Konversi Tanggal – Hari Pasaran

T. Djamaluddin

Peneliti Astronomi-Astrofisika, LAPAN

kalender-jawa

(Ilustrasi kalender dengan hari pasaran, hasil googling)

Seorang pembaca blog saya bertanya, bahwa temannya tidak punya akte lahir. Informasi dari keluarganya hanyalah “lahir pada Rabu Pon 7 Dzulhijjah sekitar 1984-1985″. Kapan tanggal lahir sesungguhnya?

Untuk menjawabnya, pertama saya gunakan program konversi kalender yang saya buat untuk mencari 7 Dzulhijjah yang jatuhnya sekitar hari Rabu pada tahun sekitar 1984 – 1985. Ya, tidak harus tepat harinya Rabu, karena program konversi umumnya plus-minus satu hari. Maka diperoleh 7 Dzulhijjah 1403 itu sekitar Rabu, 14 September 1983 (bukan 1984 atau 1985 yang diperkirakan semula). Bagaimana untuk memastikan bahwa tanggal itu adalah benar tanggal kelahirannya. Informasi hari pasaran (hari dalam kalender Jawa) “Pon” yang bertepatan dengan Rabu sebagai kuncinya.

Saya buka tabel yang saya buat di buku saya “Almanak Alam Islami: Sumber Rujukan Keluarga Muslim Melenium Baru” (Karya bersama Rachmat Taufiq Hidayat, Endang Saifuddin Anshari, Thomas Djamaluddin, dan Nia Kurnia, 2000).

Konversi Pasaran

Konversi pasaran-2

Pada tabel pertama, terlihat 1983 bila dilihat pada kolom September (S) di sebelah kanan, terdapat nomor “5″. Itu adalah kalendar yang ada pada tabel kedua. Pada kalender 5, tampak bahwa tanggal 14 adalah Pon. Jadi benar, bahwa 14 September 1983 adalah Rabu Pon. Kesimpulan saya, tanggal kelahiran yang ditanyakan adalah Rabu Pon, 7 Dzulhijjah 1403/14 September 1983.

Dengan cara serupa, kita bisa menentukan hari pasaran pada tanggal, bulan, dan tahun Masehi. Contoh lainnya adalah hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Menurut tabel kalender abadi di blog saya ini, hari kemerdekaan Indonesia jatuhnya pada hari Jumat. Lalu kita lihat tabel pertama di atas, tahun 1945 kalau dilihat pada kolom Agustus (A) di sebelah kanan bersesuai dengan kalender “5″. Pada kalender 5, terlihat tanggal 17 jatuhnya pada hari pasaran “Manis” (atau disebut juga “Legi”). Jadi, 17 Agustus 1945 adalah hari Jumat Manis/Legi.

Garis Tanggal Bulan Hijriyah Selama 2014 Menurut Kriteria LAPAN 2011 (Kriteria “Hisab Rukyat Indonesia”)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Buku Astronomi Memberi Solusi

LAPAN melalui buku “Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat” (2011) menawarkan kriteria awal bulan Hijriyah yang diberi nama kriteria “Hisab Rukyat Indonesia”. Mudahnya disebut “Kriteria LAPAN 2011″ (karena merupakan penyempurnaan “Kriteria LAPAN” sebelumnya yang diusulkan pada tahun 2000). Implementasi kriteria awal bulan Hijriyah adalah garis tanggal Hijriyah. Kriteria LAPAN 2011 telah digunakan oleh ormas Islam Persis (Persatuan Islam) dalam membuat kalender Hijriyahnya.

Alhamdulillah, aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari Fisika Universitas Brawijawa telah memasukkan “Hisab Rukyat Indonesia” (Kriteria LAPAN 2011) tersebut. Berikut ini garis tanggal bulan Hijriyah selama tahun 2014, berikut penafsirannya:

Rabbiul Awal 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 1 Januari 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Rabbiul Awal 1435 jatuh pada hari berikutnya, 3 Januari 2014.

Rabbiul Awal 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 31 Januari 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Rabbiuts Tasni 1435 jatuh pada 1 Februari 2014.

Jumadil Ula 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 1 Maret 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Jumadil Ula 1435 jatuh pada hari berikutnya, 3 Maret 2014.

Jumadits Tsani 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 31 Maret 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Jumadits Tasni 1435 jatuh pada 1 April 2014.

Rajab 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 29 April 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Rajab 1435 jatuh pada hari berikutnya, 1 Mei 2014.

Sya-ban 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 29 Mei 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Sya’ban 1435 jatuh pada 30 Mei 2014.

Ramadhan 1436 -LAPAN 2011

Ramadhan 1435

Pada saat maghrib 27 Juni 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Ramadhan 1435 jatuh pada hari berikutnya, 29 Juni 2014. Perlu diwaspadai adanya potensi perbedaan awal Ramadhan 1435, karena garis tanggal Wujudul Hilal menunjukkan bagian Selatan Jawa bulan sudah wujud saat matahari terbenam. Bila menggunakan prinsip Wilayatul Hukmi, maka penganut Wujudul Hilal akan menetapkan 1 Ramadhan 1435 jatuh pada 28 Juni 2014.

Syawal 1436 -LAPAN 2011

Syawwal 1435

Pada saat maghrib 27 Juli 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Syawal 1435 jatuh pada 28 Juli 2014. Kriteria Wujudul Hilal dan Kriteria tinggi bulan 2 derajat juga bersepakat Idul Fitri jatuh pada 28 Juli. Namun, garis tanggal kriteria LAPAN 2011 yang hanya melintasi bagian Selatan Jawa bermakna ada potensi hilal sulit dirukyat.

Dzulqa-dah 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 25 Agustus 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Dzulqa’dah 1435 jatuh pada hari berikutnya, 27 Agustus 2014.

Dzulhijah 1436 -LAPAN 2011

Dzulhijjah-1435

Pada saat maghrib 24 September 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Dzulhijjah 1436 jatuh pada hari berikutnya, 26 September 2014. Perlu diwaspadai adanya potensi perbedaan awal Dzulhijjah 1435 dan Idul Adha, karena garis tanggal Wujudul Hilal menunjukkan bagian Selatan Jawa dan Sumatera bulan sudah wujud saat matahari terbenam. Bila menggunakan prinsip Wilayatul Hukmi, maka penganut Wujudul Hilal akan menetapkan 1 Dzulhijjah 1435 jatuh pada 25 September 2014.

Muharram 1437 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 24 Oktober 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Muharram 1436 jatuh pada hari berikutnya, 26 Oktober 2014.

Shafar 1437 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 22 November 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Shafar 1436 jatuh pada hari berikutnya, 24 November 2014.

Rabbiul Awal 1437 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 22 Desember 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Rabbiul Awal 1436 jatuh pada 23 Desember 2014.

 

 

Inspirasi Ramadhan di Salman-TV: Bijak Dalam Perbedaan Penanggalan

Catatan:

Masjid Salman ITB merintis Salman-TV. Salah satu program perdananya adalah acara Inspirasi Ramadhan dengan narasumber T.Djamaluddin. Berikut tayangan Salman-TV dalam empat sesi yang videonya bisa disimak di Youtube.

 

Inspirasi Ramadhan (Irama) adalah program Panitia Pelaksana Program Ramadhan 1434 H yang diadakan setiap ba’da Ashar di 2 pekan pertama Ramadhan. Program ini menampilkan para pembicara yang inspiratif dengan beragam latar belakang dan kompetensi. Untuk episode ini menampilkan Prof.Dr. Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dari LAPAN yang juga alumni Salman ITB.

Sesi 1:

Sesi 2:

Sesi 3:

Sesi 4:

Memahami Penentuan Awal Bulan dan Menyikapi Potensi Perbedaan: Kasus Dzulhijjah-Idul Adha 1434

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

Astronomi mudah mengenali potensi perbedaan hari raya dengan menggunakan data hisab dan kriteria penentuan awal bulan yang digunakan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Potensi perbedaan pada tahun 1434 telah diuraikan di blog saya ini, salah satunya adalah potensi perbedaan penentuan awal Dzulhijjah dan Idul Adha. Untuk memahami sumber perbedaan penentuan awal bulan dan cara menyikapinya, perlu difahami hisab (perhitungan) astronomi, kriteria penentuannya, dan upaya penyatuannya.

Hisab Astronomi

Secara umum hisab astronomi terbagi menjadi hisab global dan hisab lokal. Hisab global adalah hitungan posisi bulan dan parameter lainnya secara global sehingga mudah melihat garis tanggalnya menurut kriteria yang dipilih. Hisab lokal adalah hitungan posisi bulan untuk wilyah pengamatan tertentu, terutama lokasi rujukan (markaz), seperti Pelabuhan Ratu. Hisab lokal sangat membantu upaya rukyat (pengamatan) oleh para pengamal rukyat. Berikut ini hasil hisab global dan hisab lokal dengan menggunakan perangkat lunak “Accurate Time” Odeh dan perangkat lunak lainnya.

Dzulhijjah-1434-tinggi-bulan

Dzulhijjah 1434

Hisab global menunjukkan pada saat maghrib 5 Oktober, di wilayah Indonesia (dan juga di Arab Saudi) tinggi bulan telah di atas ufuk. Di Indonesia ketinggian bulan sekitar 1,3 – 3 derajat. Dengan menggunakan kriteria wujudul hilal seperti dilakukan Muhammadiyah dan kriteria ketinggian minimal 2 derajat seperti dilakukan oleh NU, kalender Dzulhijjah 1434 bermula pada 6 Oktober, sehingga Idul Adha pada kalender jatuh pada 15 Oktober 2013. Namun, kalau menggunakan kriteria Odeh (arsir biru, magenta, dan hijau) atau kriteria LAPAN (2010) yang mensyaratkan beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (seperti yang dilakukan ormas Islam Persis), maka pada saat maghrib 5 Oktober 2013 bulan tidak mungkin terlihat, sehingga awal Dzulhijjah pada kalender jatuh pada 6 Oktober 2013 dan Idul Adha pada kalender jatuh pada 16 Oktober 2013.

Data Hisab Pelabuhan Ratu 5 Okt 2013-a

Hisab lokal untuk markaz Pelabuhan Ratu secara spesifik menunjukkan data sebagai berikut: Tinggi bulan 2 derajat 42′. Beda tinggi bulan-matahari (relative altitude) 3 derajat 39′. Jarak sudut (elongasi) bulan-matahari 4 derajat 51′. Posisi bulan seperti itu telah memenuhi kriteria wujudul hilal dan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) 2 derajat, tetapi itu masih dianggap terlalu rendah menurut kriteria Odeh dan kriteria LAPAN (2010).  Karena belum adanya kriteria tunggal yang disepakati,  ketika posisi bulan berada di antara berbagai kriteria itu, maka potensi perbedaan akan terjadi. Bagaimana menyikapinya?

Utamakan Persatuan Ummat

Bagaimana menyikapi potensi perbedaan seperti itu? Mari kita utamakan persatuan ummat dalam arti persatuan yang hakiki, bukan sekadar persatuan semu “saling menghargai perbedaan”. Penyatuan kalender dan hari raya punya makna syiar yang luar biasa, sebagai simbol persatuan ummat. Untuk mewujudkan persatuan ummat, terkait dengan kalender dan hari raya, harus terpenuhi tiga syarat: (1) ada otoritas tunggal, (2) ada batas wilayah yang jelas, dan (3) ada kriteria tunggal yang disepakati. Syarat (1) dan (2) telah ada. Pemerintah RI yang diwakili Menteri Agama secara de facto telah berperan sebagai otoritas tunggal yang diindikasikan oleh ditaatinya hari-hari libur nasional yang ditetapkannya.  Batas wilayah pun semua ormas Islam telah sepakat untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia sebagai suatu kesatuan waktu tanggal, walau ada yang menginginkan perluasan secara global. Tinggal selangkah lagi kita menuju penyatuan kriterianya.

Dalam kaidah Islam, kalau kita belum bisa menyempurnakan seluruhnya, maka kita harus mengambil yang mudharatnya paling ringan.  Bersikukuh pada kriteria masing-masing ormas Islam hanya akan menyebabkan perbedaan makin nyata.  Penyatuan kriteria masih memerlukan dialog dan edukasi yang diharapkan tidak terlalu lama lagi bisa tercapai. Oleh karenanya, dua kesepakatan yang telah ada kita jadikan basis membina persatuan ummat. Sidang itsbat yang difasilitasi Kementerian Agama hendaknay dijadikan sebagai forum musyawarah untuk mendapatkan kata sepakat pelaksanaan hari raya. Demi persatuan ummat, mari kita sepakati Pemerintah yang diwakili Menteri Agama sebagai otoritas yang menetapkan hari raya. Apalagi hal itu telah difatwakan MUI pada 2004.

Jadi, kalau pun kalender ormas-ormas Islam ada yang berbeda, marilah kita bersepakat untuk menjadikan keputusan Pemerintah yang dihasilkan dari musyawarah sidang itsbat dapat menjadi acuan. Dalam kasus Idul Adha 1434, marilah kita ikuti saja keputusan Pemerintah dalam menetapkan Idul Adha: 15 Oktober atau 16 Oktober. Persatuan ummat harus kita utamakan.

Dokumentasi “KIPRAH” Media Indonesia: THOMAS DJAMALUDDIN Menyatukan Perbedaan dengan Astronomi

Kiprah - Media Indonesia 6 Sep 2013

Media Indonesia memuat “Kiprah” saya pada terbitan 9 September 2013.  Berikut hasil wawancara wartawan Media Indonesia, Rudy Polycarpus:

THOMAS DJAMALUDDIN Menyatukan Perbedaan dengan Astronomi

RUDY POLYCARPUS

Perbedaan penanggalan Islam yang selama ini terjadi dinilai bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan astronomi.

SETIAP tahun, menjelang penetapan awal tahun kamariah, Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia selalu saja ada perbedaan. Penetapan menurut Muhammadiyah kerap lebih awal satu hari ketimbang penetapan sidang isbat Majelis Ulama Indonesia berdasarkan perhitungan mayoritas ormas Islam, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU). Penerapan perhitungannya juga berbeda. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan awal bulan pada kalender Hijriah. Sementara itu, NU mengandalkan metode rukyat, yakni aktivitas mengamati visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).

Perbedaan itu yang selalu menjadi perdebatan hingga kini. Di tengah perdebatan, sosok Thomas Djamaluddin kerap dimintai pendapat. Peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu menilai perbedaan sebenarnya mengakibatkan keresahan dan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat. “Kalau ada yang masih berpuasa, sedangkan masyarakat yang lain sudah berhari raya, ini kan bikin enggak nyaman. Bahkan saya dengar di daerah Sulawesi pernah terjadi kontak fisik,“ ujar Thomas yang ditemui Media Indonesia di Lapan, Rawamangun, Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut pria berusia 51 tahun itu, kedua perbedaan tersebut bisa disatukan, dengan syarat kedua ormas itu bersedia mengalah dan menuju satu titik temu perhitungan. “Hisab dan rukyat itu seperti dua sisi mata uang, jadi bisa disatukan,“ tegasnya. Syarat yang diajukan Thomas ialah kedua metode itu harus menggunakan kriteria yang sama. Pasalnya, baik rukyat maupun hisab bukan persoalan dalil fikih berdasarkan ayat Alquran dan hadis sebagai landasannya, sehingga bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan.  “Padahal, kriteria semacam itu hanya hasil ijtihad yang bisa berubah dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan,“ jelasnya.

Namun, Thomas sadar dengan sekelompok masyarakat yang tidak sepakat dengan pendapatnya. “Sebagai ilmuwan, saya hanya meluruskan sesuai dengan ilmu yang saya kuasai karena ilmuwan harus berperan dalam mencerdaskan masyarakat,“ ujar Thomas yang mengaku terbuka untuk berdiskusi mengenai perkembangan teori dan informasi terbaru. Thomas berharap bisa menjembatani ilmu pengetahuan dan agama, bahkan mampu menjembatani perbedaan pendapat masyarakat. Bagi dia, mempelajari ilmu astronomi semakin memperdalam keimanan dia. “Banyak fenomena dan misteri Tuhan di ilmu astronomi ini,“ ujarnya.

Berkat upayanya memberikan advokasi ilmiah kepada pemerintah dan masyarakat luas serta metode penanggalan kamariah itu, Thomas diganjar Sarwono Prawirohardjo Award XII oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala LIPI Lukman Hakim dalam pidato pemberian penghargaan itu di LIPI, Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, “beliau juga sering kali ikut serta sebagai anggota Dewan Isbat di Kementerian Agama. Doktor lulusan Kyoto University, Jepang, ini juga banyak bicara tentang isu-isu antariksa seperti fenomena gerhana, misi antariksa, dan badai matahari.“ Thomas juga dinilai memberikan kontribusi pengetahuan dalam berbagai karya ilmiah yang sudah dimuat di tingkat nasional serta internasional. “Sebagai peneliti senior, beliau juga aktif memberikan penilaian angka kredit peneliti dan juga memberikan pelatihan di tingkat nasional,“ ujar Lukman.

Fenomena

Peneliti utama dan profesor riset bidang astronomi-astrofisika yang menjabat Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN itu pun kerap dimintai pendapat untuk meluruskan fenomena astronomi dan sejenisnya. Sebut saja isu kiamat pada 2012 yang sempat menghebohkan dunia, fenomena badai matahari, perubahan arah kiblat pascagempa, dan kemunculan alien dengan adanya crop circle di Sleman, DI Yogyakarta, pada 2011. Ia memang dikenal sebagai peneliti yang aktif berbagi informasi soal astronomi kepada masyarakat lewat media massa atau jejaring sosial.  “Informasi itu untuk dibagi, biar berguna. Kalau saya tahu, untuk apa ditutup-tutupi. Masyarakat juga berhak menjadi cerdas,“ ujarnya.

Di samping makalah ilmiah, Thomas sudah menghasilkan sejumlah buku tentang astronomi dan keislaman, seperti Menggagas Fiqih Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya, Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Quran, dan Bertanya pada Alam: 13 Worthy to Know Facts.

Ia juga menjadi anggota sejumlah lembaga, seperti International Astronomical Union (IAU), National Committee di Committee on Space Research (Cospar), Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Provinsi Jawa Barat, serta Himpunan Astronomi Indonesia (HAI).  Ia bergabung di Lapan sejak 1986 seusai menamatkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan studi magister dan doktornya di Kyoto University, Jepang, pada 1988-1994. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antarbintang dan pembentukan bintang.
Ganti nama

Nama Thomas Djamaluddin memang terkenal di kalangan astronom Indonesia. Padahal, nama asli anak pasangan Sumaila Hadiko dan Duriyah itu hanya Djamaluddin. Di masa kecilnya, ia banyak beristirahat karena kerap sakit. Melihat hal itu, orangtua Djamaluddin mengganti namanya dengan Thomas. Nama itu ia pakai hingga duduk di sekolah menengah pertama. “Karena ada perbedaan data kelahiran saat duduk di sekolah menengah pertama, nama saya akhirnya digabung jadi Thomas Djamaluddin. Sekarang nama saya sering disingkat T Djamaluddin,“ ujarnya.

Pemahaman Thomas akan agama Islam ternyata tidak semata berawal sejak ia terlibat di Lapan. Sejak kecil, di Cirebon, Jawa Barat, ia telah mempelajari Islam secara autodidak dari keluarga dan aktivitas di masjid. Bahkan di Jepang, ia menjabat Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J). (M-5) rudy@mediaindonesia.com

EMAIL
rudy@mediaindonesia.com

Penyatuan Kalender Islam Selangkah Lagi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

[Catatan: Ini artikel bantahan yang saya kirim ke Republika]

 

Tulisan Susiknan Azhari (SA) di Republika, 5 Juli 2013, menggambarkan adanya kesalahan pemahaman terhadap problem kalender Islam. Kesalahan pemahaman itu yang menyebabkan resistensi Muhammadiyah untuk mengubah kriteria Wujudul Hilal dengan kriteria vibilitas hilal atau imkan rukyat (IR) yang merupakan titik temu hisab dan rukyat. Kesalahan pemahaman itu perlu dikritisi untuk memahami problem sesungguhnya yang sebenarnya sederhana. Penyatuan kalender Islam di Indonesia itu selangkah lagi. Sebagai negara Muslim terbesar, penyatuan kalender Islam di Indonesia akan mendorong penyatuan kalender Islam regional dan global.

Kalender adalah simbol suatu kemajuan suatu peradaban. Setiap peradaban besar mempunyai sistem kalendernya sendiri. Suku Maya punya kalender. Cina dan Jepang masing-masing punya sistem kalender yang terus digunakan. Umat Hindu, Budha, dan Kristen juga mempunyai sistem kalendernya sendiri. Basisnya bulan atau matahari, dua benda langit yang sejak awal peradaban manusia dijadikan rujukan sistem waktu. Kalender adalah produk kemajuan ilmu astronomi yang merumuskan hasil pengamatan jangka panjang menjadi formulasi matematis dalam bentuk tabel atau algoritma untuk prakiraan waktu ritual atau kegiatan sosial-ekonomi di masa depan.

Kalender tidak lahir langsung sempurna. Ada proses panjang dalam merumuskan sistem kalender sehingga menjadi kalender mapan. Kalender Masehi yang kini menjadi kalender internasional memerlukan waktu hampir 2.000 tahun  untuk menjadi kalender yang mapan. Kalender Islam baru 1.434 tahun, namun penyatuannya bisa dipercepat dengan bantuan kemajuan ilmu astronomi dan teknologi pendukungnya.

Kalender mapan mensyaratkan tiga hal: ada otoritas yang menjaga sistem kalender tersebut, ada batas wilayah yang tegas, dan ada kriteria yang disepakati. Kalender Masehi dulu di bawah otoritas Kaisar Julius kemudian oleh pemimpin agama Paus Gregorius. Perbedaan kriteria ala Julius dan Gregorius menjadi sebab utama perbedaan penerapan kalender di berbagai negara. Negara-negara dengan mayoritas penduduk Kristen Protestan dan Kristen Ortodoks tidak mau menerima kriteria baru yang diumumkan oleh Paus Gregorius yang dianggap bernuansa Katolik. Akibatnya hari raya Natal dan Paskah bisa berbeda belasan hari. Baru pada 1792 Inggris menerima kriteria Gregorius dengan melakukan lompatan 12 hari pada kalendernya. Terakhir Yunani yang menerima kriteria Gregorius pada 1923 dengan melakukan lompatan 13 hari.

Masalah kriteria pula yang menyebabkan perbedaan kalender Islam di Indonesia. Kalender adalah masalah perhitungan astronomi (hisab), tetapi terkait masalah pengamatan hilal (rukyat). Akar masalah awalnya adalah perbedaan metode rukyat yang diajarkan Rasul dan hisab yang merupakan perkembangan parameterisasi fenomena rukyat. Sekian ratus tahun perdebatan dalil hukum metode rukyat dan hisab tidak terselesaikan, karena interpretasi dalil bisa sangat beragam dan berkaitan dengan keyakinan. Namun kini metode hisab dan rukyat bisa dipersatukan dengan mencari titik temunya. Titik temu rukyat dan hisab yang diajukan para astronom adalah kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (IR). Kriteria itu bisa digunakan untuk membuat kalender karena bisa digunakan sebagai batasan awal bulan dalam metode hisab. Kriteria itu juga bisa digunakan untuk memandu rukyat dan menverifikasi hasil rukyat karena didasarkan pada data rukyat jangka panjang.

Kementerian Agama sejak lama sudah memfasilitasi ormas-ormas Islam untuk menyamakan kriteria. Kesepakatan pertama berhasil dirumuskan pada 1998 dan diperbarui pada 2011. Kriteria yang disepakati adalah kriteria “2-3-8” (tinggi minimal 2 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 3 derajat atau umur hilal minimal 8 jam). Kriteria itu disepakati juga dalam pertemuan informal Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria itu merupakan syarat minimal untuk terlihatnya hilal dan jadi batas masuknya awal bulan. Sayangnya Muhammadiyah memisahkan diri dari kesepakatan itu dan berpegang pada kriteria wujudul hilal (WH). Akibatnya, keputusan kriteria IR akan berbeda dengan WH kalau posisi bulan rendah. Menurut kriteria IR belum masuk awal bulan, tetapi menurut kriteria WH sudah masuk.

Kesalahan Pemahaman

Ada kesalahan SA di Republika 5 Juli 2013 lalu dalam membaca poblem kalender Islam. SA salah dalam memahami IR. IR dan WH sama-sama kriteria yang digunakan dalam menilai hasil hisab, apakah sudah masuk awal bulan atau belum. Tetapi WH bukan jalan tengah hisab murni dan rukyat murni, karena WH bermasalah dengan posisi hilal rendah yang tidak mungkin dirukyat (diamati). Justru kriteria IR yang menjembatani hisab dan rukyat, dengan memperhitungkan keterlihatan hilal dengan syarat tertentu. Hilal terlalu rendah (seperti beberapa kasus perbedaan di Indonesia) menyebabkan perbedaan antara hasil hisab WH dan hisab IR serta perbedaan antara hisab WH dan hasil rukyat terpercaya (muktabar).

Kesalahan SA lainnya adalah menyatakan bahwa IR bersumber dari pengalaman subjektif yang seolah tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Justru IR didasarkan pada data-data objektif pengamatan astronomi dan dipublikasikan di publikasi/jurnal astronomi. Kriteria “2-3-8” sebagai kriteria IR paling sederhana juga mendasarkan pada data objektif rukyat sebelumnya, walau analisisnya belum sepenuhnya mengikuti kaidah astronomi dari segi jumlah sampel data rukyat.

SA juga membuat kesalahan pemahaman seolah kriteria visibilitas hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi. SA yang sering turut serta dalam Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama, seolah melupakan kegiatan penyusunan Taqwim Standar Indonesia (Kalender Islam Baku) yang disusun berdasarkan kriteria IR yang disepakati di Indonesia. Jadi kriteria IR  juga digunakan sebagai rujukan pembuatan kalender. Kriteria yang digunakan Indonesia (kriteria MABIMS atau kriteria “2-3-8″) adalah kriteria yang digunakan oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam pembuatan kalendernya. Turki menggunakan kriteria yang dikenal sebagai kriteria Istambul, yaitu tinggi minimal 5 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 8 derajat.

Jadi sangat keliru bandingan kriteria IR yang digunakan Turki dan Malaysia untuk jadi pembenaran wujudul hilal. Dalam konteks Indonesia, kriteria IR “2-3-8″ sudah digunakan pada pembuatan Taqwim Standar Indonesia, mulai Muharram – Dzulhijjah, sama seperti yang dilakukan Malaysia.

Pada sisi lain, SA yang  warga Muhammadiyah yang anti-rukyat tidak sadar bahwa Tim Rukyat sudah ada sejak lama. Kementerian Agama sudah mempunyai Tim Rukyat. Ormas-ormas Islam pelaksana rukyat sudah mempunyainya dan beberapa melengkapinya dengan teleskop. Para astronom amatir yang bergabung di Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) juga melakukan pengamatan rutin dan mengkompilasi datanya. Data rukyat pun tidak harus dari Indonesia. Data rukyat internasional pun bisa digunakan dalam pembuatan kriteria IR.

Kesalahan terbesar SA adalah ajakan untuk meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan qamariyah. SA menutup mata atas kenyataan adanya ummat Islam pengamal rukyat, seperti warga NU dan banyak ormas lainnya. Hak mereka juga harus dihargai, bahwa untuk menentukan awal Ramadhan dan mengakhirinya diperlukan adanya rukyat hilal, walau mereka juga pandai menghisab dan mempunyai kalender. Sangat keliru kalau dianggap para pengamal rukyat tidak mempunyai kalender.  Misalnya, Lajnah Falakiyah NU membuat kalender berdasarkan kriteria IR 2 derajat, selain mempunyai fasilitas rukyat yang baik.

Di Indonesia secara umum hisab sudah diterima oleh semua ormas Islam. Oleh karenanya mereka pun bersepakat menggunakan kriteria IR dalam pembuatan kalendernya dan dalam mengevaluasi hasil rukyat. Kriteria IR digunakan pada hisab agar kalender yang dihasilkannya dan hasil rukyat sama. Dengan penggunaan kriteria IR pengamal hisab dan pengamal rukyat bisa bersamaan dalam mengawali Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal itu tidak mungkin terjadi dengan kriteria WH, karena pada saat bulan rendah hasil hisab WH pasti berbeda dari hasil rukyat, seperti kasus Idul Fitri 1432/2011, awal Ramadhan 1433/2012, dan awal Ramadhan 1434/2013.

Salah besar kalau SA menyatakan bahwa dengan observasi sebagai penentuan masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan. Kalender memang hasil hisab. Tetapi tidak ada masalah dengan observasi, bahkan observasi dapat digunakan untuk menyempurnakan kriteria IR.

Selangkah lagi

Untuk membentuk kalender Islam yang mapan, kita sudah punya otoritas tunggal, yaitu Pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Wilayah NKRI juga disepakati sebagai batas wilayah keberlakukan hisab dan rukyat di Indonesia. Tinggal selangkah lagi kita bisa memiliki kalender Islam yang mapan, yaitu bersepakatn pada kriteria. Kriteria yang digunakan mesti kriteria yang mewadahi pengamal hisab dan pengamal rukyat secara setara. Tidak mungkin kriteria WH yang digunakan, harus kriteria IR yang digunakan.

Bila kita sudah bersepakat dengan kriteria IR, kita bisa merumuskan ulang kesepakatan kriteria itu. Kriteria “2-3-8” yang dianggap belum memenuhi kaidah astronomi harus ditinjau ulang. Data rukyat jangka panjang dari Indonesia dan data internasional bisa digunakan untuk merumuskan kriteria IR yang baru. Tujuannya agar hasil hisab dan hasil rukyat sama. Dengan demikian nantinya kalender Islam akan memberikan kepastian yang bisa diterima pengamal rukyat dan pengamal hisab, tanpa mengulang lagi perdebatan lama soal dalil.

Kesepakatan bisa diperluas ke tingkat regional, seperti yang sudah terjadi dengan kriteria MABIMS. Kemudian bisa juga digalang kesepakatan antarpemerintah secara global untuk merumuskan garis batas tanggal kalender hijriyah dan kriteria IR global. Jadi, kita selangkah lagi mewujudkan kalender Islam yang mapan, dengan menggalang kesepakatan nasional, regional, dan global.

Peran Astronomi Dalam Penyatuan Penetapan Awal Bulan Qamariyah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

Sekian ratus tahun ummat Islam memperdebatkan masalah dalil rukyat (pengamatan/observasi) versus hisab (perhitungan/komputasi) yang cenderung makin melebarkan perbedaan. Penafsiran cenderung  bersifat dikhotomi yang menganggap rukyat dan hisab seolah berbeda. Bahkan kadang berujung pada pendapat yang ekstrem, ada pengamal rukyat yang melarang penggunaan hisab dan ada pengamal hisab yang menafikkan rukyat. Dampak tak langsungnya, ada pengamal rukyat yang sama sekali tidak faham hisab karena merasa tidak perlu tahu soal hisab. Sebaliknya ada pengamal hisab yang tidak mengenal teknik rukyat karena merasa tidak perlu belajar rukyat. Memang disadari, mencari titik temu dari segi dalil sangat sulit, karena menyangkut masalah keyakinan dalam beribadah.

Astronomi memandang rukyat dan hisab setara dan bisa saling menggantikan. Hisab dibangun dengan formulasi berdasarkan data rukyat jangka panjang. Sementara rukyat hilal yang sangat tipis dibantu dengan hasil hisab untuk memudahkan mengarahkan pandangan rukyat dan mengklarifikasi hasil rukyat yang meragukan. Astronomi bisa menjembatani rukyat dan hisab, tanpa mempertentangkan dalilnya. Para pengamal rukyat tetap dengan keyakinan dalil rukyatnya. Sementara para pengamal hisab pun bisa tetap dengan keyakinan dalil hisabnya.

Titik temu rukyat dan hisab adalah pada kriteria (batasan) awal bulan yang dapat mewadahi pengamal rukyat dan pengamal hisab secara setara. Kriteria itu digunakan oleh para pengamal hisab pada penentuan awal bulan qamariyah dan juga oleh para pengamal rukyat untuk memverifikasi hasil rukyat. Sementara formulasi kriterianya ditentukan berdasarkan pengalaman hasil rukyat. Astronomi membantu perumusan kriteria itu berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang sahih.

Perkembangan Pemikiran Hisab

Pola pandang dikhotomis selalu menganggap bahwa Rasulullah SAW hanya mengajarkan rukyat, sementara pihak lain menganggap bahwa Rasul mengajarkan rukyat karena belum mengenal hisab. Cara pandang astronomis bukan seperti itu. Astronomi memandang rukyat dan hisab adalah bagian dari perkembangan pemahaman sains  ummat Islam yang terpadu, bukan dikhotomis. Hadits yang menyatakan “Kami ini ummat yang ummiy yang tidak bisa menulis dan menghitung, bulan itu sekian dan sekian (dengan memberi isyarat 29 atau 30 hari)” sama sekali tidak dikaitkan dengan alasan rukyat. Oleh karenanya hadits itu tidak boleh dimaknai bahwa setelah ummat Islam pandai menghitung (menghisab), maka rukyat harus ditinggalkan. Terlalu naif kesimpulan seperti itu dan cenderung merasa hisab sudah sampai pada titik kesempurnaannya sehingga tak perlu rukyat. Perkembangan astronomi menunjukkan bahwa rukyat dan hisab selalu beriringan dan secara bersama saling memacu kemajuan.

Astronomi memandang hadits “ummiy” adalah cikal bakal hisab dan sekaligus membuktikan Rasulullah SAW tidak buta hisab. Dari pengalaman empirik, Rasulul tahu bahwa satu bulan hanyalah mungkin 29 atau 30 hari. Hanya saja pengetahuan saat itu belum mampu menentukan prakiraan bulan mana saja yang 29 hari dan yang 30 hari. Oleh karenanya pada zaman Rasul belum ada kalender, yang ada hanyalah catatan sejarah dalam memori masyarakat tentang suatu kejadian yang dinyatakan dengan hari, tanggal, dan rentang waktu dari suatu peristiwa. Misalkan, kelahiran Rasul dinyatakan pada hari Senin, 12 Rabbiul Awal Tahun Gajah.

Kalender baru diperkenalkan pada Zaman Khalifah Umar, terutama karena keperluan penentuan tahun yang pasti. Pada saat itulah dipilih tahun nol adalah tahun Hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah (karenanya disebut tahun Hijriyah). Alasannya karena kebiasaan masyarakat menyebut “Tahun ke sekian sejak hijrah Rasul”. Untuk membuat kalender harus menggunakan hisab dan harus ada kriterianya. Berdasarkan hadits “ummiy” itulah kita tahu bahwa pemahaman hisab pada zaman Rasul dan para sahabat hanyalah umur bulan 29 dan 30 hari. Lalu apa kriterianya? Kalender pertama menggunakan kriteria paling sederhana, yaitu umur bulan dibuat berselang-seling 30 dan 29 hari, yang dikenal sebagai kriteria hisab urfi (periodik). Muharram 30 hari, Shafar 29, Rabbiul Awal 30, Rabbiul Akhir 29, dan seterusnya. Perkembangan selanjutnya mengenal adanya periode panjang 30 tahunan, sehingga ada konsep tahun kabisat (tahun panjang, 355 hari) dan tahun basithoh (tahun pendek, 354 hari). Dalam 30 tahun ada 19 tahun kabisat dan 11 tahun tahun basithoh.

Ketika ilmu hisab makin berkembang dan konsep koordinat langit mulai dikenal dengan pembagian ekliptika (garis edar matahari di langit) menjadi 12 rasi (buruj), maka muncullah konsep ijtimak, yaitu bulan dan matahari segaris bujur ekliptika. Itulah dianggap sebagai batas periode manzilah (fase-fase) bulan sekitar 29,5 hari. Secara astronomi itu dikenal sebagai batas bulan baru (newmoon). Namun, para ahli falak (ahli peredaran benda-benda langit) tidak menjadikan ijtimak/newmoon sebagai batas awal bulan. Konsep awal rukyat tetap digunakan, yaitu terlihatnya hilal pasca maghrib. Hilal hanya mungkin terlihat bila terjadi setelah ijtimak. Maka, perkembangan kriteria kalender berikutnya adalah ijtimak qoblal ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Inilah konsep kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) yang paling primitif (paling awal).

Pemahaman astronomi terus berkembang, bukan hanya empirik posisi bulan dan matahari di langit, tetapi mulai masuk pada aspek dinamika benda-benda langit. Teori orbit benda-benda langit mulai dikenal, sehingga prakiraan posisi benda langit bisa dihitung secara lebih akurat. Bukan hanya periode fase bulan dan keberulangan posisinya di ekliptika, ilmu hisab bisa digunakan menghitung prakiraan posisi bulan setiap waktunya. Pemahaman konsep segitiga bola (spherical trigonometry) memungkinan konversi sistem koordinat bisa dilakukan. Perhitungan dalam koordinat ekliptika bisa dikonversikan menjadi koordinat horizon (berbasis ufuk). Dengan konsep koordinat horizon, maka berkembang perhitungan waktu terbit dan terbenamnya benda langit. Nah, dengan pengetahuan waktu terbenam bulan dan matahari, kriteria pun disempurnakan. Untuk terlihatnya hilal, semestinya bulan masih di atas ufuk setelah matahari terbenam. Maka kriterianya ditingkatkan menjadi kriteria yang kita kenal sebagai kriteria wujudul hilal, yaitu matahari terbenam sebelum bulan terbenam.

Sebenarnya untuk terlihatnya hilal bukan hanya faktor posisi yang diperhitungkan, tetapi juga harus diperhitungkan faktor cahaya hilal dan cahaya syafak (cahaya senja). Cahaya syafak adalah cahaya hamburan matahari oleh atmosfer. Artinya, semakin dekat ke matahari semakin kuat cahayanya. Demikian juga semakin dekat ke ufuk, cahaya syafak juga semakin kuat. Dengan perkembangan astronomi, dari data pengalaman rukyat jangka panjang telah dirumuskan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), berupa persyaratan untuk terlihatnya hilal. Sebagai produk sains, setiap peneliti bisa menyimpulkan beragam kriteria visibilitas hilal. Ada beberapa parameter yang digunakan. Terkait dengan kecerlangan hilal, parameter yang digunakan adalah lebar sabit hilal, umur hilal, atau jarak sudut bulan-matahari (elongasi). Terkait dengan kecerlangan cahaya syafak, parameter yang digunakan adalah tinggi hilal, beda tinggi bulan-matahari, beda azimut (jarak sudut bulan-matahari di garis ufuk), atau beda waktu terbenam bulan-matahari. Kriteria visibilitas hilal haruslah menggambarkan batasan minimal agar cahaya hilal bisa mengalahkan cahaya syafak sehingga hilal bisa terlihat.

Dari perkembangan pemikiran hisab tersebut, terlihat bahwa masalah perbedaan kriteria hisab wujudul hilal dan imkan rukyat bukanlah perbedaan yang mendasar. Keduanya sebenarnya mempunyai akar yang sama. Pemilihan wujudul hilal di Indonesia hanyalah didasarkan pada alasan penyederhanaan, karena memang sebelum tahun 1980-an ketika kalkulator dan komputer belum berkembang, hisab imkan rukyat dianggap sangat rumit. Tetapi sekarang, hisab imkan rukyat sangat terbantu dengan berbagai program komputer sehingga hisab hanya memerlukan beberapa klik saja.

Perkembangan Teknologi Pengamatan

Pertanyaan paling mendasar yang sering mengemuka adalah mengapa harus rukyatul hilal untuk penentuan awal bulan qamariyah? Rasul hanya memberi contoh, tanpa menjelaskan alasannya. Tetapi secara astronomi, rukyatul hilal sangat beralasan. Hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib. Itu pasti penanda awal bulan. Malam sebelumnya tidak ada bulan, yang disebut bulan mati (dark moon). Dan sebelumnya lagi terlihat bulan sabit tua pada pagi hari menjelang matahari terbit. Hilal adalah bukti paling kuat telah bergantinya periode fase bulan yang didahului bulan sabit tua dan bulan mati.

Rukyat hilal pada awalnya memang sekadar menggunakan mata, tanpa alat bantu. Namun sekarang, banyak alat bantu rukyat bisa digunakan. Teleskop dan binokuler (keker) adalah utama yang digunakan membantu pengamatan. Fungsi utama teleskop dalam pengamatan objek redup seperti hilal adalah memperbanyak cahaya yang dikumpulkan dan difokuskan ke mata. Sebagai perbandingan, pupil mata diameternya hanya sekitar 0,5 cm, sehingga cahaya yang ditangkap minim sekali. Dengan menggunakan teleskop dengan diameter lensa objektif atau cermin yang jauh lebih besar, maka cahaya yang diteruskan ke mata semakin banyak. Dengan susunan lensa atau cermin cekungnya, teleskop berfungsi juga membesarkan ketampakan objek. Dengan demikian teleskop bisa membantu memperjelas ketampakan hilal, sekaligus juga memperjelas kalau ternyata objek itu bukan hilal (misalnya cahaya lampu atau objek terang lainnya).

Dengan teleskop, cahaya hilal memang diperkuat, tetapi cahaya syafak juga diperkuat. Akibatnya, kontras hilal relatif tidak berubah. Dengan kata lain, dengan telskop pun cahaya hilal belum tentu bisa mengalahkan cahaya syafak. Itu sebabnya, seringkali dengan teleskop hilal pun masih sulit diamati. Sehingga persyaratan kriteria visibilitas hilal tetap harus diperhatikan, bahwa ada batasan minimal tertentu agar hilal terlihat, misalnya batas minimal ketinggian dan jarak sudut bulan-matahari.

Untuk membantu pengamatan sering juga digunakan kamera untuk merekam citra hilal. Dulu digunakan kamera film yang prosesnya lama. Sekarang para pengamat menggunakan kamera CCD atau kamera digital yang prosesnya cepat karena terbantu oleh berbagai program komputer pengolah citra. Kontras hilal pun bisa ditingkatkan dengan program pengolah citra. Sebenarnya peningkatan kontras bisa diupayakan juga penggunaan filter untuk menapis cahaya syafak, namun sampai saat upaya itu belum berhasil. Salah satu sebabnya karena panjang gelombang cahaya hilal dan cahaya syafak relatif sama. Gagasan untuk menggunakan filter inframerah juga tidak efektif, karena efek serapan inframerah oleh uap air di arah ufuk cukup besar, sehingga hilal malah tampak makin redup.

Saat ini pengamatan bulan sabit siang hari dimungkinkan dengan teknik pencitraan digital yang didukung dengan teknik penghalang matahari dan penggunaan filter. Untuk pengamatan siang hari, penggunaan filter inframerah cukup efektif, karena cahaya langit menghamburkan cahaya biru yang bisa ditapis dengan filter inframerah. Dengan ditapisnya cahaya langit, cahaya hilal bisa lebih menonjol. Pengamatan siang hari bukan masalah kecanggilan teleskopnya, tetapi pada keterampilan dan pengalaman pengamatnya. Para pengamat Indonesia pun ada yang berhasil mengamati bulan sabit siang hari, walau bukan bulan sabit yang termuda karena tingkat kesulitannya memang lebih tinggi. Banyak yang berharap pengamatan bulan sabit siang hari menjadi solusi alternatif rukyatul hilal. Namun, harapan itu keliru, karena bulan sabit siang hari bukanlah hilal penentu awal bulan. Alasannya, karena bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulat sabit tua, bulan saat ijtimak, atau bulan sabit muda. Terlihatnya bulan sabit siang hari juga bukan jaminan terlihatnya hilal saat maghrib. Hilal penentu awal bulan hanyalah bulan sabit sesudah maghrib.

Kriteria Visibilitas Hilal (Imkan Rukyat) dan Penafsirannya

Kriteria visibilitas hilal adalah titik temu rukyat dan hisab. Kriteria itu dirumuskan berdasarkan data rukyat jangka panjang. Analisis statistik pola sebaran data rukyat digunakan untuk menentukan batas minimal peluang terlihatnya hilal yang kemudian dijadikan sebagai kriteria visibilitas hilal. Kriteria visibilitas hilal memang beragam. Hal itu beralasan terkait sifat sains yang memberikan kebebasan bagi para penelitinya untuk memformulasikan model fenomena alam dengan parameter yang dianggap paling baik. Untuk implementasi pada pembuatan kalender, para penggunanya harus memilih salah satu kriteria atau gabungan beberapa parameter. Tentu saja alasan utama pemilihan kriteria adalah kemudahan penggunaan dan akurasinya.

Dalam perkembangan penggunaan kriteria hisab, faktor kemudahan menjadi faktor dominan yang mempengaruhinya. Dimulai dari yang paling mudah, ijtimak qoblal ghurub, lalu wujudul hilal, dan sekarang ke arah imkan rukyat yang lebih realistis. Di Indonesia digunakan kriteria “2-3-8”, yaitu “(1) tinggi bulan minimal 2 derajat dan (2) jarak sudut bulan-matahari minimal 3 jam atau umur bulan minimal 8 jam”. Dalam kaitannya dengan pembuatan kalender, kriteria digunakan sebagai batas minimal untuk menyatakan masuknya awal bulan. Namun, dalam kaitannya dengan rukyatul hilal, kriteria digunakan sebagai dasar penolakan rukyatul hilal yang meragukan (misalnya kesaksian tunggal atau kesaksian tanpa alat bantu).

Bila menghendaki kriteria imkan rukyat yang benar-benar menjadi dasar kemungkinan keberhasilan rukyat hilal, kriteria yang digunakan haruslah yang secara statistik merupakan batas optimistik keberhasilan rukyat. Batasan waktunya bukanlah saat maghrib, tetapi beberapa saat setelah maghrib saat cahaya syafak mulai meredup yang dikenal sebagai “waktu terbaik” (best time). Konsekuensinya, batas ketinggiannya menjadi lebih tinggi, dengan ketinggian lebih dari 5 derajat dan beberapa syarat lainnya. Kriteria optimistik seperti itu antara lain digunakan dalam kriteria SAAO, Yallop, Odeh, dan Shaukat.

Kriteria itu hanyalah parameter minimal secara rata-rata. Pada kenyataannya, ada kemungkinan rukyat yang lebih rendah dari kriteria tersebut, yaitu pada saat istimewa tetapi jarang terjadi. Beberapa data menunjukkan bahwa bila hilal terjadi pada saat jarak bumi-bulan terdekat (perigee) ada peluang terlihatnya hilal lebih rendah, karena ukuran hilal tampak menjadi lebih besar dan lebih tebal. Untuk mengantisipasi data rukyat seperti itu, maka pilihan optimalnya adalah menggunakan kriteria yang memungkinakan semua data rukyat masuk, sehingga bisa dijadikan dasar penolakan kesaksian yang meragukan. Konsekuensi pilihan kriteria seperti itu adalah bisa jadi ada hilal yang tidak tampak walau berada sedikit di atas kriteria itu, terlalu dekat dengan batas bawah kriteria. Tetapi pada umumnya, posisi bulan yang melebihi kriteria akan tampak. Usulan Kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN, 2010) termasuk pada kriteria optimalistik tersebut, dengan kriteria beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (atau tinggi bulan minimal 3o 10’) dan jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

Kriteria Visibilitas Sebagai Dasar Penyatuan Kalender Islam

Dua aspek teknis yang pokok dalam pembuatan kalender adalah hisab dan kriterianya. Secara umum hisab astronomi kini sudah menjadi rujukan bersama. Program-program komputer untuk perhitungan astronomi sekarang tersedia, baik bersifat komersial maupun non-komersial yang bebas di unduh di internet. Dengan kesamaan hisab astronomis yang digunakan, maka secara umum semua pihak akan menyatakan hasil hitungan posisi bulan yang relatif sama.

Hisab astronomi dalam terminologi ilmu falak disebut hisab hakiki, yaitu menyatakan posisi bulan yang sesungguhnya. Hisab lama yang masih dipakai oleh sebagian kelompok adalah hisab taqribi atau pendekatan, yaitu ketinggian bulan dihitung berdasarkan umur bulan. Karena bulan secara rata-rata bergerak ke Timur 12 derajat perhari, maka tinggi bulan ditaksir setengah umur bulan (dari 12 derajat/24 jam x umur bulan). Jadi bila ijtimak terjadi pukul 13.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan = 5 jam dan tinggi bulan ditaksir 5/2 = 2,5 derajat. Hasil hisab taqribi umumnya lebih tinggi dari hisab hakiki.

Dengan hasil perhitungan posisi bulan, ahli hisab lalu menentukan masuknya awal bulan berdasarkan kriteria yang digunakan. Misalnya, pada 7 Agustus 2013 untuk penentuan awal Syawal 1434 posisi bulan di Pelabuhan Ratu saat maghrib 3o 26’ atau beda tinggi bulan-matahari 4o 16’. Dengan menggunakan kriteria wujudul hilal (digunakan Muhammadiyah), kriteria 2o (digunakan NU), dan kriteria beda tinggi 4o (digunakan Persis), semua kalender Muhammadiyah, NU, dan Persis bersepakat bahwa 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013. Perbedaan akan terjadi ketika posisi bulan berada di antara kriteria tersebut. Dengan perbedaan kriteria, ada pihak yang menyatakan sudah masuk awal bulan, sementara pihak lain menyatakan belum masuk. Itulah yang terjadi di Indonesia ketika awal Ramadhan atau Idul Fitri berbeda.

Penyatuan kriteria menjadi prasyarat utama untuk menyatukan kalender Islam. Mewujudkan kalender Islam yang mapan adalah cita-cita utama penyatuan ummat. Karena penentuan awal bulan qamariyah juga terkait dengan ibadah, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, maka kalender Islam semestinya juga menjadi kalender ibadah. Terkait dengan kalender ibadah, pemilihan kriteria menjadi titik krusial yang harus disatukan. Dalam hal ini, kita juga harus menyadari bahwa pengamal rukyat dan pengamal hisab harus diwadahi setara. Bagi pengamal hisab, cukuplah awal bulan mengikuti hasil hisab yang tercantum di kalender. Sedangkan bagi pengamal rukyat, awal bulan harus dibuktikan dengan hasil rukyat yang di-itsbat-kan (ditetapkan) oleh pemerintah. Jadi, demi persatuan ummat dan penyatuan kalender Islam, kriteria yang harus digunakan adalah kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Dengan kriteria itu, hasil rukyat akan sama dengan hasil hisab yang tercantum di kalender.

Dalam mencari titik temu, tentu masing-masing pihak perlu terbuka untuk menerima konsep pihak lain, tanpa merasa menang atau kalah. Para pengamal hisab harus terbuka untuk menerima konsep rukyat sehingga kriteria yang disepakati harus berbasis visibilitas hilal atau imkan rukyat. Sementara para pengamal rukyat pun harus terbuka untuk menerima konsep hisab yang pasti sehingga ketika posisi bulan yang telah memenuhi kriteria namun gagal rukyat haruslah hisab diterima sebagai penentu masuknya awal bulan. Hal itu mendasarkan pada Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat.

Bila kita sudah bersepakat menggunakan kriteria yang sama, maka langkah berikutnya adalah merumuskan kriterianya. Pilihannya bisa menggunakan kriteria optimistik ala Odeh, Yallop, SAAO, atau Shaukat. Atau menggunakan kriteria optimalistik ala kriteria LAPAN 2010 atau kriteria lain yang disepakati. Agar kalender yang disepakati menjadi kalender yang mapan, perlu juga disepakati otoritas tunggal yang menjaga sistem kalender tersebut, yaitu otoritas defacto atau pemerintah. Juga perlu ditegaskan batas wilayah keberlakukannya, misalnya negara kesatuan Republik Indonesia. Kesepakatan di tingkat nasional bisa diperluas ke tingkat regional dan global dengan menggalang kesepakatan otoritas antar-pemerintahan, batas wilayah, dan kriterianya.

Ayo Belajar Hisab Imkan Rukyat: Kasus Idul Fitri 1Syawal 1434

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat

Astronomi bisa memberi solusi penyatuan ummat. Astronomi bisa mempersatukan pengamal rukyat (pengamatan hilal) dan pengamal hisab (perhitungan posisi hilal). Astronomi bisa mewujudkan satu kalender Islam yang mapan. Untuk mempersatukan ummat, dengan astronomi mari kita upayakan kesepakatan kriteria yang bisa mewadahi pengamal rukyat dan pengamal hisab secara setara. Ayo kita belajar astronomi untuk bersama-sama mencerdaskan ummat dan menuju kesatuan ummat melalui penyatuan kriteria awal bulan tersebut. Perhitungan astronomi (hisab) bisa diselaraskan dengan rukyat (pengamatan hilal) sehingga hasilnya akan sama. Pilihan kriterianya yang menyelaraskan hisab dan rukyat haruslah kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (IR) yang ditentukan dengan kesepakatan dan didasari hasil penelitian astronomi. Berikut ini contoh hisab imkan rukyat (IR) penentuan Syawal 1434. Kita bisa gunakan dua perangkat lunak yang bisa diperoleh di internet. Pertama Accurate Time untuk perhitungan dan pembuatan garis tanggal, serta analisis visibilitas hilal (imkan rukyat). Kedua Stellarium untuk membuat simulasi posisi bulan dan matahari.

A. Analisis Visibilitas Hilal (Imkan Rukyat, IR) dengan Accurate Time

Accurate Time-a

Langkah awal adalah klik “Location“, lalu pilih lokasinya atau masukkan koordinat kota rujukan kalau belum ada di dalam basis datanya. Misalnya, kita masukkan lokasi Pelabuhan Ratu yang menjadi rujukan hisab Taqwim Standar Indonesia. Lalu klik “Date” untuk memasukkan tanggal pengamatan, yaitu tanggal 29 bulan qamariyah. Dalam penentuan Syawal 1434, tanggal 29 Ramadhan jatuh pada 7 Agustus 2013. Maka masukkan tanggal tersebut. Lalu klik “Crecent Visibility” untuk mendapatkan informasi visibilitas hilal (imkan rukyat).

Accurate Time-b

Pertama, kita buat dulu garis tanggal Syawal 1434 untuk melihat peta visibilitas hilal. Kita klik “Hijric Date“, lalu pilih Syawal 1434. Kemudian klik “Crescent Visibility Map“. Nanti akan muncul peta kosong.  Klik tanggal pengamatan (7 Agustus 2013) lalu klik “Draw”. Secara default kriteria yang digunakan adalah kriteria Odeh. Kita boleh juga memilih kriteria lainnya (Yallop atau SAAO) di pilihan kotak kanan bawah. Hasilnya adalah peta visibilitas hilal menurut kriteria Odeh atau pilihan kriteria lainnya.

Shawwal 1434

Kalau mau mendapatkan data rinci di lokasi rujukan (misalnya Pelabuhan Ratu), pertama kita klik “Topocentric Calculation” untuk mendapatkan perhitungan berdasarkan posisi pengamat di permukaan bumi. Itu untuk membedakan dari perhitungan teoritik bumi sebagai titik (“Geocentric Calcaulation). Periksa “Day of Calculation” dan “Time of Calculation” apakah sesuai dengan tanggal dan waktu yang kita maksud, misalnya 7 Agustus 2013 dan saat maghrib (sunset). Lalu klik “Preview” untuk memasukkan syarat perhitungan tersebut. Hasilnya kita peroleh setelah mengklik “Calculate“.

Accurate Time-c

Interpretasi garis tanggal

Interpretasi garis tanggal adalah interpretasi umum yang paling mudah. Garis batas arsir merah dan putih adalah garis wujudul hilal (WH), artinya bulan sudah wujud saat matahari terbenam pada 7 Agustus. Bagi pengamal hisab WH, mereka bisa menyimpulkan 1 Syawal 1434 jatuh pada keesokan harinya, 8 Agsutus 2013. Garis batas arsir putih dan biru adalah batas kriteria visibilitas hilal dengan alat optik menurut kriteria Odeh. Kalau dihitung ketinggian bulannya, kita-kira 5 derajat. Jadi kita bisa memperkirakan, garis tanggal kriteria 2 derajat melintas di bagian Utara Indonesia. Artinya, dengan kriteria 2 derajat pun (sebagai salah satu syarat kriteria IR “2-3-8″ yang digunakan sebagian besar ormas Islam di Indonesia), bisa disimpulkan di Indonesia sudah terpenuhi kriteria IR 2 derajat, sehingga secara hisab IR 2 derajat 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013.

Interpretasi Posisi Bulan

Interpretasi posisi bulan sering digunakan untuk membantu rukyat atau menyimpulkan masuknya awal bulan dari data ketinggian, elongasi, dan parameter lainnya. Tetapi analisis ini hanya terbatas untuk lokasi yang kita pilih. Untuk mendapatkan gambaran lengkap, perlu juga dianalisis lokasi-lokasi lainnya. Untuk lokasi rujukan Pelabuhan Ratu, data hisab tersebut menyatakan:

- Tinggi bulan saat maghrib: 3o 18′ 54″.

- Beda tinggi bulan-matahari: 4o 15′ 32″ dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari): 7o 18′ 35″.

Artinya, posisi bulan sudah memenuhi kriteria WH, IR 2 derajat, dan IR LAPAN. Sehingga berdasarkan hisab, disimpulakan 1 Syawal di Indonesia jatuh pada 8 Agustus 2013.

B. Analisis Posisi Bulan dengan Stellarium

Stellarium menampilkan simulasi ketampakan bulan (dan benda-benda langit lainnya) seolah kita melihatnya langsung di langit. Pertama, kita gerakkan kursor ke kiri untuk mendapatkn menu pilihan. Klik “Jendela Lokasi” lalu kita pilih kota lokais pengamatan, misalkan Jakarta. Lalu klik “Jendela Tanggal/Waktu” untuk memasukkan tanggal 7 Agustus 2013 dan waktunya sekitar matahari terbenam.  Dengan mouse klik kiri ditekan, gerakkan kursor untuk menampilkan titik Barat (B). Maka akan terlihat bulan dan matahari. Untuk menampilkan bulan dan matahari secara lebih jelas, hamburan cahaya oleh atmosfer jangan ditampilkan. Caranya, klik “Jendela Opsi Langit dan Pandangan”. Tanda dihapus pada “Tampilkan Atmosfer”. Pada menu pilihan di bawah, bisa juga dipilih “sudut” (tidak semua versi) untuk menghitung ketinggian bulan, beda tinggi bulan-matahari, dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari). Ketinggian dihitung dari ufuk, ketika matahari terbenam (piringan atas matahari menyentuh ufuk). Kalau tidak ada menu “sudut”, cara manual bisa dilakukan, dengan mengklik bulan dan matahari, kemudian mencatat ketinggian masing-masing.

Hilal Syawal 1434-a

Tinggi bulan

Hilal Syawal 1434-b

Beda tinggi bulan-matahari

Hilal Syawal 1434-c

Elongasi (jarak sudut bulan-matahari).

Interpretasinya sama dengan interpertasi posisi bulan tersebut di atas. Bandingkan posisi bulan dengan kriteria yang digunakan. Bila telah melebihi kriteria, artinya awal bulan sudah masuk. Data stellarium (walau posisi pengukuran jarak sudut diperkirakan kasar) mirip dengan data perhitungan Accurate Time, karena Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh dari Jakarta. Data stellarium pum menyimpulkan, secara hisab IR 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013.

Kapan Idul Fitri 1434?

Demi persatuan ummat, keputusan Idul Fitri kita tunggu dari hasil sidang itsbat (penetapan) pada 7 Agustus sore. Mengapa harus menunggu sidang itsbat, padahal kita sudah mempunyai hasil hisab IR? Ya, kita harus menghargai saudara-saudara kita pengamal rukyat yang menantikan hasil rukyat untuk penetapan akhir Ramadhan. Mereka mempunyai hasil hisab juga, tetapi untuk ibadah mereka meyakini perlunya bukti rukyat. Pemerintah mewadahi kepentingan semua ummat Islam, karenanya diadakan sidang itsbat untuk menghimpun semua hasil hisab dan hasil rukyat. Karena kriteria yang digunakan masih beragam dan belum sepenuhnya menggunakan kriteria astronomi, maka potensi perbedaan sangat terbuka. Untuk penentuan awal Syawal 1434 kebetulan hasil hisabnya sama, tetapi mengingat kondisi cuaca yang tak menentu kemungkinan gagal rukyat bisa terjadi. Nah, sidang itsbatlah yang nanti memutuskan ketika terjadi perbedaan. Kalau terjadi perbedaan antara hisab IR dengan hasil rukyat, kemungkinan akan dipertimbangkan juga  penggunaan Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat. Hal itu pernah terjadi saat sidang itsbat 1987.  Karena hasil hisab IR sepakat bahwa Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013 dan mengingat Fatwa MUI 1981, kemungkinan besar Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013. Namun, kepastiannya kita harus menunggu hasil sidang itsbat. Demi persatuan, kita harus menghargai adanya otoritas tunggal (Pemerintah) dan mematuhi keputusannya yang sudah mempertimbangkan aspek ilmiah dan fikih dalam musyawarah yang dihadiri para ulama, pakar hisab rukyat, dan perwakilan ormas-ormas Islam.

Bulan Sabit Siang Hari Bukan Hilal Penentu Awal Bulan

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Teleskop Legault

Thierry Legault, pemburu bulan sabit muda pada siang hari

Teleskop Elsasser

Elsasser pemburu bulan sabit muda siang hari.

Masalah penentuan awal bulan qamariyah Hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, tidak terlepas dari upaya pengamatan (rukyat) hilal sesuai dengan contoh Rasul. Rukyat selalu dilaksanakan sesudah maghrib. Hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib. Namun, pengamatan hilal yang muda sangat sulit, karena hilal yang sangat tipis itu sering kali terganggu oleh cahaya senja (syafak) akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Mengapa hilal yang dijadikan penentu awal bulan, walau pun itu sulit diamati? Logika astronomis bisa menjelaskannya. Hilal adalah penanda yang mudah dikenali bahwa malam itu mulainya bulan baru. Malam-malam sebelumnya ditandai dengan bulan sabit tua yang tampak pagi hari, lalu dilanjutnya malam tanpa bulan (darkmoon atau bulan mati), baru kemudian malam dengan hilal. Isyarat di dalam Al-Quran menempatkan hilal sebagai penentu awal bulan, selain perintah Rasul “Shumu li ru’yatihi ” (Berpuasalah bila melihatnya — hilal)”.

Hilal adalah bulan sabit pertama yang dijadikan sebagai penanda awal bulan Hijriyah. Itulah contoh Rasul yang sekaligus menjadikan awal hari dan tanggal dalam Islam adalah saat maghrib. Setelah hilal teramati, malam itu dimulainya bulan baru. Kalau itu hilal awal Ramadhan, maka semua ritual Ramadhan dimulai saat itu pula. Shalat tarawih dan sahur adalah ritual khas Ramadhan yang dimulai sejak malam terlihatnya hilal.

Saat ini dengan perkembangan teknologi pengamatan, bulan sabit bisa teramati pada siang hari. Teknik yang umum dilakukan adalah menghalangi cahaya matahari dengan alat penutup terpisah dari teleskop (seperti yang dilakukan Legault, lihat gambar di atas), atau dipasangkan pada ujung teleskop (seperti dilakukan Martin Elsasser, lihat gambar di atas), atau menggunakan tabung panjang di depan teleskop (seperti teknik Elsasser lainnya). Lalu pengamatan dengan teleskop yang dilengkapi dengan kamera digital. Kadang digunakan filter inframerah untuk mengurangi cahaya biru dari langit sehingga cahaya bulan sabit bisa tampak lebih menonjol. Citra yang direkam kamera digital bisa diproses dengan komputer untuk meningkatkan kontras cahaya bulan sabit.

Berikut ini beberapa contoh bulan sabit yang dipotret siang hari:

1. Bulan Sabit Sebelum Konjungsi

Bulan sabit sebelum konjungsi berhasil dipotret dari Observatorium Bosscha, ITB. Konjungsi terjadi pada 16 September 2012 pukul 07:54 WIB. Namun sehari sebelumnya, pada 15 September 2012, pukul 14:54 WIB (17 jam sebelum konjungsi) bulan sabit tipis berhasil diamati. Citra diproses setelah dikoreksi dengan citra gelap (koreksi atas ketidakrataan piksel kamera), kemudian ditingkatkan kontrasnya.

Bulan Sabit pra-ijtimak-Bosscha-Dzulqaidah 1433

Bulan sabit tua yang dipotret siang hari di Observatorium Bosscha.

2. Bulan Sabit Saat Ijtimak

Thierry Legault memotret bulan sabit saat ijtimak pada pukul 09:14 waktu setempat. Tekniknya adalah menghalangi matahari dengan papan berlubang (lihat gambar atas), lalu memotretnya dengan teleskop yang dilengkapi filter inframerah 850 nm dan kamera digital. Kemudian citra diproses dengan koreksi medan rata (flat field, koreksi  piksel kamera), lalu ditingkatkan kontrasnya dan diberi warna biru (sekadar pilihan warna Legault).

Crescent-Legault

3. Bulan Sabit Setelah Ijtimak

Elsasser memotret bulan sabit muda yang berumur 4 jam 11 menit pada siang hari, pukul 09.08 – 09.40 waktu setempat. Teknik yang digunakan adalah meotret dengan teleskop yang dilengkapi tabung panjang untuk menghalangi cahaya matahari. Citra kamera digital kemudian diproses untuk meningkatkan kontras bulan sabit.

Bulan Sabit setelah ijtimak-Elsasser

Bulan sabit siang hari pasca ijtimak dipotret Elsasser.

Terlihatnya bulan sabit siang hari tidak menunjukkan pergantian bulan. Bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulan sabit tua (sebelum konjungsi, umur < 0 jam), bulan sabit saat konjungsi (umur = 0 jam), atau bulan sabit muda (setelah konjungsi, umur > 0 jam). Jadi, rukyat bulan sabit siang hari BUKAN hilal penentu awal bulan. Bulan sabit yang pasti sebagai bulan sabit awal bulan (hilal) hanyalah yang teramati setelah maghrib.

Teramatinya bulan sabit siang hari bukan jaminan akan terlihatnya hilal saat maghrib.  Pengamatan Jim Stamm bisa menjadi contoh. Jim Stamm menceritakan pengamatan dengan teleskop, tanpa kamera, hanya melihat dengan mata via okuler teleksop. Detektornya adalah mata. Kepekaan mata manusia sekitar panjang gelombang biru-hijau. Pada siang hari pk 13.00 dengan langit biru yang cerah (deep blue), bulan sabit tidak terlihat. Pada siang hari pukul 14:40 dan 16:50 dia berhasil melihat bulan sabit ketika warna langit lebih “biru keputihan” (silvery blue). Bulan sabit masih termati sampai 17.10, setelah itu tidak teramati lagi.  Dia bertanya: What did happen? Are the colors deceiving my expectations of contrast? Is there a filter quality of the atmosphere that may be enhancing the contrast at a lower altitude? Is there some kind of relationship between scattered sunlight and the reflected light of the crescent?

Penjelasan tidak berhasilnya rukyat pada saat maghrib, walau siang harinya terlihat adalah sebagai berikut: Pengamatan hilal adalah masalah kontras antara bulan sabit dan cahaya latar depan. Pada saat pk 13:00 cahaya bulan sabit masih kalah dari cahaya langit biru. Bagi mata, cahaya bulan sabit dan cahaya langit sama-sama terangnya, sehingga bulan sabit tidak terlihat. Ketika bulan (dan matahari) makin rendah sekitar pukul 14:40 sampai 17:10, langit tampak agak pucat, masih biru tetapi lebih putih. Bulan sabit pun sebenarnya mengalami peredupan ke arah panjang gelombang kuning-merah, tetapi intensitas hamburan cahaya langit berkurang. Saat itulah kontras bulan sabit meningkat (bulan sabit terlihat lebih terang dari cahaya langit) sehingga bulan sabit terlihat. Ketika matahari menjelang terbenam sampai terbenam, cahaya bulan sabit melalui atmosfer yang lebih tebal, warnanya makin kuning-merah, sementara atmosfer pun mulai menghamburkan cahaya kuning-merah. Kontras cahaya bulan sabit menurun lagi, alias bulan sabit kalah terang dibandingkan cahaya langit. Akibatnya bulan sabit tidak terlihat.

Kesalahan Memahami Problem Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Taqwim Standar

Susiknan Azhari (SA), Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menulis opini di Republika 5 Juli 2013, Problem Kalender Islam. Ada beberapa kesalahan dalam memahami problem kalender Islam. Saya tanggapi beberapa bagian tulisan tersebut (kutipan dari tulisan SA bertanda warna kuning):

Dalam khazanah pemikiran kalender Islam, khususnya di Indonesia, dikenal istilah wujudul hilal dan visibilitas hilal (imkanur rukyat). Pada awal kehadirannya wujudul hilal merupakan sintesa kreatif atau “jalan tengah” antara teori ijtimak (qabla al-ghurub) dan teori visibilitas hilal atau jalan tengah antara hisab murni dan rukyat murni.

Karena itu, bagi teori wujudul hilal, metode yang dibangun dalam memulai tanggal satu bulan baru pada kalender Islam tidak semata-mata proses terjadinya konjungsi, tetapi juga mempertimbangkan posisi hilal saat matahari terbenam. Dengan kata lain, awal bulan Qamariah dimulai bila telah terjadi konjungsi, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, dan matahari terbenam terlebih dahulu dibandingkan bulan.

Sementara itu, visibilitas hilal adalah bangunan teori yang bersumber dari pengalaman subjektif para pengamat. Sehingga, melahirkan beragam varian, misalnya, teori visibilitas hilal yang dikembangkan Mabims, Turki (1978), Mohammad Ilyas, Mohammad Syawkat Audah (Odeh), dan Hamid Mijwal Naimiy. Teori ini menyatakan awal bulan Qamariah dimulai bila memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, seperti telah terjadi konjungsi, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, elongasi, umur bulan, mukuts, dan ketinggian hilal.

Ada kesalahan SA dalam memahami visibilitas hilal atau Imkan Rukyat (IR). IR dan WH sama-sama kriteria yang digunakan dalam menilai hasil hisab, apakah sudah masuk awal bulan atau belum. WH bukan jalan tengah hisab murni dan rukyat murni, karena WH bermasalah dengan posisi hilal rendah yang tidak mungkin dirukyat (diamati). Justru kriteria IR yang menjembatani hisab dan rukyat, dengan memperhitungkan keterlihatan hilal dengan syarat tertentu. Hilal terlalu rendah (seperti beberapa kasus perbedaan di Indonesia) menyebabkan perbedaan antara hasil hisab WH dan hisab IR, juga perbedaan antara hisab WH dan hasil rukyat terpercaya (muktabar).

Kesalahan SA lainnya adalah menyatakan bahwa visibilitas hilal atau IR bersumber dari pengalaman subjektif yang seolah tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Justru visibilitas hilal atau IR didasarkan pada data-data objektif pengamatan astronomi dan dipublikasikan di publikasi/jurnal astronomi . Ini beberapa contohnya:

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Schaefer, BE, 1991, “Length of the Lunar Crescent”, Q. J. R. Astr. Soc., Vol. 32, p. 265 – 277.

Yallops, DB, 1998, “A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon”, HM Nautical Almanac Office, NAO Technical Note No. 69.

Sekilas tampak jelas bahwa keduanya bersumber dari pemahaman dan pengalaman serta memiliki tingkat kepastian yang sama. Namun dalam perjalanannya, implementasi visibilitas hilal di Indonesia tidak sesuai konsep awal yang dirumuskan. Dalam praktiknya, visibilitas hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi hilal, khususnya dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal.

Mohammad Syawkat Audah menyatakan, saat ini dunia Islam yang memiliki kalender Islam yang mapan adalah Turki dan Malaysia. Keduanya secara konsisten menggunakan teori visibilitas hilal sejak Muharam hingga Zulhijah tanpa menunggu hasil observasi. Pernyataan ini dalam konteks Indonesia mengisyaratkan bahwa wujudul hilal lebih mapan dan memberi kepastian dalam struktur kalender Islam dibandingkan visibilitas hilal.

Artinya, visibilitas hilal yang digunakan Pemerintah Indonesia belum diakui di tingkat global. Sebab, dalam praktiknya untuk menentukan awal bulan Qamariah, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, masih harus menunggu hasil observasi. Dengan kata lain, visibilitas hilal yang digunakan tidak sesuai makna asal.

SA membuat kesalahan pemahaman seolah kriteria visibilitas hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi. SA yang sering turut serta dalam Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama, seolah melupakan kegiatan penyusunan Taqwim Standar Indonesia (Kalender Islam Baku) yang disusun berdasarkan kriteria visibilitas/IR yang disepakati di Indonesia. Jadi kriteria visibilitas hilal (IR) juga digunakan sebagai rujukan pembuatan kalender. Kriteria yang digunakan Indonesia (disebut juga kriteria MABIMS atau kriteria “2-3-8″, tinggi minimal 2 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 3 derajat atau umur hilal minimal 8 jam) adalah kriteria yang digunakan juga oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Sinagpura (BIMS) dalam pembuatan kalendernya. Turki menggunakan kriteria IR yang dikenal sebagai kriteria Istambul, yaitu tinggi minimal 5 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 8 derajat.

Sangat keliru bandingan kriteria IR yang digunakan Turki dan Malaysia untuk jadi pembenaran wujudul hilal. Dalam konteks Indonesia, kriteria IR “2-3-8″ sudah digunakan pada pembuatan Taqwim Standar Indonesia, mulai Muharram – Dzulhijjah, sama seperti yang dilakukan Malaysia.

Penulis sudah lama mengusulkan agar dibentuk tim observasi awal bulan Qamariah. Salah satu tugas tim adalah melakukan observasi setiap awal bulan Qamariah secara berkesinambungan. Dari sinilah diperoleh data yang autentik. Tim terdiri dari berbagai unsur (ormas, akademisi, dan praktisi). Dengan kata lain, tim merupakan gabungan antara “insinyur” dan “tukang”.

SA yang  warga Muhammadiyah yang anti-rukyat tidak sadar bahwa Tim Rukyat sudah ada sejak lama. Kementerian Agama sudah mempunyai Tim Rukyat. Ormas-ormas Islam pelaksana rukyat sudah mempunyainya dan beberapa melengkapinya dengan teleskop. Para astronom amatir yang bergabung di Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) juga melakukan pengamatan rutin dan mengkompilasi datanya. Data rukyat pun tidak harus dari Indonesia. Data rukyat internasional pun bisa digunakan dalam pembuatan kriteria visibilitas hilal (IR).

Begitu pula dalam penyatuan kalender Islam diperlukan pemikiran-pemikiran substantif-integratif. Antara pemikir dan praktisi harus berjalan bergandengan untuk mewujudkan konsep yang telah disepakati bersama. Perlu disadari bersama jika pilihan kita adalah penyatuan kalender Islam maka dengan besar hati kita harus rela “berkorban” meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan Qamariah.

Hal ini sebagiamana hasil Ijtima’ al-Khubara’ al-Tsani Dirasat Wadh at-Taqwim al-Islamy di Rabat Maroko, 15-16 Syawal 1429 H/15-16 Oktober 2008. Dalam pertemuan ini disepakati bahwa pemecahan problematika penyatuan kalender Islam di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.

Kesalahan terbesar SA adalah ajakan untuk meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan qamariyah. SA menutup mata atas kenyataan adanya ummat Islam pengamal rukyat, seperti warga NU dan banyak ormas lainnya. Hak mereka juga harus dihargai, bahwa untuk menentukan awal Ramadhan dan mengakhirinya diperlukan adanya rukyat hilal, walau mereka juga pandai menghisab dan mempunyai kalender. Sangat keliru kalau dianggap para pengamal rukyat tidak mempunyai kalender.  Misalnya, Lajnah Falakiyah NU membuat kalender berdasarkan kriteria IR 2 derajat, selain mempunyai fasilitas rukyat yang baik.

Di Indonesia secara umum hisab sudah diterima oleh semua ormas Islam. Oleh karenanya mereka pun bersepakat untuk menggunakan kriteria IR “2-3-8″ dalam pembuatan kalendernya dan dalam mengevaluasi hasil rukyat. Kriteria IR digunakan pada hisab agar kalender dan hasil rukyat sama hasilnya. Dengan penggunaan kriteria IR pengamal hisab dan pengamal rukyat bisa bersamaan dalam mengawali Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal itu tidak mungkin terjadi dengan kriteria WH, karena pada saat bulan rendah hasil hisab WH pasti berbeda dari hasil rukyat, seperti kasus Idul Fitri 1432/2011, awal Ramadhan 1433/2012, dan awal Ramadhan 1434/2013.

Artinya, jika kita tetap bertahan dengan observasi sebagai penentu masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan sampai kapan pun. Selama ini, upaya penyatuan lebih diarahkan pada penyatuan metode untuk menentukan awal bulan Qamariah belum memasuki konsep kalender Islam secara komprehensif.

Kehadiran kalender Islam yang mapan merupakan sebuah kebutuhan untuk agenda dan aktivitas rutin ibadah maupun transaksi lainnya. Kaitannya dengan penyatuan kalender Islam peristiwa perjanjian Hudaibiyah dapat dijadikan inspirasi bagi para elite bangsa untuk memiliki sifat kenegarawanan. Pemerintah dan ormas-ormas Islam harus senantiasa berusaha mencari titik temu dan siap berkorban. Wallahu a’lam bish shawab.

Salah besar kalau menyatakan bahwa dengan observasi sebagai penentuan masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan. Kalender memang hasil hisab. Tetapi tidak ada masalah dengan observasi, bahkan observasi dapat digunakan untuk menyempurnakan kriteria visibilitas hilal (IR). Kalender mapan dibangun oleh 3 syarat: adanya otoritas tunggal, adanya batas wilayah yang disepakati, dan adanya kriteria yang disepakati. Kita sudah punya otoritas tunggal, yaitu Pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Wilayah NKRI juga disepakati sebagai batas wilayah keberlakukan hisab dan rukyat di Indonesia. Tinggal selangkah lagi kita bisa memiliki kalender Islam yang mapan, yaitu bersepakatn pada kriteria. Kriteria yang digunakan mesti kriteria yang mewadahi pengamal hisab dan pengamal rukyat secara setara. Tidak mungkin kriteria WH yang digunakan, harus kriteria visibilitas hilal (IR) yang digunakan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.