Pantauan Satelit Mengungkap Penyebaran Debu Letusan Gunung Kelud


T. Djamaluddin

LAPAN

20140214_wib_a

Gung Kelud di Jawa Timur meletus pada malam Jumat 13 Februari pukul 22.50 WIB. Citra satelit MTSAT yang dipantau LAPAN menjelaskan penyebaran debu Gunung Kelud sampai ke Jawa Barat. Citra satelitr MTSAT di atas menggambarkan pergerakan awan dari Timur ke Barat. Awan debu terpantau di Jawa Timur pada pukul 00.00, lalu menyebar ke arah Jawa Barat menuju Lautan Hindia. Analisis lebih rinci dilakukan oleh Tim Peneliti Sains Atmosfer LAPAN Bandung. Berikut analisisnya:

Waktu kejadian letusan sekitar pukul 22.50 WIB berdasarkan informasi dari PVBMG. Satu jam kemudian debu mencapai hingga ketinggian tropopause (16 – 17 km). Berdasarkan pantauan satelit MTSAT-2 yang dipantau LAPAN Bandung, debu vulkanik menyebar dalam arah horizontal dengan radius 100 km satu jam setelah kejadian letusan. Tiga jam kemudian melebar ke arah barat dengan radius mencapai sekitar 300 km. Sebaran debu vulkanik dibawa oleh angin ke arah Barat dengan kecepatan 83 km/jam berdasarkan hasil analisis data MTSAT-2 dan pemodelan atmosfer yang dikembangkan oleh Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN. Sehingga pada Jumat 14 Feb 2014 pukul 07 WIB debu semburan letusan Gunung Kelud sudah sampai di wilayah Jawa Barat.

Sesaat setelah letusan, pada pukul 23.00 belum terlihat awan debu di atas Gunung Kelud (tanda segi tiga).

Debu Kelud1

Pada pukul 00.00 (pukul 24.00) awan debu (warna biru) terpantau pada suhu puncak sekitar 200 K atau lebih rendah. Artinya, ketinggiannya sekitar 10 km atau lebih.

Debu Kelud2

Analisis model atmosfer, pada ketinggian sekitar tropopause (sekitar 16 km) arah angin ke arah Barat menuju Barat Daya.

Angin Tropopause

Akibatnya, awan debu menyebar ke arah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.  Kemudian debu secara perlahan mulai turun pada siang harinya. Jadi, debu yang jatuh di Jawa Barat disebabkan oleh awan debu yang menyebar pada lapisan atas atmosfer. Di lihat dari citra satelit, tampaknya kecil kemungkinan debu Gunung Kelud jatuh di Jakarta.

Debu Kelud3

Debu Kelud4

Data lidar (pengukur keberadaan awan dan debu) di satelit CALIPSO mengungkapkan, debu letusan Gunung Kelud mencapai ketinggian sekitar 20 km. Artinya, itu mencapai stratosfer bawah. Debu yang mencapai stratosfer akan bertahan lama karena tidak ada proses awan dan hujan yang membersihkan debu-debu di atmosfer. Sebagin debu yang tidak mencapai stratosfer telah turun menghujani Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dari pengalaman sebelumnya, debu letusan gunung Galunggung 1982 dan Gunung Pinatubo 1991 bertahan lebih dari 2 tahun. Walau pun tak sebesar Pinatubo, debu Kelud juga tampaknya akan bertahan cukup lama di stratosfer.

kelud_cal_2014044(Sumber http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=83144)

Angin di atmosfer bawah mengarah ke arah Timur. Angin di atmosfer bawah menjelaskan penyebaran debu Gunung Kelud sampai juga ke Madura.

Angin 14 Feb 2014

About these ads

8 Tanggapan

  1. lalu bagaimana mengenai kabar yang katanya debu vulkanik kelud juga mencapai NTB. apakah itu hanya isu?

  2. paragrf pertama salah tggl itu pak…

  3. […] Pantauan Satelit Mengungkap Penyebaran Debu Letusan Gunung Kelud […]

  4. Awan debu kelud di startosfer bpengaruh terhadap suhu permukaan bumi kayak letusan tambora dulu g pak kira- kira?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 210 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: