Mendaki Menuju Puncak Cita-cita dan Karir


T. Djamaluddin

Kepala_Lapan_2014

Alhamdulillah, 7 Februari 2014 lalu saya mencapai puncak karir pegawai negeri sipil. Menristek melantik saya menjadi Kepala LAPAN. Dalam jabatan pegawai negeri sipil, jabatan kepala LPNK (Lembaga Pemerintah Non-Kementerian) adalah jabatan puncak karir, yang dalam undang-undang Aparatur Sipil Negara disebut Jabatan Pimpinan Tinggi Utama. Penggalan perjalanan sepanjang hayat ini saya tuliskan sekadar berbagi inspirasi dan dorongan semangat untuk anak-anak dan adik-adik yang sedang meniti cita-cita dan karir. Catatan ini pun sebagai tanda syukur atas kasih sayang Allah dan tanda terima kasih kepada orang tua, keluarga, teman-teman, dan banyak orang yang telah membantu saya. Semua itu akan terasa nikmatnya kalau diungkapkan agar tidak ibarat “kacang lupa akan kulitnya”. Agar pandai bersyukur, Allah juga mengingatkan,

Nikmat Allah - ceritakan

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu ceritakan” (QS Adh-Dhuha:11)

Saya masuk SD saat ayah saya memasuki masa pensiun sebagai anggota TNI-AD. Sekolah di SD Kejaksan I Cirebon saya tetap semangat walau kadang dipanggil guru karena iuaran sekolah tak pernah tuntas. Namun saat kelas 5, hampir saja saya putus sekolah. Saat itu ayah pulang kampung ke Gorontalo dan sakit sehingga tertunda sekian lama tidak balik ke Cirebon. Iuran sekolah tak terbayarkan. Dampaknya, raport kenaikan kelas 5 ditahan guru. Saya tak tahu naik kelas atau tidak, tetapi teman saya yang putri guru menyebut saya naik dan menyebut saya sebagai juara kelas. Karenanya saya beranikan masuk kelas 5. Saya hampir menangis ketika guru kelas 5 menanyakan mengapa masuk kelas 5. Besoknya saya tak masuk sekolah, malas sekali, rasanya ingin berhenti sekolah. Orang tua selalu memberi semangat untuk jangan putus sekolah, apa pun keadaannya. Untuk memberi semangat ibu saya bercerita tentang anak tukang cuci pakaian yang berhasil menjadi camat di Papua. Cerita itu cukup membangkitkan semangat, bahwa saya pun bisa seperti itu. Malas sekolah hanya satu hari itu. Saat saya kembali masuk sekolah dan ditanya alasan ketidakhadiran, saya berterus terang beralasan malas. Suatu alasan yang tidak diterima guru saya.

Kelas 5 itulah banyak pengalaman pahit ketika dijalani namun manis untuk jadi kenangan. Betapa tidak enaknya jadi anak miskin yang dilecehkan teman dan guru. Ada teman yang suka menarik-narik kaus kaki saya yang kendur diikat karet. Guru yang mencontohkan baju putih bersih berbeda dengan putih kekuningan yang saya pakai. Walau menyakitkan, tetapi itu memberi semangat untuk menunjukkan kelebihan prestasi belajar. Saya pemalu menghadapi orang, tetapi saya tidak pernah malu untuk sesuatu yang benar. Saya mencoba mencari uang jajan dengan berjualan es bungkus, berkeliling di Pasar Pagi Cirebon. Saya tidak malu ketika berpapasan dengan guru saya yang pulang dari pasar. Sempat juga berjualan nasi bungkus menjelang sekolah selepas shubuh, menjelang sekolah. Para penarik becak Pasar Pagi adalah pelanggan utama saya.

Namun, ada catatan pembangkit semangat yang juga tak terlupakan saat kelas 5 itu. Ketika guru saya mengumumkan hasil nilai THB (Tes Hasil Belajar – yang soalnya dibuat Dinas Pendidikan), ternyata disebut juga ada satu soal yang hanya saya yang jawabannya benar. Soal tentang asal-usul minyak bumi, yang di kelas belum pernah diajarkan. Saya tahu jawabnya karena kebetulan saya suka membaca buku. Asal-usul minyak bumi itu saya baca di buku SMP milik kakak sepupu saya. Itulah titik balik yang membangkitkan lagi semangat belajar saya, setelah nyaris putus sekolah.

Walau ada teman yang suka melecehkan, banyak juga teman yang membantu. Setiap ada tugas kerajinan tangan, bahan-bahan dibantu oleh teman-teman yang rela berbagi. Alhamdulillah, sampai akhirnya tangga cita-cita pertama tercapai. Lulus SD pada Desember 1974 dan masuk SMP favorit, SMP Negeri I Cirebon.

Walau tak separah kondisi saat di SD, kondisi ekonomi yang terbatas menyebabkan saya tak sanggup membeli buku cetak. Selama SMP saya hanya membeli 3 buku stensil (cetakan kualitas rendah) pelajaran agama (kelas 1, 2, dan 3) dan 1 buku tipis pelajaran ekonomi saat kelas 3. Buku itu terbeli karena harganya murah. Saya beruntung punya teman-teman yang mengerti keadaan saya. Mereka bersedia meminjamkan buku untuk saya ringkas atau untuk mengerjakan PR. Beberapa buku saya pinjam agak lama karena saya ringkas isinya. Jadi pada awal tahun saya sudah mempunyai catatan lengkap pelajaran satu tahun. Puncak tangga ke dua tercapai, lulus SMP pada Desember 1977 dan melanjutkan ke sekolah favorit SMA Negeri 2 Cirebon.

Ketidakmampuan membeli buku cetak berlanjut sampai SMA, walau masih lebih baik. Beberapa buku masih terbeli. Kalau terpaksa tidak terbeli, selain meminjam ke teman, cara lain yang saya gunakan adalah membaca di toko buku. Karena waktunya singkat, informasi yang saya perlukan harus saya ingat-ingat. Tidak mungkin saya bawa catatan ke toko buku. Perpustakaan sekolah cukup membantu untuk mendapatkan informasi umum, tetapi untuk materi pelajaran tidak tersedia buku yang terkait secara langsung.

Saat SMA, pada awal semester saya selalu membuat target nilai semua pelajaran. Kalau tidak tercapai, semester berikutnya belajar saya pacu. Pernah nilai matematika saya jatuh di bawah harapan, walau tidak buruk. Maka liburan semester itu tidak saya gunakan untuk berlibur. Saya berupaya mencari buku-buku tambahan untuk dapat memahami bagian-bagian yang belum saya fahami. Alhamdulillah, semester berikutnya target kembali tercapai. Tahun 1981 Proyek Perints II (pola penerimaan masuk perguruan tinggi dengan undangan) mulai berlaku juga untuk ITB (sebelumnya hanya IPB). Saya mendaftar ke ITB dan saya tuliskan minat saya masuk jurusan astronomi. Puncak tangga ke tiga tercapai, lulus SMA pada Juni 1981 dan alhamdulillah saya diterima di ITB tanpa tes.

Catatan pendakian tangga cita-cita ke empat (lulus sarjana ITB) dan pengembangan karir saya tuliskan di blog saya ini  “ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti”. Alhamdulillah, seusai wisuda 18 Oktober 1986 hanya berselang 2 pekan saya sudah masuk bekerja di LAPAN Bandung pada 1 November 1986. Bagi seorang peneliti, cita-cita berikutnya adalah sekolah lagi mencapai S2 dan S3. Alhamdulillah, dengan beasiswa pemerintah Jepang (Monbusho) saya dapat melanjutkan S2 dan 3 di jurusan astronomi, Universitas Kyoto. Puncak tangga cita-cita ke lima (lulus s3) saya capai tepat pada ultah ke-34, 23 Januari 1996, setelah tertunda setahun lebih menunggu terbitnya publikasi internasional.

Sebagai pegawai negeri sipil saya menjalani dua jalur pembinaan karir, jalur jabatan fungsional dan jalur jabatan struktural. Jalur jabatan fungsional saya adalah peneliti. Jalur jabatan fungsional lebih bergantung pada upaya pribadi dalam menghasilkan karya yang dinilai dengan angka kredit dan dihargai dengan naik jenjang jabatannya. Kenaikan jabatan fungsional dapat memacu kenaikan pangkat dengan kenaikan pangkat pilihan paling cepat 2 tahunan, lebih cepat daripada kenaikan pangkat reguler yang paling cepat 4 tahunan. Alhamdulillah, jabatan fungsional saya relatif cepat naiknya sehingga memacu kenaikan pangkat saya. Dalam masa kerja 22 tahun, saya mencapai puncak jabatan fungsional Peneliti Utama dengan pangkat tertinggi IVe. Artinya, rata-rata kenaikan pangkat saya sekitar 2,75 tahun. Setelah melakukan orasi pengukuhan, saya memperoleh Profesor Riset pada 9 Desember 2009. Itulah puncak tangga cita-cita sebagai peneliti.

Saya pun dipercaya untuk meniti karir jabatan struktural. Jabatan struktural bukan hanya ditentukan oleh upaya pribadi, tetapi juga faktor kepercayaan pimpinan dan lingkungan kerja atas kemampuan manajerial. Dimulai sebagai Kepala Komputer Induk (eselon IV) lalu menjadi Kapala Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa (eselon III). Ketika ada aturan tidak boleh jabatan rangkap, saya mundur dari Kepala Bidang untuk memilih jabatan fungsional peneliti. Namun setelah sekitar 2 tahun menekuni jabatan fungsional peneliti saja, pada 2007 amanat sebagai Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (eselon II) kembali saya terima. Kali ini aturan telah berubah, boleh jabatan rangkap. Namun pada 2009, pangkat saya sudah mencapai IVe sesuai dengan jabatan fungsional peneliti saya. Pangkat IVe sudah melebihi batas tertinggi pangkat jabatan eselon II. Maka pada April 2010 saya “diparkir” dari jabatan struktural, kembali sebagai peneliti murni. Sekitar satu tahun “parkir”, pada Mei 2011 saya diberi amanah lagi menjadi Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraa (eselon I). Hampir tiga tahun menduduki posisi Deputi, alhamdulillah pada 7 Februari 2014 saya dilantik menjadi Kepala LAPAN. Dalam karir pegawai negeri sipil, itulah puncak karir jabatan struktural.

Cita-cita adalah gambaran masa depan yang diupayakan untuk dicapai. Pasti tidak mudah untuk mewujudkannya. Banyak tantangan dan cobaan, namun tidak mustahil untuk diraih. Saya sudah pada puncak karir pegawai negeri sipil, tidak ada lagi cita-cita spesifik yang harus saya kejar, selain untuk mewujudkan tujuan hakiki hidup manusia: mencari ridha Allah (mardhatillah). Mencari ridha Allah bermakna segala upaya dilakukan sebaik-baiknya, secara ikhlas dan konsisten (istiqamah) hanya karena kecintaan (mahabbah) kepada Allah, bukan karena sesuatu yang duniawi. Hasil duniawi hanyalah dipandang sebagai dampak upaya kita, bukan tujuan utama. Kalau pun suatu saat nanti ada capaian-capaian lain selepas karir pegawai negeri, semuanya adalah dampak dari capaian sebelumnya, bukan merupakan cita-cita yang harus dikejar.

About these ads

7 Tanggapan

  1. Selamat Mas Thomas jamaluddin, semoga ladang amalnya bertambah luas, diiringi barokahNYA
    Amiin

  2. subhanallah.. ceritanya menginspirasi sekali.
    selamat ya Pak Thomas :)

  3. Selamat atas musibah nya pak…

    • Terima kasih atas doa “selamat”, tetapi amanah tidak boleh dianggap sebagai musibah. Amanat boleh dianggap sebagai ujian.

      • Mohon Maaf yang sebesar2 nya, pak, tak ada maksd hati untuk mengucapkan “Musibah” sebagai bencana, karena asal saya dari Timur, saya sering menyamakan arti antara “musibah dan Ujian”, intinya saya cuma mau bilang, Semoga Bapak lulus ujian ini dan menjadi selamat dimata Allah SWT sebagai pemilik Hidup dan mati kitorang….
        AMIN… AMIN… Yaa Rabbal Alamin…..

      • Saya faham, kadang orang menyamakan ujian dan musibah. Musibah bisa sebagai ujian bisa pula sebagai adzab (siksa).
        Saya mengaminkan doa agar saya berhasil menyelesaikan ujian dengan amanat jabatan ini. Terima kasih. Semoga Allah membimbing kita tetap istiqamah pada jalan-Nya.

  4. Sangat menginspirasi Prof, mudah-mudahan saya selaku orang biasa-biasa saja kelak bisa seperti Prof. Thomas Djamaluddin yakni mencapai puncak cita-cita dan karier.

    Dan semoga saya dan kita semua bisa menggenapi kata-kata Prof bahwa tujuan hakiki hidup manusia adalah mencari ridha Allah (mardhatillah). Amin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 210 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: