Ramadan dan Idul Fitri di Masjid Kobe


T. Djamaluddin, Alumni Kyoto University, Jepang

(Dimuat di Republika, 26 Februari 1995)

Ramadan dan Idul Fitri tahun ini (1995) bagi masyarakat Muslim di daerah Kansai Jepang (Kobe, Osaka, Kyoto) mungkin agak lain. Gempa bumi 17 Januari lalu nampaknya akan mengubah suasana menjadi lain dari biasanya. Buka puasa bersama yang biasanya dilakukan tiap Sabtu secara bergilir antara masyarakat Arab, India – Pakistan, dan Indonesia – Malaysia saya bayangkan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Transportasi menjadi kendala utama, kereta api dan mobil tidak selancar sebelumnya. Seorang teman Jepang yang menelpon belum lama ini mengungkapkan perjalanan dari Osaka ke Kobe yang biasanya ditempuh dengan mobil hanya dalam waktu sekitar satu jam, sekarang perlu waktu tiga jam akibat kemacetan. Kabarnya silaturahim masyarakat Indonesia di Wisma Konsulat Jenderal RI di Kobe untuk tahun ini ditiadakan disebabkan beberapa kesulitan akibat gempa tersebut yang belum pulih seluruhnya.

Berita gempa di Kobe itu mengkhawatirkan saya. Selain keselamatan teman-teman yang baru setahun berpisah, saya mengkhawatirkan keutuhan satu-satunya masjid di Jepang, Masjid Kobe. Dari tayangan televisi yang selalu saya ikuti, daerah Sanomiya di pusat Kobe mengalami rusak berat. Masjid Kobe hanya sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun Sanomiya itu. Dalam tayangan televisi, kuil Ikuta yang biasa terlewati bila akan ke masjid Kobe terlihat runtuh.

Pada awal Ramadan lalu ada telepon dari Sudaryanto (kakak kelas Yudi Syafei, mahasiswa Indonesia yang sempat diberitakan selamat oleh Republika) yang juga punya kekhawatiran besar akan keutuhan masjid Kobe. Alhamdulillah, dia mengabarkan bahwa masjid Kobe utuh. Hanya sedikit bagian hiasan tembok di mihrab yang pecah dan sedikit retak pada bangunan baru di sisinya. Yang agak berat hanya tembok halaman parkir yang runtuh sebagian.

Itulah perlindungan Allah. Bukan hanya masjid yang utuh, kabarnya kantor perdagangan Pak Ahsan Zia, salah seorang penanggung jawab harian masjid Kobe, yang berada di depan masjid juga selamat. Padahal apartemen di belakang kantor itu ada yang rusak berat. Kuil Ikuta yang berjarak sekitar 100 meter di selatan masjid rusak berat. Demikian juga tempat kumpul anak muda urakan di dekat kuil itu runtuh. “Nampaknya gempa itu seperti pembersih tempat itu,” kata Sudaryanto.

Menurut Pak Ahsan Zia beberapa tahun lalu, masjid Kobe juga selamat dari gempuran bom pada perang dunia II. Padahal banyak bangunan di sekitarnya pada waktu itu yang terbakar. Masjid adalah milik Allah. Dia akan melindunginya kalau masjid itu sentiasa dimakmurkan oleh ummat-Nya.

Ramadan tahun ini, walau mungkin tak seramai tahun lalu, nampaknya masjid Kobe tak akan sepi dari jamaahnya. Bagi kebanyakan masyarakat Muslim yang pernah melewatkan Ramadan dan Idul Fitri di daerah Kansai, nama Masjid Kobe pasti akan teringat. Informasi utama tentang awal Ramadan dan Idul Fitri serta jadwal puasa yang biasa di kirim oleh Konsulat Jendral RI bersumber dari Masjid Kobe. Buka puasa bersama juga sering diadakan di masjid Kobe. Dan saat salat Idul Fitri di masjid Kobe merupakan saat berkumpul masyarakat Indonesia di Jepang Barat.

Kenangan Ramadan

Tujuh kali Ramadan saya lewatkan di Jepang. Tahun 1988 saya tiba 8 hari sebelum Ramadan dan tahun 1994 saya pulang ke tanah air 3 hari setelah Ramadan. Ramadan di negeri orang memang lain rasanya, tetapi suasana Ramadan bisa diciptakan di dalam jiwa, terutama bila bila mengikuti buka puasa bersama di Masjid Kobe atau di Muslim Association.

Ramadan pertama di negeri Sakura saya masuki pada musim bunga Sakura. Mahasiswa Indonesia sebagian besar kebetulan tinggal satu lantai di asrama. Di lantai itu juga tinggal mahasiwa dari Malaysia dan Thailand. Mahasiswa Muslim dari Malaysia biasa menyatu dengan mahasiswa Indonesia, termasuk dalam persiapan makan buka dan sahur serta saling membangunkan waktu sahur. Khususnya untuk makan sahur, mahasiswa Indonesia biasa bergantian memasak di dapur asrama, baik berkelompok maupun sendiri-sendiri. Rupanya kebiasa memasak ini menarik perhatian mahasiswa Thailand. Salah seorang teman dari Thailand itu sempat berkomentar, “Mahasiswa Indonesia suka memasak ya …. Tengah malam pun masih ramai memasak….” Oh, rupanya memasak untuk makan sahur merupakan pemandangan aneh bagi mereka. Saya jelaskan bahwa itu hanya ada pada bulan Ramadan, bulan puasa.

Salat tarawih dilaksakan bersama-sama dengan mahasiswa dari negara-negara Muslim lainnya: Suriah, Mesir, Tunisia, Maroko, dan Bangladesh. Imamnya dari suriah. Ada kenangan menarik tentang salat tarawih ini. Mousallam yang menjadi imam bisa membaca surat yang panjang-panjang. Karenanya untuk mencegah kesalahan temannya dari Mesir memegang Al-Qur’an kecil dan mengoreksinya bila imam keliru membaca, walaupun jarang terjadi. Jumlah rakaatnya 11, termasuk witir. Rupanya teman-teman Indonesia tak tahan berlama-lama. Pada hari kedua jumlah jamaah berkurang, sebagian berwitir sendiri di kamar. Kebiasaan tarawih di tanah air yang biasa dengan “menu” surat-surat pendek At-Takatsur sampai An-Nas yang kadang-kadang dengan kecepatan tinggi masih kental melekat.

Tarawih dan salat Idul Fitri di masjid Kobe punya kenangan sendiri. Pada waktu pertama kali salat tarawih di masjid Kobe ada hal yang membuat bingung. Imam Yahya dari Moro (Filipina) kadang-kadang surat yang dibaca berpindah dari satu bagian surat ke bagian surat yang lain dengan diselingi takbir. Akibatnya, karena tak biasa, banyak jamaah yang terkecoh mengira itu takbir untuk ruku. Ternyata setelah jamaah itu ruku, imam melanjutkan membaca surat.

Madzhab Hanafi yang diterapkan di masjid Kobe biasanya dijelaskan terlebih dahulu sebelum salat Idul Fitri. Menurut madzhab Hanafi, pada rakaat pertama takbir tiga kali sebelum membaca Al-Fatihah dan pada rakaat ke dua takbir tiga kali sesudah membaca surat sebelum ruku. Ini berbeda dari madzhab Syafii yang lazim dipakai di Indoensia yang pada rakaat pertama ada tujuh takbir dan pada rakaat ke dua ada lima takbir, semuanya sebelum Al-Fatihah. Jamaah yang tak mendengar atau tak faham penjelasan itu sering terkecoh. Pada rakaat kedua setelah membaca surat imam bertakbir tiga kali. Banyak diantara jamaah yang mengira itu takbir untuk ruku. Tetapi, kok lalu takbir lagi bukan membaca sami’allah. Ini sering menjadi cerita lucu setelah salat, masing-masing bercerita tentang pengalamannya. Yang paling lucu, pernah ada yang biasa salat memejamkan mata dan mengira hanya kesalahan kecil waktu imam membaca takbir bukan sami’allah. Pada saat takbir ke tiga dia bersiap sujud, padahal imam masih tegak berdiri dan baru pada takbir ke empat ruku. Tentu saja dia bingung.

Saat buka puasa bersama di masjid Kobe punya kekhasan. Masjid memang menyediakan makanan buka puasa setiap hari. Tetapi khusus pada hari Sabtu, biasanya diadakan acara buka bersama yang penanggung jawabnya bergiliran di antara masyarakat Muslim di Kobe. Masing-masing menyediakan makanan khasnya. Pada hari sabtu pertama mungkin kita akan merasakan masakan Arab. Pada Sabtu ke dua mungkin masakan Pakisa – India. Dan pada Sabtu yang lain ada masakan Indonesia. Bagi para masyarakat Indonesia yang rindu makanan Indonesia kesempatan ini merupakan kesempatan yang dicari-cari. Makanan itu disiapkan oleh ibu-ibu dari Konsulat Jenderal RI.

Kunjungan ke Kobe pada Ramadan dan Idul Fitri memang merupakan kunjungan berfungsi banyak: salat di Masjid Kobe, bertemu teman-teman yang tinggal di berbagai kota di Jepang Barat, dan merasakan makanan khas Indonesia pada saat buka puasa bersama di masjid atau pada saat silaturrahim di Wisma Konsulat Jendral RI. Yang tak kalah pentingnya adalah belanja di kota Cina yang tak jauh dari masjid Kobe. Bumbu-bumbu (a.l. bawang merah segar, lengkuas, salam, bumbu instant nasi goreng, bumbu sate), buah-buahan tropik dalam kaleng (a.l. rambutan, nangka, nenas) dan sayuran khas daerah tropik (a.l. kangkung, bayam, petai) serta kacang hijau.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: