Evolusi di Alam dan Eksistensi Manusia


T. Djamaluddin, Doktor Astronomi, bekerja di LAPAN Bandung

(Dimuat Pikiran Rakyat  1 Oktober 1996)

(Ilustrasi gambar evolusi dari Bigbang sampai munculnya kehidupan dan kematian bintang — dari internet)

Banyak orang mengenal teori evolusi sebatas kontroversi evolusi manusia dari kera yang banyak ditentang kaum agamawan. Evolusi sebenarnya adalah suatu proses alami dalam waktu sangat panjang yang dipengaruhi banyak faktor lingkungannya. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, evolusi di alam benar adanya. Tidak terbatas pada evolusi hewan, tetapi juga pada seluruh alam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan dalam enam masa menunjukkan adanya proses kejadian yang tidak sekaligus jadi.

Masalahnya, benarkah manusia berasal dari kera? Berdasarkan Al-Quran, kita harus menyatakan bahwa manusia bukan hasil evolusi hewan melainkan diciptakan secara khusus. Tulisan ini mencoba memadukan dalil Al-Quran dengan temuan ilmiah tentang evolusi di alam dan sedikit tentang eksistensi manusia.

Evolusi Alam Semesta

Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) saya menafsirkan enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian.

Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.

Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.

Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya” (Q.S. 79:28)

Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.

Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” pada Q.S. 79:30, “Dan bumi sesudah itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan‑Nya.

Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.

Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, “Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang‑binatang ternakmu”.

Evolusi Kehidupan

Pemikiran tentang adanya evolusi kehidupan didasarkan pada temuan adanya kemiripan antarspesies makhluk hidup. Perbedaan yang sifatnya gradual sangat mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Alasannya, hanya keturunan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang akan mampu bertahan. Walaupun demikian, generasi yang telah beradaptasi dengan segala perubahan fisiknya tetap membawa sifat-sifat pokok dari induknya.

Walaupun diakui masih banyak hal yang sifatnya spekulatif, telah disusun suatu silsilah evolusi yang berawal dari sejenis bakteri yang bersel satu yang hidup sekitar 3,5 milyar tahun lalu. Dari jenis bakteri lahir generasi ganggang yang masih hidup di air. Ganggang hijau sekitar 1 – 2 milyar tahun lalu melahirkan generasi tumbuhan darat. Dari jalur ganggang hijau, sekitar 630 juta tahun lalu, juga lahir generasi hewan tak bertulang belakang.

Pada jalur yang sama dengan kelahiran Echinodermata (a.l. bintang laut) muncul generasi ikan sekitar 500 juta tahun lalu. Jenis ikan osteolepiform yang siripnya mempunyai tulang pada sekitar 400 juta tahun kemudian melahirkan generasi hewan berkaki empat, amfibi dan reptil, termasuk dinosaurus. Kelak dari keluarga dinosaurus pada masa Jurassic (208 – 144 juta tahun lalu) lahir generasi burung.

Jenis reptil mirip mamalia (Synapsida) melahirkan generasi mamalia sekitar 200 juta tahun lalu. Salah satu generasi mamalia adalah primata yang arti asalnya adalah “peringkat pertama”. Pada jalur primata, sekitar 34 juta tahun lalu evolusi keluarga kera berekor berpisah dari keluarga hominoid.

Dalam keluarga hominoid terdapat gibon dan hominid yang mencakup orangutan, gorila, dan simpanse. Hominid berpisah dari gibon sekitar 17 juta tahun lalu. Dalam silsilah evolusi hominid ini makhluk serupa manusia (hominini) dikelompokan pada asal jalur yang sama dengan gorila dan simpanse. Kesamaan genetik antara manusia dengan gorila dan simpanse sangat besar, masing-masing 98,6 % dan 98,8 %, sehingga diduga berasal dari satu jalur evolusi yang mulai berpisah sekitar 5 juta tahun lalu.

Penempatan manusia pada silsilah evolusi seperti itulah yang memicu penolakan pada teori evolusi. Dengan menggunakan dalil naqli dari ayat-ayat Al-Quran, sebenarnya masalah ini mudah diselesaikan tanpa penolakan secara apriori teori yang mencoba menelusur evolusi kehidupan. Menurut saya, teori evolusi tidak bertentangan dengan akidah bila disertai keyakinan bahwa proses itu terjadi menurut sunatullah, bukan proses kebetulan yang meniadakan peran Allah sebagai Rabbul alamin (pencipta dan pemelihara alam).

Eksistensi Manusia

Dalam keyakinan Islam, manusia diciptakan secara khusus untuk menjadi khalifah di bumi (Q.S. 2:29). Proses penciptaan Adam yang berbeda dengan makhluk lainnya disebutkan di dalam Q.S. 3:59 (penciptaannya serupa Nabi Isa dengan ‘kun fayakun’ – ‘jadilah, maka jadilah’) dan Q.S. 32:7-8 (Adam dari tanah, keturunannya dari nuthfah). Kedua ayat itu menunjukkan bahwa Adam tidak diciptakan dari proses biologis perkawinan makhluk lainnya.

Menurut kajian paleoantropologis, setidaknya ada sembilan jenis makhluk serupa manusia: Australopithecus (A.) aferensis, A. africanus, Paranthropus (P.) aethiopicus, P. robustus, P. boisei, Homo (H.) habilis kecil, H. habilis besar, H. erektus, dan H. sapiens. Homo habilis mahir menggunakan alat-alat batu. Homo erektus (manusia purba) sudah mengenal api untuk penghangat dan memasak. Manusia modern yang ada sekarang dikelompokkan sebagai Homo sapiens.

Ada beberapa hipotesis yang berusaha menjelaskan evolusi mereka. Namun semuanya tidak ada kepastian dari jalur mana lahirnya Homo erektus. Yang telah disepakati hanyalah Homo sapiens berasal dari Homo erektus. Ada yang berpendapat Homo habilis cenderung tidak bisa digolongkan sebagai Homo (“manusia”), mungkin jenis paranthropus berotak besar. Kemampuan berbicara Homo habilis belum sempurna. Alat-alat batu yang dihasilkannya pun tidak menunjukkan eksperimen kreatif.

Kalau demikian, yang sudah meyakinkan secara ilmiah sebagai manusia adalah sejak generasi Homo erektus. Ukuran otak yang besar memberikan indikasi kemampuan berpikir yang lebih kuat. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi pun sudah cukup maju. Interaksi sosial mulai tumbuh dan makin kompleks. Kehadirannya berdampak pada berbagai spesies. Binatang buas yang mengancam manusia mungkin termasuk yang diburu demi keselamatan masyarakatnya. Punahnya kucing purba yang buas yang terjadi pada masa Homo erektus diduga berkaitan dengan ulah mereka, bukan karena faktor alam.

Mungkinkah Homo erektus ini yang sudah tersebar dari Afrika, Jawa, sampai China adalah anak cucu Adam yang sulit ditelusur pada silsilah evolusi karena diciptakan Allah secara khusus? Wallahu ‘alam, walaupun kita bisa menduganya ke arah itu.

Yang jelas, anak cucu Adam pun berevolusi. Adanya berbagai ras manusia dengan warna kulit, bentuk dan warna rambut, serta postur tubuh yang berbeda-beda menunjukkan adanya evolusi manusia. Adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggalnya yang berbeda-beda dalam jangka waktu sangat panjang menghasilkan generasi yang beraneka ragam.

Teori pertama menyatakan manusia purba yang telah menyebar ke berbagai wilayah terus berevolusi menurunkan generasi manusia modern. Tetapi menurut teori monogenesis, dari penelusuran perbedaan genetik dan bukti arkeologi, diduga manusia purba (homo erektus) yang sudah tersebar sampai ke China, Jawa, dan Eropa punah. Semakin besar kesamaan genetiknya, diduga berasal dari alur evolusi yang sejalan.

Manusia modern yang kini ada berasal dari sisa manusia purba di Afrika sekitar 100.000 tahun lalu. Manusia di Asia timur dan Pasifik mempunyai kesamaan genetik yang berarti berasal dari alur evolusi yang sama. Secara genetik, sedikit berbeda dengan “induknya” di Afrika dan generasi dari alur yang menuju Eropa.

Catatan:

QS 3:59 semestinya tidak difahami seperti penciptaan makhluk baru. Proses biologis tetap berlangsung, tetapi dengan kekhususan. Seperti Isa a.s. yang tetap dikandung oleh Maryam dan dilahirkan seperti manusia lainnya, walau janinnya bukan hasil perkawinan lazimnya manusia. Adam a.s. pun bisa jadi hanya manusia pilihan dari makhluk biologis yang lahir seperti makhluk lainnya yang berevolusi. Kekhususannya mirip dengan pemilihan Allah menjadikan beberapa manusia pilihan sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Adam a.s. diberikan fasilitas akal dan diberi ilmu (dalam  QS 2:31 Adam diminta ‘mendemonstrasikan’ dihadapan para malaikat  ilmu yang telah diajarkan Allah)  yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya.

Dalam konsep sains, kita rujuk saja dari evolutionary biology. Terkait dengan asbabun nuzul QS 3:59 yang membatasi pada segi ketiadaan “ayah”  (walau saya cenderung memaknai lebih luas, karena tidak eksplisit menyebut itu dan pada ayat bukan ayat hukum, ayat tersebut bukan sekadar menjelaskan masalah yang jadi asbabun nuzul), tidak juga bertentangan bisa kita memadukannya dengan  konsep sains. Bisa jadi Adam a.s. juga serupa Isa a.s. mempunyai ibu, walau tanpa ayah. Tetapi proses biologis (dilahirkan dari rahim seorang makhluk) tetap terjadi. Bukan seperti dibayangkan orang awam seolah Adam diciptakan dari ketiadaan lalu “kun fayakun” tiba-tiba menjelma menjadi Adam.

Allah tidak menjelaskan proses kelahiran Adam, tidak seperti kelahiran Isa dari Maryam. Penjelasan yang sejalan dengan teori evolusi tetapi tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran kira-kira sebagai berikut:
- Allah menciptakan Adam sebagai makhluk yang diberi kekhususan dibandingkan dengan makhluk serupa manusia lainnya, tetapi tetap dilahirkan secara biologis.
- Kekhususan itu bisa dalam makna seperti kelahiran Isa, tanpa ayah, walau tetap mempunyai ibu yang melahirkan.
- Kekhususan yang sudah pasti adalah diberinya akal, kemampuan pengolah informasi (mungkin serupa dengan nabi dan rasul lainnya dengan melalui perantaraan wahyu — ilmu yang bukan dipelajari, tetapi diberikan oleh Allah).
- Hawa pun lahir dalam proses biologis juga, hanya Al-Quran tidak banyak menjelaskan tentang kelahirannya. Hawa pun tampaknya dipersiapkan khusus oleh Allah untuk menjadi istri Adam.
- Dengan ilmu (:wahyu) dari Allah, makhluk beradab lahir dari Adam dan Hawa. Tidak ada lagi perkawinan campuran dengan makhluk serupa manusia yang tidak beradab, bisa juga karena isolasi pemukiman yang diperintahkan Allah untuk menempatinya.  Inikah yang dimaksud “surga/taman” dengan segala fasilitas kemudahan (mirip dengan fasilitas khusus kepada Maryam sebelum melahirkan Isa yang dengan mudahnya memperoleh makanan) — bukan dalam makna “surga” pasca yaumul hisab yang bukan berada di bumi–. Kemudian fasilitas kemudahan itu dicabut Allah dengan diperintahkan Adan dan Hawa turun (menuju derajat yang lebih rendah, tetap di bumi) untuk menghidupi mereka sendiri seperti makhluk bumi lainnya.

Dengan memandang Adam berada dalam rantai evolusi makhluk hidup, bukan berarti menyamakan Adam dengan makhluk serupa manusia lainnya. Tetap ada kekhususan bagi Adam karena Allah telah memuliakannya melebihi makhluk lain yang telah diciptakan-Nya. Menurut saya, keyakinan yang memadukan dengan sains seperti itu tidak bertentangan dengan akidah yang diajarkan oleh Allah di dalam Al-Quran dan Rasul-Nya di dalam Hadits.

Dengan pemahaman ini, kita tidak perlu menolak teori evolusi, suatu produk sains yang didasarkan pada temuan-temuan empirik dan kajian teoritik. Kalau pun akan menolaknya, tolaklah dengan bantahan sains juga yang menunjukkan bukti lain yang lebih kuat. Dalam sains tidak ada teori atau pendapat yang “mutlak benarnya”, tetapi yang ada adalah teori yang dianggap “paling kuat” berdasarkan bukti-bukti sains yang mendukungnya, sebelum ada bukti lain yang menggugurkannya. Perkembangan teori evolusi biologis kini tidak sekadar kajian fosil, tetapi jauh mendalam pada banyak aspek. Bantahan sekelompok orang yang di luar kepakaran sains, cenderung tidak proporsional dan tidak sesuai fakta sains yang berkembang pesat. Janganlah sains dibenturkan dengan aqidah, karena pada dasarnya sains bisa memperkuat aqidah.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: