Akar Masalah Perbedaan Penetapan Muhammadiyah: Kasus Ramadhan 1434/2013


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Maklumat Muhammadiyah 1434-1

Maklumat Muhammadiyah 1434-2

Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1434 adalah hal yang biasa secara astronomis. Dengan hisab kita bisa menghitung untuk waktu kapan pun dan kini software perhitungan semacam itu semakin banyak tersedia, sebagian diantaranya bisa diunduh di internet, misalnya Accurate Time dan Stellarium. Namun, ada masalah yang perlu kita fahami bersama. Awal Ramadhan dipastikan akan beda. Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan jatuh 9 Juli 2013, sedangkan ormas-ormas Islam lain yang menggunakan hisab imkan rukyat (IR, visibilitas hilal) menetapkan 10 Juli 2013. Hasil rukyat dan keputusan sidang itsbat akan diputuskan pada 8 Juli 2013 yang kemungkinan besar menetapkan 10 Juli 2013. Mengapa bisa berbeda?

Akar masalah perbedaan keputusan awal Ramadhan Muhamadiyah dari ormas-ormas Islam lainnya adalah kriteria usang Wujudul Hilal (WH) pra-1970-an. WH + wilayatul hukmi Indonesia hanya ada di Muhammadiyah. ISNA (Islamic Society of North America) menggunakan kalender Ummul Quro (WH di Mekkah) hanya untuk alasan praktis kepastian. Sedangkan Arab Saudi saja sama sekali tidak menggunakan kalender Ummul Quro untuk penentuan waktu ibadah. Sebenarnya, hisab itu bukan hanya wujudul hilal, tetapi ada jugaIR . Dalil IR = dalil rukyat, karena kriteria IR hanyalah kuantifikasi ketampakan hilal untuk hisab. Sama seperti kriteria jadwal shalat pada hisab jadwal shalat yang merupakan kuantifikasi waktu-waktu shalat yang didalilkan pada fenomena fajar, ba’da zawal, panjang bayangan, terbenam matahari, dan hilangnya cahaya syafak. Dalil WH tidak jelas. QS 36:40 sama sekali tidak menjelaskan WH. Bagaimana pun waktu ibadah perlu adanya dalil, tidak bisa seenaknya berdasarkan logika. Secara astronomis, awal bulan adalah sejak ijtimak/konjungsi yang disebut newmoon (bulan baru). Tetapi para ulama bersepakat tidak menjadikannya sebagai awal bulan Islam. WH itu sama sekali tidak berdasar, tidak ada dalil syar’i dan tidak ada landasan astronomisnya. 

Seperti apa sih kondisi bulan-matahari pada 8 Juli 2013? Kita gunakan Stellarium untuk memvisualisasikan posisi bulan dan matahari.

Bulan-matahari 8 Juli 2013

Bulan-matahari 8 Juli 2013-b

Kondisi bulan yang yang terlalu dekat matahari dan terlalu rendah dari ufuk tidak memenuhi kriteria IR dan pasti tidak mungkin dapat dirukyat. Hal ini menjadi sebab utama terjadinya beda penetapan antara Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam lainnya di Indonesia. Jadi penyebabnya BUKAN perbedaan hisab dan rukyat, karena kriteria IR juga adalah hisab.

Mari kita cermati lebih rinci soal WH awal Ramadhan 1434. Kita gunakan Accurate Time untuk memvisualisasikannya.

1434-Ramadhan-Garis tanggal

Garis batas arsir merah dan putih yang melintasi Amerika Utara, Afrika-Utara, Jazirah Arab, India, dan Indonesia adalah garis tanggal WH. Garis batas arsir merah dan putih yang melewati Australia adalah garis Ijtimak qablal ghurub (saat maghrib saat terjadi ijtimak/bulan baru). Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara  sudah memenuhi kriteria WH, tetapi di wilayah lainnya saat maghrib 8 Juli 2013 bulan belum wujud. Hal itu disebutkan dalam butir 3 maklumat Muhammadiyah tersebut di atas. Lalu mengapa Ramadhan 1434 diputuskan (pada butir 4) jatuh pada tanggal 9 Juli 2013? Muhammadiyah menggunakan prinsip wilayatul hukmi, yaitu Indonesia dianggap sebagai satu wilayah hukum, maka wujudulnya hilal di sebagian Indonesia dianggap berlaku untuk seluruh wilayah hukum. Prinisp wilayatul hukmi sebenarnya adalah prinsip rukyat, ketika batas keterlihatan tidak bisa didefinisikan. Ketika menggunakan hisab murni, batas itu nyata bisa dibuat. Semestinya, Muhammadiyah konsisten untuk menjadikan wilayah yang belum wujud hilalnya memulai Ramadhan pada 10 Juli 2013.

Muhammadiyah memang sebenarnya menggunakan prinsip rukyat, hanya tidak diakuinya. Pertama, mereka menggunakan batas waktu maghrib yang berasal dari konsep rukyat. Konsep hisab murni sebenarnya hanya merujuk pada ijtimak/bulan baru. Kedua, mereka menggunakan prinsip wilayatul hukmi yang juga berasal dari konsep rukyat. Ketiga, dalam menghitung posisi digunakan koreksi refraksi yang pada hakikatnya menggambarkan penjalaran cahaya yang diperhitungkan untuk rukyat. Jadi, sebenarnya selangkah lagi Muhammadiyah bisa bergabung dengan ormas-ormas Islam lainnya untuk menerima kriteria IR, yang dalam konsepnya ketiga hal tersebut menjadi bagian utamanya. Kalau itu dilakukan, persatuan ummat bisa terjaga dan tentu saja konsep Hisab dan Rukyat yang setara bisa diterapkan secar konsisten.

About these ads

30 Tanggapan

  1. Reblogged this on Naneyan's Blog.

  2. terus beri pencerahan bangsa ini pak…..

  3. semoga mencerahkan untuk persatuan ummat

  4. izin unduhannya

  5. matursuwun kagem pencerahannya prof…barokalloh

  6. Kemungkinan untuk 29 jumlah hari bulan ramadan kali ini ada ngga’?

  7. Apakah kemungkinan mengkompromikan keduanya (antara penganut 0 derajat dg 2 derajat dg mensyaratkan hilal meskipun tidak sampai 2 derajat tp semua wilayah d seluruh permukaan bumi telah wujud hilal (walau di bawah dua derajat

    • klo tetep kukuh dgn 0° kyknya susah.wong kalo 0° kan hilal(proyeksi bulan /bentuk bulan sabit yang terlihat mata di bumi) tidak akan terlihat.sedangkan batas minimal supaya terlihat adalah 2°…demikian yg saya pahami

  8. mengutip artikel Pak Thomas diatas :

    “Secara astronomis, awal bulan adalah sejak ijtimak/konjungsi yang disebut newmoon (bulan baru). Tetapi para ulama bersepakat tidak menjadikannya sebagai awal bulan Islam”

    saya merasa statemen diatas sebagi sesuatu yang ambigu, terus penentuan kalender, berdasarkan ilmu astronomi atau ilmu yang lain ya Pak Thomas…?

    • Penentuan awal bulan qamariyah berdasarkan dalil syar’i (hukum Islam) yang perhitungannya (hisab) dan pengamatannya (rukyat) dibantu ilmu astronomi. Dalil syar’i mendasarkan awal bulan pada keterlihatan hilal, baik secara perhitungan (hisab) maupun pengamatan (rukyat). Setelah terjadi ijtimak/new moon tidak setra merta masuk awal bulan. Misalnya, ijtimak akhir Sya’ban terjadi pada 8 Juli 2013 pukul 14:14 WIB, tidak serta merta saat itu masuk awal Ramadhan. Hilal baru mungkin dirukyat pada saat maghrib 9 Juli, maka awal Ramadhan bermula dari saat maghrib 9 Juli tersebut dan puasa pada 10 Juli.

      • Yth. Pak Thomas :

        Terjemah Surat yasin: 39. “dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua”

        menurut saya sangat sesuai dengan kriteria new moon secara astronomis, besarnya kecilnya newmoon ( tandan tua ) pada tiap bulan tentu saja tidak akan pernah sama tergantung dari tinggi – rendahnya bulan setelah terjadi ijtimak/konjungsi, tapi bisa diketahui melalui perhitungan hisab.

        Melihat hilal secara langsung adalah metode yang digunakan oleh Rasulullah SAW karena kondisi masyarakat yang ummi yang tidak bisa melakukan perhitungan hisab, sesuai hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, perintah tersebut ber – illat ( syarat ) karena kondisi masyarakat.

        Hisab adalah melihat hilal dengan sarana ilmu yang disebut rukyatul ilmi sedangkan mengamati hilal langsung disebut dengan rukyatul ‘ain.

        bagaimana pendapat Pak Thomas…?

      • Hisab berupaya melihat hilal dengan ilmu. Tentunya, “ilmu” dimaknai dengan data-data rukyat sebelumnya yang kemudian oleh astronom dirumuskan sebagai kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Bulan sabit itu terbagi dua, ada bulan sabit tua (Kal urjunil qadiim, seperti tandan tua) di pagi hari, itu pertanda akhir bulan. Ada bulan sabit sesaat setalah maghrib, itu pertanad awal bulan. Dengan kriteria imkan rukyat, rukyat bila ilmi (hisab) akan sama hasilnya dengan rukyat bil ‘ain (dengan mata).

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Metode hisab (rukyatul ilmi) tidak hanya satu macam krn ada banyak pihak yg juga memiliki “ilmi” dan mampu melakukan rukyatul ilmi (hisab). Bahkan ada pihak2 yg bukan hanya bisa melakukan hisab lokal tetapi juga dapat melakukan hisab global.
        Karena banyaknya metode rukyatul ilmi /hisab, maka hasil perhitungan dg metode2 hisab yg ada juga tidak hanya satu macam.
        Contohnya dalam menentukan 1 Ramadan 1434H yg lalu, ada metode rukyatul ilmi yang menetapkan 1 Ramadan 1434H jatuh pada hari Selasa, 9 Juli 2013 dan ada rukyatul ilmi yang menetapkan 1 Ramadan 1434H jatuh pada hari Rabu, 10 Juli 2013.
        Dengan demikian sangatlah perlu untuk dilakukan rukyatul ain (melihat dengan mata kepala sendiri dibantu alat optik) untuk membuktikan metode hisab mana yang benar.
        Dan ternyata setelah dilakukan rukyatul ain, seluruh wilayah Indonesia pd hari Senin, 8 Juli 2013 (hari ke 29 bulan Syakban 1434H) saat magrib hilal belum terlihat, sehingga bilangan bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari dan akhir bulan Syakban 1434H jatuh pada hari Selasa, 9 Juli 2013.
        Karena itu oleh Pemerintah diputuskan bahwa 1Ramadan 1434H jatuh pada hari Rabu, 10 Juli 2013.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

  9. “Kondisi bulan yang yang terlalu dekat matahari dan terlalu rendah dari ufuk tidak memenuhi kriteria IR dan pasti tidak mungkin dapat dirukyat”

    Tanya Pak Prof :
    1. Kriteria Imkan Rukyat berpa derajat?
    2. Profesor tetap lebih cenderung menggunakan rukyat?
    3. Kalender Imkan Rukyat silahkan diterbitkan ya Pak…?

    terimakasih Prof….

    • 1. Kriteria IR yang saya usulkan, silakan baca (+download e-booklet) di http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/19/astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat/
      2. TIDAK, saya pada posisi menghargai hisab dan rukyat secara setara. Titik temu rukyat dan hisab adalah hisab dengan kriteria imkan rukyat. Kriteria imkan rukyat dibangun dari data rukyat jangka panjang.
      3. Kalender berbasis IR dengan kriteria “2-3-8″ diterbitkan Kementerian Agama sebagai “Taqwim Standar Indonesia”. Kalender dengan kritria IR 2 derajat diterbitkan oleh PBNU. Kalender dengan kriteria IR yang saya usulkan diterbitkan oleh PERSIS.

      • kalo sudah terbit ngapain repot-repot sidang itsbat?? rukyat segala, lihat kalender aja versi IR kan beres, kasihan tu yang ada di ujung timur indonesia. masak jam 9 malam baru tahu kalo besok hari raya itupun kalo betul besok hari raya. kalo salah mereka harus tarawih jam 9 malam demi menunggu istbat. kalo betul juga kasihan mereka memasak untuk lebaran besok terlalu malam hanya karena menunggu istbat.
        terlalu menghamburkan uang rakyat kalo hanya sidang istbat.

      • Itsbat itu diperlukan oleh pengamal rukyat untuk menetapkan laporan rukyat. Kementerian Agama mewadahi secara setara pengamal hisab dan pengamal rukyat. Bagi pengamal hisab, tidak perlu menunggu hasil itsbat, cukup lihat kalender. Tetapi karena kriterianya masih berbeda-beda, maka ada juga potensi perbedaan antarkalender. Oleh karenanya pada sidang itsbat sekaligus dibahas perbedaan kelnedr tersebut. Nanti, kalau kriteria sudah sama dan hasil hisab di kalender kompatibel dengan haril rukyat, sidang itsbta tidak diperlukan lagi. Cukup itsbat oleh Menteri Agama didampingi ulama dan pakar flak/astronomi.

  10. Ass wr wb.
    Akar permasalahannya sudah jelas sekali, yaitu bahwa berdasarkan Hadist Nabi Muhamad SAW yg kita IMAN-i, awal bulan qomariah ditandai dg adanya penampakan hilal, sehingga yg menjadi obyek hisab dalam melakukan hisab adalah penampakan hilal, bukan yang lain.
    Metode2 hisab dg obyek penampakan hilal akan menghasilkan perkiraan ilmiah berupa kapan saat terlihatnya hilal yg dpt dipedomani sebagai awal bulan qomariah pada saat langit tertutup awan.
    Namun apabila langit tidak tertutup awan, maka perkiraan hasil hisab tersebut harus dipastikan dan diuji melalui rukyatul hilal apakah perkiraan terlihatnya hilal terbukti benar. Jika benar maka dapat dikatakan bahwa metode hisab tersebut memang akurat, namun jika tidak benar maka yg ditetapkan sebagai awal bulan qomariah adalah hasil rukyatul hilal.
    Dengan demikian kalau ada metode hisab yg memilih obyek hisab selain penampakan hilal bahkan cenderung anti kepada rukyatul hilal, berarti metode hisab tersebut mengabaikan salah satu Hadist Nabi Muhamad SAW.
    Wass wr wb.

    • Assalamualaikum wr wb.

      Yth. Pk Bambang Supriadi

      Dengan ilmu dan teknologi, wujudnya hilal bisa di visualkan, seperti yang ada dalam blog nya Pak Thomas ini. Apakah hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pedoman terlihatnya hilal, sehingga masih berpedoman hilal harus dilihat dengan mata telanjang?terimakasih.

    • Assalamu’alaikum wr.wb.

      Yth. Pak Zudi.
      Seandainya Nabi Muhamad SAW masih ada di zaman kita ini, maka pertanyaan pak Zudi akan saya sampaikan kepada beliau, namun demikian sebagai seorang muslim haruslah ber-IMAN pd enam perkara termasuk haqqulyaqin pd Hadist Nabi Muhamad SAW.

      Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.653 :
      Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah ketika menyebut Ramadan bersabda : Jangan puasa sehingga kalian melihat hilal (bulan sabit) dan jangan berhari raya sehingga melihat hilal, maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah.

      Pemahaman saya terhadap Hadist diatas adalah bahwa yg dimaksud “melihat” adalah dengan mata termasuk menggunakan bantuan alat optik (rukyatul ain), sedangkan “perkirakanlah” adalah melihat dengan ilmu dan teknologi (hisab = rukyatul ilmi).
      Jadi rukyatyul ain digunakan pada saat “tidak tertutup awan” sedangkan rukyatul ilmi digunakan pada saat “tertutup awan” sehingga penetapan awal bulan qomariah yg menggunakan rukyatul ilmi pada saat tidak tertutup awan harus divalidasi dg rukyatul ain.

      Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.656 :
      Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berhari rayalah kalian karena melihat hilal, maka jika tersembunyi daripadamu maka cukupkan bilangan Syakban tiga puluh hari.

      Pemahaman saya terhadap Hadist diatas adalah bahwa kata “tersembunyi” mengandung arti “sudah ada hilal” tetapi diwilayah kita pada saat magrib “tidak bisa terlihat” oleh mata meskipun dg bantuan alat optik.
      Karena bumi ini bulat dan berrotasi pada sumbunya, maka pada saat “sudah ada hilal” wilayah2 dimuka bumi tidak otomatis serentak melihat hilal melainkan akan “antri” dimulai dari wilayah yang pertama kali melihat hilal pada saat magrib (yaitu wilayah ILDL = Garis tanggal Qomariah) berturut-turut disusul oleh wilayah2 disebelah barat ILDL saat magrib.
      Contohnya adalah dalam menerapkan awal bulan kalender gregorian yg berlaku sekarang, saat Indonesia sudah berada pada awal bulan (misalnya 1 Juli 2013) pagi hari, karena harus “antri” maka Amerika masih berada pada akhir bulan sebelumya (30 Juni 2013) sore hari.

      Oleh karena sudah banyak rukyatul ilmi yang cukup akurat dalam memperkirakan awal bulan qomariah berdasarkan “saat terlihatnya hilal” (berlandaskan Hadis Nabi Muhamad SAW) baik tingkat lokal (nasional) maupun global (internasional), maka rukyatul ilmi yang memperkirakan awal bulan qomariah berdasarkan “saat terbentuknya hilal” (mengabaikan Hadis Nabi Muhamad SAW) hanya akan menghasilkan kalender yg “berbeda”.

      Wassalamu’alaikum wr.wb.

  11. Yth. Pak Bambang Supriadi

    Terimakasih untuk sharingnya…

    Salam,
    Zudi

  12. Yth. Pak Bambang Supriadi

    Ada ahli fikih yang berpendapat bahwa melihat hilal ( saat itu ) adalah perintah ber – illat ( bersyarat ) dikarenakan kondisi ummat saat itu tidak bisa membaca ( ummi ) dan tidak bisa menghitung ( hisap ), hadits dari Ibnu Umar. Sedangkan saat ini ummat Islam sudah banyak yang menguasai ilmu falak dan astronomi, dengan penguasaaan ilmu dan teknologi tersebut menentukan perhitungan waktu sholat,awal bulan dan kalender tentu lebih mudah dan memberi kepastian jika dibandingkan dengan rukyatul ‘ain. Yang kedua, ada ahli fikih yang berpendapat bahwa rukyatul ‘ain adalah metode ( wasilah ) bukan ritual ibadah ( ta’abud ), sehingga dengan penguasaan ilmu – ilmu tersebut rukyatul ilmi relevan untuk dijadikan wasilah dalam menentukan waktu – waktu sholat, awal bulan dan kalender hal ini sesuai dengan semangat dari surat yunus ; ayat 5-6 :

    “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[1]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. ( 5 ) Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa. ( 6 )”

    Sehingga rukyatul ilmi tidak berarti tidak mengimani hadits – hadits Nabi tentang wasilah menentukan awal bulan.

    Bagaimana pendapat Pak Agus? terimakasih.

  13. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Yth. Pak Zudi,

    Sayang sekali pak Zudi tidak memberikan informasi tentang jumlah ahli fikih yg berpendapat seperti yg bapak uraikan, sehingga kita tidak tahu seberapa signifikan jumlahnya di masyarakat.

    Terlepas dari itu, Hadist dg perawi Ibnu Umar yang mengatakan kondisi masyarakat saat itu adalah “ummi”, bukan dalam konteks melihat hilal, melainkan dalam konteks menentukan jumlah hari dalam sebulan dimana bisa 29 hari dan bisa juga 30 hari.

    Hadist tsb adalah :

    Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.655 :
    Ibnu Umar r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Kami umat yang ummi tidak dapat menulis dan menghitung (menghisab), bulan itu begini dan begini, yakni ada kalanya dua puluh sembilan dan ada kalanya tiga puluh.

    Disamping itu, saya memahaminya dari sisi lain bahwa bahasa yang dipergunakan Nabi Muhamad SAW dlm hadist tersebut adalah dg gaya bahasa seorang yg sangat rendah hati yaitu tidak menyombongkan kepandaian hisab yg beliau miliki.

    Selanjutnya mengenai Surah Yunus ayat 5-6, seperti juga surah lainnya dalam Al Qur’an yg berkaitan dg topik pembicaraan kita yaitu Surah Al Baqarah ayat 185 dan 189, saya memahaminya sebagai “peraturan umum” yang belum merinci sampai dengan “petunjuk teknis” nya, sehingga apabila ditafsirkan maka dimungkinkan akan terdapat multi tafsir.
    Surah Yunus ayat 5-6 barulah sebatas isyarat mengenai ilmu astronomi secara umum untuk menginspirasi orang2 berakal agar medalaminya, sedangkan Surah Al Baqarah ayat 185 merupakan pengertian umum mengenai “hilal”, dan Surah Al Baqarah ayat 186 mengenai perintah menunaikan puasa pd siang hari bulan Ramadan,

    Karena itu untuk mempersempit bahasan mengenai “awal bulan qomariah”, saya merujuk pada Hadist Nabi Muhamad SAW sebagai petunjuk teknisnya, yaitu H.R.Bukhari,Muslim no.653, 654,655 dan 656.

    Dengan demikian, karena dalam H.R.Bukhari,Muslim no.653 sudah jelas dikatakan bahwa hasil rukyatul ilmi (hisab = perkiraan) baru dapat dipedomani apabila langit tertutup awan, maka pada saat langit tidak tertutup awan yang dipedomani adalah hasil rukyatul ain, sehingga penggunaan rukyatul ilmi untuk menentukan awal bulan qomariah tanpa memperdulikan rukyatul ain sama artinya dengan tidak mengIMANi Hadis tersebut.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    • Assalamu’alaikum wr.wb.

      Maaf ada yg perlu diralat dalam postingan diatas, yaitu :

      TERTULIS : sedangkan Surah Al Baqarah ayat 185 merupakan pengertian umum mengenai “hilal”, dan Surah Al Baqarah ayat 189 mengenai perintah menunaikan puasa pd siang hari bulan Ramadan,

      SEHARUSNYA : sedangkan Surah Al Baqarah ayat 185 mengenai perintah menunaikan puasa pd siang hari bulan Ramadan, dan Surah Al Baqarah ayat 189 merupakan pengertian umum mengenai “hilal”,

      Wassalamu’alaikum wr.wb.

  14. Pak Djamaludin, saya dapat email dari teman bahwa pada tanggal 8 Juli 2013, pk. 07:14 GMT yang lalu ada yang berhasil merukyat dan mengabadikan hilal berikut link-nya http://legault.perso.sfr.fr/new_moon_2013july8.html

  15. Ass. kalau Ummat Islam tidak berani menentukan hisab sebagai metode penghitungan bulan, maka selamanya kalender Masehi akan menghiasi rumah-rumah dan sekolah-sekolah kita. Lalu kapan kita punya kalender yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. tergantung gagah di rumah, sekolah dan kantor-kantor kita. Katanya ingin mengikuti Sunnah Rasul dan Bangga menjadi Ummatnya.

  16. saya pernah baca artikel soal penentuan Ramadhan dan Syawal, berikut linknya pak… mohon tanggapan…

    “Mengapa Muhammadiyah memakai sistem hisab ?”

    Dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik. Prinsip yang selalu dianut oleh persyarikatan Muhammadiyah adalah setia mengikuti perkembangan zaman kemajuan sains dan teknologi yang menyelaraskan dengan hukum-hukum Islam. Inilah yang dikenal sebagai tarjih dan pemikiran. Apalagi masalah keumatan khususnya dalam penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal, para ahli hisab Muhammadiyah yang tergabung dalam Majelis Tarjih dan Tajdid telah memberikan pendapatnya kemudian dituangkan dalam surat keputusan pimpinan pusat Muhammadiyah tentang penetapan awal Ramadhan dan Syawal. Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau. https://www.facebook.com/notes/muhammad-nursam/apa-alasan-muhammadiyah-menggunakan-hisab/10151034646991941

    • Ungkapan dengan “rukyat tidak bisa membuat kalender” adalah kesalahan umum di Muhammadiyah, karena memang rukyat bukan untuk buat kalender. Kalender dibuat dengan hisab. Para pengamal rukyat pun (seperti di NU) mahir soal hisab untuk buat kalender. Rukyat hanya untuk menetapkan awal dan akhir bulan ibadah. Penetapan itulah yang dilakukan dengan itsbat pemerintah.
      Tentang hari Arafah, jumhur ulama di Indonesia berpendapat hari Arafah hanyalah penamaan hari ke-9 Dzulhijjah, seprti halnya hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah). Oleh karenanya hari Arafah tidak harus sama harinya dengan wukuf di Arafah yang di Mekkah jatuh pada 9 dzulhijjah.

  17. Faham wahabi selalu kontroversi, terlalau mengikuti nafsu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: