Purnama Tidak Bisa Menjadi Penentu Awal Bulan Qamariyah


 

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Gambar dari http://aa.usno.navy.mil/graphics/Moon_phases.jpg

Memang aneh, banyak pendukung hisab wujudul hilal (perhitungan astronomi yang kriterianya asal bulan di atas ufuk, seperti digunakan Muhammadiyah saat ini) mencari pembenaran dari praktek rukyat (pengamatan langsung). Padahal mereka tampak sangat anti dengan rukyat, termasuk menganggap kriteria hisab imkan rukyat (perhitungan astronomi dengan memperhatikan kemungkinan bisa diamati) sebagai metode rukyat. Hisab wujudul hilal adalah metode hisab yang kriterianya usang, karena masih menggunakan penyederhanaan lama dengan mengabaikan atmosfer sehingga mengabaikan analisis kemungkinan rukyat.

Mencari pembenaran dengan informasi rukyat dilakukan dengan dua cara. Pertama, mereka mencari pembenaran bahwa Idul Fitri 1432 jatuh pada 30 Agustus 2011 dengan menyodorkan bukti keputusan kontroversial Malaysia dan Arab Saudi, serta negara-negara yang mengikuti Arab Saudi. Padahal Malaysia dan Arab Saudi menggunakan rukyat. Mereka juga mengabaikan kenyataan bahwa Brunei Darussalam sama dengan Indonesia dalam menentukan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 dengan menggunakan kriteria imkan rukyat. Kedua, mereka mencari pembenaran dengan mengajak membuktikan dengan pengamatan purnama.

Banyak pendukung hisab wujudul hilal mencari pembenaran dengan mengajak melihat purnama untuk membuktikan bahwa tanggal 1 Syawal 1432 jatuh pada 30 Agustus 2011. Maka, pada Senin malam 12 September beredar banyak SMS yang menyatakan purnama malam itu membuktikan bahwa 1 Syawal benar jatuh pada 30 Agustus. Running text Metro TV pun sempat menayangkan informasi tersebut, sebelum munculnya running text bantahan dari saya. Benarkah cara pembuktian dengan purnama? Jawab singkatnya, tidak benar. Ada dua alasan. Pertama, tidak ada dalil syar’i (hukum agama) yang mendukungnya. Kedua, secara ilmiah astronomi metode tersebut tidak berdasar.

Kita semua tahu, penentuan awal bulan qamariyah terkait dengan pelaksanaan ibadah, khususnya ibadah puasa, baik untuk mengawalinya maupun untuk mengakhirnya. Pelaksanaan ibadah harus didasarkan pada dalil-dalil syar’i, baik dari Al-Quran mapun Hadits. Dalil syar’i, baik berdasarkan rukyat maupun hisab, semuanya mensyaratkan adanya hilal (bulan sabit pertama). Tidak ada satu pun dalil yang mengaitkannya dengan purnama.

Secara ilmiah astronomi pun tidak ada dasarnya. Awal bulan mestinya didasarkan pada fenomena yang ada batas awalnya. Hilal ada batas awalnya, karena hari sebelumnya tidak tampak, kemudian tampak sebagai tanda awal bulan. Tampak bisa dalam arti fisik, terlihat, atau tampak berdasarkan kriteria visibilitasnya. Purnama sulit menentukan batas awalnya. Dari segi ketampakan, bulan tanggal 14 dan 15 hampir sama bentuknya (lihat gambar di atas urutan ke-13 dan 14), sama-sama bulat. Secara teoritik, rata-rata purnama terjadi pada 14,76 hari setelah ijtimak (bulan baru). Artinya, purnama bisa terlihat pada malam ke-14 atau ke-15, sehingga tidak memberikan kepastian ketika ditelusur mundur.

Senin malam kemarin, sebagian orang menyebut itu malam ke-15 (12 September 2011 dianggap sebagai 14 Syawal 1432), sehingga 1 Syawal jatuh pada 30 Agustus. Tetapi, saya menyatakan itu malam ke-14 (12 September 2011 masih 13 Syawal 1432), sehingga sudah tepat bila menyatakan 1 Syawal 1432 jatuh pada 31 Agustus 2011.

About these ads

293 Tanggapan

  1. “Benarkah cara pembuktian dengan purnama? Jawab singkatnya, tidak benar”

    –> terus ini apa namanya? –>

    “Senin malam kemarin, sebagian orang menyebut itu malam ke-15 (12 September 2011 dianggap sebagai 14 Syawal 1432), sehingga 1 Syawal jatuh pada 30 Agustus. Tetapi, saya menyatakan itu malam ke-14 (12 September 2011 masih 13 Syawal 1432), sehingga sudah tepat bila menyatakan 1 Syawal 1432 jatuh pada 31 Agustus 2011.”

    • Merujuk pada al-Quran, kata ru’yah maupun hisab, sebenarnya tidak tercantum secara tersurat. Perintah kewajiban waktu berpuasa adalah faman syahida minkum al-syahra falyashumh. Jadi permasalahannya bukan ru’yah maupun hisab, tapi yang terpenting adalah “bulan baru”. Entah itu dengan cara apapun, hanya saja Nabi Muhammad saw pernah memerintahkan dengan melihat (entah maksud Nabi adalah melihat dengan mata telanjang atau ilmu pengetahuan), dengan 0,XX, 2, 5, 330 derajat atau lain sebagainya. Tapi secara pengertian eksistensi setiap apapun dimulai dari angka 0. Maka tak heran jika al-Khawarizmi penemu angka ini cukup legendaris!
      Kata syahida memang berarti ‘menyaksikan’, tapi tentu tidak bisa dipersempit maknanya hanya melihat dengan mata kepala, tetapi juga syahida bi ‘aqlih wa bi ma’rifatih. Inilah yang kita lakukan setiap hari dengan mengucapkan syahadatain dalam stiap rakaat kedua/akhir shalat kita. Kita tidak pernah melihat Tuhan maupun Nabi Muhammad, tapi kita “menyaksikan” dengan pengetahuan dan iman!
      Memang hadits tentang ru’yah atau takmil 30 hari, benar-benar shahih. Tapi bukankah hal itu hanya cara untuk mengetahui sebagaimana kita tidak lagi harus meru’yah matahari setiap menentukan waktu shalat? Toh, lima waktu ini yang justru lebih banyak haditsnya daripada rukyah. Bakan dalam beberapa ayat al-Quran, waktu shalat ini justru tercantum. Kenapa tidak ada ru’yatus syams?
      Lebih daripada itu, hadits ru’yah sesungguhnya sama halnya dengan hadits cara nabi makan? Tuhan memerintahkan umat Muslim untuk makan dan minum –tanpa berlebihan–, sementara Nabi mencontohkannya dengan jari tiga. Apakah hal ini masih kita pertahankan? Artinya, ru’yah dan syar’i sesungguhnya sama-sama bukan syar’i, tapi hanya kaifiyyat…..!

      • apakah meniru kaifiyyat Nabi itu berarti salah atau bodoh? Kalau masalah ibadah, meniru kaifiyyat Nabi jelas lebih baik dan bertanggung jawab daripada mereka-reka kaifiyyat yang diklaim lebih baik dan modern. Atau kalau mau lebih mudah, gunakan ilmu dan teknologi untuk meniru kaifiyyat Nabi, tuh sudah ada contohnya dengan hisab imkanur rukyah.

      • Pak Budi Santoso betul. rukyah itu akar katanya ro’yu artinya akal. Jadi Nabi menyuruh kita melihat hilal dengan akal/ilmu pengetahuan/penelitian. Kalau nabi nyuruh kita melihat dengan mata kepala, beliau akan pake kata “izhar” artinya melihat dengan mata kepala. Saat zaman nabi umat Islam masih berkutat soal aqidah/tauhid dan bersifat lokal(makkah dan madinah) sementara ilmu astronomi dan ilmu falaq sudah berkembang di yunani saat itu. Sekarang zaman udah beda. Umat Islam sudah mengembangkan ilmu falaq sejak zaman keemasan bani abbasiyah. tp kemudian “dicuri” dan dilanjutkan oleh Barat. Jadi dalam menggunakan dan mengartikan hadist jangan mentang-mentang ingin benar sendiri seperti 11 ormas itu. Muhammadiyah juga pake hadist yang sama sbg alasan menggunakan hisab. Allah sengaja menurunkan qur’an dan mengutus nabinya dalam lingkungan berbahasa arab, karena bahasa arab tidak hanya indah diperdengarkan, tapi juga kaya dengan makna-maknanya. Masalahnya sebagian ormas dan ulama pake kamus bahasa Arab yang berbeda. Jadi menerjemahkan kata rukyah sebatas mata memandang. Bukan sepanjang kesaksian secara meyakinkan.

      • Zul, antum nyantren dulu deh blajar nahwu sorof… ni ane jelasin yah Zul (setelah ane konsultasi nih sama ahlinye)…

        ru’yah akar katanya ro-a-ya

        Ente baca surat 12 ayat 5 deh…

        http://quran.bblm.go.id/?id=31679

        lihat disono, akar kata ru’yah itu apo? ro-alif-ya… sudah yakin akar kata ru’yah ro-a-ya? oke lanjut…

        Sekarang antum buka surat 2 ayat 55

        http://quran.bblm.go.id/?id=868

        antum lihat kata “naraa”, akar kata nya sama ro-a-ya artinya melihat.

        Nih ayatnya:

        2.55. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami “melihat” Allah dengan terang , karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya “.

        “melihat” disini: semua ahli tafsir sepakat, melihat dengan mata (bukan dengan ilmu). Lah wong, Nabi Musa ditantang sama bani israel, untuk memperlihatkan bentuk Alloh ke mata mereka, biar mereka yakin… akibatnya Alloh marah lalu nurunin halilintar buat membakar mereka…

        Nih contoh lain dari (copas) guru ane: antum lihat surat 2 ayat 73

        http://quran.bblm.go.id/?id=1234

        antum lihat “yuriikum”, akar katanya sama ro-a-ya artinya melihat.
        Nih ayatnya:

        2.73. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam “memperlihatkan” padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti .

        Alloh “memperlihatkan” tanda kekuasanNya, dg cara gimana? Dengan menyuruh Musa mukul mayat dengan bagian tubuh sapi betina. Lalu mayat itu hidup. Bani israel takjub. Lah antum pikir, Bani Israel takjub kenapa? Lah karena melihat dengan mata mereka lah

        Masih ratusan ayat lagi Zul… kepanjangan kalau dibahas disini apa yg disampein guru ane… Saran ane, antum blajar lagi ke psantren… agar gak cepat percaya perkataan ustad antum, hwoalaah… ada pulak ya dibedakan antara ru’yah dan izhar… satu pakai ilmu satu pakai mata…weleh weleh… Yng bilang ru’yah dg mata telanjang itu Quran loh… antum brani nglawan quran? hehehe…

      • Murid Psantren, weleh anda masih murid toh… gmng-ngomong psantrennya mana nih?

      • murid psantren… terima kasih ilmunya… bagus juga nih blog bisa blajar bahasa arab segala…

        murid psantren, nih saya jadi nemu juga nih dari website yg kamu berikan…

        di surat Al-A’raf 143 dikatakan: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup <<<>>>, tapi lihatlah**) ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.

        Sepertinya (sy masih meraba-raba nih, karena bhs arab dulu hanya blajar skedarnya di madrasah ibtidaiyyah):

        Allah berkata: kamu tidak dapat <<<>>> dengan mata telanjang

        Kalau dilihat di website yg kamu kasihkan itu kata: taranii seakar-kata dg ru’yah ya? http://quran.bblm.go.id/?id=22482

        Kalo begitu Allah sendiri dong yg pakai kata ru’yah itu? Dia berkata pada Musa: kamu gak bakalan bisa meru’yah Aku… Matamu akan hancur. Lebih baik engkau lihat gunung, engkau lihat gunung itu yg hancur jika Aku menampakkan diriKu….

        Betul begitu gak murid psantren?

      • bukankah hadisnya tersurat melihat dan menyempurnakan ?

      • dasar hukum system qomar, adalah Al-Quran, Al-Quran jelas mengharuskan wujudul-hilal bukan wujudul-qomar..
        (يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

        Akan bertanya kepadamu tentang BULAN SABIT, katakan HILAL adalah MAWAAQIIT…..

        Ulama Ahli Fiqih kagak ada yang mengambil ke ayat FAMAN SYAHIDA…

        Jadi kuncinya HILAL, yang artinya bulan yang sudah terlihat seperti Sabit…

        bukan sekedar wujud Qomar, tapi harus mungkin sudah berbentuk Hilal…

        Jadi pendapat Muhammadiyah (pengikut Muhammad bin Abdul-Wahhab) ngaco…

      • Kalau mau bukti kebenaran Rosulullooh dg pendapat Muhammadiyah perhatikan hadits dibawah ini :

        ٤٤٨٨ - ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ, ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﻳﻮﺏ, ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ, ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ, ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ, ﻓﻼ ﺗﺼﻮﻣﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﻭﻩ, ﻭﻻ ﺗﻔﻄﺮﻭﺍ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﻭﻩ, ﻓﺈﻥ ﻏﻢ ﻋﻠﻴﻜﻢ, ﻓﺎﻗﺪﺭﻭﺍ ﻟﻪ» ﻗﺎﻝ ﻧﺎﻓﻊ: ﻓﻜﺎﻥ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ «ﺇﺫﺍ ﻣﻀﻰ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ, ﻳﺒﻌﺚ ﻣﻦ ﻳﻨﻈﺮ ﻓﺈﻥ ﺭﺋﻲ ﻓﺬﺍﻙ, ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮ, ﻭﻟﻢ ﻳﺤﻞ ﺩﻭﻥ ﻣﻨﻈﺮﻩ ﺳﺤﺎﺏ, ﻭﻻ ﻗﺘﺮ ﺃﺻﺒﺢ ﻣﻔﻄﺮﺍ, ﻭﺇﻥ ﺣﺎﻝ ﺩﻭﻥ ﻣﻨﻈﺮﻩ ﺳﺤﺎﺏ ﺃﻭ ﻗﺘﺮ ﺃﺻﺒﺢ ﺻﺎﺋﻤﺎ» 

        Inti hadits ini menjelaskan bahwa bulan dan matahari akan selalu Ijtima pada malam ke 30, posisi bulan saat itu memberi pilihan apakah malam tanggal 30 atau malam tanggal 01 ……

        Kalau malem ke 30, posisi bulan masih di bawah matahari, berarti hisabnya bener penentuannya gak bener…

      • Peringatan buat Muhammadiyah

        (وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا) [Surat Al-Ahzab : 36

    • Prof…tlg animasi fase bulannya dihapus aja, karena menunjukkan 1 syawal 1431 H adalah 30 September 2011, namanya kan gak konsisten……………………………………..

      • itukan animasinya berlaku dr mulai magrib.jd klo magrib 30 agustus ya berarti 31 agustus baru 1 syawal.

  2. Assalamu’alaiku..
    Izin share pak..semoga selalu bermanfaat dan dalam keberkahanNYA.amien

  3. Ya memang rancu kl purnama dijadikan acuan terlebih kl dikaitkan dg purnama jatuh pd tgl 15. Baik wujudhul hilal maupun imkan rukyat akan mengalami komplikasi saat mendefinisikan purnama sbg tgl 15 krn 1 bulan qamariyah ada yg 29 & 30.

    Jadi saat disodorkan seri foto purnama yg sama (full moon) saya yakin tidak ada yg bs dg tepat dan konsisten mengatakan ini tanggal 15 atau pun selalu tgl 14 krn memang purnama bs jatuh di tgl 14 atau 15.

    Atau jk disodorkan pada tanggal 8-9 qamariyah pasti akan banyak yg gagal dalam mengidentifikasi foto tsb tanggal berapa. Krn pada tanggal Masehi yg sama kt jg bs mendapat kan 2 shoot tanggal qamariyah yg berbeda tentu itu bedanya sangat tipis sekali, katakanlah kt shoot pada ashar dan foto satunya lagi pada maghrib. Ini bisa dipraktekan sendiri jg dg membuat serial purnama pada setiap bulannya :)

    Untuk itulah mengapa penentuan awal bulan dilakukan di awal bulan bukan dari tengah2 atau dari belakang ditarik mundur. Sama jg dg penentuan 10 zulhijah tidak ditentukan dg proporsi bulan trus ditarik mundur jg khan? :D

    Bulan qamariyah itu rangkaian, bukan sstu yg berdiri – sendiri. Saat kita melakukan dg sepotong-potong, maka akan terjadi komplikasi saat menerapkan pada bulan lainya :)

    • Tetapi saya tgl 12 malam memperhatikan bulan purnama ketika jam 11an malam… Kalau di langit jakarta terlihat sekitar 70an derajat lebih dari ufuk…Terlihat sangat indah… subhanallah…

      Ketika maghrib, yes, saya gak bisa lihat purnama (padahal purnama sudah terjadi lo dari jam 4 sore)… semata karena pas maghrib bulan masih 1.5 derajat diatas ufuk…

      Menurut saya pribadi: purnama bisa jadi indikasi. tapi TIDAK DAPAT memastikan, apakah 14 atau 15.

      • Ya memang begitu, indikasi bukan berarti benchmark. Inilah hikmah mengapa Rasul SAW menggunakan parameter kualitatif. dari sudut pandang saya sbg geosains parameter ini dapat terukur baik oleh awam maupun ilmuwan. Ukuran kualitatif (fase bulan) ini ditunjukkan pula dalam Quran. Ilmu ttg astronomi bagaimana aturannya sudah tercantum dalam Quran itulah ketetapan (qada & qadhar). Dalam sains kemudian terterjemahkan sebagai lingkungan antariksa termasuk didalamnya orbit, rotasi, evolusi, dll shg kt dapat melakukan perhitungan (hisab).

        Namun demikian untuk melakukan benchmark/titik awal jg sudah dituntunkan yaitu dengan menggunakan new crescent moon sstu yg dapat terukur baik oleh awam maupun ilmuwan. Oleh karena itu pula purnama bukan menjadi alat ukur/bencmark penanggalan namun benchmark dilakukan pada awal bulan.

        Oleh karena itulah ilmu dan teknologi akan lebih bagus jika melakukan rekonstruksi terhadap tuntunan tersebut. Umumnya ilmu dan teknologi mendekatinya parameter kualitatif tsb dg kriteria/parameter kuantitatif.

        Mengapa mendekati bukan menggantikan? krn perhitungan matematis terhadap model langit dan bumi ini diawali dg asumsi (hipotetikal) meski diusahakan untuk mendekati kondisi sebenarnya. Meski banyak yg berpendapat, termasuk doktor yg bukan dibidangnya sekalipun bahwa menyatakan bahwa hitungan/matematis akan memberikan kepastian.

        Kita lupa bahwa ellipsoid dan datum pun merupakan obyek & bidang hipotetikal begitupula dg pusatnya untuk itulah disebut model bumi. Geoid bs dipetakan namun perlu diketahui pula bahwa pemetaan terhadap model gravitasi bumi memiliki resolusi juga untuk itu berakibat asumsi pusat bumi jg memiliki nilai presisi bukan bersifat absolut.

        Itulah mengapa kita bisa menghitung kapan terjadi gerhana, ijtimak, purnama. Tapi kita jg mengetahui bahwa hasil dari hitungan tersebut scr matematik terjadi variasi bahkan jk kemudian dipraktekan tidak jarang meleset waktu dan lamanya (gerhana misalnya). Contohlah pada waktu gerhana 2011-06-16 msh tercatat dalam banyak berita kapan terjadinya, dan dapat disandingkan dg pemantauan aktual dilapangan kapan terjadinya dan seberapa lama. Gain yg terjadi Itu krn model yg digunakan memiliki resolusi serta titik acuannya bersifat hipotetikal.

        Untuk purnama misalnya, kita menyakini purnama = 100% tapi apakah benar cahaya purnama itu benar2 100%? Tentu tidak :)
        Full Moon 100% itu matematis, banyak hitungan yg masih berdasarkan pada asumsi bidang datar belum banyak yg menggunakan perhitungan secara nDimensional. Aktualnya orang akan berbeda melihat proporsi bulan dalam beda lokasi sedangkan asumsi bidang datar akan memaksa orang dalam bujur yg sama melihat bulan pd proporsi yg sama pdhl tidak.

        Pada saat kita melakukan generalisasi & simplifikasi maka akan memproduce lebih banyak error dan itu sudah terperkirakan.

        Bahkan ijtimak jg didasarkan pendekatan geosentris yg meletakkan bumi, bulan dan matahari dalam bidang datar. Padahal masing2 memiliki orbital 3Dimensional bahkan lebih [nD] (Gravity, Energy). parameter yg mempengaruhi orbital & energinya selalu dan terus dalam pengembangan dan pengungkapan.

        Saat kt menganggap hitungan matematis adalah kebenaran yg mutlak, tentu itu tidak tepat. kita lupa bahwa titik acuan yg digunakan pun bersifat hipotetik dan memiliki resolusi.

        Kadang kt saat ini merasa sudah mengetahui langit dan antariksa padahal kt belum tahu apa-apa (sama spt yg tertuang dlm Quran).

        Itulah hikmah agar kita terus berusaha mempelajari alam dan linkungan. Meskipun banyak yg menganggap kt sudah berada dalam Absolutely State of Science pdhl kt belum tahu apa-apa :)

        Semoga ini menjadi momentum kita untuk terus mempelajari, membaca dan memonitor alam untuk lebih meningkatkan ilmu dan wawasan kita shg menjadi kt lebih bijak serta lebih mencintai Quran & Hadist krn menjadi lebih sering membuka-bukanya :)

      • meski saya bukan sarjana astronomi, saya baca literatur astronomi ttg pergerakan bulan. dikatakan bulan purnama atau bukan tidak tergantung lokasi pengamatan (krn bumi cuma satu, bulannya juga satu). di Jkt memang belum bisa lihat purnama, tapi di Indonesia Timur dan Tengah sudah melaporkan melihat purnama. apalagi australia. Jadi karena kita di Jakarta tidak melihat bulan, tidak berarti purnama belum terjadi. Namun dari hitungan hisab Muhammadiyah yang menentukan Ijtimak terjadi Senin 29 agt jam 10.05 WIB, jelas tidak keliru krn saat terjadi purnama, umur bulan sudah 14,xx hari. kalo menurut versi pemerintah, yg patokan awal bulannya selasa magrib 30 agt sekitar jam 18.00, umur bulan baru 13 hari (gak masuk akal). Lebih tidak masuk akal lagi kalo bulan purnama di hari ke-13, padahal umur bulan rata-rata 29,5 hari.

  4. ngeles.com … sana kuliah lg pak

  5. saya sepakat dengan analisa dan statemen pak Thomas tentang pembuktian purnama yang tidak berdasar. namun saya kurang sependapat bahwa yang menggembar-gemborkan ini adalah para pendukung wujudul hilal , mungkin saja ada tapi saya kira tidak semuanya ….

    lebih banyak mereka adalah kaum apatis oportunis yang sejak awal ingin menganggap keputusan pemerintah salah dan melecehkannya, dan bisa jadi dari kelompok mana saja

    • sudah tepat bila menyatakan 1 Syawal 1432 jatuh pada 31 Agustus 2011.
      Pernyataan Prof saya kira agak gegabah karena hitungan BMKG yang resmi jelas-jelas menyatakan 1 Syawal 1432 jatuh pada 30 Agustus 2011.

  6. Terima kasih Pak Prof

  7. Setahu saya…tidak ada ketentuan dari Nabi Muhammad SAW yg mensyaratkan 1drajat atw 2 drajat dsb.nya. Bahkan nabi pernah meyakini berita dari seorang Badui ( non maslim ), waktu menyampaikan sudah melihat HILAL….sehingga nabi menyatakan besoknya sudah jatuh 1 Syawal. Kenapa kita umat islam menolak kecanggihan tekhnologi ? toh sudah ada teropong, yg bisa digunakan utk bisa melihat HILAL sdh muncul apa belum. Alloh SWT memberikan ilmu ( pengetahuan ) kepada kita, kenapa tdk di manfaatkan ? Umat islam selalu tertinggal dlm tekhnoloi…..siapakah orang yg petama sampai ke bulan…? Jwb: orang non muslim !! Tidak cukupkah bukti Al Qur’an lewat perjalanan Isra’ wal Mi’raj Nabi Muhammad SAW utk umat islam ?! Ya Alloh mudah2 an hambamu ini termasuk 1 golongan yg Engkau ridhoi, dari 73 golongan umat Islam yg terpecah
    ……..Amiin.

    • lha sampeyan ini bagaimana, lha udah pakai teropong jelas dibilang tak terlihat kok. itu ilmu pengetahuan yang menyatakan untuk bisa dilihat dengan teropong butuh setidaknya 4 derajat dan untuk dilihat tanpa alat butuh setidaknya 6 derajat. Kalau 2 derajat itu menurut ahli hisab yang mungkin didasari pengamatan di masa lalu saat atmosfer masih bersih.
      yang ngotot hilal sudah wujud meski tak terlihat itulah yang menentang Nabi dengan menganggap bahwa meskipun tak terlihat dianggap terlihat karena sudah wujud, padahal jelas Nabi memerintahkan puasa atau berhari raya hanya jika sudah melihat hilal dan jika tidak bisa melihat hilal maka sempurnakan 30 hari.

      • Icha…dalam sidang itsbat kemarin sudah ada kesaksian dari Cakung dan Jepara, bahwa mereka melihat hilal. tapi kemudian diabaikan alias dianggap bohong karena tidak sesuai dengan “kesepakatan para ormas” sebelum sidang bahwa tidak akan mungkin terlihat hilal (pertanyaannya: loh kenapa depag pake pengamatan hilal sore itu kalo sudah pasti tidak mungkin terlihat, tidak konsisten kan!). Tapi ternyata saksi di kedua tempat itu ternyata ormas Islam yang tidak ada wakilnya di MUI (pantass) dan tidak diundang sebagai peserta, justru sidang itsbat lebih mendengarkan seorang profesor yang memberikan pembenaran-pembenaran. Jadilah sidang itsbat kemarin layaknya sidang partai politik. pake voting 11 lawan 1. Bahkan pake tepok tangan segala. Zaman nabi gak ada tuh istilah pake syarat 2 derajat. Besok2 kalo Depag pake standar 4 derajat sudah pasti versi pemerintah akan selalu berbeda dari dunia Islam lainnya. Apa kata duniaaaa……

      • zul…menolak kesaksian adalah hal biasa, dan alasan yang anda sebut sangat tendensius “kesepakatan ormas”. padahal alasannya sangat jelas, berdasarkan ilmu pengetahuan (astronomi/falak) tidak mungkin bulan bisa dilihat. Apalagi tim rukyah resmi dari pemerintah maupun ormas2 yang ditunjuk pemerintah juga melaporkan tidak melihat hilal. semisal anda bersaksi bertemu SBY lagi main game online di warnet kompleks apa tidak boleh kesaksian itu ditolak. apalagi ada saksi lain yang menyatakan bahwa SBY sedang di luar negeri.
        apakah hisab wujudul hilal itu juga ada di zaman nabi? hisab itu tidak dipakai di zaman nabi, yang ada rukyat. karenanya jika orang ingin menggunakan hisab maka harus memperhatikan kondisi pada masa nabi yang diterjemahkan para ulama ahli hisab sebagai imkan rukyah. pemerintah indonesia berbeda dengan negeri islam lainnya? dimana bedanya? toh mereka sama berhari raya di 1 syawal. berbeda di kalender masehi? sejak kapan idul fitri memakai kalender masehi.
        jika 11 ormas bersepakat melawan 1 apakah berarti yang 11 salah karena main keroyokan? di sidang itsbat itu para ahli ilmu berkumpul termasuk dari MUI, layakkah orang awam seperti anda menertawakan para ahli ilmu dan menganggap mereka pelawak politik? saya perhatikan anda itu sangat vokal di sini, padahal jelas anda mengaku bukan sarjana astronomi tapi merasa lebih pandai dari profesor thomas, mbok ya nyadar. saya yakin orang yang ngerti astronomi seperti pak thomas dan pak nazar tertawa geli sekaligus geram melihat orang yang banyak bicara meski tak memahami ilmunya seperti anda. saya kira anda ini masih beranggapan bahwa jika arab sudah puasa/lebaran maka indonesia harus mengikutinya karena lebih dulu waktunya dari arab. atau jangan2 malah masih menganggap bumi itu datar…

      • Ya Allah icha kok malah ngejek saya siy. sampe nuding saya tahunya bumi itu datar. istighfar doonk. saya bicara sidang itsbat karena saya “dekat sekali” dgn keluarga besar Depag dan saya mengikuti sidang itu sejak lama. Sidang itsbat terakhir itu sidang terlama sepanjang sejarah persidangan. Saya insya Allah tahu banyak intrik2 dan proyek didalamnya termasuk proyek pemantauan hilal yang menghabiskan banyak dana APBN. saya bisa komentar ttg astronomi pun karena saya iqra’ (artinya baca literatur), untuk memenuhi kewajiban saya sebagai muslim membekali diri dg ilmunya, bukan sekedar follower @pemerintah. Saya beritahu ya dalil logika hukum yg berlaku universal: kesaksian tentang tidak adanya sesuatu tidak bisa menutupi atau meniadakan kesaksian adanya sesuatu. Org yang tidak melihat peristiwa SBY maen game online bersama Icha, meskipun jumlahnya mayoritas, tidak bisa menghapus kesaksian org yang melihatnya. Tentunya saksi2 itu harus memenuhi syarat2, diantaranya aqil baligh, dan waras. Satu hal yang jelas dari sidang itsbat, Depag tetap melakukan pemantauan hilal di puluhan titik meski sudah diputuskan sore itu tidak mungkin terlihat hilal dan semua yang melihat hilal akan dianggap bohong. apa ini bukan berarti tindakan korup?….

      • Satu lagi ya icha, Nabi yang tengah berpuasa ramadhan pernah menerima kesaksian rombongan kafilah dan seorang Badui yang bersaksi (dibawah sumpah) bahwa ia sudah melihat hilal di tempat lain. dan nabi segera menyuruh umat Islam membatalkan puasa hari itu dan sholat ied keesokan harinya. zaman dulu komunitas muslim masih sebatas makkah dan madinah dan tanpa alat komunikasi. Selasa lalu apa tidak ada yg beritahu icha bahwa syawal sudah masuk? apa tidak liat TV negara muslim lain sudah berhari raya? Kita tinggal di bumi yang sama, berpatokan pada bulan yang sama, masak lebarannya beda sendiri? seluruh dunia skrg sudah seperti satu kampung, tidak seperti zaman nabi blm ada telpon, facebook dan twitter. Jadi kalo diingatkan sudah masuk 1 syawal, jangan puasa. Haram hukumnya.

    • betul. aturan 2 derajat itu baru dibikin2 depag dan ormas2 pendukungnya tahun 2006 lalu. lima tahun lalu bro….

      • Bumi memang sama, bulan juga sama, tetapi tidak benar jika anda menganalogikan seluruh dunia seperti satu kampung. Jika anda menganggap seluruh bumi sebagai satu kampung, dimanakah tepi kampung itu? apakah di 180* garis bujur karena dia disepakati dunia sebagai awal hari samsiyah? Bumi itu bulat dan bulan berputar mengelilingi bumi. Secara teori, awal bulan komariyah itu tidak pernah tetap di sebuah garis bujur, tetapi selalu berubah setiap waktu, karena revolusi bulan terhadap bumi bukan merupakan kelipatan bilangan bulat terhadap rotasi bumi. Jadi batas tepi kampung (satuan garis bujur) dalam bayangan anda itu tidak akan pernah sama setiap bulannya.

    • siapa yang sudah sampai ke bulan ? niel amstrong tidak pernah bilang begitu, justru banyak pakar meragukan mereka sampai kebulan. makanya jangan mudah percaya dengan orang kafir . fatabayyanu dulu

  8. Memang aneh pak Prof, banyak pendukung hisab wujudul hilal mencari pembenaran dari praktek rukyat. Saya sbg Org Muhammadyah nggak mau tuh ngusik ngusik masalah rukyat. Bagi saya hisab udah pasti. Tgl 29/8 jam 10.05 udah lahir jabang bayi yg namanya Syawal. Nggak perlu lihat lihat lagi.

  9. 1 hal yang saya ingin tanyakan. Kok Pak Thomas senang sekali menggunakan kata “usang” untuk metode wujudul hilal-nya Muhammadiyah ? Buat saya pribadi (yang dilahirkan di lingkungan NU, dibesarkan di lingkungan NU, dan menikahi perempuan dr keluarga Muhammadiyah), ungkapan seperti itu justru makin menutup pintu diskusi.

    Wallahualam

    • betul s4ekali…itu tidak mendidik sama sekali..pemakaian kata kata USANG tsb bukan perkataan yang bijak..kkrn trnyat saudi dan ummul quro masih menggunakan metode itu…sangat kelihatan sekali prof thomas ini bukan pemersatu tapi pemecah umat…kalau memang metode yang prof thomas anggap paling modern saat ini “imkanu ru’yah” bisa memberikan solusi kami tunggu karya pak thomas untuk m,embuat kalender hijriyah versi bapak…saya bukan NU apa lagi Muhammadiya

      • waspada….waspada…..waspadalah…… Thomas itu biasanya bukan orang muslim…., apakah dia itu mualaf…. supaya terkesan muslim di tambah jamaluddin. saya sangsi jangan-jangan dia corong Yahudi untuk membelah umat islam dengan ungkapan profokatif menghina metode orang Muhammadiyah. saya ini lahir dikomunitas NU tapi setelah dewasa saya juga banyak berteman dengan orang Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah bagi saya keluarga yang harmonis, saya merindukan kebangkitan pengikut Muhammad (Nahdlatul Muhammadiyah).

      • kenapa bawa NU dan MUHAMMADIYAH ? DARI SINI TAMPAK KETIDAK BENERANNYA, ternyata ada intrik politik sama sama mau dikata paling superlah, saya bukan mukammadiyah atau NU , tapi saya adalah pengikut muhammad-sallallahu alaihi wasallam. jadi ikuti sunnah beliau

  10. gambar degradasi bulannya berjumlah 24. satu bulan itu berjumlah 29-30 hari. apakah bisa dilengkapi gambarnya ?

  11. Makasih atas pencerahannya.

  12. Pencerahan yg seperti ini…sangat membantu Prof…krn ‘kami’ selalu brhdpan lgsung ke masy.awam..Syukron…smoga tambah Produktif dan sehat selalu….amim.

  13. izin share pak,,,

  14. Jamal O’ON…SOK TAU..BEGO LOE….

  15. LAPAN kok buat ukuran…. bikin komputer aja ga bisa… apalagi orang-orangnya… culun bin bego model si jamal..goblok tapi sok tau…

  16. Cara Sederhana Menguji Versi 1 Syawal yang Benar: Lihat Kapan Malam Bulan Purnama Terjadi….cek di langit Senin malam, 12 September 2011 dan Selasa malam, 13 September 2011 apakah terjadi bulan purnama atau tidak utk menguji mana versi 1 Syawal yang benar. Mengapa bisa? Titik awal bulan baru selalu dimulai dari terlihatnya setitik cahaya (hasil pantulan matahari) atau “hilal” pada permukaan bulan saat matahari tenggelam/magrib, yang kemudian akan terus membesar pada hari2 berikutnya hingga menjadi bulan sabit dan akhirnya menjadi bulan purnama pada pertengahan bulan. Perlu diketahui awal masuknya bulan/tanggal baru dalam sistem hijriyah (lunar system) selalu dihitung mulai magrib (bukan Pk.00:00 seperti kalender masehi/solar system). Jadi misalkan tgl 1 syawal dimulai dari magrib hari ini, tgl 2 syawal dimulai dari saat magrib keesokan harinya dan seterusnya. Juga harus diketahui, umur bulan selalu sekitar 29,5 hari, sehingga bulan purnama selalu terjadi pada malam ke-15 (persis tengah bulan) alias tidak mungkin lebih dari 15 hari. Nah karena Senin malam (12 sep) sudah terjadi bulan purnama, berarti Senin magrib (29 agt) lalu sebenarnya sudah mulai masuk 1 syawal sehingga Senin malam itu mulai takbiran dan sholat ied pada Selasa pagi (30 agt) . Kalo masih kagok, bikin oret2an di kertas supaya jelas. 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13. Pak Thomas kayaknya blm ngerti bahwa awal bulan baru dlm sistem qomariyah/hijriyah/lunar system (1 syawal) dimulai saat magrib senin 29 agt, bukan selasa magrib 30 agt.

  17. Kalau pake hitungan prof, awal 1 syawal pada selasa 30 agt saat magrib, berarti senin 12 sep saat magrib terjadi, full moon terjadi pada saat umur bulan baru memasuki umur 14 hari, padahal seharusnya full moon pada saat umur bulan 14,76 hari (umur bulan 29,5 hari dibagi 2). Coba jelaskan prof?

    • Umur bulan 14,76 hari itu rata-ratanya, untuk menunjukkan bahwa kemungkinan purnama bisa pada malam ke-14 atau ke-15. Umur bulan dihitung dari ijtimak, bukan dari penentuan tanggal 1.

      • Ijtima’ / Konjungsi / New Moon sudah pernah diumumkan Majelis Tarjih Muhammadiyah hari Senin Wage, tanggal 29 Agustus 2011 M. pada pukul 10:04 WIB. Jadi Senin kemarin saat terjadi bulan purnama pk 18:30 WIB umur bulan berarti kan mencapai 14,35 hari. Seperti kata prof, umur bulan dari new moon sampai bulan purnama tidak mesti 14,76 hari (krn itu hanya rata-rata). Berarti yg bener donk perhitungan Muhammadiyah, bahwa Senin 29 Agustus petang/magrib lalu, sudah masuk 1 syawal dan mulai bertakbir. Sementara kalo kita pake patokan versi pemerintah (hilal mulai terlihat selasa 30 agt magrib, sbg titik awal bulan syawal) umur bulan pada saat purnama kemarin hanya 13 hari. gimana donk prof?

      • zulfikar: Ijtima’ / Konjungsi / New Moon sudah pernah diumumkan Majelis Tarjih Muhammadiyah hari Senin Wage, tanggal 29 Agustus 2011 M. pada pukul 10:04 WIB.

        saya: masalahnya sederhanya saja. tanggal 29 maghrib, ijtimak sudah terjadi, tapi ketinggian hilal menurut muhammadiyyah berapa? Kalau tidak salah kisarannya 0.6 sd 1.7 (sudah diatas ufuk). Maka muhammadiyyah berkeyakinan setelah maghrib itu sudah start bulan baru. Tapi penganut imkaanur ru’yah, bulan baru belum dikatakan masuk, karena mustahil bulan bisa terlihat dengan ketinggian hilal sebesar itu. Shg harus istikmal (sesuai hadist, jika tidak terlihat dengan mata maka istikmal).

        Jadi esensinya bukan hitung mundur dari purnama. Tapi kembali ke KRITERIA PENETAPAN AWAL BULAN.

        jangan berputar-putar ah… kembali ke masalah pokok (re: kesepakatan kriteria)… salam damai

      • Pak Nazaruddin sebagai astronom juga perlu kuasai bahasa Arab untuk berhak menggunakan bunyi hadis soal rukyah. Anda tahu gak bahwa rukyah itu akar katanya ro’yu artinya akal. Jadi Nabi menyuruh kita melihat hilal dengan akal/ilmu pengetahuan/penelitian. Kalau nabi nyuruh kita melihat dengan mata kepala, beliau akan pake kata “izhar” artinya melihat dengan mata kepala. Saat zaman nabi umat Islam masih berkutat soal aqidah/tauhid dan bersifat lokal(makkah dan madinah) sementara ilmu astronomi dan ilmu falaq sudah berkembang di yunani saat itu. Sekarang zaman udah beda. Umat Islam sudah mengembangkan ilmu falaq sejak zaman keemasan bani abbasiyah. tp kemudian “dicuri” dan dilanjutkan oleh Barat. Jadi dalam menggunakan dan mengartikan hadist jangan mentang-mentang ingin benar sendiri seperti 11 ormas itu. Muhammadiyah juga pake hadist yang sama sbg alasan menggunakan hisab. Allah sengaja menurunkan qur’an dan mengutus nabinya dalam lingkungan berbahasa arab, karena bahasa arab tidak hanya indah diperdengarkan, tapi juga kaya dengan makna-maknanya.

      • kenapa siy pake kriteria-kriteria yang dibuat-buat itu? yg 2 derajat itu? konsisten lah gak usah pake hisab, kalo menganut rukyahtul hilal. zaman nabi gak ada tuh pake syarat begituan. kalo sudah ada saksi tersumpah mengaku lihat hilal, ya sudah terima donk. jangan nuduh bohong. sepereti terhadap saksi dari cakung dan jepara yg mengaku melihat hilal. sidang itsbat tidak konsisten, lebih mementingkan kelompok mayoritas. mestinya cakung dan jepara di akui donk meski tidak termasuk dalam ormas yang diakui (dan terwakili di) MUI

      • dek Zul, justru hasil pengamatan Cakung dan Jepara itu WAJIB ditolak secara hitung2an astronomis. Justru aneh, jika Muhammadiyyah minta ru’yah Cakung dan Jepara di akui. Apa gak malu astronom2 di Muhammadiyyah dg khalayak yg mengerti ilmu. Coba anda tanya ke ahli2 falaq di Muhammadiyyah, apakah ketinggian 1.6 derajat di ufuk, saat matahari terbenam bulan bisa dilihat? Lah pastilah mereka jawab tidak bisa, karena pantulan sinar matahari sangat kuat. Jika jawabnya tidak bisa dilihat, lah kenapa sih Muhammadiyyah maksa ru’yah cakung agar diakui? Kalau mau konsisten, harus Muhammadiyyah harus jujur dengan ilmu astronominya. Cukup katakan: Wahai Pemerintah, penggunaan hisab wujudul hilal adalah keyakinan dan sudah jadi tradisi kami yang mendarah daging. Cukup berhenti sampai disini. Jika mau nyinggung ru’yah cakung cukup katakan: Kami sadar ru’yah cakung itu menurut ilmu kami mustahil membenarkan hasil penglihatan itu. Oleh karena itu kami serahkan keputusannya kepada kalian, tapi mohon ijin kami besok berlebaran.

        Gitu kan lebih jujur bro… salam damai…

  18. purnama tidk bisa menjadi penentu syawal, tentu saja karena purnama datangnya belakangan…hehehehe tapi purnama bisa untuk mengecek ulang keputusan awal bulan

    • purnama memang telah terjadi pukul 16.28 WIB tgl 12 September. Lalu patokan hitung mundurnya dari mana? Dari maghrib toh. Jika dari magrib, coba aja lihat bulan purnama. Gak terlihat juga, karena bulan/hilal di jakarta ketinggian 0.6 derajat. Empat menit sebelum maghrib, bulan malah negatif (dibawah ufuk). Lalu, apakah purnama terlihat? Gak kan… Bagi yang tidak percaya silahkan download Software Stellarium (free) http://www.stellarium.org/, lalu lihat sendiri di Jakarta apakah Purnama terlihat ketika sunset (magrib)?

      Tulisan/sms mengajak melihat bulan purnama pada tgl 12 malam itu, tricky. Sangat disayangkan, informasi ini misleading. Dimana misleadingnya? Yah kalau Anda memantau purnama jam 11 malam, jelas saja akan terlihat purnamanya. Kenapa? Karena bulan sudah merambat naik, mencapai ketinggian lebih dari 70 derajat dari ufuk (gak percaya? Silahkan lihat sendiri di Software Stellarium).

      Jadi jika himbauan ini diikuti, maka ramailah orang melihat purnama selepas Isya. Lalu mereka melihat: aahhhh…. itu bulan purnama terlihat penuh… berarti Muhammadiyyah benar dong, Pemerintah salah….

      Sekali lagi, patokan waktu pemantauan purnama itu kapan sih? Kalau sudah menuju jam 12 malam tanggal 12 September 2011, lah iya lah… bulan sudah tinggi… Tapi kalau mau ikut hadist, patokannya adalah saat sunset (maghrib), apakah purnama terlihat? No way lah… Kalau mau patokannya ini maka jelaslah, yang benar itu 1 syawwal 31 Agustus 2011…

      Masih belum jelas juga? Silahkan buktikan sendiri dg software diatas…

      • Ya tentu saja orang Jakarta gak bisa lihat purnama krn bulan sat itu masih dibawah ufuk (Pk.16.30 WIB). Saat magrib baru deh bulan mulai merambat naik dari arah timur. Tapi sodara2 kita yang ada di Indonesia tengah dan terutama Indonesia timur kan bisa melihat bulan purnama duluan (krn mereka sudah maghrib saat full moon), dibandingkan org Jakarta.

      • @nazaraudin ilham : wah muncul lagi,. saya kira sdh bosan dengan masalah ini yg tiap tahun berulang.
        btw soal kpn waktu melihat hilal sbg patokan apakah ada hadist yg menerangkan pd saat melihat hilal harus pd waktu maghrib? atau adakah riwayat yg menyatakan nabi SAW memperintahkan melihat hilal pd saat maghrib.
        jika mengacu masalah penentuan pergantian tanggal, pd saat kita memasuki tanggal pergantian hari, system solar pun tidak menganut bahwa pergantian jam 00.01 berdasarkan waktu terbitnya matahari di ufuk. salam damai mas bro nazar.

      • Zulfikar: setuju. Saat purnama di jakarta masih rendah, di Indonesia Timur sudah bisa melihat.

        Akan tetapi sepemahaman saya, penghitungan bulan baru (tgl1), itu penentuan masuk dihitung antara 5 menit sebelum maghrib sampai 5 menit setelah maghrib.

        Jadi pada saat di Jakarta maghrib, di Irian sudah Isya. Di Irian sudah tampak purnama, betul. Tapi kan pada saat maghrib di Irian purnama juga tidak tampak? Jadi walau di Jakarta tidak purnama tampak (pas maghrib) tapi di Irian tampak (pas isya waktu irian), yah, gak bisa dihitung sebagai “purnama sudah tampak” sih…

        Itu menurut saya loh yah… Silahkan kalau ada yg punya argumen (dalil) yang lebih shahih menshare pendapatnya. Peace…

        @pengembara: wah anda juga muncul lagi hihihi….

        Soal dalil pas maghrib, silahkan baca “Pedoman Hisab Muhmammadiyyah” halaman 81. Disitu dijelaskan alasan syar’i nya, kenapa dihitung ketika maghrib.

      • @pengembara: Mengenai Kenapa Maghrib (Ghurub)? Maaf ternyata dalil-nya bukan hadist, tetapi Quran surat yasin ayat 40, beserta kesepakatan jumhur ulama fiqih dari zaman imam2 fiqih.

        Ini copas dari Booklet: “Pedoman Hisab Muhammadiyyah”, 2009. Halaman 81

        Pada bagian tengah ayat 40 (Surat Yasin) itu ditegaskan bahwa malam tidak mungkin mendahului siang, yang berarti bahwa sebaliknya tentu siang yang mendahului malam dan malam menyusul siang.

        Ini artinya terjadinya pergantian hari adalah pada saat
        terbenamnya matahari. Saat pergantian siang ke malam atau saat
        terbenamnya matahari itu dalam fikih, menurut pandangan jumhur
        fukaha, dijadikan sebagai batas hari yang satu dengan hari
        berikutnya. Artinya hari menurut konsep fikih, sebagaimana dianut
        oleh jumhur fukaha, adalah jangka waktu sejak terbenamnya matahari hingga terbenamnya matahari berikut.

        Jadi gurub
        (terbenamnya matahari) menandai berakhirnya hari sebelumnya
        dan mulainya hari berikutnya. Apabila itu adalah pada hari terakhir
        dari suatu bulan, maka terbenamnya matahari sekaligus menandai
        berakhirnya bulan lama dan mulainya bulan baru.

        Oleh karenanya
        adalah logis bahwa kriteria kedua bulan baru, di samping ijtimak,
        adalah bahwa ijtimak itu terjadi sebelum terbenamnya matahari,
        yakni sebelum berakhirnya hari bersangkutan. Apabila bulan baru
        dimulai dengan ijtimak sesudah terbenamnya matahari, itu berarti
        memulai bulan baru sebelum Bulan di langit menyempurnakan
        perjalanan kelilingnya, artinya sebelum bulan lama cukup usianya.

        Berbicara tentang terbenamnya matahari, yang menandai
        berakhirnya hari lama dan mulainya hari baru, tidak dapat lepas
        dari ufuk karena terbenamnya matahari itu adalah karena ia telah
        berada di bawah ufuk. Oleh karena itu dalam ayat 40 surat Y±
        S³n itu sesungguhnya tersirat isyarat tentang arti penting ufuk karena
        kaitannya dengan pergantian siang dan malam dan pergantian
        hari.

        Dipahami juga bahwa ufuk tidak hanya terkait dengan
        pergantian suatu hari ke hari berikutnya, tetapi juga terkait dengan
        pergantian suatu bulan ke bulan baru berikutnya pada hari terakhir
        dari suatu bulan. Dalam kaitan ini, ufuk dijadikan garis batas untuk
        menentukan apakah Bulan sudah mendahului matahari atau belum
        dalam perjalanan keduanya dari arah barat ke timur (perjalanan
        semu bagi matahari).

        Dengan kata lain ufuk menjadi garis penentu
        apakah Bulan baru sudah wujud atau belum. Apabila pada saat
        terbenamnya matahari, Bulan telah mendahului matahari dalam
        gerak mereka dari barat ke timur, artinya saat matahari terbenam
        Bulan berada di atas ufuk, maka itu menandai dimulainya bulan
        kamariah baru. Akan tetapi apabila Bulan belum dapat mendahului
        matahari saat gurub, dengan kata lain Bulan berada di bawah
        ufuk saat matahari tenggelam, maka bulan kamariah baru belum
        mulai; malam itu dan keesokan harinya masih merupakan hari
        dari bulan kamariah berjalan.

      • @nazarudin ilham : wah penjelasannya panjang banget bro.

        siang dan malam itu khan karena akibat adanya rotasi bumi yg mengelilingi matahari yg kebetulan kita diwilayah tropis jadi periodenya sangat jelas berkisar jam 6 pagi sampai jam 6 sore. (bayangkan yg diadaerah kutub yg siang dan malam nya bisa 6 bulan).

        bulan wujudnya tetap, hanya daerah bulan yg memantulkan sinar matahari ke bumi yg dipermasalahkan disini, cahaya itu namanya HILAL bila masih muda atau PURNAMA jika cahaya itu penuh (99,9%).
        dalam Alqur’an surrah Ar Rahman ayat 5 sdh dijelaskan matahari dan bulan mempunyai perhitungannya sendiri, dan kita sama2 mengetahui kalo bulan sudah berotasi penuh mengitari bumi disebut ijtimak dalam pengertian lain istilahnya sudah 1 bulan.

        ijtimak Ramadhan 1432 kita ketahui semua terjadi pd saat tgl 29 agustus 2011 pukul 10:04 WIB ini artinya pd saat maghrib usia bulan untuk beredar mengitari bumi selanjutnya sdh berumur 8 jam dan pd saat maghrib ketinggiannya berkisar 0, 4 s/d 1.8 untuk wilayah Indonesia yg secara ilmiah tidak mungkin bisa dilihat dengan mata telanjang, faktor geografislah yg menyebabkan untuk wilayah Indonesia tidak bs melihat hilal dikarenakan piringan cahayanya sangat tipis berbeda dengan daerah lain diwilayah barat yaitu amerika selatan (chille) yg dengan jelas bisa melihatnya.

        Bila kita melihat hal tsb diatas yg menjadi ganjalan saya thd ketetapan 1 syawal 1432 versi pemerintah adalah sbb :
        1. jarak antara ijtimak ke tgl 1 syawal yg 31 agustus terlalu jauh (beda lebih dari 24jam).
        2. usia bulan yg sedang ber rotasi mengelilingi bumi sudah 32 jam (8+24jam) dihitung dari saat ijtimak ke maghrib 30 agustus 2011.
        3. besaran piringan Hilal pasti sdh sangat besar krn ketinggiannya lebih dari 12 derajat (asumsi 1 hari 12derajat pertambahan besaran piringan bulan yg terkena cahaya).
        4. kaidah prinsip perhitungan 1 bulan sama dengan 1 putaran bulan mengelilingi bumi tidak berlaku karena start tanggal satu nya melebihi 24 jam (waktu satu putaran bumi mengelilingi matahari).

        salam damai bro…

      • Pengembara: Bila kita melihat hal tsb diatas yg menjadi ganjalan saya thd ketetapan 1 syawal 1432 versi pemerintah adalah sbb :
        1. jarak antara ijtimak ke tgl 1 syawal yg 31 agustus terlalu jauh (beda lebih dari 24jam).
        2. usia bulan yg sedang ber rotasi mengelilingi bumi sudah 32 jam (8+24jam) dihitung dari saat ijtimak ke maghrib 30 agustus 2011.
        3. besaran piringan Hilal pasti sdh sangat besar krn ketinggiannya lebih dari 12 derajat (asumsi 1 hari 12derajat pertambahan besaran piringan bulan yg terkena cahaya).
        4. kaidah prinsip perhitungan 1 bulan sama dengan 1 putaran bulan mengelilingi bumi tidak berlaku karena start tanggal satu nya melebihi 24 jam (waktu satu putaran bumi mengelilingi matahari).

        salam damai bro…

        Saya: oke… salam damai diterima… toss dulu dong…

        1. Mengapa jarak ijtimak ke 1 syawal 31 agustus jauh beda?

        Karena oh karena (kate bang aji roma), saat ijtimak jam 10.04 tg 29. Berarti sampai maghrib jam 18.00 sudah 8 jam, berarti sampai magrib tgl 30 sudah 32 jam (24 + 8). Sampai disini betul bro.

        Dimana letak problemnya? karena istikmal itu bro.

        Jadi kalau ijtimak terjadi tgl 29, pukul 00.01, lalu maghribnya 18.00 wib hilal tidak terlihat, berarti istikmal. Jarak ke 1 Syawwal (tgl 30 pukul 18.01) menjadi 24 + 18 jam = 42 jam… lebih horor lagi kan bro? Salahkan? tetap gak salah. Kan istikmal… Itulah mengapa di Indonesia ini kalender idul fitri itu dibuat merah 2 hari. Karena ekstreem nya, antara ijtimak dg 1 syawwal itu bisa berjarak sd 42, sampai 46 jam (sudah mendekati 2 x 24 jam).

        2. Jawaban idem ya bro…

        3. gak bisa begitu bro… ketinggian bulan itu mengikuti alur sinusoidal, gak bisa dengan hitung hitung sederhana spt itu. Sebagai bukti, di indonesia maghrib ktk tgl 29, hilal 0.8 derajat, kalau di saudi (beda 4 jam) lalu hilal akan > 0.8 derajat. Faktanya kan tidak bro, faktanya di saudi ketika maghrib bulan malah di ketinggian 0.5 derajat.

        4. kalau > 48 jam, baru benar bro.

  19. salam wrb. sebagai ahli ilmu yang baik, sebaiknya mengakui kebenaran yang datang kemudian. apalagi, dalam sains (empiris) itu kebenaran sangat temporal, relatif,situasional.

    kalau, pak thomas jamaluddin membuat argemntasi lain-lain, apalagi mengkaitkan dengan syar’i atau tidak, itu justru menunjukkan kebodhonan seseorang.

    • Tidak ada kebenaran saintifik soal argumentasi hipotetik penggunaan purnama. Pernah ada yang presentasi soa itu di seminar astronomi, tetapi tidak punya makna ilmiah apa pun, karena memang secara astronomi itu tidak ada nilainya untuk dikaitkan dengan kalender.

  20. Thomas:
    “Ada dua alasan. Pertama, tidak ada dalil syar’i (hukum agama) yang mendukungnya. Kedua, secara ilmiah astronomi metode tersebut tidak berdasar.”

    Saya:
    1. Dalil syar’i 2 derajat itu tidak ada pak. kenapa mesti dipake? (ini sudah ditanyakan banyak orang di blog ini tapi tidak ada jawabannya)
    2. Benar bahwa purnama memang tidak untuk menentukan awal bulan, tapi mungkin bisa digunakan untuk memverifikasi awal bulan. tinggal metodenya dikembangkan, jangan buru2 dimatikan dengan bilang “tidak mungkin”. itu bukan sikap ilmiah.

    • Soal kriteria imkan rukyat sudah dijawab. Dalilnya terkait dengan dalil rukyat. Soal angka yang 2 derajat , 5 derajat, atau lainnya, semua itu hanya kesepakatan soal mendefinisikan kemungkinan hilal bisa terlihat.
      Kalau ada yang berminat mengembangkan silakan, tetapi tanpa dalil tidak mungkin aplikatif untuk penentuan awal bulan ynag terkait dengan ibadah.

      • bapak profesor ini selalu teriak2 soal sar’i, metode org lain selalu dikaitkan dengan sar’i, tapi kriteria imkan rukyat dengan 2 derajat dipaksakan, padahal juga tidak ada sar’i nya, itu namanya mau menang sendiri, justru anda seorang profesor yang memecah umat, coba anda tulis terang dan tegas bahwa kriteria wujudul hilal yang digunakan oleh muhammadyah “menyalahi sar’i”, “menentang sar’i”, atau “tidak ada dasarnya”, atau apalah sebutannya, sehingga umat islam jadi jelas, tidak hanya menggunakan istilah usang.
        Alquran itu sudah ada sejak lebih seribu tahun yang lalu, waktu itu blom ada profesor…. apa anda berani katakan bahwa kriteria yang ada dalam Alquran itu usang.

      • Tetapi kenapa pada sidang itsbat kemarin, ada 2 saksi dari Cakung dan Jepara bersumpah sudah melihat hilal namun diabaikan? apa ini artinya keduanya dianggap berbohong /krn dinyatakan tdk mungkin terlihat krn dibawah 2 derajat?. Apa karena keduanya berasal dari dua ormas yg tidak diakui/tdk ada wakilnya di MUI? Padahal dalam dalil hukum, mestinya kesaksian seseorang atas terllihatnya hilal tidak bisa dibatalkan oleh kesaksian org lain yang tidak melihat hilal.

      • Zulfikar, secara astonomis, hilal mustahil dilihat di wilayah indonesia, karena masih jauh dibawah kriteria “mampu terlihat”.

        Hal kedua: MUI sudah ada standard th 2006, jika hilal < 2 derajat, maka semua persaksian orang yang melihat hilal wajib ditolak.

        Keputusan itu sudah dibuat tahun 2006, bukan 2011. Jadi jauhlah dari unsur politis…

      • Pak profesor ini ahli astronomi sekaligus ahli hukum islam juga? sebagai astronom yang mengutip2 dalil hadist, Anda juga perlu kuasai bahasa Arab untuk berhak menggunakan bunyi hadis soal rukyah. Anda tahu gak bahwa rukyah itu akar katanya ro’yu artinya akal. Jadi Nabi menyuruh kita melihat hilal dengan akal/ilmu pengetahuan/penelitian. Kalau nabi nyuruh kita melihat dengan mata kepala, beliau akan pake kata “izhar” artinya melihat dengan mata kepala. Saat zaman nabi umat Islam masih berkutat soal aqidah/tauhid dan bersifat lokal(makkah dan madinah) sementara ilmu astronomi dan ilmu falaq sudah berkembang di yunani saat itu. Sekarang zaman udah beda. Umat Islam sudah mengembangkan ilmu falaq sejak zaman keemasan bani abbasiyah. tp kemudian “dicuri” dan dilanjutkan oleh Barat. Jadi dalam menggunakan dan mengartikan hadist jangan mentang-mentang ingin benar sendiri seperti 11 ormas itu. Muhammadiyah juga pake hadist yang sama sbg alasan menggunakan hisab. Allah sengaja menurunkan qur’an dan mengutus nabinya dalam lingkungan berbahasa arab, karena bahasa arab tidak hanya indah diperdengarkan, tapi juga kaya dengan makna-maknanya. *sedih melihat astrnom-astronom muslim, tapi justru membuang ilmunya hiks hiks…

      • Pak Nazaruddin, justru setelah menteri agamanya dari ormas tertentu akhirnya jadi begini. Anda tahu gak MUI itu terdiri dari wakil-wakil ormasi Islam yang ditunjuk oleh ormas-ormas masing-masing utk duduk di kursi ulama?. Tidak ada jaminan org yang ditunjuk itu pantas (integritasnya) krn ditunjuk oleh pengurus ormas. Trus ada banyak ormas dan kelompok Islam lain yang tidak terwakili di MUI. apa itu bukan sidang yang politis seperti sidang di partai politik? pake voting bahkan pake tepok tangan karena menang voting. masya Allah….

      • besok kita tunjuk saja zulfikar nan pandai ini sebagai menteri agama biar negara ini menjadi benar…
        ente itu astronom bukan? atau juga lulus pesantren? ngerti bahasa fisika dan bahasa arab juga? pinter tenan arek iki…

      • kesepakatan berarti BUKAN syar’i juga toh ?? jadi alasan anda yg pertama jadi g sahih, lah wong sama – sama tidak syar’i. kemungkinan?? makin jauh dari syar’i pak, masak mau ibadah masih mungkin, harusnya pasti, saya shalat ashara itu bukan karena waktunya mungkin sudah masuk tapi waktunya sudah dipastikan masuk.

      • zulfikar: Anda tahu gak bahwa rukyah itu akar katanya ro’yu artinya akal. Jadi Nabi menyuruh kita melihat hilal dengan akal/ilmu pengetahuan/penelitian. Kalau nabi nyuruh kita melihat dengan mata kepala, beliau akan pake kata “izhar” artinya melihat dengan mata kepala.

        Baiklah Bang Zu. Ijinkan hamba menyampaikan sekedar informasi. Mungkin bisa bermanfaat.

        Kata ro’yu (rootword ro-a-ya) setahu saya di Quran lebih banyak merefer melihat dengan mata.

        Sebagai contoh surat 2:25

        [2:25] Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang*), karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya**)

        *) kata naraa (kami melihat) dari rootword ro-a-ya: sepakat ulama tafsir disitu maksudnya melihat dengan mata kepala, yaitu tantangan oleh Bani Israil, agar mereka diberi kesempatan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri.

        Atau di surat 2:73

        [2:73] Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan*) padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti

        *) kata yuriikum (Dia memperlihatkan kepada kalian Bani Israil) rootwordnya ro-a-ya: sepakat ulama tafsir disitu mengatakan bahwa Bani Israil melihat sendiri dengan mata kepala mereka proses Allah menghidupkan orang mati.

        atau di surat 5:83

        [5:83] Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat*) mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad s.a.w.).

        *) kata taraa (kamu melihat) rootwordnya ro-a-ya, dikebanyakan kitab tafsir disini menjelaskan maksudnya melihat dengan mata kepala.

        Jadi sudah jelas kata ro’yu (ro-a-ya) itu artinya (menurut Quran) melihat dengan mata fisik

        Note:

        Kata ro-a-ya, ini muncul 331 kali dalam Al-quran, 25 kali dalam bentuk kata benda, 306 kali dalam bentuk kata kerja. Atau dalam perhitungan bentuk (form) muncul 203 kali, lihat http://www.openburhan.net/ob_w.php?root=%D8%B1%D8%A7%D9%8A

        Sekedar berbagi ilmu. Bukan untuk diperdebatkan. Peace…

    • 1. lebit tidak syar’i lagi yang wujudul hilal alias memakai kriteria nol derajat.
      2. dalam hitung2an kalender islam bulan purnama itu tanggal 13, 14 & 15, bukan tanggal 15 saja seperti yg asumsikan kebanyakan orang. kita disunahkan berpuasa saat hari2 purnama tsb.

      • Setuju dengan itx. Menurut saya justru sangat lebih tidak syar’i menggunakan kriteria 0 derajat.

        Perintahnya: tanyakan pakarnya (fas-aluu ahladz-dzikri).

        Semua pakar sepakat, bulan tidak mungkin terlihat kalau hanya positif diatas ufuk (dibawah 2 atau 4 derajat)

      • Mas itx/Mbak itx yg baik hatinya, yg tidak syar’i yg mana ya…1 bulan adlh wkt yg digunakan bulan mengelilingi bumi. Tentu 1ptr=360drjt. Klu menghitung putaran dari nol atau dari 2 drjt? Tentunya dr nol..1..2..dst sampai 360 dan kembali ke nol lagi. Kan lucu klu menghitung permulaanya 2..3..4 dst ..360.. trus balik ke 1. Coba tenangkan pikiran, bangun malam sholat tahajut kemudian baca surat yaasiin ayat 39 itu( yg menurut prof nggak nyambung..n dipaksakan)baca dgn tenang dan berulang ulang. Memang nggak ada kata nol tapi klu di pahami benar benar itu adalah proses pergantian bulan/ kelahiran bulan. Dari tandan tua sampai bentuk sabit pasti ada nol disitu atau orang bilang konjungsi. Klu minta nol di sebut dalam Alquran ya gimana… memang Al quran pesanan…..Dari nol itu asal matahari tenggelam duluan itu artinya udah Wujud.Wujud nggak mesti bisa dilihat. Allah itu Wajibul Wujud tapi nggak bisa dilihat.Mas itx/mbak itx itu ada/wujud tapi aku nggak lihat sampean dimana. Coba bayangin Lahir tgl 29/8 jam 10.04 tapi dua hari lagi baru bilang bayi.

      • @amalia:

        boleh saja khn ngitungnya dari 2 derajat ke dua derajat lagi. khn masih 360 derajat juga. Yasin 39 itu hanya menunjukkan bahwa bulan itu ada fase2nya, kemudian yang ditunjukan oleh batang kurma tua itu adalah orbit bulan, bukanlah hilal atau penanda bulan baru. ada penjelasannya di siini: http://www.answering-christianity.com/moon_orbit_miracle.htm

        sebagai penanda bulan baru sudah ada dalil yang lebih JELAS dan tak terbantahkan yaitu “jika kau melihat bulan”. kenyataannya adalah kita takkan bisa melihat bulan saat konjungsi (konsep wujudul hilal terbantahkan).

        jaman romawi kuno, bulan pertama tiap taunnya dimulai pada bulan maret, kemudian Julius Caesar mengubah bulan pertama menjadi bulan januari. Julius Caesar adalah penguasa yg berhak menentukan hukum, jadi semua pada ngikut. Apakah Muhamadyah sekaliber julius caesar yg bisa menetapkan hukum dengan mengubah posisi awal bulan dari posisi “bulan sudah terlihat” menjadi posisi “bulan sudah wujud”.??????

        yang 29/8 jam 10.04 itu baru ketuban pecah. mosok ketuban pecah dibilang bayi sudah lahir…. aya’ aya’ ae..

    • Ahmad, mengenai 2 derajat atau 4 derajat itu kesepakatan diantara ahli ilmu dan ulama. Pada tahun 90an ditetapkan 2 derajat. Dengan berkembangnya ilmu astronomi, dan dari hasil kompilasi data-data pengamatan hilal, diusulkan untuk dinaikkan jadi 4 derajat.

      Kenapa 2, atau 4 derajat, apa dalil syar’i nya? Dalil syar’inya: perintah Hadist melihat bulan. Lalu bulan bisa terlihat, pada kondisi spt apa? Dalil Quran: “fas-alu ahladzikri in kuntum laa ta’lamuun (tanyakan kepada pakarnya jika kalian tidak mengerti)”. Yng paling paham masalah astronomi, ahli falaq dan para astronom. Oleh karena itu angka 2 derajat atau berapapun itu, adalah kesepakatan para ahli falaq dan tentunya astronom yg didukung penelitian2 mutakhir.

      Bulan purnama, bisa untuk verifikasi awal bulan? Menurut saya bisa saja, tapi tidak ada dalil syar’inya. Kalau pun pakai metode hitung mundur sejak purnama, harus jelas, start hitung mundurnya pada saat kapan. Karena kalau hitung mundur dari jam tengah malam (spt artikel salah satu anggota Muhammadiyyah di rakyatmerdekaonline itu), tidak ada batasan melihat bulan, yang penting malam hari. Ini yg tidak pas, karena perhitungan 1 syawwal (atau awal bulan) menurut jumhur itu ketika ghurub (maghrib).

      • @ nazarudin ilham : jika hilal di bawah 2′ trus ada yg melihat, maka wajib di tolak ini hanya kebijakan pemerintah saja yg tidak jauh dr kepentingan politik. (ini jelas tidak berdasarkan syar’i, karena syar’i mengatakan jika ada yg melihat hilal maka wajib diikuti, tentu oleh orang yg memiliki kapasitas di bidang rukyatul hilal bukan cma ikut2an). kemudian meskipun hilal di atas 2′, dan tidak dapat di lihat, maka bagi ormas yg lain tetap tidak dianggap masuk bulan baru, trus mau bagaimana??? menurut saya kriteria ini juga wajib dianggap usang, karena sudah tidak relevan di indonesia. bagaimana komentar anda soal ini?

      • @Diraf : silahkan baca2 tentang Limit Danjon. intinya hilal tak mungkin terlihat di derajat yg terlalu kecil.
        alasan yg lebih lengkap ttg penolakan hasil rukyah cakung kemarin silahkan searching internet. alasannya sudah panjang dan lebar…
        ini salah satunya: http://beritapks.com/catatan-lebaran-1432-3-mengapa-kesaksian-hilal-di-cakung-dan-jepara-ditolak/

        memang kriteria 2 derajat ini masih bisa berubah menurut penelitian terkini, tapi menurut sy kriteria 2 derajat masih sangat lebih baik daripada kriteria 0 derajat alias wujudul hilal.

      • Skrg aja pake patokan 2 derajat dah ngaco sendiri, apalagi kalo pake 5 derajat, bisa-bisa setiap kali idulfitri, iduladha dan awal ramadhan versi pemerintah RI selalu berbeda dari dunia Islam lainnya….Masya Allah….apa kata dunia Islam? ck…ck..ck…

      • Nazaruddin: Yng paling paham masalah astronomi, ahli falaq dan para astronom. Oleh karena itu angka 2 derajat atau berapapun itu, adalah kesepakatan para ahli falaq dan tentunya astronom yg didukung penelitian2 mutakhir.

        Saya: ya tapi anda kan belum tentu ahli dalam memaknai hadist kan? Sebagai astronom yang mengutip2 dalil hadist, Anda juga perlu kuasai bahasa Arab untuk berhak menggunakan bunyi hadis soal rukyah. Anda tahu gak bahwa rukyah itu akar katanya ro’yu artinya akal. Jadi Nabi menyuruh kita melihat hilal dengan akal/ilmu pengetahuan/penelitian. Kalau nabi nyuruh kita melihat dengan mata kepala, beliau akan pake kata “izhar” artinya melihat dengan mata kepala. Saat zaman nabi umat Islam masih berkutat soal aqidah/tauhid dan bersifat lokal(makkah dan madinah) sementara ilmu astronomi dan ilmu falaq sudah berkembang di yunani saat itu. Sekarang zaman udah beda. Umat Islam sudah mengembangkan ilmu falaq sejak zaman keemasan bani abbasiyah. tp kemudian “dicuri” dan dilanjutkan oleh Barat. Jadi dalam menggunakan dan mengartikan hadist jangan mentang-mentang ingin benar sendiri seperti 11 ormas itu. Muhammadiyah juga pake hadist yang sama sbg alasan menggunakan hisab. Allah sengaja menurunkan qur’an dan mengutus nabinya dalam lingkungan berbahasa arab, karena bahasa arab tidak hanya indah diperdengarkan, tapi juga kaya dengan makna-maknanya. *sedih melihat astrnom-astronom muslim, tapi justru membuang ilmunya hiks hiks…

      • Bang thomas dan bang nazar mungkin bukan ahli agama (padahal sebetulnya mereka cukup mengerti), karena itu mereka dibantu para ulama sekelas KH. Ma’ruf Amin. apa Zulfikar mau bilang KH. Ma’ruf Amin kagak ngerti bahasa Arab dan tak tahu agama?

      • bang Zoel, sebaiknya anda juga belajar bahasa arab. Sudah terlihat jelas, argumen bahasa arab anda dibantah sendiri oleh Al-Quran…. anda sudah kena 2x, sudahlah gak paham astronomi dasar mengenai pergerakan bulan (gak perlulah prof doktor master astronomi melayani, cukup dg mahasiswa astronomi tinggkat 1), dan terbukti pula anda juga gak paham bahasa arab…

        hehe… sersan (serius n santai) aja bro…

      • Sewaktu suami Zulaikha, melihat baju Nabi Yusuf sobek dibelakang, maka jelas baginya yang menggoda Yusuf adalah istrinya.

        Suami Zulaikha juga meru’yah ke baju gamis Yusuf bagian belakang untuk memastikan apakah yg salah istrinya atau Yusuf http://quran.bblm.go.id/?id=32049

  21. sebulan kadang 29 hari

  22. Sudahlah,jgn mencari2 pembenaran,memang petokannya tu hilal, tetapi purnama kan jg bisa dibuat patokan kapan terjadinya hilal…dah jelas2 td malam tu bulan purnama…kalian sebagai ulama jgn selalu membuat bingung masyarakat dengan argumen2 yg egois….!!!!!km sudah muak dgn kelakuan kalian, kepintaran kalian hanya untuk memojokkan satu dan lainnya…menentukan awal bulan aja sampe ribut2 kek gini..kyk anak TK aja…..

    • Assalamu Alaikum

      Apa betul purnama itu mesti jatuh pada tanggal 15 Qomariyah, wong umur bulan secara astronomis adalah -+29.5. Kalau purnama mesti tanggal 15 maka secara tidak langsung mengatakan bahwa umur bulan hijriyah qomariyah adalah 30 hari.

      Purnama adalah saat bulan beroposisi dengan matahari dalam bahasa asing disebut full moon. Pada priode tertentu kejadian purnama ini bisa mengakibatkan gerhana bulan dan itu bisa terjadi pada tanggal 14,15 dan 16 bulan qomariyah. Coba dilihat pada saat gerhana bulan total yang barusan terjadi pada bulan Juni 2011. Tepatnya tanggal 16 Juni 2011 M. bertepatan dengan 14 Rojab 1432 H. Harusnya gerhana/purnama terjadi pada 15 Rojab 1432, atau mungkin Malaikat salah tanggal dalam menjalankan gerhana kemarin.

      Ada nggak kalender yang mengatakan bahwa gerhana bulan kemarin itu tanggal 15 Rojab 1432 ?.

      Wassalam
      Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

  23. Kalo purnama tanggal 12 sept, dan 1 syawal tgl 31 agustus, brarti purnama adalah tanggal 13 ?????
    13 x 2 = 26 hari ????
    1 bulan 26 hari ????

    • cekikikan saya waktu baca komentar bodoh ini.

    • Betul Purnama itu bisa tanggal 13, 14, 15 dan bisa juga tanggal 16, coba cek purnama bulan pada bulan Muharrom 1433, menurut kalender Nu tanggal 15 Muharrom tapi menurut kalender Muhammadiyah tanggal 16 Muharrom

    • @paijo,
      Kesalahan utama dengan logika ini karena mengaggap bulan purnama waktu tengah dari satu bulan. Banyak yang telah menunjukkan kesalahan ini, tapi sayang sekali jarang yang memberikan alasan yang logis dan ilmiah mengapa anggapan di atas tidak benar. Bahkan Pak Djamaluddin dalam tulisan dalam blog ini gagal untuk mengungkapkannya, sehingga terbersit tanda tanya saya dalam kepala saya.
      Coba cek lagi dengan ilmu astronomi: bahwa bulan mengelilingi bumi dengan lintasan edar yang berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Bulan akan lebih cepat bergerak ketika dekat bumi, dan lebih lambat ketika jauh dari bumi. Tergantung posisi edaran bulan saat terjadi bulan baru (matahari-bulan-bumi), waktu yang diperlukan bulan untuk satu garis saat purnama (matahari-bumi-bulan) akan berbeda-beda. Perbedaan ini sangat signifikan, kalau menggunakan sample tahun 2011/2012, waktu yang diperlukan untuk full moon setelah new moon adalah 13.9 hari sampai 15.6 hari.

  24. Lebih bijak bila tulisan ini lebih konsentrasi pada pembuktian atas pendapat yang disampaikan. Sepertinya masih banyak yag perlu disampaikan. Tidak perlu menunjuk kelompok manapun, apalagi untuk menyalahkan. Negeri ini masih rawan konflik.

  25. Sepengetahuan saya, para ilmuwan di Muhammadiyah pun menolak kok cara penentuan 1 Syawal berdasarkan purnama.

    Cuma orang awan saja yang berpikiran seperti itu.

    Coba saja simak di milis Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com. Itu pun, kalau mau ikut berdebat, kalau cuma mau ingin menyatakan pendapat sendiri paling benar sih, mending gak usah liat ke sana, atau nengok kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah.

    Wallahualam

  26. [...] : Blog Dokumentasi T.Djmaluddin Advertisement LD_AddCustomAttr("AdOpt", "0"); LD_AddCustomAttr("Origin", "other"); [...]

  27. jangan beranggapan bahwa penentuan 1 syawal dari muhammadiyyah itu benar atau juga dari pemerintah, yang jelas pemerintah adalah ulil amri yang patut kita ikuti apalagi dengan keberadaan beberapa ormas islam ples ulama dan pakar ilmu falaq… jangan mencari sensasi dengan melakukan sebuah perbedaan apalagi perlu diketahui Nabi tidak pernah mendahului hisab daripada ru’yah (nabi tidak pernah melakukan penetapan 1 ramadhan ataupun 1 syawal jauh-jauh hari), itu menunjukkan bahwa ru’yah dahulu baru penetuan hisab jika tidak dapat melihat hilalnya, selama ini yang dilakukan oleh muhammadiyyah adalah menentukan 1 Ramadhan atau 1 Syawal ditetapkan 2 atau 3 minggu sebelumnya, menurut saya ini hal yang aneh yang tdk pernah dilakukan oleh nabi dan para sahabat bahkan hingga saat sekarang ini saudi masih menggunakan ru’yah…. lanjutkan prof penjelasan tentang ru’yatul Hilal

    • @faisal : dr komentar anda jelas bahwa anda sama sekali tidak mengerti,
      1. mengapa hisab dilakukan terlebih dahulu, karena untuk mempermudah dimana letak hilal berada, (kalo rukyah dulu, baru hisab, memang bsa tau dimana posisi hilal?? hehe)
      2. jelas nabi memang tidak pernah mengumumkan 1syawal/ramadhan jauh2 hari, (zaman nabi khan belum ketemu metode hisab kayak sekarang, + Nabi khan buta huruf, makanya Beliau menyuruh untuk rukyat) baca haditsnya yang jelas2 kontesktual:

      “Berpuasalah kalian karena melihatnya dan akhiri puasa karena melihatnya.Sesungguhnya kami ini masyarakat buta huruf, tidak dapat menulis dan menghitung (ilmu perbintangan), jumlah hari- hari dalam sebulan adalah begini dan begini (sambil memberi isyarat dengan kedua tangannya), yakni kadang 29 dan kadang 30 hari.” (HR. Bukhari III/25 dan Muslim III/124).

      Andai saja zaman itu sudah modern dgn ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, mungkin teks haditsnya ga begini. alias rukyat bil ‘ilmi bkn cuma rukyat pake mata kepala.

      3. kata siapa saudi cuma menggunakan ruk’yat, lihat aja widget kalender hijriah d kanan atas blog ini, itu kalender Ummul Quro yg d pakai saudi, jelas2 pakai metode hisab. Prof. Thomas aja pke itu, berarti khan percaya dengan hasil perhitungan ummul quro saudi.. hee
      :-)

  28. maaf.. ini forum artikelnya tujuannya buat apa ya?. jika hanya untuk saling menyalahkan ato pamer ilmu kok saya lebih prefer di hapus saja. maaf tolong semua niatnya di jaga. yang paham ilmunya tolong disampaikan dengan bijaksana. yang tidak punya ilmunya selama ada dasar untuk menentukan pilihan maka yakin saja. bukankah agama ini membuka pintu ijtihad. yang benar digajar 2 kebaikan yang tidak diganjar 1 dan buka malah divonis -1. bukan kah begitu?… semoga keberkahan hadir diatas sikap kita yang menghargai saudara seiman kita…afwan jiddan

  29. Prof TD: mencari pembenaran bahwa Idul Fitri 1432 jatuh pada 30 Agustus 2011 dengan menyodorkan bukti keputusan kontroversial Malaysia dan Arab Saudi, serta negara-negara yang mengikuti Arab Saudi. Padahal Malaysia dan Arab Saudi menggunakan rukyat.

    Komentar: Hasil hisab Muhammadiyah akhirnya sama dengan Arab Saudi dan negara-negara lain karena Indonesia ada di sebelah timur negara2 tersebut dengan perbedaan waktu lebih dari 4 jam, sehingga awal bulan baru (hilal) lebih mungkin terlihat di Arab Saudi karena usia bulan baru sudah berumur lebih tua dibanding usia bulan/hilal yang diamati saat magrib di Indonesia. Untuk diketahui, saat magrib di Indonesia dan Arab Saudi tgl 29 agustus lalu malah berselisih 5 jam, Indonesia lebih awal magribnya 5 jam dari Arab Saudi.

    Prof TD:
    Secara ilmiah astronomi pun tidak ada dasarnya. Awal bulan mestinya didasarkan pada fenomena yang ada batas awalnya. Hilal ada batas awalnya, karena hari sebelumnya tidak tampak, kemudian tampak sebagai tanda awal bulan. Tampak bisa dalam arti fisik, terlihat, atau tampak berdasarkan kriteria visibilitasnya.>>

    Komentar: Awal bulan yang digunakan hisab muhammadiyah lebih jelas batas awalnya, yaitu telah terjadi ijtimak, Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, pada saat matahari terbenam piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Sedangkan metode rukyatul hilal banyak kemungkinan errornya krn pengaruh atmosfer (awan, pantulan cahaya laut dll).

    Prof TD: Purnama sulit menentukan batas awalnya. Dari segi ketampakan, bulan tanggal 14 dan 15 hampir sama bentuknya (lihat gambar di atas urutan ke-13 dan 14), sama-sama bulat. >>

    Komentar: Loh 3-4 hari lalu saya lihat prof tampil di metrotv bisa menjelaskan hal yg jauh lebih rumit: peristiwa ledakan supernova, yg dengan melihat citra warna dan frekuensi cahayanya dan direkam oleh teleskop hubble bisa diukur itu terjadi pada puluhan juta tahun cahaya yang lalu yg kini berhasil tertangkap teleskop hubble. Masak membedakan kapan full moon 99,9% di permukaan bulan yg jaraknya hanya beberapa puluh ribu kilometer dari bumi tidak mampu? Full moon 99,9% tidak mungkin berdurasi berjam-jam, apalagi sampai 24 jam (2 hari sama besar bulatnya).

  30. hihihi… profesor kita ini memang lucu… malam purnama tanggal 12 September memang malam tanggal 15 Syawal (jika awal tanggal mulai dihitung saat sunset maka saat sunset itu adalah batas tanggal 14 dan 15 Syawal, sehingga rata2 purnama yang 14,76 hari ada pada interval kedua tanggal tersebut)… beda dengan pemahaman bahwa malam tersebut adalah malam tanggal 14 Syawal (karena saat sunset tersebut ada pada batas tanggal 13 dan 14 Syawal, sehingga rata2 purnama yang 14,76 hari TIDAK berada pada interval kedua tanggal tersebut) dan pada kenyataan memang pada saat sunset tanggal 12 September umumnya di negara kita sudah terlewati terjadinya fullmoon pada jam 16:27, jadi tidak mungkinlah itu malam tanggal 14 Syawal… jadi kayaknya tidak bisa dipungkiri bahwa permulaan Syawal yang cocok adalah saat sunset tanggal 29 Agustus dan kita melaksanakan shalat ‘ied pada tanggal 30 Agustus… hihihi… dan kayaknya saya menangkap kesan bahwa pak profesor sudah terjebak pada sikap apologetik terhadap kritikan yang masuk… sehingga tidak bisa menyembunyikan diri dari rasa ‘sengit’nya pada muhammadiyah…

    • @muhammad zainuddin: sebenarnya kalau mau hitung mundur dengan angka 14,76 hari itu, semestinya titk penghitungan anda dari jam 16:27 WIB tgl 12 Sept (alhamdulillah semua kalangan sepakat bahwa fullmoon terjadi jam 16:27 tgl 12 Sept, tidak ada ikhtilaf ttg ini)

      Kalau 16:27 WIB 12 Sep, mundur 14 hari, jatuhnya 16:27 WIB 30 Agustus 2011 (betul ya?). Lalu 0,76 hari x 24 jam = 18.24 jam

      Artinya jam 16:27 dikurang 18:24, jatuhnya tanggal 29 Agustus jam 21.57 WIB (berner ya?). Artinya kalau hitung mundur terlihat terjadinya ijtimak tgl 29 Agustus jam 21.57 WIB (sudah jauh dari maghrib), logikanya istikmal kan? Kalau istikmal, berarti bener yg masih puasa tgl 30 dong…. Nah loh…

      Fakta ijtimak kan tidak demikian. Faktanya Ijtimak terjadi tgl 29 Agustus jam 10.04 WIB (alhamdulillah data ijtimak ini semua juga sepakat, tidak ada ikhtilaf tentang ini). Hitungan mundur 14,76 versus Faktak ijtimak, ternyata tidak cocok… Artinya, yah gak bisa kita simplifikasi dengan rumus fullmoon – 14,76 hari… ya kan???

      Salam damai…

      • @Nazaruddin Ilham: hehe… jam 16:27 WIB 12 Sept mundur 14 hari bukan jatuh pada 16:27 WIB 30 Agustus 2011, tapi jatuh pada 16:27 WIB tanggal 29 Agustus… kalau dikurang dengan 18:24 akan jatuh pd tanggal 28 Agustus jam 21:57 WIB… semakin tidak logis kan, kalau 1 Syawal jatuh tgl 31 Agustus… hehe…
        Jadi menghitungnya bukan dengan rumus fullmoon – 14,76 hari, karena angka 14,76 hari (sebagaimana dikatakan prof thomas sendiri) adalah angka rata-rata. Kalau sudah diketahui sebelumnya bahwa ijtimak (newmoon) terjadi pada 29 Agustus jam 10:04, maka umur Bulan pada saat fullmoon tgl 12 september jam 16:27 dapat dihitung kan? Tinggal fullmoon – newmoon kan? Jadi berkisar 14,27 hari… Angka 14,76 hanya hitungan kasar untuk menghitung mundur tanggal saat dimulainya bulan baru… piss…

      • Pak Nazaruddin jangan bohongin Zainudin donk, pake angka ajaib 14,76. Kalau anda betul ngerti astronomi pasti anda beritahu dia bahwa 14,76 hari itu tidak mutlak. meski bukan sarjana astronomi saya baca di literatur bahwa umur bulan bervariasi antara 29,3x hari sampai 29,8x hari dalam satu siklus, jadi umur saat purnama di tengahnya (bagi dua). jangan bohongin kami donk, purnama bisa terjadi di malam ke-13 dan 14. Bulan purnama selalu terjadi saat umur bulan mencapai titik tengahnya dari umur satu siklus. meski bukan terjadi di langit Jakarta, toh bulan purnama terlihat jelas di Indonesia TImur dan Australia

      • Waduh… sy gak bohogin Zainudin kok dek Zulfikar… Jangan gampang nuduh ah…

      • hehehe..ngeles lagi…

    • dalam kalender islam bulan purnama itu terjadi tanggal 13,14 & 15. ada dalil yg menguatkan ttg ini. jadi tidak benar bahwa purnama hanya terjadi pd tgl 15 MENURUT KALENDER ISLAM.

      • mengapa bisa maju bahkan sampai tanggal 13? karena Rasul menggunakan rukyah yang artinya tanggal 1 dimulai saat hilal sudah cukup tinggi sehingga mampu dilihat mata (kata astronom minimal 6 derajat), bukan pakai wjudul hilal

      • @itx: dalam praktek rukyatul hilal murni, purnama bisa saja terjadi pd tanggal 13, 14 & 15, karena dalam praktek ini acuannya tidak semata astronomi tetapi (lebih dominan) aspek sensibilitas mata perukyat dan juga aspek atmosfir-cuaca setempat… dalil itu relevan dalam kaitannya dgn praktek rukyatul hilal murni yg jamak dilakukan pada jaman itu… bahkan praktek tsb tanpa memperhitungkan astronomi, ingatlah hadits lain, “Sesungguhnya kami ini adalah umat yang ummi, (dalam arti) tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab” [riwayat jamaah ahli hadis].
        Yang kita diskusikan sekarang, adalah utk menguji apakah tgl 12 September 2011 kemarin itu masuk tgl 14 atau 15 Syawal 1432 dalam konteks “saat ini”, artinya pada jaman arus informasi yg mengglobal, sehingga dg bebas kita dpt mengakses data2 astronomi dari manapun datangnya, seperti informasi tentang kapan terjadinya newmoon, fullmoon, sunset & moonset pd koordinat geografis tertentu di permukaan bumi ini…

      • my point is: purnama gak bisa dijadikan patokan karena durasinya panjang, sehingga kalo pake patokan purnama, kedua versi awal syawal kemaren adalah BENAR.

      • @itx: di jaman dulu karena semata hanya bergantung pada sensibilitas mata dan subyektifitas manusia, purnama bisa saja menjadi seolah berdurasi panjang atau dapat jatuh pada tanggal 13, 14 atau 15… tetapi “saat ini” (sekali lagi, “saat ini”) kita dapat mengecek kebenaran ‘puncak’ purnama dengan cukup mengetahui kapan jatuhnya saat fullmoon… maka malam yang terdekat dengan saat fullmoon itulah malam purnama…

      • yap benar. memang kita dapat mengecek kapan fullmoon itu. dalam kalender islam PASTI akan terjadi di salah satu tanggal 13, 14 atau 15. jadi tanggal satu bisa saja ditarik mundur 12 hari, 13 hari atau 14 hari sebelum FULL MOON.

        Kalo saya buat kalender ITX yg tanggal satunya pas FULL MOON boleh juga khn? kalo ditanya purnama tanggal berapa… ya tanggal satu! kalo orang islam ditanya kapan purnama ya tanggal 13, 14 atau 15… mengerti khn?

        suatu dalil itu mustinya relevan sejak jaman ditetapkan sampai sekarang dan selamanya jikalau kondisinya sama. bukankah kita masih melihat bulan yg sama sejak jaman Rasul sampai sekarang?! yg beda khn cuma alatnya. dan alat itu harusnya adalah penunjang, bukan utk menciptakan hukum baru.

  31. Zulfikar: Hasil hisab Muhammadiyah akhirnya sama dengan Arab Saudi dan negara-negara lain karena Indonesia ada di sebelah timur negara2 tersebut dengan perbedaan waktu lebih dari 4 jam, sehingga awal bulan baru (hilal) lebih mungkin terlihat di Arab Saudi karena usia bulan baru sudah berumur lebih tua dibanding usia bulan/hilal yang diamati saat magrib di Indonesia. Untuk diketahui, saat magrib di Indonesia dan Arab Saudi tgl 29 agustus lalu malah berselisih 5 jam, Indonesia lebih awal magribnya 5 jam dari Arab Saudi.

    Saya: tidak juga. Pergerakan bulan pada waktu itu dari arah equator Idonesia keraah bawah (arah afrika). Ingat perjalanan bulan bersifat sinusoidal (bukan garis lurus sejalan dengan equator). Sehingga pada saat maghrib di Saudi ketinggian hilal 0.5 derajat. Seharusnya Saudi istikmal.

    Zulfikar: Awal bulan yang digunakan hisab muhammadiyah lebih jelas batas awalnya, yaitu telah terjadi ijtimak, Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, pada saat matahari terbenam piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Sedangkan metode rukyatul hilal banyak kemungkinan errornya krn pengaruh atmosfer (awan, pantulan cahaya laut dll).

    Saya: menurut saya ru’yatul hilal sama saja dengan imkanur ru’yah, hanya beda di jumlah kriteria dan threshold masing-masing kriteria. Jangan dilihat dari sudut : mana yang lebih banyak kemungkinan erronya, tapi lihatlah dari sudut : kriteria mana yang lebih dekat kepada visibilitas bulan/hilal.

    Kalau kemungkinan error, wujudul hilal juga mengandung error perhitungan (error pembulatan). Demikian juga imkanur ru’yah, juga mengandung error perhitungan. Jadi sama-sama mengandung error.

    Tapi dari segi probabilitas hilal bisa terlihat (visibilitas) hilal, jelas wujudul hilal mengandung error yang jauh lebih banyak dari pada imkaanur ru’yah.

    Zulfikar: Loh 3-4 hari lalu saya lihat prof tampil di metrotv bisa menjelaskan hal yg jauh lebih rumit: peristiwa ledakan supernova, yg dengan melihat citra warna dan frekuensi cahayanya dan direkam oleh teleskop hubble bisa diukur itu terjadi pada puluhan juta tahun cahaya yang lalu yg kini berhasil tertangkap teleskop hubble. Masak membedakan kapan full moon 99,9% di permukaan bulan yg jaraknya hanya beberapa puluh ribu kilometer dari bumi tidak mampu? Full moon 99,9% tidak mungkin berdurasi berjam-jam, apalagi sampai 24 jam (2 hari sama besar bulatnya).

    Saya: nah nyang ini saya setuju dengan anda… hehehe… Peace Prof… :)

    • Nazaruddin: Tidak juga. Pergerakan bulan pada waktu itu dari arah equator Idonesia keraah bawah (arah afrika). Ingat perjalanan bulan bersifat sinusoidal (bukan garis lurus sejalan dengan equator). Sehingga pada saat maghrib di Saudi ketinggian hilal 0.5 derajat. Seharusnya Saudi istikmal.

      Saya: Yang bener aja pak, masak ketinggian hilal malah lebih rendah dari ketinggial hilal yang dipantau dari Indonesia (0,8 derajat yang disepakati semua ormas tanpa kecuali). Padahal itu ada selisih 5 jam. Dan buktinya ada saksi yang melihat hilal di Saudi.

      Nazaruddin: menurut saya ru’yatul hilal sama saja dengan imkanur ru’yah, hanya beda di jumlah kriteria dan threshold masing-masing kriteria. Jangan dilihat dari sudut : mana yang lebih banyak kemungkinan erronya, tapi lihatlah dari sudut : kriteria mana yang lebih dekat kepada visibilitas bulan/hilal.

      Kalau kemungkinan error, wujudul hilal juga mengandung error perhitungan (error pembulatan). Demikian juga imkanur ru’yah, juga mengandung error perhitungan. Jadi sama-sama mengandung error.

      Tapi dari segi probabilitas hilal bisa terlihat (visibilitas) hilal, jelas wujudul hilal mengandung error yang jauh lebih banyak dari pada imkaanur ru’yah.

      Saya: Nah ini dia yang saya posting di atas tadi, mengklaim makna hadits yang benar adalah “melihat dengan mata” alias visibilitas. Coba deh baca posting saya diatas ttg melihat hilal dg akal/ilmu pengetahuan/penelitian.

      • Zulfikar: Yang bener aja pak, masak ketinggian hilal malah lebih rendah dari ketinggial hilal yang dipantau dari Indonesia (0,8 derajat yang disepakati semua ormas tanpa kecuali). Padahal itu ada selisih 5 jam. Dan buktinya ada saksi yang melihat hilal di Saudi.

        Saya: bhueeneeerrrrrr Zoel… Bulan itu turun ke arah bawah, makanya malah menjauh dari Makkah. Di Indonesia ketika maghrib 0.8, eh… di Mekkah pas maghrib disana 0.5 derajat. Aneh kan? Nah ini fakta yang menjelaskan, anda belum ngerti astronomi dasar… hehe… Piss brother… Silahkan check pakai Stellarium. Atau kalau malas install software itu, download data hilal 1 Syawwal dari BMKG (mudah2an sodara gak apriori ke BMKG yah, spt sodara apriori ke LAPAN hueheheh…)

        Nih datanya http://data.bmkg.go.id/share/Dokumen/informasi_hilal_syawwal_1432h.pdf

        Lihat di halaman 5: Peta Ketinggian Hilal pada saat maghrib di masing-masing negara. Jelas terlihat disitu, di Saudi 0.5 derajat pas maghrib. whueuehehe… hebat yah… selisih 4 jam (bukan 5 loh ya) dengan kita bulan malah makin kebawah ufuk… Ruuuarrr biasa….

        Kalau bumi dianggap datar bulan dianggap beredar searah khatulistiwa, yah Anda benar. Tapi sayangnya bulan itu jalannya bergelombang spt sinus. Berkebeneran, pada saat mau 1 Syawwal kemaren dia lagi turun kebawah menjauh dari Makkah…

        Beb beb beghiitttu…

      • nazar pake jurus mabok..

      • haiyyaaah… jiaat…. *ane lagi mabok*

  32. Perbedaan penentuan 1 Syawal 1432 H sepertinya lebih banyak pemerhati dari pada tahun-tahun sebelumnya. Diantara pemerhati itu kalau bukan ahlinya tentu saja ‘tidak akan menyukai’ dan merasa bingung dalam menghadapi perbedaan ini.

    Namun berbeda bagi mereka yang terus berusaha memperbaiki ibadah dengan mendasarkan pada ilmu yang senantiasa terus bertanya dan mengkritisinya. Dan mereka tidak menunjukkan sikap sinis terhadap salah satu pendapat yang bereda.

    Untuk itu sebaiknya para ahli tetap pada disiplin keilmuannya. Jangan sampai niat ibadah terkotori oleh adu domba soal jumlah pengikutnya. Jangan hanya karena kepentingan pengikutnya mengorbankan kejujuran hati akan Kebesaran Allah melalui ayat-ayat qauniyah yang menjadi dasar keilmuanya. Pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan agar mengambil sikap tegas saja untuk tidak memberikan ‘excuse’ bagi yang berbeda.

    Islam memang mengajarkan ijtihadi sebagai hal yang sudah dimaafkan Allah. Kalau benar nilai pahalanya dua, kalu salah nilainya satu. Oleh sebab itu penguasa dapat mengambil keputusan salah satu pendapat ijtihadi tsb.

    Sekiranya ‘umat’ tidak bisa menerima keputusan penguasa, maka kembalikanlah urusan itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Artinya urusan itu memang urusan ijtihadi dan sudah dimaafkan Allah sehingga berlapang dadalah dalam urusan itu.

    Sekiranya para ahli sudah menunjukkan jiwa besarnya dengan menerima keputusan penguasa, maka tiba gilirannya bagi umat diuji apakah juga memiliki jiwa besar untuk berlapang dada terhadap perbedaan ijtihadi tsb.

    Apakah umat Islam Indonesia memilih berpecah belah dan menjadi lemah, ataukah memilih berlapang dada menebar kebesaran jiwa penuh pahala dengan saling menghargai perbedaan itu ?

  33. Prof, kalo malam tanggal 13 September 2011 i(malam ini), udah bulan penuh belum?

  34. saya baru mengerti masalah kya gini…makasih infonya…

    muebles baratos online

  35. Mau tanya aja krn penasaran. Apakah untuk menentukan sholat 5 waktu itu mempergunakan metode penglihatan jg terhadap posisi matahari? Atau pakai metode perhitungan? Karena selama bulan puasa, hampir tidak ada orang yg melihat terbenamnya matahari untuk berbuka

    • Penentuan waktu shalat menggunakan perhitungan posisi matahari yang disesuaikan dengan pengamatan. Kriterianya sudah diterima oleh semua Ormas Islam, sehingga tidak ada perbedaan. Perbedaan hanya terjadi bila kriterinya diganti, misalnya menggunakan jadwal shlat yang didownload dari internet dengan kriteria yang berlaku di negara lain.
      Logika yang sama untuk penentuan awal bulan. Kalau kriterianya sama, hasil perhitungan yang disesuaikan dengan pengamatan, dengan kriteria imkan rukyat, insya-allah tidak akan lagi ada perbedaan. Perbedaan muncul kalau kita mengikut negara lain yang belum tentu menggunakan kriteria yang sama.

      • Sebagai cendekiawan, sayang sekali pak Thom ini tidak bijak. Berpijak hanya sesuai bidang ilmu anda sains. Pak Thom dari sejarah hidup anda, umur anda banyak digunakan meneliti ilmu sains sehingga tidak cukup memiliki ilmu tentang dalil-dalil agama. Mohon kiranya sebagai cendikiawan menyodorkan data-data sesuai keilmuan anda saja, bukan dengan menaikkan diri anda seakan mujtahid (ahli Ijtihad) seorang yang sangat paham dalil-dalil agama. Ambil contoh, dari dua dalil agama yang shahih yang bertentangan maknanya satu qauliyah (perkataan Nabi) dan satunya fikliyah (perbuatan Nabi), mana yang diutamakan?

        Persoalan mengetahui waktu sholat dan puasa, dengan menggunakan pengamatan mata dan atau dengan teknologi itu adalah sarana. sama-sama ijtihad yakni usaha untuk mengetahui waktu ibadah.

        Bulan Purnama juga bisa sebagai penanda melakukan ibadah. Karena ada hadits Nabi yang memerintahkan kita berpuasa ayyam al-Baydl (hari-hari yang putih) yang secara definitif Nabi menyebut angka dalam haditsnya yaitu, 13, 14, dan 15. Klo ditinjau dari sisi piringan bulan bukankah tanggal 14, 15 dan 16 yang lebih bulat? tapi mengapa Nabi Muhammad SAW memerintahkan kita tanggal 13 sebagai ayyam al-Baydl, sudahkah anda sebagai profesor Lapan meneliti fenomena ini????

      • SETUJU 100%… Terbukti kan. Jika kita bersatu di KRITERIA, selesai urusan… Thanks Prof…

      • @Nidlom: tgl 13, 14, dan 15 adalah sinar bulan paling terang karena memang di tanggal2 itulah terjadi purnama versi kalender islam. jika pake wujudul hilal kemunginannya lebih besar di tanggal2 14,15 & 16.
        dalil tersebut menguatkan bahwa awal bulan bukan dimulai dari angka 0 derajat seperti dalam konsep wujudul hilal.

        saya boleh saja khn buat kalender sendiri dengan nama kalender ITX. saya buat tangal satu itu saat bulan purnama. jika orang bertanya kapan bulan purnama, saya bilang tanggal satu. apa saya salah? nggak khn?! krn saya memakai kalender ITX. Jika kita pakai kalender islam, pertanyaan tentang kapan terjadi bulan purnama bisa dijawab dengan: terjadi antara tanggal 13, 14 dan 15.

        dengan begini khn ilmu dengan dalil sudah sangat KLOP!

  36. Assalamu Alaikum

    Apa betul purnama itu mesti jatuh pada tanggal 15 Qomariyah, wong umur bulan secara astronomis adalah -+29.5. Kalau purnama mesti tanggal 15 maka secara tidak langsung mengatakan bahwa umur bulan hijriyah qomariyah adalah 30 hari.

    Purnama adalah saat bulan beroposisi dengan matahari dalam bahasa asing disebut full moon. Pada priode tertentu kejadian purnama ini bisa mengakibatkan gerhana bulan dan itu bisa terjadi pada tanggal 14,15 dan 16 bulan qomariyah. Coba dilihat pada saat gerhana bulan total yang barusan terjadi pada bulan Juni 2011. Tepatnya tanggal 16 Juni 2011 M. bertepatan dengan 14 Rojab 1432 H. Harusnya gerhana/purnama terjadi pada 15 Rojab 1432, atau mungkin Malaikat salah tanggal dalam menjalankan gerhana kemarin.

    Ada nggak kalender yang mengatakan bahwa gerhana bulan kemarin itu tanggal 15 Rojab 1432 ?.

    Wassalam
    Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

  37. Aneh ya, ilmuwan membantah ilmu yg selama ini dia yakini sendiri, bahkan ilmu yg mengantarkannya memperoleh gelar prof. Ada apa denganmu pak?

  38. Kenapa menurut kalender rukyat, purnama jatuh pd tgl 13, 14 dan 15? Ya terang sajalah….wong penetapan tgl 1 nya mundur 1 hari. Seharusnya yg namanya purnama itu tgl 14, 15 dan 16. Tapi puncaknya tgl 15. Artinya, tgl 14 penampakan bulan masih sedikit soak, dmk juga tgl 16. Koq pada bingung ya? Makanya, dg hisab, jatuhnya purnama menjadi lbh tepat, yaitu tgl 15 (atau sebenarnya tgl antara 14,5 – 15, dibulatkan 15). Kenapa tdk dibulatkan ke 14? Ya nggaklah, kan antara 14,5 – 15?

    • sederhana saja alasannya: dalam kalender islam bulan purnama itu terjadi tanggal 13,14 & 15 dan ada dalil syar’inya. pake hisab atau rukyat harusnya sama saja.

    • Betul pak prasojo, dalam artikel diatas pak profesor jelas sekali menghindari menyebutkan kapan persisnya terjadi bulan purnama. Katanya Dari segi ketampakan, bulan tanggal 14 dan 15 hampir sama bentuknya (lihat gambar di atas urutan ke-13 dan 14), sama-sama bulat.

      Padahal 3-4 hari lalu saya lihat prof tampil di metrotv bisa menjelaskan hal yg jauh lebih rumit: peristiwa ledakan supernova, yg dengan melihat citra warna dan frekuensi cahayanya dan direkam oleh teleskop hubble bisa diukur itu terjadi pada puluhan juta tahun cahaya yang lalu yg kini berhasil tertangkap teleskop hubble. Masak membedakan kapan full moon 99,9% di permukaan bulan yg jaraknya hanya beberapa puluh ribu kilometer dari bumi tidak mampu? Full moon 99,9% tidak mungkin berdurasi berjam-jam, apalagi sampai 24 jam (2 hari sama besar bulatnya). Rupanya kalo bicara ttg bulan purnama, prof mendadak jadi bingung hehehehe ada apa ya

  39. Kita suka mengklaim rukyat itu ada dasar syar’inya. Padahal penggunaan teleskop atau teropong itu tdk ada dasar syar’inya. Juga memanjat menara masjid utk rukyat itu jg tdk ada dasar syar’inya. Apalagi syarat 2 derajat, lebih tdk ada dasar syar’inya. Satu pertanyaan saja : kalau saksi rukyat itu dari jamaah Ahmadiyah diterima nggak?

    • betul pak prasojo, sidang itsbat kemarin kan kayak rapat partai. ada voting bahkan pake tepok tangan merayakan kemenangan voting. Dalam sidang, kesaksian dari Cakung dan Jepara diabaikan, karena dianggap bohong (tidak mungkin terlihat krn menurut hisab masih dibawah 2 derajat). Lalu untuk apa ada pemantauan hilal di 30 titik kalo sebelum sidang sudah diputuskan tidak mungkin terlihat hilal. Oh ya, saksi dari Jepara dan Cakung itu bukan dari ormas yang terwakili di MUI. Gak dianggap. meskipun sama-sama muslim

    • huehehehe…. gitu yah? asyik dong… ta’ gendong kemana-mana

  40. Katanya ajaran islam itu relevan sepanjang zama? Tapi koq dihadapkan pada zaman kemajuan ilmu astronomi, seolah islam terbentur? Dan konon dulu ummat islam punya ahli astronomi yg sangat hebat, namanya Ommar Khayyam. Semua membanggakannua. Tp koq karya-karyanya disimpan di dlm laci ya? Tdk dimanfaatkan? Padahal katanya ilmu astronomi juga berasal dari alquran?

    Menurut saya begini saja, kalau sekiranya ilmu astronomi tdk membawa manfaat kpd ummat islam dan justru membawa mudharat (memecah belah persatuan ummat islam), lebih baik ummat islam segera meninggalkan ilmu itu, dan MUI segera mengeluarkan fatwa HARAM memperdalam dan mengamalkan ilmunya. Dg begitu, perdebatan menjadi selesai. Mungkin ini yg dikehendaki oleh penentang hisab.

    • tetep relevan koq bos. bagian mana yg islam terbentur dg astonomi.? gak ada tuh.

    • itulah namanya pembodohan umat. Bahkan oleh para ulamanya sendiri. Imam Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumudin” mengatakan, “Rusaknya rakyat adalah akibat rusaknya para pemimpin; Rusaknya para pemimpin adalah akibat rusaknya para ulama; dan Rusaknya para ulama adalah karena mereka cinta dunia (haus harta dan tahta)”.

      • Zul zul… sono gih, blajar astronomi dasar dulu.. lah wong di Saudi 0.5 derajat diatas ufuk, anda gak percaya yah… huehehehe,… piss ah

  41. untuk sistem yang periodik, penentuan satu waktu perioditasnya paling mudah dilakukan antara 2 puncak gelombang. Bulan, bumi bergerak sangat periodik, tidak pernah ingkar sekejappun, karenanya seluruhnya bisa diprediksi oleh ilmu astronomi dengan sangat akurat. Tapi setelah semua data diperoleh, berujung pada kesimpulan yang tidak tepat….dan fakta yang adapun diingkari….

  42. maaf prof, sangat dipahami mengenai penjelasnya. hanya saja yang disayangkan oleh beberapa orang adalah keberpihakan prof secara terbuka dengan cara menyalahkan salah satu ormas. padahal seingat saya, prof sendiri pernah menyatakan bahwa sebagai astronom hanya sekedar menyampaikan berdasarkan ilmu yang dikuasai..
    sehingga penyampaian prof tentang keusangan yg dipakai oleh ormas tersebut dianggap sebagai ketidaknetralan sebagai ilmuwan..
    padahal secara astronomis, paparan yang prof sampaikan jelas tidak keliru..

    • tapi betul kok taufiq, kriteria masuknya bulan baru dengan wujudul hilal itu menurut kalangan astronomi moderen sudah usang… anda silahkan baca literatur2 dan jurnal2 ilmiah astronomi deh… sudah pernah diberikan Prof… banyak sekali sudah penelitiannya…

      tapi yang merasa usang gak usah meradang. barang yang usang dan kuno kadang nilainya tinggi, contohnya mercedez benz kuno, harganya tinggi… piss ah

      • Padahal, kalau menurut astronomi, penentuan kalender menurut penampakan bulan adalah kuno dan usang. Kriteria utama adalah konjugasi bulan, sebagai bentuk awal masuknya bulan baru. Jadi kalau memang ingin “selamat” dengan berlindung dalil agama (meskipun kuno dan usang — tapi nilainya tinggi, kata orang), silakan memakai rukyat murni (ataupun hisab imkanu rukyat buat yang suka setengah-setengah), tetapi tidak perlu menggunakan hasilnya sebagai bentuk kalender. Mungkin itu salah satu alasan mengapa di Arab Saudi menggunakan Ummul Quro sebagai kalender, tapi tetap melakukan rukyat untuk menentukan beberapa hari besar Islam.

      • iya, mas nazaruddin.. saya tidak meragukan kebenaran secara ilmiahnya.. namun ibarat kata, kita memiliki teman yang pincang.. tidak perlu kita sampaikan kepincangan tersebut di depan umum..
        terlebih lagi ini menyangkut ormas besar.. dan setiap ormas besar pastilah memiliki anggota yg terlalu mencintai dan terkadang melupakan kaidah ilmiahnya.. maka tidak heran pula jika hal tersebut berbalik caci makian.. sehingga kebenaran ilmiahnya yang justru menjadi “tergeser”..

  43. ada yg mengatakan, pakai software astronomi, tgl 12 september saat matahari terbenam, fullmoon msh di bawah ufuk, dan baru terlihat sekitar isya. Makanya ia berpendapat, purnama digenapkan esok. Rupanya dia lupa, bahwa yg ia maksud itu UFUK TIMUR, sedangkan hilal itu di UFUK BARAT. Astronom koq nggak paham ya?

    • Prasojo ini baru lahir … entah bentuknya orang atau entah makhluk yang jelas komentarnya menambah bingung umat.

    • betul lagi pak prasojo. saya juga heran dia kok jadi latah pake istilah digenapkan. Jangan2 dia belum ngerti bahwa setiap kali bulan purnama, bulan selalu terbit dari timur bersamaan dg matahari tenggelam di ufuk barat. Beda dengan hilal, bulan tenggelam di ufuk barat hampir bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat.

      • bang Zoel, istilah digenapkan itu, sekedar ilustrasi sahaja… Yg betul itu penentuan tgl 1, itu yang perlu penggenapan (istikmal).

        Bulan tenggelam di ufuk barat… lah iya lah bro.. Basic astronomy 101… gitu loh…

        piss ah

    • Prasojo: bulan tenggelam itu di ufuk, ufuk yang dimaksud ufuk barat bro… Ufuk timur itu sekedar referensi, bahwe sesaat sebelum maghrib bulan masih ngumpet di ufuk timur…

      Tgl 12 sept itu sore bulan sudah di ufuk timur. Sesaat sebelum maghrib, bulan masuh ngumpet di ufuk timur, lalu 4 menit kemudian nongol deh tuh die di ufuk timur, pelan-pelan dia naik ke atas. jam 11 malam mulai deh tuh klihatan diatas kite, dongakin pale deh 80 derajat kearah atas, kliatan deh tuh… lalu pelan2 dia merambat turun ke ufuk barat. Ketika subuh ude masuk bulan masih kliatan tuh sekitar 20an derajat, begitu pagi mulai menyingsing bulan makin rendah turun di ufuk barat…

      Gitu Pras… moso’ astronomi dasar kayak ginian kagak ngarti ngarti… piss ah

  44. jelasnya bahwa penentuan I syawal tahun ini lebih runyam…mungkin karena klaim2 pengetahaun tentang penentuan I syawal di rasuki bisikan-bisikan Syeiton sehingga dengan mudah terjadinya berbantah-bantahan karena sintemin organisasi dan kepentingan Politik…heeeee

    • Oh gitu ya? Atau mngkn anda nulis ini jg atas dibisikin setan… He he.. Piss ah, serius amat…

  45. saya amati malam tanggal 12 september 2011 jam 19.15 wib bulan tampak penuh tapi jauh dari kita dan tadi malam dengan waktu yang bersamaan bulan penuh dan sinar lebih terang dan dekat dengan kita. Perhitungan jatuh tanggal pasti eksak kalo tidak eksak bagaimana kalo orang mau puasa putih (tgl 13, 14, 15) setiap bulan qomariyah

  46. sy sependapat bhw membuktikan Purnama sbg pembenar mn yg benar tidak ada dalil syar’i dan kurang sah scr ilmu astronomi. :D

    klo sy sih, knp juga harus ribut2.
    keduanya toh ijtihad to?

    tidak ada saling menyalahkan diantara dua ijtihad, itu khan kaidahnya. CMIIW …

    gitu aja kok repot…

  47. Mudah2an umat Islam tidak berbeda dalam puasa arafah, (seperti tahun kemarin.)..sebab ketentuannya jelas: wukuf di arafah.. insya allah kalo wukuf mudah dirukyat dan malah seneng jika tertutup awan…

  48. Intinya profesor ini mo mengatakan kalo ulama2 di negara2 arab sono dan kebanyakan di dunia ini tuh goblog semua, nentuin 1 syawal aja pada salah semua….

    Di Indonesia muhammadiya jadi terkucil karna berbeda sendiri…
    Tp di dunia islam, indonesia justru terkucil karna berbeda sendiri…

    Pertanyaannya adalah, apakah kebanyakan ulama2 di dunia islam itu goblog ???
    Atau kita yang goblog ???

  49. sudah lah pak jamal.. gini aja ribut.. astronom luar udah bisa “lihat” lubang hitam di tengah galaksi, memotret globular clusters.. menaksir umur alam semesta, mengamati supernova… kok astronom kita cuma hal beginian.. malu ah

  50. Mas Zulfikar dan teman2 yg semadzhab dgnya harus belajar dan hadits lebih dalam, jgn seakan paling paham tentang hadits, bicara ikmal ramadhan menjadi 30 hari bukan persoalan bulan pd hakikatnya sudah masuk bulan baru atau tidak melainkan JIKA TERHALANG, lihat teks hadits (FA IN GHUMMA ‘ALAYKUM…), jadi sekalipun bulan sudah meninggin diatas ufuk pada 29 Agustus 2011 misalnya atau pada waktu2 lain, misalnya sudah 6 derajat diatas ufuk kemudian ternyata terhalang oleh awan misalnya karena mendung yang pekat, maka kita ikmal ramadhan mjd 30 hari, jd persoalan ikmal bukan semata masalah bulan sudah diatas ufuk atau tidak, sekalipun sudah diatas ufuk dan tinggi, namun jika tidak terlihat ya ikmal 30 hari. Memang jika itu terjadi di satu wilayah kemudian wilayah lain yg berdekatan berhasil melihat krn tdk mendung maka boleh mengikut ke wilayah itu. Jadi masalah purnama tdk bisa dijadikan dasar untuk hal ini karena bisa sj memang benar bulan sudah masuk dan terdapat diatas ufuk namun terhalang mendung, lalu ikmal 30, maka jelas nanti purnamanya terlihat lebih awal krn memang waktu itu aslinya bulan sudah masuk namun krn terhalang jadi ikmal, itulah perintah hadits yg jelas, jadi bc hadits mas yang benar dan lihat keterangan para fuqoha baik klasik maupun kontemporer !!!!!!!!!!!!! bravo pak thomas

    • Pak Muadz, kalau anda membaca dan mengerti seluruh isi posting2 saya diatas, mestinya tahu bahwa saya tidak menganut atau berpihak mazhab tertentu. Saya juga sarankan Pak Muadz jangan cepat merasa yakin dg terjemahan hadist2 dlm bahasa Indonesia. belajarlah bahasa Arab utk bisa mempelajari Quran dan Hadist lebih baik. Jangan pula bersikap tebang pilih atau sepotong-potong, hanya menggunakan hadis tertentu yang menjadi pembenaran versi yang anda yakini ttg 1 syawal kemarin, tapi mengabaikan hadits lain yang sebenarnya juga hadist shahih. Supaya jangan cepat merasa diri yakin benar atas pemahaman agamanya sendiri. Inti semua posting saya, saya ingin mempertanyakan kenapa umat Islam Indonesia berhari raya sendirian, seperti yg sudah-sudah? Apakah Anda yakin seyakin-yakinnya versi Pemerintah Indonesia yang benar, dan seluruh dunia Islam lainnya keliru? Itu saja..semoga jadi perenungan buat saya dan pembaca lainnya. Maaf lahir batin. Wassalam

      • Nah betul tuh saran anda dek Zulfikar… kite kite nih perlu blajar bhs arab agar gak tertipu dengan orang yg sok mengerti bahase arab…

        tp ngomong-ngomong hampir saya percaya dengan dek Zul mengenai arti ro’yu… tetapi setelah saya baca penjelasan Prof Expat Jazirah, ternyate nih,,, kate ro’yu itu artinye bener bener melihat dg mate telanjang… ini yg jelasin Al-quran ternyata… ane percaya al-quran aje deh…

        aduh2x… nyesel ane… ketipu sama bang Zoel…

    • @muadz
      Sayangnya imkanu rukyat tidak mengenal bulan yang terhalang ketika kriteria imkanu rukyat sudah terpenuhi. Jadi ketika bulan sudah 6 derajat di atas ufuk, padahal cuaca mendung, maka berdasar “rukyat jangka panjang”, maka tidak ada penggenapan lagi. Dengan sudut pandang anda, yang ini sebenarnya juga sudah tidak syar’i lagi kan?

  51. “Fas Alu Ahla dzikri in kuntum laata’lamun”…. semuanya jadi kaco kalo merasa pada pinter gak pada manut sama yang tahu !!!

  52. Prof…animasi fase bulan yang lo tampilin kok menunjukkan 1 syawal 1432 H bertepatan 30 September 2011, cari dong yang 1 syawal 1432 H bertepatan dengan 31 September 2011….gimana sih…..?

  53. subhanallah, kajian kalian luassss… Pesen saya, teruslah kaji ilmu Allah dg mau’idhoh hasanah…smg indonesia thn dpan bs lebaran bareng

  54. Betul Mas Agus. Akan tetapi, kemungkinan awan tertutup diseluruh wilayah Indonesia, pada magribnya,pada saat bersamaan, sangat2 kecil (walau tetap ada). Otomatis hasil akhir imkanur ru’yah tidak akan beda dg ru’yah. Kalau wujudul hilal kemngkinan untuk beda dg ru’yah sangat besar.

  55. Masalah penetapan 1 Syawal di negeri kita sudah sering terjadi perbedaan karena metode yang berbeda. Mengapa negara2 muslim tidak berpatokan saja ke Arab Saudi. Bukankah asal agama yang kita anut berasal dari sana? Tinggal menyesuaikan perbedaan waktu saja. Toh kita tinggal di bumi yang sama..Jadi pemerintah tinggal menunggu info penetapan 1 Syawal dari Arab Saudi sehingga urusan negara yang lain bisa lebih fokus dilaksanakan sehingga masyarakat bisa lebih terpenuhi hak-hak dasarnya. Biaya2 yang timbul untuk melihat hilal dan rapat sidang penetapan 1 Syawal bisa dieliminir dan dialokasikan ke pos biaya untuk mensejahterakan masayarakat.

    • Nah ini pemikiran segar dari Kang Agus… Stuju akang… Refer ke Arab Saudi…

      tapi kalau masih harus nunggu sidang itsbat arab saudi, yah kelamaan atuh akang… kumaha’….

      Kalau mau ikut arab saudi, nah arab saudinya tetapin aja standar, misal pakai imkaanur ru’yah (gak usah ru’yah lagi). Lalu arab saudi hisab deh tuh sampai 1 th atau 2 th kedepan. Arab saudi buat kalender untuk 120 negara (eh sekarang anggota PBB 120 negara kan?).

      Habis itu ke 120 negara itu konsisten pakai kalender itu. Gak usah ada lagi sidang sidang itsbat di negara-negara itu…

      Kenapa 1 atau 2 tahun? supaya tiap tahun ada perbaikan kriteria imkanur ru’yah. Ingat bahwa hisab (apapun metodenya) mengandalkan rumus matematis yang pasti ada salahnya (minimal di salah pembulatan, galat error). Jadi tiap bulan, Dewan Ru’yah masing-masing negara, harus memberikan koreksi, dengan cara benar-benar melihat bulan. Dan para kalangan astromon, harus dilibatkan untuk memperbaiki kriteria ini.

      Kalau ternyata dari hasil observasi ru’yah, ternyata rumus2 hisab yang dipakai sudah paten (error sangat kecil), masa pembuatan kalender bisa diperpanjang, misal 10 th kedepan.

      Jika ini terjadi baru ciamiikk…. Mari kita dukung Gus, menjadikan Mekkah sebagai otoritas penentu kalender Islam…

      • SUETUJUUUU…..mau apa ke kriteria nya yg penting lebaran bareng Internasional, bisa melaksanakan melam persatuan gema takbir sedunia….

      • setuju Pengembara… wah baru kali ini kite sepaham ye…

        Nah untuk mewujudkan itu perlu 3 syarat: baca

        http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/06/kalender-hijriyah-bisa-memberi-kepastian-setara-dengan-kalender-masehi/

      • @nazar, sebenarnya nggak rumit2 amat koq kalau benar pemerintah mau mengikuti mekkah sbg acuan.
        Saya yakin mesir, lebanon (suni&syiah), iraq dan negara2 maju didunia tdk melihat “apa&siapa” arab saudi namun semata-mata melihat “APA&SIAPA” Mekkah, hanyalah Mekkah yg berhak sombong dari sang pemilik YG MAHA SOMBONG, Allah SWT.
        .
        Kuncinya adalah menerima sepenuhnya kalender hisab wujudul hilal ummul quro dgn rukyat globalnya. Tdk lebih tdk kurang. Shg dgn demikian tdk ada perbedaan dlm pelaksanaan kalender mekkah festival maupun pemaksaan otoritas segala.
        Sangat sederhana, bahkan jk itu diterapkan mk sebenarnya yg sgt diuntungkan adalah pengfaham rukyat lokal, nggak percaya? Mari kt lihat usulan saya.
        Kriterianya adlh menerima sepenuh hati dgn keikhlasan yg mendalam utk berhari raya bersama mekkah dan dunia.
        Usulan saya, jk memang diperlukan suatu pengumuman maka hrs ada 2 sesi pengumuman.
        Pengumaman ke-1 jam. 18.45 WIB
        Dilakukan ckp oleh mui/dirjen depag
        Menolak rukyat lokal==>mempersilahkan sholat tarawih & puasa besoknya.
        Menerima rukyat lokal==> meneruskan ke pemerintah lalu ke rukyat global utk direkomendasikan sbg salah satu negara yg tercatat bisa merukyat hilal.
        Sifat pengumuman adlh sbg “suatu penghargaan” bg pengfaham rukyat lokal. Bukan otorisasi.

        Pengumuman ke-2 jam 22.30 WIB
        Sgr setelah ada penguman resmi dr saudi.
        Resmi pemerintah, dilakukan oleh Menag didampingi oleh mui & ormas islam yg menyatakn dgn kerendahan hati dan ikhlas utk berhari raya. Bersama mekkah dan dunia. Wooww luarbiasa bro…
        Sifat pengumuman adlah suatu “penegasan pemerintahan yg berdaulat” yg merujuk pada otorisasi mekkah.
        Coba renungkan…
        Bagi pengfaham rukyat lokal kalaupun ditolak, bisa secepatnya menjalankan sholat tarawih, kemudian malam hr ada pengumuman resmi dr pemerintah. Selain dapat pahala sholat lail berjamaah juga dpt hadiah merayakan kemenangan bersama mekkah dan dunia. Wah kita jadi ngaplo dech..
        Jk diterima rukyat lokal, selain bisa “mendahului Indonesia”, laporan itu bs diteruskan ke rgukyat global utk menjadi referensi dunia.
        Bisa anda bayangkan kegembiraan ini…
        Jk anda kyai itu, misalkan kyai Nazaruddin dari pondok pesantren rutan brimob tertulis dan tercatat dalam pengakuan rukyat global oleh otoritas saudi. Wah bisa2 sujud sukur terus dech tiap kali mengingat itu. Mekkah bro!! Dan tiap tahun ada dan ada lagi.
        Mari kita lihat keuntungannya (bisa ditambahkan)
        1.Tdk ada perbedaan penafsiran dalam kalender hisab wujudul hilal ummul quro lagi. Krn bersifat paten, mk kalender nasional hijriyah kita ckp mencantumkan “notes” mekkah festival
        2. Keinginan utk mati mengahadap mekkah, berhari raya pun hrs bersama mekkah terpenuhi
        3.Pak djamalpun masih punya pekerjaan sbg dewan pembina komunitas pengintip hilal, sukur2 klau dijadikan partai. Partai rukyat sejati.
        4. Pak djamal bisa konsentrasi meneliti “ancient alien”, bangsa annonaki, stargate sumeria, penguatan hk kekekalan energi dlm black hole, unsur dna manusia yg salah satu unsur dr “Alien”
        5. Nah ini yg paling penting…, bisa perang ketupat lebaran tanpa terhalang dikotomi halal haram
        6. Bs ditambahkan
        Kerugianya (bs ditambahkan)
        1.Tdk bisa menyombongakn diri lagi, berhari raya beda dng mekkah dan dunia
        2.Uang rapat, dr rapat isbat sdh tdk ada lagi
        3.Tdk ada hiruk pikuk lagi
        4.Bagi pemudik sdh tdk ada discount puasa lagi
        5.Muhammadiyah sdh tdk dpt membuat pengumuman jauh hari lagi (ya gimana sistem operasinya sdh sama)
        6. Bs ditambahkan

        Dng demikian kt bisa menyatu, mewujud “wujudul ummat” mekkah dan dunia.
        Ya Allah ampuni aku, maha suci Engkau ya Allah.
        Sesungguhnya aku telah berbuat Dzalim pada diriku sendiriu

      • Argres, kalau sy malah pengennya gak perlu sidang2 itsbat lagi. Pakai kalender sj yg sdh ditetapkan 1 atau 2 th sebelumnya. Kalender itu, harus dari otoritas Mekkah. Selesai urusan.
        Tp syaratnya Mekkahnya jg tidak rukyah lagi, tapi murni hisab (yaitu hisab imkanur ru’yah). Karena kalau ru’yah lagi, operasionalisasinya repot, harus nuggu hasil ru’yah makkah dulu, lalu harus informasikan lagi hasilnya ke mana2. Kasihan New Zeland dan daerah2 timur Indonesia, nunggunya kelamaan.

      • Ok..di roger, terlepas dr komen2 sebelumnya rupanya ada kemauan utk maju selangkah demi pendekatan “keinginan” bersama ini
        @Nazar sudak jamaknya kalau kita berbicara standarisasi tentu kita akan berbicara asal usulnya amerika kah(asme), jepangkah(jis) atau indonesia kah(sni)? Iya kan? Kalau pingin pakai standar asme ya tentu hrs pakai kaedah asme donk ntar kalau pakai jis/sni bisa tabrakan donk..
        Atau bikin system hybrid jis sni untuk bikin tandingan dengan asme utk memaksa si asme menyamakan standarisasinya, ya jelas tdk ketemu dan malah ditertawain donk..
        Bagi si asme tentu akan bilang “ngapain kamu? Kamu ini siapa? Kayak anjing menggonggong aja, kalau pakai standarku pakai saja” begitu kan?
        Bagi kita umat islam, sudah takdirnya Allah menempatkan “pusar bumi” mekkah itu di arab saudi, bahwa “rumah petak” itu bukan hanya milik saudi jawabnya ya bahwa umat muslim sedunia hidup dan matinya selalu berkhidmat pada “rumah petak”, selain saudi pun juga jawabnya ya.
        Namun hrs kita lihat dari kesederhanaan konsep ini. Bahwa pemerintah saudi ada kekuranganya jawabnya juga ya, mana ada manusia sempurna bahkan rasulullah bilang “sy ini hanyalah pesuruh Allah dan manusia biasa” tdk lebih tdk kurang. Saudi pun melakukan penyempurnaan2 dalam konsepnya yg akhirnya bernama “hisab wujudul hilal ummul quro” yg kita kenal dan termasuk dijadikan referensi standar oleh pak djamal sendiri. Demikian juga faham rukyat, malah dipakai sistem rukyat global yg mengakomodir umat muslim sedunia. Dengan kaidah 1hari satu peristiwa satu dunia yg justru saling menkonfirmasi dan menguatkan kaidah kalender hisab wujudul hilal ummul quro itu sendiri.
        Jadi sangat baku sbg standarisasi kalender hijriyah internasional.

      • Aegres, dari awal sy sudah bilang wujudul hilal itu usang. Kalau mau pakai referensi mekkah, yah mereka pakai metode yg lebih bagus dong, yang lebih klop dg hadist agar bulan bisa di ru’yah. Itulah dia imkaanur ru’yah. Kok ente antipati banget sama imkanur rukyah. Ente plajarin dulu deh bedanya wujudul hilal vs imkaanur ru’yah. Pakai pikiran yg jernih. Sholat istikaroh dulu… Ente baca lagi semua komen2 ane, sdh jelas bin clear, cara ngitungnya sama antara wujudul hilal dan imkanur ru’yah. Nyang beda hanya kriteria untuk istikmal atau tidak istikmal. Kalau imkanur ru’yah kan sdh jelas, mencoba mengaplikasikan keinginan Kanjeng Rasul saw, agar bulan dapat terlihat. Itu tercermin dalam kriteria. Sekarang ente tanya deh ahli astronomi, kasih kriteria wujudul hilal, vs kriteria imkanur ru’yah, menurut mereka mana yg paling mendekatkan diri dg kemngkinan bulan bisa terlihat? Lah pasti kriteia imkaanur ru’yah lah… Perintah AlQuran untuk bertanya pada pakarnya. Sekarang para pakar sdh menyampaikan pendapatnya, apalagi yg mau didebatkan? Payah… Moso’ gak mau ikut apa kata quran?

      • @Nazar.., dalam hal ini sy tdk salah duga koq
        Kamu dan djamal adalah PEMBOHONG BESAR dan PENYOMBONG LAKNAT melebihi iblis, mari saya buktikan…
        Masak suatu pendapat pakar yg dilumuri oleh kedengkian dan kesombongan itu senafas dgn semangat Al Qur’an?? Salah besar kamu nazar.., nafasmu dan nafas djamal itu senafas dgn iblis.., mau bukti?
        Rasulullah SAW, dengan rendah hati mengatakan umatku (saat itu) masih awam shg Rasulullah hanya menggunakan rukyat hilal saja(bkn imkan rukyat!)
        Djamal laknat “…KRITERIA YG LEBIH BAIK adalah KRITERIA HUKUM IMKAN RUKYAT DAN LEBIH MODERN” ==> dari HISAB SAJA ATAU RUKYAT SAJA
        Sama saja mengatakan cara Rasulullah itu usang, tdk ada penghormatan sedikitpun thd rasulullah, haii! Dajamal laknat!!
        Djamal laknat:…terkadang (arab saudi &Mekkah) kontroversial dlm memutuskan penetapan hari raya…
        Nazar idiot: kalau mau pakai referensi mekkah, yah MEREKA pakai metode yg lebih bagus dong, yg lbh klop dgn hadist agar bulan bisa di rukyat. Itulah dia imkan rukyat
        Hai djamal laknat & nazar idiot!!, KAMU INI SIAPA?!!? Hah! Berani benar kamu melecehkan mekkah! Arab saudi itu representasi mekkah!
        Keputusan mekkah adalah keputusan yg harus dihargai dan diikuti!!
        Tahukah kamu hai djamal laknat & nazar idiot kamu ini seperti anjing, anjing kuduk yng menggonggong dimalam yg buta tanpa tau arah mana keyakinan itu berada!!
        Kartun nabi saja sudah membuat kita sesak, apalagi pelecehan, pelecehan yg justru bersandar pada dua pilar keyakinan mekkah & rasulullah.
        Mustahil orang goblok sampai berani melecehkan mekkah & rasulullah kecuali seorang laknat dan idiot, spt kamu ini djamal laknat & nazar idiot.

      • Kamu ingin tahu bahwa imkanu rukyat hanyalah ilusi belaka alias KEBOHONGAN BESAAAR! Mau bukti? Saya buktikan dari cocotmu dan cocot nya djamal laknat
        Djamal laknat: sistem kalender tdk mungkin bersifar personal(imkan rukyat). Sy tdk mungkin membuat kalender sendiri, karena kalender personal(imkan rukyat), tentu hanya berlaku personal(imkan rukyat)
        Ayo mau mabok lagi, mau ngeles…clear TDK MUNGKIN! Dibuat logika terbalik berdasarkan fakta!!
        Djamal laknat: sistem kalender hrs PASTI bersifat umum. Saya mungkin bisa membuat kalender umum. Krn kalender umum tentu HARUS berlaku umum.
        Ayo jawab!! Artikan “SAYA MUNGKIN” kamu yg idiot tentu nggak bisa mengartikan ini
        MUNGKIN ==> ragu2-dugaan-msh dlam lamunan-belum dikerjakan dan pasti belum TERBUKTI!! Ayo kalau terbukti buktinya mana?? Mana tjoeek!
        Terang aja si djamal laknat masih menggunakan kalender hisab wujudul hilal ummul quro sbg referensi!! LHA WONG KALENDER IMKANU RUKYAT masih dlam LAMUNAN DOANG!!
        Masih berkutat di kunci dan kriteria saja sdh gembar-gemborr setinggi langit!! Ayo buktinya mana tjoek!!
        Masih bersifat semu alias kosong bin bohong sdh berani menyombongkan diri ttg ilmu! Bicara ilmu tentu hrs ada kepastian output skr OUTPUT nya maanaa? Gak malu tha dgn ITB dn KYOTO?
        Nazar idiot: kalau imkanu rukyat kan sdh jelas, MENCOBA mengaplikasikan keinginnan kanjen Rasul.saw, agar bln dpt terlihat
        Wah2 kamu ini benar2 idiot total!! Sdh JELAS imkanu ruyat masih MENCOBA belum terbukti di yakini dan dijalani koq kamu sdh gembar gembor!!
        Kamu pernah mati ya ?? Koq tahu sesuai keinginan Rasulullah SAW????
        Mosok barang yg masih dlm angan2 hrs dibuktikan kebenarannya. Nggak perlu melip2 bicara ilmu jika outputnya masih kosong bin bohong.
        Ayo buktikan?? Masih mencari kriteria &kunci ya, sana menyusu lagi pd ibumu lg belajar ttg kerendahan hati..
        USANG = sudah lama, kuno
        Baca dgn jelas
        Hisab wujudul hilal yg usang (sudah lama) terbukti meyakinkan sbg suatu keyakinan diikuti oleh mekkah & mayoritas dunia, terbukti kemarin
        Rukyat (lokal&global) yg usang (sdh lama) sbg sautu teladan dr rasulullah terbukti meyakinkan sbg suatu keyakinan diikuti oleh mekkah dan dunia.
        Imkanu rukyat: yg semu masih dlm lamunan tdk bisa dibuktikan sbg suatu keyakinan oleh mekkah dan dunia, terbukti lebaran kemarin.
        Jk usang itu di artikan sbg suatu yg bodoh dan jumud maka kamu , Djamal laknat dan Nazar idiot nggak usah menghadap mekkah lagi

      • Argres, Arab Saudi itu hisab dan ru’yahnya suka kontroversial. Hilal dibawah ufuk, persaksian orang yg bisa melihat diterima. Ini sangat tidak masuk di logika ilmu. Sebagai contoh kasus ini http://m.kompasiana.com/post/terapan/2011/09/15/kontroversi-dzulhijjah-1428-h-saudi-arabia/

        Perlu anda ingat Argres, Arab Saudi walaupun pakai metode wujudul hilal, tp keputusan akhir ada di ru’yah. Jadi berbeda dg Muhammadiyyah yg keputusan akhirnya murni hisab.

        Mengenai sumpah serapah Anda ke saya, alhamdulillah saya terima dan saya maafkan. Hitung2 ngurangin timbangan dosa saya nantinya. Hehehe…

  56. Prof,

    Di tulisannya Prof kurang setuju Mekkah jadi pusat kalender Islam. Alasannya kenapa Prof? Apakah semata karena kerumitan membelah Kanada dan Alaska saja? Apa tidak ada solusinya Prof?

    http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/17/perlukah-menggantikan-gmt-dengan-mecca-mean-time/

    • Owh… Menarik juga, membaca MMT (Meccah Mean Time) vs GMT. Ternyata alasan Prof kurang mendukung MMT, karena bumi akan dibelah ores garis tanggal yang membujur dari utara ke selatan membelah mekkah.

      Kebayang sih. Kalau pakai gambar kurva ketinggian hilal 1 syawwal 1432H kemaren, ada satu negara yg terbelah garis. Kebayang aja jika garis 0 membelah Jakarta. Jakarta utara daerah -, jakarta selatan daerah . Berarti berlebaran pada waktu yg berbeda.

      Pemilihan GMT di Greenwich, ternyata agar garis tanggal paling minim membelah negara. Kalau dilihat di bola dunia, di belakang grenwich itu samudra pasifik, yg tidak ada penghuninya. Shg pemilihan garis GMT 0 itu paling sedikit negara yg terbelah (alaska dan kanada tidak terbelah oleh garis GMT 0)

      Kalau memaksakan konsep MMT, berarti ada garis MMT 0, garis ini akan memotong sebagian Kanada dan Alaska. Shg kasihan mereka, satu benua tapi dibelah garis waktu. Pada hari yg sama, sebelah kanan garis Selasa, sebelah kiri garis masih Senin. Kebayang kalau ada kereta api bergerak dari timur melewati garis itu, harinya berbeda (padahal sama2 siang). Kalau pakai GMT 0, kasus2 spt ini minim sekali.

  57. ya setuju karena kata kuncinya LEBARAN BARENG internasional.

    Indahnya dunia jika lebaran bareng, seluruh penjuru dunia mulai dari timur sampai barat menggemakan takbir dan tahmid memuji kebesaran Allah SWT, jika di Indonesia dimulai paling timurnya papua, pd saat fajar 1 syawal jam 08:00 WITA baru mau selesai sholat iedul fitri dibelahan tengah daerah Bali waktu menunjukan pukul 07:00 WITA umat islam sdg siap2 di merapatkan barisan di mesjid atau lapangan terus ke arah barat yaitu jakarta waktu menunjukkan pukul 06:00 umat islam sedang siap2 berangkat ke mesjid atau lapangan trus makin ke barat waktu masih gelap masih dalam suasana takbir dan dahmid menggema, alangkah indahnya dunia saat itu terasa, gema takbir dan tahmid bersahutan menggema sampai ke angkasa.

    suasana seperti itulah yg saya inginkan mas nazar.

    kadang iri dengan umat lain yg kompak melaksanakan natal, toh tanpa mengetahui sejarahnya apakah benar itu hari kelahiran yesus bagi mereka gak begitu peduli, gak banyak terdengar perdebatan tentang kebenaran hari natal tsb.

    salam damai mas nazar.

  58. Pak Prof, kenapa anda selalu menuding salah satu ormas ketinggalan jaman padahal keilmuan anda sendiri tidak bisa memastikan?

    Apa anda tidak malu sebagai ilmuwan tetapi tidak memiliki etika dan kepala sebelum bicara?

  59. Menyimak perbincangan yang seru… semoga bisa mendapatkan jalan temu

  60. @ pengembara : lagi2 orang yang kontra itu-itu saja…copy paste dll…pengembara dan kawan2 (yang bisa jadi dia-dia juga wkwkwkw)…sudahlah, kalau ga ngerti ilmunya jangan ngejelekin pak thomas, dia sudah berbicara dengan ilmiah dan religi…keliatan emosinya ketahuan ga puasanya ya pengembara…atau pura2 minta keringanan karna masih mengembara…wkwkwkw…udah pak thomas ga usah diladenin orang2 yang kontra ini…kbanyakan ketupat kayaknya karna ikut lebaran cepet bukan krn ilmu, tapi krn ga kuat lama2 puasa wkwkwkw….

  61. Zulfikar: Yang bener aja pak, masak ketinggian hilal malah lebih rendah dari ketinggial hilal yang dipantau dari Indonesia (0,8 derajat yang disepakati semua ormas tanpa kecuali). Padahal itu ada selisih 5 jam. Dan buktinya ada saksi yang melihat hilal di Saudi.

    Saya: bhueeneeerrrrrr Zoel… Bulan itu turun ke arah bawah, makanya malah menjauh dari Makkah. Di Indonesia ketika maghrib 0.8, eh… di Mekkah pas maghrib disana 0.5 derajat. Aneh kan? Nah ini fakta yang menjelaskan, anda belum ngerti astronomi dasar… hehe… Piss brother… Silahkan check pakai Stellarium. Atau kalau malas install software itu, download data hilal 1 Syawwal dari BMKG (mudah2an sodara gak apriori ke BMKG yah, spt sodara apriori ke LAPAN hueheheh…)

    Wah saya terguncang melihat fakta itu, ternyata begitu ya adanya. hehe. Dari diskusi diatas sudah ketauan mana yang bener :p

  62. wahai para profesor, ilmuwan, astronom, ulama, komentator, profokator, pengikut dan kalian semua yg sudah dan masih mau berkomentar tentang masalah ini ” saya ingin menyampaikan bahwa : perbedaan itu hendaknya kita hargai dan hormati. Jangan paksakan pendapat kalian yang ilmiah atau yg tdk ilmiyah. biarkan dunia ini penuh warna dan INGATLAH… jangan paksakan persatuan untuk hal-hal yang tidak prinsip

  63. Sy koq yakin bahwa purnama itu maksimal hanya 1 hari 1 malam (23,6 jam). Dan berhubung dlm sehari semalam itu bulan jg mengalami di bawah ufuk, maka praktis purnama itu maksimal cuma terlihat selama 12 jam kurang sedikit. Jd, purnama tdk mungkin terjadi selama 3 hari berturut-turut seperti tgl. 13, 14 dan 15 (ini sy anggap sbg penganut rukyat) atau tgl. 14, 15 dan 16 (ini sy anggap sbg penganut hisab). Oleh karena hari qomariah itu 29 atau 30 hari dlm 1 bulan, maka otomatis purnama jatuh antara tgl. 14,5 dan 15. Oleh krn tdk ada hari/tgl pecahan, maka dibulatkan ke 15. Inilah yg namanya purnama. Persoalan selama tgl 13,14,15 atau 14, 15, 16 itu bulan terlihat seakan purnama terus, ini hanya masalah keterbatasan kemampuan mata memandang saja. Ini hampir sama dg sulitnya menentukan batas2 warna pelangi di angkasa. Memang kita bisa melihat ada warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Tp manusia tdk ada yg mampu menentukan batasnya dr warna2 tsb. Tp org bisa menentukan titik tengah warna hijau, misalnya. Itulah ibarat purnama.

    • Prasojo: Sy koq yakin bahwa purnama itu maksimal hanya 1 hari 1 malam (23,6 jam). Dan berhubung dlm sehari semalam itu bulan jg mengalami di bawah ufuk, maka praktis purnama itu maksimal cuma terlihat selama 12 jam kurang sedikit

      Saya: kalau dianggap purnama hanya terjadi 12 jam kurang sedikit, jelas pemahaman yg tdk tepat.

      Kalau kita berdiri disatu tempat di bumi ini (misal Jakarta), selama 12 jam (dari maghrib ke subuh), memang kita akan melihat purnama, Lalu apakah setelah subuh ditempat kita purnama hilang? Tidak juga. Orang disebelah barat kita akan melihat purnama. Jadi ketika di Jakarta sudah subuh, lama2 purnama sudah tidak terlihat lagi (karena sudah tenggelam diufuk), nah ketika itu orang di Medan dan Aceh akan melihat purnama yang tadi kita lihat. Seseorang di Medan akan melihat purnama itu juga selama 12 jam kurang sedikit (dari maghrib ke subuh waktu dia). Demikian seterusnya.

  64. Kira-kira Nabi dan sahabatnya dulu pake teropong gak? berarti dalam kategori ini digolongkan dalam awam yang melihat bulan purnama sama2 bulat tgl 14 dan 15. Anda dibayar brapa sama yahudi, sampai mau memecah belah umat?

  65. Salut buat Bapak @Nazaruddin Ilham, tanggapan tanggapannya sudah sekelas dengan humoris abunawas,nasarudin hoja , ilmiah dan menghibur bahasanya, keren abis.

    Saya turut mendoakan semoga Prof T Djamaludin tetap diberi kesabaran, dan tetap semangat dalam niat ikhlas lillahita’ala

    .

  66. Menjadikan purnama sebagai penentu awal bulan Qomariyah terkesan kuat bahwa itu tindakan mengais-ais alasan sebagai pembenar keputusan yang bermasalah. Perilaku seperti itu sangat memalukan, karena alasan yang digunakan mengada-ada, yaitu awal bulan ditetapkan dengan cara menunggu bulan purnama. Kasihan betul mereka itu. Dari cara mereka mengais alasan tersebut sebenarnya juga menunjukkan tingkat keangkuhan mereka. Ga sadar kalau pedoman yang mereka pakai selama ini hanyalah teori, bukan hukum, tapi mereka menganggapnya sebagai hukum yang tidak mungkin diubah. sehingga ketika disodori tiori yang lebih baik dan bisa dipertanggung jawabkan secara syar’i tetap saja ditolak dengan berbagai alasan. Bahkan sampai dibarengi tuduhan memecah belah umat segala.

  67. Purnama bukan sebagai penentu awal bulan, tapi bisa sebagai penentu tengah bulan. Kalau tengah bulannya ketemu, bisa jadi data kapan awal bulan.

  68. Setelah baca tulisan prof Thomas dan komen-komennya, saya makin melihat kalo perbedaan pendapat tentang penentuan hari raya itu sebenarnya mengenai kriteria awal bulan.

    Yang pertama mengatakan, awal bulan kriteria nya adalah ketika bulan terLIHAT, krn hadisnya mengatakan demikian. Jadi patokan awal bulan adalah ketika bulan bisa diLIHAT. Satu bulan adalah ketika bulan berputar satu putaran mengelilingi bumi. Tp patokannya (startnya) bukan dari setelah posisi bumi, bulan, dan matahari berada dalam garis lurus (bukan dari Ijtimak), melainkan dari posisi bumi, bulan dan matahari yang sedemikian sehingga memungkinkan hilal bisa dilihat dari bumi.

    Sedangkan yang kedua mengatakan, awal bulan adalah setelah bulan berputar satu putaran mengelilingi bumi. Krn hadis meLIHAT hilal itu dimaknasi cuma sebagai TANDA bahwa bulan sudah berputar satu putaran mengelilingi bumi. Jadi walopun gak keliatan, walopun gak mungkin bisa diliat, asalkan sudah mengelilingi bumi satu putaran, berarti satu bulan. Dan patokannya adalah beradanya bumi, bulan, dan matahari dalam garis lurus (ijtimak).

    Begitu kan ya? Saya baru belajar nih soalnya.

    Berarti kedua pendapat tsb, walopun ayat yg dijadikan acuan sama, tapi pemahamannya berbeda.

    Dulu saya gak menerima pendapat pertama, krn sy gak hbs pikir,knp sdh ijtimak kok gak langsung masuk bulan baru. Tp sekarang saya bisa menerima maksudnya. Mungkin pendapat pertama memang benar…

    Tapi, saat ini saya masih sependapat dengan pendapat kedua. Krn saya pikir itu lah maksudnya perintah melihat hilal itu, maksudnya adalah untuk melihat TANDA bahwa bulan telah berputar satu putaran penuh, dan awal bulan terjadi setelah ijtimak.Knp? Krn dari komen2 diatas, yang saya pahami, purnama itu bisa menjadi pengoreksi penentuan awal bulan Qomariah (memang bukan penentu). Saya pikir, bener pendapat mas prasojo, purnama terjadi satu hari satu malam. Kalau bantahan dari mas Nazarudin Ilham, ya jelas aja kalo pindah2 tempat purnama gak akan hilang. Tp kan coba dipikirkan, klo kriteria satu bulan adalah satu putaran bulan mengelilingi bumi, apa garis startnya boleh berubah? Ya gak boleh.. Klo spt itu, garis startnya berubah-ubah, ya bulan akan tetep terus di atas kita. Di sini yg dimaksud mas Prasojo adalah, bulan purnama itu terjadi satu hari satu malam di satu tempat, bukan pindah2 tempat..memang, kalo pindah2 tempat purnama akan terus ada. Tp kan di sini kita berusaha melihat apa benar bulan purnama bisa mengoreksi awal bulan Qomariah. Bukan tentang bulan purnama itu akan ada terus ada apa nggak. Kalo bulan purnama di satu tempat terjadi satu hari satu malam, berarti bisa kan dibuat untuk mengoreksi awal bulan Qomariah? Begitu kan?

    Mohon koreksinya..

  69. Lou, pemahaman saya (sy jg masih belajar), fullmoon itu hanya sesaat (bulan yg benar2 100 persen bulatnya). Bukan sehari semalam, atau 12jam kurang sedikit spt yg dikatakan Pasojo. Menuju ijtimak fase bulan – 0.099 persen. Beberapa saat kemudian 0.000 persen (saat terjadi ijtimak). Beberapa saat kemudian 0.099 persen (hilal positif), lalu 1.xxx, 2,xxx persen.

    Pada saat fasenya sudah 99.999 persen, beberapa saat kemudian fasenya 100.000 persen. Saai ini jerjadi full moon (purnama). Sesaat kemudian fasenya berkurang -99.999 persen, terus turun sampai mencapai 0.000 persen kembali.

    Kalau definisi purnama itu fase bulan yg 100 persen itu, maka purnama itu hanya terjadi sesaat. Akan tetapi fase bulan 99 persenpun, pengamatan mata bulan masih bulat. Makanya ada hadistnya kan bulan purnama (bulan yag terlihat seperti penuh 100 persen) itu pada umur 13, 14, 15 hari. Padahal yg murni 100 persen itu hanya terjadi sesaat saja (orde detik, kalau resolusinya sekian dibelakang koma).

    Mengenai komen anda, purnama disuatu tempat hanya terjadi 1x dalam 1 malam, nah ini tergantung maksudnya. Kalau yg dimaksud purnama murni (fase 100 persen), bisa tidak. Sebagai contoh kalau fase 100 persen itu terjadi jam 12 malam, purnama di atas Kanada, maka negara di balik kanada yaitu inggriss bulan tidak terlihat krn jam 12 siang. Sewaktu malam terjadi di ingriss, fase bulan sdh tidak 100 persen lagi, tapi sdh kurang dr 100 persen. Tetapi di inggriss orang tetap menganggap melihat purnama (walau secara astronomis itu tidak full-moon beneran).

    Jadi fullmoon 100 persen tepat itu hanya terjadi sesaat. Sedangkan fullmoon yg dianggap purnama itu hanyalah persepsi mata. Karena mata tidak dapat membedakan apakah bulan 100 persen murni, atau mendekati 100 persen. Dan persepsi mata terhadap purnama itu bisa terjadi pada umur bulan 13, 14, dan 15 hari. Rasul saw, memerintahkan puasa sunnah ayyamul bidh (puasa tengah bulan) pada tanggale tsb. Karena pada tanggal2 tsb, kalau keluar rumah malam hari “purnama” akan kelihatan sangat indah. (Catatan: purnama dalam tanda petik, karena di ketiga hari itu purnama murni (murni 100persen, atau puncak paling tinggi wilayah bulan dapat tersinari matahari)hanya terjadi sesaat)

    • Nazaruddin Ilham: O gitu. Jadi klo seandainya nih, di Kanada fase 100% tjd jam 12 malam. Kemudian, beberapa waktu kemudian, fase bulan di Inggris (negara di belahan bumi lain) tidak mencapai 100%. Apakah itu berarti ini gak bisa digunakan untuk mengoreksi awal bulan Qomariah? Kan masih bisa kan? Emang ini akan menjadi perdebatan, tapi perdebatannya pasti di seputar kriteria awal bulan itu (apakah awal bulan adalah setelah ijtimak, atokah awal bulan adalah ketika hilal memungkinkan bisa dilihat dari bumi). Bkn perdebatan bahwa dengan purnama hitungan mundur tidak bisa dilakukan untuk mengoreksi awal bulan Qomariah kan?

  70. maaf yang jadi perhatian saya bukan ilmu pengetahuannya, krn menurut saya yang orang awam ilmu pengetahuan hanya bisa dibenarkan dengan bukti2 dan kenyataan yang ada, tapi yang menjadi perhatian saya adalah mental ilmuannya, yang pasti bukan cuma ulama dan ilmuan muhammadiyah yang usang dan goblok, tapi ulama2 dan ilmuan2 di dunia islam dan ilmuan2 di seluruh dunia yang menjaduikan 29 agustus sebagai 1 syawal smuanya goblok, cuma ulama2 dan ilmuan2 indonesia saja yang pintar dan benar, yang paling bagus pemahaman syar’i nya dan yang paling tepat menentukan 1 syawalnya, bukan begitu maksudnya pak TD ?, apakah seperti ini mental ilmuan2 indonesia, jujur saya sangat sedih banget dengan smua pernyataan pak TD !, Anda seperti mewakili kebenaran yang tak terbantahkan di seluruh dunia ini, kalo boleh tanya kenapa nama anda “TOMAS” si pak ?????!!!!!!!!!!!, yang benar2 orang islam saya sarankan untuk keluar dari situs pak TD ini, karna jelas2 ini memecah belah umat, saya takut ada musuh2 islam yang berkepentingan disini !!!!!!!!

    • Maaf, ada beberapa yg mau saya bilang.
      Jangan terlalu fanatik sama ormas, sampai tidak menerima perubahan.
      Dan maaf, saya bukan anggota ormas apapun.
      Dan maaf, kalau anda merasa diri anda pintar, silahkan sampaikan argumentasi dengan benar.
      Dan maaf, anda tau cendekiawan “Syafi’i Antonio”? Namanya ada “Antonio” nya, tapi beliau adalah ahli dalam bidang Ilmu Ekonomi Syariah, dan menjadi narasumber saat Ramadhan kemarin.
      Dan maaf, yang dibahas adalah metode wujudul hilal, coba anda pelajari lagi metode wujudul hilal, bandingkan dengan metode2 yg lain, seperti ijtima’ qoblal ghurub, dan lain2.
      Dan maaf, kelakuan anda tidak lebih dari apa yg anda bilang.

  71. Sibutut, pada saat fase bulan 100 persen (atau berapapun fase tertinggi yg dapat dicapai bulan), ketika itu purnama terjadi. Jika posisi ketika 100 persen itu bulan ada di langit Kanada jam 12 malam, maka pada detik yg sama fase bulan jg 100 persen di Inggris. Tp purnama waktu itu terlihat di Kanada, dan Inggriss tidak terlihat (krn jam 12 siang). Ketika sore, lalu malam di Inggris, purnama akan kelihatan disana, tp tidak fase puncak lagi spt waktu orang Kanada melihat purnama. Terlihat bahwa purnama yg dilihat berbeda fase (dan umurnya), hanya mata tidak bisa membedakan. Inilah yg dimaksud oleh astronom, purnama lebih sukar menentukan batas awal dan akhirnya.

    Kalau bulan baru lebih mudah dan praktis mementukannya, sesuai petunjuk hadis, magrib hari ke 29, jika hilal tidak tampak maka istikmal (genapkan hari di bulan itu jadi 30). Dari fase tampak dan tidak tampak, secara mata lebih mudah judgementnya, dibandingkan judgment bulan purnama, karena mata pasti sukar membedakan, purnama awalnya kapan akhirnya kapan. Bentuk fase bulan 99 persen, 100persen atau -99persen, mata sukar membedakannya. Penggunaan purnama, hanya alat bantu, tp tidak bisa memastikan, spt artikel Mustofa (dri Muhammadiyyah) itu, yg sudah gagah berani menfatwakan yg lebaran 31 agustus, sesat. Astaghfirullah…

    • yang jelaas tidak ada yang pernah menyalahkan pak TD, muhammadiyah pun tidak pernah mengeluarkan stetmen yang memojokkan atau menyalahkan pak TD atau yang berhari raya tnggl 31, kalaupun ada artikel2 itupun cuma sebatas bertahan dari serangan pak TD ataupun hanya mengklarifikasi berita2 yang beredar di media massa, malah sebaliknya sehingga menjadi perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya, harusnya semakin berisi semakin mununduk, ilmuan kok gitu.

    • mas nazar@ kita tidak akan pernah selesai kalo mau membahas ilmu pengetahuan, hanya Allah yang tau yang Hak, Nabi Muhammad diturunkan salah satunya untuk menyempurnakan Akhlak manusia, jadi jangan tertipu dengan orang yang hanya pintar dalam ilmu pengetahuan saja, kita juga harus melihat akhlaknya, jadi mari berbuat baik walaupun dengan musuh kita sendiri !!!!

    • maaf prof, sangat dipahami mengenai penjelasnya. hanya saja yang disayangkan oleh beberapa orang adalah keberpihakan prof secara terbuka dengan cara menyalahkan salah satu ormas. padahal seingat saya, prof sendiri pernah menyatakan bahwa sebagai astronom hanya sekedar menyampaikan berdasarkan ilmu yang dikuasai..
      sehingga penyampaian prof tentang keusangan yg dipakai oleh ormas tersebut dianggap sebagai ketidaknetralan sebagai ilmuwan.., lalu apa yang telah dilakukan prof kita sekarang ??????!!!!!!!!, apakah kata akan memegang orang yang jelas-jelas tidak bisa memegang ucapannya sendiri ??????!!!!!!!, sudah tidak amanah dalam ilmunya.

    • O..begitu..jadi intinya, bulan purnama gak bisa memastikan awal bulan Qomariah. Hanya bisa sebagai alat bantu untuk menentukan kisaran awal bulan baru..Kisarannya saja…

  72. jangan cuma isi otak dengan ilmu tapi hati kosong, tapi isi otak dengan ilmu dan isi hati dengan akhlak, yang merasa orang pinter di sini sebenarnya bodoh !!!!!

  73. untuk prof TD saya mau minta maaf kalo kata2 saya terlalu kasar dan menyinggung perasaan bpk, saya jadi merasa gak enak, maafin saya ya pak, smoga bpk selalu dalam lindungan Allah SWT, amin…..

    • dimaafkan… lah kok saya yang jawab… huehehehe… piss ah…

      • terima kasih mas nazar, smoga anada juga slalu dalam lindungan Allah SWT, mari kita koreksi diri kita masing-masing, mari kita perbaiki akhlak kita agar lebih baik, intinya sampaikanlah kebenaran dan kabar gembira itu dengan CARA YANG BAIK, ajaklah kepada kebaikan tanpa PAKSAAN DAN KEKERASAN, bukankah begitu nilai-nilai yang diajarkam NAbi Muhammad ?, bukan dengan cara mencaci maki kan ?, oke lah kalo begbegbegitu.

      • Amin. Semoga Anda juga dalam lindungan Allah swt.

  74. Nazaruddin@maksud sy begini. Ketika admin akun persyarikatan muhammadiyah merilis status bhw hari senin tgl 12 september 2011 adalah purnama (fullmoon), ada yg menyanggah, katanya : pada hari/tgl itu, saat matahari terbenam, purnama masih di bawah ufuk, sehingga ia berpendapat bhw tgl itu masih tgl 14 (bukan 15 sbgmana ditulis admin), meskipun ia mengakui, kalau fullmoon muncul mulai isya. Alasannya sederhana, saat matahari terbenam, bulan belum muncul. Ia menganalogikan dg ketentuan melihat hilal.

    Ia lupa bahwa saat itu bulan di ufuk timur, jd kalau malam itu muncul fullmoon, jam berapapun bulan muncul pd malam hari, maka malam itu dan esoknya ya tgl 15. Gitu lho…..susah kalau ngomong sama orang lola (loading lambat) hehehe…

    Soal fase bulan fullmoon, saya setuju kalau puncaknya, sekali lagi puncaknya hanya sesaat. Meskipun dmk, andai puncak fullmoon itu pada jam 11 malam, maka sejak muncul di ufuk timur hingga tenggelam di ufuk barat, bulan masih terlihat bulat. Tapi saya yakin, esok malamnya lagi, penampakan bulan sdh mulai soak. anda pun salah dlm menjelaskan, misal di jakarta fullmoon, maka di medan atau aceh juga akan terlihat fullmoon. Iya terang saja, krn jakarta, medan dan aceh masih dlm malam yg sama. Wajar kalau di sana juga fullmoon (bulat). Sy rasa penjelasan sy di awal sdh terang. Tp tdk akan mungkin, 2 malam berturut turut bulan fullmoon. Kalau ini yg terjadi, berarti bulan sempat memperlambat geraknya. Hal yg tak mungkin. Hal yg sama, tanggal 1 atau 2 atau 3 dst juga tak mungkin terjadi 2 malam berturut turut. Soal kenapa sebagian meyakini tgl 13 purnama? Itu karena mereka menetapkan tgl 1 terlambat 2 hari, wajar saja purnama jatuh tgl 13.

    • Pras, mengenai full mon terjadi tg 12 september, semua sepakat. Tapi masalahnya tanggal 12 september itu dihitung 14 syawwal atau 15 syawwal?

      Jadi bukan masalah di 12 Sept, tapi apakah saat purnama itu tgl 14 Syawwal atau 15. Dan ini kan terkait dg penetapan hilal, istikmal atau tidak. Bagi yg istikmal kan 14, bagi yg tidak kan 15. Dan sebagaimana yg dikatakan Prof, purnama itu kan bisa 14 atau 15.

      Lalu masalahnya dimana?

      Yg jadi masalah, karena ada dari Muhammadiyyah sudah memastikan bahwa purnama itu harus hari ke 15 (hitung mundur 15x). Pernyataan konyol ini yg dibantah habis2an oleh orang yg mnegerti ilmu falaq spt Sdr Abdul Muid dari Lajnah Falaqiah NU http://m.kompasiana.com/post/politik/2011/09/15/lha-wong-gitu-aja-kok-kebakaran-jenggot/

      Jadi simple saja sebenarnya. Purnama itu bisa terjadi di hari ke 14, atau 15. Bahkan hitungan Sdr Abdul Muid, di kalender Muhammdiyyah bahkan ada yg terjadi di hari ke 16. Nah loh…

      Saya copas pernyataan Sdr Abdul Muid :”Tolong keyakinan klasik tersebut ditinggalkan (jangan berdalih keyakinan dilindungi negara), karena kenyataannya purnama bisa pada tanggal 16, coba lihat purnama bulan pada bulan Muharrom 1433 H. yang jatuh pada tanggal 15 Muharrom menurut NU dan 16 Muharrom menurut Muhammadiyah, bertepatan dengan tanggal 10 Desember 2011.

      Jadi kesimpulannya bulan purnama itu bisa terjadi di salah satu dari 4 hari, yakni 13, 14, 15 dan 16 bulan qamariyah.”

    • Setubuh ama mas Nazar. ngapain sih mas Pras ngotot purnama harus tanggal 15.

      1. kalender Cina purnama pasti jatuh tanggal 15 atau 16
      2. kalender astronomi umum : purnama jatuh pada tanggal 14, 15 atau 16.
      3. Kalender Islam: purnama jatuh tanggal 13,14 atau 15
      4. kalender buatan ITX purnama jatuh tanggal 1.

      gak ada yg salah khn? semua nurut versinya masing2… kalo orang Cina ya ngikut versi Cina, kalo orang Islam ya mestinya ngikut versi Islam.

      saya tambahi dikit mas-mas. kalo kalender islam koq purnamanya jatuh tanggal 16 itu jelas salah secara syar’i. jadi yang kasus Muharrom 1433 H yang jatuh pada tanggal 16 Muharrom menurut Muhammadiyah bisa dibilang salah menurut kaidah islam, bahasa kerennya tidak syar’i.

  75. Saya yg heran dg pak Prof. Thomas, anda bisa dengan mudah menghitung waktu purnama, anda dg mudah menghitung pergeseran bulan tiap hari. Anda dengan mudah menghitung gerak bulan selama sehari semalam. Tapi giliran menghitung tanggal 1 qomariah, koq anda bingung setengah mati sih? Ada apa denganmu pak? Atau ada siapa di belakangmu pak?

    • Bukan apa2 mas prasodjo, yah kalau inputnya imkanurukyah saja masih sibuk mencari kunci dan kriteria apalagi outputnya, MASIH DLM LAMUNAN mas! Kosong melompong dan bohong2an. Bicara mereka melip2 ilmunya, sing diperjuangkan hanya kebohongan belaka!

    • Saya jg heran dg Prasojo dan Argres, yg anda perjuangkan itu apa ya? Purnama harus di tgl 15 bulan qomariah, begitu?

      Ada apa ini Pras?

  76. Nazaruddin@anda lucu sekali. Lantaran purnama tdk terlihat 5 menit sebelum dan sesudah magrib (katakanlah muncul saat isya) lantas malam itu dianggap bukan purnama??? Wah…..parah. Sekarang saya analogikan begini. Ustad Abu Purnama selalu muncul saat azan magrib dan menjadi imam shalat magrib. Kali ini ustad Abu Purnama muncul saat azan isya (krn sesuatu hal). Pertanyaannya : yang muncul saat azan isya itu apakah harus kita sebut ”ustad Abu Purnama Gadungan”??? Tidak khan?

    Berbeda bulan baru (hilal). Jika tdk terlihat saat magrib, maka sampai menjelang magrib besoknya juga tdk akan terlihat. Ia baru akan terlihat saat magrib esoknya. Makanya dilakukan ‘istikmal’. Beda bung…….

    • Itu hanya sekedar contoh. Malam itu tetap ada purnama. Tp dapatkah dikatakan saat maghrib purnama terlihat? Point saya, bukan ada purnama pada malam itu atau tidak, tapi referensi menghitung mundur itu (hitung mundur 15x) itu dari titik mana? Dari mghrib kah? Dari Isya kah? Perkara purnama ada, yah tetap ada, hanya untuk hitung mundur 15x itu loh, titik referensinya dimana?

      Gitu loh Pras maksud saya.

  77. Maaf OOT
    @All komen yang tidak bermutu
    Sebenarnya diskusi beginian tidak memecah belah umat jika yang berkomentar menjawab ilmu dengan ilmu. sehingga jika ilmu itu lebih baik maka pihak yang kurang akan mengakui kekurangannya ( itu jika yang kurang itu orangnya objektif). tapi akan jadi masalah jika yang berkomentar subjektif, tidak bermutu, tidak mengandung unsur ilmiah, atau dalam hatinya sudah tertanam prasangka buruk sehingga walaupun kebaikannya besar yang dilihatnya selalu banyak keburukannya. jadi tidak usah menuduh-nuduhlah. bantahlah ilmu itu dengan ilmu yang lebih baik jika bisa. jika tidak bisa berkata/membantah dengan baik, lebih baik diam saja. tidak usah komen2 yang tidak bermutu.

  78. Alhamdulillah smuanya sudah mulai tenang, kalian smua adalah saudaraku.

  79. Nazaruddin blm komentari jawabanku. Masih menelusuri di google ya pak?

  80. Imkan rukyat atau apapun istilahnya itu apa juga dikenal oleh astronom Barat? Jangan2 tidak. Nah, kalau begini maka ada dualisme kaidah penetapan bulan baru qomariah menggunakan hisab. Nanti ada juga kimia timur (baca : islam), fisika timur, matematika timur, geografi timur dll. Kimia timur? Lha koq bisa? Ya…maksudnya kimia tanpa alkohol, soalnya alkohol kan dilarang (memabukkan). Matematika timur? Koq bisa? Ya…maksudnya matematika yg berlipat pahalanya, misalnya 2×9 = 27. Geografi timur? Ya…maksudnya kakbah itu juga merupakan kutub utara bumi dan venezuela kutub selatan. Fisika timur? Waduuhh….yg gimana ya? Hehehe……stresss.com

  81. Nazaruddin…sepintas saya tangkap, astronom barat hanya sekedar membantu astronom muslim untuk memadukan hisab rukyat (imkan rukyat), tetapi mereka tidak mendefinisikan bulan baru berdasar imkan rukyat. Adalah wajar sesama ilmuwan saling membantu, apalagi sebagian ummat islam tidak bisa meninggalkan rukyat. Tetapi saya yakin mereka (astronom barat) tetap pada definisinya yaitu hilal di atas ufuk (wujudul hilal). Sekali lagi, astronom barat sekedar membantu karena kebetulan mereka tidak terlalu berkepentingan secara langsung dg kalender hijriyah (baca : penetapan hari hari ibadah islam).

    • Pras, secara logika saja, semestinya urut2annya sbb:

      1. Sebelum islam (zaman babilonia), atau abad sebelum masehi, penentuan awal bulan dari terlihatnya hilal pertama. gak mungkin mereka menghitung ijtimak, karena perhitungan matekatika belum ada.

      2. Zaman Islam: tradisi ru’yah bulan ini dilanjutkan. Jadi penentuan awal bulan dari terlihatnya hilal pertama juga. Dan hisab tidak mungkin dilakukan (dengan teliti) karena belum ada ilmu astronomi yang canggih, belum ada kalkulator.

      3. Zaman kemajuan ilmu komputer. Perhitungan peredaran bulan sudah dapat dikerjakan komputer. Mulai muncul perhitungan2 kapan ijtimak terjadi. Zaman ini lah kemungkinan ada yang menggunakan wujudul hilal.

      4. Zaman sekarang, dengan berkembangnya pengtahuan astronomi, sudah banyak penelitian mengenai kriteria visibilitas hilal pertama. Maka dianjurkanlah gagasan “kriteria baru” dg hisab imkaanur ru’yah

      Proses penetapan kriteria itu, yah dikerjakan bareng lah antara astronom muslim dan astronom barat (non muslim)

      Mengenai pendefinsian bulan baru, berdasarkan terlihatnya hilal pertama (baik terlihat secara fisik, atau secara perhitungan), kalau merujuk kepada beberapa tradisi di agama lain, ditentukan juga dengan hilal pertama (new crescent).

      Mengutip wikipedia:
      …The new moon in its original meaning of first crescent marks the beginning of the month in lunar calendars such as the Muslim calendar, and in lunisolar calendars such as the Hebrew calendar, Hindu calendars, and Buddhist calendar….

      disini dikatakan di kalender yahudi, hindu, budha, penetapan new moon itu dari mark of first crescent (ditandai dg terlihatnya hilal pertama).

  82. NU sudah mau mengalah, Muhammadiyyah masih bertahan:

    http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/10171/Teknologi/Redefinisi_Hilal.html

  83. Hisab imkanur ru’yah adalah jalan tengah antara Ru’yah bil fi’li dengan Hisab wujudul hilal

    http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/19172/Teknologi/Jalan_Tengah_Penyatuan_Awal_Bulan.html

  84. Assalamu ‘alaikum. Pak!
    Saya cukup senang membaca pemikiran bapak dan upaya yang dilakukan dalam rangka menyatukan persepsi kita ttg penetapan awal bulan. Hanya saja saya melihat, hal ini mesti kita bicarakan dg sangat bijak, terlebih ini masih sebatas ranah ijtihad (Benar dapat pahala 2 dan jika salah dapat pahala 1, selagi niat kita benar). Yang mengganjal di hati saya ialah Kenapa hasil dari penetapan awal bulan yang kita lakukan dengan metode imkanur rukyat sering berbeda dari negara-negara Islam lainnya. Apa tidak mungkin justru kriteria kita juga perlu kita kaji keakuratannya. TERIMA KASIH. SEMOGA BAPAK TERUS BERUPAYA KE ARAH PENYATUAN.

    • Pak Ujang, masalahnya adalah masing-masing negara menggunakan metode sendiri-sendiri. Spt Saudi, menggunakan wujudul hilal, tapi keputusan akhir dari konfirmasi ru’yah. Dan penerimaan penglihatan ru’yah terkadang kontroversial.

      Kalau kasus kemaren semestinya di kawasan ASEAN berlebaran tg 31. Karena hilal masih di bawah 2 derajat. Karena sudah ada kesepakatan MABIMS (Mentri Agama Brunei Indonesia Malaysia Singapura) yg mensyaratkan penerimaan persaksian melihat hilal tertolak, jika secara perhitungan hilal kurang dari 2 derajat. Kemaren Malasyia dan Singapura menyalahi kesepakatan Mabims ini. Menag Surya Darma hanya mengatakan menurut kesepakatan Mabims maka 4 negara itu…. bukan mengatakan bahwa Bahwa Malasyia idul fitri 31 Agustus. Kenyataanya negara yg tergabung dalam Mabims ada dua 30 dan 31 Agustus. Yg 31 Agustus Indonesia dan Brunei Darussalam dan yg lainnya 30 Agustus (Malaisya dan Singapura).

      Ada lagi kasus Jepang. Majelis ulama disana sepakat ikut hasil Saudi. Jadi kalau Saudi mutusin tgl 30, mereka ikut tgl 30.

      Jadi beda negara, beda gaya. Kita harus lihat satu persatu, metode yg mereka gunakan.

      Jangankan beda negara, dalam satu negara saja antar ormas beda juga. Contoh: Muhammadiyah dan PERSIS, sama2 pakai hisab wujudul hilal. Tapi kriteria masuknya bulan berbeda. Kalau Muhammadiyyah lebih longgar, selama ada salah satu daerah saja hilal positif (> 0) saat maghrib, maka besoknya idul fitri (jadi kalau Papua negatif, Jakarta negatif, tapi Sabang hilal positif, maka besoknya Lebaran). Sedangkan PERSIS mensyaratkan, SELURUH wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke hilal positif (>0). Oleh karena itu probabilitas PERSIS lebih bareng dengan Pemerintah sedikit lebih tinggi dibandingkan Muhammadiyyah dengan Pemerintah (karena syarat wujudul hilalnya PERSIS lebih ketat, yaitu hilal positif di seluruh wilayah Indonesia). Apalagi sekarang PERSIS sudah berpindah metode dari wujudul hilal ke Imkanur ru’yah, maka probabilitas bareng dengan hasil Pemerintah lebih tinggi lagi.

  85. Pak @Nazarudin , kalau saya lihat ada kekhawatiran dari yang masih menggunakan hisab “non imkanur rukyat”, adanya koreksi terhadap tanggalan yang dibuat ie tgl 30 agustus yg lalu dalam tanggalan lunar yang sudah dihisab adalah tanggal 1 syawal.

    Apa tidak sebaiknya dibuat juga ( saya harapkan disitus ini ), tanggalan versi imkanur rukyat anggaplah kesepakatan diatas empat derajat, yang actualnya dimulai tgl 31 agustus adalah tanggal 1 syawal dst.

    Sehingga dapat dilihat tanggalan versi imkanur rukyat merupakan pilihan tepat ( dengan pembuktian rukyat hilalnya, katakanlah tanggal 28 september nanti merupakan tanggal 1 dzulkaidah apabila dilhat dari posisi bulan sudah diatas empat derajat ).
    alangakah baiknya apabila tanggalan tersebut juga disebtukan ketinggian derjatanya dengan patakan dari daerah aceh dan sumatra

    Sehingga lebih meyakinkan untuk beralih ke tanggalan versi imkanur rukyat. Hal ini merupakan bukti nyata yang dapat dilihat bagi rasa resistensi terhadap metode imkanur rukyat

    CMIIW

    • Pak Ben, atas kebaikan hati Pak Abdul Muid (dari Lajnah Falaqiah NU), bapak bisa cetak kalender sendiri. Mau kalender Muhammadiyyah, kalender Jawa, atau Kalender berbasis imkanur ru’yah. Kalau kalender imkanur ru’yah, jarak hilal dari ufuk bisa diganti (defaultnya 2 derajat). Tahun, kota, dll bisa di pilih. Rumus2 nya pun bisa sama-sama dilihat.

      Saya kutipkan komentar Pak Abdul Muid di kompasiana:

      Untuk memperediksi kalender mulai 1 Januari samapi 31 Desember mulai tahun 1900-tahun 2200 dengan disertai hisab kalender hijriyah Haqiqi, Hisab Urfi, Pranoto Mongso, Hijriyah Samsiyah, gerhana, serta prediksi hari libur nasional bisa di download di:

      http://moeidzahid.site90.net/kalender/kalender_4_beta.rar

      Software tersebut berbasis Excel, tapi mungkin ada sebagian tahun yang masih kacau, sekalian dikoreksi teman-teman

  86. Nazaruddin…..wikipedia tidak menjelaskan secara detil soal ilmu astronomi. Jadi tidak dapat dijadikan sebagai pedoman mutlak. Makanya saya minta pendapat ahli-ahli astronomi dunia. Tolong tunjukkan. Kalau kajian ‘kemungkinan hilal bisa dilihat’ itu iya saya setuju. Tapi saya yakin, mereka tetap berpatokan pada wujudul hilal untuk menetapkan bulan baru. Hanya saja, astronom barat ‘tidak terlalu berkepentingan’ dengan ‘hilal harus terlihat’. Saya sangat yakin, mereka berpedoman kepada wujudul hilal. Menurut saya, lebih baik kita berusaha menciptakan alat yang mampu melihat hilal pada ketinggian di bawah 2 derajat daripada kita menggabungkan hisab-rukyat yang dapat menciptakan wilayah ‘abu-abu’. Wilayah abu-abu itu misalnya, dengan imkan rukyat 2 derajat, akan timbul persoalan jika menurut hisab sudah 2 derajat lebih sedikit (hisab sudah terpenuhi), tetapi tidak ada satupun yang berhasil melihat hilal (rukyat belum terpenuhi). Inilah yang disebut wilayah abu-abu. Inilah yang disebut oleh Prof. Syamsul Anwar sebagai ‘ILUSI’ itu. Jika kriteria imkan rukyat dinaikkan menjadi 4 derajat atau bahkan 6 derajat, maka penganut hisab terlalu banyak mengalah (yang tentunya bertentangan dengan kaidah hisab itu sendiri).

    • Oke Pras, saya selesai sampai disini, karena anda minta pendapat para ahli-ahli astronomi…. sementara saya bukan ahli/pakar, tapi hanya pemerhati/komentator… :)

    • Sedikit komentar mengenai ILUSI imkanur ru’yah yang disampaikan Prof. Syamsul Anwar (ketua Tarjih / Tajdid Muhammadiyyah:

      Kita pakai logika saja:
      1. Hisab wujudul hilal tidak bisa diverifikasi dengan ru’yah mata (jika Muhammadiyyah
      2. Hisab imkanur ru’yah sangat bisa diverifikasi dengan mata, dan kemungkinan hasilnya cocok dengan hasil ru’yah mata sangat besar –> NU, PERSIS, MUI, Pemerintah, LAPAN, dll

      ilusi kan sesuatu yg tidak bisa dibuktikan (tidak bisa diverifikasi)? Jika iya, sekarang, siapa sebenarnya yang ber-ilusi?

      • Dengan editorial lain:

        1. Hisab wujudul hilal tidak memerlukan verifikasi dengan rukyat mata. Posisi bulan bisa diverifikasi kemudian, atau dengan teknologi lebih tinggi.
        2. Hisab imkanur rukyah kemungkinan besar bisa diverifikasi dengan mata, kecuali ketika untuk angka-angka di sekitar batas kriteria. Ketika hasil hisab dengan rukyat berbeda (hilal terlihat meskipun belum memenuhi kriteria), tidak ada cara verifikasi selain mengecek apakah cara rukyat valid atau tidak. Ketika cara rukyat ternyata valid, maka kriteria imkanu rukyat otomatis gugur (perlu revisi).

        Saya justru menemukan bentuk ilusi yang lain dengan editorial di atas.

      • Pak Agus, mengenai wujudul hilal tidak memerlukan verifikasi dg mata, pertanyaan:

        1. Apakah wujudul hilal itu sudah sampai ke level hukum yg bersifat pasti kebenarannya (spt hukum kekekalan energi), atau masih postulat, atau teori?

        2. Bagaimana cara memverifikasi hitungan, benar atau tidaknya?

        3. Jika ternyata tidak cocok, apakah kriterianya yg diubah, atau rumus perhitungannya yg diperbaiki? Bagaimana cara memperbaiki rumus perhitungan itu?

        3.

      • @Nazaruddin Ilham,

        (1) Wujudul hilal dalam versi Muhammadiyah adalah definisi awal bulan berdasar posisi bulan, seperti juga definisi new moon dalam sains. Bukan postulat, juga bukan teori. Bersifat pasti, karena tinggal mengaplikasikan ilmu astronomi untuk definisi ini. Hal ini berbeda dengan hisab imkanu rukyat yang justru kriterianya diturunkan tidak seluruhnya murni dari ilmu pasti.

        (2) Hitungan cocok atau tidaknya bisa koreksi dengan mundah dengan cara mengobservasi posisi bulan dan matahari setiap saat (termasuk beberapa hari sebelum dan sesudah konjungsi (new moon)).

        (3) Kalau perhitungan salah (kemungkinan sangat kecil, karena hanya berhubungan dengan posissi bulan, matahari, dan waktu matahari tenggelam relatif terhadap tempat — sesuatu yang bisa dihitung dengan ketelitian yang cukup tinggi), tinggal mengupdate ilmu astronomi yang ternyata terbukti salah (karena yang salah bukan wujudul hilal itu sendiri).

    • Wah iya betul juga Pak Pasojo ini, ketinggian < 2 derajat akan jadi wilayah abu-abu, sehingga menurut panutannya hanya akan jadi ilusi…

      Betul itu. Setubuh…
      Dan menambahkan sebagaimana sakit, ilusi itu bertingkat-tingkat:
      5 – tidak ilusi
      4 – mendekati tidak ilusi
      3 – ilusi sedang
      2 – ilusi lumayan parah
      1 – ilusi sangat parah
      0 – ilusi akut

      • Dengan sudut pandang yang berbeda, saya juga bisa membuat tingkatan yang berbeda tentang bagaimana awal bulan baru bisa dihitung:

        1. ideal — tepat terjadi pada saat konjugasi (tidak praktis karena awal bulan bisa terjadi kapan saja)
        2. semi ideal — wujudul hilal, saat terbenam matahari bulan sudah diatas ufuk setelah konjugasi
        3. semi-semi ideal — imkanu ryukat ideal, bulan sudah memenuhi kriteria visibilitas tertentu dengan teori ilmu pasti yang bisa divalidasi (mengeliminasi faktor cuaca dan atmosfer bumi serta asumsi bahwa bulan sebagai bola bulat), kriteria tidak berubah
        4. kurang ideal — imkanu rukyat semi-ideal, bulan sudah memenuhi kriteria visibilitas tertentu dengan syarat-syarat yang diturunkan dari hasil observasi masa lalu. kriteria bisa berubah kapan saja sesuai kemajuan teknologi dan hasil observasi
        5. tidak ideal — hilal sudah terlihat dengan mata atau alat (cara Nabi).

        Hayo, mau milih yang mana?

  87. Pak @Nazarudin, terima kasih atas tanggapannya.
    Saya coba kalender tersebut untuk menentukan tanggal satu dzulqaidah, ternyata kedua metode menghasilkan tanggal 29 september 2011 .

    Sedangkan kalau dilihat dari http://aa.usno.navy.mil/cgi-bin/aa_moonphases.pl?year=2011&ZZZ=END
    seharusnya konsitensi metode hisab wujudulhilal menghasilkan tanggal 1 dzulqaidah pada tanggal “28 september 2011″ ( mengingat fase newmoon adalah tanggal 27 september 2011 ).
    Sebagai perbandingan pada agustus yang lalu fase newmoon tanggal 29 agustus 2011, dan MD menetapkan tanggal 30 agustus 2011 adalah 1 syawal ( selang satu hari dari fase newmoon ).

    Apakah saya ada kekeliruan ( CMIIW )

    Mudah mudahan ada kalender Hijri Indonesia yang setiap tanggalnya ada keterangan derajat ketinggian bulan dengan patokan daerah indonesia Barat ie mungkin kota padang atau jakarta

    • Pak Ben, betul, new moon tgl 27 Sep 2011 jam 11:09 UTC, atau jam 18:09 UTC, tapi karena ketika maghrib hilal negatif (dibawah ufuk), makanya kriteria bulan baru Muhammadiyyah tidak terpehuni, sehingga istikmal. Demikian juga dengan NU dan ormas lain, akan istikmal (karena kriteria imkan ru’yah tidak terpenuhi). Jadi bulan baru dihitung tanggal 29 September 2011.

      Mengenai detail dari program Excel tsb jika ada pertanyaan silahkan langsung saja ke pembuatnya http://moeidzahid.site90.net

    • Pak Ben. Yang menarik, perhatikan full moon bulan desember tgl 10 pukul 14:36 UTC atau pukul 21:36 WIB (berarti sudah lepas ‘isya) http://aa.usno.navy.mil/cgi-bin/aa_moonphases.pl?year=2011&ZZZ=END

      Jika pakai kriteria wujudul hilal muhammadiyyah maka tgl 1 muharom jatuh tg 26 Nov 2011, sehingga tanggal 10 Desember itu 15 Muharrom, dan ketika purnama jam 21:36 tgl 10 Des itu sudah masuk 16 Muharrom. Nah loh…

      Kutipannya dari Pak Abdul Muid:

      Mustofa (salah 1 pengurus Muhammadiyyah): Yang jelas, menurut keyakinan saya, tidak akan terjadi Bulan Purnama pada hari ke-16 pada Bulan Kalender Hijriyah.

      Abdul Muid : Tolong keyakinan klasik tersebut ditinggalkan (jangan berdalih keyakinan dilindungi negara), karena kenyataannya purnama bisa pada tanggal 16, coba lihat purnama bulan pada bulan Muharrom 1433 H. yang jatuh pada tanggal 15 Muharrom menurut NU dan 16 Muharrom menurut Muhammadiyah, bertepatan dengan tanggal 10 Desember 2011.

    • Pak Ben: Mudah mudahan ada kalender Hijri Indonesia yang setiap tanggalnya ada keterangan derajat ketinggian bulan dengan patokan daerah indonesia Barat ie mungkin kota padang atau jakarta

      ==>> Ketinggian hilal ketika maghrib ada Pak Ben. Silahkan lihat di Excel itu, dibawah kotak bulan Agustus 2011 (baris 442). Saya masukkan lokasi kota: Surabaya. Maka pada informasi ijtimak dan ketinggian hilal ketika maghrib untuk surabaya sbb (baris 442):

      Tertulis di Excel:

      Ijtimak akhir Romadlon 1432 H. terjadi pada hari Senin Wage 29 Agustus 2011 M. pukul 10:04:39 LT. Umur hilal saat Maghrib (17:28:59) 07:24:20 jam.

      Tinggi hq 1° 59′ 04”

      Azm hl 273° 32′ 48”

      Tinggi mr 1° 39′ 33”

      Azm mt 279° 21′ 40”

      Cahaya 0.32%

      Mukuts 06:38

      Yang jadi patokan adalah Tinggi mr (mar’i) / tinggi terlihat / puncak tertinggi bulan yang dapat di lihat. Disini tinggi mr 1° 39′ 33” < 2° sehingga persaksian hilal ditolak dan bulan romadon di istikmal. Demikian juga dengan kriteria tambahan (umur bulan 7:24:20 jam) secara astronomis masih belum mungkin terlihat.

      Untuk melihat ketinggian hilal di kota lain pada saat maghrib bisa dengan mengganti kota nya (baris 2).

      Wah hebat juga nih Program Excel nya….. Credits to Pak Abdul Muid, yg sdh bersusah payah menyelesaikan program Kalender Super Lengkap ini :)

  88. Nazaruddin…..lihat kembali teks bahasa inggrisnya : in its original meaning….(dalam makna aslinya, maksudnya dalam makna awalnya). Adalah wajar, dulu orang memaknai bulan baru itu memang berdasarkan penglihatan atau penampakan bulan. Itu original meaning (makna asli, awal mulanya). Kalau sekarang, terminologi bulan baru bukan new crescent (yg tampak) lagi. Tetapi cukup wujud. Lah, kalau wujud dan skaligus kelihatan, itu suatu kelebihan tersendiri. Tp prinsipnya cukup wujud. Kelihatan itu hanya sebuah nilai plus.

    • Ok… bisa juga begitu…

    • seharusnya hukum itu jaman dulu sampe sekarang sama. kalo dulu hukumnya “jika melihat bulan” sekarang seharusnya ya masih “jika melihat bulan”. dalam hal ini seharusnya ilmu astronomi menyesuaikan dengan syarat2 syar’i, bukan sebaliknya.

      terminologi bulan baru saat terjadi konjungsi itu adalah syarat secara astronomi umum. syarat secara islam adalah TETAP dan akan selalu TETAP saat new crescent.
      apakah orang cina mengganti syarat pergantian bulannya dengan saat konjungsi?! tidak khan. mereka tetap berpatokan pada first dark moon, dan gak ngikut saat konjungsi tuh.
      mestinya umat muslim juga tetap berpatokan pada syarat2 seperti yg telah ditetapkan oleh Rasul SAW.

      • Calender China berubah-ubah menurut kebutuhan:

        http://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_calendar#History

        Selain itu, dark moon adalah definisi dari bulan yang tidak kelihatan pada saat konjungsi (identik dengan new moon dalam astronomi). Bukankah itu berarti memang konjungsi sebagai acuan utama kalender China modern? Tidak perlu lagi intip-intipan melalui rukyat.

  89. bagaimana pak Nazar?

    • sebenarnya sy tidak antipati dengan wujudul hilal. hanya mengharapkan ormas lain ikut wujudul hilal, energi nya terlalu banyak. kalangan yg pengamal ru’yah pasti akan tetap meru’yah.

      terlalu berat “pengorbanan keyakinan” bagi mereka yg selama ini me-ru’yah, untuk tidak meru’yah lagi dan sekedar percaya dengan perhitungan komputer.

      karena itulah saya mendukung penyamaan kriteria hisab, yaitu kriteria yang “digeser” sedemikian sehingga hasilnya mendekati hasil dari pengamal ru’yah…

      Kalau ditanya: kenapa harus muhammdiyyah yg disuruh mengganti batas-batas perhitugannya? Kenapa yg lain tidak?

      Karena saya percaya: pengamal ru’yah murni akan tetap ada sampai kapanpun (mungkin sampai kiamat?), karena mereka merasa mengamalkan tekstual hadist (asli tradisi zaman Rasul saw, kan dg ru’yah).

      Sedangkan pengamal hisab kan ijtihad abad moderen ini saja (ijtihad dari tekstual hadist). Ijtihad seharusnya lebih flexible untuk diganti (kriteria2nya). Jadi pengamal hisab sudah selayaknya sedikit mengalah kpd pengamal ru’yah, hanya menggeser batas-batas perhitungannya, demi mendekatkan hasilnya kepada pengamal ru’yah.

      Jika pakai wujudul hilal, potensi perbedaan hasil dengan pengamal ru’yah akan sangat besar, dan sangat sulit persatuan itu akan tercapai.

      tapi entahlah… repot kalau sudah ngotot-ototan… saya sudahi komentar ini. Kalau ada yg sngt perlu baru sy komentari, kalau gak sy gak komentar lagi… masalahnya sudah terang benderang… dua duanya ijtihad (wujudul hilal dan imkanur ru’yah). Yang ditunggu adalah SOLUSI.

  90. Pak Nazar…..saya suka beranalogi. Oleh karena itu saya akan beranalogi lagi, untuk membuka wawasan berfikir. Boleh khan?

    Saya coba definisikan ‘matahari tergelincir’ untuk menentukan masuk waktu shalat dzuhur. Tergelincirnya matahari itu seperti apa sih? Mungkin bisa digambarkan seperti ini :
    Kita anggap ada garis imajiner di langit dari utara ke selatan, tepat melewati atas kepala kita. Terus, matahari bergerak dari timur menuju barat dan akan melewati garis imajiner itu. Menurut pemahaman saya, yang dimaksud tergelincir matahari itu apabila sisi lingkaran matahari bagian belakang telah tepat berada di garis imajiner itu. Artinya, seluruh badan matahari telah melewati garis imajiner itu, tanpa harus memperhitungkan jarak minimalnya antara badan matahari bagian belakang dengan garis imajiner. itu yang namanya tergelincir. Kalau sudah ada jarak 2, 3, atau 4 cm (menurut pandangan mata dari bumi), itu sudah lewat dari makna tergelincir.

    Mungkin bisa dianalogikan dengan menggelindingkan bola di atas meja. Bola akan tergelincir jika seluruh badan bola telah tepat melewati sisi meja. Kenapa saya katakan ‘TEPAT’ melewati tepi meja? Karena saat tergelincir, jarak bola dan tepi meja adalah 0 cm. Kalau bagian badan bola masih ada yang di atas meja, bola tidak akan tergelincir (jatuh). Nah, untuk dikatakan tergelincir di atas meja, tidak dipersyaratkan jarak sekian-sekian. Demikian pula untuk matahari tergelincir. Bahkan, secara ekstrim tentu ada yang mengatakan, bahwa matahari tergelincir itu apabila titik pusat matahari telah tepat melewati garis imajiner. Tapi saya lebih setuju kalau seluruh badan matahari telah tepat melewati garis imajiner.

    Ini sekedar share….untuk bisa membayangkan yang namanya bulan baru menurut kaidah astronomis. Persoalan ada yang mempersyaratkan harus terlihat, ya silakan. Adalah wajar, perkembangan ilmu astronomi memang bertahap, tidak langsung seperti sekarang. Dulu orang memang memahami, bulan baru itu dimulai saat terlihat hilal. Benar. Hal ini sesuai dengan definisi atau lebih tepatnya penjelasan seperti yang anda sampaikan :The new moon in its original meaning of first crescent marks the beginning of the month in lunar calendars such as the Muslim calendar, and in lunisolar calendars such as the Hebrew calendar, Hindu calendars, and Buddhist calendar….

    Yang kurang lebih artinya : Bulan baru dalam makna aslinya/mulanya yaitu sabit pertama (hilal) yang menandai permulaan bulan dalam kalender bulan (qomariah) seperti………….

  91. Kalau Rasul saw 15 abad yg lalu memfatwakan “lihatlah hilal”, maka kita umat sekarang memaknai:
    1. Lihat pakai mata, atau
    2. Lihat pakai ilmu

    Lalu ternyata lihat pakai ilmu itu diberi 2 pilihan:
    A. Hasilnya sukar dipastikan cocok dengan 1, atau
    B. Hasilnya kemungkinan besar cocok dengan 1

    Kalaulah ternyata di akhirat Rasul saw menyampaikan “wahai umat Islam, maksudku dg lihatlah bulan itu, kalau ilmu kalian sdh canggih perhitungannya, boleh kalian ru’yah pakai ilmu”. Seandainya, ini yg Rasul saw katakan, maka kelompok yg pakai 2, baik metode A atau B aman.

    Kalau seandainya Rasul saw inginnya 1, maka kita yg pro 2 pilih mana? Kalau saya pilih B. Karena ini pilihan paling aman. Output B ini (kemungkinan sangat besar) sama dg 1, shg persatuan terjaga.

    Dari sini terlihat lebih banyak nilai plusnya pakai metode B.

  92. Pak Nazar…..Wah….anda sudah pinter berandai-andai (beranalogi). Sepertinya ketularan saya. Baguslah….

    Saya mau berandai-andai juga. Andai Rasulullah saw diutus di zaman sekarang ini, tentulah beliau akan memerintahkan pakai hisab. Wujudul hilal lagi. Dan untuk memerintahkan hisab, beliau tdk perlu belajar ilmu falak dulu. Perkataan beliau dibimbing Allah.

    Hadits Nabi yang menyatakan…..”bulan itu segini segini….” maksudnya 29 atau 30 hari, adalah suatu bukti bahwa Nabi sangat ‘fasih’ ilmu astronomi. Tetapi Nabi sangat bijaksana dalam menyampaikan suatu wahyu. Beliau akan mengatakan sesuatu yg bisa dipahami oleh sahabat. Sebab kalau tidak bisa dipahami oleh sahabat, selain membingungkan juga berpotensi membuat sahabat yg masih lemah imannya akan kembali keluar dari islam. Lho..koq jadi berandai-andai terus ya?

    Yang pasti, saya hingga saat ini belum memperoleh definisi bulan baru menurut kaidah ilmu astronomi yang mensyaratkan ‘harus atau diharapkan terlihat’ atau imkan rukyat. Imkan rukyat hanya mungkin tercapai apabila manusia mampu menciptakan teleskop yang mampu melihat hilal di bawah 2 derajat. Dan apabila itu tercapai, praktis sama saja rukyat hilal menjadi tidak penting, karena hasil hisab sudah sama dg hasil rukyat. Artinya, sejak saat itu (saat ditemukannya teleskop yg mampu melihat hilal di bawah 2 derajat) ummat islam sudah cukup menggunakan hisab, dan tidak perlu bercapek ria melakukan rukyat di seluruh provinsi. Jadi, rukyat (dg teleskop super canggih) hanya berfungsi untuk menguji kebenaran hisab (bukan sebaliknya), karena rukyat cukup dilakukan di satu titik lokasi dimana teleskop itu dibangun. Atau di 2 titik lokasi jika pemerintah mampu membeli atau membangun 2 unit teleskop super canggih. Jika ini terjadi, hisab wujudul hilal insya Allah akan selalu sama dg hasil rukyat dg teleskop super canggih itu. Dus sejak saat itu, masyarakat baru mulai sadar bahwa ternyata hisab wujudul hilal itu bukan isapan jempol. Inilah tantangan ummat islam dewasa ini.

    • Ok, menjelang teleskop supercanggih itu ditemukan, adakah solusi lain untuk bersatu? (Atau emang Muhammadiyyah sdh tidak ada keinginan untuk bersatu? Sudah tenang dg ijtihadnya, bodo amat rakyat jadi bingung)

  93. Sudrun….kalau kita yakin masa’ harus mengorbankan keyakinan kita? Memang anda mau mengalah masuk ke agama lain sedang anda meyakini agama yg anda anut paling benar? Tidak khan? Ya….kurang lebih seperti itu. Skali lagi….kurang lebih

    • Ah lebay lah kalau dikatakan sampai ke level keyakinan. Lah muhammadiyyah pakai wujudul hilal dari kapan? Sebelumnya pakai apa? Berobah juga toh?

      Persis sebelumnya wujudul hilal, tahun ini sdh ganti imkanur rukyah. Berobah jg toh? Orang persis tersinggung loh dikatakan Pras ganti agama? Huehehe…

      Dalam hal ijtihadi, perubahan itu niscaya. Justru gak berobah itu jumud namanya, bukan tajdid lagi.

      Imam syafi’i saja merombak fatwa2 nya maka ada istilah qoulun qodiim (fatwa usang) ada qoulun jadiid (fatwa baru). Come on, face the fact. Sampai teleskop supercanggih ditemukan, masak kita ‘uzlah mulu… Apa kata dunia???

      • Dunia mungkin memang sedang tertawa, karena melihat kalender yang diwariskan oleh Nabi Muhammad terlalu banyak membawa masalah. Terus siapa yang mau disalahkan?

  94. Waw, baknya blognya pak djamaludin ramai sekali banget pak komengnya. Boleh dong nekjika disertai penggabungan dalil naqli dan aqlinya dalam setiap pembahasan. I like it. Salam saking Kendal nggih pak.

  95. Sebenarnya jaman nabi lebih sering menggunakan cara yang mana pak?

  96. Nazaruddin….makanya….sepanjang ada yang lebih meyakinkan, wajar toh kita berubah? Tapi sepanjang belum ada yang lebih meyakinkan, masa kita mau berubah ke yang kurang meyakinkan? Ini namanya konyol. Tapi perubahan metode di Muhammadiyah itu bukan bertujuan asal beda dengan ormas lain. Itu tuduhan yang ngawur. Kenapa di Muhammadiyah bisa berbeda? Karena kepengurusan di Muhammadiyah memang silih berganti, jadi pembahasan soal itu terus dilakukan. Bahkan di tradisi Muhammadiyah, keputusan Majlis Tarjih dan Tajdid itu bukan mutlak. Artinya, jika ada warga Muhammadiyah yang bisa menyodorkan dalil yang lebih kuat, keputusan majlis Tarjih akan dikaji kembali dan diputuskan kembali. Itu sesuatu yang lumrah.

    Terus terang….imkan rukyah (katakan 2 – 3 derajat) sampai sekarang belum meyakinkan bagi Muhammadiyah, saya kira. kriteria itu bisa menjadi ILUSI seperti ditulis Prof. Syamsul Anwar, jika berdasar hisab hilal sudah 2,3 derajat tetapi tidak ada yang berhasil melihat hilal. Iya kan? Apa kalau kasusnya seperti ini Ormas penganut imkan rukyah akan menetapkan sebagai bulan baru? Belum tentu. Justru ini akan menjadi perdebatan yang berkepanjangan.

    Atau, jika suatu saat ditemukan teleskop yang mampu meneropong hilal 0,xx – 2 derajat, ternyata imkan rukyat jadi USANG juga khan? ini bukan impian di siang bolong. Dulu, kita tidak bisa melihat di kegelapan malam. Sekarang, dengan bantuan kamera atau alat yang menggunakan inframerah, kegelapan malam bisa dengan mudah ditembus. Itulah makanya saya tetap pada keyakinan, wujudul hilal itu yang paling tepat. Ini bukan soal lebay atau tidak bung……

    • Betul Pras… Kalau ada teleskop itu yg bisa nropong 0.xx derjat, maka betul, kriteria > 2 atau > 4 itu akan menjadi usang (kalau sekarang sih blum usang Pras). Saat alat itu ada, maka kriteria imkanur rukyah diturunkan jadi 0 derajat (namanya juga metode dan kriteria, kudu wajib ngikutin jaman, ngikutin kemajuan teknologi… kita anti jumud lah bro)…

      Tapi kapankah itu Pras…? Kapan alat canggih itu akan datang Pras….? tell me… tell me… (eh… nanya Dora Emon aja kali yah…)

    • kata loe di tradisi Muhammadiyah, keputusan Majlis Tarjih dan Tajdid itu bukan mutlak. Artinya, jika ada warga Muhammadiyah yang bisa menyodorkan dalil yang lebih kuat, keputusan majlis Tarjih akan dikaji kembali dan diputuskan kembali. Itu sesuatu yang lumrah.

      lha kalau pendapatmu ternyata nanti berseberangan dengan “dewa” mu itu, apa kamu nurut? atau tetap NGEYEL

      kalo nurut berarti kamu taqlid sama ormas,dan keyakinanmu payah …
      kalo nentang nanti kamu kualat sama Majlis Tarjih dan Tajdid dan bisa di PHK (kamu makan gaji buta juga kaleee …)

  97. Koreksi postingan sebelumnya di paragraf pertama : Kenapa di Muhammadiyah bisa berubah….(bukan berbeda).

    • Rojer, koreksi diterima.

      Mengenai 2 derajat, ini kan bukan harga mati. Lapan sdh mengumpulkan 300an lebih data2 pengamatan hilal, dan mengusulkan 4 derajat. PERSIS sdh menerima itu. NU bisa diajak ngomong. Muhammadiyyah? Au ah gelap…

      Mengenai ilusi, betul sekali < 2 derajat itu wilayah ilusi. Apalagi 0 derajat, ini ilusi akut.

    • Ini Mas Ahmad yg di Jepang ya? Salam kenal mas. Iya MBN sudah jelas salah tp gak mau ngaku. Ego terlalu tinggi.

      Keep writing mas.

  98. Sudrun….anda nggak tahu arti taklid sih…… Ummat islam di indonesia ini semua taklid. Warga negara taklid sama pemerintah. Warga NU taklid sama PBNU. Warga Muhammadiyah ya taklid sama PP Muhammadiyah doonnkkk…… Yang tidak taklid mungkin cuma Prof. Thomas Djamaluddin. Soale dia pakar astronomi khan…? Jadi bisa menentukan kapan hilal. Lha kalau kita-kita? Alamaaaakkkkk…….

    • Praso Jo Ngeles… , lha apalagi komentarmu yang jauh dari ilmiah dan syar’iyah, siapa yang nurut? paling hanya laku dirumahmu aja (itupun karena terpaksa). ngoceh koq borongan, hampir tiap menit ngomel meluluuu !!!
      aku buka tulisan disana sini pasti orang ini ngomel terus, apa sich maunya.

      setelah ini pasti ngomel lagi.

      • to All, cukup disini I’m sorry & sampai ketemu lagi … saya harus kembali tugas kepedalaman.

  99. Nazaruddin…kapan datangnya teleskop tergantung dg kita2. semakin kita percepat prosesnya semakin cepat terwujud. Anda khan pakar pembuat teleskop? Hehehe……

  100. Kita lihat kenyataan Full Moon 100% (12 September 2011, 16:27 WIB) nya saja…

    Kalender Syawwal 1432 Pemerintah, Full Moon 100% jatuh pada tgl 13 Syawwal…
    Kalender Syawwal 1432 Muhammadiyah, Full Moon 100% jatuh pada tgl 14 Syawwal…

    FullMoon 100% itu… Menurut Ahli Astronomi sendiri… dengan sebulan Lunar lamanya 29,53 hari… akan jatuh pada tgl 14 atau tgl 15 penanggalan Lunar…

    Itu artinya……………………………… Kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah……….. InsyaAlloh sudah Tepat…

    • Kalau full moon tgl 10 Desember 2011 ini gimana Pak Ivan? Apakah wujudul hilal jg sdh “tepat”? Catatan: menurut perhitungan wujudul hilal full moon 10 Desember 2011 ini jatuh tgl 16 muharram.

    • ————————————————-
      @Pa Nazaruddin :
      Kalau full moon tgl 10 Desember 2011 ini gimana Pak Ivan? Apakah wujudul hilal jg sdh “tepat”? Catatan: menurut perhitungan wujudul hilal full moon 10 Desember 2011 ini jatuh tgl 16 muharram.
      ————————————————-

      Dari Hasil penghitungan software Accurate Times – patokan kota Bandung :

      Waktu Konjungsi untuk Muharram 1433 : Jum’at 25 Nopember 2011, jam 13:10 wib
      New Moon : Jum’at 25/11/2011 13:10 wib
      Full Moon : Sabtu 10/12/2011 21:36 wib —————–> malam Ahad 11/12/2011

      Pada Jum’at 25 Nopember 2011 :
      Sunset: 17:55 wib….. Moon Age: +04jam 45menit
      Moonset: 18:02 LT….. Moon Lag Time: +00jam 08menit
      Moon Altitude: +00°:54′:41″….. Moon Azimuth: +247°:55′:47″
      Sun Altitude: -01°:47′:01″….. Sun Azimuth: +248°:52′:45″
      Jadi lama Hilal di atas ufuk, hanya 7 menit… Walaupun begitu, karena Ijtima (Konjungsi) terjadi sebelum Sunset dan Hilal sudah di atas ufuk… maka menurut Kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah besoknya hari Sabtu 26 Nopember 2011 sudah tgl 1 Muharram 1433…

      - Sabtu 26 Nopember 2011 = tgl 1 Muharram 1433 kalender Wujudul Hilal
      - Ahad 11 Desember 2011 = tgl 16 Muharram 1433 kalender Wujudul Hilal

      Pada Sabtu 26 Nopember 2011, Tinggi Hilal sudah sangat tinggi, yaitu 14° lebih… :
      Sunset: 17:55 wib….. Moon Age: +28jam 45menit
      Moonset: 19:05 wib….. Moon Lag Time: +01jam 10menit
      Moon Altitude: +14°:40′:30″….. Moon Azimuth: +248°:27′:31″
      G. Sun Altitude: -01°:47′:02″….. Sun Azimuth: +248°:41′:02″
      Lama Hilal di atas ufuk, 1 jam 10 menit…

      Jadi melihat pada kasus :
      Full Moon Syawwal 1432, kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah “tepat”, kriteria Imkan Rukyat Mabims “tidak tepat”…
      Full Moon Muharram 1433, kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah “tidak tepat”, kriteria Imkan Rukyat Mabims “tepat”…

      Skor nya Draw… :D

      Solusinya dicari Kriteria Pertengahan antara Kriteria Muhammadiyah dengan Kriteria Mabims… :)

      Mungkin Kriteria Muhammadiyah bisa ditambah dengan Moon Age minimal… sehingga Kriteria Penetapan tgl 1 bulan Qomariyah menjadi :

      (1) telah terjadi ijtima (konjungsi)…
      (2) ijtima (konjungsi) terjadi sebelum matahari terbenam
      (3) pada saat matahari terbenam, Bulan (piringan atasnya) di atas ufuk…
      (4) pada saat matahari terbenam, Umur Bulan (Moon Age) minimal 6 jam (misalnya)…

      Moon Age Minimal… mungkin juga bisa diambil dari… berapa lama waktu yang dibutuhkan bulan setelah terjadi Konjungsi… agar bisa mencapai Tingkat Cahaya Bulan yang bisa terlihat mata normal pada kondisi benar-benar gelap ( misalkan tingkat cahaya bulan 1% )…

      Yang penting Solusi Kriteria Baru nya… dengan berpatokan FullMoon 100% terjadi pada tgl 14 atau 15… Kriteria Baru tersebut “tepat” untuk Syawwal 1432 dan Muharram 1433 sebagai Kasus Contoh… :)

  101. Sudrun…kita sama2 ngomel…tenang aja. Sebenarnya debat ini nggak perlu terjadi, cuma kan ada yg mulai. Nggak apa2. Ada manfaatnya koq. Paling tdk, kita belajar berbahasa yg baik dan benar. Kalau isinya mah…nanti dulu. Siapa tau kita2 sedang menghadapi penyusunan skripsi, tesis atau disertasi? Anggap aja latihan menulis dan memantapkan tata bahasa. Bener nggak?

  102. Kini saatnya mohon pamit. Satu pesan saja buat pak Prof, tolong lain kali gunakanlah katak-kata yang bijak. Sebenarnya bapak bisa menyatakan wujudul hilal itu usang dg kalimat santun misalnya : sekarang para ahli sudah beralih ke kriteria imkan rukyat.
    Dengan kalimat seperti itu, pihak yg menganut wujudul hilal akan merasa….”oh…ternyata yg kami gunakan sudah ketinggalan jaman tho”.

    Contoh lain. Misalnya saat kita mengendarai kendaraan, tiba-tiba ada seorang kakek-kakek menyeberang jalan dan karena ia tiba-tiba lari, maka hampir saja kena tabrak kendaraan kita. Saking kesalnya kepada si kakek dan untuk mengatakan ‘tua’, kita tak perlu marah-marah sambil membentak misalnya…..”dasar kakek-kakek uzur, nyeberang jalan aja goblok….”. Mungkin cukup dengan kata-kata….”pak…lain kali kalau mau nyeberang jalan minta dituntun cucunya….”. Mungkin dengan kalimat itu, si kakek akan sadar….”iya ya…aku ini sudah tua…”.

    Orang timur biasanya peka dengan katakanlah sindiran-sindiran seperti itu. Wassalam….

    • Saya selalu menerima semua masukan. Terima kasih. Saya sudah sering berbicara dengan teman-teman Muhammadiyah lebih dari 10 tahun. Bahas saya selalu saya perhalus, antara lain saya katakan, “wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak bisa dibuktikan dengan rukyat”. Tujuan saya, untuk menyatukan hisab dan rukyat. Ajakan untuk beralih ke imkan rukyat sudah sering dilakukan, tetapi mereka selalu menganggap imkan rukyat itu bukan hisab, seolah itu metode rukyat. Kali ini dengan bahasa lugas, bukan kasar, bahwa wujudul hilal itu itu “usang” sudah semestinya diganti.

      • Imkan rukyat ==> SCIENTOLOGY SEKULER. Mau bukti?? Nanti di 2013 pd saat imkan rukyat berbeda dgn mekkah & dunia. Insya Allah akan sy buktikan.., skr momennya sdh lewat bosss
        Bisa direnungkan..

      • Wadowww horror nih, memang 2013 ada kejadian apa Pak Argres?

      • Pak Djamaluddin,

        Saya menduga wujudul hilal memang berawal dari sebuah pendekatan awal terhadap terwujudnya hilal menggunakan parameter posisi bulan (tolong luruskan kalau memang salah). Hanya saja ketika saya membaca pemaparan Pak Syamsul Anwar mengenai alasan Muhammadiyah menggunakan konsep wujudul hilal, yang saya bisa tangkap adalah karena (1) perhitungan berdasar penampakan hilal adalah system kalender yang bermasalah; (2) ijihad bahwa penampakan hilal bukan sesuatu yang mutlak sehigga rukyat bisa ditinggalkan.

        Dengan posisi diatas, apakah hilal bisa dilihat atau tidak bukan hal yang signifikan lagi. Muhammadiyah memposisikan wujudul hilal adalah “metode tengah” antara bulan baru berdasar konjungsi bulan dan matahari (definisi umum dalam sains), dengan bulan baru berdasar “new crescent” (tradisi Nabi). Ketika permasalahan sudah bergeser ke dalam lingkup ijtihad seperti ini, terus terang saya tidak tahu di mana letak kata “usang” yang Pak Djamaluddin pakai bisa dijustifikasikan. Pernyataan “wujudul hilal hanya dalam teori” tidak mempunyai keterkaitan lagi, karena Muhammadiyah menggunakan itu sebagai definisi, bukan sebuah alat untuk mencari visibilitas hilal seperti hisab imkanu rukyat (baca: “teori”).

        http://www.muhammadiyah.or.id/id/artikel-penyatuan-kalender-islam-secara-global-bagai-pungguk-merindukan-bulan–detail-18.html

        Kalau ingin objektif dalam kacamata sains, pemakaian kata “usang” justru lebih tepat ditempelkan terhadap praktek bulan baru berdasar hilal pertama / new crescent (rukyat dan hisab imkanu rukyat), karena memang banyak kalender lunar atau lunisolar yang telah meninggalkan kriteria new crescent dan diganti dengan new moon / dark moon (termasuk kalender agama).

    • Yah Pras,ente cabut? Lapax jadi sepi Pras. BTW, nasehat yang bagus Pras. Jadi bahan renungan jg bagi sy. Tq. (Sesama muslim saling mengingatkan. TOP)

      • “Sabar mbaaah, tunggu tanggal mainnya” kata SBY
        Ngemeng2 boleh minta tolong ya.., begini ceritanya, tetangga sy namanya (kebetulan) mbah udin meninggal dunia kr sakit sepuh. Beliau ini wafat bersamaan dgn hari raya imkanurukyat, tepatnya tgl 31 agt 2011 jam 3.46 WIB.hari rabu legi(jowo). Kasihan, nggak menangi sholat ied imkanu rukyat…
        Boleh minta tolong dihitungkan khoul kedua dari mbah udin(alm) yg kebetulan bersamaan dgn hari raya imkanurukyat?

      • Argres, minta Ki Joko Bodong ngitungin gih

  103. kalau yang komennya ga jelas ga usah diladenin prof…toh mereka juga emosi aja…ga bakal nyambung lah dijelasin model apa pun…lah mereka kerjaannya kan berpegang teguh tanpa mikir (taqlid)…
    biar aja mereka comment prof..cukup tanggapi orang yang memang bertanya untuk kebaikan..bukan bertanya untuk keburukan :)

  104. ya betul itu prof… klu pki pedoman purnama, slt hr raya nunggu purnama saja… hehehe… sy khawatir, mereka yang maksa pki hisab dan meninggalkan rukyat nanti jadi inkar bi sunnah. arti muhammadiyah kan pengikut Nabi Muhammad saw. tapi kok tdk pki cara yang dilakukan Nabi Muhammad dlm berhari raya atau puasa? pengakuan palsu

  105. soal keputusan majlis tarjih thn 2000 tntg hisab yg mengenyampingkan keputusan muktamar muhammadyh thn 1932 tntg rukyat, juga sgt aneh… sbb baru kali ini sy temukan metode tarjih yang mencampakkan hadis-hadis sahih dan memenangkan akal-akal pengurus Muhammadyh. katanya majlis tarjih kembali pada quran dan hadis, tapi nyatanya ini hanya hasil pemikiran usang dan tidak ada dasarnya. tarjih macam apa ini? beginilah kalau orang tidak tahu tntg ilmu ijtihad kemudian mengaku mujtahid. rusak jadinya!!! kalau dalam madzhab syafii semua sepakat pakai rukyat kecuali Ibnu Syuraih. jangan2 majlis tarjih taklid sm ibnu Syuraih?

  106. Purnama bulan bisa terjadi pada tanggal 13, 14,15 dan juga bisa tanggal 16 bulan Hjiriyah. Berikut ini saya saya upload file untuk mengetahui kapan purnama terjadi menurut Imkanur Rukyah maupun Wujudul Hilal. Dengan file ini kita dengan mudah bisa mengetahui kapan terjadinya full moon atau purnama bulan dalam kalender Hjiriyah, baik yang menggunakan keyakinan Wujudul Hilal maupun Imkanur Rukyah.

    Kita tinggal klik tahun yang dikehendaki dan kota yang dimaksud dan batas imkan bagi yang menggunakan imkanur rukyah. Imkanur rukyah bisa di set dari 1 derajat sampai 6 derajat.

    Dengan file ini memudahkan kita dalam berimajinasi tanggal berapa full moon terjadi

    Untuk menggunakannya silahkan download file di link berikut :

    http://moeidzahid.site90.net/software/47_purnama_bulan.xls

    Alternatif download :

    http://www.4shared.com/document/vuP-DFRR/47_purnama_bulan.html

  107. Wah Pak Abdul Muid mampir di lapax ini. Salam hormat suhu!

  108. Purnama memang tdk bisa untuk menentukan awal bulan. Saya setuju. Tapi kalau untuk mengecek kebenaran penetapan tanggal 1 itu bisa banget. Mengapa? Karena purnama itu puncak/tengah bulan. Jadi tidak mungkin purnama jatuh pada tanggal 14 atau 16. Apalagi 13. Memang Nabi secara eksplisit pernah menunjuk demikian. Maknanya apa? Nabi memberi toleransi atas kesalahan perhitungan/pengamatan ummatnya. jika ummatnya keliru menetapkan tanggal 1 (misalnya terlambat 2 hari, ini dimungkinkan pada zaman beberapa tahun pasca Nabi) maka purnama akan jatuh pada tanggal 13. Jika terlambat 1 hari akan jatuh pada tanggal 14. Sebaliknya, jika terlalu cepat 1 hari maka akan jatuh tanggal 16. Namun demikian, yang namanya purnama tetap merupakan puncak/tengah bulan. Jika kita mengetahui bahwa bulan itu umurnya 29 dan 30 hari, maka purnama pasti jatuh pada tanggal 14,5 atau 15. Oleh karena hari tidak mungkin pecahan, maka purnama tetap jatuh pada tanggal 15.

    Sesungguhnya sangat mudah mengetahui puncak purnama. Yaitu dengan mengukur tinggi muka air laut. Pada masa menjelang puncak purnama – purnama – akhir purnama, air laut mengalami apa yang disebut air perbani (air tenang). Pada masa itu, nelayan pada tidak melaut karena hasilnya dipastikan minim sekali. Masa ini biasanya mencapai lebih kurang 5 hari. Cara menentukan puncak purnama, yaitu dengan mengukur tinggi muka air laut. Pada saat muka air laut mencapai tinggi maksimum, itulah puncak purnama. Pengukuran ini dengan catatan, tidak ada hujan baik di kawasan laut maupun di kawasan hulunya. Insyaallah, metode pengukuran ini akurat. Jadi, pakar yang mengatakan purnama sulit ditentukan secara pasti, adalah keliru. Atau yang mengatakan purnama tidak dapat untuk menguji penetapan tanggal 1, juga keliru.

    Sesungguhnya, tiap pergrakan benda2 langit (khususnya bumi dan bulan), itu membawa pengaruh secara langsung di bumi. Orang yang tinggal di tepi pantai, bisa merasakan perubahan cuaca baik pada saat pergantian bulan qomariah ataupun pada saat purnama. Setiap perubahan posisi bulan terhadap bumi, selalu membawa gejala alam yang berbeda. Makanya di Indonesia, masih ada kelompok ummat islam yang menetapkan 1 syawal berdasarkan gejala2 alam yang dirasakannya. Metode ini tidak salah. Akurasi metode ini sangat tergantung dari ketajaman seseorang merasakan perubahan gejala alam, misalnya angin, air laut dan suhu udara. Saya tidak tau persis apakah kajian ilmu astronomi juga sampai pada kajian fenomena alam di bumi (daratan dan lautan) akibat pergerakan bulan. Jika kajian itu dikombinasikan, tentu akan lebih meningkatkan akurasi penetapan bulan baru. Sebagai tambahan wawasan, di antara nelayan kita ada yang mampu mengetahui banyak tidaknya ikan di dalam laut dengan melihat warna air laut. Ketajaman seorang nelayan ini sama dengan ketajaman seorang yang mampu membedakan/merasakan perubahan alam (peralihan bulan qomariah). Mereka tidak mengamalkan ilmu sihir (magic), tetapi mereka mungkin saja melatih kepekaan terhadap perubahan alam. Jadi, penetapan 8ulan baru qomariah itu bukan monopoli astronom saja, tetapi juga ilmuwan hidro-oseanografi. Keduanya tentu sinkron dan sinergis. Mungkin malah lebih banyak lagi ilmu yang terkait.

  109. Kalau semua bisa dijelaskan dengan angka, berarti kita sebenarnya bisa menghitung kapan bulan, matahari dan bumi akan bertabrakan dunk? Yang bikin rumus berarti lebih canggih daripada Al Quran ternyata.. Soalnya saya belum menemukan angka patokan serta toleransi2 yang disebutkan oleh Al Quran. Lha balik lagi, kenapa kita mempeributkan hal-hal seperti ini. Ini masalah agama, bukan politik, kalau agama diatur oleh politik, ya seperti ini kondisinya. Mari kita berkaca, lalu jawab sendiri, IYA atau TIDAK? Ingat bahwa manusia mana pun tidak ada yang tahu apakah dirinya BENAR atau SALAH. Selalu ingat, bahwa yang Maha Tahu adalah Allah…

  110. Begitu senang dan bahagiannya orang-orang Non muslim jika membaca perdebatan ini, saling merasa benar, saling menjelekkan dan saling2 yang lain. Apakah ini perilaku yang dicontohkan Nabi? Boleh menyampaikan pendapat, boleh berbeda pendapat, tapi alangkah indah jika tidak diikuti memojokkan, menyalahkan/menghakimi satu dengan yang lain, kembalikan keyakinan itu pada masing-masing yang menjalani. Bukan begitu Pak Prof Thommas?
    Jangan kita terpancing untuk berdebat kusir, bulan Ramadlan diisi dengan memperbanyak ibadah bukan saling adu argumentasi yang membuat perpecahan umat, boleh berdiskusi tapi bukan diskusi yang contentnya seperti diatas.
    Dan kita berdoa semoga Ulil Amri kita benar2 menjadi ulil amri yang bisa mempersatukan umat sebagaimana yang diteladankan Rasulullah, sehingga ketika suatu kebijakan diputuskan, umat bisa menerima dengan ikhlas dan sami’na wa atho’na, dan semoga ulil amri kita tidak tergoda dengan kemewahan dunia semata….
    Mari saudaraku Se iman, mari perkuat ukhuwah kita, kita hindarkan perpecahan umat, kita diskusi dengan santun dan sesuai tuntunan Rasulullah. Semoga Allah meridloi. Amiin

  111. Reblogged this on Naneyan's Blog.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: