Musyawarah Nasional Hisab Rukyat 2012 Membuka Jalan Penyatuan Hari Raya dan Kalender Islam di Indonesia


Alhamdulillah, Musyawarah Nasional Hisab Rukyat (Penentuan Awal Bulan Qamariyah) Rabu 25 April 2012 di Kementerian Agama berhasil merumuskan kesepakatan untuk mewujudkan kalender Islam tunggal dengan kriteria bersama yang disepakati. Musyawarah yang dihadiri 60 perwakilan ormas Islam, pondok pesantren seluruh Indonesia, dan para pakar hisab rukyat dari instansi terkait dibuka oleh Menteri Agama (H. Suryadharma Ali) dan ditutup oleh Wakil Menteri Agama (Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA).  Pembicara adalah MUI, perwakilan ormas Islam (NU dan Muhamadiyah), dan pakar astronomi (ITB dan Planetarium). MUI diwakili KH. Ma’ruf Amin. NU diwakili oleh KH. A. Ghozali Masyroeri (Lajnah Falakiyah PBNU) dan KH Saifudin Amsir (Rois Syuriah PBNU). Muhammadiyah diwakili DR. H.M. Ma’rifat Iman KH, MAg (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah) dan Dr. Abdul Fattah Wibisono (Ketua PP Muhammadiyah).  Ini menunjukkan keseriusan dan komitmen bersama untuk menyelesaikan perbedaan dan mewujudkan persatuan ummat. Diskusi berlangsung konstruktif, bukan mencari perbedaan, tetapi mencari titik temu. NU yang cenderung fleksibel untuk berubah mengajak untuk belajar bersama meningkatkan kemampuan hisab rukyat. Muhammadiyah pun menawarkan opsi untuk merumuskan kriteria penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal yang disepakati seperti yang diminta dalam fatwa MUI tahun 2004. Semangat untuk bersatu tampak jelas. Langkah kongkret yang segera diwujudkan adalah membentuk tim kecil kajian perumusan kriteria bersama itu, sekaligus sebagai tindaklanjut kesepakatan NU-Muhammadiyah tahun 2007 lalu, dengan tim kajian yang lebih luas melibatkan pakar hisab-rukyat dari ormas dan instansi lainnya. Mari kita dorong untuk mewujudkannya.

Berikut ini rumusan hasil Munas Hisab Rukyat 25 April 2012:

HASIL MUSYAWARAH NASIONAL HISAB RUKYAT

PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

Musyawarah Nasional Hisab dan Rukyat  yang diselenggarakan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerjasama dengan Dirjen Bimas Islam bertempat di Operation Room Lantai 3 Gedung Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta, pada hari Rabu tanggal 25 April 2012 M / 3 Jumadal Akhirah 1433 H, yang dihadiri oleh ulama, pakar, perwakilan pemerintah (Kementerian Agama)  dan perwakilan ormas keagamaan menghasilkan rumusan sebagai berikut :

  1. Ada kesadaran bahwa keseragaman takwim Islam Indonesia (untuk penentuan awal bulan Qamariyah selain awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah)  adalah sebuah kebutuhan bersama yang perwujudannya membutuhkan proses untuk mendekatkan pandangan dan metode yang bisa disepakati bersama.
  2. Untuk menuju kesatuan penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah dibutuhkan 3 prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1) pemberian dan pengakuan otoritas kepada lembaga tertentu (MUI sejauh ini memberikan otoritas tersebut kepada Kementerian Agama RI); 2) adanya kriteria yang disepakati; dan 3) adanya wilayah pemberlakuan hukum;
  3. Sejauh ini belum ada kesepakatan butir kedua, yaitu mengenai kriteria awal bulan qomariyah. Untuk menuju ke sana, pihak-pihak yang hadir dalam forum setuju untuk membentuk tim kecil perumus kriteria yang terdiri dari perwakilan ahli hisab rukyat ormas dan instansi terkait, dengan difasilitasi oleh Kementerian Agama dan supervisi pimpinan ormas.
  4. Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, Munas ini mengamanatkan langkah-langkah konkrit sebagai berikut:
    • Merevitalisasi badan yang selama ini menangani hisab dan rukyat (BHR) agar lebih legitimated sehingga keputusannya mempunyai daya ikat kepada ormas yang diwakilinya.
    • Melakukan tindak lanjut kajian secara intensif untuk melakukan upaya pendekatan di wilayah pandangan dan metode sehingga tercapai satu kriteria bersama  dengan melibatkan pakar dan fuqoha.
    • Melakukan penelitian observasi hilal secara kontinyu untuk kepentingan kriteria penetapan awal bulan qomariyah.
    • Mengadakan musyawarah bersama secara intensif untuk menetapkan Takwim secara musyawarah mufakat.
  5. Selama kesatuan takwim itu belum tercapai, semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk menjaga kemaslahatan umat dengan mengedepankan toleransi.
  6. Kepada perwakilan-perwakilan ormas diminta dapat membawa pesan upaya penyatuan Takwim Islam Indonesia ini dalam forum pengambilan keputusan hukum tertinggi di masing-masing ormas.
  7. Perlu memperbanyak frekuensi dialog/silaturahmi antar pimpinan/tokoh ormas yang dapat difasilitasi Kementerian Agama.
  8. Perlu melakukan kaderisasi bersama antar ormas untuk mendalami kompetensi Astronomi.
  9. Membuat kalender Islam tunggal yang disepakati antar ormas Islam.

Jakarta, 25 April 2012

 

Daftar Peserta Munas:

 

  • MUI
  • PBNU
  • PP Muhamadiyyah
  • DMI Pusat
  • Presidium ICMI Pusat
  • FPI
  • PP Persis
  • PB Al-Irsyad
  • PP. Al Khoiriyah Al-Mansyuriah
  • PB Al Wasliyah
  • PB Mathlaul Anwar
  • PB Persatuan Umat Islam (PUI)
  • PB DDII
  • PP PERTI
  • PP Syarikat Islam
  • PP Al Khairat Palu
  • DPP LDII
  • Wahdah Islamiyah
  • Nahdlatul Wathon
  • PP DDI Mangkoso – Kab. Barru
  • PP Darussalam – Martapura
  • PP. Hidayatullah Balikpapan
  • PP Rhoudhotul Ulum
  • PP Siqoyatul Rahmah Sukabumi
  • PP Cipasung Tasikmalaya
  • PP Buntet Cirebon
  • PP Al Munawwir, Krapyak
  • PP Ihya Ulumuddin Cilacap
  • PP  Mranggen Demak
  • PP Al-Anwar Sarang
  • PP API Tegalrejo – Magelang
  • Pondok Darusallam Gontor

 

  • PP Al Aziziyah – Denanyar Jombang
  • PP Salafiyah Syafiiyah Asem Bagus – Situbondo
  • PP Lirboyo
  • PP. Sidogiri
  • PP Al Husiniyah – Cakung
  • PP As Syafiiyah
  • PP As Shidiqiyah
  • PP Al-Khairiyah Citangkil Cilegon Bntn
  • PP Darunajah
  • PP Al Jauharotunnaqiyyah, Cibeber
  • Himpunan Ilmuwan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI)
  • Institut Ilmu al-Quran/IIQ
  • IAIN Sunan Ampel
  • IAIN Walisongo Semarang
  • BMKG
  • MIUMI
  • UIN Syahid Jakarta
  • Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Jakarta
  • Kemenko Kesra
  • Ditjen Kesbangpol Kemdagri
  • Kemenkominfo
  • Bakosurtanal/ BIG
  • LAPAN
  • Bosscha ITB
  • Planetarium dan Observatorium Jkt
  • Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an
  • Biro Hukum dan KLN Kemenag
  • Badan Litbang dan Diklat
About these ads

28 Tanggapan

  1. Sungguh menyenangkan membaca berita ini. tapi, bisa minta file asli PDF ga, pak? Biar pembaca lebih yakin pak. Biar bisa kami download, trus nanti ditunjukkan kepada para jamaah pengajian di tempat sy.. Mereka pasti senang, mengingat ancaman perbedaan awal ramadhan tahun depan dah makin dekat..

  2. terima kasih infonya, saya bergembira bahwa terjadi pertemuan itu, bahwa Pak Djamal (LAPAN) bisa memberikan kontribusi positif bagi kepentingan bangsa Indonesia, khusnya ummat Islam

  3. Semoga saja membawa kemaslahatan bagi ummat

  4. terimaksih prof atas infonya ,,

    semoga perbedaan tidak lagi menjadi penghalang umat islam untuk bersatu ,, trimaksih juga ats kontribusinya prof dlm mncerahkan pikiran ormas-ormas islam..

  5. Semoga sebagian besar ormas tetap istiqomah pada ajaran dan ajakan Prof. TDjamaluddin utk tetap memakai Imkanurrukyat 3 derajat terus (dan jangan turun), sehingga tdk terlalu sering amat berhari raya bersama MEKKAH dan dunia…..
    Kecuali saya dan mereka yg mau menyatukan diri berhari raya bersama MEKKAH dan dunia…

    • Setuju pak Argres,

      Masalah Tanggal adalah Identik dengan Hari.
      Hari kita sama dengan Mekah dan Batas Pergantian Hari Dunia adalah 180° garis Bujur, Jadi adalah aneh kalau ada Tempat yang harinya sama dengan Mekah tapi tanggalnya beda.

      Penetapan Tanggal berbeda dengan Penetapan Jadwal Shalat, Jadwal Shalat bersifat Lokal sedangkan Tanggal dan Hari bersifat Global…
      Semoga Para Ulama dan Ahli Falak dan Astronomi seluruh Dunia menyadari hal sederhana ini…

      Mari kita jadikan Ka’bah Baitul Haram di Mekah sebagai Patokan dalam Menetapkan Tanggal Hijriyah,

      Tinggal silahkan Para Ulama dan Ahli Falak dan Astronomi seluruh Dunia bermusyarawarah Hendak menggunakan Kriteria Awal Bulan apa sebaiknya, apakah WH Muhammadiyah / WH Ummul Quro / IR Odeh / IR Lapan atau yang lainnya.

      • Matur nuwun P.Ivan dan setubuh juga dengan pendapat sampeyan. Salam

      • Kalau begitu sholat dzuhur harus sama dengan saudi dong..???

  6. […] ini, sering terjadi perbedaan dalam penentuan tanggal awal Ramadhan. Alhamdulillah sudah ada musyawarah penyatuan kriteria penentuan tanggal oleh berbagai ormas islam. Ini adalah salah satu bentuk pengupayaan ukhuwah yang luar […]

  7. Kita sering bersedih saat lebaran tiba, karena penetapan yang berbeda, betapa tidak, seorang suami kadang sudah shalat idul fitri di lapangan, tetapi istri dan anak-anak masih berpuasa. Ini adalah ironi “ibadah” ummat Islam.
    Gagasan untuk mempersatukan kalender ummat Islam dan penyatuan penentuan awal ibadah puasa dan mengakhirinya adalah gagasan yang patut diapresiasi. Tetapi gagasan itu tidak akan terwujud selama ummat Islam dalam menentukan tanggal 1 Qomariyah (Ramadlan dan Syawal) masih berpegang pada hadist-hadits tentang rukyah, karena mereka akan tetap menggunakan kriteria ketinggian hilal sebagai tafsir kata “rukyah”, sehingga mereka akan memaknai “imkanur rukyah, ghairu imkanir rukyah, wujudul hilal dan lain-lain.
    Perintah berpuasa bulan Ramadlan (Q.S. Al-Baqarah 183) tersebut maksudnya berpuasa dari tanggal 1 Ramadlan sampai bulan Ramadlan berakhir (29 atau 30 hari). Untuk menentukan tanggal 1 Ramadlan adalah domain ilmu pengetahuan bukan domain “Kerasulan atau Kenabian”, dengan kata lain, untuk menentukan tanggal 1 (satu) Ramadlan atau bulan lainnya bukan tugas Nabi, karenanya tidak perlu wahyu (tidak perlu dalil agama) Al-Qur-an atau Hadits, karena itu jangan pakai/berdasarkan hadits ” Shuumu liru’yatihi waafthiruu liru’yatih….”, itulah yang menyebabkan ummat Islam selama ini terjebak dalam perbedaan, karena mereka kemudian merumuskan kriteria-kriteria, tanggal satu harus bulan dalam posisi “imkanur-ru’yah”, ghairu imkanir-ru’yah, wujudul hilal dan lain-lain yang itu semua menyebabkan perselisihan bahkan perpecahan.
    Tinggalkan hadits itu, karena itu tugas ilmuwan, Nabi sudah menyatakan ” Antum ‘a’lamu bi umuri dunyakum”;

    Berdosakah kita tidak menggunakan/mengabaikan hadits tersebut dalam menentukan tanggal 1 Ramadlan atau tanggal 1 Syawal ?
    Menurut saya tidak,,,, ! dengan alasan :
    1. Menentukan tanggal 1 Qomariyah itu domain ilmu pengetahuan, Nabi diutus bukan untuk itu.
    2. Hadist-hadits nabi tentang perintah puasa kalau sahabat sudah dapat melihat hilal, adalah bukan wahyu, tetapi reaksi basyariyah (kemanusiaan) dalam bahasa ushul fiqh “Jibilliyah” Nabi terhadap pernyataan sahabat yang telah melihat hilal, fenomana yang biasa difahami masyarakat saat itu untuk menentukan pergantian bulan adalah melihat hilal pertama, karena mereka tidak mengerti ilmu khisab/astronomi (hadits kunna ummatun ummiyatun….. dst);
    3. Hadits Nabi tentang “melihat hilal” walaupun memakai shighat amar (kalimat perintah) tidak harus kita artikan perintah, kejadiannya adalah Nabi menerima laporan bahwa ada sahabat/orang yang melihat hilal, maka Nabi memerintakan untuk mengawali puasa. Substansinya bukan karena melihat hilal, tetapi bahwa kalau sudah hilal dapat dilihat, berarti sudah berganti bulan dari Sya’ban ke Ramadlan atau dari Ramadlan ke Syawal.
    4. Nabi tidak pernah membentuk team ru’yat, atau memerintahkan sahabat untuk berbondong-bondong ke atas gunung, atau ke pantai untuk bersama-sama melihat/mengamati hilal, pada hal dalam hal-hal penting Nabi biasa mengutus ekspidisi guna mengurus sesuatu, ini berarti bukan tugas agama tetapi diserahkan kepada kebiasaan yang dialami masyarakat.
    5. Dalam masalah-masalah duniawi yang bersifat keilmuan/ pengetahuan, Nabi tidak ma’shum (ishmah), contoh:
    – Hadits Nabi kepada petani kurma di Madinah supaya mereka mengawinkan bunga jantan dan bunga betina……ternyata hasilnya salah, karena hasilnya tidak bagus, petani mempertanyakan perintah Nabi tersebut lalu Nabi bersabda ” Inkaana min umuri dinikum fa ilayya, in kana min umuri dunyakum faantu a’lamu biumuri dunyaakum”;
    – Hadits-hadits Nabi tentang siasat menyusun pertahanan dalam peperangan, setelah mendapat koreksi dari sahabat, Nabipun mengikuti pendapat sahabat;
    – Dan lan-lain hadits yang tidak mungkin disebutkan.
    ILMU PENGETAHUAN ADALAH KESEPAKTAN :
    Menetukan tanggal 1 bulan qomariyah adalah domain ilmu pengetahuan, dan suatu hal yang paling substansi dalam dunia ilmu pengetahuan adalah “KESEPAKATAN”; atas dasar alasan-alasan ilmiyah; ilmu pengetahuan tidak memerlukan wahyu tidak memerlukan dalil agama (Al-Qur-an atau Hadits). contoh ;
    – 4 (empat) dikali 4 (empat) adalah 16 (enam belas) tidak perlu dalil agama yang diperlukan adalah kesepakatan ilmiyah;
    – Garis meredian 0 (nol) derajat, adalah meredian Grenwicg, adalah kesepakatan ;
    – Matahari beredar dalam porosnya dari arah barat ke timur, adalah kesepakatan;
    – Bulan beredar dari arah barat ke timur, adalah kesepakatan;
    – Peredaran Matahari dan bulan dalam orbitnya setiap bulan akan bertemu dalam satu garis ekleptika di langit yang dikenal sdengan Ijtima’ (konjungsi) adalah kesepakatan ilmiyah yang tidak perlu wahyu;
    Berdasarkan argumentasi sederhana tersebut, menentukan tanggal 1 Ramadlan, 1 Syawal, 1 Muharram dll tidak perlu teks suci (dalil agama) tidak perlu berpedoman pada hadits.

    Perintah puasa dalam bulan ramadlan, dimaksudkan berpuasa dari tanggal 1 Ramadlan sampai berakhirnya bulan tersebut. Jauh sebelum Nabi Muhammad diutus bahkan lahir, masyarakat sudah mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang disepakati menentukan tanggal 1 Qomariyah, cuma pada waktu pengetahuan masyarakat yang masih sederhana, maka gejala alam berupa nampaknya hilal menjadi pedoman penentuan dan itu seakan-akan telah menjadi kesepakatan mereka.
    Berdasarkan alasan-alasan tersebut penulis, berpendapat bahwa kita perlu kesepakatan dalam menentukan tanggal 1 qomariyah. Penulis mengusulkan ” IJTIMAK ADALAH AKHIR dan AWAL BULAN QOMARIYAH, dengan alasan sebagai berikut :
    1. Ijtima (konjungsi) terjadi dalam saat yang sama seluruh dunia; Jikalau terdapat perbedaan dari berbagai sistem, maka hal tersebut tidak berpengaruh banyak dan hanya terpaut beberapa menit saja.
    2. Kalaupun terjadi perbedaan penentuan karena sistem Hisab yang berbeda, maka terpautnya hanya hitungan detik, atau menit, sehingga tidak ada pengaruh yang signifikan;
    3. Kalau boleh mengandai-andai, seandainya saat Rasulullah masih hidup sudah ada ilmu hisab, maka Nabi akan mempedomani hisab dan Nabi akan menggunakan “Ijtima’”, sebagai akhir dan awal bulan, buktinya saat terjadi gerhana Nabi tidak menyinggung-nyinggung Ijtima’, karena saat itu ummat Islam masih ummiy;
    4. Ilmu hisab telah merambah dunia Islam, dan mudah disosialisasikankapan terjadi Ijtima pada tiap-tiap bulan,
    5. Para ahli hisab sudah dapat menghitung daerah-daerah yang terlintasi batas awal dan akhir bulan, belahan di tumur lintasan tanggal akhir bulan lalu, sedangkan barat lintasan adalah awal bulan yang bersangkutan.
    Kesimpulan:
    1. Menentukan awal bulan Qomariyah (tanggal 1), jangan berpedoman kepada hadits, itu bukan tugas kerasulan dan kenabian kita, tetapi domain ilmu pengetahuan yang Nabi sendiri menyatakan ” Antum a’lamu bi umuuri dunyakum. Selama ummat Islam masih mempedomani hadist-hadits tersebut, selama itu pula mereka akan terikat dengan kriteria-kriteria hilal dapat dirukyat, akibatnya selama itu tidak akan menemukan titik temu.
    2. Perintah Nabi memulai puasa kalau sudah melihat hilal, adalah reaksi basyariyah (nabi sebagai manusia) yang saat itu memahami fenomena bulan baru adalah melihat hilal, karena belum tahu hisab ( ummiy), perintah itu tidak bisa dimaknai sebagai wajib dipedomani, atau sunnah dipedomani, tetapi hanya “irsyad”. Mengingkarinya tidak menjadi “kafir” dan bukan “inkarussunah” dan bukan Islam Liberal (JIL);
    3. Berpedoman pada terjadinya Ijtima’ (konjungsi) sebagai penentuan awal dan akhir bulan Qomariyah adalah lebih ilmiyah, sehingga lebih rasionil untuk diikuti;
    4. Seandainya Rasulullah tahu ada “Ijtima’” tentu akan memilih itu sebagai penentuan tanggal 1 bulan Qomariyah, buktinya Nabi memerintahkan “fain ghumma alaikum faq duruulah”, tidak senantiasa istikmal, tetapi kadarkanlah, maka istikmal bukan satu-satunya kebenaran, tetapi kadarkanlah berarti memerlukan dasar-dasar ilmiyah untuk menentukan, yaitu ilmu hisab.
    Catatan :
    Selama dalam sidang-sidang istbat hilal, tidak ada ormas yang melontarkan mengesampingkan hadits-haidits tentang rukyat, karena resikonya berat, organisasinya bisa dicap ” Ingkarus-sunnah” atau Jaringan Islam Liberal (JIL) atau mungkin “kafir;

    Kalau benar maka dari Allah, kalau salah semoga ada yang bisa bertukar pikiran agar saya tidak terus dalam kesalahan;

    Abd. Salam
    Pemerhati Ilmu Hisab dan masalah kemasyarakatan
    Wakil Ketua Pengadilan Agama Watansoppeng

    • bagus sekali paparnya pak….ternyata bukan kita saja yang resah…tapi ada baiknya orang muhammadiyah jadi menteri agama RI, kita lihat, apa dia bisa mengakomodir seluruh perspektif dari LAPAN, Wujudul hilal, Hisab dan Ru’yah…..saya setuju kalo pak din syamsudin kali2 jadi menteri agama…atau yang mewakili Muhammadiyah…jangan sampai disaat KEMENAG dipimpin orang MUhammadiyah islam jadi ada 3 : 1. Islam Indonesia, 2. Islam Muhammadiyah, 3. Islam Naqsabandiyah…..

  8. Ass wr wb. Pada saat ijtimak seluruh tempat dipermukaan bumi ini berada pada waktu (jam) yg berbeda, ada yg berada pd waktu subuh, dhuhur, asar, magrib dan isya. Posisi permukaan bumi juga tidak selalu tetap disetiap ijtimak, misalnya pd satu saat ijtimak Mekkah berada pd waktu magrib maka pd saat ijtimak bulan2 berikutnya Mekkah berada pd waktu bukan magrib. Jadi jika ijtimak digunakan sebagai patokan awal bulan hijriyah maka hrs dicari kesepakatan lagi ttg dimana dan kapan dimulainya.Wassww

    • Banar pendapat bapak, menurut kebiasan hisab, daerah-daerah di wilayah bumi yang ghurubnya bersamaan dengan ijtima’ dijadikan sebagai daerah batas akhir bulan, artinya daerah-daerah sebelah timur masih bulan lama ybs, sedangkan sebelah barat batas akhir bulan, masuk tanggal 1 bulan baru; Karenanya saya berpendapat tanggal satu bulan qomariyah lebih mendekati kebenaran jika kita sepakati pendapat “ijtima’ qoblal ghurub”. Insyaallah sedikit perbedaannya. Jika Indonesia mempunyai wilayah yang memanjang dari timur sampai barat terpotong dengan garis batas akhir bulan, maka Fatwa Negara c.q Kementrian Agama memaklumkan belahan timur (Indonesia bagian Timur) masih belum masuk bulan baru, sedangkan Indonesia bagian barat supaya dinyatakan masuk bulan baru (memulai puasa/mengakhiri puasa)

  9. Ass wr wb. Pak Abd.Salam, salam kenal. Wilayah bumi yg ghurubnya bersamaan dg ijtimak dijadikan sbg daerah batas akhir bulan Qomariyah atau disebut juga sebagai Garis Perubahan hari/tanggal atau Garis Tanggal atau spt yg disampahkan oleh pak Ilham dlm artikel “Tonggak penyatuan kalender hijriyah telah dipancangkan, mari kita wujudkan” yaitu disebut sbg International Lunar Date Line (ILDL). ILDL ini dinamis dan unik krn tempatnya tdk tetap melainkan setiap bln/setiap ijtimak selalu bergeser ketimur

  10. Krn itu wilayah ILDL kebarat hingga wilayah ILDL bln lalu sdh hrs memasuki awal bln baru saat masih berada pd hr ke 29 bln berkenaan shg wilayah ini akan memdahului wilayah2 yg sdh berada pd hr ke 30. Masalah yg timbul krn keunikan ILDL ini sama2 dihadapi oleh teori Ijtimak Qoblal Ghurub maupun teori Penampakan Hilal. Dlm tanggapan artikel “Kesepakatan garis tanggal mutlak diperlukan utk mewujudkan kalender global” pak Ivan menulis bhw Ulama Tabi’in pernah menghisab bln baru berdasarkan ijtimak.

  11. Penjelasan mengenai alasan mengapa Ulama Tabi’in meninggalkan teori Penampakan Hilal tidak ada, padahal meninggalkan teori Penampakan Hilal sama artinya dg mengabaikan HILAL yg bukan hanya mengabaikan Sunnah Nabi Muhamad SAW dlm HR Buchori,Muslim 653,654,655 dan 656 tetapi juga mengabaikan Firman ALLAH SWT dlm QS Al Baqarah ayat 189. Wass wr wb.

    • Waalaikum slm wr wb. dan Salam kenal dan senang sekali saya bisa berdialog dengan bapak di media ini; Benar sekali tanggapan bapak, sebab kalau kita menggunakan Ijtima’ sebagai batas awal dan akhir bulan, resistensi daerah yang biasa disebut daerah kritis sedikit sekali yakni daerah-daerah yang ghurubnya bersamaan terjadinya ijtima’, sangat beda jauh kalau kita menggunakan kriteria imkanur ru’yat. Kami sangat mendukung terwujudnya penyatuan kalender, hanya saja implementasinya sering tidak terjadi. Dan benar pula ILDL sangat dinamis dan unik dan tempatnya berubah-ubah senantiasa bergeser ke timur, karena itulah silahkan ilmuwan merumuskan atas dasar dan alasan ilmiyah. Pekerjaan menentukan tanggal 1 qomariyah ini bukan bukan pekerjaan ahli tafsir dan bukan ahli syarah hadits, tetapi pekerjaan ilmuwan. Hal ini tidak berarti kami mengajak mereka mengingkari kebenaran sunnah dan mengingkari kebenaran Al-Qur-an, hanya saja kami rasa tidak tepat kalau menetapkan tanggal 1 qomariyah tersebut harus berdalil hadits dan berdalil Al-Qur-an. Para sahabat adalah orang yang paling antusias memperhatikan perintah Nabi, tapi tidak ada riwayat bahwa meraka antusias meru’yah hilal, ini menunjukkan bahwa masalah itu diserahkan kepada kebiasaan mereka walaupun mereka adalah orang-orang yang sederhana (ummiy). Faktor dominan yang menyulitkan mewujudkan kesepakatan itu adalah karena sebagian ummat Islam berpegang kuat kepada kaidah imam syafi’i ” Idza ashahhal hadits fa huwa madzhabiy”, konsekwensinya jika dalam suatu masalah terdapat hadits shahih maka harus dipedomani tampa melihat situasi dan kondisi historis hadits itu dilontarkan oleh Rasulullah. Silahkan ilmuwan bekerja dengan alasan-alasan ilmiyah. kami sami’na wa atha’na dengan putusan ilmuwan. Wassalam wr wb

      • wow… pak Abdussalam.
        Berkeputusan tanpa punya landasan adalah rapuh… Dan pendapat Anda berusaha menghilangkan landasan ini (AlQur’an dan Sunnah).

  12. @Eko Didik: Serapuh sarang laba-laba, Pak.

    Bila kita bermain dalam tataran “seandainya” maka selesailah agama yang kita cintai ini, sebab telah terbukti bahwa manusia adalah makhluk yang “tulul amal” (panjang angan-angan) a.k.a jaguh berandai-andai.

    Lelaki akan mulai mengambil istri hingga puluhan atau bahkan lebih dalam satu periode ta’adud dan berandai-andai “jika Nabi masih hidup, maka….”

    Pelacur-pelacur dan pengguna jasanya akan kiat mengkampanyekan Nikah Mut’ah, dan berandai-andai “bila Nabi masih hidup, maka….”

    Khawariji dan antek-anteknya akan semakin getol menggulingkan pemerintahan yang tidak sesuai dengan isi bero (perut)-nya sebab mereka akan berandai-andai “jika Nabi masih hidup, maka….”

    Asy Syafi’i sang Ansharus Shunnah (Pembela Sunnah) telah tepat mengeluarkan kalimat “idza shahhal hadits fa huwa madzhabiy”, karena beliau—insan Quraisy unggul berotak dan pemikiran cerdas, karena ilmu luas dan dalamnya—mengetahui dengan persis dan jeli bahwa meleset dari Sunnah berarti tergelincir dari kebenaran.

    As Sunnah memberi kemudahan kepada kita, bukan kesulitan. Tapi, kadang-kadang, kita sebagai manusia yang dilengkapi dengan perangkat lisan terlampau terburu-buru menghukumi bahwa As Sunnah harusnya dimaknai begini dan begitu. Padahal….

    Sehingga bukan kemudahan dan persatuan kita raih, tetapi justru…

    Tidak ada kesulitan dalam As Sunnah. Dulu—seperti kata bapak orang-orangnya masih ummi (buta huruf)—gampang sekali mengamalkan agama mulia ini.

    Namun sekarang, ketika sudah melek huruf bahkan bisa mengarang buku ini itu, kok malah seperti susah mempraktikkan diinul Islam.

    Ada apa ini? Apakah kita harus kembali jadi buta huruf untuk dapat kemudahan seperti dulu? Ataukah…..

    Ataukah hanya dengan kembali kepada As Sunnah?

    Jawabannya ada di lubuk hati kita masing-masing. Bersatu dalam As Sunnah menjauhkan kita dari perbedaan yang runcing, sehingga kita tidak perlu lagi mengatakan aku ikut muhammad kita aja deh, biar di ikut muhammad dia.

    Padahal, dalam sunnah hanya ada satu Muhammad, yakni Muhammad bin Abdullah Shallallahu’alaihi wasallam, seorang ummi yang berabad-abad silam mengatakan :”Bila kalian melihat hilal, berpuasalah. Dan bila kalian melihat hilal, berbukalah.” Agar umatnya mudah, bukan supaya umatnya susah. Semudah itu.

    Allahua’lam.

    • Janganlah seperti Katak dalam Tempurung,
      Yang pada zaman Nabi dianggap memudahkan, untuk Kondisi sekarang justru menyusahkan…

      Dahulu Perintah Rukyat dari Nabi itu adalah untuk Solusi ketika terjadi pertikaian pendapat Awal Bulan di antara sahabat,
      Solusi ini dipakai sebab umat Islam belum bisa Perhitungan Hisab yang akurat, bahkan membaca tulisan pun masih terbatas :

      Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      “Kita ini adalah ummat yang ummi, yang tidak biasa menulis dan juga tidak menghitung satu bulan itu jumlah harinya segini dan segini, yaitu sekali berjumlah dua puluh sembilan dan sekali berikutnya tiga puluh hari”.
      (HR Bukhari)

      Rukyat zaman NABI bukan Perintah yang mau tak mau harus dilaksanakan…
      Terbukti tidak pernahnya Nabi dan Khalifah sesudahnya membentuk Lembaga Pemantau Hilal / Tim Rukyat…

      .

      Hijrah dari Metoda Rukyat ke Metoda Hisab adalah Tuntunan Zaman,
      Alloh swt itu menginginkan kemudahan bagi kita manusia, Bukan menginginkan kesulitan bagi kita manusia…

      Mari kita lihat, Sekarang jam 10 an tgl 29 Ramadhan (versi Depag) saja, anda-anda pemegang Rukyat belum tahu kan apakah nanti malam sudah tgl 1 Syawwal atau masih tgl 30 Ramadhan…

      Untuk zaman sekarang yang modern yang jadwal kehidupan manusia itu padat, Penanggalan yang belum jelas itu akan bikin susah dan akan bikin kacau balau kegiatan masyarakat modern…

      .

      Penetapan Kalender itu bukan hanya masalah Agama saja, bukan masalah Sains saja, tapi juga menyangkut kehidupan Sosial / Ekonomi / Politik / Administrasi Pemerintah / dll…

      Dahulu zaman Khalifah Umar bin Khattab ra, walaupun sudah punya Kalender Hijriyah hasil Hisab (yaitu Hisab Urfi), umat Islam masih mengandalkan Rukyat untuk menentukan Awal Bulan, SEBAB :
      Hisab Urfi tidak menunjuk Perhitungan Posisi Bulan Faktual, sering di Kalender masih tgl 30 bulan lama, Hilal sudah terlihat jelas shg seharusnya sudah tgl 1 bulan baru…

      Sekarang beda, Kalender Hijriyah sudah memakai perhitungan Hisab Astronomi Canggih yang sesuai dengan posisi bulan Faktual…
      Kalau kita terus-terusan membeda-bedakan bulan yang satu dengan lain, ketika Ramadan-Syawal- Dzulhijjah kita ngotot harus menggunakan rukyat karena itu bulan ibadah, kemudian bulan lain kita mengatakan tidak perlu,
      Itu artinya kita itu sudah Sekuler, memisah-misahkan urusan dunia dan agama dalam suatu urusan yang digunakan untuk agama juga dunia…

  13. Ass wr wb.
    Ada dua hadist ttg penampakan hilal sebagai pertanda masuknya awal bulan hijriyah, yaitu :
    1. …….jika tertutup awan maka perkirakanlah…….
    2. …….jika tersembinyi darimu maka genapkanlah bilangan Syakban menjadi 30………
    Kesimpulannya :
    1. Pada saat cuaca tertutup awan, maka awal bulan hijriyah sepenuhnya ditentukan dg hisab. Namun demikian usaha maksimal mencari lokasi yg tidak tertutup harus awan sudah dilakukan.
    2. Pada saat tidak tertutup awan (cuaca cerah), maka meskipun hilal diperkirakan sudah ada namun jika tertutup cahaya syafak dll yg merupakan kodrat Allah SWT sehingga hilal tidak dapat terlihat meskipun dg teleskop tercanggih, maka saat itu belum dapat dikatakan telah memasuki awal bulan hijriyah (………genapkanlah bilangan Syakban men jadi 30…….).
    Wass wr wb.

  14. @ ivan : Bagaimana bila keadaan terbalik, misalnya menurut ahli hisab ramadhan sudah ditetapkan 30 hari, akan tetapi pada hari ke 29 hilal sudah terlihat, haruskah kita menggenapkan puasa sampai 30 hari sesuai dengan “ramalan” ahli hisab ?

    • Ass wr wb.
      Kalau ada kejadian seperti itu, artinya metode yg digunakan oleh ahli hisab tsb tidak akurat dalam memprediksi penampakan hilal shg kalendernya tidak bisa dipedomani dan puasa tetap sampai hr ke 29 saat hilal sudah terlihat.
      Wass wr wb.

    • Keterlihatan hilal oleh saksi bila tidak didukung bukti-bukti yang lain (foto misalnya) akan SANGAT BERSIFAT SUBJEKTIF,
      sehingga ada 2 kemungkinan :
      – Saksi benar-benar melihat hilal, atau
      – Saksi Hanya merasa melihat hilal…

      Perhitungan Hisab Astronomi sekarang InsyaAlloh sudah akurat, terbukti dengan perhitungan kapan dan di mana terlihat gerhana bulan dan matahari di muka bumi selalu tepat…

      Ketika hilal dihitung pada saat magrib ada di bawah ufuk, maka ketika dirukyat setelah magrib, hilal itu tidak mungkin tiba-tiba nongol di atas ufuk… :)

      Peredaran Bumi-Bulan mengelilingi Matahari ditentukan oleh Perhitungan yang sudah ditetapkan Alloh swt, bukan ditentukan oleh Penglihatan Manusia…
      Sedunia orang bersama-sama memejamkan mata, bulan akan tetap mengelilingi bumi dan bumi mengelilingi matahari, bulan dan bumi tidak akan mendadak istirahat (atau mendadak nongol) gara-gara manusia tidak melihatnya… :D

      • Ass wr wb.

        Perhitungan Hisab Astronomi sekarang InsyaAlloh sudah akurat, terbukti dengan perhitungan kapan dan di mana terlihat gerhana bulan dan matahari di muka bumi selalu tepat…

        Namun demikian, perhitungan hisab astronomi ttg kapan dan dimana terlihat gerhana bulan dan matahari baru bisa dikatakan “tepat” setellah masyarakat membuktikan sendiri/menyaksikan dg mata kepala sendiri proses berlangsungnya gerhana tsb atau dg kata lain setelah dirukyat.

        Jadi Perhitungan Hisab Astronomi ttg penampakan hilal juga demikian, baru dapat dikatakan “tepat” setelah terbukti benar dapat disaksikan dg mata kepala sendiri (dirukyat) oleh masyarakat yg koordinir oleh Badan Hisab dan Rukyat Kementrian Agama RI pd sidang isbat.

        Wass wr wb.

      • Ah itu mah pekerjaan orang yang waswas pak Bambang…
        Perhitungan Hisab Astronomi sekarang itu InsyaAlloh sudah Akurat…

        Kalau tidak akurat coba pak Bambang sampaikan di sini :
        Dalam 20 tahun ke belakang, apakah ada Perhitungan Gerhana bulan dan matahari secara Hisab Astronomi yang dipakai sekarang oleh Lapan, Ummul Quro, dll (terkecuali Pesantren Cakung yang masih tetap menggunakan Hisab Taqribi, Hisab yang belum disempurnakan seperti sekarang),
        Apakah ada Perhitungan Gerhana yang sudah akurat itu yang meleset dari kenyataannya ???…

        Rukyat yang cuma mengandalkan penglihatan mata tanpa bisa didokumentasikan secara visual itu akan sangat bersifat subjektif…

      • Ass wr wb.

        Apakah ada Perhitungan Gerhana yang sudah akurat itu yang meleset dari kenyataannya ???…

        Pak Ivan, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Perhitungan Gerhana yg sudah akurat itu meleset atau tidak meleset dari kenyataannya.
        Selama ini kita bisa yakin bahwa Perhitungan Gerhana yang sudah akurat itu tidak meleset karena setiap ada pemberitahuan akan ada gerhana maka kita ber-ramai2 membuktikannya dg menyaksikan langsung proses terjadinya gerhana atau dg kata lain melakukan rukyat gerhana.
        Kalau kita tidak melakukan rukyat gerhana, bagaimana kita bisa tahu bahwa saat itu sedang berlangsung gerhana.

        Wass wr wb.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: