Gerhana Matahari Total Terakhir di Indonesia Sebelum 2016


T. Djamaluddin,  Peneliti  Matahari & Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika 23 Oktober 1995)

Gerhana Matahari maupun gerhana Bulan mempunyai makna tersendiri bagi kehidupan manusia. Orang dahulu menakutinya sehingga muncul berbagai tradisi atau kepercayaan. Ada masyarakat yang mempercayainya sebagai peristiwa bulan/matahari dimakan raksasa hingga orang harus memukul bunyi-bunyian untuk mengusirnya. Sebagian masyarakat juga mempercayai bahwa gerhana berpengaruh buruk hingga wanita hamil perlu bersembunyi. Dan masyarakat Arab dahulu percaya bahwa gerhana itu berkaitan dengan kematian seseorang.

Bagi ummat Islam, peristiwa gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Karenanya peristiwa gerhana mempunyai kekhususan bagi ummat Islam. Bila gerhana terjadi ummat Islam dianjurkan untuk melakukan salat gerhana, satu-satunya salat yang dianjurkan atas suatu kejadian alam. Selain itu, peristiwa gerhana merupakan cara mencocokkan perhitungan perhitungan waktu bagi para ahli hisab. Gerhana matahari sebenarnya merupakan ijtimak yang teramati (observable newmoon) yang amat penting dalam perhitungan kalender Islam. Dalam keadaan biasa ijtimak (segarisnya bulan dan matahari) tidak teramati. Satu-satunya tanda telah tejadi ijtimak adalah teramatinya hilal (bulan sabit pertama) pada saat maghrib. Itulah awal bulan dalam kalender Islam.

Pada 24 Oktober 1995 gerhana matahari total (GMT) kali ini sangat penting bagi Indonesia. Walaupun sangat singkat (hanya dua menit) dan hanya melintasi pulau kecil di ujung utara Indonesia, Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. GMT 1995 ini merupakan GMT yang terakhir yang melintas Indonesia pada abad ke-20 ini. Tidak akan ada GMT yang melintas Indonesia sebelum 2016. GMT baru akan melintasi Indonesia lagi pada 9 Maret 2016 yang merupakan karunia terbesar. GMT 2016 akan melintasi sebagian besar Indonesia: Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Halmahera. Waktunya juga dua kali lebih lama daripada GMT 1995.

LAPAN yang sejak lama melakukan penelitian Matahari tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dengan pengalaman pengamatan GMT 1983 di Cepu dan GMT 1988 di Pulau Bangka, LAPAN menyiapkan tim pengamat GMT 1995 ke Pulau Sangihe.

Di Bawah Bayangan Bulan

Daerah luas mulai dari Iran sampai Lautan Pasifik pada tanggal 24 Oktober akan berada di bawah bayangan bulan. Daerah yang terkena bayangan intinya (umbra) akan mengalami penggelapan sesaat dan akan menyaksikan GMT. Daerah yang terkena bayangan sekunder (penumbra) hanya akan menyaksikan gerhana sebagian.

Jalur yang mengalami GMT adalah Iran, Afganistan, Pakistan, India, Myanmar, Muangthai, Kamboja, Vietnam, Malaysia Timur (Kalimantan utara), dan Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. Wilayah Indonesia lainnya hanya akan menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Di kota Tahuna, ibu kota kepulauan Sangir Talaud itu, GMT hanya akan teramati kurang dari dua menit, sejak 13:13:23 WITA (pukul 13 lebih 13 menit 23 detik) sampai 13:15:15. Namun dengan kesempatan yang singkat itu, bila cuaca cerah, akan dapat diamati peristiwa langka: matahari yang gelap akan dikelilingi “mahkota” korona yang beraneka warna.

Daerah Sulawesi Utara dan Halmahera akan mengalami penggelapan (bagian matahari yang tergelapi) antara 90% – 100%. Wilayah lainnya akan mengalami penggelapan antara 50% – 90% pada sekitar tengah hari (lihat tabel).

———————————————————————————————–

Persentase

penggelapan

Wilayah
90 – 100

80 – 90

70 – 80

60 – 70

50 – 60

———————

Sulawesi Utara dan Halmahera

Kaltim, Sulteng, Maluku Selatan, Irja bagian utara

Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sulsel, Sultra, Irja bagian Selatan

Sumatra bagian utara, NTT

Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB

————————————————————————————————

Kota Gerhana maksimum
Medan

Palembang

Pontianak

Jakarta

Surabaya

Samarinda

Manado

Ujung Pandang

Mataram

Ambon

11.00 WIB

11.26 WIB

11.34 WIB

11.37 WIB

11.54 WIB

12.57 WITA

13:15 WITA

13:09 WITA

13.04 WITA

14:29 WIT

———————————————————————————————–

Penelitian GMT 1995

Pola korana Matahari yang teramati padpai minimum pada 1986 dan maksimum pada 1989. Berarti pada saat GMT 18 Maret 1988 aktivitas Matahari menjelang aktivitas maksimumnya. Hasil pengamatan GMT 1998 yang dilakukan tim LAPAN dari pantai Penyak Pulau Bangka memang menunjukkan pola korona hampir merata di sekeliling Matahari di samping tampaknya dua prominens. Prominens adalah lontaran materi panas dari permukaan matahari yang biasanya muncul pada saat Matahari aktif.

Saat ini aktivitas Matahari sedang minimum yang ditandai sedikitnya atau tidak adanya bintik Matahari atau aktivitas lainnya yang teramati. Maka diperkirakan bentuk korona yang akan teramati pada GMT 24 Oktober mendatang berpola ekuatorial yang menjulur pada arah ekuatornya. Pengamatan pola korona tersebut dan spektroskopi kromosfer Matahari diharapkan dapat dilakukan oleh tim LAPAN. Ini untuk mengembangkan pengetahuan tentang sifat dan perilaku Matahari.

Kadang orang bertanya tentang berbagai pengaruh GMT di Bumi. Tentu saja ada, terutama pada hal-hal yang peka terhadap perubahan cahaya Matahari. Waktu kegelapan sekitar dua menit pada GMT 1995 mungkin tidak akan tampak jelas pengaruhnya. Tetapi bila memperhitungkan pula pengurangan intensitas Matahari pada beberapa fase gerhana sebagian, pengaruh itu mungkin akan tampak. Salah satunya mungkin akan tampak pada perubahan parameter ionosfer yang berpengaruh pada komunikasi radio. Ini menarik untuk diteliti. Adanya stasiun pengamat ionosfer di Manado, Biak, Pontianak, Sumedang, dan Pameungpeuk akan memungkinkan LAPAN meneliti perubahan-perubahan di ionosfer dalam berbagai tingkat penggelapan gerhana sebagian. Gerhana Matahari total 1995, GMT terakhir di Indonesia sebelum 2016, amat berharga untuk diteliti.

Berbahayakah GMT?

GMT 1983 memberikan pelajaran bagi kita bahwa GMT tidak berbahaya. Masyarakat tidak perlu terlalu takut untuk mengamatinya bila tahu cara menikmatinya yang aman. Pada dasarnya radiasi cahaya Matahari pada saat GMT dan di luar GMT sama saja. Tidak ada radiasi berbahaya yang muncul pada saat GMT. Saat yang paling berbahaya hanyalah bila terlalu asik melihat GMT dan tanpa sadar matahari telah muncul, walau masih sedikit. Pupil mata yang membesar pada saat kegelapan GMT dan kuatnya intensitas Matahari bisa menyebabkan cahaya yang menembus mata terlalu berlebihan yang bisa menyebabkan kebutaan.

Berikut ini dua tip penting untuk menikmati GMT.

1.Sebelum fase total gunakan kaca mata GMT. Kaca mata GMT dibuat secara sederhana: biarkan film hitam putih (bukan film warna) tercahayai beberapa saat lalu di “cuci” (dikembangkan). Hasilnya yang seperti klise hitam pekat itu yang dijadikan sebagai “kaca” yang ditempel pada kertas berlubang yang cukup untuk dua mata kita. Emulsi perak pada film hitam putih (yang langka pada film warna) berfungsi untuk menyaring sinar infra merah dan sinar yang menyilaukan dari Matahari. Kerusakan mata terutama akibat kuatnya intensitas cahaya infra merah yang masuk ke mata. Maka film warna tidak aman untuk dibuat sebagai kaca mata GMT.

2. Pada fase total kaca mata GMT harus dilepas untuk menikmati keindahan korona Matahari yang beraneka warna. Tetapi ingat jangan terlalu asik. Ingatlah fase total hanya berlangsung kurang dari dua menit. Setelah satu menit menikmati keindahan korona bersiap lagi dengan kaca mata GMT untuk melindungi mata pada saat matahari mulai tersibak.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 205 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: