Kita Kritisi Wujudul Hilal, Tetapi Kita Semua Mencintai dan Menghormati Muhammadiyah


T. Djamaluddin

Kali ini saya ingin menulis hal non-teknis, karena saya banyak disalahpahami terkait kritik saya terhadap hisab wujudul  hilal Muhammadiyah. Kritik demi kebaikan bersama pernah juga saya sampaikan kepada saudara-saudara kita di NU dan ormas-ormas Islam pengamal rukyat ketika ada hasil rukyat kontroversial saat sidang itsbat penentuan awal Dzulhijjah 1422/Februari 2002. Saat itu posisi bulan sangat rendah dan dari 34 lokasi pengamatan di seluruh Indonesia tidak ada yang melaporkan terlihatnya hilal, kecuali di Cakung. Padahal cuaca di Jakarta mendung dan sempat gerimis sore itu. Namun, saat itu kriteria imkan rukyat tidak digunakan secara ketat. Maka rukyat diterima oleh forum, dengan keberatan dari saya dan wakil Persis. Pada saat itu Menteri Agama terpaksa mengubah keputusan hari libur Idul Adha sehari lebih cepat yang sempat menimbulkan kebingungan bagi pelaku bisnis yang terikat perjanjian yang tiba-tiba terkendala akibat berubahnya hari libur Idul Adha. Tetapi setelah itu NU mau berubah, kembali menerapkan imkan rukyat seperti tahun 1418/1998. Pada Idul Fitri 1427/2006, 1428/2007, dan 1432/2011 NU menolak kesaksian Cakung yang sering kontroversial karena tidak mungkin ada rukyat saat bulan terlalu rendah. Bahkan NU kini sudah melengkapi diri dengan fasilitas hisab-rukyat yang canggih seperti NUMO (NU Mobile Observatory) dan fasilitas lainnya untuk menghindari salah lihat dalam mengamati hilal.

***

Sebaliknya Muhammadiyah tidak pernah berubah. Kalau diumpamakan, saat ini Muhammadiyah ibarat anak bandel yang keras kepala. Wajar, karena beberapa saudara  lainnya dalam keluarga  sebenarnya pernah juga bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibunya. Ketika hari istimewa, keluarga menginginkan semua berseragam dengan baju baru yang sama supaya suasana kebersamaan dan persaudaraan lebih terasa. Namun anak bandel yang keras kepala ini menolaknya, bersikeras memakai baju usang. Katanya itulah yang pas ukurannya dan enak memakainya, tidak perlu direpotkan dengan aturan memakai baju baru. Saudara-saudaranya menghendaki keseragaman. Saya ibaratnya hanyalah bocah kecil yang senang bantu-bantu di rumah itu yang suka mengkritisi anggota keluarga itu. Saya turut memberi masukan untuk mengganti baju usang itu dengan baju baru yang sudah dipakai saudara-saudara yang lain. Ayah-ibunya yang mengakomodasi semua pendapat menginginkan juga adanya keseragaman. Keputusan ayah-ibunya tersebut tidak dipatuhi oleh “anak bandel yang keras kepala” itu.

Memang benar, “anak bandel yang keras kepala” itu sebenarnya baik dan banyak prestasinya bagi keluarga. Namun soal baju usang, dia terlanjur menganggapnya hal prinsip yang seolah tidak bisa diganggu oleh yang lain. Bahkan saran untuk menggantinya ditanggapinya berlebihan, seolah itu sebagai sikap membenci. Memang lucu, pada penentuan hari istimewa itu si anak dengan sopan minta izin untuk berbeda.  Walau nyata tidak patuh pada ibu-bapaknya, namun tetap meminta hak-haknya sebagai anak untuk dilindungi dari kemungkinan ulah jahil saudara-saudaranya.

Sebagai satu keluarga, tidak mungkinlah ayah-ibunya dan saudara-saudaranya membencinya. Saran untuk mengganti baju usangnya dengan baju baru yang seragam hanya demi kebaikan bersama, supaya para tetangga melihat kesan kebersamaan. Memang benar, sebenarnya baju yang berbeda-beda kan tidak masalah, karena itu bukan masalah prinsip. Tetapi kalau bisa berseragam pada hari istimewa itu tentulah akan lebih baik. Tetangga pun akan melihat keharmonisan keluarga secara lebih nyata. Indah sekali. Saran untuk mengganti baju usang dengan baju baru bukan berarti membenci. Kita semua tetap mencintai dan menghormati. Kecintaan dan penghormatan akan lebih menguat kalau di dalam keluarga itu bisa berseragam pada hari istimewa. Ya, hanya keseragaman pada hari istimewa, bukan keseragaman dalam segala hal.

(Peran dalam ibarat perumpamaan  tersebut di atas: Ummat IslamIndonesia ibarat satu keluarga. Pemerintah ibarat ayah-ibu yang mengayomi. Ormas-ormas Islam ibarat anak-anak yang kadang bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibu, tetapi tetap minta perlindungan ayah-ibu. Kriteria hisab-rukyat ibarat baju yang ingin diseragamkan dengan kesepakatan. Saya pada kisah ini hanyalah ibarat bocah kecil yang suka bantu-bantu, namun perannya tidak seberapa dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ummat lain ibarat para tetangga.)

***

Jadi, kritik soal kriteria wujudul hilal yang usang dan saran untuk menggantinya dengan kriteria imkan rukyat yang lebih baru, bukanlah bentuk kebencian. Kita semua mencintai dan menghormati Muhammadiyah yang sudah banyak berkontribusi bagi bangsa ini. Mengapa persatuan ini penting saat ini? Ketika tekanan masalah sosial semakin berat, kesenjangan dan perbedaan mudah disulut untuk menjadi bibit permusuhan. Lihatlah kenyataan saat ini. Hal-hal sepele bisa jadi pemicu tawuran pelajar antarsekolah, tawuran pemuda antarkampung, tawuran mahasiswa antarfakultas, dan perang terbuka antaretnis. Padahal kalau kita lihat di masyarakat awam, masalah hari raya adalah masalah halal-haram yang sangat prinsip. Masyarakat yang awam fikih mudah menyatakan pihak lain melakukan pelanggaran agama. Saudara-saudara kita yang berbuka lebih dahulu bisa dianggap melanggar aturan puasa. Sementara saudara-saudara yang lain yang masih berpuasa bisa dianggap melakukan hal haram karena berpuasa pada hari idul fitri.

Perbedaan itu awalnya mungkin sekadar saling ledek dalam gurauan, soal perizinan tempat shalat ied di lapangan, perbedaan pendapat antarpengurus masjid soal waktu pelaksanaan yang dipilih, atau soal “rebutan” tempat dan pengikut shalat ied. Tetapi siapa bisa menduga hal sepele seperti itu bisa memicu pertengkaran yang lebih hebat. Beberapa tahun lalu saya mendengar cerita dari seorang hakim agung peradilan agama bahwa di Sulawesi dulu (sekitar 1930-an) pernah terjadi keributan gara-gara perbedaan hari raya. Kita tidak boleh menyederhanakan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik, walau kita juga tidak boleh membesar-besarkannya. Namun mencegah konflik lebih baik daripada memeliharanya. Dengan adanya perbedaan kriteria, kita sudah bisa memprakirakan tahun-tahun yang berpotensi terjadi perbedaan.

Saya masih terus akan mengangkat tema ini untuk menyadarkan kita semua, bahwa potensi perbedaan akan terus terjadi selama masalah perbedaan kriteria tidak diselesaikan. Kalau khilafiyah (perbedaan) hisab dan rukyat kini bisa diatasi dengan titik temu hisab-rukyat dengan kriteria imkan rukyat, mengapa hisab kriteria wujudul hilal yang antirukyat tetap dipertahankan? Kalau kita bisa bersatu, mengapa kita harus memelihara perbedaan? Kita mengkritisi kriteria wujudul hilal Muhammadiyah, tetapi kita semua tetap mencintai dan menghormati Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang biasa juga mengkritik mestinya memahami fungsi kritik demi kebaikan. Jadi tak perlu merasa “kebakaran jenggot” dengan menyebut pengkritik sebagai provokator. Semoga kita bisa bersatu demi ummat.

About these ads

131 Tanggapan

  1. Wah…bahasa pak Thomas cukup keras dalam tulisan ini, keras bukan berarti kasar. Kalau menurut saya pribadi, persatuan ummat harus lebih kita utamakan. Nice artikel pak Thomas.

  2. hebat pak prof…tadi di kelas K.H. Slamet hambali, bercerita tentang lokakarya kemarin…kami sgt bangga pada bapk ats kesabarannya menanggapi hinaan dan kritikan pedas…selamat pak prof..bpk bersl menyatukan umat

  3. Itulah tanda anak cerdas…. anak2 yang model seperti itulah yang telah banyak merubah dunia… bukan hanya anak yang sekedar pengekor dan takut tidak dilihat indah oleh tetangga…..
    Bravo Muhammadiyah, prinsip mu yg telah dicontohkan oleh Prof TJ dlm artikel ini membuat aku makin kagum padamu…. Bangsa ini membutuhkan orang/organisasi yang punya prinsip sepertimu.
    Betul dugaanku, Prof dah frustasi karena Muhammdiyah punya prinsip yang tegas, padahal Prof. sudah terlanjur mendapat gelar MENYATUKAN UMMAT LEWAT ASTRONOMI, sayang gelar itu belum anda dapatkan karena ada anak yang cerdas yang tidak mau ikut2an…

  4. saya sangat berharap semoga bahasa-bahasa yg prof Thomas sering gunakan -yg menurut sangat menusuk- tidak justru membuat Muhammadiyah menolak merubah kriterianya.. sebab setahu saya Muhammadiyah telah melakukan pembahasan mengenai kriteria dan sedang dalam proses agar bisa disepakati..

    • Saya tahu, ada teman-teman di Muhammadiyah menghendaki perubahan wujudul hilal. Tetapi itu selalu terbentur ketika diangkat di forum yang lebih luas. Resistensinya kuat sekali karena terlanjur menganggap hisab itu unggul, dan parahnya terlanjur juga tertanam hisab = wujudul hilal. Ketika wujudul hisab dikritisi, seolah hisabnya dikritik untuk diajak ke rukyat. Saya selalu berdiskusi dengan teman-teman Muhammadiyah, secara personal mereka terbuka untuk berubah. Sayangnya tidak ada dukungan organisasi. Tulisan saya secara terbuka untuk mengajak kita semua memahami permasalah ini, tidak terpaku dengan faham seolah “hisab=wujudul hilal” yang sudah tertanam kuat di kebanyakan saudara-saudara kita di Muhammadiyah. Teman-teman ahli hisab Muhammadiyah pasti faham bahwa hisab itu bukan hanya wujudul hilal, tetapi tidak mampu mengobah pola pikir yang sudah sangat kuat melekat di semua lapisan. Saya tidak khawatir Muhammadiyah menjauh lagi, karena sebenarnya semangat gerakan tajdid (pembaruan) sangat kuat. Saya percaya ego organisasi secara perlahan akan terhapus. Muhammadiyah punya peluang besar untuk jadi pelopor perubahan dan persatuan ummat.

  5. Wahai bapakku dan ibu pertiwiku tercinta…
    Janganlah engkau mengajakku menyembah berhala22 yg menuhankan ilmu sebagai panglima dlm kehidupan yg fana ini…
    Bapak dan ibu pertiwiku tercinta…, berkat doa restumu, ananda dpt menggapai ilmu setinggi langit justru utk mencari keridhoan Allah swt semata dlm kehidupan yg fana ini..
    Bapak dan ibu pertiwiku tercinta…, janganlah engkau ajari ananda berjalan sendirian dimuka bumi ini dengan keangkuhan.., kesombongan.., krn sesungguhnya kesombongan itu hanyalah haq bagi Allah semata!
    Alhamdulillah…, bapak dan ibu pertiwiku tercinta, baju yg ananda kenakan masih sangat bagus! Kokoh, tdk compang-camping dan warnanya tdk luntur ditelan masa. Warnanyapun lagi ngetrend didunia yg fana ini.
    Apalah artinya baju baru jika dijahit tdk sempurna dan sobek2..
    Bapak dan ibu pertiwiku tercinta…, cukuplah ananda memakai baju yg sederhana ini tapi sempurna! Semoga saudara2 ananda bisa memahami ananda. Cukuplah uang utk membeli baju baru itu bisa digunakan bapak dn ibu pertiwi tercinta utk ditabung bagi keluarga kita.
    Semoga Allah SWT mengampuni dosa2 kita dan menyelamatkan keluarga kita dari kesombongan…

    • wahai arges untuk mengenal Kekuasaan Alloh Itu memerlukan ilmu

      • Genduk endang…., ilmu itu harus kita gapai, kita kuasai sedalam-dalamnya justru untuk mencari keridhoan Alloh SWT. Ilmu itu harus kita manfaatkan, bukan diperlukan namun kita amalkan, kita aplikasikan dlm kehidupan keseharian kita.
        Semua itu ditujukan utk mencari tanda2 kerahasian Allah ta’ala dan ridhoNya semata.
        Man Jadda wa jada…, semoga Allah meridhoi usaha Muhammadiyah dalam penyatuan kalender qomariyah secara internasional. Amien.. Amien… Ya Robbal Alamien…

  6. Sebetulnya kalau kita lihat antar Kubu Wujudul Hilal dengan Kubu Imkan Rukyat itu… Ada 3 Kubu..
    (1) Kubu Wujudul Hilal
    (2) Kubu Imkan Rukyat dengan Hilal Harus berhasil terlihat oleh mata
    (3) Kubu Imkan Rukyat dengan Hilal Tidak Perlu berhasil terlihat oleh mata

    Antara Kubu 2 dengan Kubu 3… Yang dominan adalah Kubu 2… yaitu Penetapan Awal Bulan adalah Hilal Harus berhasil terlihat oleh mata…

    Kubu 3 itu cuman segelintir orang saja, bahkan bisa jadi mungkin ternyata Hanya masih berupa wacana saja…
    Terbukti dengan tidak ada Ormas yang benar-benar berani untuk menggunakan ini… Tidak ada Ormas yang ngaku menggunakan Kriteria Imkan Rukyat, secara Resmi jauh-jauh hari mengeluarkan Maklumat Resmi Penetapan Awal Bulan kepada anggotanya…

    Umat Islam sekarang ini… baik di Indonesia ataupun di mana saja… harus kita jujur mengakui, bahwa kita ini sebetulnya bisa jadi termasuk Umat yang seperti “Katak dalam tempurung”…

    Yang namanya “Katak dalam tempurung” itu hanya peduli dan melihat di dalam tempurung saja…
    Hubungan nya dengan Penetapan Penanggalan Hijriyah adalah :
    Umat Islam masing-masing negara hanya peduli dengan Hilal yang ada di masing-masing daerah nya saja…

    Yang kurang disadari oleh Umat Islam adalah :
    Nabi Muhammad S.A.W Tidak Pernah mempermasalahkan Matlak dalam Penetapan Awal Bulan !…

    Dari mana pun adanya laporan Hilal itu berasal… Akan Nabi gunakan… dan Laporan Terlihatnya Hilal (sebagai Metoda yang hanya ada pada waktu itu pada Umat Islam, akibat keterbatasan pengetahuan Hisab) paling lambat siang hari tanggal 30 pun masih beliau terima (gunakan)…

    Bisa kita lihat di Hadist ini :

    Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ja’far bin Abu Wahsyiyah dari Abu ‘Umair bin Anas dari paman-pamannya yang juga sahabat Rasulullah saw bahwa suatu rombongan datang kepada Nabi saw, mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka beliau memerintahkan mereka (masyarakat) untuk berbuka puasa, dan keesokan harinya, mereka berpagi-pagi menuju ke tempat shalat (untuk melaksanakan shalat hari raya).
    (Sunan Abu Daud 977 – Lidwa)

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayya, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Abu Tsaur, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali, telah menceritakan kepada kami Al Husain Al Ju’fi dari Zaidah secara makna, dari Simak, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata :
    Seorang badui telah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Sesungguhnya aku telah melihat Hilal” -Al Hasan dalam haditsnya mengatakan: yaitu Hilal Ramadhan-.
    Kemudian beliau berkata : “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?”
    Ia berkata : “Ya”.
    Beliau berkata : “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”
    Ia berkata : “Ya”.
    Beliau berkata : Wahai Bilal, umumkan kepada orang-orang agar mereka berpuasa besok”.
    (Sunan Abu Daud 1993 – Lidwa)

    Sedangkan Hadist yang selalu dijadikan Dalil diberlakukannya Matlak dalam penetapan awal bulan adalah Hadist ini :

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr -Yahya bin Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami -sementara dua orang yang lain berkata- telah menceritakan kepada kami Ismail, yakni anak Ja’far dari Muhammad bin Abu Harmalah dari Kuraib bahwasanya :
    Ummul Fadhl binti Al Harits mengutusnya menghadap Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata :
    Aku pun datang ke Syam dan menyampaikan keperluannya kepadanya. Ketika itu aku melihat hilal awal Ramadhan pada saat masih berada di Syam, aku melihatnya pada malam Jum’at. Kemudian aku sampai di Madinah pada akhir bulan.
    Maka Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku tentang hilal, ia bertanya : “Kapan kalian melihatnya?”
    Aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at.”
    Ia bertanya lagi : “Apakah kamu yang melihatnya?”
    Aku menjawab : “Ya, orang-orang juga melihatnya sehingga mereka mulai melaksanakan puasa begitu juga Mua’wiyah.”
    Ibnu Abbas berkata : “Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, dan kami pun sekarang masih berpuasa untuk menggenapkannya menjadi 30 hari atau hingga kami melihat hilal.”
    Aku pun bertanya : “Tidakkah cukup bagimu untuk mengikuti ru’yah Mu’awiyah dan puasanya ?”
    Ia menjawab : “Tidak, beginilah Rasululloh saw memerintahkan kepada kami.”
    Dalam lafazh “NAKTAFI” (tidak cukupkah bagi kami?) atau “TAKTAFI” (tidak cukupkah bagimu?), Yahya bin Yahya agak ragu.
    (Shahih Muslim 1819 – Lidwa)

    Menurut para ahli Astronomi… Hilal Ramadhan yang dibicarakan antara Ibnu Abbas ra dengan Kuraib itu adalah Hilal Ramadhan 35 H…
    Pada saat itu Madinah dan Syam (bahkan semua wilayah Islam) berada di bawah naungan Khalifah Utsman bin Affan ra…
    Utsman bin Affan ra wafat 2~3 bulan kemudian… yaitu pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzul Hijjah 35 H, dalam usia 80 tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij)…

    Pada riwayat di atas… Perbedaan Puasa dan Idul Fitri antara Medinah dengan Syam bukan karena perbedaan Matlak !… Tapi karena susah nya Komunikasi antar wilayah pada zaman itu… Sehingga informasi Hilal Ramadhan dari Syam butuh waktu sebulan untuk sampai di Madinah…

    Harapan saya kepada Muhammadiyah, NU, Persis, Ormas-ormas lain, Pemerintah dan para Ahli Astronomi seperti pak Thomas… Bisa menghasilkan solusi untuk terbentuknya Kalender Hijriyah Internasional, yang bisa ditawarkan ke Dunia Islam Internasional… Sehingga nantinya Umat Islam Sedunia bisa mempunyai Kalender Hijriyah yang sama… yang bisa digunakan untuk kepentingan ibadah juga kepentingan duniawi sebagai pengganti Kalender Masehi…

    Adapun nantinya setelah Kalender Hijriyah Internasional terbentuk, ternyata masih ada Kubu 2 yang tetap ngotot Hilal Harus Berhasil Mata sebagai pertanda Awal Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha… Kita maklumi saja… Kita anggap saja sebagai orang yang senang nyusahin diri sendiri dan tidak mau mensyukuri Iptek yang telah dianugerahkan Allah swt kepada manusia…

    • Menurut Prof TJ dan juga dari buku terbitan Muhammadiyah, saat ini Muhammadiyah sedang aktif dalam konferensi internasional utk penyatuan kelender hijrah internasional (baca di http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/30/muhammadiyah-menuju-persatuan-semangat-kalender-unifikasi-didasarkan-pada-hisab-imkan-rukyat. Tapi pemerintah indonesia dan juga Prof TJ masih ngotot berfikir pada skala nasional…… Artinya pemikiran Muhammadiyah jauh lebih maju……..

      • Saya sangat setuju. Muhammadiyah bisa jadi pelopor perubahan unifikasi gelobal. Tetapi ada dua hal yang harus diingat. PERTAMA, konsep wujudul hilal tidak populer untuk diangkat secara global. Jamaluddin Abd al-Raziq yang dirujuk tokoh-tokoh Muhammadiyah itu menyebut secara eksplisit adanya syarat imkan rukyat. Jadi, Muhammadiyah harus mengubah dulu wujudul hilalnya menjadi imkan rukyat. Saya mendorong Muhammadiyah untuk langsung mengusulkan kriteria imkan rukyat yang betul-betul ilmiah astronomis, bukan sekadar kesepakatan 2 derajat. KEDUA, untuk mencapai kesepakatan global internasional, mau tidak mau harus membina kesepakatan internasional, karena untuk maju ke tingkat internasional tidak mungkin usulan organisasi, pasti harus usulan negara. Usulan negara didasarkan pada kesepakatan nasional. Itulah yang sedang diupayakan oleh Kementerian Agama RI bersama Badan Hisab Rukyat. Kita matangkan konsep nasional, lalu kita ajukan ke regional, baru global. Usulan perorangan atau organisasi hanya akan jadi usulan dalam makalah, tidak mungkin disepakati secera antar negara. Tahun 1978 ada kesepakatan Istambul dan tahun 1990-an ada kesepakatan Kualalumpur, tetapi itu sebatas kesepakatan di atas kertas. Kesepakatan yang agak mengikat dan terus berjalan koordinasi antarnegara adalah kesepakatan MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), walau implementasinya agar longgar, karena kriterianya belum sepenuhnya kompatibel dengan rukyat (padahal Brunei masih sangat ketat untuk mendasarkan pada rukyat).

    • siph…one idea….

      • memang untuk internasional dari usulan negara…….. tapi yang saya fikirkan adalah muhammadiyah itu yang saya tahu tidak hanya indonesia…..brunai malaysia philipin ya memang tidak signifikan untuk jumlah……. tapi disana kalau urang muhammadiyah mampu menjadi leading dalam gagasan dan penentuan apa yang akan di bawa dalam forum internasional…..apa dibawa muhammadiyah di indonesia tidak muncul tapi esensi masalah ( gagasan) malah muncul dari negara lain……

        mensoroti tulisan bp jamal di atas sepertinya pak jamal sangat pesimis dengan kesalehan muslim muhammadiyah dan di luar muhammadiyah.. yang mudah tersulut…..yang saya tahu orang muhammadiyah sangat santun selama tidak menyinggung syar’i tetap dingin… flash point orang muhammadiyah cukup tinggi….. ( itu yang saya tahu mungkin kepicikan saya.)…. malah sepertinya tulisan anda cukup bagus namun juga menyalakan tungku….tapi saya yakin muahammadiyah dan di luar muhammadiyah untuk hal ini tetap mempunyai flash point yang tinggi…. suhu berapapun pak jamal naikkan flash point tidak tercapai…. kecuali la ta’kilun….

  7. yah begitulah orang- orang MUHAMMADIYAH( tidak semua).. anti kritik dan jumud.. jika mau lihat bagaimana ‘anehnya’ orang muhammadiyah lihat saja bagaimana kinerja partai PAN yang membebek SBY.. lihat saat kasus century kemana suara PAN… evaluasi segera organisasi muhammadiyah sebelum terlambat!!!

    • Lha kamu siapa ? Penganut JAHIL liyah bin munafiqun
      Rajamu siapa? Yang dipertuhan agung tan sri Dajjaludin bin luciferudin binti gerandongudin
      Hari rayamu apa? Hari raya imkanu rukyat, 2 syawal 1432 h

    • maaf, tidak ada hubungannya di sini, antara PAN dan Muhammadiyah. Banyak orang Muhammadiyah berafiliasi politik ke PAN, tapi tidak sedikit pula ke Partai yang lain. Muhammadiyah membebaskan anggotanya memilih partai politik yang dikehendakinya.

      • se tahu saya muhammadiyah tidak berpolitik praktis…….. memang pan lahir oleh orang muhammadiyah…….. tapi jika pan bagus … tidak otomatis muhammadiyahnya bagus begitu pula sebaliknya…… saya banyak temen muhammadiyah tapi kok bukan orang PAN ya ? malah DPR dari parpol yang lain……memang permainan politik muhammadiyah saat ini tidak secanggih almarhum pak AR….. tapi nafas nya masih ada

  8. Si anak kecil yang bandel dan keras kepala sdh bisa beli baju sendiri, jadi ayah dan ibunya nggak usah bingung2 mencarikan baju. Bahkan, si anak kecil ini malah sudah mampu membelikan baju ayah dan ibunya, serta adik2nya. Ayah dan ibunya juga sudah merasa senang. Orang tua jaman sekarang tidak jamannya lagi memaksakan kehendak kpd anak, biarlah anak memiliki kreativitas dan inovasi. Biarlah si anak menemukan jati dirinya. Sejalan dengan perkembangan tubuh dan otaknya, si anak akan cerdas dan bijaksana memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Orang tua tidak selamanya benar. Kemungkinan salah selalu ada. Sebaliknya, anak semakin dewasa semakin cenderung lebih baik. Kebersamaan memakai baju baru tdk harus dibatasi selama satu hari. Keluarga bisa memperpanjang kesempatan memakai baju baru, apalagi keluarga sekarang umumnya sudah mampu membeli baju baru lebih dari satu stel. Hari ini si adik nakal biar saja pakai baju baru, meski kakak2 dan orang tuanya belum pakai. Karena si adik saat kakak2nya dan orang tuanya pakai baju baru esok, insya ALLAH si adik tetap masih akan pakai baju baru lagi, karena sudah menyiapkan dua stel. Jadi jangan khawatir, karena si adik akan tetap bersama memakai baju baru di hari esoknya.

    Kekhawatiran bahwa perbedaan baju (baru dan usang) bisa menimbulkan pertentangan, adalah kekhawatiran yg berlebihan. Si adik nakal sudah cukup dewasa menyikapi perbedaan itu. Justru yang membuat heboh dan mengusik kebersamaan keluarga adalah anak tetangga yang tak tau persoalan keluarga tapi mencoba mengadu domba kebersamaan anggota keluarga. Siapa anak tetangga yang sebenarnya justru nakal dan jahil serta mengadu domba? Anda sendiri yang mengaku sebagai anak tetangga. Ya udah….pas banget.

    • mantap boz….
      ternyata cuman urusan baju baru ya….?
      hahahaha
      semoga amal sodara2 kita diterima sesuai niatnya masing2.

  9. Ya…kita pada semangat yang sama…bagaimana menyatukan ummat ini dalam satu kesatuan hari raya

  10. (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN daripada persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan).

    Utk lebih jelasx, Silakan download “CARA TEPAT MENETAPKAN 1 SYAWAL & IDUL ADHA” di:

    http://www.mediafire.com/?5e87dw6w9w1m12s

    • apakah kau yakin hasil hisab Muhammadiyyah yang paling benar Kebenaran itu yang datangnya dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala melalui Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassalam Bro

    • Itu memang Muhammadiyyah keras kepala

      • namaku endang imkanrukyata, itu kalau siang
        kalau malam lain lagi lho…, endang imkanrukyatin, kalau mau cari gue ada dech di taman lawang…
        gue pilih imkan rukyat karena hati dan jiwa gue seorang bancii, banci forever brrooo

  11. Ada & Endang….saya lebih suka mengatakan, biarlah kita mengamalkan apa yang menjadi keyakinan kita, tanpa harus mengatakan keyakinan ummat islam yang lain bathil atau sesat. Insyaallah, memakai hisab wujudul hilal adalah benar. Memakai imkan rukyat benar. Dan memakai rukyat benar. Tinggal kita meyakini mana yang dianggap lebih mendekati kebenaran.

    Saya terpaksa beranalogi lagi. Misalnya ada 3 pelari marathon yang berkompetisi. Ketiganya kelelahan dan tidak berhasil mencapai finish. Pelari A kurang 2,9 meter lagi dari garis finish. Pelari B kurang 2,8 meter dari garis finis. Pelari C kurang 2,7 meter dari garis finish. Nah, para penonton tentu sedikit mengalami kebingungan memilih siapa yang juara. Karena perbedaan 0,1 meter dari jarak agak jauh sulit dideteksi. Akhirnya terpaksa penonton main kira-kira memilih pemenang. Ada yang memilih A, ada yang memilih B dan ada yang memilih C. Jadi pilihan ketiganya tidak salah. Yakini saja.

    • Tapi pada analogi anda itu harus ada pemenangnya, bukan?,maka hal itu memerlukan wasit untuk menentuakan pemenangya yang diterima oleh semua kontestan.

      Nah dalam hal menentukan dua hari raya dalam islampun memerlukan otoritas yang sanggup menentukan keputusan. Dalam perkara ini pemerintah melalui kemenag ada inisiatif berdialog dengan ormas-ormas islam untuk menyamakan persepsi menetukan bulan baru dalam tahun hijriyah karena hari raya ini berdimensi publik bukan individu maka kita memerlukan lembaga yang memutuskan persoalan tersebut hal itu sesuai dengan kaidah fiqih

      Kullu mâ hakama bihi al-qâdhî al-‘adl min madzhabin man ra’âhu shawâban mimmâ ikhtalafa al-nâs fîhi fahuwa nâfidz

      (Setiap perkara yang diputuskan oleh seorang hakim yang adil berdasarkan pendapat satu madzhab yang dianggap olehnya benar atas masalah yang dipersepisihkan oleh orang-orang,
      maka keputusan itu dapat dilakasanakan).

      • Bagaimana kalau pakai perumpaan suami isteri berjimak? (maaf yang belum baligh)
        Kapan suami isteri yang berjimak wajib melakukan “mandi keramas”? Setelah “masuk” berapa centimeter? 2, 3, 5, atau berapa? Ataukah asal sudah “nempel”, wajiblah ia “mandi jinabat” sebelum melakukan salat?
        Begitu jugalah wujudul hilal, tidak perlu angka 2, 3, atau 5 derajat. Asal di atas 0 derajat, sudah kena hukum “syahr” baru.

      • Ha..ha..ha.., bung Abu sampeyan bisa bikin mas thom thom tersenyum iingaah iingiiih…, tuch lihat gigi tukulnya sampai nongol…hehehe

        Mamaa…mama sunnah maaa…

        Pliiiis dech aaach! Kata pak djamal,

      • @Abu Faza…
        siiiiip… siplah analoginya….
        hua… hua… huahahahahahahahahahahahahahahaha….

  12. Endang….muhammadiyah keras kepala? Ini kesimpulan yg tdk ilmiah blasss…. Katanya anda menyuruh kita ilmiah? Menurut saya, kita amalkan saja apa yg menjadi keyakinan kita. Insyaallah, Allah akan menerima ibadah kita yang kita sandarkan pada keyakinan yg kita punya. Kalaupun salah, semoga Allah mengampuni dosa kita. Upaya untuk menyatukan keyakinan ummat, itu perbuatan yang sangat mulia. Tetapi kalau belum tercapai, kita tidak boleh menghakimi pihak2 yang belum sepakat dengan vonis yang tidak semestinya. Biarlah Allah yang akan menetapkan hukum apa yang pantas diberikan kpd pihak yg belum sepakat, atau juga kpd yang sudah sepakat.

    Pengalaman lebaran 1432 H, kebetulan saya berlebaran hari selasa, 30 Agustus. Ketika saya berhalal bihalal ke rumah atasan pada hari rabu, 31 agustus, beliau bilang bahwa saya sudah lebaran sehari sebelumnya. Temen2 yang hadir saat itu, termasuk istri2nya, semua pada maklum dan tidak menunjukkan reaksi apa2. Prinsipnya, jika kita tidak mempersoalkan penetapan lebaran, pihak lain pun tdk akan akan mempersoalkan. Sebagian temen saya memang ada yang bertanya soal penetapan lebaran, dan saya jelaskan penyebab terjadinya perbedaan. Ternyata mereka dapat memahami dan tidak ada rasa resah dan gelisah.

    Insyaallah, muhammadiyah bukan anak kecil lagi seperti yang dianalogikan pak Thomas. Warga muhammadiyah insyaallah tenang, santun dan dewasa. Kalaupun warga muhammadiyah diledekin oleh orang lain, mereka tidak akan terpancing. Soal komentar di dunia maya yang terkadang kasar, itu tidak dapat dijadikan rujukan. Itu sekedar ekspresi kegeramannya terhadap pak Thomas yang tendensius. Tapi, akhirnya mereka juga sadar, bahwa persoalan itu sebatas diskusi di dunia maya. Dalam realitanya, warga muhammadiyah tidak reaktif dan tidak emosional. Lihat, saat sidang itsbat, perwakilan muhammadiyah dengan santun memohon izin untuk berlebaran esok. Itulah ciri muhammadiyah, low profile dan santun. Bukan seperti anak kecil yang keras kepala.

    • Dengan ini saya menyataken mas prasodjo, top markotop…,
      Hal2 yg mengenai perpindahan pendapat(an) dari nak Djamal ke mas prasodjo akan dilakukan dlm tempo yg sesingkat-singkatnya.
      Jakarta 6 Okt 2012
      Atas nama bosnya Djamaluddin
      Argressssssshhhht

  13. yang menjadi pokok permasalahan dari ummat islam yang awwam, hadists mana yang dipakai bahwa ketinggian bulan dua derajat barulah dikatakan baru, lalu gimana yang satu derajat apakah bukan bulan baru, kita kembalikan pada logika matematika, contohnya aja deh bahwa ketika jarum panjang bersama jarum pendek berada pada angka 12, maka kita katakan pada saat itu sudah pukul 12 malam atau pukul 00.00, gimana dengan posisi jarum jam panjang pada 00.01 menit, apakah masih disebut jam 12 malam atau pukul 00.00 dan apakah masih disebut hari kamis, misalnya kejadiannya, atau sudah hari baru yakni jum’at

    • Kriteria imkan rukyat didasarkan pada dalil-dalil Al-Quran dan hadits tentang perlunya rukyat dalam penentuan awal bulan, khususnya Ramadhan. Ketika ilmu hisab sudah berkembang, rukyat tidak boleh ditinggalkan. Oleh karenanya para ulama ahli hisab sejak dahulu selalu memperkirakan syarat-syarat untuk terlihatnya hilal berdasarkan data pengamatan jangka panjang. Kriteria imkan rukyat itu sangat beragam, karena dasar penetapannya juga beragam. Ada yang sangat sederhana, ada yang canggih berdasarkan analisis analisis data empirik dan model astronomis. Dari sekian banyak pilihan kriteria imkan rukyat itu, di Indonesia dipilih kriteria 2 derajat, walau masih terlalu rendah kalau dibandingkan dengan kriteria astronomis. Tetapi, di mana pun, kriteria itu adalah hasil kesepakatan. Di Mesir menggunakan kriteria beda waktu terbenam matahari-bulan lebih dari 5 menit. Malaysia menggunakan kriteria salah satu dari 3 syarat (tinggi minimal 2 derajat, jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, umur bulan minimal 8 jam), Turki menggunakan kriteria tinggi minimal 5 derajat dan jrak bulan-matahari minimal 8 derajat, dan beberapa lainnya.

      • Loh koq aneh!, pada tulisan2 anda terdahulu menyebut bulan2 ibadah!, sekarang hanya menyebut khusus utk bulan ramadhan saja ya?
        Marilah kita lihat perkembangannya kedepan dengan semangat saling menghormati dan menghargai…, mari dibuktikan sgb suatu keyakinan yg diyakini, turki, malaysia, lebanon, mesir, yordania kemarin ikut mekkah…

      • “Ketika ilmu hisab sudah berkembang, rukyat tidak boleh ditinggalkan.”
        — sudah jelas ‘madzhab’-nya pak Thomas… —

      • Di situlah letak perbedaannya. Rukyat tidak boleh ditinggalkan, itu satu pendapat. Sementara ada yang mengatakan, rukyat dapat ditinggalkan, itu pendapat lain. Kalau dua pendapat ini bisa dihargai, saya kira tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Saya sependapat dengan yang kedua, seperti yang dipegangi Muhammadiyah, bahwa rukyat dapat ditinggalkan. Mengapa? Karena rukyat hanya salah satu cara untuk mengetahui datangnya “syahr” baru. Jika ada cara yang lebih pasti daripada rukyat, dapatlah cara itu digunakan. Muhammadiyah memahami, hisab dengan kriteria wujudul hilal memberi kepastian yang lebih bahwa “syahr” sudah berganti daripada rukyat. Sehingga Muhammadiyah memilihnya, tanpa menyalahkan saudara sesama Muslim yang masih lebih nyaman dengan rukyat. Hanya sebagai kritik, ada sebuah pertanyaan, mengapa rukyat tidak boleh ditinggalkan? Sebegitu sakralkah rukyat, sehingga melebihi kesakralan puasa itu sendiri?

  14. Td saya baca tulisan pak Susiknan. Beliau rilis hak jawab thd pak thomas. Seingat saya pak thomas pernah menegaskan, ia mau mengakui kekeliruannya setelah muhammadiyah memberi keterangan bahwa pak Susiknas bukan diutus oleh muhammadiyah.

    Tapi setelah pak Susiknan upload bukti undangan dari Kemenag yang ditujukan ke beliau an. UIN, eh….pak thomas merubah persyaratannya yaitu jika PP Muhammadiyah menyatakan bahwa pak Susiknan bukan lagi anggota Majelis Tarjih dan Tajdid. Wah…wah….mungkin besok persyaratan itu akan berubah lagi yaitu jika PP Muhammadiyah sudah mencopot keanggotaan pak Susiknan dari Muhammadiyah. Wah….saran saya utk pak Susiknan : Nggak usah ditanggapi lagi ya pak. Saya kebetulan tdk bisa komentar di status bapak. Biarlah masyarakat yang menilai saja. Nggak ada gunanya dilanjutkan. Yang penting bapak sdh memberi klarifikasi.

  15. Agres…makasih. Perpindahan pendapatan akan berjalan secepatnya, krn sy sdh kirim no rekening… Asal tau saja, saya sok memberi nasehat, siapa tau menteri agama mau mengangkat saya jadi penasehat menteri agama…wkwkkkkk

    • Saya mendoakan anda, menjadi seorang yang kaya..
      Kaya hati, kaya iman dan kaya rezeki…
      Semoga pula doa ini utk kita semua, termasuk utk pak djamal sekalipun…
      Man jadda wa jada, siapa yg bersungguh akan menuai keberhasilan..
      Amien ya robbal alamien…

  16. Agres…amiin…terima kasih. Semoga anda juga demikian.

    Upaya penyatuan kalender hijriyah, termasuk kriterianya, adalah upaya yang mulia. Sayangnya, kesepakatan lokakarya (saya akan konsisten tdk mau menyebut keputusan) yang ibaratnya seperti tunas yang baru tumbuh itu, sudah dipolitisir. Akhirnya, tunas itu sekarang justru menjadi layu. Mati memang belum. Semoga saja tunas layu ini masih bisa tumbuh, entah bagaimana caranya. Mungkin perlu diberi pupuk perangsang tumbuh supaya segar kembali.

    Barangkali, si pencetus ide (wuiiiihhh….dapat gelar baru) terlalu bersemangat, si tunas langsung diberi pupuk yang over dosis, dan pupuknya kecampur bahan lain yang justru membuat tunas layu. Bahkan, tumbuhan di sekitarnya ikut layu, daunnya menguning. Yah, kita mesti maklum, si empunya tunas bukan ahli tanaman, pemberian pupuknya over dosis dan mengakibatkan tunas layu.

    Kayaknya, penyampaian ide atau gagasan yang menyangkut keyakinan seseorang atau kelompok, diperlukan pemahaman psikologi massa/sosial. Kekeliruan cara penyampaian justru dapat berakibat pada penolakan ide. Sepertinya demikian yang terjadi.

  17. Pak Tj sabar…
    Sy yakin org2 yg kontra d atas ni dg sendiri-a akan malu sndiri ktk nanti Muhammadyah mrobah kriteria WH-a, krn yg komen2 d ats tu gak ngerti du2k prsoalan-a. Maafkan mrk krn ktidaktahuan-a…
    Majlis Tarjh Muhammdyh akan mengangkat dan mengkaji kmbli mslh ni pd sidang2 yg akn datang..

    • Insya Allah warga Muhammadiyah tidak anti perubahan. Hal-hal yang memang perlu dan harus diubah, pasti Muhammadiyah akan mengubahnya dan warganya pun akan sami’na wa atha’na dengan tetap didasarkan pada pengetahuan tentang perubahan itu.
      Saat ini, sesungguhnya sudah ada kriteria “syahr” baru lain yang menanti, yakni kriteria ijtimak global. Saya pribadi, mendingan bberubah ke kriteria ini ketimbang ke imkanur rukyat.

  18. Boled….saya bukan anti perubahan, termasuk di muhammadiyah. Muhammadiyah malah lebih maju pemikirannya, gagasan penyatuan kalender hijriyah bukan saja dalam skope nasional, malah internasional (dunia). Apapun yg menjadi kesepakatan para pakar astronomi islam, saya sangat mendukung. Tapi pembahasan di sana tidak menyoal usang/tidak usang dan tidak pula memecah belah ummat/tidak memecah belah. Di forum tsb, para pakar mengkaji bagaimana mendekatkannya (mengerucutkannya) dengan kriteria2 yang bisa diterima bersama. Pendapat muhammadiyah sendiri masih pada wujudul hilal, hal ini saya baca di majalah Suara Muhammadiyah. Tapi diskusi2 tetap akan terus dilakukan.

  19. Artikel Penting Untuk Dipelajari Pak Thomas…:

    Imkanur Rukyat;
    Ijtihad Lapuk dan Usang Yang Tidak Relevan

    Prof. Dr. Sofjan S. Siregar *)

    Sebenarnya tujuan serta objek metode hisab dan rukyat adalah mencari satu benda yang sama yaitu hilal awal bulan Hijriyah. Maka semestinya jika rukyatnya benar dan hisabnya akurat harus sama sama menghasilkan hilal yang sama, tanpa ada perbedaan. Atas dasar premise logis ini, maka hilal sebagai sasaran kedua metode tersebut harus sama tanpa beda, sehingga perbedaan itu tidak perlu terjadi di Indonesia. Jika beda hasilnya, berarti ada yang salah, paling tidak kurang tepat dalam penentuan awal syawal tahun 1432 H di Indonesia.
    Perbedaan penentuan awal ramadlan dan syawal di tanah air bukan “rahmat”, tapi termasuk “laknat” yang tidak perlu disakralkan, dan harus diakhiri segera mungkin. Kenapa? Karena rukyat itu sendiri bukan ibadah.Yang ibadah adalah puasanya. Tidak satupun ayat atau hadis Nabi secara explisit mewajibkan umatnya melakukan rukyat, juga tidak secara implisit mewajibkan rukyat dalam berpuasa.
    Jika kita merujuk dalil syar’i yang selalu dikemukakan oleh penganut rukyat dalam penentuan awal ramadlan hadis yang berbunyi,:”sumu liru’yatihi waftiru liru’ fain gumma alaikum faqdiru iddata syaban tsalatsina yauma, nahnu ummatun ummiyatun la naqra’ wa la nahsub.” Dalam hadis ini Nabi jelaskan secara eksplisit bahwa kami adalah umat yang buta aksara tidak bisa baca dan nulis. Artinya dalam penentuan awal bulan puasa, nabi hanya berpedoman pada rukyat.
    Rukyat adalah satu-satunya alat yang digunakan dimasa Nabi untuk mencari dan mengetahui awal masuknya Ramadlan. Sesuai dengan qaidah fiqhiyah,” alhukmu yaduru ma’al illah wujudan wa ‘adaman, idha in’adamatil illatu zalal hukmu” artinya validitas sesuatu hukum berkaitan dengan existensi alasan dan sebab lahirnya sesuatu hukum, jika alasan itu habis atau hilang, maka otomatis validitas hukum itu juga gugur secara hukum.
    Karakteristik ajaran Islam yang berlaku dan sesuai dengan segala ruang dan waktu sebagai reflekksi ajaran rahmatan lil’alamien, yang sangat compatible mewajibkan umat Islam sekarang untuk menggunakan technologi secara optimal. Artinya jika kita bisa yakin haqqul yaqin dengan hitungan falak yang akurat bahwa hilal sudah ada diatas ufuq setelah terbenam matahari tanggal 29 sya’ban, kita harus berhenti dan membuang tradisi rukyat yang bukan ibadah.
    Kita boleh saja merukyat, namun berhasil melihat hilal atau tidak, kita harus tetap puasa besoknya. Karena tidak ada kewajiban merukyat dalam ajaran Islam. Yang wajib ialah mengetahui masuk awal bulan. Seperti halnya kita sembahyang Asar tidak mesti melihat bayang bayang, cukup dengan jam. Perbedaan yang tidak perlu dan bukan rahmat dalam penentuan awal syawal dalam satu negara hanya terjadi di Indonesia, sedangkan dinegara lain anggota Organisasi Kerjasama Negara Islam – sebelumnya bernama OKI- yang penduduknya mayoritas muslim seperti Pakistan dan Saudi Arabia tidak pernah terjadi perbedaan antara warganya sendiri, walau mungkin saja bisa beda dengan negara lainnya.
    Metode yang diterapkan oleh kelompok yang membela mati matian harus melihat bulan, baru puasa adalah termasuk methode basi dan tidak bisa dipertahankan baik secara logika maupun secara syar’i. Ketika ada orang melihat hilal, lajnatul isbat memveto, dengan alasan tidak mungkin dilihat secara astronomi. Kenapa kelompok ini pakai alasan astronomi untuk menangkal, tapi ketika data astronomi meyakinkan bahwa hilal sudah ada ketika magrib, setelah konjungsi bulan, bumi dan matahari lebih dari delapan jam umpamanya, lalu di nafikan?
    Ini menunjukkan inkonsistensi alur fikir dan istibath dalam berijtihad tentang hilal.
    Akan halnya istilah imkanur rukyah, yang dijadikan sebagai metode oleh lajnatoel isbatoel hilal, sebenarnya hanya merupakan ijtihad lapuk dan usang dari sebagian ulama di Indonesia, yang sangat tidak relevan sekarang, dan hanya relevant diterapkan dimasa rasoeloellah, sebagai satu satunya alat untuk mengetahui awal bulan.
    Namun, jika kita memahami hadis soemoe liroekyatihi sesuai dengan prinsip dan qaidah fiqhiyah, dan kita yakin Islam sebagai agama rahmatan lilalamin, maka metode imkanur rukyah bukan hanya 100 tahun usangnya, tapi 1500 tahun karatan dan mundur kebelakang.
    Saya ingin analogikan puasa dengan haji buat para anggota lajnah isbat hilal sebagai berikut;
    Kita wajib mengikuti cara nabi ber haji, sesuai dengan hadisnya:” khuzu anny manasikakum” Kalian wajib atau harus ikut cara saya melakukan haji. Nabi pergi haji naik onta, nabi wuquf di pundak onta dllnya. Jika lajnatul isbat konsekwen memahami dan melakukan haji sesuai dengan hadis secara harfiyah, berarti anda semua harus naik haji dengan onta, bukan pesawat terbang, wukuf bukan ditenda, diatas punggung onta dan lain-lainnya.
    Jadi apa yang dilakukan pemerintah dalam penetapan syawal 1432 H, sungguh merupakan blunder ijtihad yang sangat mendiskreditkan wibawa umat Islam Indonesia di mata dunia internasional. Secara tidak langsung pemerintah telah melokalisir manfaat technologi falak, yang hanya membatasi dan mangakui hilal di atas horizon Indonesia, yang dalam khazanah fiqih disebut ikhtilafoel matholi’.
    Pemerintah telah mempersempit wawasan dengan cara hanya mengakui horizon Indonesia saja, cara pandang pemerintah akan menjauhkan umat Islam Indonesia dan terisolisir dalam dunia internasional. Mestinya pemerintah harus melakukan sebaliknya, mendorong upaya globalisasi khususnya dalam soal oefoeq hilal.
    Artinya jika sudah terbukti ada hilal baik melalui hisab maupun rukyat disuatu horizon atau negara, maka seluruh negara di dunia yang belum masuk waktu fajar di lintang dan bujur geografisnya, ikut puasa besok harinya bersama dengan negara atau horizon dimana hilal nampak atau hilal wujud secara syar’i. Dengan demikian kita menerapkan metode vrije horizon atau oefoeq al hoerr, horizon bebas. Secara pribadi saya telah mengajak umat untuk memperluas wawasan horizon hilal seperti dalam buku saya (lihat buku Het vasten in de Islam, het bepalen van begin en einde van de Ramadan, sofjan s siregar blz. 248)
    *) Penulis adalah:
    1. Penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Belanda DE EDELE KORAN
    dan 8 buku Islam lainnya dalam bahasa Belanda.
    2. President of the board of Islamic University of Europe, Rotterdam
    3. Dosen pasca Sarjana, Fiqih contemporer. Islamic University of Europe Rotterdam,
    4. Ketua al majlis alhoelandy lil ifta.
    5. Ketua ICMI Orwil Eropa dari 2000 – sekarang

    • Alhamdulillah, Prof.Dr.Sofjan S Siregar tanggapan anda kami dengar…,
      Lalu bagaimana tanggapan toehan dajjaluddin? Mari kita dengar tanggapannya…, ” oh tidak bisa, tidak bisa… Pokoknya uthuk2 ublunk2 blukuthuk2 kuthuk2 brooottt ublek2 bleketek kethek blooblub blulb bbbb crooot thuuthg2 thoot..ot

    • Saya hormati pendapat seorang ahli fikih yang meninjau hanya aspek dalil, walau belum tentu implementatif. Fakta menunjukkan, secara defakto, rukyat dan dan hisab imkan rukyat itulah yang digunakan di dunia saat ini. http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/10/04/wujudul-hilal-tidak-ada-dasar-pembenaran-empiriknya/. Hanya Muhammadiyah saja yang menggunakan wujudul hilal yang anti rukyat. Silakan tunjukan data yang valid bahwa wujudul hilal masih digunakan di dunia ini untuk penetapan waktu ibadah. ISNA menggunakan kalender Ummul Quro bukan dalam konteks anti rukyat, hanya alasan kepraktisan.

      • Yang sedikit itu belum tentu yang Salah, demikian juga yang banyak belum tentu Benar.
        Prof. Sofjan mengkaji dari aspek Fiqih-nya karena disinilah INTI-nya (kapan puasa, kapan sholat). Sedangkan Rukyat adalah “ALAT” yang (hanya) dipunyai pada saat itu (15 Abad yang lalu, sangat usang). Jika ada “ALAT” lain yang lebih akurat (hisab) maka ALAT yang lama (Rukyat) boleh ditinggalkan. Jika masih berpegang dengan ALAT yang lama (sebagai konfirmasi) sama aja kembali ke 15 abad yang lalu.
        Permasalahannya ketika ahli ALAT (Prof. Djamal) memasuki wilayah Fiqh (yang diyakini Muhammadiyah) bahkan dengan penyampaian yang kurang bijak dan politisasi suatu lokakarya

      • Memang zaman dahulu orang2 menggunakan wujudul hilal ya…..? setau saya, kalaupun dulu orng banyak pakai hisab, biasanya ijtima’ qablal ghurub. Konon teori wujudul hilal digagas oleh Wardan Diponingrat tahun 60-an untuk memperbaiki kelemahan hisab ijtima’ qablal ngurub. So, kayak’a ini original pemikiran Indonesia, mungkin belum trend, tapi tanda2 trend kayaknya ada, bukankan Prof pernah bilang Arab Saudi pake teori ini…..? Kayak’a saya BANGGA PAKAI PRODUK INDONESIA, tapi sesungguhnya bagi saya jauh lebih ilmiah dan jujur teori wujudul hilal dari pada imkanurrukyat, itu saja.

    • Waah payah niih…
      Professor Sofian gak ngerti Astronomi jadi begini neeh komennya.
      Masa ufuk diperluas.
      Kalau begitu Waktu Sholat 5 waktu juga diperluas dong?
      Sehingga, matahari di Indonesia harus sama dengan matahari di Jepang, karena ada matahari sudah terbit di Jepang sedangkan Indonesia masih malam.
      Dikiranya Hisab itu hanya satu-satunya Hisab Wujudul Hilal.
      Imkanur Rukyat itu HISAB, bukan RUKYAT MURNI MAS…

  20. Baju baru alhamdu lillah
    tuk dipakai di hari raya
    nggak pakai pun nggak apa-apa
    MASIH ADA BAJU YANG LAMA …

    He-he-he

    • Bisa dilihat foto masa kecilnya nak djamal waktu sholat ied di lapangan. Bersama ayahanda (alm) bersama adik2nya..(Wah sy jd ingat ayah saya alm), berbaju sederhana, bersih, tdk seragam bahkan nak djamal tdk pakai kopiah dan baju taqwa..
      Kelihatan khidmat, tapi yang penting gigi tukulnya itu brooo…hehehe

  21. Setuju dg Prof. Sofjan Siregar. Harusnya memang demikian.

  22. Nah….! Gimana tuh…imkan rukyat justru dibilang lebih usang 1500 tahun? Memang yang paling tepat adalah wujudul hilal. Ini kriteria astronomis yang paling tepat. Pakar yang mengatakan purnama bisa jatuh pada tanggal 13, 14 dan 16 itu menurut saya juga keliru. Jika muhammadiyah mengatakan seperti itu, maka saya harus nyatakan itu keliru. Bahwa purnama terjadi antara tanggal 14 hingga 16 itu bisa dipahami, tetapi puncak purnama tetap tdk terjadi selama 3 hari berturut-turut. Selain menggunakan ilmu astronomi, mengetahui puncak purnama juga dapat menggunakan parameter muka air laut. Gampang sekali. Dalam ilmu hidro-oseanografi, atau bahkan ini sudah dipahami masyarakat pesisir beratus tahun, ada fase air laut tenang yaitu yg dikenal dengan istilah pasang perbani. Fase ini berlangsung sekitar 5 hari (tgl 13 – 17 bulan qomariah). Puncaknya ya tanggal 15 (saat puncak purnama). Jika kita kesulitan membedakan penampakan bulan purnama, kita dengan mudah menggunakan tinggi muka air laut. Amati terus dan tandai tinggi muka air laut antara tanggal 14 hingga 16 bulan qomariah. Untuk cara ini bisa kita gunakan tiang permanen yang terendam air laut. Tinggi muka air laut yang tertinggi itulah puncak purnama. Syaratnya, tidak ada hujan baik di laut, di kawasan pesisir maupun di kawasan hulu. Sebab kalau terjadi hujan, tinggi muka air laut akan terpengaruh limpahan air hujan. Saya yakin, bulan dan alam tidak akan bohong. Jadi pak Thomas kalau kesulitan membedakan penampakan bulatnya purnama, bisa minta tolong masyarakat yang tinggal di pesisir untuk mengukur tinggi muka air laut. Bahkan masyarakat pesisir (utamanya nelayan) mampu merasakan (mendeteksi) apakah sudah bulan baru atau belum. Karena pergantian bulan baru qomariah itu selalu diikuti fenomena/gejala alam, dan sangat terasa sekali kalau di wilayah pesisir. Mungkin pak Thomas juga perlu belajar dengan masyarakat pesisir.

  23. Sy ucapkan terimakasih kpd Prof. Dr. Sofjan S. Siregar *) dan saya sepakat dengan pernyataannya yang sangat jelas, bahwa Metoda Imkan Rukyat Usang. Saya temukan juga tulisan di internet Judul: “KALAU BULAN BISA OMONG” yg menyatakan Imkan Rukat itu “halusinasi”. Hadis rwyt Imam Bukhari :”..kami adalah umat yang buta aksara tidak bisa baca dan nulis” menunjukkan, saat itu belum ada metoda lain untuk mengetahui awal bulan baru, maka Nabi SAW memberi solusi dengan cara rukyat. Sebagai pengamat HISAB RUKYAT, saya menganggap HISAB adalah (pengganti) RUKYAT. Hisab dibangun berdasarkan OBSERVASI(RUKYAT) yg terus menerus terhadap benda-benda langit (diantaranya BULAN) ciptaan Allah yang ada di angkasa, di mana para astronom mengakui keteraturan gerakan(ASTROFISIKA)nya. Jika tdk teratur mana mungkin GERHANA DAPAT DIPREDIKISI BEGITU AKURAT. Maka, ketika hampir semua kejadian di angkasa raya ini bisa diprediksi dengan tingkat akurasi yang demikian tinggi, mengapa untuk menentukan tanggal 1 Hijriyah(Ramadhan), kembali -termasuk PARA ASTRONOM-menggunakan CARA YANG USANG?. Para ASTRONOM (termasuk dari LAPAN DAN ITB)sendiri dalam simulasi2nya menyatakan bahwa IJTIMA’ artinya “Bulan Baru”, bukti kebenaran pernyataannya dapat disaksikan ketika terjadi GERHANA MATAHARI. Saya termasuk yg sdh membuktikannya, dan benar adanya. Saya masih berfikir, didalam menentukan awal bulan Hijriyah,mengapa kita tidak berangkat dari ijtima’ saja, toh itu FENOMENA ALAM!!, alam itu sendiri yang menginformasikan kepada kita bhwa bulan baru tlh terjadi. Wallahu a’lam.

    • Komentar tanpa didasari ilmunya menjadi lucu, kalau tidak dianggap keluar jalur. Konteks wujudul hilal vs imkan rukyat adalah hisab, bukan rukyat. Silakan pelajari dulu konsep hisab awal bulan, baru berkomentar. Ahli fikih berkompeten soal dalil, tetapi belum tentu menguasai aspek teknis hisabnya. Jadi, kometarnya memang di luar jalur. Hisab imkan rukyat tidak sama dengan rukyat, melainkan hisab yang disetarakan dengan rukyat. Itulah trend internasional saat ini. Sialakn kunjungi situs http://www.icoproject.org/, http://moonsighting.com/, atau lainnya. Lalu bandingkan dengan mencari hisab wujudul hilal, adakah negara atau organisasi di luar Muhammadiyah yang masih menggunakannya? Silakan browsing. Kalau tidak menemukannya, itu artinya sudah usang, sudah ditinggalkan oleh banyak negara dan banyak organisasi.

      • Membaca tulisan Prof. Sofjan, memang tidak membahas tentang Kriteria Wujudul Hilal dan Imkan Rukyat. Namun lebih pada penggunaan Hisab dan Rukyat sebagai ALAT untuk melaksanakan puasa atau melaksanakan sholat (dan ini adalah INTI-nya, yang di”othak-athik” lagi oleh Prof. Djamal).
        Cuman Hisab Imkan Rukyat kan terlihat masih membutuhkan konfirmasi Rukyat, terbukti dengan ditolaknya kesaksian Cakung dan Jepara saat sidang isbat karena alasan Astronomi (tidak mungkin terlihat). Bagaimana mungkin ALAT yang canggih (Hisab) harus “diukur/dikalibrasi lagi” dengan ALAT Jadul (Rukyat) ???
        Inilah ketidak konsisten-nan Imkan Rukyat. Kalo sekedar kriteria Wujudul Hilal (gampangannya = 0 derajat) vs kriteria Imkan Rukyat (sekian derajat-sekian jam) bisa dibicarakan di Lokakarya. Tapi ketika “Kesaksian Ditolak” maka terjadi ketidak-tundukan pada dalil-dalil Naqli (Hadits-hadits tentang Rukyat).

      • Yang tidak banyak digunakan belum tentu sesuatu yang usang. Tidak nalar sama sekali logika berpikir seperti itu. Bisa jadi tidak digunakan itu karena sesuatu yang lain. Aspek kemampuan akal menggapai misalnya. Yang banyak digunakan, bisa jadi justru sesuatu yang sudah lapuk, tetapi “ngotot” untuk tetap dipakai, bahkan kemudian dipoles supaya tampak baru.
        Setahu saya, metode hisab imkanur rukyat, atau visibility of new (crescent) moon, adalah metode yang digunakan pada zaman Babilonia dan orang-orang sebelum Islam datang. Justru rukyat itu diperintahkan oleh Nabi saw untuk mengganti imkanur rukyat. Mengapa? Ya, karena imkanur rukyat tidak mengandung kepastian, sementara rukyat, zaman Nabi saw, dianggap lebih memberi kepastian masuk “syahr” baru. Nah, zaman sekarang, hisab wujudul hilal-lah yang paling dapat memberi kepastian secara tepat masuknya “syahr” baru. Mungkin, puluhan tahun ke depan ada lagi metode yang benar-benar baru yang menggantikan semuanya, yang dapat memberi kepastian lebih tinggi masuknya “syahr” baru.

  24. Paragraph pertama dari artikel Prof. Dr. Sofjan S. Siregar

    “Sebenarnya tujuan serta objek metode hisab dan rukyat adalah mencari satu benda yang sama yaitu hilal awal bulan Hijriyah. Maka semestinya JIKA RUKYATNYA BENAR DAN HISABNYA AKURAT, HARUS SAMA SAMA MENGHASILKAN HILAL YANG SAMA, tanpa ada perbedaan. Atas dasar premise logis ini, maka hilal sebagai sasaran kedua metode tersebut HARUS SAMA TANPA BEDA, sehingga perbedaan itu tidak perlu terjadi di Indonesia. Jika beda hasilnya, berarti ada yang SALAH, paling tidak kurang tepat dalam penentuan awal syawal tahun 1432 H di Indonesia.”

    Kalau kita baca dengan tenang dan kita renungkan dengan baik, bukankah itu berarti hisabnya yang dipakai harusnya adalah hisab imkanur rukyat (supaya benar dan akurat, tentunya kriterianya disepakati dengan baik dan untuk ini serahkan saja ke ahlinya). Karena kalau wujudul hilal, seperti kemarin ternyata tidak menghasilkan HILAL YANG SAMA, karena hisabnya hanya menghasilkan hilal “hypothesis”. Dan ahli hisab/falak wujudul hilal pun tahu dengan haqqul yaqin, hilal tidak akan terlihat. artinya TIDAK SAMA!.

    Kembali ke kalimat pertama Prof Sofjan “sebenarnya tujuan serta objek metode hisab dan rukyat adalah mencari satu benda yang sama yaitu hilal awal bulan Hijriyah”. Mestinya kita kembalikan saja apa sebenarnya definisi hilal?

    Secara syar’i: dalilnya ada di Al Qur’an dan Hadits (dipraktekan pada waktu itu). Mau tidak mau ya kembali kepada pengertian, hilal itu sesuatu yang dapat terlihat oleh mata (soal pakai alat atau tidak itu urusan lain).

    Bagaimana secara Astronomi: ternyata definisi syar’i inipun dapat diterima oleh ahli2 astronomi (termasuk yang non-Muslim).

    Sebagai ilustrasi, kejadian yang baru lalu, gerhana bulan. Karena adanya hisab, orang jadi tahu dan bisa bersiap2 untuk sholat gerhana. Kapan sholatnya, ya setelah gerhana terlihat/terbukti. Soal ada orang2 yang mau sholat tanpa harus melihat gerhana, karena sudah haqqul yaqin dengan hisab, ya silahkan karena toh memang sama2 waktunya.

    Dan kalau hal di atas bisa kita sepakati untuk hilal awal bulan hijriah, ya indah sekali ummat Islam dan keinginan Prof Sofjan pun terpenuhi. Setelah itu, prosesi rukyat bisa ditinggal, karena orang2 sudah pada haqqul yaqin, dengan hisab yang akan sama hasilnya, seperti dalam hal jadwal sholat.

  25. Rukyat untuk mengkonfirmasi hasil hisab, saya setuju. Dan ini perlu dilestarikan. Tapi rukyat sebagai penentu masuknya “syahr” baru, saya sangat tidak setuju. Ini bisa digolongkan beribadah tapi tanpa ilmu, atau tidak mau menggunakan ilmu. Jadi, apapun metode dan kriterianya, misalnya imkanur rukyat dengan berbagai varian kriteria visibilitas hilalnya, kalau masih menggunakan rukyat sebagai penentunya, WAJIB ditinggalkan.
    Kasus idul Fitri kemarin, jelas sekali Sidang Isbat Kemenag itu yang menyalahi hasil hisab, yakni hisab wujudul hilal, sekaligus hasil rukyat, yakni rukyat Cakung dan Jepara, termasuk juga rukyat global.

  26. Justru disinilah kita mestinya bijaksana dan tetap tenang dalam menanggapi persoalan. Masalah yang sedang dibahas (oleh Pak Djamal), itu tentang HISAB. Yaitu hisab wujudul hilal vs imkan rukyat (sekali lagi dua2nya HISAB).

    Kalau tentang kesaksian rukyat Idul Fitri kemaren itu memang tertolak secara astonomi. Bahkan, kalau pun ditanyakan ke ahli hisab (ahli Falak) nya yang menghitung dengan wujudul hilal pun, mereka haqqul yakin hilal tidak akan terlihat.

    Jadi konsekuensinya, kalau ternyata kesaksian rukyat kemarin itu benar (akurat), maka hisab yang dipakai selama ini (baik itu wujudul hilal maupun imkan rukyat) salah semua/bubar!.

    Jadi jangan bingung!

    • Sidang itsbat kemarin itu bukan Hisab dengan Hisab… Tapi Hisab dengan Rukyat…

      Kalo mau diakuin Hisab dengan Hisab…

      Mari Kita tunggu Pemerintah, NU, Persis, dan ormas lain… Mau Mengumumkan Penetapan Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha… JAUH-JAUH HARI… seperti hal nya Muhammadiyah…

      Kalo terus saja dilakukan pengumuman penetapan itu malam tanggal 30 Ramadhan / Syawwal / Dzulhijjah… nunggu hasil Tim yang dikirim untuk merukyat dengan biaya negara…

      Sebaiknya bermimpi saja Metoda Imkan Rukyat mau diakuin sebagai Hisab…

  27. Abu Said…jangan keburu bubar dulu. Hisab tentu lebih akurat daripada rukyat. Jadi kalau menurut hisab masih sekitar 2 derajat dan ada yang melihat misalnya 3 derajat, maka boleh jadi si saksi memang melihat hilal, tapi ia tidak tepat mengukur tinggi hilal. Jadi tidak bisa langsung mengatakan hisab salah/bubar. Prakteknya, mengukur tinggi hilal dengan alat itu tidak selalu tepat. Hitunganlah yang lebih tepat. Ini sangat mungkin terjadi.

  28. Mas Prasojo, ternyata capek juga neh! (mudah2an Pak Djamal gak ikutan capek dan dapat terus berusaha untuk melakukan pencerahan, insyaAllah).

    Begini, kita ini sedang membahas masalah hisab, lebih singkatnya, tentang hisab wujudul hilal vs imkan rukyat, supaya bersatu. Kita mestinya sudah tidak perlu mundur lagi bahwa hasil hisab kita adalah akurat (catatan: PALING TIDAK untuk sementara waktu ini. Maaf catatan ini penting, karena kebenaran ilmu pengetahuan itu lebih bersifat RELATIF, yaitu sekarang bisa jadi benar, tapi bisa saja dikemudian hari ternyata salah/ada penemuan baru atau konsep baru yang lebih benar dan tepat. Ini normal2 saja karena memang pengetahuan manusia itu berkembang. Oleh karena itu, konsep/model ilmu pengetahuan, termasuk disini adalah, kriteria2 hisab kita, idealnya pun harus ikut berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia).

    Dengan hisab (wujudul hilal maupun imkan rukyat), yang sekarang ini kita yakini ke akuratannya, rukyat hilal idul fitri yang kemarin jelas tertolak. Kalaupun mau ditanyakan ke ahli falak/hisab wujudul hilal pun, mereka sudah haqqul yaqin kalau hilal kemarin gak bakal kelihatan. Jadi yang saya maksudkan kemarin, kalau ada yang bersemangat dengan wujudul hilal tapi masih ragu2 dengan kesaksian hilal kemarin, mau kemanakah kita??

    Justru disitulah issue nya. Kalau hilal itu tidak kelihatan – seperti kasus idul fitri kemarin (sekali lagi silahkan ditanyakan ke ahli falak/hisabnya wujudul hilal) artinya ya hilal itu tidak ada/hilal belum ada alias sebenarnya belum wujud (kita harus jujur kembali kepada definisi apa itu hilal). Jadi jangan dibenturkan lagi dengan kesaksian rukyatul hilal yang tidak akurat.

    Idealnya tentunya, kita2 yang mau mengusung hisab (sebagai pengganti rukyatul hilal, minimal sementara ini sebagai alternatif cara menentukan hilal awal bulan), bersatu dulu dan selanjutnya bisa mengatakan….kira2 begini (bukan untuk sombong) “inilah hisab kita, kalau anda tidak percaya silahkan dibuktikan, insyaAllah akan ketemu yang sama).

    Langkah selanjutnya, kalau ini sudah sepakat, kita bergerak lebih lanjut untuk bersatu dengan yang rukyatul hilal, bagaimana kalau secara hisab hilal sudah akan tampak/dapat dilihat, tapi karena cuaca, hilal tidak terlihat? Disinilah kita butuh fatwa (untuk bersatu) dengan tentunya sesudah didukung bukti2 empirik bahwa hisab kita memang sudah SETARA dengan rukyat. Dan bisa dikembangkan juga untuk kesepatan global.

    Indah bukan? Kapan? Mari bersatu (buang jauh2 emosi dan buruk sangka, dan juga jangan ragu2 mengganti kriteria kalau memang diperlukan untuk penyempurnaan, seperti catatan di atas ilmu manusia itu berkembang. Kalau contohnya 2 derajat dianggap tidak cukup, silahkan ahli2nya mengusulkan apa maunya tentunya dengan bukti2 empirik dan didiskusikan dengan ahli2nya yang lain). InsyaAllah bisa.

  29. Abu Said, maksudnya begini lho. Kalau hisab wujudul hilal sudah terang tidak mensyaratkan hilal harus terlihat. Yang saya maksudkan, itu lho…penganut rukyat yang menurut hemat saya jadi tidak konsisten. Di satu sisi mewajibkan rukyat, di sisi lain ada saksi yang melihat hilal (saksi Cakung dan Jepara) koq ditolak. Ini justru kontradiktif. Kalau kami memang tidak mensyaratkan hilal harus terlihat. Nah kalau penganut rukyat menolak saksi hilal dengan alasan hilal di bawah 2 derajat tidak mungkin terlihat, mengapa tidak pakai wujudul hilal saja sekalian? Seharusnya penganut rukyat harus bisa menerima saksi hilal, apapun dan berapapun tingginya, tanpa berdalih “hilal tidak mungkin terlihat”. Maksud saya begitu. Nggak tau kalau penganut rukyat sudah berani meninggalkan rukyat? ini tentu merupakan kemajuan besar.

    • Saya tambahin pak Prasojo,
      Menurut saya MD yang masih berpegang pada Hisab WH, menerjemahkan hadits tentang Ru’yat dengan Ru’yat bi Ilmi, jadi tidak perlu lagi konfirmasi terlihatnya hilal (Ru’yat). MD bisa menentukan Idul Fitri jauh-jauh hari (kayak ilmuwan memprediksi Higgs Boson secara matematis).
      Saudara-saudara NU Cakung dan beberapa bagian dunia lainnya menerjemahkan Ru’yat dengan Ru’yat bi Fi’li dan menerima semua konsekuensi kesaksian Ru’yat (seperti Nabi menerima pengakuan Ru’yat dari umatnya/bahkan yang dhoif)
      Yang jadi masalah itu Pemerintah dan sebagian saudara-saudara muslim yang menggunakan kriteria Hisab IR. Hisab IR ini BELUM MATANG untuk ditetapkan sebagai dasar perhitungan kalender Hijriyah, disamping secara ilmu astronomi masih membingungkan (2 derajat kek, 4 derajat kek atau yang lain), secara Fiqih juga gak ada pijakan dalilnya. Mau Ru’yat bi Ilmi kok over kriteria, padahal > 0 derajat pun seharusnya sudah dapat diterima akal. Tapi kalo Ru’yat bi Fi’li, kesaksian yang ada tidak sesuai perhitungan visibility hilal.

  30. Nur Harjanto….setuju. Persis banget

  31. sepertinya yang kebakaran jenggot itu anda deh Prov. ga caya? lihat dan baca saja tulisan anda di blog, bahkan anda sendiri hingga saat ini tidak menanggapi klarifikas Suksinan Azhari terkait kesalahan anda yg menyebutkan blio sbg wakil Muhammadiyah.

    TDj:
    seorang ahli fikih yang meninjau hanya aspek dalil, walau belum tentu implementatif.

    weleh, anda lupa ya, bbrp tulisan anda sebelumnya malah selalu mengkampanyekan aspek dalil ketika aspek dalil anda disanggah oleh Prof. Dr. Sofjan S. Siregar, anda malah lari, piye proV ??

  32. Harman….setuju. Malah dalam salah satu tulisan Prov Thomas, menyebut hisab wujudul hilal sumbernya hanya 1 ayat di alquran, sementara rukyat lebih banyak. Apalagi imkan rukyat, paling banyak. Lihat tabel komparasi metode rukyat, hisab dan imkan rukyat ala prov. Thomas. Padahal, menurut saya dasar (dalil) alquran ttg wujudul hilal itu paling banyak. Justru yang terjadi, prov Thomas ‘memanipulasi’ (baca : mencocok-cocokkan) dalil alquran semata-mata untuk membenarkan pendapatnya dan terasa sekali ketidakobyektifannya. Sangat disayangkan, jika tiap ulama di negeri ini begini caranya. Ummat tidak pernah tercerahkan dengan benar.

  33. Namanya saja tan sri dajjaludin binti gerandongudin toehannya para penganut JAHIL Liyah, selalu bermetamorfosis alasan yg di cari2 demi suatu pembenaran. Dan pembenaran bagi dia sesungguhnya berujung pada pembohongan yg tiada terkira bagi penganut JAHIL Liyah! Naudzubillah….! Jadi mari kita tinggalkan saja nak djamal beserta pemikirannya yang basi dan berhalusinasi ini!
    Mari kita songsong ramadhan 2012 dgn malam laitul qadar dgn haqqul yaqin. Insya Allah, Allah SWT meridhoi mekkah dengan wujudul hilal ummul quronya. Amin

  34. Saya ingin naggapin komentarnya Prasojo dan yang ditambahin oleh Nur Harjanto. Mungkin kita memang belum punya persepsi yang sama atau belum bicara dengan “bahasa yang sama”. Ijinkan saya bertanya dahulu:

    Yang pertama; apakah yang anda maksudkan dengan (Prasojo) “tidak mensyaratkan hilal harus terlihat” dan (Nur Harjanto) “….menerjemahkan hadits tentang Ru’yat dengan Ru’yat bi Ilmi” itu adalah MENGGUNAKAN ILMU HISAB? Kalau jawaban anda itu YA! Ya artinya saya sependapat dengan anda karena memang sudah waktunya kita menerapkan ilmu pengetahuan (demi kepraktisan dalam beribadah tapi dengan syarat tidak mengubah ketentuan2 yang syar’i/qath’i) dan saya menolak pendapat golongan tertentu yang mengatakan hisab itu bid’ah (dan saya yakin demikian juga pendapat Ustadz Djamal – saya tidak kenal tapi saya hormati beliau sebagai guru atau orang yang sedang membantu mencarikan solusi. Kalau tidak setuju dengan pendapatnya ya kita kritisi saja dimana yang perlu dibantah/koreksi dengan tetap menjaga kesantunan dan kaidah ilmiah, apalagi kita sedang berdiskusi tentang bagian dari agama kita – bukankah kita sedang berdiskusi mencari jalan menuju persatuan? mari kita mulai dengan berkhuznudhon dan menggunakan kata2 yang santun sajalah, supaya kita bisa mendapatkankan manfaatnya, insyaAllah).

    Tapi yang kedua; Mas Prasojo, apakah yang anda maksudkan dengan “tidak mensyaratkan hilal harus terlihat” ini bagian dari definisi HILAL itu sendiri? Mungkin saja jawaban anda itu Ya. Disinilah issue/perbedaannya. Coba apakah dalil syar’i nya tentang definisi hilal yang seperti itu? Yaitu yang idul fitri kemarin tidak terlihat (belum wujud sebetulnya) dan besok idul adha terlihat (karena memang sudah wujud)? Disinilah, makanya saya waktu itu bilang sebaiknya kembalikan saja dululah apa sih definisi hilal itu (secara syar’i dan astronomi).

    Dan disinilah masalahnya saudaraku, silahkan anda cek dan ricek, ahli falak/hisab WH itu tahu dengan ilmul yaqin (bahkan sudah dengan haqqul yaqin mestinya) bahwa kemarin itu HILAL awal Syawal pada tgl 29 Agust 2011 tidak akan terlihat/nampak (karena ya memang belum wujud – maaf jangan rancu oleh kata2/istilah Wujudul Hilal – yang merupakan konsep). Atau supaya sedikit “berkompromi” hilal telah (dalam tanda petik) “wujud” tapi tidak akan terlihat (artinya hilalnya masih hipotesis). Ini artinya, jauh2 hari anda sudah tahu, bahwa RUKYAT (Catatan: yang BENAR dan AKURAT dan kita kesampingkan dulu kesaksian yang tidak akurat) dan HISAB tidak menghasilkan HILAL yang sama, alias beda. Jadi sekali lagi, bukan hanya jauh2 hari anda sudah bisa tahu kapan mau idul fitri TAPI SEBETULNYA JAUH2 HARI ANDAPUN SUDAH HARUS TAHU KALAU ITU AKAN BEDA!!!!!!!? Dan pakai kata2 Prof Sofjan “Jika beda hasilnya, berarti ada yang salah”.

    Dan merujuk ke artikelnya Prof Sofjan “Sebenarnya tujuan serta objek metode hisab dan rukyat adalah mencari SATU BENDA YANG SAMA yaitu HILAL awal bulan Hijriyah. Maka semestinya jika RUKYATNYA BENAR dan HISABNYA AKURAT harus sama sama menghasilkan HILAL YANG SAMA, TANPA ADA PERBEDAAN. Atas dasar premise logis ini, maka hilal sebagai sasaran kedua metode tersebut harus sama tanpa beda, sehingga perbedaan itu tidak perlu terjadi di Indonesia. Jika beda hasilnya, berarti ada yang salah, paling tidak kurang tepat dalam penentuan awal syawal tahun 1432 H di Indonesia”.

    Jadi supaya kita meng hisab SATU BENDA YANG SAMA yaitu HILAL kita harus punya definisi yang sama, baik oleh sesama pengusung hisab maupun golongan yang mengamalkan rukyat.

    Makanya untuk hal di atas, saya termasuk yang yakin bahwa kita mesti kembali dulu ke fiqih. Kita tahu apa yang dipraktekan oleh Rosul SAW dan para sahabat dan generasi setelahnya, mereka menetukan awal bulan dengan melihat hilal. Jadi jelas hilal adalah sesuatu obyek yang jelas dan dapat dilihat (sekali lagi maaf saya sedang bicara definisi hilal). Surat Al Baqarah 189: “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal …”. Karena ilmu astronomi belum berkembang waktu itu, maka dengan sederhana bisa disimpulkan HILAL adalah objek yang jelas bisa dilihat (ini buat definisi untuk keperluan hisab maupun yang mau pakai rukyat).

    Alasan yang kedua, mengapa kita harus repot2 ber “istihaj” membuat definisi baru tentang HILAL dengan hanya berdalil bahwa waktu itu ilmu astronomi belum berkembang dan umat Islam masih ummi? toh definisi di atas kita tahu bersama tidak bermasalah dan memang bisa diterima (secara astronomi pun bisa diterima) dan keuntungan yang nyata dengan itu (1) kita berpotensi untuk bersatu dan (2) ini tidak mengurangi tujuan bersama kita, untuk bisa menghisab hari2 ibadah kita, jauh2 hari sebelumnya.

    Dengan kita bersepakat pada definisi di atas, kitapun dapat dengan lapang hati menerima, bahwa seandainya ada sekelompok golongan yang mau mengamalkan dengan tetap melihat hilal (rukyatul hilal dan tidak mau pakai HISAB), ya silahkan, karena merekapun benar dan tidak bisa disalahkan secara syar’i (karena ada contohnya dari Rosul SAW dan sahabat). Yang kita permasalahkan, cara itu primitif dan sudah tidak praktis lagi untuk jaman sekarang ini (karena melihat hilal sudah bukan dari kehidupan sehari-hari modern kita sekarang – kecuali mungkin para astronom). Kalaupun kita harus mengambil contoh haji naik onta, ya silahkan. Mau pakai pesawat, dll ya silahkan, yang penting kita ikut perintah manasiknya Rosul SAW, seperti miqotnya di tempat yang ditentukan, mabit di Mina, wukuf di Arafah dengan tetap mengikuti aturan dan waktu2nya, dlsb.

    Selanjutnya soal mau 2, 4 derajat atau kriteria yang lainnya sudah seharusnya kita serahkan saja ke ahli2nya, mana yang tepat sesuai dengan definisi HILAL yang sudah disepakati. Yang awam tidak usah ikut2an, percayakan saja ke mereka, karena kalau sesuatu diserahkan ke yang bukan ahlinya, tinggal tunggu kehancurannya. Biarkan mereka bermusyawarah dan musyawarah itu memang adalah antara orang2 yang berilmu dan bukan antara orang2 yang tidak berilmu. Kita yang awam tinggal tunggu kesepakatannya, InsyaAllah bisa.

  35. Abu Said….kalau saya koq begini. Biarlah para astronom mendefinisikan hilal secara murni berdasar ilmu astronomi, jangan dicampur dg syar’i terlebih dulu. Sebaliknya, para ulama biarlah mendefinisikan hilal secara syar’i murni, tanpa dicampur dg kaidah astronomi dulu. Setelah kedua-duanya memperoleh difinisi, baru dicoba didekatkan definisinya. Jika berhasil disepakati, alhamdulillah. Kalau belum, mungkin kita memang masih harus bersabar. Mengapa saya katakan demikian, karena ilmu astronomi juga memiliki dasar syar’i yaitu alquran. Para ulama juga mempunyai dasar, alquran dan hadits. Nah persoalan hilal terkait dengan puasa dan syawal, ini memang persoalan lain. Kedua belah pihak (penganut hisab dan penganut rukyat) memiliki pandangan yang berbeda, meskipun sumbernya sama (alquran dan hadits). Mungkin kita memang masih perlu waktu untuk mencapai sepakat. Tidak perlu dipaksakan. Yah..semoga saja kesepakatan itu segera terwujud, tanpa harus saling menyalahkan. Kita beri kepercayaan kepada katakanlah pakar2 kedua belah pihak untuk berdiskusi dan mencari titik temu.

  36. Sip Mas Prasojo, insyaAllah. Serahkan saja ke ahlinya. Tapi kemaren saya sebetulnya sedikit muter2, karena kalau tentang definisi hilal ini saya yakin tidak ada issue di kalangan astronomi/ahli falak. Saya coba google saja: In astronomy, a crescent is the shape of the lit side of a spherical body (most notably the Moon) that appears to be less than half illuminated by the Sun as seen by the viewer (tolong koreksinya Pak Djamal kalau kurang tepat).

    Dan secara syar’i pun ya harusnya tidak ada masalah. Sederhana saja Mas, Hilal itu termasuk “tanda2 alam” yang dapat terlihat dan ya sesederhana itulah kalender Hijriah. Kalau tidak sederhana, tidaklah mungkin ini bisa dipraktekan oleh orang2 dahulu (bahkan pre Islamic era).

    “Kesederhanaan” itu mulai sirna pada saat manusia mulai ingin mengimplementasikannya untuk wilayah yang lebih luas/global. Kompleksitas berikutnya, adalah issue sinkron/tidak sinkron nya dengan kalender international (Lunar/Syamsiah). Dan lebih khususnya buat kita, menyangkut hal2 yang syar’i sifatnya. Untuk itu sekali lagi serahkan saja ke ahlinya.

    Ahli2 kita sudah banyak, dari MD, dari NU dll dan juga dari yang tidak terafiliasi. Kita yang tidak berkompeten, tidaklah perlu ikut2an. Termasuk disini adalah petinggi2 organisasi2 kita/ulama2 kita, yang gak faham falak ya jangan ikutan (boleh saja tapi ya belajar dulu, atau paling tidak mintalah terlebih dahulu masukan/nasehat dari kolega2nya yang faham tentang ini – lupakan pangkat dan gengsinyanya . Semacam Tabayyun lah). Juga tanggalkan bendera/kepentingan2 singkat organisasi2 kita.

    Kalau nanti bisa bersepakat, Tidak ada istilah kalah menang, itu untuk kepentingan kita bersama, kepentingan Islam. Juga tidak perlu ada istilah pahlawan, pahala ada disisi Allah, dan itu tak akan mleset, insyaAllah (Al Zalzalah: 7-8).

    Dan ingat Surat Ali Imran 103………..”dan janganlah kamu bercerai berai..”

    CATATAN:
    Saya pribadi kemaren berharap banyak ada komentar dari ahli2nya di blog nya Pak TD tentang lokakarya untuk bersatu kemaren. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Pak Susiknan, tapi beliau hanya mengomentari tentang posisi beliau sebagai bukan wakil MD (yang Pak TD salah rupanya). Saya sungguh ingin tahu apa sebetulnya “dissenting opinion” beliau. Maaf kalau ternyata ada ditempat/blog lain dan saya mohon infonya kalau ada yang tahu.

  37. Abu Said…adalah tidak mungkin kita mengharapkan diskusi yg melibatkan para pakar dalam suatu blok pribadi. Jika ingin melibatkan para pakar, forumnya memang harus resmi.

    Lalu soal Muhammadiyah. Mengapa prof. Thomas harus membongkar-bongkar Muhammadiyah? Ini menurut saya kekeliruan besar seorang pakar yang sepertinya juga ulama. Prof Thomas boleh mengkritisi ‘usangnya’ wujudul hilal, tapi tak perlu menyebut Muhammadiyah. Yang dikritisi kan metode atau kriterianya, kenapa harus membawa-bawa ormas Muhammadiyah? Ini sungguh tidak etis terlebih dilakukan oleh ilmuwan senior. Saya juga kontra rukyat, tetapi saya tidak harus menunjuk nama organisasi atau nama seseorang yang saya anggap masih mengamalkan rukyat. Cukuplah saya soroti atau kritisi rukyatnya. Contoh lain, ketika kita tidak suka dengan sistem ekonomi kapitalis/liberal, tentulah kita kritisi sistemnya, bukan negara2 yang menganut sistem itu.

    Sebenarnya prof. Thomas bisa saja memasuki ‘wilayah’ Muhammadiyah misalnya dengan cara menjadi anggota Muhammadiyah. Dan oleh karena kepakarannya, tentulah ia akan diangkat menjadi anggota Majlis Tarjih dan Tajdid. Dalam posisi itulah, prof. Thomas bisa mendobrak apa yang ia sebut ‘kejumudan’ dalam Muhammadiyah. Jika prof. Thomas berada di luar lingkaran Muhammadiyah dan mengkritisi wujudul hilal tetapi menyeret-nyeret nama Muhammadiyah, tentulah ini dianggap sebagai bentuk provokasi, meskipun prof. Thomas selalu mengatakan ‘mencintai’ Muhammadiyah. Konon ada ungkapan, cinta tidak harus dikatakan, tetapi ditunjukkan dengan tindakan. Apalah arti ia mengatakan ‘mencintai’ Muhammadiyah, tetapi di sisi lain secara implisit menyatakan ‘memecah belah ummat’. Maka dari itu, adalah wajar kalau sebagian orang lalu bersuuzon, prof. Thomas sedang mencari popularitas, di atas ‘rasa sakit hati’ warga Muhammadiyah. Persoalan akan berbeda, jika prof. Thomas ‘memaki-maki’ wujudul hilal tapi tidak menyeret-nyeret nama Muhammadiyah. Biarlah pembaca yang menyimpulkan sendiri siapa yang dibidik prof. Thomas, atau biarlah si pengamal wujudul hilal yang kebakaran jenggot tapi mereka tidak bisa menyerang balik prof. Thomas. Atau biarlah (syukur-syukur) Muhammadiyah sendiri lalu mengoreksi kriteria yang selama ini ia gunakan dan mengganti dengan kriteria yang up to date (menurut prof. Thomas : imkan rukyat). Tentu cara ini lebih indah. Sebaliknya, dengan cara prof. Thomas menyerang Muhammadiyah (di depan umum), maka bukan hasil positif yang diraih, tapi malah menimbulkan resistensi yang besar dari Muhammadiyah. Meskipun kita tahu, Muhammadiyah sebagai ormas islam yang sudah cukup makan asam garam di republik ini dan warganya yang terkenal santun dan rendah hati, tentu tidak akan memberikan reaksi yang bersifat organisatoris. Soalnya, di Muhammadiyah sendiri segala persoalan baik yang menyangkut ibadah maupun muamalah, termasuk persoalan kalender qomariah global, selalu dikaji dan didiskusikan tidak saja pada level organisasi, tetapi sudah pada level internasional. Sebagian pembaca justru bisa berprasangka, prof. Thomas sedang mencari popularitas, atau ‘mencuri start’. Meskipun saya yakin, prof. Thomas jauh dari niat seperti itu. Apalah arti popularitas bagi Prof. Thomas, yang memang sudah populer mendunia ke 5 benua dan 45 negara (mohon maaf kalau angkanya keliru).

  38. Mas Prasojo, maaf saya koq masih meilhat kritik Pak TD masih proporsional. Beliau kritisi wujudul hilal dan sang pengusung setianya, yo wajar tho Pak Lik!.

    Anda kasih contoh “ketika kita tidak suka dengan sistem ekonomi kapitalis/liberal, tentulah kita kritisi sistemnya, bukan negara2 yang menganut sistem itu” ya ini bisa benar bisa juga tidak tepat. Saya kasih contoh yang lain: kalau ada orang dari Jawa mau naik haji tapi dia maunya pakai onta berangkatnya dari Jawa pula. Tidakkah wajar kalau kita kritisi dan kita nasehati juga orangnya? Saya masih melihat kritik2 Pak TD (dalam blognya – saya tidak tahu kalau di tempat lain) masih proporsional.

    Justru saya melihat, terlalu banyak komentar2 dari pembaca yang tidak karuan (bahkan ada yang sangat tidak senonoh), kelihatan betul sebetulnya gak paham apa yang sedang diperdebatkan/dikritisi. jadi banyak sekali yang diluar konteks.

    Dan maaf sekali lagi maaf, banyak komentar temen2 (nampaknya ya pendukung WH/MD) dan juga beberapa komentar Mas Prasojo dan beberapa contoh2 yang penah diberikan itu (seperti contohnya kalau gak salah seperti kelahiran bayi dll), nampak sekali bahwa temen2 belum faham apa yang diperdebatkan/dikritisi pada konsep WH. Saya bukan orang astronomi, tapi insyaAllah faham apa yang diperselisihkan.

    Banyak pula temen2 saya di MD (saya bukan pengikut salah satu organisasi, tapi saya dekat dan bergaul dengan semua gol termasuk temen2 di MD). Saya, setiap diskusi santai/omong2, kesan saya, ya rata2 mereka temen2 MD memahaminya itu hisab (MD) vs rukyat (gol yang lain). Sempat juga terlontar komentar2, seperti untuk Idul Fitri kemarin, “bukannya hilal kemarin sudah ada cuma tidak terlihat karena masih kurang dari 2 derajat?” “kita khan tidak harus melihat dengan mata tapi saja bisa melihat dengan ilmu”

    Menyedihkan Mas!! makanya saya sekedar berharap komentarnya datang dari orang yang faham/sykur2 pakar, biar kita bisa ambil ilmu.

    Adakah orang falak/pakar WH yang menjawab kritiknya Pak TD? mohon infonya, ingin baca juga soalnya karena yang yang kemaren2 bukan dan kesimpulan saya rada kurang pas.

    Salam hormat.

  39. Abu Said…kita punya etika. Coba anda berani nggak misalnya mengkritisi NU atau FPI misalnya, soal rukyat atau soal apapun lah yang digunakan oleh mereka, dengan mengatakan seperti yang prof Thomas sampaikan kepada Muhammadiyah? Jika anda berani…anda benar2 orang yang jantan. Atau juga prof. Thomas sendiri. Beranikah? Saya yakin tidak.

    Lalu soal komentar atau jawaban pakar WH. Rasanya bukan forumnya lah di dunia maya dan terbuka seperti ini. Kalau tertutup mungkin pakar di Muhammadiyah ada yang mau. Ini hampir sama kita membahas soal “qunut”, cukup rawan. Soalnya ini menyangkut keyakinan. Apalagi pembahasan hisab vs rukyat, rawan memancing komentar2 yang justru kontraproduktif. Ujung-ujungnya bisa keluar kata2 : usang, jumud, kolot dll. Sangat tidak menguntungkan bagi ukhuwah islamiyah. Saya kebetulan punya pengalaman pahit soal ini, ketika mengadakan seminar kecil soal2 agama, termasuk penetapan 1 syawal. Lantaran terlontar kata yang kurang pas, lalu saya diserang balik dan suasana jadi tegang. Makanya, saya harus selalu berhati-hati dalam memilih kata. Agama menyangkut keyakinan, saya rasa di dalam memahami suatu persoalan, kita tidak akan mencapai kebenaran mutlak sebagaimana maksud Allah. Adakah yang bisa mengartikan kata “taqwa” sebagaimana maksud Allah? Makanya saya meyakini, sampai kiamat pun manusia tidak akan mampu mengartikan “hilal” sebagaimana yang dimaksud Allah. Nah kalau demikian, maka hilal yang dipahami kalangan NU insyaallah benar. Hilal yang dipahami kalangan Muhammadiyah insyaallah benar (meskipun katanya Muhammadiyah pernah berubah metodenya). Demikian juga yang lain. Andaipun seluruh ormas islam berhasil menyepakati imkan rukyat sebagaimana diinginkan oleh Prof. Thomas, belum tentu kesepakatan itu merupakan kebenarannya mutlak sebagaimana dimaksud Allah. Yang penting, ummat islam harus terus meningkatkan kualitas ibadahnya, pemahamannya dan keyakinannya. Ummat islam boleh saja bersepakat dan itu lebih baik. Tapi ingat, manusia tidak akan mencapai kebenaran mutlak.

    Saya teringat kisah sahabat Nabi (saya lupa namanyaa). Intinya, ada sahabat yang melakukan hubungan suami istri di siang hari puasa. Lalu Nabi menyuruh sahabat itu puasa dua bulan berturut-turut. Karena tidak sanggup, Nabi menyuruh memberi makan 60 orang. Karena tidak mampu, pada akhirnya Nabi memberi sahabat itu sekranjang kurma. Di sisi lain, pernah orang buta bertanya kepada Nabi, apakah ia (si buta) wajib berjamaah ke masjid? Kata Nabi, jika engkau mendengar azan, maka engkau wajib shalat berjamaah ke masjid. Coba pak Abu renungkan apa makna dua kisah di atas? Jawabnya semoga ada di hati dan pikiran pak Abu sendiri. Barangkali intinya, dalam beragama, sepanjang kita telah berusaha sekuat tenaga memahami suatu persoalan (apakah pemahaman kita itu salah atau benar itu urusan nanti) dan kita yakini lalu kita amalkan, insyaallah Allah akan menerima amal kita. Makanya menurut saya, (khusus dalam islam) kita harus yakin dengan apa yang telah kita pahami dan yakini, tapi kita tidak boleh mengatakan SESAT kepada kelompok yang berbeda dengan kita.

  40. Terima kasih Mas Prasojo atas masukannya dan maaf telat membalasnya.

    Apa yang kita diskusikan sekarang ini menurut saya sudah jadi melebar, tapi saya terima kritikan anda, karena pada semangatnya sayapun sangat setuju (secara prinsip dalam semua hal sebetulnya) bahwa kita harus menjunjung sopan santun dan etika, karena salah2 bahkan bisa counterproductive dan jadi jauh dari sasaran. Termasuk, yang selalu saya ulang2i, gunakan kata2 yang santun, karena kata2 kita juga cerminan dari kita sendiri. TAPI PESAN SAYA, jangan pesimis Mas, toh faktanya kita secara umum telah bisa bersepakat dengan hisab jadwal waktu sholat. Dan juga perlu diingat, yang berselisih dalam berhari raya, ya cuma kita, ya Indonesia kita tercinta, bahkan dalam satu daerah bisa 4 hari berturut (krn masing2 kelompok merasa berhak untuk melakukannya, dengan berdalih kebebasan beragam dan toleransi).

    Kembali ke WH, saya melihatnya koq tidak “sejauh” Mas Prasojo (anda sempat menyebut sebagai keyakinan, bahkan anda juga menyinggung2 walau hanya sebagai contoh salah satunya ke qunut). Tapi disini saya justru memperoleh masukan dan saya mulai menduga2 untuk memahami kenapa begitu besarnya “retensi” untuk mengubah/berubah.

    Padahal, menurut saya, disini issue yang diperdebatkan masih dalam tatanan “ijtihad”. Maksud saya begini, bahwa hisabnya (astronomi) dasarnya adalah Al Qur’an dan Hadits, Ya setuju/sepakat, karena ilmu (hisab dalam kontek kita ini) ya kita imani dari Allah juga datangnya (dasar umumnya, menurut saya Surat Al Alaq ayat 5 “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Dasar khususnya untuk hisab/astronomi pun telah banyak dibahas). Selain itu hisab/astronomi keakuratannya sudah sangat teruji. TAPI waktu menyimpulkan, bahwa ketika (1) bulan telah di atas ufuk pada saat Magrib dan (2) terjadi setelah Ijtimak, maka dinyatakan hilal telah wujud, disinilah “ijtihad” nya, (disinilah issue definisi tentang hilal yang dipakai oleh WH yang dikritisi, baik dari sisi astronomi maupun dari sisi agama/syar’i nya. Tentang dalil2 Al Qur’an dan Hadits2 nya yang dipakai untuk mendukung hilal versi WH, silahkan anda renungkan lagi).

    Justru karena definisi hilal WH di ataslah maka pada saat2 tertentu, terjadi perbedaan dengan IR dan Rukyatul Hilal (RH), yang mendasarkan pada dalil2 (intinya definisi hilalnya adalah “sesuatu yang terlihat” – seperti definisi secara astonomi yang pernah saya kutipkan sebelumnya “as can be seen by the viewer”). Saya termasuk sependapat bahwa dalil2nya, Qur’an, serta hadits dan riwayat shohihnya banyak yang mendukung definisi ini, karena memang itulah yang dipraktekkan waktu itu. Jadi tidaklah cukup (bahkan maaf cukup gegabah) bila kita “gugurkan” hadits2/riwayat2 tentang hilal ini hanya dengan berdalih “ilmu astronomi waktu itu belum sampai”. Atau adakah alasan yang kuat (syar’i ataupun astronomi) mengapa saudara2 pengusung WH tidak bisa menerima definisi bahwa hilal adalah suatu obyek yang terlihat?

    Atau mungkin pertanyaan “isengnya” yang bisa kita ajukan, kenapa kita tidak “Ijtihad” saja sekalian dengan menggunakan Ijtimak sebagai awal bulan baru (astronomical new moon)? Bukankah ini lebih pasti/akurat? Yang tingkat keakuratannya dapat dibuktikan bersama (yaitu pada saat2 tertentu, waktu gerhana matahari atau bulan). Sementara ini mungkin hanya kita katakan tidak bisa karena syariat tentang hilal ditiadakan/tidak pakai hilal sebagai tanda awal bulan sedangkan Al Qur’an dan Hadits jelas2 merujuk kepada hilal sebagai tanda waktu. Saya berpendapat, bahwa pada WH, syariat hilal ini diadopsi tapi dengan definisi di atas (yang saya sebut saja hilal hipotesa), karena kenyataannya pada saat2 tertentu (seperti Idul Fitri kemarin), ya memang hilalnya sebenarnya belum ada/belum wujud (hilalnya memang tidak terlihat karena belum wujud. Dan ini tidaklah sama dengan fenomena ”hilal tidak terlihat karena tertutup awan” misalnya). Cobalah cek ke ahli falak/hisabnya WH tentang hilal ini (obyeknya/fisiknya jangan masuk ke wilayah itjihadnya dulu).

    Tapi bukannya saya ingin mengatakan bahwa ijtihad tidak diperlukan, karena MAU TIDAK MAU, baik itu pakai RH (sekalipun ini kita terima saja sebagai cara yang dipakai Rosul SAW dan para sahabat) maupun dengan HISAB (WH/IR), kalau mau diterapkan untuk wilayah yang sangat luas atau bahkan global, kapan dan dimana akan dimulainya tanggal 1 (satu), disini ijtihad akan diperlukan! Kenapa? Pertama karena memang tidak ada contohnya yang persis dari Rosul SAW (Islam belum meng global waktu itu) dan kedua memang dibutuhkan kesepakatan (salah satu contohnya disini adalah konsep wilayatul hukmi, yaitu intinya satu hari raya dalam satu wilayah/negara). CATATAN, penentuan awal bulan dengan RH jelas punya kendala besar untuk diterapkan global, sekalipun kita telah memasuki era komunikasi modern dan canggih sekarang ini (kecuali untuk Idul Adha mungkin karena kita punya tenggang waktu 10 hari). Untuk Indonesia saja sudah repot.

    Dan “ijtihad” itulah yang mestinya bisa kita kompromikan (dalam koridor syar’i tentunya) menjadi kesepakatan bersama. Dan kesepakatan disini termasuk dengan saudara2 kita pengamal RH, karena memang yang kita “ijtihad” kan itu hanya metodenya (yang belum ada di jaman Rosul SAW), yaitu cara alternatif (yang bahkan akan terbukti lebih praktis insyaAllah) untuk menentukan hilal awal bulan hijriah DAN BUKAN pada dalil2 syar’i nya yang memang telah qath’i.

    Wallahu ‘alam,
    wassalam

    • @Abu Said,

      Saya coba memosting tulisan saya yang menggantung berhari-hari sepertinya tidak lolos dari moderasi di tulisan blog sebelumnya.

      ===
      Sekarang apakah definisi “terlihat” ini? Saya persilakan untuk mempertimbangkan kasus di bawah ini:
      – Pengamatan menggunakan infra merah dan olah citra (lihat hasil terakhir di halaman paling bawah), dalam atmosfer tipis bumi (elongasi 4.75 derajat)

      http://www.mondatlas.de/other/martinel/sicheln2007/crescent_june.html

      – Pengamatan dari luar atmosfer bumi (elongasi 2 derajat)

      http://adsabs.harvard.edu/abs/1967AJ…..72U.808K

      Keduanya menunjukkan sebuah observasi yang dianggap tidak mungkin dalam kriteria imkanu rukyat Pak Djamaluddin. Apakah yang seperti di atas masih dalam kriteria terlihat? Mungkin sebagian orang menganggapnya tidak, sedang saya menganggap ya. Misalnya kita bisa menggunakan dua alat observasi secara bersamaan, saya kira kriteria “terlihat” nya hilal akan semakin mendekati konsep wujudul hilal. Atau mungkin saya yang salah, karena wujudul hilal sudah terlanjur metode yang kuno dan usang.
      ===

      Sekarang kita tahu, “terlihat definisi secara astronomi” sudah tidak netral lagi. Seperti yang juga anda tandaskan, perbedaan wujudul hilal dan imkanu rukyat berada di level ijtihad agama, bukan dalam masalah ilmu astronomi dan metode hisab, sayangnya Pak Djamaluddin dengan sengaja melepaskan bola-bola panas yang tidak pada tempatnya, terutama di tulisan-tulisan sebelumnya.

      Semoga Pak Djamaluddin mau memberi tanggapan perihal definisi “terlihat” yang dipakai untuk mengkompilasi kriteria imaknu rukyat “Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia” yang diusung beliau.

      • Astronomi menyediakan beragam kriteria. Sebagai astronom, saya mengakji berbagai kriteria yang secara ilmiah sahih, termasuk kriteria pengamatan landas antariksa. Namun, dalam implementasi penetapan awal bulan, perlu ada kesepakatan krietria karena kalender bukan hanya dipakai oleh perorangan atau kelompok, tetapi oleh masyarakat. Jadi, dari sekian banyak kriteria saya menawarkan kriteria dengan mempertimbangkan praktek hisab rukyat di Indonesia. Misalnya, kriteria berdasarkan lebar sabit kurang dikenal pelaksana hisab di Indonesia, maka parameter itu tidak saya pilih. Kriteria di Indonesia yang saat ini disepakatai adalah krietria “2,3,8” yang disepakati juga oleh negara-negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), walau secara astronomis dianggap terlalu rendah. Tetapi, kriteria itu sebagai langkah awal untuk mencapai kesepakatan kalender.

  41. Abu Said….apapun (metode, kriteria) kalau sudah kita yakini benar maka (untuk sementara) benar, meskipun kemudian keyakinan kita bisa berubah. Pada saat kita menemukan metode atau kriteria baru, maka yg baru itu lalu kita yakini, dan yg lama kita tinggalkan. Jd, keyakinan tdk hanya menyangkut yg pokok saja, tetapi juga pada level cabang. Ini merupakan satu kesatuan. Jd kalau ada kalangan yg berkeyakinan bahwa bersentuhan laki2 dan perempuan yg bukan muhrim itu tdk membatalkan wudlu, meskipun ini soal cabang (furu’), kita tdk bisa dengan mudah merubahnya keyakinan itu. Jd kita tdk bisa mengatakan, oh..itu kan furu’…bukan menyangkut keyakinan. Ini kesimpulan yg keliru.

    Sama halnya dg WH. Kalau baru ijtimak, itu diyakini blm merupakan hilal. Ia baru akan menjadi hilal setelah di atas ufuk (meskipun kurang dari 2 derajat). Mengapa mesti di atas ufuk? Karena benda langit baru bisa terlihat kalau di atas ufuk. Terlihat di sini tdk harus dg mata telanjang, tapi juga dengan mata ilmu. Lho…memangnya kalau di bawah ufuk tdk terlihat oleh mata ilmu? Jawabnya YA. Karena mata ilmu itu juga melihat benda secara lurus. Jadi kalau antara mata (mata kepala) dg hilal itu bisa ditarik garis lurus (meskipun mata belum bisa melihatnya), itu sudah wujud. Sebaliknya kalau antara mata dan hilal itu tdk dpt ditarik garis lurus (terhalang cakrawala/horison) maka itu belum bisa disebut hilal.

    Saya terpaksa analogikan dg kapal di samudra. Kapal yg di atas air, tapi masih belum terlihat (blm bisa ditarik garis lurus ke mata), maka belum bisa disebut ada kapal. Terlihat di sini bisa berupa titik (yang bisa ditarik garis lurus ke mata, meskipun kita belum bisa mengidentifikasi bentuknya dg mata telanjang, tapi secara perhitungan kita tahu bahwa itu kapal), bisa berupa bulatan (karena kapal dari jauh bisa terlihat seperti bulatan), bisa berupa benda memanjang atau berupa kapal sempurna. Mengapa mesti harus bisa ditarik garis lurus? Karena mata memang hanya bisa melihat benda dalam garis lurus. Andai manusia bisa melihat benda mengikuti garis lengkung atau belok, maka gawatlah perempuan2 yang sedang mandi, pasti dilihat laki2.

    Memang, benda langit yang terlihat oleh mata itu sesungguhnya melalui garis lengkung karena cahaya masuk ke atmosfir bumi dibelokkan (ke atas). Tapi penglihatan mata terhadap benda langit tetaplah lurus. Andaikata lengkungan garis itu terhalang oleh benda, maka benda langit akan terhalang (tidak terlihat oleh mata). Di sinilah, maka ketika hilal terlihat pertama kali oleh mata (telanjang ataupun dg teropong), sesungguhnya hilal itu telah ”lebih tinggi” dari apa yang terlihat karena cahaya hilal dibelokkan ke atas. Inilah yang sering membuat purnama terjadi pd tanggal 14 atau 13, sesungguhnya disebabkan karena terjadinya keterlambatan penetapan awal bulan.

    • Pak Prasojo,

      Saya faham betul dengan apa yang Bapak maksudkan mengenai hilal yang tidak mempersyaratkan terlihatnya mata. Saya setuju hal itu. Dalilnya adalah praktek Rasulullah yang tidak menyuruh para sahabat untuk meru’yah hilal ketika bulan sudah berjalan selama 30 hari. Artinya apa ? Hilal sebagai tanda masuknya bulan baru tidak harus terlihat oleh mata. Apabila ilmu kita telah bisa memasatikan bhw hilal telah wujud, maka hal itu bisa digunakan sebagai dasar untuk mengetahui masuknya bulan baru, meskipun tidak ada kesaksian hilal. Kepastian terlihatnya/terwujudnya hilal bisa dipastikan dengan hisab. Ilmu hisabnya Rasulullah menyatakan bhw bulan itu hanya berumur 29 atau 30 hari. Ilmu hisabnya Rasulullah sudah bisa memastikan wujudnya hilal ketika bulan sudah berumur 30 hari.

      Dengan demikian, kalau dengan ilmu hisab kita bisa memastikan tampaknya/wujudnya hilal, maka kita bisa menggunakan ilmu itu untuk mengawali bulan baru.

      Sampai di sini, saya kira Prof. Thomas pun setuju dengan pandangan ini. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi pokok persoalan. Yang menjadi persoalan sebenarnya bukan di tataran keyakinan, tetapi ada di tataran teknis yang menjadi domain para astronom seperti Prof. Thomas.

      Yang menjadi pokok persoalan adalah 3 isyarat/kriteria yang dipakai oleh Muhammadiyah itu dari sudut pandang ilmu astronomi sudah tidak populer lagi, alias sudah usang. 3 isyarat/kriteria yang hanya menyebut satu parameter tinggi hilal itu bukan hanya tidak bisa menjamin terlihatnya hilal di saat langit cerah, tetapi lebih dari itu, ia juga tidak bisa menjamin telah terwujudnya hilal. Untuk menjamin terwujudnya hilal, harus pula dipertimbangkan parameter parameter yang lain, seperti jarak minimum bulan dan matahari, umur bulan dst.

      Kalau hanya mempertimbangkan tinggi hilal saja, maka akan ada kasus dimana terjadi kontradiksi: hilal belum wujud tetapi dikatakan hilal sudah wujud. Ini terjadi ketika ada gerhana matahari menjelang maghrib. Ijtima’ sudah terjadi, matahari terbenam terlebih dulu dari rembulan, tetapi masih ada bagian matahari yang tertutup rembulan. pada keadaan ini mustahil telah terwujud hilal, sebab rembulan dan matahari masih beririsan. Akan tetapi dengan 3 isyarat/kriteria yang dipegang Muhammadiyah tsb, bisa disimpulkan bhw hilal telah wujud. Ini adalah sebuah kesalahan fatal.

      Harap dicatat, yang menyebut bhw 3 isyarat wujudul hilal itu belum menjamin terlihatnya/terwujudnya hilal bukan hanya Prof. Thomas saja. Ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan astronom. Dan di jaman internet ini, informasi ini juga sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang awam seperti saya.

      Jadi sekali lagi, persoalannya bukan ada di tataran keyakinan, tetapi di tataran teknis. Insya Allah Muhammadiyah telah berjasa memasyarakatkan penggunaan hisab dalam penentuan bulan hijriyah di Indonesia. Insya Allah hisab sudah relatif diterima oleh banyak kalangan di tanah air. Harus diakui, ini adalah kredit point bagi Muhammadiyah.

      Akan tetapi, ilmu hisab sudah mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Dan secara teknis ilmu hisab saat ini menyatakan bhw 3 isyarat yang disebut sebagai kriteria wujudul hilal Muhammadiyah itu harus diperbaiki. Dalam bahasa ilmiahnya, 3 isyarat itu baru merupakan necessary conditions dari terlihatnya/terwujudnya hilal, dan belum merupakan sufficient conditions dari terwujudnya/terlihatnya hilal.

      Dengan atau tanpa kritikan dari Prof. Thomas, kriteria wujudul hilal Muhammadiyah harus diperbaiki untuk mengkoreksi kesalahan tsb. Dan langkah paling tepat untuk itu adalah: ahli fiqih Muhammadiyah harus mendefinisikan kembali apa itu hilal. Hilal yang dijadikan acuan masuknya bulan baru seyogyanya adalah hilal yang dijadikan acuan di jaman Rasulullah SAW, yaitu hilal yang bisa dilihat oleh mata pada saat cuaca cerah dan tidak ada awan yang menghalanginya. Hilal yang bisa dilihat mata berbentuk bulan sabit inilah seharusnya yang dihisab.

      Demikian, semoga bermanfaat.

      • Ada sedikit miss understanding di sini. Yang saya fahami, matahari terbenam lebih dahulu daripada bulan, ya piringan matahari sudah lepas dari piringan bulan. Jika masih menempel, beririsan, tentu saja belum masuk kriteria itu. Padahal, 3 unsur kriteria itu harus ada secara bersamaan.
        Barangkali kalau ada contoh kasus perhitungan gerhana matahari itu, bisalah dipelajari lebih dalam.

      • He…he…he…. ternyata diskusinya masih berlangsung dan semakin hangat…..
        Seperti yang pernah saya utarakan, bahwa diskusi ini timbul karena adanya Hisab IR. Kalo kembali ke jaman dulu dimana-penganut Hisab dan Rukyat jalan bersama dan saling menghargai, maka tidak ada polemik berkepanjangan seperti ini.
        Sebetulnya apa yang dicari dengan Hisab IR dengan segala kriterianya ?? Kalo gak salah jawabnya adalah NEGOSIASI/TAWAR-MENAWAR antara yang yakin dengan Hisab dan yang yakin dengan Rukyat. Yaitu dengan menambahkan kriteria A, kriteria B dan C pada Hisab Haqiqi WH, demi mengakomodir “Keinginan ter-Rukyah-nya Hilal”. Sering saya dengar pernyataan bahwa pengikut Rukyah sudah memberi toleransi dengan mengikuti Hisab, tinggal pengikut Hisab “melunak dikit” dengan menambah beberapa kriteria pada proses hisab-nya agar dengan kriteria itu, kemungkinan hilal terlihat semakin besar, kalo tidak terlihat ya digenapkan 30 hari. Kriteria tambahan ini MEMBINGUNGKAN secara syariat, gak ada dalilnya. Dan inilah yang “tidak bisa masuk” dalam pertimbangan Majlis Tarjih Muhammadiyah (ngurusin syariat lho, bukan Astronomi), juga dalam keyakinan syariat saya.
        Dengan 3 kriteria WH, maka diyakini oleh ahli Hisab sudah masuk bulan baru (hanya kadang Hilal tidak terlihat). Penganut WH jelas sudah berganti bulan (karena diyakini hilal sudah terlihat secara ilmu/hisab). Kalo dianalogikan seperti pergantian waktu harian, begitu jarum jam berpindah dari pukul 23:59:59 ke 00:00:00 maka sudah berganti hari, Simpel. Tidak perlu ditambahin suhu udara harus sekian derajat, kelembaban sekian persen, demi kenyamanan tidur manusia. Sementara Hisab IR masih belum yakin kalo perpindahan 23:59:59 ke 00:00:00 udah ganti hari karena belum tentu suhu dan kelembaban mencapai kriteria, sehingga belum tentu pada saat itu menghasilkan tidur yang nyaman.

        Dalil Naqli penganut Hisab WH jelas = Rukyah bi Ilmi.
        Dalil Naqli penganut Rukyah jelas = Rukyah bi fi’li
        Dalil Naqli Hisab IR membingungkan…….
        Dan Majlis Tarjih Muhammadiyah mengurusi Syariat, bukan Astronomi, pegangannya adalah dalil Naqli (Qur’an dan Hadits) dan penerjemahannya. Astronomi HANYALAH ALAT yang sangat boleh diabaikan (lebih utama keyakinan akan dalil Naqli-nya)

  42. Rois….bagaimana gerhana matahari bisa mengacaukan hilal? Bukankan syarat wujudul hilal itu salah satunya, matahari hrs sdh terbenam? Kalau matahari sdh terbenam dan saat itu terjadi gerhana matahari, berarti hilal belum wujud ddonk? Sebaliknya, kalau gerhana matahari terjadi sebelum matahari terbenam, berarti 3 syarat wujudul hilal belum terpenuhi khan? Saya malah jadi bingung dengan pernyataan anda.

    Gerhana matahari tidak menganggu penentuan wujudul hilal. Bagaimana bulan dan matahari beririsan? Lha wong syaratnya wujudul hilal itu matahari harus sdh terbenam dan bulan (hilal) di atas ufuk! Bagaimana mungkin keduanya masih beririsan? Saya jadi bingung. Kalau menjelang matahari terbenam terjadi gerhana matahari dan mengakibatkan hilal sulit dilihat, saya SETUJU. Nah, wujudul hilal kan memang tidak mensyaratkan hilal harus terlihat oleh mata. Gimana? Tolong jelaskan. Tks

    • Untuk Pak Abu Faza dan Pak Prasojo:

      Kalau menurut buku Pedoman Hisab Muhammadiyah, Muhammadiyah menghitung “tinggi hilal” sebagai jarak vertikal TITIK TERTINGGI bola/lingkaran rembulan dari horizon; bukan titik terendahnya. Kalau diilustrasikan dengan sebuah lingakaran dan sebuah garis horizontal, yang disebut Muhammadiyah sebagai “tinggi hilal = 0 derajat” adalah ketika keseluruhan lingkaran tsb berada DI BAWAH garis horizontal dengan satu titik tertinggi lingkaran tsb menempel pada garis tsb.; bukan sebuah lingkaran yang berada di atas garis dengan titik terendahnya menempel pada garis tsb.

      Dan “tinggi hilal” ini dihitung pada saat matahari terbenam. Sehingga, yang dimaksud dengan “tinggi hilal = 0 derajat” kalau diilustrasikan dengan menambahkan lingkaran matahari akan berupa dua lingkaran rembulan dan matahari berada di bawah garis horizontal dan titik tertinggi kedua lingkaran tsb menempel dengan garis tsb.

      Sementara, yang dimaksud dengan peristiwa konjungsi adalah saat titik pusat lingkaran rembulan dan matahari berada pada jarak elongasi minimum. Sehingga yang dihitung adalah titik pusatnya.

      Dengan demikian, apabila ijtima’ bertepatan dengan gerhana matahari dan terjadi sesaat sebelum matahari terbenam katakanlah satu jam sebelum mathari terbenam, maka mathari akan terbenam terlebih dahulu dari rembulan. Dalam waktu satu jam, titik pusat lingkaran rembulan akan “menjauh” dari titik pusat lingkaran matahari sejauh kurnag lebih 0.5 derajat, atau sekitar selebar diameter lingkaran rembulan. Karena diameter matahari lebih besar dari diameter rembulan, maka pada saat keseluruhan lingkaran mathari tepat berada dibawah garis horizon (saat matahri tenggelam), masih ada bagian dari lingkaran rembulan yang menempel/menutupi lingkaran matahari. Tetapi menurut Muhammadiyah kondisi seperti ini dikatakan sebagai “tinggi hilal sudah positif” karena titik tertinggi lingkaran rembulan sudah berada di atas garis horizon. Kemudian dikatakan “hilal sudah wujud”. Padahal tidak mungkin hilal bisa wujud. Yang wujud adalah proses akhir dari gerhana matahari dimana lingkaran rembulan bergerak “meninggalkan” lingkaran matahari setelah menutupinya.

      Dari sinilah kemudian timbul: Bagaimana Muhammadiyah mendifinisikan hilal ? Sayang sekali, saya tidak menemukan definisi hilal di buku Pedoman Hisab Muhammadiyah tsb. Bahkan satu satunya ayat yang menyebut hilal dan menyebutnya sebagai acuan waktu pun (ALBaqarah 189) sama sekali tidak disebut dalam buku tsb.

      Demikian, semoga bermanfaat.

  43. astaghfirullaahal’adliim….sbg org yg awam, sgt kelihatan sekali kl pak-thomas itu org yg bener2 gak tahu NU bahkan Muhammadiyah…saya kasihan sama anda pak? kl mlihat tulisan2 bapak yg mengkritik muhammadiyah, jelas2 bhw pak-thomas sgt merendahkan muhammadiyah, disisi lain bapak mengatakan NU tlh mau pake metode imkanu rukyat pdhl NU blm sklipun meninggalkan ru’yat, jgn bo’ong lah pak? apalg mslh hisab-ru’yat koq dianalogikan dg anak yg gak mau ganti pake baju seragam yg baru dsb? ini gmn? bapak jg org yg cukup narsis ya pak? pose bapak dipajang dihalaman depan dg make profesor bahkan pake kening hitam pula dijidat bapak? masya Allah….apa2an sih pak? bapak mau apa sih sbtulnya? maaf….skrg banyak profesor yg keblinger bhkan sama skali tdk bermanfaat bagi ummat pdhl tunjangannya yg jutaan per-bulan dibayar pake uang rakyat pak?
    khaqqul yaqin pak, pd hari selasa 30 agustus 2011 atau 1 syawwal 1432 h mnrt muhammadiyah dan negara2 islam se-dunia (kecuali indonesia), pd jam 6 sore lbh dikit atau ba’da maghrib, kami semua org2 yg ada di masjid, keluar dan melihat BULAN yg sdh ckp besar yg posisinya di sblh agak kebarat. dg demikian kami sgt yaqin dg hasil penetapan dr muhammadiyah, bhw i syawwl 1432 h adl hari selasa pak?….
    maaf, sy jd merinding dg prilaku bapak & menteri agama, bgm utk mmpertanggungjawabkn kebohongan2 ini kpd Allah SWT? na’uudzubillaahi min dzaalik…..

  44. Abu…sy memang blm baca buku pedoman hisab muhammadiyah. Saya masih meragukan pernyataan anda soal definisi wujudul hilal muhammadiyah, dimana hilal dinyatakan wujud apabila lingkaran atas rembulan menyentuh garis horison. Rasanya koq tidak demikian ya? Masa muhammadiyah mendefinisikan demikian? Saya ragu pernyataan anda.

    • Selain dari Buku tsb, sIlakan download presentasi Bapak Oman Faturahman di website Muhammadiyah mengenai wujudul hilal.

      http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/Pengajian%20Ramadhan%201432H/Oman%20Faturrahman.pdf

      Di Halaman 13 di presentasi tsb diilustrasikan posisi rembulan dan matahari yang sama sama hampir tenggelam, tetapi bagian rembulan masih lebih banyak yang berada di atas horizon. Ketika semua bagian matahari tenggelam, maka masih ada sedikit bagian dari rembulan yang nongol di atas horizon. Kalau masih ada yang nongol berarti dikatakan tinggi hilal lebiih dari nol derajat. Adapaun tinggi hilal nol derajat adalah ketika rembulan dan matahari sama sama terbenam bersamaan.

      Bagaimana kalau terjadi gerhana matahari sesaat sebelum matahari terbenam ? Rembulan dan matahari berimpit. Saat mathari terbenam masih ada bagian rembulan yagn nongol di atas horizon. Pada kondisi seperti ini, tidak mungkin terwujud hilal dalam pengertian bulan sabit. Ynag ada adalah gerhana matahari.

      Jadi, 3 isyarat/kriteria wujudul hilal Muhammadiyah itu bukan hanya tidak mampu memastika terlihatnya hilal oleh mata; tetapi juga tidak mampu memastikan terwujudnya hilal.

      Solusinya: Muhammadiyah harus mendefinisikan ulang apa itu hilal yang diperintahkan sebagai acuan masuknya bulan baru. Menurut hemat saya, definisi tsb harus pula memperhatikan praktek Rasulullah dan para sahabat, yaitu hilal yang memungkinkan terliaht oleh mata.

      Salam,
      Rois

  45. mengapa komentar saya tidak dimuat? ada yg tersinggung nih?

  46. Lucu skali rasax melihat komentar Abu dan Rois yg berusaha memojokkan Muhammadiyah! Tapi baiklah, anggap sj kriteria wujudul hilal versi Muhammadiyah krg tepat!

    Sekarang kt anggap saja bhw perbedaan antara wujudul hilal dgn imkanur rukyat itu hanyalah sebatas penentuan dalam batas perhitungan ketinggian hilal dari horizon saat matahari terbenam, dimana imkanur rukyah menetapkn minimum 2 derajat, sedangkan wujudul hilal 0,1 derajat!

    Yang saya ingin tanyakan kpd Abu dan Rois, mengapa Anda tidak mau mengakui bhw hilal telah mewujud pada angka 0,1 derajat??

    • Ada, anggapan bahwa perbedaan wujudul hilal dan imkanurru’yah hanya sebatas pada angka angka tinggi hilal adalah anggapan yang salah besar.

      Perbedaannya lebih mendasar, yaitu terletak pada definisi hilal. Wujudul hilal Muhammadiyah tidak mendifinisikan hilal sebagai sebuah bulan sabit, tetapi sebagai posisi rembulan pada saat matahari terbenam setelah terjadinya konjungsi.

      Sedangkan imkaanurru’yat mendefinisikan hilal sebagai bulan sabit yang memungkinkan bisa terlihat oleh mata. Kemungkinan penampakan hilal dalam pengertian bulan sabit ini bukan hanya memperhitungkan parameter tinggi hilal saja; tetapi melibatkan parameter lain seperti jarak minimal antara bulan dan matahari.

      Wujudul hilal Muhammadiyah tidak memperhitungkan jarak minimal ini, sehingga ketika terjadi gerhana matahari sesaat sebelum matahari terbenam, dan rembulan masih menempel di matahari dikatakan “hilal sudah wujud”. Padahal tidak mungkin saat itu terlihat wujud hilal dalam arti bulan sabit. Yang wujud adalah gerhana matahari saat matahari terbenam, bukan bulan sabit.

      Solusinya, Muhammadiyah harus mendefinisikan ulang apa itu hilal yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Definisi hilal ini harus memasukkan unsur penampakan berupa bulan sabit, sebab hilal yang berwujud bulan sabit yang bisa dilihat oleh mata ketika langit cerah itulah hilal yang diru’yah/dihisab di jaman Rasulullah dan dijadikan acuan untuk mengetahui awal bulan.

      Demikian, semoga bermanfaat.

  47. Saya kira bulan baru dimulai jika saat matahari terbenam, posisi bulan sudah di atas ufuk. Pengertian di atas ufuk ini menurut saya, titik tengah bulan telah tepat melewati (berada di atas garis horizon). Mudahnya, separoh badan bulan telah berada di atas ufuk. Inilah pengertian wujud. Jika belum separoh berada di atas ufuk, maka dianggap belum bulan baru. Gimana?

    • Pengertian hilalnya bagaimana ? Harap diingat, yang disyariatkan sebagai acuan waktu adalah hilal. Hilal ini adalah sesuatu yang harus bisa dilihat, sebab begitulah praktek Rasulullah dan para sahabat. Kalau mengabaikan unsur bisa terlihat berwujud bulan sabit, berarti mengabaikan praktek Rasulullah dan para sahabat. Rasulullah dan para sahabat pun juga menggunakan metode hisab di dalam menentukan hilal; yaitu ketika bulan berjalan sudah berumur 30 hari. Pada kondisi seperti ini, dengan hisab, Rasulullah sudah bisa memastikan tampaknya hilal dan tidak dibutuhkan kesaksian ru’yat. Artinya, kita juga bisa menggunakan hisab untuk menentukan hilal; tetapi hilal yang dihisab ini seharusnya adalah hilal/bulan sabit yang diru’yat dan dihisab di jaman Rasulullah dan para sahabat.

      • Kalau memang ingin mengikuti sunnah Nabi seperti apa adanya, mari kita lupakan hisab. Hisab tidak pernah bisa memberi garansi mutlak bahwa hilal bisa terlihat. Silakan memakai rukyat, ditambah catatan dengan mata telanjang (bukan memakai alat bantu optik).

        – imkanu rukyat hanya memberikan kriteria kapan hilal kemungkinan bisa dilihat dari permukaan bumi (dalam pengaruh atmosfer bumi). Meskipun hilal itu sebenarnya ada, dianggap tidak ada karena sangat sukar diobservasi (meskipun bukan berarti tidak mungkin). Lihat komentar #2862 saya dalam laman ini.
        – wujudul hilal tidak mementingkan penampakan hilal, dan lebih mementingkan ijtihad dengan kriteria yang dianggap lebih logis dalam penentuan awal bulan.

  48. @Rois: Sy kira apa yg dikatakan oleh Pak Prasojo sdh jelas! bhw kriteria wujudul hilal yg bnar itu adalah bulan baru dimulai jika saat matahari terbenam, posisi bulan sudah di atas ufuk. Pengertian di atas ufuk ini menurut saya, titik tengah bulan telah tepat melewati (berada di atas garis horizon). Mudahnya, separoh badan bulan telah berada di atas ufuk. Inilah pengertian wujud. Jika belum separoh berada di atas ufuk, maka dianggap belum bulan baru.

    Jadi pernyataan Anda hax membuat kabur yg tlah jelas!

    Selain itu, perlu Anda ketahui bhw pd zaman Nabi ilmu hisab belum bgitu maju, sehingga mau tdk mau yah hrs dirukyat! Namun zaman sekarang dgn ketinggian 0,1 derajat diatas ufuk sj sdh dpt diketahui! Sekarang yg ingin sy tanyakan drmn Anda mendapatkan angka 2 atau 4 derajat misalnya, jika tdk melewati angka nol?? he3x…

    • @Ada,
      Sejauh yang saya tahu, wujudul hilal menggunakan posisi piringan paling atas dari bumi ketika tenggelam. Justifikasi penggunaan posisi ini selain pusat bulan atau piringan bawah tidak begitu jelas (selain fakta bahwa wujudul hilal memang menghitung posisi bulan bukan posisi “hilal”), hanya saja bisa dipastikan bulan sudah memantulkan cahaya dari matahari meskipun tidak berbentuk bulan sabit.

  49. @Agus dan Ada: Hisab bisa memberi garansi tampak atau tidak tampaknya hilal pada kondisi tertentu. Sejak jaman Rasulullah pun hisab sudah dipakai. Dengan hisab, Rasulullah sudah tahu bahwa hilal pasti akan tampak pada tanggal 30. Oleh karena itu tidak diperlukan kesaksian ru’taulhilal. Kepastian tampaknya hilal diperoleh dari ilmu hisab. Apakah hanya untuk tanggal 30 saja ? Tidak. Rasulullah pun juga memberi petunjuk mengenai kepastian tampaknya hilal pada tanggal 29; yaitu ketika terjadi istikmal selama 4 bulan berturut turut maka bulan kelima harus berumur 29 hari. Sejak jaman nabi pun, hisab sudah digunakan untuk memastikan tampaknya hilal pada kondisi kondisi tertentu tsb.

    Sekarang, kita pun bisa menggunakan hisab. Akan tetapi kalau kemudian membuat definisi hilal sendiri dan mengabaikan hilal yang dijadikan acuan di jaman Nabi SAW dengan mengabaikan unsur visibilitas, menurut saya kok sudah melewati batas.

    Kalau masih mengalami kesulitan untuk menghisab hilal yang bisa dilihat oleh mata pada kondisi tertentu dan para ahli hisab masih berselisih mengenai parameter dan angka angka pasti untuk tampak atau tidaknya hilal, berarti ya masih belum lebih pandai dari Rasulullah dan para sahabat dalam menghisab tampaknya hilal.

    Salam,
    Rois

    • @Rois
      Kalau sudah ada garansi, tidak ada terjadi perbedaan kriteria imanu rukyat. Faktanya, tidak ada kesepakatan yang didasari murni dari teori ilmiah.Tidak ada kriteria MABIMS, tidak ada “Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia”. Selain itu, silakan mendefinisikan hilal secara syari’at, tapi jangan lupa mendefinisikan juga apa yang dimaksud “terlihat”. Mata telanjang? Menggunakan alat? Kriteria imkanu rukyat diturunkan dari hasil observasi ini. Kriteria imkanu rukya tidak bisa menjamin bahwa hilal tidak mungkin dilihat, kecuali dengan dasar tidak adanya data observasi bahwa hilal pernah terlihat dalam parameter yang sama. Bagaimana kalau data-data yang mengatakan “tidak terlihat” sebenarnya bisa dilihat dengan alat bantu yang lain? Contohnya dua kasus dalam komentar saya #2862 di atas.

      • @Agus: perhatikan baik baik kalimat saya. Garansi kepastian terlihat dan tidak terlihatnya hilal oleh hisab itu adalah pada kondisi tertentu, tidak pada semua kondisi. Rasulullah pun dengan hisab bisa memastikan bahwa hilal tidak mungkin terlihat ketika bulan baru berjalan 28 hari. Dengan hisab pula Rasulullah sudah bisa memastikan bahwa hilal sudah pasti terlihat ketika bulan sudah berjalan 30 hari. Dengan hisab pula Rasulullah juga sudah bisa memastikan tampaknya hilal pada tanggal 29 ketika 4 bulan sebelumnya berturut turut selalu istikmal. Dengan hisab Rasulullah bisa memustahilkan penampakan hilal pada tanggal 29 dan memastikan umur bulan 30 hari yaitu ketika tiga bulan sebelumnya berturut turut bulan selalu berumur 29 hari. Akan tetapi Rasulullah tidak bisa memastikan tampak atau tidak tampaknya hilal di luar kondisi kondisi tersebut, sehingga diperlukan ru’yah thd hilal untuk memastikannya. Kepastian penampakan hilal ini penting, sebab hilal itulah yang disyariatkan di dalam Alqur’an.

        Kembali ke definisi hilal, tugas para ahli fiqih lah yang merumuskannya. Termasuk definisi ‘terlihat” yang Anda sebut tsb. Akan tetapi yang jelas, kriteria wujudul hilal Muhammadiyah jelas jelas mengabaikan unsur “terlihat” ini. Bahkan terwujud pun belum bisa terpenuhi dengan 3 isyarat/kriteria tsb, yaitu pada kasus gerhana matahari menjelang terbenamnya matahari yang berulang kali saya utarakan.

        Yang jelas, akomodasi “terlihat” ini penting, sebab begitulah praktek di Rasulullah. Harap pula dicatat, rembulan itu tidak memancarkan cahaya sendiri. Oleh karena itu, hilal tidak sama dengan rembulan. Hilal adalah suatu fase di mana cahaya matahari dipantulkan oleh rembulan sehingga tampak/TERLIHAT seperti bulan sabit. Adapun wujudul hilal saat ini sama sekali mengabaikan hal itu dan hanya menghitung posisi rembulan saja.

        Kalau sudah mengakomodasi “terlihat”; entah itu dengan mata telanjang atau dengan teleskop, yang jelas paramater tinggi hilal saja tidak akan cukup. Harus pula dipertimbangkan parameter danjon limit (jarak minimum rembulan dan matahari).

        Demikian, semoga bermanfaat.

      • @Rois:
        Anda mengatakn “Rasulullah pun dengan hisab bisa memastikan bahwa hilal tidak mungkin terlihat ketika bulan baru berjalan 28 hari. Dengan hisab pula Rasulullah sudah bisa memastikan bahwa hilal sudah pasti terlihat ketika bulan sudah berjalan 30 hari. Dengan hisab pula Rasulullah juga sudah bisa memastikan tampaknya hilal pada tanggal 29 ketika 4 bulan sebelumnya berturut turut selalu istikmal. Dengan hisab Rasulullah bisa memustahilkan penampakan hilal pada tanggal 29 dan memastikan umur bulan 30 hari yaitu ketika tiga bulan sebelumnya berturut turut bulan selalu berumur 29 hari.”

        Bisa tlg tunjukkan hadits yg mengatakn demikian?

  50. @Rois,
    Setuju; Itu poin yang saya sampaikan dalam komentar saya sebelumnya, kita mesti sepakat dulu apa sih hilal itu? Jadi jangan hanya karena terlalu bersemangat dengan meng-agung2kan ilmu astronomi, terus berujar “kita tidak harus melihat dengan mata, tapi kita bisa melihat dengan ilmu”. Ya betul, saya setuju, tapi apanya yang mau dilihat dan apanya yang mau di hisab dengan ilmu? Targetnya jelas harus sama (disini kita berbicara dengan syar’i). Dan bukankah ini sama seperti apa yang diharapkan oleh Prof Sofjan?

    Saya bahkan berfikir, bahwa bila kita bisa berlapang hati, ini mungkin bisa menjadi titik awal buat para pengusung/pendukung WH untuk berubah dan janganlah terlalu kaku. Ini bukan atau harusnya tidak sampai kepada keyakinan theology karena ini hanya urusan methodology yang harusnya lebih mudah untuk diubah/dikoreksi/dikompromikan. Saya contohkan disini; sholat, kita harus menghadap kiblat, dan misalnya ada orang yang datang mengoreksi/menunjukkan kepada kita arah kiblat yang benar, insyaAllah kita akan bersepakat, kita tidak perlu membahas kiblatnya atau bahwa kita sholat harus menghadap kiblat (karena dalil2 syar’i nya sudah jelas), tapi bagaimana mengkonfirmasi arah kiblatnya (dengan segala macam cara yang bisa kita lakukan), sehingga kita yakin bahwa arah kiblat kita telah benar. Demikian pula yang mestinya kita lakukan tentang hilal ini; sudah tidak ada perlunya kita berdebat tentang apa itu hilal; toh itu sesuatu yang sudah diterima sejak agama kita ada, dipraktekan langsung oleh orang yang mulia yang membuat syariat agama kita (Rosul SAW) – dan saya katakan waktu itu bahkan oleh kaum lainnya (pre-Islamic era).

    Dan disanalah menurut saya letak “kesalah fahamannya”. Kalau kita perhatikan komentar2 dari tokoh2 kita (termasuk WH). Salah satu contohnya waktu itu saya ikut saja dengan mengambil cuplikan pendapat dari Prof Sofjan yang di pos kan ke komentar oleh salah seorang pembaca (saya tidak tahu sumbernya, maaf kalau ternyata itu salah dan bukan dari Prof Sofjan). Salah satu kalimatnya “Maka semestinya jika rukyatnya benar dan hisabnya akurat harus sama sama menghasilkan hilal yang sama, tanpa ada perbedaan“. Padahal orang2 falak WH tahu betul kalau itu tidak akan menghasilkan hilal yang sama (sering kita dengar “kita tahu hilal tidak terlihat tapi hilal telah wujud”). Bukankah disini jelas sekali ada issue definisi hilal karena kita tahu itu memang tidak sama? Atau maaf, jangan2 Prof Sofjan pun juga tidak tahu kalau hilal yang dihitung WH itu memang sejak dari awal TIDAK SAMA dengan hilal yang secara umum difahami orang (sederhananya bulan sabit). Mungkin para tokoh2 WH (yang ahli fiqh) perlu minta masukan dari kolega2nya yang ahli falak (atau sebaliknya), apa yang sebetulnya dipermasalahkan? Sudahkah mereka menghisab hilal yang sama?

    Dan saya pun waktu itu sampaikan, apa yang dilakukan oleh saudara2 kita (dalam hal ini tentang menentukan/melihat hilal) dengan mengikuti apa yang dipraktekkan oleh Rosul SAW ya mesti kita terima dengan lapang hati (dan tidak bisa disalahkan karena memang ada contoh kongkritnya). Yang bisa kita “otak atik” atau yang kita permasalahkan adalah caranya sudah tidak praktis dan sekarang ini kita punya cara yang terbukti lebih praktis dan keakuratannya sudah bisa kita terima, yaitu hisab. Dan kedepannya lebih memberikan kemungkinan untuk penyatuan global.

    Oleh karena itu, sayapun sangat setuju dengan pernyataan anda “Hilal yang dijadikan acuan masuknya bulan baru seyogyanya adalah hilal yang dijadikan acuan di jaman Rasulullah SAW, yaitu hilal yang bisa dilihat oleh mata pada saat cuaca cerah dan tidak ada awan yang menghalanginya. Hilal yang bisa dilihat mata berbentuk bulan sabit inilah seharusnya yang dihisab”.

    Keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan definisi hilal di atas, (1) bukan hanya kita bisa bersatu dengan sesama pengamal hisab, tapi (2) kita juga berpotensi bersatu dengan saudara2 kita pengamal rukyat (sementara ini kita abaikan dulu rukyat yang tidak akurat yang bisa saja akan menghasilkan perbedaan). Disini bisa ditegaskan, tidak ada issue bisa dihisab atau tidak.

    Mungkin pertanyaan yang bisa kita ajukan kepada para penganut WH, adakah dalil2/alasan2 yang membuat mereka tidak bisa menerima definisi hilal tersebut di atas? Beranikah mereka katakan definisi itu salah? Atau apakah dalilnya sehingga perlu repot2 “berijtihad” mencari definisi baru tentang hilal? Kalau IR dianggap tidak bisa memberi kepastian dengan beragamnya criteria, kenapa mesti berpegang kepada WH yang jelas2 telah pasti tidak menghisab hilal yang sama (kasus idul fitri kemaren)?

    • @Abu Said: Terima kasih. Betul, saya sudah membaca komentar Anda sebelumnya. Insya Allah kita sudah satu pemahaman thd pokok persoalan yang ada.

      Sekedar menambahkan, menurut saya banyak yang salah faham bhw Prof. Thomas sedang “memperjuangkan” kriteria “2-3-8″. Padahal bukan itu yang beliau perjuangkan. Beliau sendiri sudah melakukan penelitian untuk memperbaiki kriteria “2-3-8″ tsb. Tetapi bukan pula kriteria hasil penelitian beliau itu yang sedang beliau perjuangkan.

      Yang sesungguhnya beliau perjuangkan adalah penyatuan kalender hijriyah di tanah air untuk mengakhiri “prahara” perbedaan hari raya yang tak kunjung usai. Persoalan kalender itu adalah salah satu dari sedikit contoh di mana fiqih, sains dan politik beririsan di bawah koridor syariat. Tiga hal tsb tidak bisa berdiri sendiri sendiri. Sains harus tunduk pada fiqih. Ketika sains dan fiqih sudah bersatu pun, pada akhirnya politik lah yang berperan besar dalam menentukan implementasinya.

      Di internal Muhammadiyah pun kaidah ini berlaku juga. Masih ada warga Muhammadiyah yang lebih sreg dengan ru’yah, sebab lebih mendekati contoh Rasulullah. Tetapi ketika pimpinan majelis tarjih Muhammadiyah sudah mengambil keputusan, maka yang menginginkan ru’yah pun ya akhirnya mengikuti keputusan tsb. Persoalan timbul ketika garis hilal nol derajat membelah Indonesia menjadi dua bagian. Kalau mau konsisten dengan sains dan fiqih, seharusnya warga Muhammadiyah di bagian barat berlebaran lebih dahulu daripada yang di timur. Namun kemudian konsistensi fiqih dan sains ini harus tunduk pada keputusan politik yang memandang Muhammadiyah Indonesia sebagai satu kesatuan (wilayatul hukmi) dan harus berlebaran bersamaan. Ujung ujungnya, perkara kalender yang tadinya dibahas alot dan detail di tingkat fiqih dan sains berakhir menjadi perkara “kesepakatan” belaka yang ditentukan oleh pucuk pimpinan Muhammadiyah.

      Prof. Thomas faham betul mengenai “kesepakatan” ini. Dan “kesepakatan” itulah yang beliau perjuangkan. Oleh karena itu, beliau tidak ngotot memperjuangkan sesuatu yang beliau yakini sebagai kebenaran ilmiah berdasarkan penelitian beliau sendiri, meskipun beliau punya kapasitas untuk itu sebab beliau adalah Profesor astronomi.

      Akan tetapi banyak yang salah faham, tidak tahu duduk perkara sebenarnya dan malah balik menuduh Prof. Thomas tidak konsisten dengan dasar ilmiah karena “menyerah” kepada “kesepakatan”.

      Bola sekarang berada di kaki para ahli fiqih Muhammadiyah. Mereka harus mendefinisikan apa itu hilal. Dengan atau tanpa kritikan Prof. Thomas, 3 isyarat/kriteria wujudul hilal itu harus diperbaiki; sebab bukan hanya tidak bisa memenuhi terlihatnya hilal, tetapi juga tidak bisa pula memenuhi terewujudnya hilal; jika yang dimaksud dengan hilal adalah bulan sabit. Cara memperbaikinya adalah mendefinisikan hilal sesuai dengan petunjuk AlQur’an dan praktek Rasulullah SAW.

      Wallahu a’lam bis-shawab,

      Salam,
      Rois

  51. Sebenarnya, masih ada hal lain selain hilal yang mesti kita sepakati. Hal lain itu adalah ”matahari terbenam”. Kita juga mesti sepakat soal definisi ‘matahari terbenam’. Apakah seluruh badan matahari terbenam, ataukah ‘separuh lebih sedikit’ badan matahari terbenam. Definisi ini penting untuk juga mendefinisikan bulan baru (saya tidak ingin menyebut bulan sabit atau sabit). Maksud saya, kalau matahari terbenam itu dimaksudkan seluruh badan matahari telah tepat di bawah ufuk, maka bulan baru seyogyanya juga dimulai setelah seluruh badan bulan telah tepat di atas ufuk. Ini baru fair (adil). Atau apabila kita definisikan matahari terbenam itu jika separuh lebih sedikit badan matahari telah di bawah ufuk, maka kita juga harus mendefinisikan, bulan baru dimulai jika separoh lebih sedikit badan bulan telah tepat berada di atas ufuk. Ini sama juga dengan definisi ‘tergelincir matahari’. Apakah mau didefinisikan sbg seluruh badan matahari telah tepat melewati garis imajiner di atas kepala, atau cukup separuh lebih sedikit badan matahari telah tepat melewati garis imajiner di atas kepala? Kita harus sepakati dulu, baru kita bisa berbicara kelanjutannya.

    Hal yang sama untuk ‘matahari terbit’. Apakah mau didefinisikan sebagai ‘mulai munculnya sisi atas lingkaran matahari’ atau ‘separoh lebih sedikit badan matahari’ atau ‘seluruh badan matahari’ telah di atas ufuk? Ini juga penting, dan seharusnya kita konsisten terhadap definisi itu semua. Bagaimana?

    • Sefaham saya, definisi tenggelamnya matahari itu sudah final; yaitu terbenamnya seluruh bola/lingkaran matahari. Ini digunakan dalam mendefinisikan waktu sholat maghrib. Ada larangan sholat saat matahari terbenam; yaitu saat dimana lingkaran matahari mulai menyentuh horizon hingga seluruh matahari terbenam di horizon. Dan waktu sholat maghrib dimulai setelah seluruh matahri terbenam di horizon. Hal yang sama juga berlaku untuk matahari terbit. Ada larangan sholat ketika matahari terbit, yaitu saat matahari mulai muncul dari horizon hingga seluruh bola mathari berada di atas horizon.

  52. Rois….nah saya setuju definisi itu. Kalau demikian, maka difinisi bulan baru mestinya dimulai dari saat permukaan (lingkaran) atas bulan muncul di atas ufuk. Jadi, kriteria wujudul hilal itu sudah tepat. Sepanjang saat matahari terbenam ada bagian bulan yang muncul di atas ufuk, itu sudah merupakan bulan baru. Ini sesuai dg kriteria ‘matahari terbit’. Jadi, kita harus konsisten. Guud

    • Konsistensinya harus dengan AlQur’an dan praktek Rasulullah SAW. Yang disyariatkan sebagai acuan bulan baru adalah hilal. Hilal inilah yang harus didefinisikan. Definisi hilal ini harus berwujud sesuatu yang bisa diru’yah sebab begitulah praktek di jaman Rasulullah SAW. Boleh saja Pak Prasojo mendefinisikan hilal sendiri, tetapi pada akhirnya definisi dari pemegang otoritas-lah yang akan dipakai. Dalam hal Muhammadiyah, para anggota majelis tarjih-lah yang punya kewenangan mendefinisikan hilal tsb. Kita tunggu saja, apakah mereka akan meninjau kembali kriteria wujudul hilal setelah segala kritik disampaikan dan diketahui luas oleh publik seperti ini.

  53. Aneh skali rasax jk kt masih memperdebatkan apa itu hilal? Sampai2 mengklaim bhw inilah hilal yg dimaksud oleh Rasulullah. Padahal setahu sy NU, Muhammadiyah, serta ormas2 Islam yg lain tdk pernah memperdebatkan ttg definisi hilal!

    Jd mnrt sy, org yg mempermasalahkan hal ini, hax ingin membuat kabur yg tlah jlas!

    btw, pertanyaan sy blum dijawab oleh sdr Rois!

  54. Iya nih…koq pada sibuk dg ‘hilal’ sih? Bulan baru tidak identik dg hilal (bulan sabit). Ini menurut saya perlu pelurusan. Kita konsisten saja dg definisi matahari terbit. Kalau matahari terbit dimulai saat munculnya lingkaran atas matahari di atas cakrawala, maka demikian pula bulan baru, harus dimulai saat permukaan atas bulan muncul di atas cakrawala saat matahari terbenam. Ini sejalan dg kriteria wujudul hilal. Kecuali kita mendefinisikan, matahari terbit dimulai saat seluruh lingkaran matahari tepat berada di atas cakrawala, maka bulan baru pun harus dimulai ketika seluruh badan (lingkaran) bulan tepat di atas cakrawala saat matahari terbenam. Tapi definisi yang terakhir ini menjadi janggal, karena matahari terbit tentu dihitung mulai garis lingkaran atas matahari menyembul di atas cakrawala dan memancarkan sinarnya (kebetulan sinar matahari sangat kuat jadi langsung terlihat). Berbeda dengan bulan, nyembulnya bulan di atas cakrawala barat (saat matahari terbenam), tidak langsung terlihat oleh mata. Namun demikian, asal sudah nyembul (meski belum terlihat oleh mata), itu sudah mulai bulan baru. Justru kalau nunggu terlihat oleh mata, maka kita akan terlambat menetapkan tanggal qomariah. Wajar kalau purnama lalu terjadi tanggal 14 atau malah ada yg tanggal 13 (penetapan tanggal telat 2 hari). Sebenarnya persoalannya sederhana kalau kita mau konsisten mendefinisikan matahari terbit dan bulan terbit (maaf saya terpaksa memakai istilah bulan terbit untuk memudahkan pemahaman).

    Hal ini sekaligus menggambarkan kerancuan pengertian bahwa jika saat matahari terbit ia terhalang oleh awan, lalu mengatakan bahwa matahari terbit dihitung sejak ia lepas dari ketertutupan awan. Ini pemahaman yang kacau balau. Begitu juga, jika bulan telah di atas cakrawala, tetapi karena ada gangguan sinar matahari dan tidak terlihat, lalu dianggap belum bulan baru….ini sama kacaunya dg matahari yg tertutup awan tadi. Oleh karena itu, rukyah menjadi sesuatu yang tidak penting.

    Yang paling penting menurut saya, sepakati saja pada posisi seperti apa yang namanya bulan baru itu (tanpa harus mensyaratkan terlihat). Pilihannya ada 3 : 1) Apakah yang penting posisinya sudah nyembul di atas cakrawala? 2) Apakah separuh lebih badan bulan di atas cakrawala? 3) Ataukah, seluruh badan bulan telah tepat di atas cakrawala? Kalau sisi lingkaran bawah bulan harus memiliki jarak dari cakrawala….ini tentunya tidak logis sama sekali. Tapi, bagaimanapun, kita juga harus konsisten dg definisi matahari terbit. Nah, kalau matahari terbit dihitung sejak matahari mulai nyembul di cakrawala, seharusnya bulan pun demikian. Tapi, silakan saja disepakati mana yg mau dipilih di antara ketiga posisi yang saya sebut di atas. Itulah yang dianggap logis.

  55. Soal bentuk bulan sabit saya sangat paham, dan memang itu terjadi pada tanggal2 muda dan tua. Tapi kita bisa sempurnakan software astronomi dengan misalnya : menghilangkan tampilan matahari, menghilangkan tampilan bumi atau menghilangkan tampilan bulan. Termasuk menghilangkan tampilan bintang2 lainnya. Ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Saya teringat software semisal ArcGIS. Tema2 yang ada bisa ditampilkan dan bisa disembunyikan. Jadi kita bisa dengan mudah melihat overlay dari seluruh tema2 tsb. Software astronomi bisa dikreasi untuk menampilkan bulan seutuhnya meskipun posisinya masih bulan sabit. Ini untuk memudahkan kita mengetahui apakah badan bulan sudah berada di atas ufuk atau belum. Jadi bukan sekedar menampilkan bulan sabit saja seperti kondisi real di alam. Bahkan, jika kita mau, bulan bisa kita kreasi memancarkan (memiliki) cahaya sendiri, untuk mempermudah melihat badan bulan secara keseluruhan. Atau, daya pancar sinar matahari bisa kita kurangi, dan daya pancar sinar bulan kita kuatkan. Inilah yang disebut simulasi mutakhir, kondisi penyinaran bisa kita ubah2 sesuai dengan kebutuhan simulasi. Ini sesuatu hal yang tidak sulit di era teknologi canggih seperti sekarang ini. Insyaallah, dengan cara seperti ini, semua akan paham dan sadar.

  56. Jadi untuk merekonstruksi simulasi posisi2 benda lagit seperti matahari dan bulan (hilal), cahaya matahari dibuat supaya bisa diatur daya pancarnya (bisa diredupkan dan dikuatkan) dan bulan pun demikian juga. Jadi tak ada alasan bulan (hilal) tidak terlihat karena cahaya matahari mengaburkan kenampakan bulan (hilal). Bahkan, bulan sabit bisa ditampilkan ke wujud aslinya (bulat) untuk mengetahui posisi bulan yang sebenarnya. Jika software ini bisa segera dikreasikan, maka perdebatan soal penetapan puasa dan syawal bisa diakhiri. Saya yakin, kelompok rukyat pun akan mengikuti hasil hisab dengan bantuan software astronomi yang gamblang.

  57. Bapak2 yang insyaAllah dirahmati oleh Allah. Bukankah kita sedang berbicara tentang bagian/sendi agama kita? bukankah diskusi kita mestinya tetap dalam koridor syariat?

    Kenapa kita bicara tentang hilal? bukankah Al Baqarah 189 berbicara tentang hilal? bukankah ini didukung banyak hadits yang shohih? singkat kata ada syariat “hilal” sebagai tanda waktu.

    Terus, saya waktu coba sederhanakan masalahnya dengan pertanyaan kenapa sih koq kita harus repot2 buat definisi baru tentang hilal? adakah yang salah dengan pengertian sederhana hilal (yaitu yang awam fahami sebagai simplenya bulan sabit)? kalau tidak ada yang salah, tidakkah cukup kita akui saja kebenarannya?

    Kita harus sadar betul, hisab dan rukyat itu setara! dengan hisab kita tidak sedang membuat syariat baru/tandingan. Kalau dengan definisi yang anda sampaikan, bisakah itu di rukyat? anda tahu khan jawabannya? bukankah sudah ditegaskan oleh Prof Sofjan, kalau tidak sama berarti ada yang salah? bukankah kita sedang mencari jalan menuju persatuan? atau sebaliknya????

    salam

  58. Sekedar usul, supaya tidak terjadi perbedaan lagi dalam penentuan 1 Syawal tahun depan maka biarkanlah perbedaan itu ada.

    Saya usulkan pula “tanggal merah” pada kalender dibuat 3 hari yg melalui “hisab awal” diperkirakan masing-masing pada 30 Ramadhan, 1 Syawal dan 2 Syawal dan diberi catatan: “1 Syawal ada pada keyakinan masing-masing, maka silakan menyusun rencana acara TV, Mudik, agenda bisnis, dan budaya lebaran lain sesuai keyakinannya”

    Khusus buat Pak Prof., saya ijin bertanya: bapak seorang ahli astronomi atau ahli ilmu syariah dan pemikrian Islam? Jika LAPAN itu secara kelembagaan milik pemerintah, tulisan-tulisan bapak sebagai kapasitas bapak sebagai birokrat atau seorang ahli? Sebab sepemahaman saya, bapak bukan seorang akademisi murni (berkarir murni di institusi pendidikan, semisal ITB, UGM, UI, dll).

    Makasih pak. Bahagia dan sukses slalu buat bapak dan kita semua … Amien …

    • Saya seorang astronom, peneliti astronomi. Hisab rukyat adalah ilmu multi disiplin. Untuk mendalami hisab rukyat astronom juga harus belajar syariah dan ahli fikih harus belajar astronomi. Saya sebagai peneliti LAPAN, tentu tulisan-tulisan saya dalam kapaisitas sebagai peneliti. Saya punya jabatan rangkap. Sebagai pejabat struktural (Deputi Sains) kapasitas saya untuk aspek kebijakan dan sebagai pejabat fungsional peneliti (Peneliti Utama IVe, Profesor Riset) kapasitas saya untuk aspek substansi astronomis dan sains antariksa terkait.

  59. Prof…menurut saya, mempelajari ilmu (alam) itu jangan dipengaruhi oleh syari’at dulu. Baru dalam implementasinya, silakan mempertimbangkan aspek syari’at. Dalam konteks ilmu astronomi, coba definisikan ‘bulan baru’ secara murni ilmu astronomi. Sementara dalam penentuan hari2 ibadah, coba sinkronkan definisi ilmu astronomi dg aspek syari’at. Saya yakin, keduanya suatu saat akan bertemu. Karena benda2 langit memang diciptakan secara hak dan salah satunya berguna untuk menentukan bilangan tahun dan perhitungan.

    Saya terpaksa beranalogi lagi. Menurut islam, binatang babi itu haram. Nah, kalau kita langsung bicara dari sudut pandang syari’at, seolah kita tidak perlu mempelajari misalnya anatomi tubuh binatang babi, atau misalnya cara perkembangbiakan babi, dll. Toh, babi seolah tidak berguna bagi manusia. Mau diternakkan dan dijual, tentu hasilnya juga haram. Nah, kalau mempelajari alam ini langsung melihat dari sudut pandang syari’at, jadinya malah kacau.

    Contoh lagi, pemanfaatan hutan. Berapa sih sebenarnya menurut kajian ilmiah, keberadaan hutan yang musti dipertahankan untuk kenyamanan hidup manusia? Kajian ini tentu berdasarkan sudut pandang ilmiah murni, bukan syari’at. Syariat berbicara bagaimana pemanfaatan hasil hutannya, misalnya maksimum penguasaan HPH supaya tdk ada monopoli, berapa besaran pajaknya supaya hasilnya dinikmati rakyat, bagaimana perimbangan antara pusat dan daerah, dll. Nah aspek2 yang terakhir ini, bukan domainnya ilmu pengetahuan, tapi domainnya syariat.

    • Apa tidak terbalik? Dulu para ilmuwan islam memahami dulu syariat sehingga mendorong mereka untuk mempelajari alam. Terimakasih mudah-mudahan bermanfa’at

  60. Endang….syari’at itu peraturan hidup manusia agar bisa bahagia hidup di dunia dan akhirat. Peraturan itu hakikatnya menyangkut apa yang harus/wajib dan apa yang tidak boleh/haram dilakukan (termasuk yang mubah). Memang alquran banyak menyitir akal dan ilmu pengetahuan. Tapi alquran tidak pernah mengatur bagaimana mempelajari suatu ilmu (terutama yang menyangkut alam). Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk mempelajari alam ini. Bahkan orang kafir pun boleh mempelajari suatu ilmu (tetang alam). Jika syari’at menjadi prasyarat mempelajari suatu ilmu, tentu orang kafir tidak akan mampu menguasai ilmu pengetahuan. Jadi kalau anda ingin belajar tentang astronomi, anda tidak harus menjadi islam terlebih dulu. Bahwa dengan masuk islam kita lebih mudah memahami alam ini (karena memang banyak disinggung dalam alquran), ini soal lain. Tetapi orang kafir bisa memperdalam ilmu tentang alam, karena alam memang benda yang bisa diidentifikasi dengan panca indra.

    Syari’at lebih berfungsi mengarahkan pemanfaatan suatu ilmu pengetahuan. Ilmu kimia nuklir boleh dan sebaiknya dipelajari untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi ilmu kimia nuklir menjadi sesuatu yang haram untuk dipelajari manakala tujuannya untuk membumihanguskan manusia (musuh).

  61. [...] Hisab Imkan RukyatMuhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid HisabKita Kritisi Wujudul Hilal, Tetapi Kita Semua Mencintai dan Menghormati MuhammadiyahPemahaman Baru Asal-Usul Tata SuryaHisab dan Rukyat Setara: Astronomi Menguak Isyarat Lengkap dalam [...]

  62. Lha, bapak dan ibunya kok lebih muda dari anaknya ya? Muhammadiyah lahir 1912. Lha, bapak ibunya kapan? Pak Thomas, Muhammadiyah itu, sudah lebih dulu beli pakaian. Bahkan, banyak pakaian negeri ini yang “dipakai” karena “dibelikan” oleh Muhammadiyah.
    Tapi, engga taulah. Kok, aneh aja, ada bapak dan ibu lebih muda dari anaknya.

  63. Kalau sama-sama punya dalil, kemudian amalnya berbeda ya wajar saja. Akan tetapi, kalau mau bersatu, mana yg sewajarnya menjadi anutan, yg jumlahnya lebih banyak atau yg jumlahnya lebih sedikit?

    • Musyawarah dalam konsep Islam merujuk pada kebenaran, bukan pada jumlah. Memang sering berkorelasi bahwa kebenaran biasanya terkait dengan pendapat banyak orang, karena menurut Nabi, orang banyak tak mungkin bersepakat pada ketidakbenaran.

  64. klo menurut saya hisab adalah metode pendekatan yang tentunya perlu diuji akurasinya dengan kondisi nyata, tanpa uji akurasi tentunya tidak mungkin sebuah metode dapat dikatakan layak….anak yang dari kecil hanya diajari 1+1 =2 maka saat diceritakan seorang peternak yang awalnya hanya memiliki 2ekor ayam (sepasang) kemudian berkembang 100 ekor ayam dari 2ayam itu maka akan dia jawab dengan cepat “tidak mungkin” tanpa mengecek lapangan dan tanpa menanyakan memahami masalah lebih lanjut…karena dia punya 2 ayam jantan dan sampai mati keduanya tidak pernah bertambah satupun…jadi penggabungan keduanya insya Allah dapat menghasilkan lebih akurat dan tepat guna kemajuan umat..sukses pak thomas

  65. Terkait Adanya pertanyaan di kalangan beberapa orang anggota masyarakat tentang lebaran besok Selasa di mana puasanya dengan demikian hanya 29 hari, apakah itu sah? Jawabannya adalah bahwa Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah, dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

    Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk. Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.

    Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

    1.Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,
    2.Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab.
    Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

    1.Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),
    2.Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,
    3.Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.
    Memang perlu dilakukan upaya untuk menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan yang memilukan ini. Untuk itu kita harus berani beralih dari rukyat (termasuk rukyat yang dihisab) kepada hisab. Di zaman Nabi saw rukyat memang tidak menimbulkan masalah karena umat Islam hanya menghuni Jazirah Arab saja dan belum ada orang Islam di luar jazirah Arab tersebut. Sehingga bila bulan terlihat atau tidak terlihat di jazirah Arab itu, tidak ada masalah dengan umat Islam di daerah lain lantaran di daerah itu belum ada umat Islam. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, di mana umat Islam telah menghuni seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Apabila di suatu tempat hilal terlihat, maka mungkin sekali tidak terlihat di daerah lain. Karena tampakan hilal di atas muka bumi terbatas dan tidak meliputi seluruh muka bumi. Rukyat akan menimbulkan problem bila terjadi pada bulan Zulhijah tahun tertentu. Di Mekah terlihat, di Indonesia tidak terlihat, sehingga timbul masalah puasa Arafah.

    Jadi oleh karena itu penyatuan itu perlu, dan penyatuan itu harus bersifat lintas negara karena adanya problem puasa Arafah. Artinya siapapun yang mencoba mengusulkan suatu sistem kalender pemersatu, maka kalender itu harus mampu menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan lain dunia agar puasa Arafah dapat dijatuhkan pada hari yang sama. Ini adalah tantangan para astronom Indonesia. Kita menyayangkan belum banyak yang mencoba memberikan perhatian terhadap penyatuan secara lintas negara ini. Perdebatan yang terjadi baru hanya soal kriteria awal bulan, yang itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan masalah penyatuan kalender.

    Sementara kita masih belum mampu menyatuakan penanggalan hijriah, maka bilamana terjadi perbedaan kita hendaknya mempunyai toleransi yang besar satu terhadap yang lain dan saling menghormati. Sembari kita terus berusaha mengupayakan penyatuan itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: