pusat lingkaran. Lalu tali digunakan untuk membuat pola lingkaran, sementara papan yang digantung pada tali diputar sambil diijak mengelilingi tonggak tersebut. Injakan membuat batang padi tumbang. Radius lingkaran tergantung pengaturan letak papan yang diinjak-injakkan. Pola garis lurus dan segitigajuga bisa dibuat dengan cara-cara yang kreatif. Jangan takut jejak kaki terlihat, karena kaki menginjak batang-batang tanaman yang rebah. Mau coba? Ini salah satu caranya:

(Crop Cicle di luar negeri, dari internet).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.