Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

(Gambar dari Wikipedia)

Kalender adalah hasil perhitungan (hisab) dengan suatu kriteria tertentu dalam menetapkan hari dan tanggal setiap siklus harian, bulanan, dan tahunannya. Karena bumi kita bulat, awal hari, awal bulan, atau awal tahun pada sistem kelender global harus ditetapkan batasnya. Itulah yang dinamakan garis tanggal. Secara umum ada 2 sistem kalender, sistem matahari (solar calendar atau almanak syamsiah, berdasarkan ketampakan matahari) dan sistem bulan (lunar calendar atau almanak qamariyah, berdasarkan ketampakan bulan). Animasi di atas adalah ilustrasi garis tanggal internasional (International Datel Line, IDL, berupa garis merah yang berputar mengikuti rotasi bumi) untuk kelender matahari. Pada kalender matahari internasional, awal hari ditetapkan pada tengah malam pukul 00.00. Jadi, ketika IDL melintasi waktu pukul 00.00 maka saat itulah mulai terjadi pergantian hari dan tanggal.

Garis tanggal internasional ditetapkan sekitar garis bujur 180 derajat. Tidak mungkin lurus karena mengikuti keputusan otoritas di sekitar garis tanggal itu. Sampai 1845 Filipina dan Indonesia terpisah oleh garis tanggal. Alasannya, penjajah Spanyol datangnya dari arah benua Amerika, jadi harinya disamakan dengan waktu di benua Amerika. Demikian juga Alaska. Sampai 1867, Alaska dan Kanada terpisah oleh garis tanggal, karena Alaska masih milik Rusia sebelum dibeli oleh Amerika Serikat. Kiribiti pada 1995 menggeser garis tanggal 30 derajat ke Timur, sehingga hari di Kiribiti sama dengan negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Berikut ini garis tanggal internasional yang disepakati saat ini:

Updated: Sejak 31 Desember Samoa dan Tokelau menggeser garis tanggalnya ke arah Timur, sehingga mengikuti wilayah waktu negara-negara tetangganya di Asia Pasifik. Samoa dan Tokelau melompat dari Kamis 29 Desember menjadi Sabtu 30 Desember 2011. Gari tanggalnya menjadi seperti berikut:

(Gambar dari The Australian.com.au)

Bagaimana kalender Hijriyah yang berdasarkan bulan akan diglobalisasikan? Prinsipnya sama, harus ada garis tanggal. Namun harus disadari, hari harus tunggal, baik untuk kalender matahari maupun kalender bulan, walau mulainya bisa saja sedikit berbeda. Maka, hari mengikuti sistem kalender matahari dengan garis batas hari sama dengan garis tanggal internasional, tetapi mulainya sejaka maghrib saat biasa dilakukan rukyat. Nah, awal tanggalnya yang harus ditetapkan berdasarkan garis tanggal menurut kriteria yang disepakati secara global. Kalender Hijriyah didasarkan pada kriteria ketampakan hilal, walau rumusannya belum ada kesepakatan. Bagaimana pun, memberlakukan suatu sistem secara global harus didasarkan pada kesepakatan global juga. Kesepakatan yang utama adalah kriterianya. Dengan kriteria yang disepakati, mudah saja dibuatkan garis tanggalnya. Astronom mudah membuatkan garis tanggal itu tergantung kriteria yang disepakati.

Berikut contoh garis tanggal awal Syawal 1432 berdasarkan 3 kriteria:

(1) Kriteria Wujudul Hilal, kriteria paling sederhana, hanya berdasarkan hitungan bulan lebih lambat terbenam dari matahari sesudah ijtimak (Garis merah).

(2) Kriteria Imkan Rukyat 2 derajat, yang sederhana hanya didasarkan pada data rukyat terbatas yang belum tervalidasi (Garis kuning).

(3) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang didasarkan pada data rukyat secara global dan jangka panjang yang divalidasi secara astronomis (Garis biru).

Dari tiga kriteria itu silakan dipertimbangkan untuk diajukan secara global untuk disepakati. Kalender Hijriyah yang kita kehendaki adalah kalender yang bisa digunakan untuk penetapan waktu ibadah, bukan sekadar kalender administratif ala Ummul Quro di Arab Saudi . Arab Saudi menetapkan waktu ibadah dengan rukyatul hilal, tidak bergantung pada kalender Ummul Quro.

(1) Kriteria Wujudul Hilal tidak populer secara internasional dan pada saat posisi bulan rendah pasti terjadi perbedaan dengan hasil rukyat yang masih diprakteknya di banyak negara (termasuk Arab Saudi).

(2) Kriteria Imkan rukyat 2 derajat, walau pun masih sederhana dan hanya didasarkan pada beberapa data rukyat yang belum tervalidasi, kriteria ini telah disepakati oleh sebagian besar ormas Islam di Indonesia dan negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

(2) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang punya landasan ilmiah astronomis.

Kalau sudah disepakati kriterianya, langkah berikutnya adalah implementasinya.

(a) Kalau mau diberlakukan secara global (satu hari-satu tanggal dalam sistem kalender Masehi, ala Jamaluddin Ar-Raziq dari Maroko), maka penetapan tanggal didasarkan pada imkan rukyat pertama kali. Kalau digunakan kriteria Imkan Rukyat Astronomis (garis biru), Afrika bagian Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sudah imkan rukyat pada 29 Agustus. Maka 1 Syawal berlaku global jatuh pada haris Selasa, 30 Agustus 2011. Dengan sistem ini rukyat lokal tidak berlaku lagi. Tetapi, selama belum ada otoritas tunggal secara global ala khilafah, cara ini sulit diimplementasikan.

(b) Kalau mau diberlakukan atas dasar zona atau regional, maka implementasinya didasarkan pada imkan rukyat yang pertama kali di zona atau regional tersebut. Namun ini pun bergantung pada kesepakatan zona atau regional tersebut. Saat ini baru ada kesepakatan di antara negera-negara MABIMS. Maka bila itu diterapkan di regional MABIMS (yang mungkin diperluas ke ASEAN), maka dari garis tanggal tersebut (garis biru) terlihat imkan rukyat di wilayah Asia Tenggara baru terjadi pada 30 Agsutus, sehingga di regional tersebut 1 Syawal jatuh pada 31 Agsutus 2011.

(c) Implementasi realistis yang mungkin diterapkan saat ini adalah dengan prinsip wilayatul hukmi, yaitu berdasarkan otoritas wilayah hukum negara. Kalau prinsip wilayatul hukmi yang diterapkan, maka awal bulan didasarkan pada imkan rukyat pertama kali di sebagian wilayah negara tersebut. Maka kita akan melihat garis tanggal dibelok-belokkaan mengikuti batas negara, mirip seperti dibelok-belokkanya garis tanggal internasional. Garis tanggal 1 Syawal 1432 menjadi seperti berikut ini (gambar dari iwanmr):

About these ads

63 Tanggapan

  1. Kalau batas garis tanggal hijriyah mengikuti garis ketampakan hilal adalah agak aneh. Keanehan itu misalnya, akan terjadi perbedaan tanggal qomariyah di banyak negara pada kawasan bujur yang sama, padahal negara2 tersebut harinya sama dan siang malamnya sama. Adalah aneh jika sebagian besar negara2 Afrika telah memasuki bulan baru, tapi negara di ujung selatan benua Afrika belum memasuki bulan qomariah baru. Ada beberapa alternatif solusi :

    1) Kawasan/negara dimana hilal pertama kali terlihat (atau wujud) dijadikan titik pangkal tanggal (bulan baru). Penetapan garis tanggal mengikuti garis bujur yang melewati kawasan/negara tsb. Problemnya memang, banyak negara dalam benua yang sama mungkin terbelah tanggalnya.

    2) Mengikuti garis tanggal internasional (syamsiah) yang membelah samodra Pasifik. Ini juga mengandung masalah karena garis hilal (wujudul hilal) membelah bumi secara serong, sementara garis tanggal internasional mengikuti garis bujur yang lurus utara – selatan (meski tidak lurus2 amat).

    3) Ka’bah (Arab Saudi) dijadikan batas garis tanggal qomariah. Kemudian, otoritas penyusunan kalender dan penetapan hari2 ibadah diserahkan kpd pemerintah Arab Saudi, dan semua negara (ummat islam) wajib tunduk, apapun metode yang digunakan oleh Arab Saudi (apakah dg metode rukyat, hisab WH atau IR).

    4) Ka’bah dijadikan sbg titik pusat bumi. Pada saat matahari tepat di atas Ka’bah, lihat cakupan sinar matahari. Seluruh wilayah yang tersinari matahari berada pada hari/tanggal yg sama, dan seluruh wilayah yang gelap berada pada hari/tanggal berikutnya (atau sebaliknya, tergantung di belahan mana hilal terlihat/wujud). Artinya, kepulauan Hawai dan sekitarnya menjadi batas garis tanggal.

  2. Saya termasuk yg menunggu khilafah global aja lah.
    Kalo utk kesepakatan hukmiyah rasanya mustahil. Org sini mah bukan tipe pelopor di dunia…

  3. Pak Djamaluddin,

    Kalender Hijriyah yang kita kehendaki adalah kalender yang bisa digunakan untuk penetapan waktu ibadah, bukan sekadar kalender administratif ala Ummul Quro di Arab Saudi.

    Pertanyaan mendasar untuk Pak Djamaluddin: apakah kalender Hijriyah global ini juga benar-benar bisa digunakan untuk keperluan adminitratif, termasuk seperti pencatatan transaksi ekonomi? Saya cukup pesimis mengingat beberapa permasalahan yang saya lihat:

    (1) tidak ada perhitungan simple untuk menentukan tanggal waktu ke depan atau ke belakang seperti kalender Gregorian. Orang harus menggunakan algoritma berbasis simulasi astronomi, atau menggunakan database dari hasil kalkulasi sebelumnya untuk medapatkan hasil yang benar.
    (2) kompleksitas yang diakibatkan garis tanggal dimanis menjadikan dua wilayah yang berseberangan tidak mempunyai keterkaitan erat. Kalender yang dipakai untuk wilayah tertentu tidak bisa dipakai untuk menentukan tanggal di wilayah lain, sehingga orang kembali dipaksa untuk menghitung dengan simulasi atau berdasar database semua tempat di muka bumi.
    (3) konsep hari yang berawal dari waktu maghrib yang juga dinamis menambah permasalahan karena satuan jam/menit/detik tidak bisa mendefinisikan waktu secara unik lagi. Contoh, satu hari dalam kalender Hijriyah bisa ada dua waktu pukul 18:00 (dua tanggal yang berbeda menurut kalender Gregorian), atau kasus yang lebih ekstrim untuk daerah dengan lintang yang besar.
    (4) Kerancuan antara hari dan tanggal. Hari masih menggunakan kesepakatan internasional (IDL), padahal konsep hari juga digunakan untuk keperluan ibadah, seperti untuk shalat Jum’at.

    Dengan permasalahan seperti di atas, adalah sangat sulit menggunakan kalender Hijriyah ini untuk segala urusan di luar masalah ibadah. Peradaban manusia menuntut suatu sistem kalender yang logis, akurat, praktis, dan bermanfaat untuk mengatur hidup manusia, bukan justru menambah permasalahan manusia apalagi untuk alasan yang sebenarnya tidak logis.

    Kalau Pak Djamaluddin ternyata sudah memikirkan ini dan mempunyai solusi untuk permasalahan di atas, mohon dishare di sini.

    • Pokoknya nggak begitu pak Agus.., konon katanya kata Pak Djamal.. Yang benar harus saya, saya adalah benar. Kalau nggak benar lariiii..
      Maklum pak Agus, pak Djamal lagi mengidap penyakit paradoks autis kronis..

    • Untuk penerapan kalender Hijriyah dalam administrasi negara dan bisnis, kita lihat saja praktek di Arab Saudi. Itu sudah berjalan. Hanya saja, untuk ibadah Arab Saudi tidak menggunakan kalender Ummul Quro itu, tetapi mendasarkan pada laporan rukyat (sayangnya kadang tanpa konfirmasi astronomis).

      • Itulah keyakinan pak.. Saya bertanya dari hati yg paling dalam bersediakah anda menyamakan diri dngan keikhlasan nurani pak djamal utk bersama mekkah terlepas dari faktor astronomi maupun mahzab manapun?

      • Pak Djamaluddin,

        Saya belum menemukan informasi mengenai kalender Ummul Qura secara detil kecuali sekedar informasi sebagai kriteria awal bulan. Kalau Pak Djamaluddin mempunyai referensi yang bisa diakses lewat internet (yang bukan dalam bahasa Arab), tolong ditunjukkan.

        Hanya saja, karena kalender Ummul Qura adalah kalender lokal, jadi seharusnya tidak mengenal permasalahan no (2) dan (4) yang hanya terjadi untuk kalender “global” berdasar tanggal awal bulan yang dinamis. Jadi kalender Ummul Qura tidak begitu berbeda dengan kalender Muhammadiyah, dimana yang terakhir ini pun bisa diaplikaskan diluar masalah keagamaan cenderung hanya formalitas. Mengingat Pak Djamaluddin sepertinya sudah mengerti aplikasi kalender Ummul Qura untuk keperluan administratif (dari nada jawaban yang cukup positif di atas), saya mencoba konfirmasi dengan satu pertanyaan terhadap point (3): apakah tanggal baru dalam Ummul Qura selalu berawal dari waktu maghrib? Ketika satu hari mempunyai dua waktu dengan jam yang sama, bagaimanakah Arab Saudi menuliskan waktu tersebut menggunakan kalender Ummul Qura? Contoh lain, bagaimana sebuah stasiun televisi mengjadwalkan acaranya di sekitar waktu maghrib untuk kasus seperti itu?

        Terhadap point (2) dan point (4), saya masih berharap mendapat pencerahan dari Pak Djamaluddin. Kalau memang kompleksitas tersebut adalah prasyarat yang harus dibayar untuk memakai kalender Hijriyah, dengan berat hati saya hanya bisa menyimpulkan bahwa kalender Hijriyah memang tidak mungkin bisa menyamai kegunannya dengan kalender Gregorian untuk urusan diluar masalah agama.

      • Info tentang kelender Ummul Quro bisa dibaca di http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/ummalqura.htm .
        Ya, Ummul Quro adalah kelender lokal yang berbasis di Mekkah. Saya belum tahu implementasi soal hari yang bermula saat maghrib (ketika berkunjung ke Mekkah, saya tidak sempat memperhatikan TV atau display hari).
        Soal 2 dapat teratasi dengan teknologi (IT). Kalau kriterinya sudah disepakati, kita mudah membuat konversi sampai sekian ratus ke belakang dan sekian ratus ke depan. Misalnya, menggunakan s/w Accurate Time http://www.icoproject.org/accut.html . Dengan S/W kita dapatkan konversi lebih cepat daripada membalik-balikkan kalender cetak. Itu bisa berlaku global. Kuncinya, KESEPAKATAN KRITERIA untuk mendefinisikan garis tanggal.
        Soal 4: hari tidak akan rancu, kita ikuti saja hari menurut kebiasaan berdasarkan kalender matahari, jadi tidak ada perubahan soal hari Jumat. Hanya saja, nanti ada yang (misalnya) Jumatnya 1 Shafar dan ada yang jumatnya 2 Shafar kalau dua lokasi itu terpisah oleh garis tanggal. Pada contoh kasus di atas (gambar ganris tanggal 1 Syawal), hari Selasa di Afrika Selatan = 1 Syawal, sedangkan di Indonesia masih 30 Ramadhan.

      • Saya tidak menemukan hal yang saya tanyakan di halaman yang ditautkan. Penjelasan mengenai Ummul Qura masih sekitar kriteria awal bulan, tidak lebih dari itu. Dan tentu saja saya sudah membaca halaman tersebut sebelum saya menanyakannya kepada Pak Djamaluddin. Kalau informasi dalam level seperti itu sudah bisa mendefinisikan kalender Ummul Qura dengan akurat, maka saya cenderung beranggapan bahwa kalender Ummul Qura belum digunakan seperti layaknya masyarakat internasional menggunakan kalender Gregorian di segala bidang.

        Soal 2 dapat teratasi dengan teknologi (IT). Kalau kriterinya sudah disepakati, kita mudah membuat konversi sampai sekian ratus ke belakang dan sekian ratus ke depan.

        Pertanyaan saya bukan bagaimana mendapat data tanggal yang benar, tetapi konsekuesi yang ditimbulkan oleh kompleksitas sebagai akibat dari garis tanggal yang berubah tiap bulan. Saya menggunakan istilah simulasi dan database sebagai cara satu-satunya untuk medapatkan data tanggal yang benar. Saya sendiri merasakan bagaimana conference call dengan rekan kerja di berbagai time zone kadang membingungkan (meskipun konversi tanggal dan jam cukup mudah), apalagi kalau konversi tanggal ini harus berubah-ubah menurut waktu. Kompleksitas ini akan membuat orang lebih memilih sistem yang lebih praktis dan memberi kepastian, dalam hal ini bukan kalender Hijriyah dengan garis tanggal dinamis.

        Soal 4: hari tidak akan rancu, kita ikuti saja hari menurut kebiasaan berdasarkan kalender matahari, jadi tidak ada perubahan soal hari Jumat.

        Saya menilai rancu, selain karena satu hari dengan dua tanggal, juga karena kalender Hijriyah dengan garis tanggal dinamis dipilih dengan alasan lebih dekat dengan syar’i. Hanya saja, praktek ibadah yang lain (contoh: shalat Jum’at atau praktek ibadah dimana hari raya bertepatan dengan hari Jum’at) ditentukan oleh kriteria non-syar’i karena hanyalah sebatas kesepakatan internasional yang bersifat historis. Selain itu, garis tanggal internasional didefinisikan bukan dikarenakan penggunaan kalender solar (matahari), tetapi dikarenakan bumi yang bulat. Kalender Hijriyah juga bisa menggunakan garis tanggal yang sama, selama tidak terpaku dengan kriteria visibilitas hilal yang bersifat lokal.

  4. Saya orang awam… saya menunggu kesepakatan yang betul-betul bermanfaat bagi umat.

  5. Ass wr wb. Wacana Kalender Hijriyah Global adalah niat yg sangat mulia dan akan menjadi DAKWAH ISLAMIYAH jika grs merahnya senantiasa bertumpu pd RUKUN IMAN. GARIS perubahan hari/tgl bln hijriyah ditentukan berdasarkan penampakan hilal yg setiap bln-nya bergeser. Oleh krn itu, agar didapat dasar utk melangkah maju dlm wacana itu terutama dlm menganalisa GARIS tsb, alangkah baiknya jika peta hisab tiap bln GARIS tsb bisa ditampilkan utk dilihat apakah pola pergeserannya teratur dan bersiklus.Wassww

  6. Ass wr wb. Karena sdh menjadi ketetapan ALLAH SWT, maka Garis perubahan hari/tgl bln hijriyah adalah merupakan jalur wilayah dimana penampakan hilal pertamakali terlihat. Setiap bln GARIS tsb bergeser kearah timur shg bln2 hijriyah global mempunyai jumlah hari yg berbeda utk dua wilayah tertentu. Utk wilayah dr GARIS bulan yg lalu KEBARAT hingga GARIS bulan ini, bln hijriyah berjumlah 30hr. Sedangkan utk wilayah dr GARIS bulan yg lalu KETIMUR hingga GARIS bulan ini, bln hijriyah = 29hr. Wassww

  7. Pak Bambang….nah kalau kita sdh tau pergeseran garis tanggal qomariah tiap bulan secara global (apakah versi wujudul hilal atau versi rukyat), kan tinggal nyusun kalendernya. Dan, kalau Arab Saudi menggunakan hisab WH, semestinya kita juga menggunakan WH supaya tidak terjadi perbedaan penetapan utk hari2 ibadahnya. Saya yakin, kalau Arab Saudi sudah menggunakan WH utk penyusunan kalender hijriyah (meski baru sebatas keperluan administratif), maka ke depannya penetapan hari ibadah pun akan mengikuti kalender yg berdasar hisab WH. Kalau Arab Saudi sdh menggunakan kalender hijriyah berdasar hisab WH (ummul quro), itu berarti Arab Saudi sudah satu kaki (kaki kanan) melangkah ke WH dan tinggal diikuti langkah kaki kirinya (hari ibadah). Ini sebuah kemajuan yang sangat monumental. Saya kira, kita patut memberi apresiasi yang tinggi kpd pemerintah Arab Saudi yang sudah selangkah lebih maju (dibanding negara2 Islam lainnya, termasuk Indonesia – minus Muhammadiyah). Ini menjadi paradoks (meminjam istilah pak Djamaluddin), di satu sisi Arab Saudi barangkali tidak memiliki astronom sekaliber Prof. Thomas Djamaluddin (yg sudah keliling 5 benua dan 46 kota besar dunia) tapi di sisi lain berani menggunakan kalender hijriyah wujudul hilal. Sementara Indonesia yang memiliki banyak pakar astronomi (termasuk mbahnya astronomi ada di sini yakni Prof. Djamaluddin) masih berkutat pada imkan rukyat. Imkan rukyat itu sebuah kajian, boleh-boleh saja. Ibarat kajian penerbangan atar planet, kita baru mengkaji sampai penerbangan ke bulan. Padahal tujuan kita bukan ke bulan, tapi ke Saturnus atau ke Pluto. Bahkan ke Galaksi Andromeda.

    • Kalender Ummu Qura hanya untuk keperluan administrasi, bukan untuk ibadah seperti digunakan oleh Muhammadiyah dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya. Arab Saudi dalam penentapan waktu ibadah mendasarkan pada rukyat. Jadi, bagi mereka kalender ummul qurra bukan hal yang penting. Dalam suatu konferensi astronomi di Uni Emirat Arab saya bertemu dengan Odeh (Audah, koordinator ICOP) dan astronom muda dari Arab Saudi. Mereka menceritakan sulitnya menjelaskan pemahaman astronomi kepada otoritas Arab Saudi. Jadi, para perancang kalender Ummul Qurro memang bukan atas dasar kajian astronomis, tetapi hanya demi kepraktisan. Rincian kalender Ummul Qurro bisa dibaca di http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/ummalqura.htm .

      Untuk bisa memadukan antara kalender dan waktu ibadah, Arab Saudi pasti akan mengarah pada hisab kalender dengan kriteria imkan rukyat, karena mereka tidak akan melepaskan faham rukyatnya. Komunitas Astronomi Arab (antara lain JAS, Jordanian Astronomical Society) sering memberikan masukan. Sedikit demi sedikit mereka pun berubah. WH yang sekarang digunakan adalah hasil perubahan yang dilakukan oleh otoritas Arab Saudi, tetapi itu belum final, karena tujuannya adalah mengarhkan sistem kalender yang kompatibel dengan rukyat.. Lihat proses perkembangan Ummul Quro di http://www.icoproject.org/sau.html

      Upaya untuk mengubah kalender Ummul Quro menjadi kalender yang sesuai dengan kemungkinan rukyat (imkan rukyat) banyak dilakukan oleh praktisi astronomi asal Arab. Antara lain http://www.makkahcalendar.org/index.php

  8. Ass wr wb. Pak Prasojo, utk membuat kalender syamsiah memang hanya berkutat pd pergerakan matahari dan bumi saja, sedangkan utk kalender komariah berkutat pd pergerakan matahari, bumi dan bulan. Oleh krn itu utk membuat kalender hijriyah global diperlukan pengetahuan global yg rinci ttg pergerakan matahari, bumi dan bulan. Dg bekal pengetahuan tsb akan dpt disusun METHODA HISAB YG AKURAT yaitu yg TERBUKTI BENAR setelah dilakukan RUKYAT GLOBAL bhw setiap awal bln memang ada PENAMPAKAN HILAL. Wassww

  9. Masalahnya, Hilal itu terbitnya terjadi hanya saat Maghrib Matahari Terbenam di Ufuk Barat suatu lokasi. Batasan berlaku hilal saat ini adalah seluas 1 Wilayah Hukum Negara. Tergantung luasnya Negara.
    Efek dari bentuk bumi yang bulat, menyebabkan: (1) Maghrib di suatu lokasi dengan lokasi lain tidak mungkin serentak, kecuali yang seposisi; (2) Terbentuknya Cahaya Hilal dimulai pada kondisi-kondisi posisi MATAHARI-BULAN-BUMI sesuai dengan observasi panjang. Sehingga bisa dibuatkan Kriteria yang nantinya bisa membuat Hisab berbasiskan Imkan (Kemungkinan) Rukyat. (3) 1 Wilayah Hukum setiap Negara berbeda-beda. Indonesia luasnya x m^2. Malaysia luasnya y m^2. Rusia luasnya z m^2. Saya tertarik ingin meneliti korelasi antara “WAKTU KEMUNGKINAN HILAL TERUKYAT” dan “LUAS SUATU WILAYAH HUKUM NEGARA”.

    • Ketika dulu zaman kekhalifahan Islam… dan kelak bila terbentuk lagi… InsyaAlloh…

      Semua wilayah muka bumi itu dianggap 1 wilayah Hukum…

      Jadi menurut saya… Sekarang ini… yang harus umat Islam kembangkan itu adalah Kalender Hijriyah dengan Matlak Global…

      Bukan kalender-kalender Hijriyah Lokal berdasar matlak lokal, yang bikin umat Islam antar negara, Penanggalan nya terkotak-kotak dan terpisah-pisah, yang hanya bikin senang musuh Islam dan pendukung Kalender Pagan Romawi saja…

  10. Ass wr wb. Pak Albifitransyah, fokusnya memang utk menerapkan kalender hijriyah global yg berlandaskan Al Qur’an dan Hadist. Jadi penelitian2 semacam itulah yg diharapkan bisa menguak misteri Al Qur’an dan Hadist shg memecah kebuntuan dan kebingungan dlm menerapkan kalender hijriyah global. Bersikukuh mengembangkan teori dg mengabaikan HILAL, PENAMPAKAN HILAL dan RUKYAT adalah tdk lebih dr penggagas kalender syamsiah yg malas, tidak mau repot dan hanya cari praktisnya saja. Wass wr wb,

  11. Ass wr wb. Dg mengabaikan HILAL, PENAMPAKAN HILAL dan RUKYAT, semua pakar astronomi (kecuali pakar PENGEKOR pakar lain) akan dpt mengusulkan teori baru mengenai HISAB penyusunan kalender hijriyah global. Utk membuat kesepakatan satu teori dr sekian banyak teori hisab akan menemui kesulitan krn masing2 pasti bersikukuh dg kebenarannya. Jadi kalau dikembalikan kpd DASAR HUKUMnya yg pasti yaitu Al Qur’a dan Hadist akan terlihat jelas mana yg benar dan mana yg bersikukuh dg kesalahannya. Wass wr wb.

  12. Ass wr wb. Seandainya hidayah ALLAH SWT tdk turun pd generasi sekarang, maka tetaplah istiqomah pd usaha yg tlh dimulai dg tetap berpegang teguh pd IMAN, insya Allah akan ada hidayah pd generasi2 yad. Membuat perubahan memang perlu pengorbanan panjang yg hasilnya belum tentu bisa dinikmati sekarang, apalagi yg diperjuangkan adalah hal yg sebelumnya hrs dipahami dg seksama spt KALENDER HIJRIYAH GLOBAL. Membuat konsep asal2an dg daya pikir instan yg dangkal hanya akan membuang waktu sia2. Wass wr wb

  13. Ass wr wb. Saat ini kita sedang dihadapkan pd dua TEORI ASTRONOMI mengenai BULAN BARU. Yg PERTAMA adalah teori PENAMPAKAN HILAL dr Al Qur’an & Hadist yg menyatakan bhw “bulan baru” dimulai saat HILAL pertamakali dilihat. Teori ini menyajikan PAKET KOMPLIT krn HILAL pertamakali dpt dilihat hanya dr suatu lokasi yg sdh PASTI shg lokasi ini akan menjadi GARIS PERUBAHAN HARI/TGL kalender hijriyah. Disamping itu WAKTUNYA juga PASTI yaitu hanya dpt dllihat selama beberapa menit pd saat MAGRIB. Wassww

  14. Ass wr wb. Al Qur’an dan Hadist yg menguraikan teori “bulan baru” adalah Surah Al Baqarah ayat 189 : Hilal adalah penunjuk waktu bagi manusia. Hadist r.Bukhari,Muslim 653 : Jangan puasa dan jangan berhari raya sehingga kalian melihat hilal, jika tertutup awan maka perkirakanlah. H.R.Bukhari,Muslim 654/655 : Bulan itu ada kalanya 29 dan ada kalanya 30hr. H.R.Bukhari,Muslim 656 : Puasalah dan berharirayalah kalian krn melihat hilal, jika tersembunyi dr pdmu cukupkan bilangan Syakban 30hr. Wass wr wb

  15. Ass wr wb. Teori astronomi mengenai “bulan baru” yg KEDUA adalah teori NEW MOON karangan manusia yg menyatakan bhw bulan baru itu dimulai sejak konjungsi. Dlm teori ini terdpt KETIDAKPASTIAN ttg DIMANA dan KAPAN bulan baru itu hrs dimulai. Jadi teori PERTAMA jelas2 lebih sempurna. Oleh krn itu sebagai Umat Islam yg CERDAS pasti memilih teori yg PERTAMA krn memilih teori yg kedua atau membuat kompromi diantara keduanya sama artinya dg TINDAKAN TIDAK CERDAS dan juga tanda LUNTURNYA IMAN. Wass w w.

    • Kalau kasus nya dalam Penghitungan Waris Islam… Bagaimana cara nya Memecahkan Kasus ini ?… :

      Ahli Waris yang ada… kebetulan hanyalah :
      – 2 orang sdr pr ( jatah warisnya = 2/3)
      – suami (jatah warisnya =1/2)

      Bagaimana TINDAKAN CERDAS dengan IMAN YANG TIDAK LUNTUR dalam memutuskan solusi nya ?…

      .

      Dalam Al Quran jelas banget yang nama nya 2 sdr pr itu adalah 2/3… bukan angka lain…
      si suami adalah 1/2… Bukan angka lain..

      2/3 + 1/2 adalah 1 + 1/3…
      Dari mana kita dapat yang 1/3 nya…

      Pinjam ke tetangga ?…

      .

      (… mohon maaf saya bawa-bawa kasus waris… tidak lain hanyalah
      sebagai pertimbangan pemikiran kita untuk melihat bagaimana cara para sahabat dahulu mencari solusi untuk sebuah permasalahan agama yang belum ada pada zaman Nabi …
      dalam hal ini Permasalahan Penetapan Awal Bulan Hijriyah untuk Kalender Global …)

  16. Ass wr wb. Pak Ivan, dlm Surah An Nisaa ayat 11 saya temukan bhw “jika anak itu semuanya perempuan lebih dr 2, maka bagi mereka 2/3 dr harta yg ditinggalkan” dan selanjutnya adalah “Dan utk dua org ibu-bapa, bagi masing2nya 1/6 dr harta yg ditinggalkan”. Jadi artinya utk ibu-bapa adalah 2 x 1/6 = 1/3, bukan 1/2 spt yg diuraikan Pak Ivan. Wass wr wb.

  17. Ass wr wb. Maaf saya keliru mengutip mengenai ibu-bapa, seharusnya adalah dlm Surah An Nisaa ayat 12 saya temukan bhw “Jika isteri2mu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat 1/4 dr harta yg ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yg mereka buat dan sesudah dibayar hutangnya”. Jadi artinya suami mendapat 1/4 bukan 1/2 spt yg diuraikan Pak Ivan. Wass wr wb.

    • Pa Bambang, tadi nya saya mengira pa Bambang sudah tahu masalah Waris ini… soalnya pa Bambang bisa dengan “hebat” mengatakan bahwa orang yang menggunakan HISAB (bukan Rukyat) adalah orang yang LUNTUR IMANNYA…

      Padahal Ulama pada zaman Tabi’in dulu pun sudah ada yang memperbolehkan Penggunaan Hisab dalam penetapan awal Bulan Hijriyah…
      Hisab bahkan dengan Kriteria sederhana berdasarkan Ijtima’ (konjungsi) saja…
      Tidak seperti Kriteria Imkan Rukyat zaman sekarang…

      (tapi saya sudah terbuka… bisa saja Kriteria IR digunakan (tidak harus tetap kriteria WH), asal berlaku untuk seluruh muka bumi dengan cukup hanya melihat Koordinat Ka’bah saja)…

      .

      Kembali ke soal waris,

      Kalau ahli waris yang ada itu Hanya 2 sdr perempuan dan suami… itu artinya yang meninggal adalah seorang Istri yang Kalalah… sudah tidak punya orang tua dan tidak punya anak kandung…

      Tapi sudahlah… seperti nya kepanjangan kalau kita membahas masalah ini…

      .

      Inti nya… saya itu ingin mengajak pa Bambang agar bisa mempertimbangkan solusi-solusi sebuah Permasalahan Agama di luar dari apa yang tertulis dalam Al Quran dan Hadist… Tapi bukan berarti meninggalkan Al Quran dan Hadist…
      Contoh nya pada solusi Metoda Aul Zaid bin Tsabit ra dalam kasus Waris…

      Salam

  18. Ass wr wb. Pak Ivan, ada yg perlu saya luruskan mengenai LUNTURNYA IMAN, yaitu saya tdk pernah menulis bhw “orang yg menggunakan hisab (bukan rukyat) adalah orang yg luntur imannya”, mohon dicermati kembali postiingan saya. Yg saya maksud dengan TANDA LUNTURNYA IMAN adalah bila melakukan HISAB dg lebih meyakini menentukan “bulan baru” berdasarkan teori NEWMOON dr pd mengimani “bulan baru” berdasarkan teori PENAMPAKAN HILAL dr Al Qur’an dan Hadist. Wass wr wb.

    • Pak Bambang, Ulama Terdahulu (zaman Tabi’in) sudah ada yang memperbolehkan Penetapan Awal Bulan Hijriyah dengan Hisab…

      Padahal hisabnya sendiri mempergunakan HANYA kriteria Ijtma’ saja atau bahkan Kriteria “Moonset After Sunset” saja… Bukan kriteria berbasis Keterlihatan Hilal…

      Apakah Ulama Terdahulu itu Luntur juga Iman nya ?…

      .

      Sebaiknya kita memperluas wawasan mengenai Ilmu Astronomi, Hisab dan Ilmu Bumi… Jadinya bakal Bisa tahu Keanehan Garis Batas Tanggal Internasional, kapan terjadi Gerhana dan lain-lain…
      Asyik lho pak… :)

      Saya juga di sini menimba ilmu dari pak Thomas… Hitung-hitung kuliah Astronomi tidak usah bayar… walaupun seringnya berbeda pendapat dengan pak Thomas… :)

      Cuma sayangnya… beliau baru berani nya mengeritik Muhammadiyah saja… saya lihat belum berani mengeritik yang lain…

      Mungkin karena beliau menganggap MD itu sahabat karib beliau…
      Kalau sahabat karib mah kan kadang kita bisa bebas saling kritik atau bahkan saling ledek… :D

  19. Ass wr wb. Sedangkan mengenai waris, memang ada lbh dr 1 kasus dan yg paling populer adalah seorang istri yg meninggal mempunyai 1 suami, 2 anak perempuan, 1 ibu, dan 1 bapak, Maka hak warisnya adalah suami = 1/6, 2 anak perempuan = 2/3 = 4/6, ibu = 1/6, bpk = 1/6 dan jumlahnya = 1/6 + 4/6 + 1/6 + 1/6 = 7/6 yg berarti lebih dr harta yg ada. Kondisi ini merupakan JALAN BUNTU SAMA SEKALI dimana tidak ada seorangpun sanggup menerapkannya. Krn itu ALLAH SWT menurunkan hidayahnya melalui fukaha. Wassww

  20. Ass wr wb. Maaf saya salah mengutip hak waris suami, shrsnya 1/4 shg bag msg2 ahli waris adalah : suami=1/4=3/12, 2 anak perempuan=2/3=8/12, ibu=1/6=2/12 dan bpk=1/6=2/12, jumlahnya=3/12+8/12+2/12+2/12=15/12 (melebihi jumlah harta peninggalan). Hidayah ALLAH SWT yg diturunkan berupa ilmu hitung yg disebut ‘AUL yaitu dg mengurangi bagian setiap ahli waris secara adil. Caranya dg menormalkan hasil penjumlahan 15/12 menjadi 15/15 atau penyebut disesuaikan dg pembilangnya menjadi 15. Wass wr wb.

  21. Ass wr wb. Selanjutnya penyebut baru itu (angka 15) digunakan utk mengganti penyebut setiap hak ahli waris menjadi : suami=3/15, 2 anak perempuan=8/15, ibu=2/15 dan bpk=2/15 shg jumlahnya=3/15+8/15+2/15+2/15= 15/15 (tdk melebihi jumlah harta peninggalan). Penyelesaian kasus ini berada dlm situasi SUDAH TDK ADA HARAPAN LAGI utk menerapkan teori pembagian waris yg ada, sedangkan utk menerapkan teori PENAMPAKAN HILAL ttg “bulan baru” insya Allah MASIH ADA HARAPAN asal tdk ada kata putus asa. Wass ww.

    • Pak Bambang ini bercanda saja… :)

      Penyelesaian kasus waris berada dalam situasi Sudah Tidak Ada Harapan Lagi ??…

      Perhitungan Allah swt itu Maha Sempurna pak… Allah swt sudah memperhitungkan dengan cermat semua nya…
      Solusi Zaid bin Tsabit ra itu bukan Solusi Perhitungan “SUDAH TDK ADA HARAPAN LAGI”…

      TAPI penghitungan itulah yang dimaksudkan Allah swt dalam Perhitungan Nya !… PENGHITUNGAN RELATIF !…

      .

      Begitu juga dengan Penghitungan Penetapan Penanggalan Hijriyah…

      Matahari dan Rembulan itu adalah Untuk Dihitung !

      5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
      (QS Yunus 10 : 5)

      96. Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
      (QS Al An’am 6 : 96)

      5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
      (QS Ar Rahman 55 : 5)

      .

      Kesatuan Kalender Hijriyah Global itu sudah diusahakan sejak lama…
      Kalau dihitung dari Konferensi Kalender Islam di Turki (1978)… berarti sampai sekarang, SUDAH 34 TAHUN !…

      Lalu bagaimana hasil nya ?… BELUM ADA !…

      ( bandingkan dengan “Seminar” antara Khalifah Umar bin Khattab ra dan para Sahabat…
      Paling itu ahli waris menunggu nya cuman sehari, tidak akan sampai berbulan-bulan / bertahun-tahun… )

      .

      Mengapa itu bisa terjadi… Usaha sudah 34 Tahun tapi belum juga menghasilkan Kalender Hijriyah Global ?…

      Sebabnya menurut saya adalah :
      Umat Islam terbelenggu “Hilal Harus Berhasil Terlihat Mata”… (Berhasil Rukyat atau tidak sama sekali)
      Sudah begitu, makin parah saja dengan ditambah faktor Matlak Lokal… ==> Keberhasilan Terlihat Hilal itu harus di Matlak Masing-masing… sehingga orang Islam di suatu Matlak Tidak Boleh “Ikut Menumpang” di Matlak Lokal orang lain…

      Maka… jadilah seperti kita sekarang ini…
      Orang Mekah bikin kalender Hijriyah… orang Indonesia bikin juga… Malaysia bikin juga… Muslim Amerika bikin juga… Muslim Polinesia bikin juga… :(

      .

      Solusi nya menurut saya adalah :

      1) Menggunakan Konsep Matlak Global
      Melihat seluruh Muka Bumi sebagai satu kesatuan ==> 1 planet !… dari wilayah Khatulistiwa sampai kutub… dari 180° bujur Timur sampai 180° bujur Barat…

      Konsekuensi dari Satu Kesatuan Matlak Global adalah ==> Seluruh wilayah muka bumi CUKUP DIWAKILI 1 KOORDINAT saja…
      Yaitu Koordinat Pusat !… Koordinat Ka’bah Al Mukaromah di Mekah…

      Kalender Hijriyah di Mekah Al Mukaromah cukup untuk Seluruh Dunia… dan bisa digunakan seluruh Muslim di mana pun ia berada…

      2) Menggunakan Perhitungan Hisab Astronomi, Tanpa perlu menunggu Laporan Rukyat
      Sehingga Kalender Hijriyah bisa ditetapkan jauh-jauh hari untuk seluruh Muka Bumi…

      Bila kita tetap menunggu Laporan Rukyat, wilayah-wilayah yang jauh di sebelah Timur Mekah harus menunggu sampai pagi, menunggu Keputusan di Mekah…
      Bila di Mekah, hasil Keputusan diumumkan jam 20.00 waktu Mekah… maka di Kiribati sudah jam 5 pagi…
      Bila waktunya menjelang Idul Fitri… muslim Kiribati akan bingung ketika menunggu Keputusan di Mekah… apakah malam ini masih Shalat Tarawih atau harus sudah mulai Takbir…

      3) Kriteria Hisab Awal Bulan Hijriyah yang digunakan adalah Kriteria Imkan Rukyat “Need Optical Aid” dalam Kriteria IR Odeh
      Wilayah muka bumi yang berwarna Biru dalam Software Accurate Times…

      Allah swt sudah memberi hidayah kepada Muhammad Odeh, sehingga bisa membuat Software Hisab yang mempermudah kita melakukan Perhitungan Hisab dengan hasil yang InsyaAlloh akurat… Mari kita gunakan ini…
      Walaupun tidak menutup kemungkinan Software tersebut bisa lebih disempurnakan… misalnya dengan menggabungkan nya dengan Software Stellarium…

      4) Menggunakan Garis Batas Tanggal Hijriyah Global yang TETAP
      Yaitu = Garis Batas Hari Internasional yang ada sekarang… yaitu di sekitar Kiribati / Samoa…

      Mengapa Garis Tanggal Hijriyah harus = Garis Hari ?…
      Sebab bila tidak sama… akan ada lebih dari 1 Kalender Hijriyah…

      Bahkan apalagi kalau Garis Tanggal Hijriyah harus selalu sesuai dengan Garis Penampakan Hilal yang tidak sejajar Garis Bujur (berkelok-kelok)… ada kemungkinan Kalender Hijriyah suatu Tahun bisa lebih dari 2…

  22. Ass wr wb. Mengenai Ulama terdahulu (zaman Tabi’in) yg memperbolehkan penetapan awal bulan hijriyah dg hisab yg menggunakan teori selain teori Penampakan Hilal dr Al Qur’an dan Hadist, kalau itu memang benar adanya, saya kira pasti ada alasan yg dpt dipertanggungjawabkan mengapa beliau2 meninggalkan ajaran Al Qur’an dan Hadist ttg Penampakan Hilal dan lebih memilih menggunakan ajaran yg lain. Dan mengenai ajakan Pak Ivan utk menambah wawasan, memang itulah yg sedang saya lakukan dlm blog ini. Wass

  23. Ass wr wb. Pak Ivan, mengenai situasi SUDAH TIDAK ADA HARAPAN LAGI, yg saya maksudkan adalah dlm rangka menerapkan pembagian waris secara apa yg TERTULIS dlm Al Qur’an krn ada ketentuan Allah SWT yg masih tersembunyi, shg mau tidak mau hrs mencari hidayah Allah SWT berupa solusI diluar dr apa yg tertulis dlm Al Qur’an. Lain halnya dg penerapan ajaran Al Qur’an ttg PENAMPAKAN HILAL secara harfiah MASIH ADA HARAPAN, shg belum perlu mencari solusi spt itu utk membuat kalender hijriyah global.Wassww

  24. Ass wr wb. Dan mengenai meNgapa sampai berpuluh- tahun belum juga berhasil membuat kalender hijriyah global, jika dipandang dr sisi lain bukanlah disebabkan karena terbelenggu “hilal hrs terlihat mata”, melainkan justru krn banyak yg KEHABISAN AKAL shg mencari solusi diluar dr apa yg tertulis dlm Al Qur’an dan Hadist. Dan karena banyaknya solusi yg diusulkan dimama masing2 bersikukuh dg kebenarannya maka tdk pernah menghasilkan solusi yg disepakati bersama. Jadi janganlah KEHABISAN AKAL, Wass w w.

  25. Asswrwb. Dgn demikian diantara solusi2 yg pak Ivan usulkan, yg masih berada dlm batas2 apa yg tertulis dlm Al Qur’an hanyalah solusi 1 “Menggunakan konsep matlak global”(tapi uraiannya bukan spt yg diuraikan pak Ivan) dan solusi 3 “Kriteria hisab awal bln hijriyah adalah kriteria Imkan Rukyat NEED OPTICAL AID dlm kriteria IR Odeh”. Sedangkan solusi 2 “Menggunakan perhitungan hisab astronomi, tanpa menunggu laporan rukyat”, hrs dibuktikan dg “hasil rukyat tiap bulan” dan solusi 4 tdk termasuk.Wass.

    • Waalaikum salam wr wb, Pak Bambang, mungkin bisa menjelaskan :

      1) Bagaimana uraian Konsep Matlak Global menurut pak Bambang ?…
      Bagaiman Teknis nya ?…

      .

      2) Untuk Solusi no. 2, menurut saya Perhitungan Hisab Astronomi itu sudah mewakili Rukyat… Sebab data-data astronomi yang dipakai mengenai posisi-posisi benda langit (termasuk bulan dan matahari) adalah Hasil Rukyat (pengamatan) selama beratus-ratus tahun

      Kalau tetap harus selalu menggunakan Metoda Menunggu Laporan Rukyat Hilal… Kalender Hijriyah untuk 1 tahun pun tidak akan pernah bisa dibuat…
      Kalender Hijriyah Global Hanya akan menjadi Kalender Dadakan tiap Bulan…

      .

      3) Solusi no 4 kenapa tidak bisa ?… Kita anggap saja kasusnya sama seperti antara Hak Waris 2 sdr pr yang 2/3 BERKOMPROMI dengan Hak Waris suami yang 1/2…

      Sebab kalau tidak begini… Harus selalu Garis Tanggal itu = Garis Penampakan Hilal ==> Hasil nya akan ada lebih dari 2 Kalender Hijriyah Global yang ada… bisa 3 bahkan mungkin 4…

  26. Asswrwb. Mengenai konsep matlak global adalah benar spt diawal uraian pak Ivan yaitu “melihat seluruh muka bumi sebagai satu kesatuan (1 planet)”, TETAPI tdk perlu ditunjuk 1 koordinat sebagai wakil krn pd akhirnya bisa membuat semua matlak lokal hrs tunduk pd matlak lokal koordinat tsb. Dan mengenai solusi 2 hrs dibuktikan dg hasil rukyat tiap bln, maksudnya agar tdk mengabaikan yg tertulis dlm Hadist yaitu RUKYAT (melihat hilal). Dan Rukyat Global hanya dilakukan di grs penampakan hilal.Wassww.

    • Pak Bambang,
      Tidak ikhlas kah pak Bambang bila merujuk kepada :
      Koordinat Kiblat Umat Islam sedunia… Koordinat Tempat Suci yang Mulia ?

      Ini bukan sembarang Matlak Lokal pak…
      Merujuk kepada Koordinat Ka’bah… adalah bukan saja Tempat tersebut adalah Kiblat Kita Umat Islam… tapi juga karena posisi nya yang Tengah-tengah…

      .

      Kalau lokasi yang dijadikan patokan hilal dibebaskan seadanya…
      Ketika kebetulan Hilal terlihatnya baru di Ekuador Amerika Selatan ( Misalnya pada Hilal untuk Syawwal 1437 – Hilal 04/07/2016 Senin Malam – perhitungan Software Accurate Times)… Maka :
      Ketika di Ekuador, Keberhasilan Rukyat Hilal diumumkan ke seluruh dunia jam 19.00 Senin malam (misalnya)… Mekah sudah jam 3.00 Selasa pagi, Kiribati sudah jam 12.00 Selasa Siang…

      – Bila menggunakan Rukyat ==> dapat dipastikan, betapa kalang kabutnya persiapan Shalat Ied di Mekah dan Kiribati (dan juga negara-negara lain nya)… mana tadi malam nya tidak takbiran… atau bahkan mungkin juga tidak Shalat Tarawih, karena bingung apakah harus masih Tarawih atau mulai Takbiran… akhirnya tidak dua-duanya… :(

      – Bila menggunakan Hisab ==> Akan banyak Wilayah di muka bumi pada hari itu yang Hilal saat magrib di tempat tersebut belum wujud…

      .

      Menurut saya,
      Penetapan Awal Bulan Hijriyah BERBEDA dengan Penetapan Jadwal Shalat :

      – Penetapan Jadwal Shalat ==> untuk suatu lokasi…
      – Penetapan Tanggal ==> untuk seluruh bumi, yang hubungan nya adalah dengan hari…

      Secanggih apapun Peralatan Pemantau Hilal / Seakurat apapun Perhitungan Astronomi / Sebaik apa pun si Perukyat…
      Apabila hasilnya Pada Kalender Hijriyah Global adalah :
      Suatu Tanggal yang Berbeda Hari nya di tempat yang satu dengan tempat yang lain ==> Hasilnya adalah Kekacauan Administrasi…

      .

      Contohnya Tahun 1433 Hijriyah, bila :

      1. Muharram
      tgl 1 – Amerika – Jumat malam Sabtu siang –> Sabtu 26 Nopember 2011
      tgl 1 Mekah – Sabtu malam Ahad siang —> Ahad 27 Nopember 2011

      2. Shafar
      tgl 1 – Mekah – Ahad malam Senin siang –> Senin 26 Desember 2011
      tgl 1 Amerika – Ahad malam Senin siang –> Senin 26 Desember 2011

      Maka :
      – Kalender Hijriyah 1433 Amerika, bulan Muharram nya akan bertanggal s.d 30
      – Kalender Hijriyah 1433 Mekah, bulan Muharram nya akan bertanggal s.d 29

      Ketika orang Amerika mengajak Orang Mekah mengadakan pertemuan singkat dadakan di London tgl 3 Muharam jam 14.00 waktu London (misalnya)…
      Orang Amerika akan datang hari Senin… sedangkan Orang Mekah datang hari Selasa…

      .

      Kesimpulan :
      Garis Tanggal = Garis Hari ==> adalah Suatu Kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar…

  27. Asswrwb. Jadi dg solusi 2, kalender hijriyah global sdh bisa dibuat tanpa menunggu rukyat global setiap bln yg hanya berfungsi sebagai pelengkap berupa bukti penampakan hilal. Sedangkan mengenai grs perubahan hari/tgl bln hijriyah tdk bisa dibuat tetap krn secara otomatis adalah grs penampakan hilal yg dinamis bergerak teratur kearah timur.Mengabaikan grs penampakan hilal ini sama halnya kehabisan akal dlm menghadapi misterinya, padahal misteri itu adalah obyek penelitian yg sangat menantang,Wass

  28. Asswrwb. Pak Ivan, semua umat Islam pasti berkehendak agar Ka’bah menjadi pusat segalanya, tapi hrs dipertimbangkan dg cermat pd bidang2 mana yg dpt dipertanggungjawabkan, Misalnya MMT hanya utk kalender syamsiyah, Ketika Equador memasuki 1 Syawal 1437 pd saat magrib,Senin.4-7-2016 maka takbiran malam harinya dan sholat Ied pagi,Selasa,5-7-2016. Sedangkan utk Mekkah dan Kibrati baru memasuki 1 Syawal 1437 pd saat magrib,Selasa,5-7-2016, takbiran malam hari dan sholat Ied pagi,Rabu,6-7-2016.Wassww

    • Menurut saya,
      Solusi dari Pak Bambang itu walaupun sah secara syar’i, bagi Wilayah Lokal Ecuador…

      Namun ketika yang sedang kita bicarakan itu adalah Matlak Global untuk Kalender Hijriyah Global…
      Solusi tersebut BUKAN lah SOLUSI untuk Kalender Hijriyah Global… Malah menjadi Penghambat bagi Terbentuknya Kalender Hijriyah Global yang bisa dipergunakan untuk seluruh Dunia…

      Jangan lupa… Selain Garis Batas Penampakan Hila itu berkelok-kelok tidak sejajar Garis Bujur…
      Garis Batas tersebut pun berubah-ubah Tempat dan Kelokan nya pada setiap bulan, TIDAK TETAP… Sehingga Negara-negara yang terpisah oleh Garis Batas pun tidak sama tiap bulan nya…
      Hasilnya ==> semakin banyak saja Variasi Kalender Hijriyah antar tiap Negara yang kebetulan terpisah oleh Garis Batas…

      Solusi pak Bambang Tersebut Selalu akan menghasilkan lebih dari 2 Kalender Hijriyah suatu Tahun… bisa 3 bahkan mungkin 4…

      .

      Dalam sebuah Kalender Global untuk Administrasi (dan seharusnya untuk Ibadah pun Bisa)… yang nama nya Tanggal itu adalah Identik dengan Hari…

      Ketika Seluruh muka bumi ada dalam 1 Kesatuan Matlak yang sama ==> maka Kesamaan hari dan tanggal di seluruh Dunia adalah suatu keharusan…
      Ketika Tanggal 1 di suatu tempat adalah hari Ahad… Maka di Seluruh Muka Bumi, hari Ahad tersebut adalah tgl 1…

      .

      Adanya Perbedaan Hari pada suatu tanggal yang sama ==> Itu Artinya Kalender Hijriyah yang ada adalah BUKAN Kalender Hijriyah Global
      Sebab Kalender Hijriyah yang ada dapat dipastikan akan Lebih dari 1…
      Itu menurut saya, yang seharusnya dipahami…

      Selalu Mentah nya usaha umat Islam menyatukan Kalender Hijriyah Dunia dalam 1 kesatuan selama sedikitnya 34 tahun ini… penyebabnya adalah Hal Tersebut, yaitu :
      Adanya KeTidak Samaan Hari pada suatu Tanggal… Akibat dari Terlalu Berorientasi nya kepada KeTerlihatan Hilal pada setiap Matlak Lokal…

      .

      Solusi nya menurut saya :
      IKHLASnya kita umat Islam seDunia untuk merujuk kepada 1 Koordinat saja dalam Penetapan Kalender Hijriyah Global… yaitu Koordinat Ka’bah di Mekah… dengan menggunakan Kriteria Imkan Rukyat “Need Optical Aid” dalam Kriteria IR Odeh…

      Pilihan Kriteria ini adalah pilihan Logis, sebab :
      Bila tetap menggunakan Kriteria WH untuk Matlak Global berbasis Ka’bah, ada kemungkinan terlalu banyak tempat di sebelah Timur Mekah yang Hilal nya belum Wujud sama sekali…

      .

      Perkara nantinya ada sebagian muslim Ekuador tetap ngotot berIdul Fitri pada hari Senin, sedangkan Mayoritas Umat Islam Dunia pada hari Selasa…
      Kita hormati saja…

      (seperti sekarang… NU dan Ormas lain Menghormati Muhammadiyah yang berbeda idul fitri dengan yang lain di Indonesia… :) )

      Namun TETAP dalam Kalender Hijriyah Global Resmi… dicantumkan nya 1 Syawwal itu adalah hari Selasa…

  29. Asswrwb. Mengenai und pertemuan di London tgl 3 Muharam 1433 jam 14.00, semua orang seharusnya tahu bahwa saat itu di London adalah hari Senin,29-11-2011. Grs penampakan hilal setiap bln hijriyah hanya berlaku utk bln berkenaan saja krn bln berikutnya akan pindah ketimur. Jadi setiap bulan disamping wilayah2 yg tlh memasuki hr ke 30, akan ada wilayah yg masih berada pd hari ke 29 sdh hrs memasuki awal bln berikutnya. Inilah yg menjelaskan Hadist ttg bln itu adakalanya 29 dan adakalanya 30 hr. Wass

    • Menurut saya, Keteraturan yang Ditetapkan Allah swt itu adalah Keteraturan yang Kompleks…

      Bumi itu kan bulat… Ketika kurva zona hilal bulan berikutnya pindah ke timur, nantinya balik lagi dari barat… Kurva zona-zona hilal itu pun kadang ada di tengah, kadang “naik” ke arah utara, kadang “turun” ke arah selatan… tidak tetap tempat nya…
      Bisa kita lihat di Software Accurate Times…

      .

      Ketika kita ingin menjadikan Kalender Hijriyah sebagai Kalender Administrasi Dunia…

      Kalender Masehi (Syamsiah) mah kita masukkan ke dalam laci dulu… kita hanya menggunakan nya untuk keperluan Bercocok tanam dan Menangkap ikan di laut… :)

  30. Asswrwb. Karena grs perubahan hari/tgl kalender hijriyah berbeda utk setiap blnnya maka kalender hijriyah setiap blnnya hrs memuat daftar negara2 mana saja yg mengawali memasuki awal bulan spt contoh dlm peta Garis tanggal 1 Syawal 1432 yg diusulkan pak Prof.Thomas D dlm artikel diatas. Dgn demikian akan terlihat jelas negara2 tsb dan negara2 disebelah baratnya akan sampai 30hr sedangkan negara2 pd grs perubahan hari/tgl bln berikutnya dan disebelah baratnya hingga grs tgl yg lalu hanya 29hr.Wass

    • Pak Bambang,
      Ketika kita sedang Membicarakan Kalender Administrasi Global… Solusi dari pak Bambang itu akan “manis di atas kertas”… tapi bakal “pahit di lapangan”… :)

      Ketika digunakan untuk jadwal-jadwal padat antar negara, seperti Jadwal Penerbangan yang sibuk antar Negara… akan sangat sangat sangat Menyusahkan…

      Garis Batas Tanggal Internasional sekarang saja, yang :
      – Tetap Tempat nya
      – Sama Hari nya
      – Berada di Wilayah yang “Tenang” seperti wilayah Polinesia…
      Sudah bikin susah (sering salah pengertian)…

      Apalagi Garis Batas Tanggal berdasarkan Penampakan Hilal !… :
      – Sudah Tidak Tetap Tempat nya
      – Hari nya menjadi Tidak Sama
      – Berada di wilayah yang “Sibuk”

      Hasilnya ==> Sangat Kacau… :(

  31. Asswrwb, Maaf ada kesalahan teknis, TERTULIS : “saat itu di London adalah hari Senin,29-11-2011″, SEHARUSNYA : “saat itu di London adalah hari Selasa,29-11-2011″. Wasswrwb.

  32. Asswrwb. Pak Ivan, mengenai ilustrasi ttg Equador, jika kalender hijriyah global sdh diterapkan maka kalender masehi dg IDLnya hrs diabaikan. Artinya kalau 1 Syawal 1437H dimulai saat magrib hari Senin maka ketika esok paginya sholat Ied, “hari”nya belum berubah “masih” hr Senin. Hari dan tgl baru akan berubah menjadi Selasa, 2 Syawal 1437H pd saat “magrib” berikutnya. Jadi perubahan hari tdk berdasarkan IDL melainkan sama dgn tgl hijriyah berdasarkan grs perubahan hari/tgl bln hijriyah. Wassww

  33. Asswrwb. Kemudian mengenai pemahamam matlak global adalah jika penampakan hilal terjadi di Equador saat magrib hr Senin,1 Syawal 1437H maka pd saat itu tdk serentak seluruh permukaan bumi memasuki hr/tgl tsb melainkan secara berturut2 wilayah2 disebelah barat Equador “baru” memasuki hr /tgl tsb pd saat “magrib diwilayah masing2″ sesuai pergerakan semu matahari hingga kembali ke magrib berikutnya di Equador yg berarti memasuki hr Selasa,2 Syawal 1437H. Demikian seterusnya sampai hr ke 30. Wasswrwb

  34. Asswrwb. Setelah Equador memasuki hr Selasa,30 Syawal 1437H diikuti secara berturut2 oleh wilayah2 disebelah baratnya, maka penampakan hilal bln berikutnya (Dzulqo’idah) tdk terjadi di Equador melainkan terlihat hilal pd saat magrib di lokasi sebelah timurnya. Krn itu lokasi ini akan menjadi grs perubahan hr/tgl bln Dzulqo’idah dan dr lokasi ini saat magrib dimulai hr Rabu,1 Dzulqo’idah 1437H diikuti wilayah2 disebelah baratnya secara berturut2. Demikian hingga akhir bln dst. Wasswrwb.

  35. Pak Bambang….judul tulisan ini sudah mengisyaratkan perlunya kesepakatan garis tanggal. Kalau Equador jadi garis tanggal, bagaimana negara2 tetangganya yang secara garis bujur terbelah oleh wilayah Equador paling timur? Misal Equador paling timur tepat di garis bujur 150 derajat bujur barat. Lalu, bagaimana untuk negara2 yang terbelah oleh garis bujur 150 derajat bujur timur? Terpaksa untuk satu bulan saja kita harus membuat satu garis batas tanggal. Dalam satu tahun berarti kita akan membuat 12 batas garis tanggal. Mending kalau garis hilal itu berulang secara tetap yang berarti kita cukup membuat 12 garis tanggal. Lah kalau kenampakan hilal berubah-ubah terus, maka setiap tahun kita akan membuat 12 garis tanggal, dan garis tanggal tahun ini mungkin akan tidak dapat kita gunakan untuk garis tanggal tahun berikutnya. Wah….njlimet. Ujung-ujungnya masing2 negara membuat kalendernya sendisi saja, pasti aman.

  36. Ralat, seharusnya : Bagaimana untuk negara2 yang terbelah oleh garis bujur 150 derajat bujur barat?

    Bukan : bujur timur

    • Asswrwb. Pak Prasojo, itulah fakta atau ketetapan Allah SWT bahwa Grs perubahan hari/tgl bln hijriyah hanya berlaku utk bln berkenaan, jadi memang benar kalau membuat kalender 100 th ya hrs dibuat 100 x 12 = 1.200 Grs perubahan hari/tgl bln hijriyah. Utk membuat Garis tanggal 1 Syawal 1432 spt contoh yg dibuat oleh Pak Prof.T Djamaluddin diatas tidak terlalu sulit shg jika dibarengi dg NIATyg kuat utk mewujudkan kalender hijriyah global maka beribu-ribu Grs perubahan hari/tgl akan bisa dibuat. Wasswrwb.

      • NIAT saja tidak cukup pak…

        Kalender Hijriyah Global itu buat Digunakan, Bukan cuma buat pajangan… :(

  37. Pak Bambang….menurut saya ini ribet dan justru membingungkan. Misalnya hilal terlihat di garis bujur 125 derajat bujur timur. Ini akan membelah Indonesia, benua Australia, Philipina, Korea dan China. Pertanyaannya, negara2 itu otomatis masuk tanggal baru atau bagaimana? Terus bagaimana dengan Papua New Guinea? Malaysia? Singapura? Ini baru untuk kawasan yang jumlah negaranya sedikit. Bagaimana ketika hilal terlihat di kawasan yang negaranya banyak, misalnya di garis bujur 25 derajat bujur timur, yang akan membelah Afrika dari utara ke selatan dan membelah negara2 Eropa Timur? Wah….berarti kita akan banyak sekali rapat untuk membahas negara2 mana yang masuk dulu dan yang masuk belakangan. Kalau ini mah….nggak usah kalender global. serahkan saja ke masing2 negara….beres, seperti yang sekarang ini.

  38. Pak Bambang,

    Panjang Bujur Timur 180º dan Bujur Barat 180º Planet Bumi menyebabkan ==>
    – Tiap lokasi berbeda 180º, maka berbeda 12 jam
    – Tiap lokasi berbeda 15º, maka berbeda 1 jam
    – Tiap lokasi berbeda 1º, maka berbeda 4 menit
    – Tiap lokasi berbeda 15′, maka berbeda 1 menit

    Ketika di Mekah adalah Waktu nya untuk Shalat Jumat, TIDAK MUNGKIN :
    – di sebelah 15º sebelah Timur Mekah = hari Sabtu, atau
    – di sebelah 15º sebelah Barat Mekah = hari Kamis

    Lokasi yang berdekatan dengan Mekah (yang sejak zaman dari adanya Manusia, orang di wilayah tersebut kemudian selalu saling berhubungan satu sama lain ke arah Timur dan Barat dengan Mudah) Tidak mungkin berbeda hari dengan Mekah !… Tidak akan mungkin ada perbedaan Persepsi Hari…

    Seandainya Ibadah Pekanan Shalat Jumat ini sudah ada sejak Nabi Adam as (yang bertempat tinggal di daerah Mekah), kemudian diikuti oleh anak cucu keturunan nya…
    Ketika anak keturunannya mengadakan perjalanan (menyebar) ke Timur dan ke Barat, mereka akan mengingat Informasi Hari Jumat ini dalam benak mereka… Dan Informasi Hari ini akan disampaikan Turun Temurun ke anak cucu mereka…
    (Dari Informasi Sejarah yang ada, Hawaii Seharusnya lah menjadi Wilayah Tertimur Perubahan Hari Dunia… Bukan di Kiribati / Samoa…
    Dan ini cocok dengan Tempat tinggal manusia Pertama, Adam as, yang tinggal di daerah Mekah, sebagai Pusat Timur dan Barat, 0º Garis Bujur Bumi)

    .

    Katakanlah yang namanya hari Jumat adalah dari sejak Magrib dan yang namanya jam 18.00 sekarang = jam 00.00 Islam,
    sehingga Jika di Mekah adalah jam 12.00 Jumat (waktu Dzuhur) = jam 18 Islam, maka :

    15º sebelah Timur Mekah = jam 19.00 Jumat
    30º sebelah Timur Mekah = jam 20.00 Jumat
    45º sebelah Timur Mekah = jam 21.00 Jumat
    60º sebelah Timur Mekah = jam 23.00 Jumat
    75º sebelah Timur Mekah = jam 00.00 Sabtu

    90º sebelah Timur Mekah = jam 1.00 Sabtu
    105º sebelah Timur Mekah = jam 2.00 Sabtu
    120º sebelah Timur Mekah = jam 3.00 Sabtu
    135º sebelah Timur Mekah = jam 4.00 Sabtu
    150º sebelah Timur Mekah = jam 5.00 Sabtu
    165º sebelah Timur Mekah = jam 6.00 Sabtu
    180º sebelah Timur Mekah = jam 7.00 Sabtu

    15º sebelah Barat Mekah = jam 17.00 Jumat
    30º sebelah Barat Mekah = jam 16.00 Jumat
    45º sebelah Barat Mekah = jam 15.00 Jumat
    60º sebelah Barat Mekah = jam 1400 Jumat
    75º sebelah Barat Mekah = jam 13.00 Jumat
    90º sebelah Barat Mekah = jam 12.00 Jumat
    105º sebelah Barat Mekah = jam 11.00 Jumat
    120º sebelah Barat Mekah = jam 10.00 Jumat
    135º sebelah Barat Mekah = jam 9.00 Jumat
    150º sebelah Barat Mekah = jam 8.00 Jumat
    165º sebelah Barat Mekah = jam 7.00 Jumat
    180º sebelah Barat Mekah = jam 6.00 Jumat

    .

    Katakanlah untuk mempermudah penjadwalan administrasi, di layar komputer tampilan tanggal Hijriyah itu berubah otomatis di jam 00.00 Islam,
    walaupun pada kenyataan nya Hari Islam itu dimulai sejak magrib, sementara magrib tidak selalu tepat jam 00.00 Islam, ada yang tepat jam 00.00 Islam (jam 18.00 sekarang) ada yang tidak, bahkan pada suatu wilayah muka bumi dengan zona waktu yang sama pun (misalnya WIB), waktu magrib itu berbeda-beda jam nya tidak sama, misalnya antara Jakarta dan Aceh…

    Kita lihat jam 00.00 Islam di atas :
    60º sebelah Timur Mekah = jam 23.00 Jumat
    75º sebelah Timur Mekah = jam 00.00 Sabtu
    ===> perbedaan hari di sini (Jumat dan Sabtu) adalah kewajaran pergerakan jam… ketika jam 23.00 nya adalah Jumat, maka jam 00.00 nya adalah Sabtu

    Tapi kita lihat 180º sebelah Timur dan Barat Mekah :
    180º sebelah Timur Mekah = jam 7.00 Sabtu
    180º sebelah Barat Mekah = jam 6.00 Jumat
    ===> perbedaan hari di sini (Jumat dan Sabtu) adalah Konsekuensi dari Bentuk Planet Bumi yang Bulat… INILAH yang disebut GARIS BATAS HARI DUNIA (GBHD)…
    GBHD ini diakibatkan oleh Bentuk Bumi yang berupa Bola Berputar Pada Rotasi nya, BUKAN karena hal lain, misalnya karena Garis Penampakan Hilal !…

    .

    ( “Bumi yang berupa Bola Berputar Pada Rotasi nya” ini pun juga sebenarnya merupakan Sanggahan kepada Orang Zaman Sekarang yang masih percaya bahwa Matahari Mengeliling Bumi, berdasarkan (katanya) Al Quran dan Hadist… di mana di Al Quran dikatakan Nabi Ibrahim as meminta Raja Namrudz :
    “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” (QS 2 : 258)

    Terbitnya Matahari dari Timur itu SESUNGGUHNYA adalah “Penglihatan Manusia Terhadap Matahari” Akibat Rotasi bumi pada porosnya berputar ke arah Kanan (Timur) pada Globe… BUKAN karena Matahari yang besarnya 333.000 kali massa Bumi Mengeliling Bumi yang sangat kecil…
    Jadi permintaan Nabi Ibrahim as ke Raja Namrudz itu maksud nya adalah “Jika engkau Tuhan, Balik kan lah Putaran Rotasi Bumi”…

    Bila Matahari mengelilingi Bumi, itu artinya Tidak Ada Keteraturan Hukum Alam di Alam Semesta ini… Sebab Keteraturan (Hukum / Sunatullah) di alam itu adalah benda bermassa kecil tertarik kepada benda yang bermassa besar…
    Juga bisa dibayangkan betapa Ngebutnya itu Matahari yang jarak nya 149.600.000 km dari bumi, bisa mengeliling bumi selesai dalam 24 jam…
    Keliling 939.964.522 km ditempuh dalam 24 jam = 39.165.188,41 km / jam !… Apa tidak porak poranda itu Tatasurya ?… :D )

    .

    .

    Bagaimana bila Garis Batas Hari Dunia, tempat nya berubah-ubah sesuai Garis Penampakan Hilal ?…

    Jawaban nya adalah :
    Tiap Bulan selalu saja ada Tempat di Muka Bumi yang Hari nya harus diubah-ubah !…
    Ini tidak sesuai dengan Sejarah Manusia sejak Nabi Adam as… Dan dapat dipastikan, TAK SEORANG PUN YANG MAU MENGGUNAKANNYA !…

    .

    Contoh Garis Batas Hari dengan Patokan Penampakan Hilal

    Tahun 1433 H dari software Accurate Times dengan patokan hilal daerah berwarna biru, Bisa dikatakan Garis Batas Hari nya adalah :
    – bulan Muharram di Recife, Brazil
    – bulan Shafar di Kiribati
    – bulan Rabiul Awal di New York Amerika

    .

    1) Bulan Muharram 1433 :

    Dimulai dari Brazil —> hilal pada Jumat malam —> tgl 1 Muharram 1433 Planet Bumi = Sabtu
    Tgl 1 Muharram 1433 dan Hari Sabtu di planet Bumi diawali dari Brazil…

    KONSEKUENSI ==> Wilayah Planet Bumi di sebelah Timur Brazil, yang saat itu sama dengan Brazil sebagai Hari Sabtu (dari Dakar Senegal s.d Kiribati), harus berubah menjadi hari Jumat !…

    Katakanlah, semua orang di Planet Bumi (Islam maupun non Islam) setuju bahwa di wilayah sebelah Timur Brazil (dari Dakar Senegal s.d Kiribati) hari nya dirubah, sehingga Tgl Hiriyah Muharram Harinya sama di seluruh wilayah Planet Bumi :

    Bulan Muharram 1433 Planet Bumi
    Tgl 1 = Sabtu (25/11/2011)
    Tgl 8 = Sabtu
    Tgl 15 = Sabtu
    Tgl 22 = Sabtu
    Tgl 29 = Sabtu
    Tgl 30 = Ahad

    .

    2) Bulan Shafar 1433 :

    Dimulai dari Kiribati —> hilal pada Ahad malam (Perhitungan Accurate Times 25/12/2011) —> tgl 1 Shafar 1433 Planet Bumi = Hari Senin
    Tgl 1 Shafar 1433 dan Hari Senin di planet Bumi diawali dari Kiribati…

    KONSEKUENSI ==> Brazil (yang Muharram kemarin sebagai Patokan Batas Awal Hari) karena belum terlewati Zona Hilal berwarna biru, masih bulan Muharram… Dan tgl adalah tgl 31 !!… Sebab penanggalan bulan Shafar 1433 harus di awali di Kiribati…

    Kalau kemudian solusi nya adalah Di Brazil hari itu dianggap tgl 1 Shafar karena tidak mungkin ada bulan Hijriyah 31 hari… Apakah masalah nya selesai ?…
    Oh, belum… :D

    Hari di Brazil saat itu hari Senin, sementara Hari Senin bulan Shafar 1433 Harus dimulai dari Kiribati, Maka Hari Brazil pun harus berubah menjadi Ahad !…

    Bulan Shafar 1433 Planet Bumi
    Tgl 1 = Senin
    Tgl 8 = Senin
    Tgl 15 = Senin
    Tgl 22 = Senin
    Tgl 29 = Selasa

    .

    3) Bulan Rabiul Awal 1433 :

    Dimulai dari New York Amerika —> hilal pada Senin malam (Perhitungan Accurate Times 23/01/2012) —> tgl 1 Rabiul Awal 1433 Planet Bumi = Hari Selasa
    Tgl 1 Rabiul Awal 1433 dan Hari Selasa di planet Bumi diawali dari New York Amerika…
    Hari Selasa di sini adalah Hari Normal !… sedangkan di Hari “Berdasarkan Penampakan Hilal” (HBPH) tidak mungkin itu hari Selasa, Sebab Selasa HBPH itu tanggal 29 !…

    Jadi hilal Rabiul Awal 1433 itu terjadi pada hari apa ??… kemungkinan adalah hari Selasa malam…
    Tgl 1 Rabiul Awal 1433 dan Hari Rabu di planet Bumi diawali dari New York Amerika…

    Bulan Rabiul Awal 1433 Planet Bumi
    Tgl 1 = Rabu
    Tgl 8 = Rabu
    Tgl 15 = Rabu
    Tgl 22 = Rabu
    Tgl 29 = Kamis

    Karena Rabiul Awal 1433, Hari Rabu dimulai dari New York Amerika, maka wilayah bumi dari mulai Brazil s.d Kiribati harus berubah lagi dari Rabu menjadi Selasa !…

    .

    .

    Pak Bambang,
    Penanggalan yang hari nya adalah Hari “Berdasarkan Penampakan Hilal”… Apakah Itu bikin “Terang” Kalender Hijriyah atau malah bikin “Gelap” ?…
    Jangan kan kita manusia, Komputer pun (Software Accurate Times) akan puyeng ngitung nya… :D

  39. Asswrwb. Pak Ivan, ilustrasi ttg Mekkah pd hr Jum’at jam 12.00 menjadi jam 18.00 hijriyah ada kekeliruan yaitu 60° sebelah timur Mekkah sehrsnya = jam 22.00 Jum’at. Dst hingga 180° sebelah timur Mekkah= jam 6.00 Sabtu. Dan jika diurut dr Mekkah kebarat maka pd 180° sebelah barat Mekkah = jam 6.00 Jum’at.Jadi betul kalau pd 180° sebelah timur maupun barat Mekkah adalah tempat yg sama dan menjadi GBHD, Tapi SEMUA TEMPAT BISA MENJADI GBHD, coba urutan kebaratnya ganti s.d. 225°. Wasswrwb.

    • Wa alaikum salam wr wb… Pak Bambang, terima kasih atas koreksi nya…
      Pantesan kemarin pas mempostingkan komentar, perasaan ada yang salah… :)

      .

      Secara mudahnya, yang namanya GBHD itu adalah selalu garis bujur di “bumi belakang” pusat acuan, yaitu di 180° dari 0° sebagai pusat acuan…
      GHBD sekarang itu berada di 180° garis Bujur yang ada sekarang (0° Greenwich sebagai pusat acuan)… Inilah yang masih disepakati oleh negara-negara di dunia sekarang…

      Mudah-mudahan ke depan, Negara-negara Muslim (termasuk Ormas dan Instansi nya) bisa mengusahakan agar 0° Garis Bujur itu disepakati dunia internasional untuk pindah dari Greenwich ke Mekah… Sebab Koordinat Ka’bah Mekah inilah yang seharusnya digunakan manusia di planet Bumi sebagai Garis Bujur 0°…

      Kalau Misalnya Garis Bujur 0° Mekah itu DISEPAKATI oleh semua negara di dunia, maka (dengan Koordinat Ka’bah Mekah menurut Google Earth 21°25’21” N, 39°49’34” E) :
      GBHD itu akan ada di 180° dari Mekah (di garis bujur 140°10’26” W sekarang)…

      GBHD yang ada di 225° (atau berapa pun selain 180°) dari Pusat Acuan, akan menjadi aneh… Titik acuan menjadi tidak di tengah-tengah, sehingga tidak ada keseimbangan panjang Garis Bujur antara Timur dan Barat…

      .

      .

      Kembali kepada Solusi Kalender Hijriyah Global yang saya usulkan :

      1) Menggunakan Konsep Matlak Global Berbasis Koordinat Ka’bah…
      Maka Seharusnya yang jadi Garis Batas Hari Dunia itu adalah garis bujur 140°10’26” W sekarang, bukan garis bujur 180° sekarang…

      Tapi Kita tetap menerima GBHD yang ada sekarang untuk digunakan, sebab merubah GBHD itu perlu kesepakatan Dunia Internasional…

      .

      2) Menggunakan Perhitungan Hisab Astronomi, Tanpa perlu menunggu Laporan Rukyat…
      Sehingga Kalender Hijriyah bisa ditetapkan jauh-jauh hari untuk seluruh Muka Bumi…

      Ini adalah Pilihan yang logis, sebab Kehidupan manusia zaman modern sekarang membutuhkan Kalender yang jelas kepastian nya jauh-jauh hari…

      .

      3) Kriteria Hisab Awal Bulan Hijriyah yang digunakan adalah Kriteria Imkan Rukyat “Need Optical Aid” dalam Kriteria IR Odeh…
      Wilayah muka bumi yang berwarna Biru dalam Software Accurate Times…

      Ini adalah Pilihan yang logis, sebab bila Konsep Matlak Global Berbasis Koordinat Ka’bah tetap menggunakan Kriteria WH, maka :
      Akan ada kemungkinan terlalu banyak wilayah muka bumi di sebelah Timur Mekah yang Hilal nya (pada saat Magrib di hari yang sama di wilayah tersebut) masih di bawah ufuk, belum wujud sama sekali…

      Bisa saja dicari lagi Kriteria di luar WH dan IR, yang penting ketika Awal Bulan Hijriyah itu ditetapkan dengan Koordinat Ka’bah Mekah :
      Tidak banyak daerah sebelah Timur Mekah (yang harinya sama pada saat magrib nya) yang Hilal nya masih di bawah ufuk, belum wujud sama sekali…

      Hanya kalau saya cenderung menggunakan Kriteria IR di atas, sebab secara angka-angka nya sudah ada (hasil penelitian) juga mudah-mudahan bisa menyatukan Penganut Kriteria IR dengan WH, juga bisa menyatukan Pengguna Rukyat dengan Hisab…
      Kalau menggunakan Kriteria Baru lagi, belum tentu Pengguna Rukyat, Pengguna Hisab IR dan WH akan sepakat…

      .

      4) Menggunakan Garis Batas Tanggal Hijriyah Global (GBTHG) yang TETAP…
      Yaitu = Garis Batas Hari Internasional yang ada sekarang… yaitu di sekitar Kiribati / Samoa…

      Ini adalah Pilihan yang logis, sebab bila GBTHG ≠ GBHD, maka :
      Akan ada lebih dari 1 Kalender Hijriyah…

      .

      .

      Menurut saya, memang sebaiknya dalam Menetapkan Kalender Hijriyah Global ini, umat Islam seDunia bisa saling memperhatikan (menghargai) satu sama lain…
      Sehingga kesepakatan yang diambil adalah Kesepakatan Kompromi Saling Menghargai yang jelas alasan nya, Seperti pada Perhitungan Waris Islam yang menggunakan Perhitungan yang menghargai Hak Waris masing-masing…
      ( Hak Waris 2 sdr pr yang 2/3 MENGHARGAI Hak Waris Suami yang 1/2…
      – 2 sdr pr tidak ngotot ingin 2/3 sehingga sisanya (1/3) untuk suami…
      – Suami juga tidak ngotot ingin 1/2 sehingga sisanya (1/2) untuk 2 sdr pr…
      Konsep “saling menghargai” inilah yang kemudian dalam tataran teknis nya adalah menjadi Penetapan Perhitungan Metoda Aul, Penetapan Perhitungan Metoda Relatif )

      Konsep “saling menghargai” ini dalam tataran teknis Penetapan Hilal yang menjadi Awal Bulan, adalah dengan melihat komposisi zona Penampakan Hilal di muka bumi pada suatu hari yang sama…
      Komposisi zona Penampakan Hilal inilah yang menurut saya perlu dikaji oleh Para Ulama dan Ahli Falak Islam…

      Kita tentunya tidak ingin Kesepakatan ini diambil berdasarkan Usaha Kompromi yang tidak jelas alasan nya… seperti yang diusulkan sementara ini oleh beberapa pihak, yaitu Kriteria WH dinaikan sedikit dan Kriteria IR diturunkan sedikit…
      Kesepakatan seperti ini tidak jelas alasan nya, sama saja seperti Kesepakatan antara yang Tarawih 23 rakaat berkompromi dengan yang Tarawih 11 rakaat, kemudian hasil kesepakatan nya adalah :
      Yang Tarawih 11 rakaat naik, yang Tarawih 23 turun, sehingga Masing-masing bersepakat untuk bersama-sama shalat Tarawih 17 rakaat… :D

  40. Asswrwb. Pak Ivan, selanjutnya ttg contoh GBHD dg patokan penampakan hilal, yg membuat “puyeng” justru krn “merubah hari”. Semua Grs penampakan hilal masih berada pd hr/tgl ke 29 ketika memasuki hr/tgl ke 1 bln berikutnya pd saat magrib, shg ada hr/tgl yg “diloncati” yaitu hr/tgl ke 30. Oleh krn itu disini hanya akan ada “satu kompromi” yaitu tgl 1 Muharam 1433 di Brasil adalah hr AHAD krn meloncati hr Sabtu, 30 Zulhijah 1432. Begitu juga tgl 1 Shafar 1433 di Kibrati adalah hr RABU dst.Wassww

  41. Asswrwb. Dg demikian, setiap bln dlm kalender hijriyah global tercantum hr/tgl dr 1 s.d. 30. Namun krn tdk semua wilayah di muka bumi ini akan sampai di hr/tgl ke 30 maka setiap bln perlu dicamtumkan daftar negara2 yg berada di grs penampakan hilal krn negara2 tsb hanya akan sampai di hr/tgl ke 29. Pd hr itu saat magrib negara2 tsb diwajibkan utk melakukan rukyat dan bila terlihat hilal maka hr/tgl-nya langsung meloncati hr/tgl ke 30 dan berubah mejadi hr/tgl 1 bln berikutnya. Wasswrwb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: