Problema Rukyat “Hilal” Qobla Ghurub Bisa Terjadi Sebelum Wujudul Hilal

T. Djamaluddin

LAPAN

Elsasser-27 Juni 2014

Pengamatan bulan sabit siang hari oleh Elsasser – Sumber ICOP

 

Beberapa kalangan berharap pengamatan bulan sabit siang hari menjadi solusi. Mereka menyebutnya teknik “astrophotography” (yang makna asalnya adalah fotografi astronomi, istilah yang umum dalam astronomi untuk pengamatan segala objek langit) atau “Rukyat Hilal Qobla Ghurub” (RHQG). Mereka menganggap itulah solusi pemersatu hisab wujudul hilal dengan rukyatul hilal. Padahal bulan sabit siang hari bukanlah hilal penentu awal bulan.

Ketika ada potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1435/2014, mereka berupaya mencari bukti “hilal” siang hari sebagai bukti kesaksian rukyat yang mereka anggap sebagai pembenaran hisab wujudul hilal yang memutuskan awal Ramadhan 1435 jatuh pada 28 Juni 2014. Enam titik pengamatan pun disebar di beberapa wilayah Indonesia untuk mencari “Hilal” Qobla Ghurub. Kabarnya di Semarang mereka berhasil mengamati “hilal” siang itu, tetapi tidak ada satu pun citra “hilal” yang dipublikasikan. Kemungkinan memang tidak diperoleh citranya, karena dari Indonesia posisi bulan masih terlalu dekat dengan matahari. Kabar gembira datang dari Jerman. Di antara mereka ada yang mengira bahwa rukyat bulan sabit siang hari yang dilakukan Elsasser di Jerman pada 27 Juni 2014 sebagai bukti pendukung benarnya keputusan mengawali Ramadhan 1435 pada 28 Juni 2014. Benarkah?

Di situs International Crescents’ Observation Project (ICOP) diungkapkan kesaksian Elsasser

"The weather cleared around one hour after conjunction with good enough skies. As the moon would set before the sun today i had to observe during the day. I used an optimized imaging system to observe the young crescent, starting around 11:00 (UT+2). The imaging system allowed to detect the crescent, despite the elongation from the sun being less than 5.5°. The difference in brightness between the crescent and the background was initially well below 1% so quite impossible to see with the eye. I did not even try visual observation under these conditions.
I could first detect the crescent around 11:20 but it was not very clear. Another gap around 13:00 provided a better view. I had to use a star-diagonal for the second series so the crescent orientation is now inverted."

 

Hasilnya adalah citra bulan sabit:

Bulan sabit 27 Juni 2014-Elsasser

Bulan sabit itu teramati pada 27 Juni 2014, pukul 12:54:45 waktu Jerman (17:54:45 WIB). Ijtimak/konjungsi/bulan baru terjadi pada pukul 10:10:33 waktu Jerman (15:10:33 WIB). Jadi itu memang bulan sabit sesudah ijtimak.

Apakah itu hilal awal Ramadhan 1435? BUKAN. Itu bukan hilal, karena hilal semestinya diamati sesudah maghrib.

Apakah itu bisa dijadikan pembenaran untuk pengguna wujudul hilal bahwa awal Ramadhan 1435 jatuh pada 28 Juni 2014? TIDAK BISA. Di Jeman, saat maghrib “hilal” belum wujud. Seperti diungkapkan sendiri oleh Elsasser

"As the moon would set before the sun today i had to observe during the day." (Karena bulan akan terbenam sebelum matahari hari ini saya harus mengamati siang hari).

Peta visibilitas hilal lebih jelas menunjukkan bahwa di Eropa pada saat maghrib 27 Juni 2014, bulan sudah berada di bawah ufuk (arsir merah). Artinya, dengan kriteria wujudul hilal ala Indonesia pun, di Jerman awal Ramadhannya BUKAN 28 Juni 2014. Aneh kalau memaksakan kesaksian di Jerman yang belum wujud hilalnya (menurut kriteria WH) untuk membenarkan penetapan WH di Indonesia.

Ramadhan 1435-ICOP

Jadi, rukyat bulan sabit siang hari (qobla ghurub) bukan solusi. Bulan sabit siang hari bukanlah hilal. Bulan sabit siang hari pun bisa terjadi sebelum ijtimak. Kalau pun terjadi sesudah ijtimak, mungkin juga terjadinya sebelum “wujudul hilal” yang kita kenal di Indonesia. Alih-alih menjadi pembenaran wujudul hilal dan menawarkan solusi, pengamatan bulan sabit siang atau RHQG berpotensi membuat masalah baru.

 



					

				

Sidang Itsbat Ramadhan 1435/2014 Menuju Definisi dan Kriteria Hilal yang Mempersatukan

T. Djamaluddin

LAPAN

Sidang itsbat awal Ramadhan 1435/2014 semoga menjadi tonggak sejarah sinergi Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mewujudkan persatuan ummat dalam penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, serta penyatuan kalender Islam.

Alhamdulillah, pada sidang itsbat 29 Sya’ban 1435/27 Juni 2014 yang bersifat tertutup tampak jelas semangat untuk menyatukan definisi dan kriteria hilal. Mengawali sesi tanggapan peserta sidang, saya menyampaikan bahwa karena belum disepakatinya kriteria maka kita menghadapi perbedaan awal Ramadhan saat ini dan nanti Idul Adha 1435 dan 1436 tahun depan. Selanjutnya sekitar 8 tahun ke depan kita akan mendapati keseragaman karena posisi bulan yang cukup tinggi pada hari ruk’yat. Saya mengusulkan agar upaya menuju kesepakatan kriteria seperti diamanatkan Fatwa MUI No. 2/2004 diintensifkan dalam waktu delapan tahun tersebut. Kriterianya bukan lagi Wujudul Hilal dan Imkan Rukyat 2 derajat, tetapi kriteria baru yang lebih astronomis.

Tidak ada perdebatan pada sidang itu, justru yang muncul adalah usulan-usulan konstruktif menuju persatuan. Prof. Dien Syamsuddin sebagai Ketua MUI dan Prof. Yunahar yang mewakili Muhammadiyah mendukung upaya penyatuan definisi dan kriteria hilal melalui pembahasan yang difasilitasi Kementerian Agama. Prof. Dien bahkan menyatakan tidak harus menunggu 8 tahun, kalau mungkin dalam empat bulan mendatang kita bisa bersepakat. Prof. Yunahar juga mengingatkan pertemuan 2007 antara PP Muhammadiyah dan PBNU yang difasilitasi Wapres saat itu, namun belum tuntas sampai merumuskan kriteria bersama. Hasil sidang itsbat ini akan segera ditindaklanjuti oleh Kementerian Agama dan MUI bersama pimpinan ormas Islam dan pakar astronomi.

Hal-hal yang terkait dengan usulan saya pada sidang itsbat tersebut bisa dibaca di blog saya:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2014/06/23/persatuan-ummat-akan-segera-terwujud-terbantu-posisi-bulan/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2014/05/24/silaturrahim-lapan-mui-mendorong-upaya-penyatuan-kriteria-awal-bulan-hijriyah/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/19/astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/01/20/tonggak-penyatuan-kalender-hijriyah-telah-dipancangkan-mari-kita-wujudkan/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/22/fatwa-mui-membuka-jalan-penyatuan-hari-raya/

 

Persatuan Ummat Akan Segera Terwujud Terbantu Posisi Bulan

T. Djamaluddin

LAPAN

Dzulhijjah 1438-2017

Beberapa tahun terakhir perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha sering terjadi karena posisi bulan rendah di wilayah Indonesia, sedangkan kriteria awal bulan belum disepakati. Tahun 1435 H/2014 M awal Ramadhan dan Idul Adha akan berbeda karena adanya perbedaan kriteria Wujudul Hilal dan Imkan Rukyat. Tahun depan diprakirakan sekali lagi akan terjadi perbedaan, yaitu Idul Adha 1436/2015. Setelah itu, perbedaan utama (antara kriteria WH dan Imkan Rukyat 2 derajat) tidak akan ada lagi karena posisi bulan sudah cukup tinggi pada hari rukyat. Ummat akan merasakan persatuan bukan karena kesepakatan kriteria, tetapi karena terbantu posisi bukan yang cukup tinggi. Kalau kriteria belum juga disepakati, potensi perbedaan awal Ramadhan akan terjadi lagi pada 1443/2022, potensi perbedaan Idul Fitri akan terjadi pada 1444/2023, dan potensi perbedaan Idul Adha akan terjadi lagi pada 1444/2023. Waktu sekitar delapan tahun cukup untuk terus mengupayakan penyatuan kriteria sehingga kekhawatiran kembalinya perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha mulai 1443/2022 dapat dihindarkan. Kita menuju penyatuan kalender Hijriyah yang hakiki, bukan sekadar terbantu posisi bulan yang cukup tinggi.

Dengan menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari Fisika Universitas Brawijawa, kita bisa mengkaji kemungkinan perbedaan di masa depan kalau kriterianya tidak berubah, seperti saat ini. Berikut uraian rincinya.

Awal Ramadhan tujuh tahun ke depan tidak ada potensi perbedaan. Posisi bulan pada saat maghrib hari ijtimak/konjungsi masih di bawah ufuk terjadi pada tahun-tahun 1436/2015 dan 1439/2018. Posisi bulan pada saat maghrib hari ijtimak/konjungsi lebih lebih dari 2 derajat terjadi pada tahun-tahun 1437/2016, 1438/2017, 1440/2019, 1441/2020, dan 1442/2021. Kalau kriteria masih seperti sekarang, potensi perbedaan baru akan terjadi lagi pada 1443/2022 karena posisi bulannya rendah. Garis tanggal awal Ramadhan 1443/2022 menurut kriteria Odeh, IR 2 derajat, dan WH ditunjukkan berikut ini:

Ramadhan 1443-2022

 

Idul Fitri delapan tahun ke depan tidak ada potensi perbedaan. Posisi bulan pada saat maghrib hari ijtimak/konjungsi masih di bawah ufuk terjadi pada tahun-tahun 1437/2016 dan 1440/2019. Posisi bulan pada saat maghrib hari ijtimak/konjungsi lebih lebih dari 2 derajat terjadi pada tahun-tahun 1436/2015, 1438/2017, 1439/2018, 1441/2020, 1442/2021. dan 1443/2022. Awal  Syawal 1442/2021 merupakan saat terbaik untuk melakukan rukyat dengan kemungkinan keberhasilan yang tinggi (kalau cuaca cerah), karena posisi bulan yang memenuhi kriteria visibilitas Odeh yang bersifat optimistik:

Syawal 1443-2021

Kalau kriteria masih seperti sekarang, potensi perbedaan Idul Fitri baru akan terjadi lagi pada 1444/2023 (lihat garis tanggal awal Syawal 1444/2023 berikut ini):

Syawal 1444-2023

 

Idul Adha 1436/2015 masih ada potensi perbedaan:

Dulhijjah 1436-2015

Kemudian Idul Adha tujuh tahun ke depan tidak ada potensi perbedaan. Posisi bulan pada saat maghrib hari ijtimak/konjungsi masih di bawah ufuk terjadi pada tahun-tahun 1437/2016 dan 1439/2018. Posisi bulan pada saat maghrib hari ijtimak/konjungsi lebih lebih dari 2 derajat terjadi pada tahun-tahun 1438/2017, 1440/2019, 1441/2020, 1442/2021, dan 1443/2022 . Awal  Dzulhijjah 1438/2017 merupakan saat terbaik untuk melakukan rukyat dengan kemungkinan keberhasilan yang tinggi (kalau cuaca cerah), karena posisi bulan yang memenuhi kriteria visibilitas Odeh yang bersifat optimistik:

Dzulhijjah 1438-2017

Kalau kriteria masih seperti sekarang, potensi perbedaan Idul Adha baru akan terjadi lagi pada 1444/2023 (lihat garis tanggal awal Dzulhijjah 1444/2023 berikut ini):

Dzulhijjah 1444-2023

Catatan Diskusi di Milis Muhammadiyah: Sekitar Masalah Penentuan Ramadhan

T. Djamaluddin

LAPAN

ramadhan-1435-lapan-2011

Peta Garis Tanggal berdasarkan Kriteria LAPAN 2011 (Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia)

 

Mei 2014 lalu di milis Muhammadiyah_Society saya menanggapi diskusi bertema “Pesan Ramadhan 1435″. Berikut ini saya copy-kan tanggapan ringkas saya dan saya susun ulang dengan diberi judul topiknya.

 

1. Tidak Hadirnya Muhammadiyah di Sidang Itsbat Tidak Masalah

Sedikit saya sampaikan sejarah yang saya ikuti. Di Badan Hisab Rukyat perwakilan Muhammadiyah aktif untuk bertukar pikiran. Dari dulu Muhammadiyah sudah dikenal “anti-rukyat” (dalam makna objektif) dengan pendapat umum yang sering kita dengar, “kalau sudah menghisab buat apa merukyat”. Tetapi mereka tetap mengirimkan wakilnya dalam sidang itsbat, karena sidang itsbat bukan hanya memutuskan hasil rukyat, tetapi juga memutuskan kalau terjadi perbedaan dengan hasil hisab. Sidang itsbat itu dinamis sekali dan mendasarkan pada kesepakatan yang hadir. Sumber perbedaan antar-sesama-rukyat, rukyat dengan hisab, dan antar-sesama-hisab adalah masalah kriteria. Penyampaian pendapat yang berbeda wajar-wajar saja. Ketika era keterbukaan informasi dan sidang itsbat banyak diliput media massa, perbedaan pendapat bisa diikuti oleh semua masyarakat. Penolakan kehadiran wakil Muhammadiyah pada sidang itsbat dianggap wajar juga, karena memang mencerminkan sikap anti-rukyat yang sejak dulu dianutnya.

Namun pengamal rukyat dan anti-rukyat BISA DIPERSATUKAN dengan kriteria yang berbasis imkan rukyat (IR, visibilitas hilal). Ada kesalahpahaman seolah kriteria imkan rukyat adalah kriteria rukyat. Bukan! Kriteria IR adalah KRITERIA HISAB, namun bisa dipakai oleh semua. Pengamal rukyat memakai kriteria IR untuk menilai hasil rukyat, meyakinkan atau meragukan yang keputusannya dengan itsbat. Pengamal hisab (anti-rukyat) memakai kriteria IR untuk menyimpulkan hasil hisabnya. Dengan kriteria IR, pengamal “anti-rukyat” tidak harus merukyat dan tidak harus ikut sidang itsbat karena hasil hisabnya bisa secara langsung disimpulkan jauh-jauh hari.

 
2. Kriteria Hisab-Rukyat

Metode penentuan awal bulan memang hanya dua: rukyat dan hisab. Kriteria adalah persyaratan untuk menyimpulkan masuk awal bulan atau belum.

Dulu untuk metode rukyat tidak perlu kriteria, yang penting hilal terlihat atau belum. Orang dulu faham betul hilal, karena belum ada alternatif hisab. Tetapi saat ini ketika tidak banyak orang yang faham hilal dan banyak objek pengganggu (polusi cahaya dan objek terang di arah medan pandang), maka kesaksian hilal tidak bisa begitu saja diterima. Harus ada kriteria untuk menerima atau menolak kesaksian hilal.

Metode hisab wajib ada kriteria, Tanpa kriteria hasil hisab hanya berupa angka yang tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan masuk awal bulan atau belum. Kriteria paling sederhana pada kalender awal adalah kriteria urfi (periodik) 29 dan 30. Lalu ada kriteria IQG, WH, dan IR. IQG dan WH hanya berdasarkan konsep sederhana dalam mendefinisikan kemungkinan rukyat. Itu sebabnya batasan maghrib masih dipakai pada IQG dan WH.

Kriteria IR atau visibilitas hilal diturunkan dari data rukyat jangka panjang. Posisi bulan dan koreksi atmospheric dip secara umum kemungkinan kesalahannya kecil sekali. Sumber ketidakpastian paling besar adalah kondisi cuaca yang sulit diparameterisasi (antara cerah sekali, agak cerah, berawan tipis, sampai berawan). Tidak terlihatnya hilal bukan semata karena masalah posisi. Itu sebabnya, kriteria menggunakan statistik kemungkinan terbesar terlihat (imkan rukyat) yang digunakan, walau ada beberapa data kondisi khusus yang di bawah kriteria, misalnya kondisi saat bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi.

 

3. Wujudul Hilal itu Tidak Berwujud

Terkait dengan hilal, BERDASARKAN PENGAMATAN hilal sekian lama maka diyakini keberadaan hilalnya yang dirumuskan dengan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Sulit sekali, BERDASARKAN PENGAMATAN akan menyimpulkan kriteria WH, karena WH BUKAN berdasarkan pengamatan.

Perlu diingat, hilal adalah FENOMENA PENGAMATAN, bukan FENOMENA EKSISTENSI. Sangat keliru kalau mengatakan hilal itu eksis atau wujud. Yang wujud adalah bulan yang bulat, satu sisi gelap dan sisi lainnya terang. TIDAK ADA wujudnya hilal.

Konjungsi BISA dibuktikan dengan pengamatan pada saat gerhana matahari, lalu dikoreksi dari toposentrik menjadi geosentrik. Tetapi WH TIDAK BISA dibuktikan, bukan hanya sulit dibuktikan. Konsep WH, bila sunset (matahari terbenam) lebih dahulu daripada moonset (bulan terbenam) adalah konsep penyederhanaan rukyat ketika ilmu hisab masih dianggap rumit. Konsep sebenarnya keliru. Untuk bulan rendah, cahaya sabitnya bulan sudah terbenam pada saat matahari terbenam, jadi tidak mungkin wujud. Karena sudah terbenam, TIDAK BISA dibuktikan dengan pengamatan. Untuk bulan yang agak tinggi, tetapi masih di bawah kriteria IR, tidak ada teknologi untuk mengamatinya karena panjang gelombang bahaya matahari yang dipantulkan bulan hampir sama dengan panjang gelombang cahaya matahari yang dihamburkan atmosfer, sehingga peningkatan kontral hilal tidak mungkin dilakukan. Paradox WH saya jelaskan di blog saya.

TIDAK ADA model astronomis tentang wujudul hilal. Silakan cari di berbagai literatur astronomi, termasuk googling. Terminologi WH hanya ada di Muhammadiyah. Arab saudi menggunakan konsep serupa hanya untuk kepraktisan kalender sipil, bukan untuk penentuan waktu ibadah. TIDAK ADA di belahan dunia mana pun yang menggunakan konsep WH untuk penentuan waktu ibadah.

 
4. Rukyat dengan Teknologi

Hilal tidak teramati (dalam kondisi cerah) karena masalah kontras antara KETAMPAKAN sabit bulan yang tipis dengan CAHAYA syafak (cahaya senja) yang masih kuat di sekitar ufuk dan sekitar matahari.

Teknologi untuk meningkatkan kontras adalah penggunaan filter untuk memperkuat cahaya hilal dan menekan cahaya syafak. Masalahnya, panjang gelombang cahaya hilal dan cahaya syafak sangat mirip sehingga sulit difilter. Ini berbeda antara cahaya bulan sabit siang hari dengan latar depan cahaya langit biru. Dengan filter infra merah cahaya bulan sabit diteruskan, cahaya langit biru diserap.

 

5. Kalender Perlu Kriteria

Kalender sebagai sistem penataan hari/tanggal (baca http://en.wikipedia.org/wiki/Calendar) adalah produk hisab dengan KRITERIA TERTENTU. Sementara pengamatan hilal (rukyatul hilal) diperlukan untuk penetapan waktu ibadah (karenanya diperlukan itsbat), BUKAN untuk menetapkan kalender. Kalender bisa disusun untuk waktu yang akan datang, sedangkan rukyatul hilal hanya untuk waktu sesaat.

Ketika kalender ingin disinkronkan dengan waktu ibadah dan ada tuntutan ummat agar penetapannya seragam, maka cara yang dilakukan adalah mensinkronisasi KRITERIANYA. Kriterianya harus sinkron dengan rukyat. Itu sebabnya, WH yang tidak bisa dibuktikan dengan pengamatan tidak bisa dijadikan sebagai kriteria kalender dimaksud. Agar sinkron, kriterianya haruslah kriteria yang bisa mengindikasikan visibilitas hilal, yaitu kriteria imkan rukyat.

 

6. Awal Hari Kalender Hijriyah

Konsep awal hari yang menjadi ijmak ulama adalah maghrib diturunkan dari konsep rukyat (Baca http://tdjamaluddin.wordpress.com/2014/05/08/maghrib-batas-hari-dalam-kalender-islam/). Konsep awal bulan tidak lepas dari awal hari, yaitu batasnya adalah maghrib. Itu pula yang digunakan dalam kriteria Ijtimak Qoblal Ghrub, WH, dan IR.

Sains mendefinisikan pergantian hari/tanggal berdasarkan kesepakatan atau konsensus. Dalam kalender masehi, awal hari dulu disepakati pada pukul 12.00 tengah hari, lalu sekitar 1925 diubah awal hari mulai pukul 00.00 (12.00 tengah malam). Dalam kalender masehi awal bulan ditentukan dengan konsesus jumlah hari tiap bulannya. Dalam kalender Hijriyah awal hari disepakati oleh jumhur ulama mulai maghrib dan awal bulan disepakati ketika fase bulan sudah berganti. Pergantian fase bulan bisa diamati, juga bisa dihitung (dihisab).

Sejauh yang saya tahu, secara global telah disepakati awal hari kalender Islam adalah maghrib, walau ada sekelompok ummat Islam di Libya menjadikan fajar sebagai awal hari karena terkait dengan kewajiban puasa mulai saat fajar. Tetapi saya kira awal hari sejak fajar hanya dalam konteks ibadah puasa.

 

7. Awal Bulan Kalender Hijriyah

Astronomi menyebut pergantian fase bulan sebagai “newmoon” (ijtimak geosentrik) hanyalah definisi astronomi, BUKAN dimaksudkan untuk implementasi pada kalender bulan. Masing-masing komunitas mempunyai definisi sendiri-sendiri. Kalender Hindu, Budha, dan Kalender Islam mempunyai definisi atau kriteria awal bulan masing-masing yang juga dipelajari dalam astronomi, khususnya dalam kajian Archeo-astronomy. Tidak bisa konsep astronomi tentang “newmoon” diterapkan dalam kajian masing-masing kalender itu. Itu sebabnya setiap kalender mempunyai kriterianya sendiri.

Karena awal hari dan awal bulan dalam kalender Hijriyah bermula dari saat maghrib, maka saat pergantian hari dan bulan adalah pada saat maghrib, BUKAN saat newmoon. Astronomi bisa menghitungkan awal bulan dengan kriteria yang disepakati oleh suatu komunitas. Agar hasil hitungan oleh komunitas pengamal hisab itu sama dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh komunitas pengamal rukyat, maka kriteria yang digunakan astronomi adalah kritreia yang berdasarkan visibilitas hilal. Itu sepenuhnya saintifik astronomi.

 

8. Hasil Hisab juga Bisa Beda

Hasil hisab beda karena modelnya beda. Perbedaan paling jelas antara hisab taqribi (aproksimasi) dan hisab hakiki (sesungguhnya). Hisab taqribi hanya menggunakan model sederhana, tinggi bulan dalam derajat = 1/2 umur bulan dalam jam. Misalkan, ijtimak pukul 11.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan 8 jam. Jadi secara taqribi tinggi bulan 8/2 = 4 derajat. Hasil hisab taqribi berbeda jauh dari hisab hakiki. Model hisab hakiki kini sangat presisi, namun masih terus disempurnakan.

 

9. Perbedaan Bukan Hanya pada Kalender Islam

Kalender adalah produk perhitungan astronomi, bukan hasil rukyat. Sistem kalender pada semua komunitas bergantung pada 3 aspek: kriteria, batas wilayah, dan otoritas.

Dalam kalender Masehi, kriteria Julius di Inggris dengan otoritas Raja Inggris dan kriteria Gregorius di Roma dengan otoritas Paus Gregorius Natalnya berbeda 12 hari. Budha di Singapura dan Malaysia Waisak dengan kriteria hari saat purnama, maka jatuh pada 13 Mei 2014. Di Nepal 14 Mei. Di Indonesia 15 Mei. Perbedaan muncul karena beda kriteria bulan purnama di masing-masing wilayah. Hal yang sama terjadi pada kalender Hijriyah yang berbeda karena perbedaan kriterianya.

Kalender Masehi berhasil menyatukan kriteria dan mendefisiniskan batasnya. Kalender Imlek (kalender bulan Tiongkok) juga berhasil menyatukan kriteria dengan mengikuti satu otoritas di Tiongkok. Kini sedang diupayakan menyatukan kriteria kalender Hijriyah dengan otoritas tunggal.

 

10. Penyatuan Kalender Perlu Kesepakatan

Kata kuncinya adalah adanya KESEPAKATAN. Kesepakatan tidak bisa sepihak, harus 3 pihak : pemerintah (negara atau global), fuqaha, dan astronom/pakar hisab-rukyat. Itu sebabnya saya dan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama selalu mengajak perwakilan 3 pihak itu untuk mencari titik temu menuju kesepakatan. Kementerian Agama mewakili unsur pemerintah. LAPAN sesuai tugas dan fungsinya mendukung unsur pemerintah dan astronom. MUI mewakili unsur fuqaha. Ormas-ormas Islam mewakili unsur fuqaha dan pakar hisab-rukyat. Observatorium Bosscha, planetarium, dan astronom amatir mewakili unsur astronom/pakar hisab-rukyat.

Substansi kesepakatan itu mencakup otoritasnya, batas wilayahnya, dan kriterianya. Yang relatif paling mudah, dimulai dari kesepakatan lokal (negara), lalu diperluas ke tingkat regional (misalnya ASEAN atau MABIMS — Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), lalu diperluas global. http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/06/kalender-hijriyah-bisa-memberi-kepastian-setara-dengan-kalender-masehi/

 

Silaturrahim LAPAN-MUI Mendorong Upaya Penyatuan Kriteria Awal Bulan Hijriyah

T. Djamaluddin

LAPAN

MUI-LAPAN-silaturrahim

Alhamdulillah, silaturrahim LAPAN dengan MUI bisa terlaksana Selasa siang, 20 Mei 2014. Silaturrahim didorong dengan keinginan LAPAN membantu MUI merealisasikan Fatwa MUI No. 2/2004. Isi rekomendasi fatwa itu agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

Dari LAPAN hadir saya sebagai Kepala LAPAN, Plt Deputi Sains, Karo Kerjasama dan Humas, dan Peneliti astronomi Abdul Rachman. MUI menyambut dengan pimpinan MUI yang cukup lengkap: Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc), Wk Sekjen (H. Tengku Zulkarnaen, Dr. Amirsyah Tambunan, Prof. Dr. Amini Lubis), Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian (Prof. Dr. Utang Ranuwijaya, MA), Sekr. Komisi Pengkajian dan Penelitian (Dr. KH Cholil Nafis), dan Wk. Sekr. Komisi Fatwa (Drs. H. Sholahudin Al-Aiyub, MSi).

Prof. Yunahar membuka pertemuan dengan mengungkapkan perbedaan antara Indonesia dengan Malaysia dan negara-negara Timur Tengah. Di sana ada Mufti (ulama yang memberikan fatwa keagamaan). Di Indonesia tidak ada Mufti. Majelis Ulama yang berwenang mengeluarkan fatwa dan berisi perwakilan ormas-ormas Islam, fatwanya tidak mengikat ormas-ormas Islam. Ormas Islam bisa mengeluarkan fatwa sendiri. Sementara itu Kementerian Agama bukan lembaga fatwa, tetapi merupakan lembaga politik. Namun, terkait dengan masalah perbedaan awal Ramadhan dan hari raya ada semangat untuk mempersatukan. Perlu musyawarah pemerintah, ulama, dan saintis dengan melepaskan ego masing-masing. Ada dua pendekatan yang bisa ditempuh. Dengan politik keagamaan, dasarnya “demi persatuan”. Atau dengan pendekatan keagamaan dengan dasar dalil-dalil fikih.

Pertemuan berlangsung terbuka dan saling mengisi. Majelis Ulama menyoroti aspek keagamaannya dan LAPAN melengkapi aspek astronominya. Alhamdulillah dicapai kesepakatan untuk membentuk semacam tim bersama yang beranggotakan unsur fikih dan unsur astronomi dari MUI, Mahkamah Agung, Kemenag, LAPAN, ITB, dan perwakilan ormas Islam. Pertemuan lanjutan di LAPAN, MUI, atau Kementerian Agama akan dilakukan untuk merumuskan kerangka penyatuan kriteria yang akan mempercepat terwujudnya kriteria penentuan awal bulan Hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Maghrib: Batas Hari dalam Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Day-Night(Ilustrasi pergantian siang menuju malam – Dari wikispaces.com)

Mengapa batasan maghrib menjadi acuan hari dalam Islam? Tidak ada dalil dalam Al-Quran yang secara tegas menyebut maghrib sebagai batas awal hari dalam Islam. Tetapi hadits Rasul tentang rukyat awal dan akhir Ramadhan dapat menjadi dasar bahwa hari dimulai sejak maghrib. Hadits itu memerintahkan, “Berpuasalah bila melihatnya (hilal) dan berbuka (beridul fitri) bila melihatnya”.

Rukyat hilal yang dapat meyakinkan telah masuknya bulan baru adalah rukyat pasca maghrib. Ketika telah terlihat hilal, maka saat itulah awal bulan berlaku. Kalau itu awal Ramadhan, maka malam itu shalat tarawih dan amalan Ramadhan dimulai. Lalu puasa dimulai sejak shubuh sampai maghrib. Kalau itu awal Syawal, shalat tarawih tidak ada lagi berganti dengan gema takbir menyambut Idul Fitri. Jadi, tanggal awal bulan bermula saat maghrib. Harinya pun bermula saat maghrib. Jadi dalam Islam, Kamis malam adalah malam Jumat, karena hari dimulai saat maghrib. Ungkapan itu sudah lazim dan memasyarakat di Indonesia.

Ketika ilmu hisab (perhitungan astronomi) berkembang, batasan maghrib pun tetap dijadikan rujukan awal hari. Posisi bulan saat maghrib menjadi rujukan dalam penentuan masuknya awal bulan Islam. Beberapa kriteria klasik menggunakan batasan maghrib untuk menandai awal bulan. Misalnya,  “ijtimak qoblal ghurub” (konjungsi bulan-matahari sebelum maghrib) dan “Wujudul Hilal” (hilal dianggap wujud atau sebagian piringan bulan masih di atas ufuk) saat maghrib. Kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (kemungkinan ketampakan hilal) menggunakan posisi bulan saat maghrib dengan syarat ketinggian tertentu atau parameter lainnya sebagai syarat masuknya awal bulan.

Kini pengamatan bulan sabit siang hari sudah dimungkinkan dengan teknologi teleskop dengan penutup matahari, filter inframerah, kamera digital, dan perangkat lunak pengolah citra. Orang menyebutnya “Rukyat Qoblal Ghurub” (Pengamatan sebelum maghrib) yang dianggap sebagai alternatif solusi. Tetapi sesungguhnya itu bukan solusi, tetapi masalah baru dalam hukum ibadah. Rukyat siang hari tidak bisa memastikan pergantian bulan kalender, kecuali saat terjadi gerhana matahari. Karena itu bulan sabit siang hari bukan hilal penentu awal bulan.

Rukyat bulan sabit siang hari  menjadi persoalan hukum ibadah. Karena tidak bisa memastikan pergantian bulan kalender, kemudian ada gagasan menggabungkan rukyat bulan sabit siang hari dengan hasil hisab untuk  ijtimak (konjungsi). Menurut gagasan itu, kalau sudah ijtimak dan bulan sabit teramati, maka masuklah bulan baru. Gagasan itu sangat janggal. Kalau ijtimak dijadikan penentu, maka buat apa ada rukyat bulan sabit? Mengapa tidak mempercayai saja hasil hisab tentang ijtimak itu? Tampaknya gagasan itu berupaya untuk mengakomodasi pengamal rukyat dengan dibuktikan terlihatnya bulan sabit. Tetapi bukti itu salah dan membuat rancu secara hukum. Kalau sudah ijtimak dan terlihatnya bulan sabit dianggap sudah bulan baru, lalu apa hukumnya hari itu? Kalau itu awal Ramadhan, apakah saat itu sudah memasuki 1 Ramadhan sehingga semestinya ummat Islam sudah wajib puasa? Puasa itu harus diawali sejak shubuh, jadi kalau awal bulan jatuhnya siang hari, apakah ia wajib menggantinya kalau saat itu tidak berpuasa? Kalau pun sedang berpuasa, niatnya dalam keraguan. Pagi hari puasa bulan Sya’ban, siangnya puasa Ramadhan. Rancu secara hukum!

Karena terbentur pada masalah hukum ibadah, mungkin juga ada yang memodifikasi ketentuannya. Walau sudah ijtimak dan terlihat bulan sabit siang hari, ketentuan ibadahnya mulai maghrib seperti lazimnya. Oh, kalau begitu untuk apa bersusah-susah melakukan rukyat siang hari, kalau ujung-ujungnya menggunakan konsep rukyat pasca maghrib dalam menentukan awal hari.

 

 

 

Konversi Tanggal – Hari Pasaran

T. Djamaluddin

Peneliti Astronomi-Astrofisika, LAPAN

kalender-jawa

(Ilustrasi kalender dengan hari pasaran, hasil googling)

Seorang pembaca blog saya bertanya, bahwa temannya tidak punya akte lahir. Informasi dari keluarganya hanyalah “lahir pada Rabu Pon 7 Dzulhijjah sekitar 1984-1985″. Kapan tanggal lahir sesungguhnya?

Untuk menjawabnya, pertama saya gunakan program konversi kalender yang saya buat untuk mencari 7 Dzulhijjah yang jatuhnya sekitar hari Rabu pada tahun sekitar 1984 – 1985. Ya, tidak harus tepat harinya Rabu, karena program konversi umumnya plus-minus satu hari. Maka diperoleh 7 Dzulhijjah 1403 itu sekitar Rabu, 14 September 1983 (bukan 1984 atau 1985 yang diperkirakan semula). Bagaimana untuk memastikan bahwa tanggal itu adalah benar tanggal kelahirannya. Informasi hari pasaran (hari dalam kalender Jawa) “Pon” yang bertepatan dengan Rabu sebagai kuncinya.

Saya buka tabel yang saya buat di buku saya “Almanak Alam Islami: Sumber Rujukan Keluarga Muslim Melenium Baru” (Karya bersama Rachmat Taufiq Hidayat, Endang Saifuddin Anshari, Thomas Djamaluddin, dan Nia Kurnia, 2000).

Konversi Pasaran

Konversi pasaran-2

Pada tabel pertama, terlihat 1983 bila dilihat pada kolom September (S) di sebelah kanan, terdapat nomor “5”. Itu adalah kalendar yang ada pada tabel kedua. Pada kalender 5, tampak bahwa tanggal 14 adalah Pon. Jadi benar, bahwa 14 September 1983 adalah Rabu Pon. Kesimpulan saya, tanggal kelahiran yang ditanyakan adalah Rabu Pon, 7 Dzulhijjah 1403/14 September 1983.

Dengan cara serupa, kita bisa menentukan hari pasaran pada tanggal, bulan, dan tahun Masehi. Contoh lainnya adalah hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Menurut tabel kalender abadi di blog saya ini, hari kemerdekaan Indonesia jatuhnya pada hari Jumat. Lalu kita lihat tabel pertama di atas, tahun 1945 kalau dilihat pada kolom Agustus (A) di sebelah kanan bersesuai dengan kalender “5”. Pada kalender 5, terlihat tanggal 17 jatuhnya pada hari pasaran “Manis” (atau disebut juga “Legi”). Jadi, 17 Agustus 1945 adalah hari Jumat Manis/Legi.

Garis Tanggal Bulan Hijriyah Selama 2014 Menurut Kriteria LAPAN 2011 (Kriteria “Hisab Rukyat Indonesia”)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Buku Astronomi Memberi Solusi

LAPAN melalui buku “Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat” (2011) menawarkan kriteria awal bulan Hijriyah yang diberi nama kriteria “Hisab Rukyat Indonesia”. Mudahnya disebut “Kriteria LAPAN 2011″ (karena merupakan penyempurnaan “Kriteria LAPAN” sebelumnya yang diusulkan pada tahun 2000). Implementasi kriteria awal bulan Hijriyah adalah garis tanggal Hijriyah. Kriteria LAPAN 2011 telah digunakan oleh ormas Islam Persis (Persatuan Islam) dalam membuat kalender Hijriyahnya.

Alhamdulillah, aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari Fisika Universitas Brawijawa telah memasukkan “Hisab Rukyat Indonesia” (Kriteria LAPAN 2011) tersebut. Berikut ini garis tanggal bulan Hijriyah selama tahun 2014, berikut penafsirannya:

Rabbiul Awal 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 1 Januari 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Rabbiul Awal 1435 jatuh pada hari berikutnya, 3 Januari 2014.

Rabbiul Awal 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 31 Januari 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Rabbiuts Tasni 1435 jatuh pada 1 Februari 2014.

Jumadil Ula 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 1 Maret 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Jumadil Ula 1435 jatuh pada hari berikutnya, 3 Maret 2014.

Jumadits Tsani 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 31 Maret 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Jumadits Tasni 1435 jatuh pada 1 April 2014.

Rajab 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 29 April 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Rajab 1435 jatuh pada hari berikutnya, 1 Mei 2014.

Sya-ban 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 29 Mei 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Sya’ban 1435 jatuh pada 30 Mei 2014.

Ramadhan 1436 -LAPAN 2011

Ramadhan 1435

Pada saat maghrib 27 Juni 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Ramadhan 1435 jatuh pada hari berikutnya, 29 Juni 2014. Perlu diwaspadai adanya potensi perbedaan awal Ramadhan 1435, karena garis tanggal Wujudul Hilal menunjukkan bagian Selatan Jawa bulan sudah wujud saat matahari terbenam. Bila menggunakan prinsip Wilayatul Hukmi, maka penganut Wujudul Hilal akan menetapkan 1 Ramadhan 1435 jatuh pada 28 Juni 2014.

Syawal 1436 -LAPAN 2011

Syawwal 1435

Pada saat maghrib 27 Juli 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Syawal 1435 jatuh pada 28 Juli 2014. Kriteria Wujudul Hilal dan Kriteria tinggi bulan 2 derajat juga bersepakat Idul Fitri jatuh pada 28 Juli. Namun, garis tanggal kriteria LAPAN 2011 yang hanya melintasi bagian Selatan Jawa bermakna ada potensi hilal sulit dirukyat.

Dzulqa-dah 1436 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 25 Agustus 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Dzulqa’dah 1435 jatuh pada hari berikutnya, 27 Agustus 2014.

Dzulhijah 1436 -LAPAN 2011

Dzulhijjah-1435

Pada saat maghrib 24 September 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Dzulhijjah 1436 jatuh pada hari berikutnya, 26 September 2014. Perlu diwaspadai adanya potensi perbedaan awal Dzulhijjah 1435 dan Idul Adha, karena garis tanggal Wujudul Hilal menunjukkan bagian Selatan Jawa dan Sumatera bulan sudah wujud saat matahari terbenam. Bila menggunakan prinsip Wilayatul Hukmi, maka penganut Wujudul Hilal akan menetapkan 1 Dzulhijjah 1435 jatuh pada 25 September 2014.

Muharram 1437 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 24 Oktober 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Muharram 1436 jatuh pada hari berikutnya, 26 Oktober 2014.

Shafar 1437 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 22 November 2014, di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria, maka 1 Shafar 1436 jatuh pada hari berikutnya, 24 November 2014.

Rabbiul Awal 1437 -LAPAN 2011

Pada saat maghrib 22 Desember 2014, di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria, maka 1 Rabbiul Awal 1436 jatuh pada 23 Desember 2014.

 

 

Inspirasi Ramadhan di Salman-TV: Bijak Dalam Perbedaan Penanggalan

Catatan:

Masjid Salman ITB merintis Salman-TV. Salah satu program perdananya adalah acara Inspirasi Ramadhan dengan narasumber T.Djamaluddin. Berikut tayangan Salman-TV dalam empat sesi yang videonya bisa disimak di Youtube.

 

Inspirasi Ramadhan (Irama) adalah program Panitia Pelaksana Program Ramadhan 1434 H yang diadakan setiap ba’da Ashar di 2 pekan pertama Ramadhan. Program ini menampilkan para pembicara yang inspiratif dengan beragam latar belakang dan kompetensi. Untuk episode ini menampilkan Prof.Dr. Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dari LAPAN yang juga alumni Salman ITB.

Sesi 1:

Sesi 2:

Sesi 3:

Sesi 4:

Memahami Penentuan Awal Bulan dan Menyikapi Potensi Perbedaan: Kasus Dzulhijjah-Idul Adha 1434

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

Astronomi mudah mengenali potensi perbedaan hari raya dengan menggunakan data hisab dan kriteria penentuan awal bulan yang digunakan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Potensi perbedaan pada tahun 1434 telah diuraikan di blog saya ini, salah satunya adalah potensi perbedaan penentuan awal Dzulhijjah dan Idul Adha. Untuk memahami sumber perbedaan penentuan awal bulan dan cara menyikapinya, perlu difahami hisab (perhitungan) astronomi, kriteria penentuannya, dan upaya penyatuannya.

Hisab Astronomi

Secara umum hisab astronomi terbagi menjadi hisab global dan hisab lokal. Hisab global adalah hitungan posisi bulan dan parameter lainnya secara global sehingga mudah melihat garis tanggalnya menurut kriteria yang dipilih. Hisab lokal adalah hitungan posisi bulan untuk wilyah pengamatan tertentu, terutama lokasi rujukan (markaz), seperti Pelabuhan Ratu. Hisab lokal sangat membantu upaya rukyat (pengamatan) oleh para pengamal rukyat. Berikut ini hasil hisab global dan hisab lokal dengan menggunakan perangkat lunak “Accurate Time” Odeh dan perangkat lunak lainnya.

Dzulhijjah-1434-tinggi-bulan

Dzulhijjah 1434

Hisab global menunjukkan pada saat maghrib 5 Oktober, di wilayah Indonesia (dan juga di Arab Saudi) tinggi bulan telah di atas ufuk. Di Indonesia ketinggian bulan sekitar 1,3 – 3 derajat. Dengan menggunakan kriteria wujudul hilal seperti dilakukan Muhammadiyah dan kriteria ketinggian minimal 2 derajat seperti dilakukan oleh NU, kalender Dzulhijjah 1434 bermula pada 6 Oktober, sehingga Idul Adha pada kalender jatuh pada 15 Oktober 2013. Namun, kalau menggunakan kriteria Odeh (arsir biru, magenta, dan hijau) atau kriteria LAPAN (2010) yang mensyaratkan beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (seperti yang dilakukan ormas Islam Persis), maka pada saat maghrib 5 Oktober 2013 bulan tidak mungkin terlihat, sehingga awal Dzulhijjah pada kalender jatuh pada 6 Oktober 2013 dan Idul Adha pada kalender jatuh pada 16 Oktober 2013.

Data Hisab Pelabuhan Ratu 5 Okt 2013-a

Hisab lokal untuk markaz Pelabuhan Ratu secara spesifik menunjukkan data sebagai berikut: Tinggi bulan 2 derajat 42′. Beda tinggi bulan-matahari (relative altitude) 3 derajat 39′. Jarak sudut (elongasi) bulan-matahari 4 derajat 51′. Posisi bulan seperti itu telah memenuhi kriteria wujudul hilal dan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) 2 derajat, tetapi itu masih dianggap terlalu rendah menurut kriteria Odeh dan kriteria LAPAN (2010).  Karena belum adanya kriteria tunggal yang disepakati,  ketika posisi bulan berada di antara berbagai kriteria itu, maka potensi perbedaan akan terjadi. Bagaimana menyikapinya?

Utamakan Persatuan Ummat

Bagaimana menyikapi potensi perbedaan seperti itu? Mari kita utamakan persatuan ummat dalam arti persatuan yang hakiki, bukan sekadar persatuan semu “saling menghargai perbedaan”. Penyatuan kalender dan hari raya punya makna syiar yang luar biasa, sebagai simbol persatuan ummat. Untuk mewujudkan persatuan ummat, terkait dengan kalender dan hari raya, harus terpenuhi tiga syarat: (1) ada otoritas tunggal, (2) ada batas wilayah yang jelas, dan (3) ada kriteria tunggal yang disepakati. Syarat (1) dan (2) telah ada. Pemerintah RI yang diwakili Menteri Agama secara de facto telah berperan sebagai otoritas tunggal yang diindikasikan oleh ditaatinya hari-hari libur nasional yang ditetapkannya.  Batas wilayah pun semua ormas Islam telah sepakat untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia sebagai suatu kesatuan waktu tanggal, walau ada yang menginginkan perluasan secara global. Tinggal selangkah lagi kita menuju penyatuan kriterianya.

Dalam kaidah Islam, kalau kita belum bisa menyempurnakan seluruhnya, maka kita harus mengambil yang mudharatnya paling ringan.  Bersikukuh pada kriteria masing-masing ormas Islam hanya akan menyebabkan perbedaan makin nyata.  Penyatuan kriteria masih memerlukan dialog dan edukasi yang diharapkan tidak terlalu lama lagi bisa tercapai. Oleh karenanya, dua kesepakatan yang telah ada kita jadikan basis membina persatuan ummat. Sidang itsbat yang difasilitasi Kementerian Agama hendaknay dijadikan sebagai forum musyawarah untuk mendapatkan kata sepakat pelaksanaan hari raya. Demi persatuan ummat, mari kita sepakati Pemerintah yang diwakili Menteri Agama sebagai otoritas yang menetapkan hari raya. Apalagi hal itu telah difatwakan MUI pada 2004.

Jadi, kalau pun kalender ormas-ormas Islam ada yang berbeda, marilah kita bersepakat untuk menjadikan keputusan Pemerintah yang dihasilkan dari musyawarah sidang itsbat dapat menjadi acuan. Dalam kasus Idul Adha 1434, marilah kita ikuti saja keputusan Pemerintah dalam menetapkan Idul Adha: 15 Oktober atau 16 Oktober. Persatuan ummat harus kita utamakan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.