Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan 1422


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

Perbedaan penetapan awal Ramadhan 1422 tidak dapat dihindarkan. Muhammadiyah mengumumkan awal Ramadhan 1422 jatuh pada 16 November 2001. Sementara Persis pada almanaknya menyebutkan awal Ramadhan jatuh pada 17 November 2001. NU akan mendasarkan pada rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) pada 15 November. Bila rukyat berhasil, awal Ramadhan jatuh pada 16 November, tetapi bila rukyat gagal maka awal Ramadhan pada 17 November. Sementara itu pemerintah (Depag) mengumumkan awal Ramadhan  jatuh pada 16 November berdasarkan hisab (perhitungan astronomi) dengan kriteria wujudul hilal (bulan wujudl di atas ufuk).

Perbedaan kriteria menjadi penyebab timbulnya perbedaan awal Ramadhan tersebut. Masing-masing punya alasan yang dianggapnya paling meyakinkan. Tulisan ini akan mengulas dasar penentuan awal Ramadhan dan bagaimana cara menyikapinya.

Beda Kriteria

Kasus perbedaan awal Ramadhan 1422 secara umum disebabkan oleh 3 jenis kriteria yang berbeda yang menghasilkan dua kemungkinan tanggal: 16 atau 17 November 2001. Perbedaan bukan lagi disebabkan oleh beda metode hisab dan rukyatul hilal. Justru yang kini tampak adalah perbedaan di antara sesama pengikut metode hisab. Rukyat bisa sama  hasilnya dengan salah satu dari kedua kriteria hisab tersebut. Mana yang betul? Semuanya betul, karena punya dasar argumentasi. Tergantung pada keyakinan masing-masing mana yang akan diikuti, bukan berdasarkan pada keinginan “cari enaknya”.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan kriteria wujudul hilal. Kriteria itu menyatakan bila bulan lebih lambat terbenamnya daripada matahari, walau hanya berbeda satu menit, maka sejak itu masuk tanggal baru. Kriteria itu digunakan sejak 1969 dan dikukuhkan pada muktamar 2000 lalu.

Analisis hisab global menyatakan garis tanggal wujudul hilal awal Ramadhan melewati Australia, Pasifik, Amerika Utara, Eropa, dan Asia bagian utara. Berdasarkan garis tanggal itu, di sebelah barat garis itu pada saat maghrib 15 November di Indonesia, Asia, Afrika, dan benua Amerika bulan lebih lambat terbenamnya daripada matahari. Itu berarti bulan telah berada di atas ufuk saat maghrib. Berdasarkan garis tanggal itu, di Indonesia Muhammadiyah memutuskan awal Ramadhan jatuh pada 16 November. Karena awal Ramadhan dihitung sejak maghrib, shalat tarawih pertama bagi warga Muhammadiyah dilaksanakan pada malam Jumat.

Sebenarnya kriteria wujudul hilal ini bisa menimbulkan masalah. Sebagai contoh, pada saat maghrib 14 November di Amerika Utara, Eropa, dan Asia bagian Utara bulan telah berada di atas ufuk. Tetapi saat itu  sebenarnya belum terjadi ijtimak, saat bulan dan matahari segaris bujur, awal munculnya sabit secara astronomi.

Hal yang sama mungkin saja suatu saat terjadi di Indonesia saat penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Untuk bulan lain, kasus serupa terjadi di Indonesia pada bulan Rajab 1422 lalu dan Sya’ban 1423 mendatang. Untuk itu Muhammadiyah harus juga memperhitungkan kriteria ijtimak qablal ghurub (ijtimak sebelum maghrib) sebagai kriteria tambahan bagi wujudul hilal. Dua kriteria itu harus digunakan sekaligus. Analisis astronomis menunjukkan bahwa bulan telah wujud di atas ufuk bisa terjadi sebelum terjadinya ijtimak. Sebaliknya di daerah lainnya setelah terjadi ijtimak pun bisa juga bulan belum wujud.

Metode hisab pun digunakan Persis, tetapi dengan kriteria yang berbeda. Persis tampaknya menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkian hilal bisa dirukyat). Berdasarkan pengalaman rukyatul hilal di Indonesia, telah dirumuskan suatu kriteria imkanur rukyat yang juga telah disepakati negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia, dan Singapura). Kriteria imkanur rukyat itu mensyaratkan masuknya tanggal baru bila ketinggian bulan saat maghrib telah 2 derajat atau lebih dan umurnya sejak ijtimak 8 jam atau lebih.

Menurut analisis hisab global, pada saat maghrib 15 November di sebagian besar wilayah Indonesia tinggi bulan telah berada di atas ufuk, tetapi umumnya kurang dari 2 derajat. Ketinggian bulan 2 derajat lebih hanya terjadi di Sumatera. Namun ketinggian 2 derajat belum cukup untuk menyimpulkan awal Ramadhan. Umur bulan pada saat maghrib 15 November tersebut ternyata kurang dari 8 jam, karena ijtimak baru terjadi pukul 13:41 WIB. Maka bisa disimpulkan tidak mungkin ada hilal pada 15 November yang berarti tidak mungkin awal Ramadhan jatuh pada 16 November. Dengan kriteria imkanur rukyat tersebut Persis menyatakan di dalam almanaknya awal Ramadhan jatuh pada 17 November.

PB NU menyatakan akan melakukan rukyatul hilal pada saat maghrib 15 November 2001. Bila ada laporan rukyat yang berhasil, maka mereka akan mengawali Ramadhan pada 16 November 2001. Ketinggian hilal sering kali tidak menjadi pertimbangan. Asalkan saksinya dianggap orang beriman yang bisa dipercaya dan adil, kesaksiannya akan diterima. Contohnya, penetapan awal Dzulhijjan 1422 lalu hanya berdasarkan laporan rukyat di Blitar padahal 70 tempat lainnya melaporkan gagal melihatnya. Tinggi bulan saat itu sangat rendah, hanya sekitar 1 derajat. Menurut kriteria imkanur rukyat semestinya tidak mungkin terlihat, tetapi mereka lebih percaya pada rukyat bil fi’li, daripada argumentasi hisab.

Hal yang perlu dingat adalah cuaca musim hujan saat ini sangat mungkin menggagalkan pengamatan hilal. Bila itu yang terjadi, berdasarkan hadits Nabi, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari yang disebut istikmal. Itu berarti tanggal 16 November dianggap tanggal 30 Sya’ban. Maka dalam hal ini akan diputuskan awal Ramadhan jatuh pada 17 November. Untuk itu warga NU harus menunggu informasi secara seksama pada malam Jumat 15 November dalam ketidakpastian untuk berpuasa 16 November atau 17 November.

Menyikapinya

Allah mengingatkan di dalam Al-Quran, “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS 17:36)”. Uraian di atas diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang sumber perbedaan penentuan awal Ramadhan 1422. Masing-masing punya argumentasinya yang dianggapnya paling kuat. Pilihlah mana yang paling diyakini, yang membuat hati tenang dalam menjalankan ibadah shaum.

Bila khawatir tertinggal Ramadhan dan yakin sependapat dengan argumentasi saudara-saudara dari Muhammadiyah, shaumlah mulai 16 November. Tetapi bila ragu-ragu apakah 16 November telah masuk Ramadhan atau belum, maka janganlah shaum pada hari itu. Nabi melarang berpuasa pada hari yang diangap meragukan (yaumusy syak). Dalam hal ini mantapkan untuk mulai shaum pada 17 November. Namun jangan sekali-sekali beralasan shaum mulai 17 November hanya karena alasan agar shaumnya 29 hari, pilihan yang dianggapnya paling ringan. Walaupun tidak sepenuhnya salah bila memilih yang paling ringan di antara dua pilihan yang sama bobot hukumnya. Nabi juga biasa memilih yang paling ringan bila itu memungkinkan.

Walaupun saat ini semestinya hisab dan rukyat tidak perlu lagi dipermasalahkan, sebab hisabpun sudah sangat akurat, namun masih banyak orang yang lebih memilih rukyat. Apa pun hasilnya, rukyat dianggap yang paling meyakinkan bagi sebagian orang. Bila demikian halnya, maka tunggulah sampai ada keputusan hasil rukyatul hilal pada malam Jumat. Biasanya satu sampai dua jam selepas maghrib informasi itu sudah bisa didapatkan. Adanya fasilitas radio, TV, telepon, dan internet mungkin sangat memudahkan untuk mendapatkan informasi rukyatul hilal tersebut.

Perbedaan awal Ramadhan diharapkan tidak mengurangi kekhusu’an dalam menjalankan ibadah shaum. Masyarakat yang mengawali shaum 16 November semestinya tidak merendahkan mereka yang mengawalinya 17 November dengan menganggap “cari enaknya’. Sebaliknya mereka yang mengawali shaum 17 November bisa menghargai mereka yang bershaum mulai 16 November.

Persatuan dalam menjalankan ibadah memang kita dambakan bersama. Tetapi masih perlu waktu untuk mewujudkannya. Memaksakan kehendak hanya menghasilkan persatuan semu yang mungkin malah bisa menyebabkan pecahnya persaudaraan. Biarlah berbeda pada hal-hal yang tidak bisa dipersatukan, asalkan ukhuwah (persaudaraan) tetap terjaga. Awal Ramadhan berbeda hari, tetapi insya Allah Idul Fitri akan seragam jatuh pada 16 Desember 2001.

Analisis hisab global menunjukkan bahwa pada saat maghrib 15 Desember 2001 di Indonesia tinggi bulan lebih dari 5 derajat. Kriteria dan metode apa pun yang digunakan di Indonesia insya Allah akan menghasilkan kesimpulan yang sama. Muhammadiyah telah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 16 Desember. Demikian juga almanak Persis menunjukkan Idul Fitri jatuh pada 16 Desember. Rukyatul hilal pada 15 Desember oleh warga NU dengan hilal yang cukup tinggi diharapkan berhasil baik sehingga Idul Fitri juga bisa ditetapkan pada 16 Desember.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: