Cuaca Ekstrem di Eropa Berdampakkah ke Indonesia?

T. Djamaluddin

Peneliti Hubungan Matahari-Bumi

Deputi Sains, LAPAN

(Membawahi Pusat Sains Atmosfer dan Pusat Sains Antariksa)

Gambar  dari http://www.wunderground.com/

Akhir Januari – awal Februari 2012 Eropa dilanda cuaca ekstrem yang sangat dingin. Lebih dari 150 orang meninggal dunia karena kedinginan. Peta suhu pada awal Februari 2012 (peta di atas) menunjukkan banyak wilayah yang suhunya turun 24 derajat dari rata-ratanya, bahkan ada wilayah yang suhunya mencapai jauh di bawah titik beku es, sampai -32 derajat. Banyak orang bertanya, apa yang sesungguhnya terjadi dan apakah cuaca ekstrem di Indonesai terkait juga dengan cuaca ekstrem di Eropa? Ringkasnya, cuaca esktrem di Eropa dipicu oleh fenomena rutin setiap musim dingin, antisiklon (daerah tekanan tinggi) Siberia, tetapi dengan intensitas yang lebih kuat.  Dalam skala global, antisiklon Siberia berhubungan juga dengan aliran angin di Indonesia, tetapi cuaca ekstrem di Indonesia bukan disebabkan oleh antisiklon Siberia. Cuaca ekstrem akhir Januari – awal Februari di Indonesia disebabkan oleh siklon tropis di Selatan Indonesia. Dalam bahasa sederhana, antisiklon terjadi di wilayah musim dingin bermula dari daratan yang relatif dingin dengan tekanan udara tinggi yang menyebabkan embusan angin dingin ke daerah sekitarnya. Sedangkan siklon (badai topan) terjadi di wilayah musim panas bermula di lautan yang relatif lebih hangat dengan tekanan udara rendah yang menyebabkan sedotan angin dari daerah sekitarnya.

(Gambar dari http://weather.cypenv.eu/)

Antisiklon terbentuk di Utara Rusia dari daerah tekanan tinggi di Siberia. Pada awal Februari tekanan udaranya pada setinggi permukaan laut mencapai 1.064 hPa (hektopaskal), dari rata-rata global 1.013 hPa (lihat gambar di atas). Daerah tekanan tinggi dipicu oleh daerah yang relatif dingin di daratan Siberia yang memicu embusan angin dingin ke wilayah Eropa Timur dan sekitarnya. Angin dingin ini bertemu dengan udara lembab dari wilayah Mediterania sekitar Laut Tengah yang memicu turunnya hujan salju yang lebat di Eropa Timur, lalu menyebar hampir ke seluruh Eropa. Embusan angin dari antisiklon Siberia ini juga menghambat angin hangat dari Atlantik. Jadilah Eropa dilanda cuaca ekstrem yang sangat dingin.

Terkaitkah dengan cuaca ekstrem di Indonesia yang ditandai dengan angin kencang di sebagian Sumatera, seluruh Jawa, Nusatenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua pada akhir Januari sampai awal Februari? Dari segi dinamika atmosfernya, antisiklon Siberia dampaknya bisa sampai ke Indonesia, tetapi dengan skala yang sudah melemah. Cuaca ekstrem di Indonesia dipicu oleh mekanisme siklon yang dipicu oleh pembentukan daerah tekanan rendah di Selatan Indonesia. Daerah tekanan rendah yang kemudian tumbuh menjadi badai bersifat menyedot udara di sekitarnya yang kita rasakan sebagai angin kencang. Penelitian oleh Zhang et al. (1997) menunjukkan bahwa antisiklon Siberia berdampak pada embusan angin dingin (cold surge) ke wilayah Cina Selatan. Selanjutnya dari Cina Selatan angin dingin itu bisa menyebar sampai ke wilayah Indonesia.

(Gambar dari Zang et al., 1997)

Untuk lebih mudah menjelaskan  fenomena ekstrem di Eropa dan di Indonesia, coba perhatikan peta global tekanan udara rata-rata dan anomalinya selama Januari 2012:

Terlihat tekanan udara yang tinggi berada di sekitar Rusia dengan tekanan rata-rata sekitar 1.034 hPa (lebih tinggi dari rata-rata 1.013 hPa) dan daerah tekanan rendah terjadi di sekitar Indonesia dengan tekanan rata-rata 1.006 hPa (lebih rendah dari rata-rata). Perbedaan tekanan itulah yang menyebabkan terjadinya angin, yaitu perpindahan udara dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah. Artinya, secara sekilas kita bisa memahami bahwa pada musim dingin angin mengalir dari belahan Utara ke Selatan. Pembelokan angin disebabkan oleh efek koriolis yang terkait dengan rotasi bumi (penjelasannya ada di sini). Dalam kondisi normal, yang terjadi adalah angin pasat biasa saja, di Eropa musim dingin normal dan di Indonesia musim hujan normal. Tetapi, coba perhatikan anomali (penyimpangannya). Tekanan udara di Siberia meningkat 14 hPa dari rata-ratanya, yang terkait dengan munculnya antisiklon Siberia. Sedangkan di Selatan Indonesia tekanan udara turun 2 hPa dari rata-ratanya yang terkait dengan pembentukan siklon tropis. Analisis tekanan udara harian bisa menjelaskan lebih rinci potensi cuaca ekstrem semacam itu. Angin dingin dari Siberia yang memicu embusan angin dingin (cold surge) di Cina Selatan mungkin sedikit kita rasakan di Indonesia dengan udara yang lebih sejuk, tetapi kecepatannya sudah sangat lemah, jadi tidak terkait dengan angin kencang di Indonesia. Angin kencang lebih disebabkan karena adanya sedotan daerah tekanan rendah di Selatan Indonesia.

Ada pendapat yang mengaitkan embusan angin dingin (cold surge) di Cina Selatan yang menyebar ke Indonesia dengan potensi hujan lebat di Indonesia Barat. Saya berpendapat itu belum tentu, karena hujan lebih terkait dengan proses konveksi pembentukan awan, khususnya di zona konvergensi (ITCZ) yang merupakan daerah pertemuan angin dari Utara dan Selatan. Kalau di Selatan Indonesia dalam kondisi normal, tidak ada daerah tekanan rendah, mungkin saja angin hangat yang lembab dari Selatan bertemu dengan angin dingin dari Utara akan memicu pembentukan awan yang lebih efektif sehingga berpotensi terjadi hujan lebat. Pada kasus akhir Januari – awal Februari 2012, adanya daerah tekanan rendah di Selatan Indonesia yang tumbuh menjadi siklon (badai)  tropis Iggy dan di Tenggara Indonesia yang tumbuh menjadi siklon tropis Jasmine, membuyarkan konveksi pembentuk awan hujan sehingga hujan cenderung berkurang. Kajian Zhang et al. (1997) menunjukkan bahwa lemahnya hubungan embusan angin dingin (cold surge) dengan hujan di benua maritim Indonesia, salah satu sebabnya adalah ada faktor dominan lain yang lebih mempengaruhi curah hujan di Indonesia seperti MJO (Madden-Julian Oscillation).

Memahami Badai Tropis, Angin Kencang, dan Puting Beliung

T. Djamaluddin

Peneliti Hubungan Matahari-Bumi, LAPAN

Deputi Sains, LAPAN

(Membawahi Pusat Sains Atmosfer dan Pusat Sains Antariksa)

(Gambar-gambar diambil dari situs www.lapan.go.id, Wikipedia, www.bom.gov.au, dan severe.worldweather.wmo.int/)

Pekan terakhir Januari 2012 sebagian besar wilayah Indonesia dilanda cuaca ekstrem yang dipicu oleh terbentuknya daerah tekanan rendah (tropical low) di Selatan Jawa yang kemudian tumbuh menjadi badai (siklon) tropis Iggy. Pusaran awan di Barat Australia pada citra satelit di atas adalah badai tropis Iggy. Pergerakannya digambarkan pada peta berikut ini:

Badai secara umum dikenal sebagai angin topan, taifun, atau siklon. Bagaimana terbentuknya badai tropis dan kaitannya dengan angin kencang di Indonesia? Ringkasnya, badai tropis terjadi karena adanya daerah tekanan rendah di Selatan atau Utara Indonesia yang memicu pengalihan massa udara dengan kecepatan tinggi ke daerah tekanan rendah itu yang menyebabkan fenomena angin kencang. Badai tropis adalah makna umum yang bermula dari wilayah sekitar daerah tropis, baik di belahan Selatan maupun Utara. Namun dalam konteks musim hujan, fenomena angin kencang terjadi pada kondisi badai tropis di belahan Selatan. Badai tropis di belahan Utara yang terjadi pada saat matahari berada di belahan Utara bisa dijelaskan dengan mekanisme yang sama.

Angin sesungguhnya adalah fenomena pemindahan massa udara dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah.  Pamanasan matahari yang menyebabkan musim panas di belahan Selatan  menyebabkan tekanan udara di belahan bumi Selatan relatif lebih rendah daripada wilayah musim dingin di belahan utara. Maka udara mengalir dari Utara ke Selatan yang kita kenal sebagai angin pasat Asia (monsun Asia) dengan disertai pergeseran zona konvergensi ke Selatan. Zona konvergensi yang dikenal sebagai ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone) merupakan zona pertemuan angin dari Utara dan dari Selatan yang sekaligus merupakan zona pembentukan awan yang sangat intensif. Adanya zona konvergensi (ITCZ) itulah yang menyebabkan Indonesia banyak tertutup awan yang berarti juga banyak hujan. Itulah musim hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, angin pasat Asia kecepatannya tidak terlalu besar, oleh karenanya angin ini dulu banyak dimanfaatkan oleh para pedagang antarbenua.

Badai tropis lazim terjadi pada musim hujan di Indonesia, sekitar Desember – Maret akibat dinamika atmosfer di bumi belahan Selatan, saat matahari berada di Selatan. Bagaimana bisa terjadi? Dalam kondisi tertentu, kenaikan suhu muka laut bisa memicu pembentukan daerah tekanan rendah yang kemudian disertai dengan konveksi (naiknya udara basah yang hangat).  Itulah sebabnya badai hanya terjadi di lautan, walau kadang dalam pergerakannya bisa saja berlanjut ke daratan. Karena ini melibatkan dinamika udara skala regional, maka udara di wilayah sekitarnya juga terpengaruh dengan terjadinga aliran udara secara massif menuju daerah tekanan rendah yang menjadi  titik pusaran tersebut. Itulah yang menyebabkan terjadinya angin kencang di wilayah yang luas. Karena wilayah konvergensi juga berkaitan dengan wilayah pertumbuhan awan yang aktif, maka angin kencang itu sering disertai dengan hujan lebat.  Di daerah pantai, angin kencang bisa menyebabkan gelombang tinggi.

Peta di bawah ini menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut saat terjadinya daerah tekanan rendah di Selatan Jawa sebelah Barat Australia dan pola aliran angin yang membentuk pusaran. Perhatikan, arah anginnya. Efek koriolis menyebabnya angin dari Utara ketika melintasi ekuator di belokkan ke arah Timur. Angin dari Selatan akan dibelokkan ke arah Barat. Hal yang sama terjadi juga pada aliran angin yang menujuk daerah tekanan rendah. Di sekitar daerah tekanan rendah, angin dari Utara di belokkan ke arah Timur dan angin dari arah Selatan di belokkan ke arah Barat. Maka terjadilah pusaran dengan arah searah jarum jam. Grafis mekanisme efek koriolis penyebab pusaran angin dan konveksi di pusat pusaran di tunjukkan juga di bawah ini. Di titik pusaran itu terjadi konveksi yang sangat aktif, massa udara basah yang hangat naik dengan cepat ke atas.

Kalau ada daratan yang dilalui pusaran badai, kerusakan hebat akan terjadi, karena selain pusaran angin yang sangat kencang, aliran udara naik juga akan menarik segala sesuatu yang dilaluinya. Untungnya badai tropis tidak akan pernah mencapai wilayah ekuator. Jadi Indonesia aman dari dampak langsung badai tropis, tetapi tetap akan terdampak oleh angin kencangnya. Mengapa tidak akan pernah mencapai Indonesia? Tidak adanya efek koriolis (gerak melengkung di suatu bidang yang berputar) di daerah ekuator yang menyebabkan pusaran angin tidak terjadi. Itulah sebabnya tidak akan pernah ada bagai tropis yang akan melintasi Indonesia, seperti ditunjukan pada rekam jejak badai 1985 – 2005 berikut ini.

Masyarakat, termasuk media massa sering menyamakan angin kencang dengan puting beliung (angin puyuh).  Angin kencang adalah efek dari terjadinya daerah tekanan rendah di lautan yang tumbuh menjadi badai tropis. Angin kencang cakupan wilayahnya sangat luas dan bisa berlangung berhari-hari. Sedangkan puting beliung bersifat lokal (misalnya satu kampung) dan hanya berlangsung beberapa menit saja. Puting beliung sesungguhnya adalah badai skala kecil (mesocyclone). Kejadian puting beliung bukan di lautan tetapi di daratan dan biasanya terjadi pada musim pancaroba, peralihan musim hujan ke musim kemarau (Maret – Mei) atau peralihan musim kemarau ke musim hujan (September – November). Mekanismenya hampir sama, akibat efek pemanasan dan dinamika atmosfer. Hanya saja, puting beliung dipicu efek pemanasan lokal di daratan. Pusarannya bukan disebabkan efek koriolis, tetapi oleh dinamika atmosfer lokal. Pada musim pancaroba, terjadi peralihan angin dari Selatan ke Utara (Maret – Mei) atau dari Utara ke Selatan (September – November). Pada muism pancaroba itulah distribusi panas di wilayah Indonesia seolah terkungkung di dalam wilayah Indonesa yang memicu temperatur tinggi di beberapa kota.  Pemanasan lokal di wilayah minim pepohonan pada siang hari yang terik disertai dengan dinamika atmosfer lokal sedemikian rupa, maka akan terjadi udara basah yang hangat akan naik cepat membentuk awan hujan yang tebal. Naiknya udara basah dengan cepat bisa mencapai ketinggian beberapa  kilometer yang suhunya mencapai titik beku sehingga sebagian titik-titik air berkondensasi membentuk butiran es. Kajadian selanjutnya adalah adanya angin yang turun dengan cepat disertai dengan hujan lebatdan kadang-kadang disertai juga dengan butiran-butiran es. Naiknya udara dengan cepat disertai dengan pusaran angin yang bersifat lokal itulah yang dinamakan puting beliung. Ini sangat merusak, tetapi bersifat lokal dan waktunya sangat singkat.

Pola angin yang tak teratur pada musim pancaroba di Indonesia

Hujuan es di Bandung Maret 2008 (foto dari http://bandung.detik.com)

Memahami dan Mewaspadai Cuaca Ekstrem saat Musim Hujan di Indonesia

T. Djamaluddin

Deputi Sains LAPAN

(Membawahi Pusat Sains Antariksa dan Sains Atmosfer)

(Gambar-gambar dari www.bmkg.go.id, www.bom.gov.au, dan wiki)

Hujan lebat disertai angin kencang di daratan dan gelombang tinggi di pantai saat ini menjadi kekhawatiran masyarakat.  Banyaknya pohon tumbang dan sejumlah kerusakan lainnya menambah masalah yang lazim terjadi saat musim hujan berupa banjir dan tanah longsor.  Sekitar pekan ke-3 Januari 2012 ini memang wilayah sekitar Sumatera bagian Selatan, Jawa, dan Nusatenggara dilanda angin kencang dengan kecepatan sampai sekitar 60 km/jam (lihat peta angin di atas). Penyebabnya karena adanya daerah tekanan rendah di selatan Jawa. Kita tahu, angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara. Perbedaan tekanan udara yang dipicu terbentuknya wilayah tekanan rendah akan memicu aliran udara dengan kecepatan tinggi dari daerah sekitarnya yang dirasakan sebagai angin kencang. Ini lazim terjadi saat musim hujan di Indonesia. Perlu dibedakan antara angin kencang dengan puting beliung. Puting beliung bersifat sangat lokal akibat dinamika atmosfer lokal yang dipicu efek pemanasan lokal dan umumnya terjadi pada musim pancaroba. Sedangkan angin kencang bersifat regional dan umumnya terjadi pada musim hujan , kadang terjadi juga di beberapa daerah saat musim kemarau dengan sifat angin yang kering.

Memahami suatu fenomena alam secara benar akan sangat membantu dalam melakukan antisipasi potensi bencana dan menghilangkan kesimpangsiuran informasi yang tak jelas. Cuaca ekstrem yang menjadi perhatian masyarakat tersebut sebenarnya merupakan fenomena musiman yang setiap tahun terjadi dengan intensitas bervariasi tergantung efek gabungan yang mempengaruhinya. Musim hujan (dan kemarau serta peralihan di antara keduanya) terjadi karena perubahan pemanasan di permukaan bumi terkait dengan kemiringan sumbu rotasi bumi. Sekitar bulan Desember – Maret posisi matahari berada di belahan Selatan bumi yang mulai bergeser menuju ke utara sehingga wilayah Selatan itulah yang mendapatkan panas yang lebih banyak daripada bagian Utara. Oleh karenanya tekanan udara di belahan Selatan relatif lebih rendah daripada di belahan Utara. Akibatnya, pergerakan angin di sekitar ekuator bergerak ke arah selatan. Akibat perputaran bumi, angin sebelah utara ekuator bergerak dari arah Timur (disebut angin Timur) dan di selatan angin bergerak dari arah Barat (disebut angin Barat) (Lihat peta aliran angin di atas).

Pemanasan matahari secara umum menyebabkan pemanasan  lautan serta pergerakan angin. Pemanasan lautan menyebabkan penguapan yang kemudian terangkat ke atas oleh angin membentuk awan di daerah pertemuan angin dari Selatan dan Utara yang disebut daerah konvergensi. Nah, daerah konvergensi ini bergeser tergantung musimnya yang terkait dengan pergeseran arah angin. Pada sekitar Januari, daerah konvergensi yang disebut ITCZ (Intertropical Convergence Zone: Zona Konvergensi Sekitar Daerah Tropis) berada di belahan Selatan di sekitar wilayah Indonesia. ITCZ itulah yang tampak sebagai gugusan besar awan yang menyebabkan curahan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada musim hujan. Pada musim kemarau ITCZ beralih ke utara, sehingga wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang kering. Dengan mengikuti pergeseran ITCZ, secara umum para peneliti bisa memprakirakan awal musim hujan di Indonesia yang dimulai dari wilayah Sumatera bergeser ke arah Timur dan memprakirakan akhir musim hujan yang dimulai dari Nusa Tenggara Timur bergeser ke Barat.

Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang intensitasnya jauh melebihi rata-ratanya, terutama ditandai dengan curah hujan tinggi dan/atau angin kencang. Bagaimana mewaspadai kondisi cuaca ekstrem tersebut? Potensi bencana akan meningkat kalau ada efek gabungan yang saling menguatkan. Jadi, jangan abaikan peringatan dari BMKG yang tugasnya memberikan informasi cuaca. LAPAN yang terus memantau dan meneliti dinamika atmosfer wilayah Indonesia dan global bisa juga dimintai informasinya. Berikut ini efek gabungan yang perlu diwaspadai:

a. Kecepatan angin lebih dari 30 knots (sekitar 60 km/jam) yang disertai dengan hujan deras berpotensi menyebabkan pohon tumbang atau kerusakan lainnya. Ikuti informasi di situs BMKG , LAPAN, atau Badan Meteorolgi Australia (untuk peta angin dan liputan awan).

b. Kecepatan angin lebih dari 30 knots (sekitar 60 km/jam) yang disertai dengan pasang maksimum berpotensi menyebabkan gelombang tinggi dan banjir rob di pantai yang menggangu aktivitas nelayan, wisata pantai, dan pelabuhan. Pasang maksimum terjadi sekitar bulan baru qamariyah (kalender bulan) dan bulan purnama akibat efek pasang bulan yang diperkuat dengan pasang matahari. Terseretnya beberapa wisatawan di pantai Jawa Timur dan tenggelamnya perahu nelayan di sekitar Lampung awal pekan ini terkait dengan efek gabungan tersebut.

c. Hujan deras disertai dengan pasang maksimum sekitar bulan baru atau purnama berpotensi menyebabkan banjir besar di kota-kota sekitar pantai seperti Jakarta, karena air tidak segera terbuang ke laut.

d. Hujan deras disertai dengan kerusakan lingkungan berpotensi menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang.

Badai Matahari Cukup Kuat yang Pertama pada Siklus 24 Berpotensi Berdampak di Lingkungan Bumi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

(Gambar, video, dan animasi dari link di spaceweather.com dan sidc.oma.be).

Badai matahari pertama yang tergolong cukup kuat berupa ledakan flare berskala M8-9  (ada yang menyebut  M8,3 , M8,7, atau M9, tidak masalah, bisa dilihat dari grafik kekuatan  sinar-X berikut ini) terjadi pada 23 Januari 2012 pukul 03.59 UT (10:59 WIB). Flare yang cukup kuat ini yang pertama kali sejak Mei 2005.  Kelas M sebenarnya tergolong klas menengah, tetapi karena mendekati kelas ekstrem (kelas X), maka dampaknya akan cukup kuat kalau mengarah ke bumi. Flare berasal dari daerah aktif NOAA 1402 berupa bintik matahari besar di kanan atas piringan matahari (gambar bawah) dan tampak sebagai letupan terang (gambar atas).  Pancaran sinar-X yang terekam pada satelit GOES menunjukkan peningkatan tajam sampai kelas M8-9.

Flare ini juga diikuti oleh CME (Coronal Mass Ejection), lontaran massa dari korona matahari, terutama proton dengan kecepatan tinggi, 1400 km/detik. Jadi lontarannya kira-kira menjangkau jarak sepanjang Pulau Jawa hanya dalam waktu satu detik. CME terdeteksi wahana pemantau matahari SOHO pada posisi antara bumi-matahari berjarak 1.500.000  km dari bumi (sekitar 4 kali jarak bumi-bulan). Partikel bermuatan dari matahari itu tampak seperti hujan salju, yang berarti mengarah ke arah bumi. Ini disebut CME halo, karena tampak seperti melingkupi seluruh piringan matahari. Diprakirakan paratikel energetik itu mencapai bumi sekitar 24 Januari malam waktu Indonesia. Apa dampaknya? Badai matahari yang cukup kuat seperti ini berpotensi menggangu operasional satelit, seperti satelit komunikasi. Kalau itu terjadi dan tidak dapat diatasi oleh operator satelitnya, kemungkinan terjadi gangguan pada penggunaan telepon selular, siaran TV, komunikasi data perbankan, dan pengguna lainnya. Tetapi biasanya para operator satelit sudah mengantisipasinya. Dampak lainnya adalah gangguan pada ionosfer yang akan mengganggu komunikasi radio HF/gelombang pendek yang biasa digunakan oleh komunikasi jarak jauh, termasuk oleh siaran radio luar negeri seperti BBC, VOA, atau ABC. Navigasi berbasis satelit seperti GPS juga kemungkinan terganggu akurasinya, jadi jangan terlalu percaya pada posisi yang ditunjukkan GPS (frekuensi tunggal) kalau diduga ionosfer terganggu oleh badai matahari.

(Klik untuk menampikan videonya).

Inilah simulasi pergerakan partikel berenergi tinggi dari matahari setelah terjadi flare 23 Januari lalu. Bumi ditandai dengan titik kuning yang diprakirakan terkena pada 24 Januari malam.

(Klik untuk menampilkan simulasinya).

Tonggak Penyatuan Kalender Hijriyah Telah Dipancangkan, Mari Kita Wujudkan

Pengantar: Ini hanya kompilasi dokumentasi bahwa sebenarnya tonggak-tonggak upaya penyatuan kalender hijriyah di Indonesia sudah dipancangkan. Ada upaya untuk bersatu. Astronomi hanyalah alat yang ditawarkan untuk mempersatukan kalender hijriyah, karena masalahnya adalah masalah teknis kriteria penentuan awal bulan. Fatwa MUI No. 2/2004 memberi jalan untuk mengupayakan penyatuan kriteria itu. Kemudian, atas prakarsa Wapres saat itu (Pak Jusuf Kalla), pada Ramadhan 1428 (2007) dilakukan pertemuan antara Ketua PBNU dan Ketua PP Muhammadiyah. Untuk bahan masukan bagi Wapres, Menteri Agama saat itu (Pak Maftuh Basuni) mengundang saya (T. Djamaluddin) pada 2 Ramadhan 1428 (14 September 2007) menanyakan penyatuan seperti apa yang bisa diupayakan antara Muhammadiyah (berdasarkan hisab) dan NU (berdasarkan rukyat). Saya sarankan untuk mengupayakan penyatuan kriteria hisab rukyat yang merupakan titik temu antara hisab dan rukyat yang juga sudah menjadi rekomendasi fatwa MUI nomor 2/2004. Pertemuan antara Wapres dengan Ketua PP Muhammadiyah dan Ketua PBNU terlaksana pada 24 September 2007 dan disepakati untuk menyamakan persepsi. Kemudian pertemuan itu ditindaklanjuti dengan dua kali pertemuan teknis antara Lajnah Falakiyah PBNU dan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Pertama di PBNU Jakarta dan kedua di PP Muhammadiyah Yogyakarta. Sayang pertemuan teknis ke-3 yang direncanakan di UIN Jakarta belum juga terwujud sehingga tonggak-tonggak yang sudah terpancang itu belum ada tindaklanjutnya. Kita semua bisa mendorong upaya mewujudkan penyatuan kalender hijriyah itu.

Berikut ini dokumentasi fatwa MUI nomor 2/2004 dan laporan situs Muhammadiyah dan NU tentang pertemuan bersama Wapres dan pertemuan teknis di PBNU dan di PP Muhammadiyah.

(Ulasan tentang Fatwa MUI bisa di baca di Fatwa MUI Membuka Jalan Penyatuan Hari Raya)

Wapres Bertemu PBNU dan Muhammadiyah, Upayakan Penyatuan Lebaran
Senin, 24 September 2007 14:54

Jakarta, NU Online
Wakil Presiden M Jusuf Kalla melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dan Ketua Penguru Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin untuk membicarakan penetapan hari raya Idul Fitri.

Pertemuan dilakukan di Kantor Wapres Jakarta, Senin. Sebelumnya Wapres meminta PP Muhammadiyah dan PBNU bisa membicarakan bersama dan mencari titik temu dalam penetapan hari raya Idul Fitri.

Dalam pertemuan tersebut selain Wapres M Jusuf Kalla, juga hadir Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Menteri Agama Mahtuf Basyumi, Mensos Bachtiar Chamsyah serta Quraish Shihab.

Jusuf Kalla berharap agar keseragaman penetapan hari raya ini bisa dilaksanakan mulai Idul Fitri tahun depan karena pada Lebaran kali ini ada kemungkinan perbedaan. Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada 12 Oktober 2007.

Perbedaan penetapan hari raya Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah yang terjadi selama ini dikarenakan perbedaan metode yang digunakan. NU menggunakan metode rukyat atau melihat bulan dengan mata telanjang sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan matematis untuk menetapkan bulan baru tanpa perlu melakukan rukyat sehingga jauh-jauh hari sudah bisa menetapkan kapan lebaran akan tiba. (ant/mkf)

Muhammadiyah-NU Samakan Persepsi Penentuan 1 Syawal 1428 H                           

Miftachul Huda   (muhammadiyah.or.id)

Jakarta – Muhammadiyah dan NU sepakat untuk menyamakan persepsi dalam penentuan hari raya Idul Fitri 1428 H. Hal ini dilakukan dengan harapan agar tidak terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya Idul Fitri 1428 H mendatang. ”Kita sepakat, untuk menyamakan persepsi dalam penentuan 1 Syawal agar tidak terjadi perbedaan,” kata Oman Faturrahman, salah seorang wakil dari PP Muhammadiyah. Komitmen ini sebagaimana tercermin dalam pertemuan antara Muhammadiyah-NU di Istana Wapres pagi ini (24/09/2007) di Jakarta.

Kemarin, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengundang masing-masing pengurus Muhammadiyah dan NU untuk membicarakan penentuan 1 Syawal 1428 H. Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah telah mengeluarkan maklumat yang menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada 12 Oktober 2007. Kemungkinan besar, keputusan Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab ini berbeda dengan keputusan NU yang memakai metode ru’yah.

Hadir dalam pertemuan tersebut para tokoh dari kedua belah pihak. Dari Muhammadiyah diantaranya, Din Syamsuddin, Oman Faturrahman, dan Syamsul Anwar. Sedang dari NU diantaranya, Hasyim Muzadi dan Ghazali Masruri.

Pertemuan tersebut merupakan pertemuan awal yang masih akan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. ”Kita masih akan mengadakan pertemuan kembali dari para alim-ulama dari Muhammadiyah dan NU secara bergulir. Pertama di kantor PB NU dan selanjutnya bergiliran di kantor PP Muhammadiyah,” tambah Oman. []

NU-Muhammadiyah Bertemu Samakan Penentuan Idul Fitri, Besok
Senin, 1 Oktober 2007 19:47

Jakarta, NU Online

Dua organisasi kemasyarakatan Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan menggelar pertemuan untuk membahas penyamaan metode penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Pertemuan yang bakal diikuti ulama falak (ahli ilmu kaji bintang) NU dan ulama hisab Muhmmadiyah itu digelar di Kantor Pengurus Besar NU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (2/10) besok.
“Besok tanggal 2 ada pertemuan ulama falak NU dan ulama hisab Muhammadiyah di kantor PBNU untuk mendekatkan metodologi dalam menentukan awal bulan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, di kantor Center for Dialogue and Corporation Among Civilization di Jl Kemiri, Jakarta, Senin (1/10).
Menurut Din, bila dalam pertemuan tersebut tidak terjadi kesepakatan, maka masyarakat harus saling menghormati satu sama lain. “Perbedaan Idul Fitri yang masih mungkin terjadi perlu diatasi dengan terus menerus mendekatkan metodologi. Namun, bila belum bisa disatukan, mari kita bertoleransi dalam perbedaan,” jelas Din.
Hal yang sama dikatakan Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah NU, KH Ghozalie Masroerie. Menurutnya, pertemuan yang dijadwalkan akan dimulai pada pukul 10.00 WIB itu dilakukan guna menyamakan kriteria antara kedua ormas yang bisa dijadikan landasan bagi penentuan awal bulan Syawal.
Selain itu, katanya, pertemuan tersebut juga diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan landasan baku yang disepakati kedua ormas yang bisa digunakan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah untuk tahun berikutnya, agar tidak ada lagi perbedaan.

“Selama ini ‘kan kita berharap, misal, Ramadhan dan Lebaran harus sama. Tapi kriteria dan landasannya apa, kan tidak ada. Maka dari itu, pertemuan besok diharapkan tercipta sebuah kesepakatan mengenai kriteria dan landasannya itu,” terang Kiai Ghozalie, begitu panggilan akrabnya.

Kiai Ghozalie meminta umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) dan warga Muhammadiyah, bisa bersikap dewasa bila nantinya tidak tercapai kesepakatan tentang penyamaan Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah. “Disikapi secara dewasa. Tidak perlu jadi masalah,” pungkasnya.
Muhammadiyah, melalui metode hisab (perhitungan astronomi) menetapkan 1 Syawal jatuh pada Jumat 12 Oktober 2007. Sementara, NU masih akan menentukannya pada Kamis 11 Oktober 2007 setelah melalui proses rukyat (melihat bulan) dan sidang isbat (penentuan) yang digelar Departemen Agama. Bila pada Kamis itu proses rukyat tidak tercapai, maka NU akan mengikuti keputusan pemerintah. (rif/dtc)

NU dan Muhammadiyah Bersepakat

Macchendra Setyo Atmaja   (muhammadiyah.or.id)

Jakarta- Walaupun dalam hal penetapan hari raya Idul Fitri tidak bersepakat, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam pertemuan silturahmi di Gedung PBNU Jakarta, menyepakati tentang pentingnya rumusan Kalender Hijriyah nasional yang terpisah dengan Kalender Masehi yang ada, hal ini disampaikan wakil sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Susiknan Azhari saat dihubungi muhammadiyah.or.id, Selasa (02/10/2007).

Susiknan Azhari yang ikut dalam rombongan acara silaturahmi ke Gedung PBNU mengungkapkan adanya kesepahaman antara NU dan Muhammadiyah akan pentingnya Kalender Hijriyah, “Dalam pertemuan tadi (kemarin) kita bersepakat mengenai pentingnya Kalender Hijriyah Nasional, dan mungkin hal tersebut akan kita bahas lagi pada pertemuan lanjutan sesudah Lebaran nanti,” ungkap Siknan. Lebih lanjut menurut Susiknan, pada prinsipnya NU dan Muhammadiyah punya itikad untuk menyatukan perbedaan, hanya saja menurutnya, perbedaan Madzhab menjadi hal yang mempunyai porsi yang banyak untuk dibicarakan. “Untuk mendekatkan perbedaan yang ada, Muhammadiyah dan NU juga bersepakat akan terus megadakan dialog sebagai upaya penyatuan tadi, dan saya kira ini adalah sinyal positif,” ungkap Siknan.

Pada pertemuan silturahmi antara NU dan Muhammdiyah kemarin menurut Siknan, berlangsung dalam suasanan yang cair, NU dan Muhammadiyah saling bertukar informasi mengenai metode yang dipakai masing-masing. “Pak Maftuh (Menteri Agama RI) juga mengapresiasi pertemuan ini, menurut beliau pertemuan ini merupakan langkah maju dan beliau bangga terhadap hal ini,” ungkap Siknan (mac)

Syamsul: “Perlu Mengalah Untuk Ummat”                                 

 Machhendra Setyo Atmaja   (muhammadiyah.or.id)

 

Majlelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dan Lajnah Falakiyah Nadhatul Ulama berfoto bersama setelah acara

Yogyakarta- Sudah saatnya NU dan Muhammadiyah mengalah untuk ummat, sehingga harus ada kesepakatan bersama agar ummat tidak lagi bingung akibat keputusan yang dihasilkan, perlu ada penyatuan kalender Hijriyah yang dapat jadi pedoman seluruh ummat Islam dunia, demikian disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) muhammadiyah Syamsul Anwar, di sesi akhir acara Pertemuan Pembahasan Awal Bulan Qomariyah PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama di Gedung PP Muhammadiyah jln Cik Di Tiro, Yogyakarta, Kamis (06/12/2007).

Syamsul mengungkapkan, sangat penting untuk mempunyai Kalender bersama yang berlaku secara Internasional, “Ummat Islam telah sekitar 14 abad eksis di dunia, tetapi sampai setua itu tidak pernah mempunyai kesamaan Kalender yang diterapkan secara Internasional, untuk itu sudah saatnya kini kita memikirkan ummat secara keseluruhan dengan membikin Kalender Bersama yang berlaku secara Internasional,” ungkapnya. Lebih lanjut menurut Syamsul, dalam penentuan metode untuk menyusul Kalender bersama memang paling mudah menggunakan metode hisab, karena apabila menggunakan rukyat, harus menunggu dalam melihat hilal satu hari atau dua hari sebelum hari H. Tetapi menurut Syamsul, perlu dipelajari lagi untuk mendekatkan metode hisab dan rukyat, sehingga mungkin ada jalan kompromi di dalamnya. Sedangkan dari pihak NU melalui Slamet Hambali mengatakan, sudah bukan saatnya lagi NU dan Muhammadiyah bertahan pada argumentasinya masing-masing, menurutnya apabila semuanya bertahan pada argumentasi masing-masing, maka tidak akan pernah ketemu pada satu jalan, “Pada dasarnya NU juga menerima perubahan, inni hal yang cukup menarik, walaupun belum satu kata,” ungkapnya.

 Menurut Symsul Anwar, pada pertemuan ini disepakati untuk mengadakan pertemuan lanjutan yang akan lebih dalam mengulas masalah penyatuan Kalender  yang rencananya diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. “Dengan pertemuan ini dan selanjutnya saya harap dapat lebih dalam membahas metode, dan tentu saja di sisi lain mungkin juga membahas masalah-masalah lain, sehingga dengan demikian isu tentang NU dan Muhammadiyah yang tidak bisa bertemu tidak diperdebatkan lagi,” terangnya. (mac)

Kritik Pakar Astronomi Muslim dari Timur Tengah dan Amerika atas Penetapan Idul Fitri 1432 dan Penggunaan Wujudul Hilal

Pengantar: Dua puluh lima pakar astronomi Muslim dari Timur Tengah dan Amerika Serikat menandatangani komunike yang mengkritik penentuan Idul Fitri 1432 pada 30 Agustus, sekaligus mengkritik wujudul hilal. Komunike asli berbahasa Inggris, silakan klik link berikut ini. Versi bahasa Indonesia terjemahan T. Djamaluddin.

Communiqué from Muslim Astronomers regarding the “sighting” of the crescent of Eid-ul-Fitr 1432

Komunike dari astronom Muslim (dan anggota Komite Ilmiah ICOP – Islamic Crescents’ Observation Project ) mengenai “ketampakan” Hilal Idul Fitri 1432

Keputusan oleh otoritas di Arab Saudi, Mesir, dan Aljazair untuk mengumumkan Idul Fitri pada 30 Agustus 1432 (2011) telah  menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Memang, seminggu sebelumnya, 22 astronom Muslim dan para ahli telah merilis sebuah komunike yang menyatakan bahwa ketampakan bulan sabit pada hari Senin Agustus / 29 Ramadhan tidak akan mungkin, dan begitu pula sejumlah individu dan lembaga astronomi lainnya.

Sebagai astronom muslim (sebagian besar dari kami adalah profesor universitas yang telah menerbitkan makalah pada jurnal internasional) dan sebagai sebuah komite ilmiah formal ICOP (lembaga khusus internasional yang menangani masalah ini), kami melihatnya sebagai tugas kami untuk mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan ini dengan cara yang baik dan obyektif. Kami juga ingin mengatakan, bahwa astronom amatir sering memiliki keterampilan tinggi dan pengalaman dan kadang-kadang membuat penemuan yang dipuji dan diadopsi oleh para astronom, karena langit terbuka untuk semua serta instrumen canggih dan teknik telah tersedia dengan  biaya murah, oleh karena itu adalah salah dan tidak adil untuk menggambarkan orang dengan sebutan “amatir” seolah-olah tidak berkemampuan.

Tanggung jawab moral dan agama menuntun kami untuk menyajikan fakta-fakta yang  jelas untuk semua orang yang mencari kebenaran obyektif. Memang, kami mengatakan dengan keras dan jelas: bulan sabit tidak bisa dilihat dari negara-negara Islam pada malam itu, baik dengan mata telanjang maupun dengan teleskop.

Sekarang, kami ingin menekankan bahwa kritik kami bukan pada fakta bahwa Idul Fitri diumumkan pada 30 Agustus, itu bukan urusan kami sebagai astronom Idul Fitri pada hari Selasa (30) atau Rabu (31), karena yang keputusan demikian adalah hak prerogatif dari lembaga yang berwenang untuk itu, dan masing-masing mendasarkan keputusannya pada beberapa prinsipfiqii. Memang, ada beberapa pilihan yang tersedia untuk fuqaha (ahli hukum Islam) pada hari Senin 29, sebagaimana kami jelaskan secara singkat di bawah ini. Masalahnya dan kritik kami hanya karena fuqaha menyerahkan hak prerogatif ilmiah kepada diri mereka sendiri untuk memutuskan apa hilal bisa atau tidak bisa dilihat. Ini adalah murni masalah astronomi. Sebagai fuqaha mereka tidak mengizinkan para astronom atau pakar di bidang lain untuk berbicara tentang urusan agama. Kami tidak mengerti bagaimana mereka bersikeras (dan terus melakukannya dalam artikel yang mereka terbitkan sendiri) memutuskan sendiri bahwa hilal ini dapat atau tidak dapat terlihat.

Kami rangkumkan  sangat singkat fakta-fakta astronomi yang berkaitan dengan 29 Ramadhan/Agustus: di belahan utara negara-negara Islam  (lebih utara dari Riyadh, secara umum), bulan terbenam sebelum matahari; di belahan  selatan, bulan terbenam setelah matahari tetapi dengan beda waktu yang sangat singkat (kurang dari 10 menit, dan di banyak tempat kurang dari 5 menit, padahal rekor dunia beda waktu terlihatnya hilal terlihat oleh mata telanjang adalah 29 menit, dan dengan teleskop 20 menit), sehingga hilal  tidak bisa dilihat di semua daerah tersebut dalam berbagai kondisi. Visibilitas hanya mungkin oleh teleskop di Afrika Selatan, dan dengan mata telanjang di bagian Selatan benua Amerika.

Oleh karena itu, fuqaha punya 3 pilihan yang  ilmiah dan mengikuti syar’i:

  1. Untuk mendasarkan diri pada keberadaan  (bukan ketampakan) bulan di langit pada ketinggian tertentu pada suatu lokasi dan memutuskan awal Syawal pada Selasa 30, ini adalah prinsip kriteria yang digunakan oleh negara-negara seperti Turki dan Malaysia.
  2. Untuk menerima kemungkinan ketampakan (imkan al-ru’yah) dari hilal di Afrika Selatan atau Amerika Selatan, baik menunggu konfirmasi ketampakan atau tidak, kemudian memutuskan Idul Fitri untuk Selasa 30. Ini dilakukan Dewan Eropa untuk Fatwa dan Penelitian.
  3. Untuk bersikeras pada ketampakan lokal atau regional dan kesaksian (seperti negara-negara seperti Oman dan Maroko lakukan). Dalam hal ini Idul Fitri hanya mungkin pada Rabu 31 Agustus. Ini dilakukan  Oman yang mengumumkan sepekan sebelumnya dan Maroko setelah menerima kesaksian pada tanggal 30.

Tetapi mengumumkan bahwa setiap bulan terbenam setelah matahari walau satu menit atau kurang itu berpotensi terlihat sebagai hilal hanyalah  upaya melangkahi kepakaran dan prerogatif astronom  dan penolakan yang tidak dapat dibenarkan atas  ratusan makalah dan ribuan pengamatan yang tercatat dalam literatur ilmiah. Allah mengatakan: “Bertanyalah  kepada pakarnya (Ahl adz-Dzikr) jika kamu tidak tahu.” [Quran 21:07]

Seperti ada kampanye busuk yang telah dilancarkan terhadap para astronom pada umumnya (dan amatir khususnya) dan tuduhan bahwa kami  hanya  mengikuti keinginan, angan-anagan, atau sejenisnya. Kami menyesalkan secara mendalam hal seperti itu datang dari sesama Muslim, khususnya dari ulama dan pejabat .

Kami berdoa kepada Allah bahwa Dia memimpin kami semua dalam menyampaikan pemikiran, semoga Dia menerima amal kami dan menolong  kami untuk melayani umat dan meningkatkan citra Islam di dunia. Semoga Dia mengumpulkan kita semua bersatu dalam  kebenaran. Ya Allah, kami telah menyampaikannya. Ya Allah, Engkaulah saksinya.

Para penandatangan:

  1. Prof. Nidhal Guessoum, professor of Physics and Astronomy at the American University of Sharjah and Chair of ICOP’s scientific committee;
  2. Dr. Ilias Fernini, professor of Physics and Astronomy at the UAE University and member of ICOP’s scientific committee;
  3. Dr. Hayman Zain al-Abidin Metwally, professor of Astronomy and Space Sciences at Cairo University and member of ICOP’s scientific committee;
  4. Dr. Saleh Al-Shidhani, professor of Astronomy and Space Sciences at Sultan Qaboos University and member of ICOP’s scientific committee;
  5. Eng. Mohammad Shawkat Odeh, member of ICOP’s scientific committee;
  6. Dr. Mohibullah Durrani, Astronomer, expert in the crescent problem, Columbia University, USA, and member of ICOP’s scientific committee;
  7. Mr. Jim Stamm, Astronomer, expert in the crescent problem, USA, and member of ICOP’s scientific committee;
  8. Dr. Khalid bin Salah Az-Zaaq, Director of the Buraida Observatory, Saudi Arabia;
  9. Prof. Mussalam Shaltout, professor of Astronomy at the National Institute of Research in Astronomy and Geophysics, Helwan, Egypt;
  10. Mr. Sulaiman bin Hilal Al-Busaidi, Astronomer at the Sultan’s Court Affairs, Sultanate of Oman;
  11. Mr. Hasan Ahmad Hariri, president of the Dubai Astronomy Group, UAE;
  12. Ms. Basma Dhiab, vice-president of the Jordanian Astronomical Society, Jordan;
  13. Prof. Jalal-Eddine Khanji, Islamic Astronomy exprt and president of Ebla University, Aleppo, Syria;
  14. Eng. Ammar bin Salem Ar-Rawahi, Astronomer at the Ministry of Awqaf (Endowments) and Religious Affairs, Sultanate of Oman;
  15. Prof. Sharaf Al-Qudah, former chair of the Fundamentals of Religion department at the Jordanian University, Jordan;
  16. Dr. Muawiya Sheddad, professor of Astronomy at Khartoum University, Sudan;
  17. Dr. Subaih Al-Saidi, Astronomer and consultant at the Ministry of Education, Sultanate of Oman;
  18. Eng. Muhammad Salem Al-Busaidi, Astronomer, Sultanate of Oman;
  19. Eng. Ali Amraoui, Astronomer at the Ministry of Awqaf (Endowment), Morocco;
  20. Mr. Adnan Abdulmonaim Qadi, researcher in Islamic Astronomy, Saudi Arabia;
  21. Mr. Ali Al-Hijri, Astronomer and researcher, Bahrain;
  22. Prof. Jamal Mimouni, professor of Physics and Astronomy, Constantine University, Algeria;
  23. Eng. Sakhr Saif, Emirates Astronomy Association and member of the official Emirati crescents sighting committee, UAE;
  24. Prof. Ali Tahar Sharaf-Eddine, Director of Sudan’s Institute of Natural Sciences, member of the Space Sciences, Astronomy, and Meteorology committee, and member of the crescents sighting committee, Sudan.
  25. Eng. Mansour Eshgeafa, Head of Astronomy and Observatories Section, Benghazi, Libya.

Presentasi di Diklat Lajnah Falakiyah PBNU 2006: “Imkan Rukyat: Parameter Penampakan Sabit Hilal dan Ragam Kriterianya”

T. Djamaluddin

Pengantar: Sebagai peneliti astronomi yang tak berafiliasi dengan ormas Islam tertentu, saya sering diundang berbagai ormas Islam (terutama NU, Muhammadiyah, dan Persis) untuk memaparkan konsep-konsep astronomi terkait dengan hisab-rukyat. Saya selalu mengkritisi praktek-praktek hisab rukyat di Ormas Islam yang mengundang untuk penyempurnaan metode dan kriteria yang mereka gunakan agar bisa mengarah pada penyatuan kalender Islam. Astronomi bisa membantu mempersatukan rukyat dan hisab dengan kriteria imkan rukyat. Berikut ini salah satu presentasi saya dalam Diklat Hisab Rukyat yang diselenggaran oleh Lajnah Falakiyah PBNU di Cirebon pada 2006. File presentasi dan makalah lengkapnya dalam format PDF dapat didownload di bawah ini.

Presentasi lengkap: NU-Diklat-Imkan Rukyat-Presentasi

Makalah lengkap: NU-Diklat-Imkan Rukyat-makalah

Makalah ini juga dipublikasi di Republika 14 September 2006.

Presentasi di Munas Tarjih PP Muhammadiyah 2003: Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi

T. Djamaluddin

Pengantar: Pada Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah Oktober 2003 di Padang saya diundang untuk berbicara tentang “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Judul itu diminta oleh panitia. Namun saya memperluas dan memperhalus menjadi “Pengertian dan Perbandingan Madzhab tentang Hisab Rukyat dan Mathla” dengan tetap mecantumkan judul yang diminta Panitia. Alasan saya memperluas judul, karena saya bukan hanya mengkritisi wujudul hilal, tetapi juga imkan rukyat yang terlalu rendah.

File presentasi dan makalah lengkap dalam format PDF bisa didownload di bagian bawah slide-slide presentasi ini.

File presentasi lengkap dalam format PDF: Tarjih Muhammadiyah 2003-Presentasi

File makalah lengkap dalam format PDF: Tarjih Muhammadiyah 2003-makalah

(Makalah ini dipublikasikan juga di PR 20 dan 21 Februari 2004 dengan sedikit penyesuaian Redefinisi Hilal Menuju Titik Temu Kalender Hijriyah )

Usulan baru kriteria imkan rukyat (2010) ada dalam booklet berikut: Astronomi-Memberi-Solusi-Penyatuan-Ummat-Lengkap

Pesawat Antariksa Phobos-Grunt Gagal Menuju Mars dan Segera Jatuh ke Bumi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

(Gambar di ambil dari berbagai sumber di internet)

Phobos-Grunt (bermakna “Tanah Phobos”) adalah pesawat antariksa yang direncanakan meluncur ke Planet Mars, lalu singgah di satelitnya yang bernama Phobos, dan mengambil sampel tanah Phobos lalu kembali ke bumi. Pesawat antariksa berbobot 13,2 ton itu ternyata gagal meluncur ke Mars setelah beberapa kali mengorbit bumi dan bermanuver mengubah orbitnya menujuk orbit lebih tinggi. Missi antariksa yang direncanakan sampai tahun 2014 itu diluncurkan pada 9 November lalu.

Inilah skenario missi ke planet Mars dan satelitnya  lalu kembali membawa sampel tanah Phobos pada 2014. Garis biru adalah trayektori menuju Phobos dan garis merah adalah trayektori kembali ke bumi.

Tahap pertama berhasil menempatkan Phobos-Grunt pada orbit 207 × 347 km (jarak terdekat dengan bumi 207 km dan jarak terjauh 347 km) dengan inklinasi 51,4. Namun motor roketnya yang dirancang otomatis gagal untuk mengantar ke tahap selanjutnya ke orbit 250 x 4.710 km. Jadilah Phobos-Grunt tertahan di orbit rendah dan mengalami efek pengereman oleh atmosfer sehingga Phobos-Grunt makin melorot ketinggiannya dari 207 x 347 km menjadi sekitar 163 x 199 km pada 11 Januari 2012. Ketika ketinggianya mencapai sekitar 120 km, Phobos-Grunt tidak mampu lalu melanjutkan orbitnya dan segera jatuh. Saat ini Phobos-Grunt jatuh tidak dikendalikan oleh sistem komputernya. Video yang direkam oleh seorang astronom amatir menunjukkan Phobos-Grunt bergerak hanya dikendalikan oleh gaya gravitasinya dengan beban terbesar berada di depan jalur orbitnya.

Berikut ini video simulasi oleh AGI tentang rencana misi awal sampai simulasi jatuhnya Phobos-Grunt dan prakiraan dampaknya:

Kapan dan dimana akan jatuhnya? Tidak mungkin diprakirakan secara tepat waktu dan lokasi jatuhnya, karena efek pengereman oleh atmosfer sangat dinamis sekali. Prakiraan sampai 15 Januari malam  ini, Phobos-Grunt diprakirakan akan jatuh sekitar dini hari  Senin 16 Januari ini 2012 di luar wilayah Indonesia, tetapi melintasi wilayah Indonesia. Bila kondisi matahari lebih aktif dari saat ini, maka prakiraan jatuh akan lebih cepat karena atmosfer akan menjadi lebih rapat. Sedangkan bila matahari lebih tenang maka Phobos-Grunt akan jatuh lebih lambat lagi karena atmosfer berkurang kerapatannya. Pada awal Januari ini, Phobos-Grunt ketinggiannya terus menurun sekitar 8 km/hari dan akan makin cepat turun karena atmosfer yang dilalui makin rapat. Inilah data penurunan ketinggian rata-rata Phobos-Grunt sampai saat ini:

Berikut ini prakiraan lintasan sekitar titik jatuh Phobos-Grunt pada dini hari 16 Januari 2012 berdasarkan data pada 15 Januari malam. Prakiraan ini masih akan berubah mengikuti dinamika atmosfer yang menghambat laju orbit Phobos-Grunt. Baru sekitar 2 jam menjelang jatuh, lintasan terakhir baru bisa dipastikan, tetapi titik jatuhnya masih mempunyai ketidakpastian ribuan kilometer. LAPAN akan terus memantau untuk memastikan wilayah Indonesia aman atau tidak pada lintasan terakhir Phobos-Grunt menjelang jatuhnya. Ketika ketinggian mencapai sekitar  120 km, Phobos-Grunt sudah dianggap pada orbit kritis menuju jatuh dan Phobos-Grunt akan mulai terbakar dan pecah. Pecahannya yang tersisa mungkin tersebar luas. Namun kemungkinan untuk mengenai wilayah berpenduduk diprakirakan sangat kecil, karena wilayah orbitnya di antara 51,4 derajat lintang utara sampai 51,4 derajat lintang selatan sebagian besar merupakan wilayah lautan, gurun, dan hutan.

(Prakiraan dengan Satevo di www.calsky.com)

Inilah gabungan prakiraan USSTRATCOM (Komando Strategis AS) yang memprakirakan jatuh sekitar pukul 23.11 – 01.35 WIB malam Senin dan prakiraan Satevo di Calsky yang memprakirakan sekitar pukul 03.08 WIB yang saya olah dengan Winorbit. Orbit Phobos-Grunt melintas Indonesia adalah pukul 01.47 WIB (03.47 WIT) saat melintas Papua dan pukul 03.13 WIB saat melintas Kalimantan Barat menuju Nusa Tenggara. Wilayah Maluku, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera dipastikan aman.

Lintasan terakhir menjelang jatuh bisa juga diikuti update-nya di situs LAPAN .

Ketidakpastian prakiraan waktu jatuh (yang berarti juga ketidakpastian lokasi jatuhnya) bisa dilihat dari catatan perubahan prakiraan dengan Satevo di www.calsky.com. Terlihat rentang ketidakpastian menjadi makin sempit, tetapi tetap masih menyisakan ketidakpastian +/- beberapa jam.

Laporan terakhir dari USSTRATCOM (Komando Strategis AS), menyatakan data radar terakhir tercatat pukul 23.36 WIB dan berdasarkan data terakhir itu Phobos-Grunt jatuh antara pukul 23.59 – 01.47 WIB malam Senin dini hari 16 Januari 2012. Lintasan terakhir yang merupakan wilayah yang kemungkinan kejatuhan puing-puingnya merentang mulai dari Asia Tengah, Pasifik Barat, sampai Pasifik Selatan.

2011 in review

Statistik WordPress.com memberikan laporan tahunan 2011 tentang blog ini:

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 180,000 times in 2011. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 8 days for that many people to see it.

Blog ini mendapat sekitar 180.000 kunjungan selama 2011. Hari tersibuk adalah ketika terjadi heboh penentuan Idul Fitri pada 30 Agustsu 2011 dengan jumlah pengunjung hari itu: 23.942 dan menempatkan blog ini salah satu blok peringkat teratas di antara pengguna WordPress. Saya berharap blog ini memberikan pencerahan kepada banyak orang, walau mungkin menimbulkan kontroversi. Silakan berikan tanggapan pada hal substansinya agar diskusi akan mematangkan pemahaman kita. Tanggapan subjektif ketidaksetujuan saya biarkan terpampang di blog ini, kecuali beberapa yang terpaksa saya hapus karena menggunakan kata-kata yang tak layak menurut norma publik.”

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.