Khutbah Idul Adha 1421/2001 (HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA)


Khutbah Idul Adha 1421/2001, Masjid Nurul Jamil, Dago, Bandung

(Disampaikan oleh T. Djamaluddin, LAPAN Bandung)

(“Thawaf”, Dari internet)

HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA

(Teks Arab, tidak tertulis)

Katakanlah,
“Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh, memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya dalam empat masa (sejak penciptaan bumi). (Itulah jawaban) bagi orang‑orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit yang berupa kabut. Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q. S. 41:9-12)

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Pagi ini di hari raya qurban – Idul Adha – ketika jutaan manusia sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, ketika jutaan ternak siap diqurbankan, sejenak kita merenungi kembali posisi kita di hadapan Allah dan sesama manusia. Ibadah Haji mengingatkan sejarah manusia sejak penciptaan alam semesta hingga reformasi logika tauhid manusiawi yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Ibadah Qurban mengingatkan perjuangan hidup manusia dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan manifestasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Walaupun tidak dijelaskan secara tegas di dalam Al-Quran dan Hadits tentang makna setiap kegiatan ibadah haji, kita coba mencari maknanya yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang direkonstruksikan dalam ibadah haji tersebut. Pertama, makna asasi tentang ketaatan alam semesta kepada Allah sejak penciptaannya yang disimbolkan dengan thawaf, mengelilingi kab’bah. Kedua, makna dari kisah ketauhidan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang direpresentasikan dengan sai, melontar jumrah, dan qurban. Ketiga, makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf.

Makna yang pertama dapat ditarik dari fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti  ribuan asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum Allah.

Makhluk langit (bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya) ‘disempurnakan’ (fasawwahaa) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya .

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

‘Mengelilingi sesuatu’ disebut thawaf. Alam berthawaf sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani, manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada Allah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Dengan merenungi ketaatan alam, thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun, manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan  makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS 17:70).

Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. (QS 95:4).

Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS 70:19).

Manusia juga lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia  dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28).

Juga bersifat tergesa-gesa.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.  (QS 17:11).

Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat (QS 33:72). Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)  (QS 95:5).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan duniawi yang ditonjolkan.

 

Makna yang kedua, kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang rasionalitasnya dalam bertauhid dan ketaatannya yang luar biasa kepada Allah patut menjadi teladan. Perbuatannya banyak direkonstruksikan para jemaah haji, seperti sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwah, melontar jumrah, dan berqurban. Sa’i mengingatkan keteguhan, keuletan, dan sikap tawakal Siti Hajar dalam memelihara Ismail di tengah lingkungan alam yang sangat tandus. Melontar jumrah mengingatkan perlawanan gigih keluarga Ibrahim AS melawan bujuk rayu syaithan. Qurban mengingatkan ketaatan yang luar biasa antara ayah dan anak, Ibrahim AS dan Ismail AS, yang diuji dengan perintah Allah untuk mengurbankan Ismail, yang akhirnya digantikan Allah dengan seekor kambing besar.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (QS 16: 120).

Khatib tidak akan berkisah rinci tentang sejarah asal mula sa’i, melontar jumrah, dan berqurban. Tetapi menengok dasar tauhid yang melandasi segala aspek kehidupan Nabi Ibrahim AS. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim tidak bertaqlid pada tradisi, tidak larut pada kesesatan lingkungannya, malah membuktikan kebenaran tauhid secara rasional kepada ummatnya. Mari kita hayati suasana batin saat itu dalam pembuktian ekistensi Tuhan yang hakiki dengan mengamati langit. Seusai maghrib petang nanti bila langit cerah tengoklah langit barat.  Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang sangat cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Itulah bintang kejora. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bayangkan diri kita bersama Nabi Ibrahim AS yang menghadapi kaumnya yang tak bertauhid.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia  berkata: “Inilah Tuhanku”,  tetapi
tatkala bintang itu tenggelam  dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (6:76).

Sungguh cemerlang bintang kejora di ufuk barat. Bintang sering jadi penunjuk arah. Warnanya, konfigurasinya, atau kecemerlangannya sering diasosiasikan dengan dewa-dewa tertentu. Bintang yang paling cemerlang sering didewakan pada waktu itu. Namun, bintang tidak selamanya tampak. Sebentar juga terbenam. Tak beralasan untuk menyembahnya.

Beberapa hari mendatang kita akan melihat purnama terbit di ufuk timur. Ini lebih terang. Malam yang biasanya gelap pun menjadi terang.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS 6:77)

Bulan yang cemerlang pun tidak bertahan lama. Ada saatnya terbenam. Kemudian pada pagi hari tampaklah matahari yang jauh lebih cemerlang dan tampak sangat besar di kaki langit.

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas  diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS 6:78).

Mungkin kita tidak merasakan betapa beratnya menjelaskan ketauhidan pada zaman Nabi Ibrahim AS, karena kita sudah diberi hidayah Allah atau terlahir dari keluarga Muslim yang telah diajarkan ketauhidan. Namun, kita bisa merasakan betapa susahnya kita menjelaskan dan melaksanakan pada diri dan keluarga akan makna ketauhidan yang sesungguhnya. Tak jarang perbuatan berbau syirik masih kita jumpai di tengah masyakarat, mungkin di dalam diri dan keluarga kita sendiri, sadar atau tak sadar. Berapa banyak orang yang masih percaya pada benda-benda atau tempat-tempat yang dikeramatkan. Atau kita berbuat riya, pamer dalam beribadah. Atau yang paling tersamar bentuk kemusyrikan yang mungkin sering kita lakukan tanpa disadari adalah keraguan akan kemurahan Allah ketika kita berdoa, ketidakyakinan diri bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Padahal setiap shalat kita baca ungkapan Nabi Ibrahim AS:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 6:79)

Tidak yakin akan kekuasaan Allah, termasuk syirik, menyekutukan Allah. Menurut para ulama, ada tiga klasifikasi syirik itu. Ada syirik akbar (syirik berat), seperti secara nyata menganggap Allah lebih dari satu atau menganggap ada kekuatan lain selain Allah atau sekadar menyamakan kecintaan (mahabbah) kepada manusia atau benda seperti kecintaannya kepada Allah. Ada syirik ashghar (syirik kecil), yaitu berbuat riya. Amal ibadahnya tidak ikhlas semata-mata karena Allah, tetapi ada terselip niat ingin dipuji orang lain. Bila bershadaqah, ingin terlihat dan dianggap sebagai orang dermawan. Bila shalat dan beribadah lainnya ingin orang lain mengetahuinya dan memujinya sebagai orang shalih. Dan seterusnya. Ada juga syirik khafiy (tersamar), semisal ragu dalam berdoa tersebut tadi. Karena tersamarnya Rasulullah mengibaratkannya sebagai “semut hitam merayap di batu hitam pada malam yang gelap gulita”. Sangat tersamar sehingga kita tidak menyadarinya bahwa itu salah satu bentuk syirik.

Syirik bermula dari sikap dan perasaan merendahkan peran Allah. Bila peran Allah saja direndahkan, sangat mungkin peran sesama manusia pun dilecehkan. Sikap angkuh atau arogan, merasa tiada tandingan, sangat dekat dengan perilaku syirik. Fir’aun dengan kekuasaanya yang tak terbatas demikian angkuhnya hingga mengklaim dirinya tuhan. Kisah pembuktian tentang Tuhan yang hakiki oleh Ibrahim AS memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu.

Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi. Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.

Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Kolusi dan nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang. Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan “fenomena bintang kejora” adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Makna ketiga adalah makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf (berdiam) di Arafah. Dengan berbalutkan pakaian ihram yang sama, tak tampak perbedaan strata sosial, semua jamaah haji berkumpul di Arafah. Diharapkan ritual puncak ibadah haji ini melahirkan sikap tawadhu, merendahkan diri di hadapkan Allah dan menghilangkan sikap diskriminatif terhadap sesama manusia. Bayangkan kita berada di dataran yang luas, berkubahkan langit biru, dan matahari terik di atas kepala. Ini hanya miniatur padang mahsyar di yaumul akhir.

Pada pagi yang suci ini, khatib mengajak untuk menghayati makna tawadhu’ dan persamaan dalam suasana seperti itu. Berada di padang luas berkubahkan langit akan terasa kecil di tengah keluasan alam, apalagi di hadapan Allah pencipta alam raya ini. Coba kita renungkan sejenak relativitas persepsi  manusia yang sering membawa keangkuhan dan merendahkan sesama. Manusia kadang terkecoh dengan persepsinya sendiri. Matahari yang terik di atas kepala itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan langit yang sangat luas. Padahal kita sering menganggapnya besar ketika berada di kaki langit pada pagi atau sore hari. Ketika itu matahari dibandingkan dengan pepohonan atau gedung di kejauhan yang tampak kecil.

Manusia mengukur sesuatu hanya berdasarkan perbandingan. Kita mengenal besar, karena adanya sikecil. Kita merasakan panas karena pernah merasakan yang lebih dingin. Kita menganggapnya kaya karena melihat yang miskin atau sebaliknya kita merasa miskin karena dihadapan kita ada yang lebih kaya. Kita merasakan pandai ketika kita berbicara dihadapan yang orang belum tahu. Kita merasakan kuat karena ada yang lebih lemah. Lalu, kalau diseragamkan dengan pakaian ihram yang sama, masihkan memperbandingkan status sosial atau derajat duniawi lainnya. Karena kelak, ketika maut menjemput, tak satu pun benda duniawi yang menyertai ke liang lahad selain kaif kafan, mirip dengan kain ihram tersebut.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS 49:11)

Sebagai penutup, khatib sampaikan hal pokok yang ingin disampaikan dalam khutbah ini. Idul Adha yang ditandai dengan ibadah haji dan qurban hendaknya menjadi momentum terbaik bagi kita semua, yang pernah melaksanakannya, yang merencanakan pada tahun mendatang, atau sekadar menyaksikannya, untuk mereposisikan diri di hadapan Allah dan sesama manusia sesuai dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga kita mampu meningkatkan sikap tawadlu di hadapan-Nya, menyempurnakan ketauhidan dengan sesungguhnya, dan meningkatkan penghargaan terhadap sesama tanpa sikap arogan karena pada dasarnya setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan yang bersifat relatif. Terakhir, mari kita akhiri khutbah ini dengan doa:

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat  kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS 7:23)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami,  dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang  kafir.” (QS 2:286)

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri/suami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpim bagi orang-orang yang bertakwa. (QS25:74)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri  petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi  (karunia)”.(QS 3:8)

“Ya Tuhan kami,  berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS 2:201).

About these ads

3 Tanggapan

  1. Alhamdulillah

  2. Prof, apakah arah tawaf haji sama dengan arah tawaf benda alam semesta (makro dan mikro)?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 206 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: